- Beranda
- Stories from the Heart
Berondongku sayang, i love you, muach
...
TS
citanisa
Berondongku sayang, i love you, muach
Malam..
Kali ini Cita datang dengan cerita fiksi kisah cinta antara Cita dengan Rei. Maaf ya kalau berantakan dan ada failnya, Cita nubi nih, mohon bimbingannya hihihi.
Cita memutuskan tidak akan ada adegan BB+ karena Cita menghargai Rei
Mentari pagi sudah bersinar menyinari kamarku melalui jendela yang sengaja aku buka tirainya. Alarm menunjukkan pukul 5.30 pagi. Dengan langkah gontai aku pergi menuju kamar mandi dan mandi. Cukup 5 menit saja aku mandi membersihkan diri dari iler dan bau badan, hihihihi. Kembali ke kamar dan bersegara berdandan, ku kenakan dress baloon pinkku, lalu blazer hitam kesayanganku, celana jeans hitam dan tentu saja dalaman-dalaman lainnya yang gak perlu aku tulis
"Ibuuuuu, sarapan apa?" tanyaku pada ibu yang sedang menonton berita di depan tv
"Beli aja sana, beli bubur gudeg di Mbah Pur" ibuku memberikan selembar uang Rp 10.000
"Yahhh, giliranku beli bubur nih" batinku sebal
Jadi biasanya siapa yang sudah mandi maka dia yang membeli sarapan, biasanya sih bergantian antara aku dan adik laki-lakiku. Ibuku jarang sekali memasak. Beliau sangay sibuk dengan pekerjaannya, maklum beliau single mom. Yup aku sudah tidak punya ayah, ayahku pergi entah kemana.
Aku keluar rumah dan menuju rumah Mbah Pur, yang hanya berjarak 10 meter saja dari rumahku. Mbah Pur sangat ramah, dan beliau sangat mengutamakan antrian anak sekolah. Yah meski aku sudah lulus SMA tapi Mbah Pur tau kalau aku masih sekolah (kuliah) jadi ya gak ada yang bisa nyalip aku kalau mengantri. Hihihihi.
Begitu sampai halaman depan rumahnya, ku lihat Mbah Pur sedang melayani 1 pembeli saja dan sudah selesai. Lekas-lekas ku hampiri Mbah Pur.
"Mbah nyuwun bubur gudeg, tigo, pedes nggih" sembari ku keluarkan uang Rp 10.000 dari kantung blazerku.
Oh iya artinya "Mbah minta bubur gudeg, tiga, pedes ya"
Mbah Pur pun segera menyidukkan centong untuk mengambil bubur, gudeg, setengah telur uang sudah diiris dan tak ketinggalan krecek pedesnya. Manteb tho
Sepulangku dari Mbah Pur nampak mulai banyak orang berdatangan hendak membeli sarapan juga. Untung aja aku berangkatnya mruput.
Sampai rumah segera ku berikan bubur gudeg pada ibu dan adikku Zoi. Kami sarapan bertiga, setelah itu aku dan Zoi segera berpamitan pada ibu.
Zoi adikku sekolah di SMP Gajah sementara aku berkuliah di Universitas Merah. Karena letak sekolah Zoi dan kampusku lumayan dekat, maka aku harus mengantar jemput dia. Ya jadi kakak yang cantik sekaligus baik buat adik laki-lakinya.
Zoi adikku saat ini duduk di kelas 2, adikku anak yang pintar sebenarnya tapi dia malas belajar. Meski begitu nilainya selalu bagus, heran deh. Sementara aku ya nilai-nilai mata kuliahku standar aja, tapi cukup baik dan gak ada yang mengulang. Saat ini aku semester 4 di jurusan Psikologi.
Tak sampai 10 menit kami sudah tiba di depan pintu gerbang sekolah Zoi. Zoi turun dari motor matic kesayanganku dan berucap
"Nanti gak usah jemput, aku nanti nebeng Herlan sekalian ngerjain tugas"
"Halah, bilang aja mau ke gamenet" selorohku
"Ya itu juga tapi kan beneran ngerjain tugas, bikin mading nih nanti"
"Oke deh, nanti aku bisa nonton deh. Hahahaha" balasku dengan gembira
"Dah kak, aku duluan ya" Zio pamit dan langsung memasuki halaman sekolahnya.
Segera ku pacu motor matic warna pink kesayanganku menuju arah Timur, ke arah kampus Merah.

Kali ini Cita datang dengan cerita fiksi kisah cinta antara Cita dengan Rei. Maaf ya kalau berantakan dan ada failnya, Cita nubi nih, mohon bimbingannya hihihi.
Cita memutuskan tidak akan ada adegan BB+ karena Cita menghargai Rei

Berondongku sayang, i love you, muach
Mentari pagi sudah bersinar menyinari kamarku melalui jendela yang sengaja aku buka tirainya. Alarm menunjukkan pukul 5.30 pagi. Dengan langkah gontai aku pergi menuju kamar mandi dan mandi. Cukup 5 menit saja aku mandi membersihkan diri dari iler dan bau badan, hihihihi. Kembali ke kamar dan bersegara berdandan, ku kenakan dress baloon pinkku, lalu blazer hitam kesayanganku, celana jeans hitam dan tentu saja dalaman-dalaman lainnya yang gak perlu aku tulis

"Ibuuuuu, sarapan apa?" tanyaku pada ibu yang sedang menonton berita di depan tv
"Beli aja sana, beli bubur gudeg di Mbah Pur" ibuku memberikan selembar uang Rp 10.000
"Yahhh, giliranku beli bubur nih" batinku sebal
Jadi biasanya siapa yang sudah mandi maka dia yang membeli sarapan, biasanya sih bergantian antara aku dan adik laki-lakiku. Ibuku jarang sekali memasak. Beliau sangay sibuk dengan pekerjaannya, maklum beliau single mom. Yup aku sudah tidak punya ayah, ayahku pergi entah kemana.
Aku keluar rumah dan menuju rumah Mbah Pur, yang hanya berjarak 10 meter saja dari rumahku. Mbah Pur sangat ramah, dan beliau sangat mengutamakan antrian anak sekolah. Yah meski aku sudah lulus SMA tapi Mbah Pur tau kalau aku masih sekolah (kuliah) jadi ya gak ada yang bisa nyalip aku kalau mengantri. Hihihihi.
Begitu sampai halaman depan rumahnya, ku lihat Mbah Pur sedang melayani 1 pembeli saja dan sudah selesai. Lekas-lekas ku hampiri Mbah Pur.
"Mbah nyuwun bubur gudeg, tigo, pedes nggih" sembari ku keluarkan uang Rp 10.000 dari kantung blazerku.
Oh iya artinya "Mbah minta bubur gudeg, tiga, pedes ya"
Mbah Pur pun segera menyidukkan centong untuk mengambil bubur, gudeg, setengah telur uang sudah diiris dan tak ketinggalan krecek pedesnya. Manteb tho

Sepulangku dari Mbah Pur nampak mulai banyak orang berdatangan hendak membeli sarapan juga. Untung aja aku berangkatnya mruput.
Sampai rumah segera ku berikan bubur gudeg pada ibu dan adikku Zoi. Kami sarapan bertiga, setelah itu aku dan Zoi segera berpamitan pada ibu.
Zoi adikku sekolah di SMP Gajah sementara aku berkuliah di Universitas Merah. Karena letak sekolah Zoi dan kampusku lumayan dekat, maka aku harus mengantar jemput dia. Ya jadi kakak yang cantik sekaligus baik buat adik laki-lakinya.
Zoi adikku saat ini duduk di kelas 2, adikku anak yang pintar sebenarnya tapi dia malas belajar. Meski begitu nilainya selalu bagus, heran deh. Sementara aku ya nilai-nilai mata kuliahku standar aja, tapi cukup baik dan gak ada yang mengulang. Saat ini aku semester 4 di jurusan Psikologi.
Tak sampai 10 menit kami sudah tiba di depan pintu gerbang sekolah Zoi. Zoi turun dari motor matic kesayanganku dan berucap
"Nanti gak usah jemput, aku nanti nebeng Herlan sekalian ngerjain tugas"
"Halah, bilang aja mau ke gamenet" selorohku
"Ya itu juga tapi kan beneran ngerjain tugas, bikin mading nih nanti"
"Oke deh, nanti aku bisa nonton deh. Hahahaha" balasku dengan gembira
"Dah kak, aku duluan ya" Zio pamit dan langsung memasuki halaman sekolahnya.
Segera ku pacu motor matic warna pink kesayanganku menuju arah Timur, ke arah kampus Merah.
Terimakasih banyak buat para pembaca setia sampai bisa masuk TT 3x

Diubah oleh citanisa 13-03-2017 20:54
someshitness dan 5 lainnya memberi reputasi
6
184.3K
964
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
citanisa
#303
Part17: Pacarrrr?!!
Setelah mengantarkan Rei pulang ke kostnya, aku bergegas pulang. Hangat bibirnya masih terngiang manis dalam benakku.
---
Kejadian tadi sore tentu saja membuatku selalu memikirkan Rei. Cowok 17 tahun yang aku kenal hanya karena aku tidak sengaja menabraknya di bioskop.
Ku ketikkan sebuah pesan WA untuknya sebelum tidur
"Met malam Rei, oyasumi"
Aku pun segera menarik selimut di ujung kasur dan memejamkan mata.
Paginya aku bangun pagi sekali tidak seperti biasanya, jam 5 pagi aku sudah mandi, dandan cantik, pergi beli sarapan bubur di rumah mbah Pur, nyapu teras, bangunin Zio di kamar, sampai ibu bertanya keheranan
"Tumben rajin, pasti ada maunya ini?"
"Enggak, cuma lagi semangat aja" jawabku malu
Zio keluar dari kamar mandi dan menyahut
"Cieee yang lagi pacaran"
"Pacaran? Jadi bener kamu lagi pacaran? Sama siapa? Rudi?" selidik ibu
"Bukan pacaran bu, baru deket aja sama yang Cita kasih les kimia" jawabku sambil menyiapkan sarapan di meja makan.
"Kalau kamu suka orang lain, segera kasih Rudi kejelasan" jawab ibu dari depan kamarnya
"Udah bu, dianya aja yang ngotot, lama-lama psiko dia bu" jawabku
Segera kami bertiga duduk dan sarapan bersama, mengingat hari ini adalah hari Senin hari di mana banyak orang bilang "i hate monday" kami sarapan tanpa banyak bicara agar tidak terlambat.
Selesai sarapan dan berpamitan pada ibu segera Zio membantu mengeluarkan motor dari dalam garasi, lalu kami pun bergegas berangkat. Sepanjang jalan Zio terus menginterogasiku mengenai kemarin sore kemana perginya aku. Ku ceritakan semuanya tentu saja tanpa adegan kissing, bisa ember ke ibu nanti, bahaya.
"Kakak harus tanya kejelasan hubungan kakak sama dia, jangan mau HTS" nasehat Zio
"Iya iya" balasku
"Aku takut kakak cuma dijadiin mainan aja, dimanfaatin"
"Nanti kakak samperin dia, tanya kejelasannya"
Sampai juga di depan sekolahnya Zio, kali ini Zio tidak langsung masuk ke sekolahnya, raut wajahnya memancarkan kekhawatiran padaku.
"Hati-hati di jalan kak" ucap Zio mengingatkan
"Okeeee" jawabku singkat
Aku pun berlalu meninggalkan sekolah Zio dengan motorku. Tak dapat dipungkiri, perasaanku kini meledak-ledak mengenai status hubungan antara aku dan Rei.
Sesampainya di parkiran kampus, Anggi memanggilku dari halaman fakultas di sebrang. Segera ku parkirkan motor dan berlari ke arah halaman fakultas yang cukup rindang itu.
"Citttttt. Buruan napa!?" teriak Anggi
"Ada apa?" jawabku seketiba di hadapannya
"Ayo masuk kelas. Hehehehe" canda Anggi
"Ya ampun, kirain ada apa" jawabku sebal
Sambil menyusuri koridor kampus, aku menceritakan kejadian kemarin sore pada Anggi.
"Hah, gila!" Anggi setengah berteriak
Beberapa mahasiswa langsung melihat ke arah kami, aku pun langsung berjalan cepat ke arah pintu kelas. Meninggalkan Anggi dan berpura-pura tidak mengenalinya.
"Tunggu Citttt" Anggi memanggilku yang sudah masuk ke dalam kelas duluan.
Sekitar jam makan siang, kelas sudah usai. Aku dan Anggi menuju warung makan di sisi barat kampus kami. Dengan berjalan kaki sekitar 4 menit kami tiba di warung makan, segera saja kami mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan sayur lengkap dengan lauknya dari rak saji dan memesan dua gelas es kopi.
Sambil menunggu es kopi kami tiba. Anggi terus saja bertanya-tanya
"Terus habis itu ngapain?" tanyanya
"Jalan ke pantai" jawabku
"Terus ngapain lagi"
"Lihat pantai"
"Terusssss?"
"Anggiiiiiii, aku bingung nih. Hubungan kaya gini jelas gak benar kan. Aku harus minta kejelasan sama dia sore ini juga"
"Iya lah, jangan mau digantungin gitu, emangnya jemuran. Harus ada titik terang di antarahubungan kalian, supaya hatimu lega dan tenang tentunya."
Minuman kami tiba dan kami mememulai menyantap makan siang kami.
Kuliah sore ini, selesai jam 4an. Kuliah yang cukup melelahkan bagiku dan kawan-kawan, hanya kopi yang dapat membuatku dan Anggi bertahan menghadapi kuliah yang lebih dari 2 SKS ini.
"Nggi aku duluan ya, aku mau beli buku dulu di Topi Perak" ucapku sambil memasukkan notes ke dalam tas ranselku.
"Buku buat siapa hayoooo" goda Anggi
"You know lahhhh" balasku genit
Jarak dari kampus ke toko buku cukup dekat. Hanya memakan waktu sekitar 5 menit saja. Aku sudah tiba di halaman parkir toko buku yang terletak di tengah kota ini.
Aku parkirkan motorku di tempat yang sudah disediakan. Ku masukkan helm ke dalam jok motor, dan aku berlalu masuk ke dalam toko itu.
Aku berjalan ke arah rak buku anak SMA kelas 2, ku ambil beberapa buku latihan soal baik Kimia, Matematika, Fisika dan Biologi.
"Kenapa jadi borong buku kaya Zio" batinku sembari tertawa kecil
Langsung saja ku bawa buku-buku itu ke kasir dan mas kasirnya bertanya sembari menscan buku "buat adeknya ya?"
"Bukan buat temen saya" jawabku sembari heran, ni kasir kepo
"Pasti seneng temennya dibeliin buku sebanyak ini sekaligus stress ngerjainnya" canda si kasir
"Hehehe" tawaku sekenanya sembari membayar totalan belanja buku-buku untuk Rei.
Setelah membayar dan menerima belanjaan buku yang sudah kubeli, segera ku masukkan ke dalam tas supaya praktis dan ku keluarkan handphone ku dari kantong ransel dan mengetik pesan WA ke Rei "Aku ke situ ya
"
Begitu melihat notif pesan terkirim, segera ku masukkan handphoneku kembali ke dalam tasku.
Aku pun bergegas mengambil helm dan mengendarai motorku. melajukannya ke arah kostan Rei.
Kurang lebih 8 menitan aku sudah tiba di parkiran kost Rei. Nampak beberapa penghuni kost pulang. Ku lihat jam tangan di pergelangan kiriku ternyata sudah hampir pukul setengah 6 sore.
Aku berjalan ke arah tangga yang terdapat di pojokkan kost. Berhati-hati menaiki puluhan anak tangga yang sepertinya habis di pel oleh penjaga kost. Setibanya di lantai 3 ku lihat pintu kamar Rei tertutup, tak seperti biasanya.
Aku berjalan santai ke arah kamar Rei dan mengetuk pintu kamarnya.
"Tok tok tok" bunyi ketukan pintu
Pintu terbuka dan nampak sesosok gadis dengan rambut ikal tergerai sebahu di hadapanku. Tingginya tak lebih dari tinggiku, mungkin sekitar 150cm pas, tubuhnya langsing, wajahnya bersih, nampak sebagai sosok yang menyenangkan.
"Cari siapa mbak?" tanya gadis manis itu
"Emm Rei nya ada?" tanyaku
"Rei, sedang keluar beli makanan. Mbak yang namanya Mbak Cita ya?"
"Eh iya"
"Kenalin aku Haera, aku sering denger nama mbak dari cerita Rei. Terimakasih ya mbak udah bantuin pacarku belajar."
"Pacarrrr?!!" batinku kaget dalam hati
"Iya sama-sama, udah lama pacaran ya?" ucapku sambil berusaha tersenyum
"Iya udah dari SMP, orang tua kami sudah menjodohkan kami sejak kecil. Tapi Rei malah pengen SMA di sini, jadinya kami LDR deh" jelas Haera sambil tertawa kecil
"Oh iya ini ada buku latihan soal buat Rei, tolong dikasihkan ya". Ucapku sembari mengeluarkan kantung plastik berisi buku-buku yang baru saja aku beli dari dalam ransel
"Makasih banyak lho mbak" Haera menerima kantung belanjaan itu
"Emm aku pulang dulu ya, sudah sore" pamitku pada Haera
"Iya, hati-hati di jalan mbak" ucap Haera ramah
Aku pun hanya mengangguk dan tersenyum.
Kutinggalkan Haera dan bergegas pulang menuruni anak tangga. Kedua mataku rasanya perih sekali, nafasku terasa sedikit sesak di dada, sakit sekali. Tak terasa air mataku mengalir dari ke dua mataku.
Begitu tiba di lantai 1 ku lihat Rei di ujung jalan. Dia terdiam menatapku, dan aku segera berlari melewatinya tanpa sepatah kata pun.
"Mbakkkk" Rei berteriak sembari berlari mengejarku
---
Kejadian tadi sore tentu saja membuatku selalu memikirkan Rei. Cowok 17 tahun yang aku kenal hanya karena aku tidak sengaja menabraknya di bioskop.
Ku ketikkan sebuah pesan WA untuknya sebelum tidur
"Met malam Rei, oyasumi"
Aku pun segera menarik selimut di ujung kasur dan memejamkan mata.
Paginya aku bangun pagi sekali tidak seperti biasanya, jam 5 pagi aku sudah mandi, dandan cantik, pergi beli sarapan bubur di rumah mbah Pur, nyapu teras, bangunin Zio di kamar, sampai ibu bertanya keheranan
"Tumben rajin, pasti ada maunya ini?"
"Enggak, cuma lagi semangat aja" jawabku malu
Zio keluar dari kamar mandi dan menyahut
"Cieee yang lagi pacaran"
"Pacaran? Jadi bener kamu lagi pacaran? Sama siapa? Rudi?" selidik ibu
"Bukan pacaran bu, baru deket aja sama yang Cita kasih les kimia" jawabku sambil menyiapkan sarapan di meja makan.
"Kalau kamu suka orang lain, segera kasih Rudi kejelasan" jawab ibu dari depan kamarnya
"Udah bu, dianya aja yang ngotot, lama-lama psiko dia bu" jawabku
Segera kami bertiga duduk dan sarapan bersama, mengingat hari ini adalah hari Senin hari di mana banyak orang bilang "i hate monday" kami sarapan tanpa banyak bicara agar tidak terlambat.
Selesai sarapan dan berpamitan pada ibu segera Zio membantu mengeluarkan motor dari dalam garasi, lalu kami pun bergegas berangkat. Sepanjang jalan Zio terus menginterogasiku mengenai kemarin sore kemana perginya aku. Ku ceritakan semuanya tentu saja tanpa adegan kissing, bisa ember ke ibu nanti, bahaya.
"Kakak harus tanya kejelasan hubungan kakak sama dia, jangan mau HTS" nasehat Zio
"Iya iya" balasku
"Aku takut kakak cuma dijadiin mainan aja, dimanfaatin"
"Nanti kakak samperin dia, tanya kejelasannya"
Sampai juga di depan sekolahnya Zio, kali ini Zio tidak langsung masuk ke sekolahnya, raut wajahnya memancarkan kekhawatiran padaku.
"Hati-hati di jalan kak" ucap Zio mengingatkan
"Okeeee" jawabku singkat
Aku pun berlalu meninggalkan sekolah Zio dengan motorku. Tak dapat dipungkiri, perasaanku kini meledak-ledak mengenai status hubungan antara aku dan Rei.
Sesampainya di parkiran kampus, Anggi memanggilku dari halaman fakultas di sebrang. Segera ku parkirkan motor dan berlari ke arah halaman fakultas yang cukup rindang itu.
"Citttttt. Buruan napa!?" teriak Anggi
"Ada apa?" jawabku seketiba di hadapannya
"Ayo masuk kelas. Hehehehe" canda Anggi
"Ya ampun, kirain ada apa" jawabku sebal
Sambil menyusuri koridor kampus, aku menceritakan kejadian kemarin sore pada Anggi.
"Hah, gila!" Anggi setengah berteriak
Beberapa mahasiswa langsung melihat ke arah kami, aku pun langsung berjalan cepat ke arah pintu kelas. Meninggalkan Anggi dan berpura-pura tidak mengenalinya.
"Tunggu Citttt" Anggi memanggilku yang sudah masuk ke dalam kelas duluan.
Sekitar jam makan siang, kelas sudah usai. Aku dan Anggi menuju warung makan di sisi barat kampus kami. Dengan berjalan kaki sekitar 4 menit kami tiba di warung makan, segera saja kami mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan sayur lengkap dengan lauknya dari rak saji dan memesan dua gelas es kopi.
Sambil menunggu es kopi kami tiba. Anggi terus saja bertanya-tanya
"Terus habis itu ngapain?" tanyanya
"Jalan ke pantai" jawabku
"Terus ngapain lagi"
"Lihat pantai"
"Terusssss?"
"Anggiiiiiii, aku bingung nih. Hubungan kaya gini jelas gak benar kan. Aku harus minta kejelasan sama dia sore ini juga"
"Iya lah, jangan mau digantungin gitu, emangnya jemuran. Harus ada titik terang di antarahubungan kalian, supaya hatimu lega dan tenang tentunya."
Minuman kami tiba dan kami mememulai menyantap makan siang kami.
Kuliah sore ini, selesai jam 4an. Kuliah yang cukup melelahkan bagiku dan kawan-kawan, hanya kopi yang dapat membuatku dan Anggi bertahan menghadapi kuliah yang lebih dari 2 SKS ini.
"Nggi aku duluan ya, aku mau beli buku dulu di Topi Perak" ucapku sambil memasukkan notes ke dalam tas ranselku.
"Buku buat siapa hayoooo" goda Anggi
"You know lahhhh" balasku genit
Jarak dari kampus ke toko buku cukup dekat. Hanya memakan waktu sekitar 5 menit saja. Aku sudah tiba di halaman parkir toko buku yang terletak di tengah kota ini.
Aku parkirkan motorku di tempat yang sudah disediakan. Ku masukkan helm ke dalam jok motor, dan aku berlalu masuk ke dalam toko itu.
Aku berjalan ke arah rak buku anak SMA kelas 2, ku ambil beberapa buku latihan soal baik Kimia, Matematika, Fisika dan Biologi.
"Kenapa jadi borong buku kaya Zio" batinku sembari tertawa kecil
Langsung saja ku bawa buku-buku itu ke kasir dan mas kasirnya bertanya sembari menscan buku "buat adeknya ya?"
"Bukan buat temen saya" jawabku sembari heran, ni kasir kepo
"Pasti seneng temennya dibeliin buku sebanyak ini sekaligus stress ngerjainnya" canda si kasir
"Hehehe" tawaku sekenanya sembari membayar totalan belanja buku-buku untuk Rei.
Setelah membayar dan menerima belanjaan buku yang sudah kubeli, segera ku masukkan ke dalam tas supaya praktis dan ku keluarkan handphone ku dari kantong ransel dan mengetik pesan WA ke Rei "Aku ke situ ya
"Begitu melihat notif pesan terkirim, segera ku masukkan handphoneku kembali ke dalam tasku.
Aku pun bergegas mengambil helm dan mengendarai motorku. melajukannya ke arah kostan Rei.
Kurang lebih 8 menitan aku sudah tiba di parkiran kost Rei. Nampak beberapa penghuni kost pulang. Ku lihat jam tangan di pergelangan kiriku ternyata sudah hampir pukul setengah 6 sore.
Aku berjalan ke arah tangga yang terdapat di pojokkan kost. Berhati-hati menaiki puluhan anak tangga yang sepertinya habis di pel oleh penjaga kost. Setibanya di lantai 3 ku lihat pintu kamar Rei tertutup, tak seperti biasanya.
Aku berjalan santai ke arah kamar Rei dan mengetuk pintu kamarnya.
"Tok tok tok" bunyi ketukan pintu
Pintu terbuka dan nampak sesosok gadis dengan rambut ikal tergerai sebahu di hadapanku. Tingginya tak lebih dari tinggiku, mungkin sekitar 150cm pas, tubuhnya langsing, wajahnya bersih, nampak sebagai sosok yang menyenangkan.
"Cari siapa mbak?" tanya gadis manis itu
"Emm Rei nya ada?" tanyaku
"Rei, sedang keluar beli makanan. Mbak yang namanya Mbak Cita ya?"
"Eh iya"
"Kenalin aku Haera, aku sering denger nama mbak dari cerita Rei. Terimakasih ya mbak udah bantuin pacarku belajar."
"Pacarrrr?!!" batinku kaget dalam hati
"Iya sama-sama, udah lama pacaran ya?" ucapku sambil berusaha tersenyum
"Iya udah dari SMP, orang tua kami sudah menjodohkan kami sejak kecil. Tapi Rei malah pengen SMA di sini, jadinya kami LDR deh" jelas Haera sambil tertawa kecil
"Oh iya ini ada buku latihan soal buat Rei, tolong dikasihkan ya". Ucapku sembari mengeluarkan kantung plastik berisi buku-buku yang baru saja aku beli dari dalam ransel
"Makasih banyak lho mbak" Haera menerima kantung belanjaan itu
"Emm aku pulang dulu ya, sudah sore" pamitku pada Haera
"Iya, hati-hati di jalan mbak" ucap Haera ramah
Aku pun hanya mengangguk dan tersenyum.
Kutinggalkan Haera dan bergegas pulang menuruni anak tangga. Kedua mataku rasanya perih sekali, nafasku terasa sedikit sesak di dada, sakit sekali. Tak terasa air mataku mengalir dari ke dua mataku.
Begitu tiba di lantai 1 ku lihat Rei di ujung jalan. Dia terdiam menatapku, dan aku segera berlari melewatinya tanpa sepatah kata pun.
"Mbakkkk" Rei berteriak sembari berlari mengejarku
Diubah oleh citanisa 23-04-2016 19:13
sormin180 dan lumut66 memberi reputasi
2