Semenjak kejadian malam itu,gue mencoba untuk melupakan perasaan gue kembali. Perlahan lahan gue pun mencoba untuk mulai menanam perasaan gue diantara tiga orang yang gue dekati yaitu salsa ,fiana, dan khansa.
Ghina ? gue sendiri capek dengan perasaan gue sama dia. Tapi entah kenapa disaat gue sudah mulai melupakan dia,dia nampak kembali lagi datang ke kehidupan gue dan memaksa gue untuk kembali kepada perasaan gue dulu.
Gue sendiri bingung harus menyalahkan siapa dalam urusan ini. Ghina ngga salah kok,mungkin diri gue sendiri lah akar dari permasalahan ini. Gue terlalu menomor 1 kan dia dan mengkesampingkan yang lain sehingga membuat gue merasakan perasaan semacam ini.
Gue akhirnya mulai mencoba untuk menyingkirkan perasaan ini perlahan lahan dengan mulai rutin menghabiskan waktu kembali bersama fiana, khansa dan salsa. Tetapi,gue juga harus menjaga posisi yang gue alami sekarang untuk tidak ketahuan oleh mereka bertiga.
*****
Suara telfon tiba tiba akhirnya terdengar melalui hp gue pada saat pagi hari yang terbilan cukup cerah ini. Perlahan lahan gue pun mencoba mencari asal suara tersebut dan mengangkat telefon itu.
“halooo” sahut gue yang masih mengantuk
“kak,hari ini bisa temenin aku ngga?” tanya suara darisana
“haa ini siapa?”
“salsa kak”
“mau kemana sal?”
“temenin aku nyari sepatu kak,bisanya jam berapa?”
“ooh yaudah,abis zuhur ya? Biar kakak siap siap dulu”
“Okeey daaah “
Telefon pun dimatikan oleh salsa secara sepihak. Setelah memastikan nyawa gue sudah terkumpul,gue akhirnya memutuskan untuk langsung mandi. Memang, di hari ini pun gue sama sekali tidak memiliki jadwal yang akan gue lakukan alhasil gue pun lagsung mengiyakan ajakan salsa.
Setelah seleai bersiap siap,gue akhirnya memutuskan untuk turun kebawah dan memanaskan mobil gue sembari menunggu waktu zuhur tiba. Jam pun menunjukkan pukul 1 siang ketika gue mulai memacu mobil gue menuju rumah salsa.
Tak lupa, sebatang rokok dan alunan alunan musik pun ikut menemani gue di jalan ini. Setelah hampir satu jam gue berada di jalan yang lumayan macet ini,gue pun akhirnya sampai tepat di depan rumah salsa.
Gue pun akhirnya mencoba mengabari salsa bahwa gue sudah di depan dan langsung di iyakan olehnya. Beberapa saat kemudian,sosok yang pagi tadi menelfon gue akhirnya tepat berada di depan gue dan langsung memasuki kursi penumpang mobil gue.
“udah lama kak?” tanyanya
“engga kok,cuman sebatang doang tadii”
“terus mau kemana sal?nyari sepatu apa?”
“store yang lengkap dimana ya kak? Buat basket kak”
“wah aku mana ngerti sal,ga pernah beli sepatu kayak gitu” sahut gue
“yaudah sency aja kali ya kak?”
“siaap!”
Akhirnya gue mulai emmacu mobil gue menuju kawasan senayan tepatnya Senayan City. Dijalan pun kami tak lepas untuk sekedar mengobrol dari topik yang menurut gue “aneh” sampai ke topik yang serius.
Jam pun menunjukkan pukul 3 tepat ketika mobil gue sudah berada persis di basement mall ini dan mulai berjalan menuju store olahraga di mall ini untuk mencari sepatu basket yang salsa inginkan.
Salsa memang agak sedikit berbeda dengan wanita lainnya, dia tidak terlalu memikirkan tentang style atau make up seperti cewek umumnya. Menurut dia hal hal seperti itu sama sekali tidak penting,dia nampak lebih memilih untuk mencari novel novel terbaru yang berada di toko buku atau hal hal yang berbau tentang basket.
Tetapi,bukan berarti dia buta terhadap fashion atau hal hal yang berbau wanita. Dia juga wanita yang cukup up to date untuk urusan seperti ini namun dia sama sekali tidak terlalu memikirkannya karena dia memang kurang tertarik tentang hal itu.
Setelah berkeliling mencari store yang salsa inginkan,kami pun akhirnya sampai di store tersebuut. Nampaknya dia sangat antusias dengan hal ini dan sama sekali mengacuhkn gue yang berada di belakangnya.
Sesekali dia pun mencoba untuk mengelilingi store ini sambil mulai memilih milih barang yang ia inginkan. Tak lupa gue pun mencoba memberikan saran kepadanya agar ia tidak terlalu bingung dalam hal ini.
Tak lama kemudian,salsa pun menjatuhkan pilihannya kepada satu sepatu yang menurut gue sangat cocok kepadanya. Inilah yang membuat gue agak sedikit nyaman jika menemani salsa belanja,yaitu dia tidak terlalu mengambil pusing terhadap apa yang dia inginkan,berbeda dengan wanita lainnya yang harus bolak balik untuk menacri barang yang dia inginkan dan membutuhkan waktu yang sangat lama.
Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke suatu toko buku di mall ini setelah selesai mencari sepatu yang dia inginkan. Toko buku juga terbilang salah satu tempat favorit salsa karena dia bisa menghabiskan waktu berjam jam untuk membaca buku di tempat ini atau sekedar melihat buku buku terbaru yang berada di tempat ini.
Saking dia terlalu asik dengan tempat ini,gue baru tersadar bahwa kami sudah berada di tempat ini selama 2 jam hanya untuk melihat buku yang dia inginkan. Gue sendiri heran dengan perempuan seperti salsa karena selama gue dekat dengan seseorang perempuan,hanya dia yang menurut gue berbeda dengan perempuan perempuan lainnya.
Setelah salsa akhirnya membeli buku yang dia inginkan,kami pun langusng bergegas unutk keluar dari mall ini dan mencari suatu tempat makan di pinggir jalan. Di mobil pun gue seperti diacuhkan oleh salsa karena dia seperti menemukan dunianya,yaitu membaca novel terbaru yang baru ia beli barusan.
Gue bukannya kesal atau semacamnya,yang berada di pikiran gue terhadap cewek ini adalah suatu tanda tanya besar. Seperti kenapa sih dia ga kayak cewek cewek lainnya? Kenapa sih dia rela untuk ngabisin waktu dia buat sekedar baca novel? Atau lebih tertarik terhadap basket?
“saal” sahut gue
“ha iya kak?” tanyanya yang masih fokus terhadap novelnya
“kamu kenapa deh?”
“maksudnya?”
“yaa beda aja ga kayak cewek lain,aku heran hahaha” sahut gue
“hahaha emang aneh ya kak?”
“ya engga kok,cuman beda aja gitu”
“beda gimana emangnya kak?”
“yaa se suka itukah sama basket dan buku?ya aku sih belom nemu aja cewek kayak kamu hahaha”
“gatau kak,aku juga pengen kok kayak cewek lain yang selalu merhatiin fashion atau semacamnya”
“tapi ya aku ga bisa, kayak ga pede aja hahaha. Ga ngerasa cocokk sama hal hal yang terlalu feminism atau kecewek cewek an.make up pun sewajarnya cewek ,itu juga jarang jarang. Dan aku tuh lebih suka buat ngabisin waktu berjam jam buat nonton nba atau main gamenya hahaha.."
“aku aja gangerti apa apa loh. Kayak emang ga suka basket atau hal hal yang berbau kayak gitu.padahal aku cowok ya?hahaha”
“ya kan bukan masalah gender juga kak,tapi masalah hobi. Mau kakak suka mainnya boneka bonekaan juga emang kenapa?kan ga ada aturannya kalo boneka harus dimmainin sama perempuan atau olahraga harus dimainin sama laki laki kan?”
Sekitar satu jam berada di jalan,gue akhirya sampai di stautu warung kaki lama yang cukup terkenal di Jakarta ini. Kami pun langsung mencari spot yang menurut kami lebih wah dibanding spot lainnya,yaitu lbisa melihat lalu lalang jalanan ibu kota ini.
Sesekali kami mencoba untuk mengomentari hal hal yang berada di jalanan ini,seperti pakaian seseorang,atau caranya berbicara,atau hal hal yang menurut kami wajib untuk kami komentari. Tak lupa gue mencoba untuk menyelipkan jokes yang membuatnya tertawa kecil dengan sangat manis.
Mungkin,momen seperti ini mulai bisa membuat gue untuk sedikit melupakan sosok ghina perlahan lahan.gue meraa inilah hal yang benar benar bisa disebut quality time bersama seseorang yang cukup berarti buat kita.
“eeeh kak” katanya sambil menyimpulkan senyuman di bibirnya
“kenapaa sal?”
“Adam udah ngga deketin aku lagi kak” sahutnya senang
“ wah kok bisaa?”
“nggatau deh,emang kakak apain sih? Kok bisa gitu?hahaha” tanyanya sambil tertawa
“ya yang menurutku harus diomongin aja sih,bagus berarti kann?”
“iyasih,tapi lucu aja gituu kak bisa bisanya langsung beda”
“terus ga ada yang deketin kamu lagi tuh?”
“engga,males ah enakan kayak gini”
“enak gimana?” tanya gue yang mulai ingin tahu
“yaa enak aja kak,mungkin efek dari adam kali ya?kayak bebas aaja sih. Lagian aku kan pernah bilang aku juga ngga suka pacaran kayak orang orang,yang dulu aku bilang lebih suka tanpa ikatan gitu kak”
“ya tapi semua cowok juga ga kayak adam loh saal”
“kayak,ada mungkin orang yang ngerti mau kamu gimana, atau sekedar yang sepemikiran sama kamu kayak nggamau terikat gitu” sahut gue
“kakak dong? Kakak kan ngga suka terikat juga kan? hahaha”
“ahahaha ga gitu juga,emang mau sama aku apa?”
“Enggak sih kayaknya,kayak ngga kebayang aja nanti sama kakak gimana. Yang ada aku malah banyak dosa gara gara ngatain orang dijalan mulu” sahutnya sambil tertawa lepas
“dih gitu,orang kamu yang mulai sih” ucap gue membela
Piring piring yang berada di meja kami pun sudah mulai dibereskan oleh pedagang warung ini dan kami pun memilih untuk pulang karena jam yang sudah menunjukkan pukul 10 malam. Gue pun akhirnya mulai untuk memacu mobil gue melewati jalanan yang cukup ramai ini menuju rumah salsa.
Kami pun masih terlarut dalam obrolan obrolan ringan yang membuat seakan akan waktu berjalan cepat di malam ini. Keadaan jalan yang cukup macet pun seakan akan berjalan lancer karena kami sama sekali tidak peduli dan lebih memilih untuk terlarut dalam kondisi ini.
1 jam perjalanan kami pun sama sekali tidak ada rasanya untuk gue. Gue seakan akan sangat menikmati momen ini dan tanpa tersadar bahwa gue sudah sampai tepat di depan rumahnya. Setelah dia berpamitan,gue mencoba untuk behenti sejenak sambil mengistirahatkan tubuh gue di dalam mobil ini.
Gue mencoba unntuk mengambil hp gue yang berada di saku celana gue sambil menikmati sebatang rokok yang gue hisap daritadi. Setelah gue memegang hp ini,gue mencoba untuk mengecek hp gue dikarenakan gue sama sekali tidak memegang hp ini dari siang.
Beberapa saat kemudian,gue melihat ada 1 sms yang masuk dari hp gue dan gue pun mencoba membukanya.
SMS :
Enak ya yang jalan berdua sama cewek di sency,pantes ga dikabarin