Aku pun mengikutinya tanpa suara hanya duduk diam tanpa berucap sepatah katapun dan melanjutkan membaca buku bergambar. Selang beberapa menit ia pun sadar bahwa ada seseorang di sampingnya.
“Eh, kamu ngapain disini?” Tanyanya padaku
“…” Aku hanya mengerutkan dahi ku dan meliriknya
“Bisu?” Dengan nada yang kesal
“Dari dulu juga ini udah jadi tempat tongkrongan saya kok” Jawabku tanpa melihatnya
“Oh… Masa sih?” Terkanya
“Iya, sebentar lagi juga temen-temen saya kesini” Jawabku dengan singkat
“Woy, siapa tuh?” Teriak Erik dari kejauhan
“Tau Rik, tanya aja sendiri” Tantangku padanya
Johnny dan Fian pun menyusul selepas dari kantin, dan kami pun bercanda tanpa memperhatikan siswi tersebut. Mungkin kedatangan Johnny dan Fian memecahkan suasana yang hening sehingga dia pun terganggu dan meninggalkan tempat tongkrongan kami yang berada di belakang sekolah didekat lapangan bola. Tak terasa bel pun berbunyi lalu aku pun pulang ke rumah. Terlihat paman sedang bersiap-siap untuk dinas siang-malam.
“Shift siang paman?” Tanya ku
“Iya, ohya jangan lupa nanti jemput Bibi di Stasiun ya Dan?”
“Iya, nanti jam 6.30 kan?”
“Bawa sepeda motor Paman saja, biar paman yang naik sepeda” Sambil menyerahkan kuci sepeda motor kepada ku
“Ingat, pelan-pelan ya?” serunya lagi padaku
“Siap kapten” Senyum ku ketika diperbolehkan mengendarai kendaraan bermotor
“Paman berangkat dulu, jangan lupa makan”
“Iya, hati-hati di jalan” Kataku sambil mencium tangannya
Paman Billy adalah suami dari Bibi Maya, beliau seorang security bank yang shiftnya selalu berubah-ubah. Dan ketika beliau mendapat shift 2 maka aku akan menggantikannya menjemput Bibi di stasiun. Keesokan harinya entah kenapa, sepertinya sedang sial-sialnya. Karena terlambat lebih dari 10 menit, lalu mendapat hukuman jogging pagi 2 putaran lapangan bola yang membuat badan menjadi segar-bugar celoteh Pak satpam. Selesai jogging semua siswa yang terlambat pun kembali ke kelas masing-masing.
“Pemisi Pak, saya habis jogging pagi Pak” Jelasku pada beliau
“PR-nya ditaruh di meja saya, terus langsung duduk saja” Jawab beliau yang sedang menulis di papan tulis
“Baik Pak” Lalu aku pun mencari buku PR dan baru ku sadari ternyata buku PR matematika ku tertinggal di rumah
“Silahkan keluar jika tidak mengerjakan PR atau beralasan buku PR tertinggal di rumah” Beliau sepertinya mengerti gerak-geriku waktu itu