Dengan gesit ia langsung mengambil buku sakunya yang berada ditangan ku lalu memasukannya ke dalam tas.
“Thanks ya, aku cari-cari nih dari tadi nih, bahaya kalau hilang” paparnya pada ku
“…” Tanpa sepatah kata aku berjalan tanpa memperhatikannya
“Jadi bisu lagi nih ceritanya?” Tanyanya dengan nada kesal
“Berisik banget sih, dasar Beras!” Sembari menoleh dengan tatapan sinis
“Kok Beras sih?” Menatap ku dengan ekspresi bingungnya
“Perlu dijelasin?” Tanyaku
“…” Ia pun menganggukkan kepalanya
“Nama mu tuh kalau dilihat-lihat unik”
“Oh ya?”
“O-rys-ta-vi-a” Ejaku
“…” Ia terdiam
“Seperti nama beras dalam bahasa latin, Oriza Sativa” Jelas ku sambil memandangnya
Untuk kesekian kalinya kami hanya tertegun diam, tanpa kata, tanpa suara untuk beberapa menit. Satu bulan kemudian keadaan di sekolah pun cenderung sepi dan lumayan kondusif. Semua murid kelas 3 sedang sibuk-sibuknya menyiapkan diri untuk ujian tengah semester. Kejadian ini juga berbanding lurus dengan jarangnya aku dan teman-teman untuk sekedar berkumpul pada waktu istirahat yang biasanya sering kami lakukan beberapa minggu silam. Dan tanpa disadari waktu itu rintik air mulai turun dari atas awan hitam yang menandakan musim hujan telah tiba. Rintik hujan mulai membasahi altar dan setiap ruangan terbuka di sekolah, termasuk pula halaman belakang. Dari jauh aku melihat gadis seorang diri sedang duduk dan menulis di buku mungilnya itu di tempat favourite ku saat jam istirahat. Perlahan aku mulai menghampirinya. Lagi-lagi hening, sunyi sekali seperti gencatan senjata dalam perang. Dan saat itu aku menyadari bahwa kami 2 orang yang berada dalam kesepian. Sadar dengan ada tanda-tanda kehidupan di sebalahnya, ia pun menoleh dan mengajakku untuk sekedar benbincang-bincang.
“Udah lama?” Tanyanya padaku
“…” Aku hanya menggerakan kepalaku ke kanan dan ke kiri
“Ya ampun, kambuh lagi bisunya?” Ejeknya sambil tertawa
“Tempat ini tenang banget ya Dan, aku suka” Sambil menadahkan tangannya pada rintik hujan yang turun dari genting
“Iya, tempat orang yang engga suka keramaian dan engga punya temen” Kataku dengan senyum yang meledek
“Yeee” Ia pun menyiramkan kumpulan rintik hujan padaku
“Eh, kamu kenal Iqbal?” Celetuknya
“Engga, sekedar tahu aja sih, kenapa? Suka?” Terkaku
“Siapa juga yang engga suka sama dia?”
“Baik, tinggi, tampan, idaman aku banget deh” Jelasnya
“Masa?” Tanyaku
“Iya, Dan” jawabnya
“Bodo” Aku tertawa dan ia terlihat kesal dengan mengerutkan dahinya