- Beranda
- Stories from the Heart
DUA PULUH
...
TS
tumpaseae
DUA PULUH
Quote:
Indeks:
#1 Everyones Mommy
#2 The ONe with Repeated
#3 Salah Paham Manda
#4 Patah
#5 The One who Can See
NYARIS KISAH NYATA
#1 EVERYONES MOMMY
Masih dengan keadaan setengah sadar Sam berjalan menuju lantai dua kontrakan, hari ini minggu jadi maklumlah kalau kontrakan masih sepi seperti ruang ujian.
"Faaan.", panggil Sam dengan suara serak khas bangun tidurnya.
"Yaaa", teriak Fani dari dalam.
Segera Sam masuk melalui satu-satunya pintu yang menghubungkan langsung balkon atas dengan ruangan lantai dua.
"Makan yuk Fan, lontong sayur padang kek nya sedap, Fan.", ajak Sam yang menyender di kusen pintu sambil menggaruk-garuk punggungnya.
"Ya, tunggu. Ini dikit lagi beres. Lo bangunin anak-anak bawah, biar anak-anak atas gue bangunin.", jawab Fani yang masih sibuk membersihkan dapur.
Sepagi ini Fani sudah selesai mencuci, berberes di lantai dua mulai dari kamarnya, dapur sampai balkon sudah ia pel.
"Neeeess.", Fani mengetok pelan pintu kamar Nesa, selepas subuh tadi Nesa tidur lagi karena semalam ia begadang mengerjakan laporan praktikumnya yang deadline nanti malam. Nesa paling tidak suka kalau minggunya diganggu dengan urusan kuliah. Tidak ada yang boleh merusak Minggunya.
Nesa tak kunjung bangun, padahal yang lain sudah siap-siap.
"Saaa!! Lo mau sarapan ngga? Bangun, kita mau makan ke depan!", gedor Fani agak keras kali ini.
"Iya!! Ini gue lagi sarapan kok!", teriak Nesa dari dalam kamar.
"Nesa mana?", tanya Indra ketika mereka semua sudah berkumpul di teras depan lantai satu. Rumah kontrakan mereka terdiri dari tiga lantai, tangga yang menghubungkan setiap lantai terletak perseis di sudut teras jadi lantai satu dengan lantai yang lain terpisah sama sekali.
"Masi tidur. Semalem dia ngga tidur sama sekali gegara laporan.", jawab Manda sambil memasukkan password gembok pintu pagar.
"Da, lontong sayurnya lima ya, pakai telor semua. Yang tiga komplit plus kuah kacang tapi yang satunya dibungkus, trus yang satu ngga pake lobak tanpa kuah kacang, yang satu lagi ngga pake mi kuning.", pinta Fani lancar menyebutkan pesanan.
"Hari ini agenda kita enaknya ngapain ya?", tanya Indra sambil menunggu pesanan mereka.
“Lo ada kuis besok, Ndra. Jangan lupa.”, balas Fani sambil mengisi gelas-gelas dengan air yang tersedia di dalam teko.
“Alamak. Bener, untung lo ingetin, Fan!”, Indra benar-benar lupa kalau ia ada dua kuis.
“Woi, gue gabung ya?”, Erik, kaka sepupu Fani. Erik lebih tua tiga tahun dari Fani, sekarang ia tengah menempuh tahun kedua magisternya di kampus yang sama dengan Fani.
“Oi, bang. Duduk bang.”, ucap Sam sambil menarik bangku di sebelahnya.
“Tumben bang, ngga lari pagi di SARAGA.”, tanya Indra sebab Erik tak memakai pakaian olahraganya seperti biasanya.
“Lagi males. Lagian ini juga mau ke Jakarta, ada kondangan temen.”, jawab Erik sambil menerima gelas berisi minum dari Fani.
“Lo kapan bang?”, tanya Indra sambil senyum penuh arti melirik kepada Manda yang tak biasanya diam seperti orang linglung.
“Hahha, ngga tau gue. Masih di tangan Tuhan. Belum ditunjukin jalannya, ini masi ngeraba-raba.”, jawab Erik asal.
“Hati-hati Bang, salah raba bisa berabe.”, balas Sam. “Au, sakit Fan!”, Sam meringis ketika kepalanya dijitak Fani keras.
“Lo kalo ngomong ngga ada filternya. Ngga liat apa di sini ada dua anak gadis?”, Fani ngomel-ngomel.
“Lah kan iya Fan, salah raba bisa jadi masalah. Eh, tapi siapa bilang kalian perempuan?”, Sam menggerutu yang kemudian mendapat cubitan panas di pinggangnya. “Hati-hati Fan, ntar kecubit yang iya-iya jadi berabe.”, Sam terkekeh sambil memegangi tangan Fani.
“Sam! Bego!”, Fani menoyor kepala Sam lagi.
“Manda kok diem aja si?”, tanya Erik yang melihat Manda menunduk dalam semenjak kedatangannya tadi.
“Eh, ngga kok bang.”, jawab Manda sekenanya.
“Lagi panas dalem bang. Makanya diem.”, balas Indra yang mendapat pelototan dari Manda. “Tuh, liat aja pipinya nyampe merah kek itu.”, tambah Indra lagi.
“Ngga kok bang.”, Manda membela diri.
“Kamu risih ya aku gabung di sini?”, goda Erik.
“Eh, ngga bang. Serius.”, jawab Manda kaget mendengar Erik berpikir seperti itu.
“Seneng iya kali bang.”, bisik Indra pada Manda.
Sungguh, rasanya Manda ingin pulang saja. Boleh ngga lontongnya dibungkus trus bawa pulang? Ia meringis dalam hati.
“Nesaaaa! Bangun woi, udah jam Sembilan.”, Fani membuka pintu kamar Nesa yang ternyata tak dikunci. “Nes, woi. Bangun.”, Fani menggoyang-goyangkan bahu Nesa.
“Iya, ini dari tadi udah bangun.”, Nesa ngelindur lagi.
“Lo dari tidur belum bangun, Nes. Ini udah gue beliin lontong sayur.”, balas Fani sambil menyalakan laptop Nesa.
Nesa duduk dengan mata yang masih terpejam.
“Ini udah bangun nih.”, Nesa dengan suara seksi khas bangun tidurnya menye-menye sendiri.
“Nes, woi.”, Fani membangunkan Nesa yang entah sejak kapan sudah bersandar ke dinding di belakangnya, tertidur lagi.
“Iyaaa”, sekarang Nesa benar-benar sudah bangun dan berjalan menuju kamar mandi.
“Lontongnya kek biasakan Fan?”, tanya Nesa sambil menggosok gigi di depan pintu kamarnya.
“Nes, lo udah bangun?”, tanya Fani geli?
“Ini udah woi. Kan lagi gosok gigi gue. Ih odol gue udah kadaluarsa deh.”, balas Nesa kesal.
Fani berjalan kea rah Nesa dan mengangkat tangan Nesa yang sedang memegang facial foam.
“Aak, pantes rasanya aneh. Berpasir-pasir gitu.”, Nesa langsung meludah ke kamar mandi yang terletak pas di samping kamarnya.
Sudah jam dua siang, pantas saja Fani lapar, ia ketiduran dari jam sebelas tadi. Fani mendapati dapur dalam keadaan berantakan, sepertinya anak-anak habis membuat nasi mi goreng. Kecap dan saus sambal mengotori kompor yang tadi pagi sudah ia bersihkan, kuali dan piring bekas dibiarkan begitu saja di wastafel. Sudahlah, ia sangat lapar sampai-sampai untuk mengomelpun ia tak sanggup.
Indra dan Sam berkejar-kejaran di lantai dua sambil menyemprotkan air satu sama lainnya. Entah bagaimana ceritanya hingga laki-laki ini bisa perang seperti anak kecil. Alhasil ruang tengah di lantai dua becek ditambah lagi dengan marmer yang berwarna putih gading membuat jejak-jejak kaki di lantai semakin terlihat.
Fani yang baru datang hanya diam berdiri di pintu masuk, memperhatikan Indra dan Sam yang masih asik dan Nesa Manda tengah sibuk menonton di kamar Nesa.
Fani melemparkan bungkusan makanan yang tadi ia makan ke atas wastafel hingga menyenggol kuali yang langsung jatuh ke dalam bak pencuci piring, menimbulkan bunyi gaduh. Indra dan Sam langsung berhenti dari kejar-kejaran mereka.
“Gue ngga pernah mempermasalahkan soalan gue yang selalu beresin lantai dua, ngga pernah gue ngomel. Tapi seengganya kalian juga hargain gue dong yang udah capek bersihin. Gue ngga apa ngga dibantuin, tapi please tolong dijaga. Itu doang udah sangat membantu. Kalian udah kebangetan.”, Fani sudah tidak kuat lagi.
Kejadian ini bukan sekali atau dua kali tapi sudah berkali-kali dan Fani selalu diam. Inilah jadinya kalau memendam-mendam unek-unek, sekalinya keluar langsung meledak gede.
Fani langsung berlari ke kamar dengan air mata yang sudah tak bisa ia bendung. Ia menangis sejadi-jadinya di dalam kamar.
Sedangkan Indra dan yang lain merasa sangat bersalah pada Fani.
Sudah mau magrib dan dari tadi Fani tak keluar dari kamar. Indra dan Sam masih menunggu Fani di kamar Nesa.
“Lo juga sih, bisanya buat nangis anak orang.”, omel Manda ketika ia duduk di sebelah Nesa. “Fani tu orangnya ngga suka kotor, dia juga bukan tipe yang kalau ngerasa apa-apa langsung ngomong, pas dia udah ngga tahan ya kaya tadi siang. Langsung keluar semuanya.”, jelas Manda yang memang sudah menjadi teman dekat Fani semenjak SMA dulu.
Indra dan Sam diam sebab mereka tau kalau mereka salah dan memang tak ada yang perlu dibela dari kesalahan mereka barusan.
Tiba-tiba Fani keluar dari kamarnya dan masuk ke dalam kamar mandi kemudian masuk lagi ke dalam kamar.
“Fan, aku masuk ya.”, ketok Indra pelan di pintu kamar Fani yang memang tak tertutup rapat.
Fani sedang duduk di kursi meja belajarnya kemudian memutar badannya menghadap Indra.
“Hai, lo lagi apa?”, tanya Indra basa-basi.
Sam yang mendengarnya hanya bisa menepuk keningnya, "Ngapain juga nanya, ngga bisa liat apa!", bisik Sam kesal pada dirinya
“Indra bego ya kalau udah ngomong sama Fani.”, celetuk Nesa yang entah sejak kapan ikut berdiri menyender di sebalah Sam.
“Lo bisa ngga sekali-kali ngga kaya setan. Tiba-tiba ada tiba-tiba ilang.”, omel Sam yang kaget. “Bego maksudnya apa?”, tanya Sam penasaran.
Nesa hanya diam sambil cengengesan. Mereka berdua diam menyimak Indra yang sedang berbicara dengan Fani.
“Fani, maaf soal yang tadi.”, Indra duduk di tepi meja belajar Fani, menghadap Fani yang masih diam. “Fan? Gue minta maaf.”, ulang Indra.
Fani paling tidak tahan dengan yang seperti ini, airmatanya sudah mengucur keluar lagi. Indra yang tak mendapat jawaban Fani tambah panik menapati Fani menangis lagi.
“Fan, udah dong nangisnya, maafin gue ya?”, bujuk Indra yang sudah berlutut di depan Fani sedang yang bersangkutan masih menangis, walau tak bersuara tapi Fani sudah sesegukan dari tadi.
Indra diam sambil memegang kedua tangan Fani yang dipangku di atas pahanya, sambil sesekali mengusap punggung pergelangan tangan Fani dengan ibu jarinya.
“Kalian tu jahat banget ya.”, akhirnya Fani bersuara. “Bener-bener ngga ada ngotaknya. Gue ngga pernah kan nyinggung-nyinggung tentang gue yang selalu beresin rumah? Karena itu memang kesadaran gue, tapi tolong gue buat ngejaga nya. Sakit tau diginiin. Kayak yang gue ngga dihargaiin.”, semuanya tumpah, ia sudah tidak sanggup memendamnya sendiri.
“Iya, gue minta maaf ya? Gue sama Sam salah.”, pinta Indra sambil mencari-cari mata Fani.
Fani masih menunduk dan mengangguk pelan.
“Mana Sam?”, tanya Fani agak galak.
“Hamba di sini Yang Mulia.", Sam tiba-tiba muncul dari balik pintu dan langsung berlutut seolah Fani adalah Ratu dan ia ajudannya. “Maafkan kesalahan hamba. Mohon jangan hamba dihukum pancung.”, tutur Sam sambil membungkuk dalam.
Fani diam sambil menggigit bibirnya, menatahan tawanya. Sam memang paling bisa kalau urusan seperti ini.
Sam melirik Fani hati-hati karena tak kunjung mendapat jawaban.
“Fan, maafin gue doong.”, rengek Sam sambil mendekat dan menggenggam tangan Fani. “Gue janji ngga bakalan ulang-ulang lagi.”, tambah Sam sambil melukis garis silang di dada kirinya, tepat di bagian jantungnya kemudian mengangkat telapak tangannya seolah bersumpah.
Fani hanya membalasnya dengan senyum simpul.
“Jadi gue dimaafin ngga ini Fan?”, tanya Sam meminta kejelasan yang dibalas Fani dengan anggukan.
Segera Sam memeluk Fani sampai-sampai kaki Fani tak menapak lantai.
“Sam, sesek”, ucap Fani terbata-bata sebab Sam memeluknya kencang.
“Maafin gue yaaa.”, pinta Sam lagi berbisik tepat di telinga Fani.
“Iya, iya. Lepas dulu, sesek gue”, protes Fani sambil berusaha melerai peluk Sam.
“And then they are living happily ever after!”, sorak Nesa agak keras dan menampakkan bibir bebeknya dari pintu yang tak tertutup rapat.
-----
Diubah oleh tumpaseae 26-04-2016 00:36
anasabila memberi reputasi
1
1.9K
13
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
tumpaseae
#6
#4 Patah
Sudah empat jam, dari jam lima sore tadi mereka berlima movie marathon di ruang tengah lantai satu. Barusan film kedua mereka selesai. Satu film action dari Sam, romance dari Fani dan horror dari Nesa.
“Fan, romancenya yang bagus ya.”, pinta Sam sambil memainkan alisnya.
“Jangan mikir yang iya iya deh. film gue ngga ada blue scenenya. Kalo mau nonton begituan sono ke bawah sendiri.”, balas Fani.
“Lo suka ngerasa sakit perut ngga kalau liat scene romantis-romantis?”, tiba-tiba Nesa berbicara sambil memegang perutnya.
“Sakit gimana?”, tanya Sam.
“Iya, sakit. Kaya keram gitu. Gue kaya gitu terus kalo liat yang scene giung-giung gitu.”, balas Nesa.
“Aneh, bukannya cewe suka ya romantisan?”, Nesa aneh, pikir Sam.
“Ngga tau juga si. Poko nya kaya gitu kalau gue nonton yang ada giung-giungnya. Ngga ngerti juga. Lagian ya, gue ngga percaya sama cinta-cintaan. Tuh, liat aja. Emang segampang itu ya suka sama orang?”, Nesa menunjuk layar tivi dengan dagunya.
“Berarti lo belum pernah suka sama cowo?”, tanya Sam sambil memandang curiga.
“FYI ya Sam, gue normal. Straight. Dan gue belum pernah suka sebelumnya sama cowo.”, jujur Nesa.
“Serius?!”, Fani mem-pause filmnya.
Nesa kaget dan membalas dengan anggukan kaku.
“Kasian.”, Fani memandang prihatin.
“Yeeee, biasa aja kaliii. Emang kaya apa si rasa suka sama orang?”, tanya Nesa penasaran.
“Hmm, seneng pokonya Nes. Kalau lo ketemu sama doi, seolah-olah semuanya tu brenti, Cuma dia doang yang bergerak di ruang mata lo. Serius. Pokonya gitu deh, ngga ngerti juga gue cara jelasinnya kaya gimana.”, jelas Fani semangat.
“Kaya yang pernah pacaran aja.”, ledek Sam yang dibalas Fani dengan lirikan sinis.
“Lo mesti nyoba jatuh cinta, at least sekali seumur hidup.”, tutur Fani lagi.
“Lah kenapa Cuma sekali?”, tanya Sam ikutan bodoh.
“Ya kalo ngga dia mau nikah sama siapa? Ngga mungkin dia nikah sama orang yang ngga dia suka. Tumben lo lelet soal beginian.”, ledek Fani.
“Oiya, bener yak. Iya tuh Nes, you must falling in love seengganya once in your lifetime.”
“Ngga usah nerjemahin kata-kata gue juga kale Sam.”, Fani memandang Sam malas.
“Woi, ngapain kalian?”, Indra baru pulang dari kampus.
“Introgasi Nesa. Doi belum pernah jatuh cinta katanya.”, Fani menjawab sekenanya.
“Serius Nes?!”, tanya Indra kaget.
“Ngga usah pake kaget juga kali Ndra. kok kaget banget si denger gue belum pernah suka sama orang?", Nesa mulai sebal.
“Atau ngga, lo bisa belajar mencintai dari gue Nes. Gue bersedia jadi pembimbing lo.”, tawar Sam asal.
“Itu lo yang demen bego.”, Indra mengata-ngatai Sam sambil ia ke kamar.
Restu send a picture
Restu: Gue turut berduka cita Sam
“Nooo nooo.”, tiba-tiba Sam berteriak mendramatisir sambil guling-guling di karpet.
“Kenapa? Lo kenapa Sam?”, semuanya kaget melihat Sam seperti ini.
“Gue mau mati aja. Ngga mau idup lagi. Jodoh gue, calon bini gue. Tuhan memang kejam.”, Sam meracau tidak jelas.
“Apa si? Siapa calon bini lo? Kaya ada aja yang mau sama lo.”, ledek Indra.
“Taeyeon gue jadian, dia dating sama si Baekhyun EXO. Noo gue ngga bisa nerima kenyataan ini. engga.”, Sam menunjukkan screen shoot yang dikirimkan Restu padanya.
Indra menepuk kepala Sam agak keras sampai ia diam.
“Menghayalnya ngga usah jauh-jauh. Elo dimana doi dimana.”, giliran Fani yang meledek Sam
“Lo pada ngga ngerti dengan perasaan gue.”, Sam belagak sedih.
“Gayaa lo cong”, balas Indra seadanya.
Kemudian mereka lanjut menontot film, membiarkan Sam yang sibuk membaca setiap artikel yang berhubungan dengan breaking news-nya.
***
“Doi kenapa?”, tanya Manda ketika melihat Sam yang menyanyi agak keras, memutar semua yang dinyanyikan oleh Taeyeon SNSD.
“Galau doi, calon bini kayalannya jadian sama orang lain. udah dari tadi sore kaya gitu.”, jawab Fani.
“He? Siapa?”, tanya Manda.
“Taeyeon SNSD.”, gentian Indra yang menjawab.
“Yang mana si? Gue kan ngga K-Popers.”
“Itu, cewe yang dalem poster di kamar si Sam. Yang waktu itu lo bilang cakep, trus unyu-unyu karena badannya kecil.”, jelas Indra lagi.
Aaah, gumam Manda tak bersuara.
“Ngeri ya kalau udah ngefans mati sama artis.”, Manda bergidik ngeri sendiri melihat Sam seperti orang patah hati sunggguhan, padahal siapa dia siapa Taeyeon.
Entah siapa yang gila.
“Dah, biarin aja. Palingan pas nemu penyanyi korea yang lebih cakep udah lupa dia.”, gumam Fani yang terpaku dengan film horror dari Nesa.
Manda tiba-tiba meringis sendiri ketika ia melihat beranda Facebooknya.
Erik Candra in relationship with Fauziah Ayu Dewi
Erik Candra tagged on Fauziah Ayu Dewi in “ Awesome!” album
“Apa kabar lo sama si Panji?”, tanya Nesa tiba-tiba.
Fani kaget mendengar pertanyaan Nesa, sedangkan yang bersangkutan diam-diam saja menikmati film horrornya. Pasalnya tidak ada yang tau tentang Panji selain Nesa dan Manda.
“Kenapa?”, tanya Nesa tak bersalah.
Inilah susahnya sama Nesa, dia suka keceplosan. Tanpa sadar ia mengangkat topik yang ngga seharusnya dibicarakan. Tapi di antara mereka berlima Nesa lebih kena nasehatnya setelah Manda.
“Panji? Siapa?”, tanya Indra penasaran.
“Ngga ko, Cuma temen-“, Fani menjawab cepat yang dipotong langsung oleh Nesa.
“Yang PHP in Fani tiga taun”, jawab Nesa enteng, lagi. “Lo ngga tau?”, tanya Nesa lagi.
Fani langsung memberikan tatapan ‘menurut ngana aja! Emang gue pernah cerita selain lo sama Manda?!’.
Indra menggeleng, Fani meringis, Nesa bengong, Manda diam membaca retweetan Erik dengan akun bernama @fauziahayu.
“tiga tahun? Like seriously Fan? Lo bego apa tolol?”, Indra mendengus.
“Ya menurut lo aja.”, Fani kesal diledek.
“Lo ngga akan bisa bedain mana yang bego mana sayang pas jatuh cinta.”, tiba-tiba Nesa bersuara.
Indra diam dan membenarkan Nesa dalam hatinya. Bahkan lo juga kan, Ndra? Bisiknya miris dalam hati.
“Tanpa lo sadari, ketika lo jatuh cinta ada orang yang ngga sengaja lo lukai.”, Nesa memberi kata-kata bijak lagi.
“Gimana bisa bego kaya gitu lo Fan?”, tanya Indra.
Fani sudah lelah ditanyai seperti ini, dengan suara bergetar ia menceritakan semuanya pada Indra. Fani dan Nesa tetap menyimak meski mereka sudah hapal di luar kepala cerita menyedihkan Fani.
Tiga tahun? Kurang bodoh apa lagi dia.
“Ya gitu Ndra. Semuanya tu kaya seiring dengan waktu gitu loh. Asanya kita biasa aja pas SMA, temen deket. Nah, tiba-tiba pas sebulan mau UN kita tu diem-dieman ngga jelas. Kita diem-dieman sampe terima kelulusan.”, Fani menarik napas panjang, Indra mengangguk-angguk kecil mendengarkan.
Keadaan makin sendu ditambah dengan lagu-lagu yang diputar oleh Sam. Lengkap sudah.
“Trus?:, tanya Indra lagi menyadarkan Fani dari lamunannya.
“Nah, tiba-tiba pas masa-masa bimbel, doi sms. Tiba-tiba bilang kangen. Ya gue biasa aja, sabodo sateuing aja. Nah ngga tau mulainya kapan, tau-tau kita udah kek orang pacaran aja smsnya. Yaa, gitu deh. smsan tiap hari, tau jadwal masing-masing, ya gitu deh. doi juga kasi gue perhatian yang ngga semestinya lo dapetin dari temen cowo biasa. Poko nya gue dibikin nyaman banget sama perhatian-perhatian haram dia. Puncak bapernya gue itu pas lebaran dua tahun lalu, pas dia bilang gue kapan ke rumah dia ketemu sama calon mertua. Semuanya akan terdengar biasa aja kalo selama ini dia ngga kasi gue perhatian intens kaya gitu, semuanya normal-normal aja kalo dia ngga flirty by text dengan gue. di situ gue bingung. Nah,, pas semester lalu kalo ngga salah, gue lupa pastinya kapan, gue tanya ke dia sebenernya gue dia itu ada apa. Gue ngga mau kayak gini, ngga jelas. Terus dia bilang dia ngga tau juga gue itu apa buat dia. Nah gara-gara itu sampe sekarang gue ngga pernah lagi bales semua pesan dia, ditelfon gue biarin. Ya gitu deh, standar mah masalah gue.”, Fani menyudahi.
“Mana liat fotonya?”, tanya Indra kemudian Nesa mencari akun Instagram Panji.
“Nih”, Nesa menyerahkan handphonenya.
Ganteng sih, tapi keliatan kok playboynya. Pikir Indra.
Malam itu, kecuali Nesa yang masih tak percaya dengan cinta, hati tiga orang dari mereka benar-benar patah.
*****
“Fan, romancenya yang bagus ya.”, pinta Sam sambil memainkan alisnya.
“Jangan mikir yang iya iya deh. film gue ngga ada blue scenenya. Kalo mau nonton begituan sono ke bawah sendiri.”, balas Fani.
“Lo suka ngerasa sakit perut ngga kalau liat scene romantis-romantis?”, tiba-tiba Nesa berbicara sambil memegang perutnya.
“Sakit gimana?”, tanya Sam.
“Iya, sakit. Kaya keram gitu. Gue kaya gitu terus kalo liat yang scene giung-giung gitu.”, balas Nesa.
“Aneh, bukannya cewe suka ya romantisan?”, Nesa aneh, pikir Sam.
“Ngga tau juga si. Poko nya kaya gitu kalau gue nonton yang ada giung-giungnya. Ngga ngerti juga. Lagian ya, gue ngga percaya sama cinta-cintaan. Tuh, liat aja. Emang segampang itu ya suka sama orang?”, Nesa menunjuk layar tivi dengan dagunya.
“Berarti lo belum pernah suka sama cowo?”, tanya Sam sambil memandang curiga.
“FYI ya Sam, gue normal. Straight. Dan gue belum pernah suka sebelumnya sama cowo.”, jujur Nesa.
“Serius?!”, Fani mem-pause filmnya.
Nesa kaget dan membalas dengan anggukan kaku.
“Kasian.”, Fani memandang prihatin.
“Yeeee, biasa aja kaliii. Emang kaya apa si rasa suka sama orang?”, tanya Nesa penasaran.
“Hmm, seneng pokonya Nes. Kalau lo ketemu sama doi, seolah-olah semuanya tu brenti, Cuma dia doang yang bergerak di ruang mata lo. Serius. Pokonya gitu deh, ngga ngerti juga gue cara jelasinnya kaya gimana.”, jelas Fani semangat.
“Kaya yang pernah pacaran aja.”, ledek Sam yang dibalas Fani dengan lirikan sinis.
“Lo mesti nyoba jatuh cinta, at least sekali seumur hidup.”, tutur Fani lagi.
“Lah kenapa Cuma sekali?”, tanya Sam ikutan bodoh.
“Ya kalo ngga dia mau nikah sama siapa? Ngga mungkin dia nikah sama orang yang ngga dia suka. Tumben lo lelet soal beginian.”, ledek Fani.
“Oiya, bener yak. Iya tuh Nes, you must falling in love seengganya once in your lifetime.”
“Ngga usah nerjemahin kata-kata gue juga kale Sam.”, Fani memandang Sam malas.
“Woi, ngapain kalian?”, Indra baru pulang dari kampus.
“Introgasi Nesa. Doi belum pernah jatuh cinta katanya.”, Fani menjawab sekenanya.
“Serius Nes?!”, tanya Indra kaget.
“Ngga usah pake kaget juga kali Ndra. kok kaget banget si denger gue belum pernah suka sama orang?", Nesa mulai sebal.
“Atau ngga, lo bisa belajar mencintai dari gue Nes. Gue bersedia jadi pembimbing lo.”, tawar Sam asal.
“Itu lo yang demen bego.”, Indra mengata-ngatai Sam sambil ia ke kamar.
Restu send a picture
Restu: Gue turut berduka cita Sam
“Nooo nooo.”, tiba-tiba Sam berteriak mendramatisir sambil guling-guling di karpet.
“Kenapa? Lo kenapa Sam?”, semuanya kaget melihat Sam seperti ini.
“Gue mau mati aja. Ngga mau idup lagi. Jodoh gue, calon bini gue. Tuhan memang kejam.”, Sam meracau tidak jelas.
“Apa si? Siapa calon bini lo? Kaya ada aja yang mau sama lo.”, ledek Indra.
“Taeyeon gue jadian, dia dating sama si Baekhyun EXO. Noo gue ngga bisa nerima kenyataan ini. engga.”, Sam menunjukkan screen shoot yang dikirimkan Restu padanya.
Indra menepuk kepala Sam agak keras sampai ia diam.
“Menghayalnya ngga usah jauh-jauh. Elo dimana doi dimana.”, giliran Fani yang meledek Sam
“Lo pada ngga ngerti dengan perasaan gue.”, Sam belagak sedih.
“Gayaa lo cong”, balas Indra seadanya.
Kemudian mereka lanjut menontot film, membiarkan Sam yang sibuk membaca setiap artikel yang berhubungan dengan breaking news-nya.
***
“Doi kenapa?”, tanya Manda ketika melihat Sam yang menyanyi agak keras, memutar semua yang dinyanyikan oleh Taeyeon SNSD.
“Galau doi, calon bini kayalannya jadian sama orang lain. udah dari tadi sore kaya gitu.”, jawab Fani.
“He? Siapa?”, tanya Manda.
“Taeyeon SNSD.”, gentian Indra yang menjawab.
“Yang mana si? Gue kan ngga K-Popers.”
“Itu, cewe yang dalem poster di kamar si Sam. Yang waktu itu lo bilang cakep, trus unyu-unyu karena badannya kecil.”, jelas Indra lagi.
Aaah, gumam Manda tak bersuara.
“Ngeri ya kalau udah ngefans mati sama artis.”, Manda bergidik ngeri sendiri melihat Sam seperti orang patah hati sunggguhan, padahal siapa dia siapa Taeyeon.
Entah siapa yang gila.
“Dah, biarin aja. Palingan pas nemu penyanyi korea yang lebih cakep udah lupa dia.”, gumam Fani yang terpaku dengan film horror dari Nesa.
Manda tiba-tiba meringis sendiri ketika ia melihat beranda Facebooknya.
Erik Candra in relationship with Fauziah Ayu Dewi
Erik Candra tagged on Fauziah Ayu Dewi in “ Awesome!” album
“Apa kabar lo sama si Panji?”, tanya Nesa tiba-tiba.
Fani kaget mendengar pertanyaan Nesa, sedangkan yang bersangkutan diam-diam saja menikmati film horrornya. Pasalnya tidak ada yang tau tentang Panji selain Nesa dan Manda.
“Kenapa?”, tanya Nesa tak bersalah.
Inilah susahnya sama Nesa, dia suka keceplosan. Tanpa sadar ia mengangkat topik yang ngga seharusnya dibicarakan. Tapi di antara mereka berlima Nesa lebih kena nasehatnya setelah Manda.
“Panji? Siapa?”, tanya Indra penasaran.
“Ngga ko, Cuma temen-“, Fani menjawab cepat yang dipotong langsung oleh Nesa.
“Yang PHP in Fani tiga taun”, jawab Nesa enteng, lagi. “Lo ngga tau?”, tanya Nesa lagi.
Fani langsung memberikan tatapan ‘menurut ngana aja! Emang gue pernah cerita selain lo sama Manda?!’.
Indra menggeleng, Fani meringis, Nesa bengong, Manda diam membaca retweetan Erik dengan akun bernama @fauziahayu.
“tiga tahun? Like seriously Fan? Lo bego apa tolol?”, Indra mendengus.
“Ya menurut lo aja.”, Fani kesal diledek.
“Lo ngga akan bisa bedain mana yang bego mana sayang pas jatuh cinta.”, tiba-tiba Nesa bersuara.
Indra diam dan membenarkan Nesa dalam hatinya. Bahkan lo juga kan, Ndra? Bisiknya miris dalam hati.
“Tanpa lo sadari, ketika lo jatuh cinta ada orang yang ngga sengaja lo lukai.”, Nesa memberi kata-kata bijak lagi.
“Gimana bisa bego kaya gitu lo Fan?”, tanya Indra.
Fani sudah lelah ditanyai seperti ini, dengan suara bergetar ia menceritakan semuanya pada Indra. Fani dan Nesa tetap menyimak meski mereka sudah hapal di luar kepala cerita menyedihkan Fani.
Tiga tahun? Kurang bodoh apa lagi dia.
“Ya gitu Ndra. Semuanya tu kaya seiring dengan waktu gitu loh. Asanya kita biasa aja pas SMA, temen deket. Nah, tiba-tiba pas sebulan mau UN kita tu diem-dieman ngga jelas. Kita diem-dieman sampe terima kelulusan.”, Fani menarik napas panjang, Indra mengangguk-angguk kecil mendengarkan.
Keadaan makin sendu ditambah dengan lagu-lagu yang diputar oleh Sam. Lengkap sudah.
“Trus?:, tanya Indra lagi menyadarkan Fani dari lamunannya.
“Nah, tiba-tiba pas masa-masa bimbel, doi sms. Tiba-tiba bilang kangen. Ya gue biasa aja, sabodo sateuing aja. Nah ngga tau mulainya kapan, tau-tau kita udah kek orang pacaran aja smsnya. Yaa, gitu deh. smsan tiap hari, tau jadwal masing-masing, ya gitu deh. doi juga kasi gue perhatian yang ngga semestinya lo dapetin dari temen cowo biasa. Poko nya gue dibikin nyaman banget sama perhatian-perhatian haram dia. Puncak bapernya gue itu pas lebaran dua tahun lalu, pas dia bilang gue kapan ke rumah dia ketemu sama calon mertua. Semuanya akan terdengar biasa aja kalo selama ini dia ngga kasi gue perhatian intens kaya gitu, semuanya normal-normal aja kalo dia ngga flirty by text dengan gue. di situ gue bingung. Nah,, pas semester lalu kalo ngga salah, gue lupa pastinya kapan, gue tanya ke dia sebenernya gue dia itu ada apa. Gue ngga mau kayak gini, ngga jelas. Terus dia bilang dia ngga tau juga gue itu apa buat dia. Nah gara-gara itu sampe sekarang gue ngga pernah lagi bales semua pesan dia, ditelfon gue biarin. Ya gitu deh, standar mah masalah gue.”, Fani menyudahi.
“Mana liat fotonya?”, tanya Indra kemudian Nesa mencari akun Instagram Panji.
“Nih”, Nesa menyerahkan handphonenya.
Ganteng sih, tapi keliatan kok playboynya. Pikir Indra.
Malam itu, kecuali Nesa yang masih tak percaya dengan cinta, hati tiga orang dari mereka benar-benar patah.
*****
Diubah oleh tumpaseae 19-04-2016 15:36
0