Quote:
“Ya, terakhir Zulfia Putri Pramestika” Dan sekaligus menutup buku absen yang dibawanya tersebut
Pembagian struktur organisasi yang akan bertugas sebagai lembaga yang bertanggung jawab di kelas ini pun dibentuk. Seperti biasa aku dan Fian hanya sebagai seksi sibuk. Hanya kedapati tugas tim regu piket di hari rabu saja. Sungguh nyaman rasanya ketika hanya menjadi pelengkap kelas, tak terlalu repot dengan tugas-tugas seperti ketua kelas yang menjadi pemimpin barisan disetiap upacara bendera berlangsung, bendahara yang dipusingkan dengan perkembangan ekonomi kelas yang jalan ditempat, bahkan seksi kebersihan yang harus datang lebih awal setiap untuk mengawasi rutinitas jadwal piket harian, Namun sayangnya ada kelebihan dan kekurangannya menjadi pelengkap di kelas, yaitu tak terlalu populer sehingga banyak yang tak mengenali bahkan ada yang satu kelas tak terlalu paham teman satu kelasnya, dan aku adalah salah satu yang termasuk dari golongan itu. Kami (aku dan Fian) pun acuh tak acuh dengan hal tersebut. Kesibukan kami di kelas yaitu membaca buku bergambar atau yang sering disebut komik dan jika istirahat hanya bernyanyi dan bermain gitar di belakang sekolah sampai waktu istirahat selesai bersama 2 teman kami dari kelas B dan E yang bernama Erik Hindrawan dan Ign. Johnny Baskara.
“Johnny ulang tahun nih bawa makanan banyak” Ledek Fian kepadanya
“Erik mana John?” Tanya ku
“Noh habis ambil gitar” Sambil menunjuk Erik yang sedang berjalan ke arah kami
“Berburu ga nih? Banyak yang fresh loh” Lanjutnya
“Hah?” Aku dan Fian sedikit bingung dengan ucapannya Johnny
“Yaelah, itu tuh anak kelas satu” Jelasnya
“Sorry John, engga minat” Jawabku singkat
“Iya nih, anak kecil dipacarin malah bikin susah John” Erik yang tiba-tiba masuk ke dalam obrolan
“Palingan juga bakalan jadi fans-nya Iqbal, John” Sahut Fian dengan nada pesimis
Setelah membahas rencana tebar pesona yang akhirnya gagal, kami pun kembali ke kelas masing-masing dikarenakan bel istirahat telah mencapai batas waktunya. Sekilas tentang Iqbal, ia adalah seorang atlet basket, tinggi dan gagah tentunya. Makadari itu tak sedikit siswi di sekolah ku yang memujanya. Selalu saja mendapat hadiah dari kelas 3, 2, bahkan kelas 1 yang notabennya baru menapakan kaki di sekolah ini. Fauzan Nur Iqbal, itu nama lengkapnya, satu kelas dengan ku dan sekaligus menjabat sebagai ketua kelas. Selain itu dia juga murid 10 besar terpintar di kelas ku. Bisa dibayangkan hidupnya menurutku terlalu sempurnya berbanding terbalik dengan ku, Fian, Johnny, bahkan Erik. Tapi dibalik itu kami masih mengira hidup kamilah yang lebih menyenangkan dari pada dia. Teman yang selalu ada dan setia dimanapun dan kapanpun, selalu berbagi satu sama lain layaknya sebuah saudara kandung padahal aslinya bukan.
Waktu pun belalu dan seperti biasanya ketika istirahat aku pun bergegas kesinggasana ketenangan, namun tiba-tiba mataku melihat sesuatu yang asing.
“Hey? Hello? Spada?” Tanya ku padanya yang sedang diam seribu bahasa