Kaskus

Story

tumpaseaeAvatar border
TS
tumpaseae
DUA PULUH
Quote:


Indeks:
#1 Everyones Mommy
#2 The ONe with Repeated
#3 Salah Paham Manda
#4 Patah
#5 The One who Can See

NYARIS KISAH NYATA


#1 EVERYONES MOMMY

Masih dengan keadaan setengah sadar Sam berjalan menuju lantai dua kontrakan, hari ini minggu jadi maklumlah kalau kontrakan masih sepi seperti ruang ujian.

"Faaan.", panggil Sam dengan suara serak khas bangun tidurnya.
"Yaaa", teriak Fani dari dalam.
Segera Sam masuk melalui satu-satunya pintu yang menghubungkan langsung balkon atas dengan ruangan lantai dua.
"Makan yuk Fan, lontong sayur padang kek nya sedap, Fan.", ajak Sam yang menyender di kusen pintu sambil menggaruk-garuk punggungnya.
"Ya, tunggu. Ini dikit lagi beres. Lo bangunin anak-anak bawah, biar anak-anak atas gue bangunin.", jawab Fani yang masih sibuk membersihkan dapur.

Sepagi ini Fani sudah selesai mencuci, berberes di lantai dua mulai dari kamarnya, dapur sampai balkon sudah ia pel.

"Neeeess.", Fani mengetok pelan pintu kamar Nesa, selepas subuh tadi Nesa tidur lagi karena semalam ia begadang mengerjakan laporan praktikumnya yang deadline nanti malam. Nesa paling tidak suka kalau minggunya diganggu dengan urusan kuliah. Tidak ada yang boleh merusak Minggunya.
Nesa tak kunjung bangun, padahal yang lain sudah siap-siap.

"Saaa!! Lo mau sarapan ngga? Bangun, kita mau makan ke depan!", gedor Fani agak keras kali ini.
"Iya!! Ini gue lagi sarapan kok!", teriak Nesa dari dalam kamar.

"Nesa mana?", tanya Indra ketika mereka semua sudah berkumpul di teras depan lantai satu. Rumah kontrakan mereka terdiri dari tiga lantai, tangga yang menghubungkan setiap lantai terletak perseis di sudut teras jadi lantai satu dengan lantai yang lain terpisah sama sekali.
"Masi tidur. Semalem dia ngga tidur sama sekali gegara laporan.", jawab Manda sambil memasukkan password gembok pintu pagar.

"Da, lontong sayurnya lima ya, pakai telor semua. Yang tiga komplit plus kuah kacang tapi yang satunya dibungkus, trus yang satu ngga pake lobak tanpa kuah kacang, yang satu lagi ngga pake mi kuning.", pinta Fani lancar menyebutkan pesanan.
"Hari ini agenda kita enaknya ngapain ya?", tanya Indra sambil menunggu pesanan mereka.
“Lo ada kuis besok, Ndra. Jangan lupa.”, balas Fani sambil mengisi gelas-gelas dengan air yang tersedia di dalam teko.
“Alamak. Bener, untung lo ingetin, Fan!”, Indra benar-benar lupa kalau ia ada dua kuis.

“Woi, gue gabung ya?”, Erik, kaka sepupu Fani. Erik lebih tua tiga tahun dari Fani, sekarang ia tengah menempuh tahun kedua magisternya di kampus yang sama dengan Fani.
“Oi, bang. Duduk bang.”, ucap Sam sambil menarik bangku di sebelahnya.
“Tumben bang, ngga lari pagi di SARAGA.”, tanya Indra sebab Erik tak memakai pakaian olahraganya seperti biasanya.
“Lagi males. Lagian ini juga mau ke Jakarta, ada kondangan temen.”, jawab Erik sambil menerima gelas berisi minum dari Fani.
“Lo kapan bang?”, tanya Indra sambil senyum penuh arti melirik kepada Manda yang tak biasanya diam seperti orang linglung.
“Hahha, ngga tau gue. Masih di tangan Tuhan. Belum ditunjukin jalannya, ini masi ngeraba-raba.”, jawab Erik asal.
“Hati-hati Bang, salah raba bisa berabe.”, balas Sam. “Au, sakit Fan!”, Sam meringis ketika kepalanya dijitak Fani keras.
“Lo kalo ngomong ngga ada filternya. Ngga liat apa di sini ada dua anak gadis?”, Fani ngomel-ngomel.
“Lah kan iya Fan, salah raba bisa jadi masalah. Eh, tapi siapa bilang kalian perempuan?”, Sam menggerutu yang kemudian mendapat cubitan panas di pinggangnya. “Hati-hati Fan, ntar kecubit yang iya-iya jadi berabe.”, Sam terkekeh sambil memegangi tangan Fani.
“Sam! Bego!”, Fani menoyor kepala Sam lagi.

“Manda kok diem aja si?”, tanya Erik yang melihat Manda menunduk dalam semenjak kedatangannya tadi.
“Eh, ngga kok bang.”, jawab Manda sekenanya.
“Lagi panas dalem bang. Makanya diem.”, balas Indra yang mendapat pelototan dari Manda. “Tuh, liat aja pipinya nyampe merah kek itu.”, tambah Indra lagi.
“Ngga kok bang.”, Manda membela diri.
“Kamu risih ya aku gabung di sini?”, goda Erik.
“Eh, ngga bang. Serius.”, jawab Manda kaget mendengar Erik berpikir seperti itu.
“Seneng iya kali bang.”, bisik Indra pada Manda.

Sungguh, rasanya Manda ingin pulang saja. Boleh ngga lontongnya dibungkus trus bawa pulang? Ia meringis dalam hati.

“Nesaaaa! Bangun woi, udah jam Sembilan.”, Fani membuka pintu kamar Nesa yang ternyata tak dikunci. “Nes, woi. Bangun.”, Fani menggoyang-goyangkan bahu Nesa.
“Iya, ini dari tadi udah bangun.”, Nesa ngelindur lagi.
“Lo dari tidur belum bangun, Nes. Ini udah gue beliin lontong sayur.”, balas Fani sambil menyalakan laptop Nesa.
Nesa duduk dengan mata yang masih terpejam.
“Ini udah bangun nih.”, Nesa dengan suara seksi khas bangun tidurnya menye-menye sendiri.
“Nes, woi.”, Fani membangunkan Nesa yang entah sejak kapan sudah bersandar ke dinding di belakangnya, tertidur lagi.
“Iyaaa”, sekarang Nesa benar-benar sudah bangun dan berjalan menuju kamar mandi.
“Lontongnya kek biasakan Fan?”, tanya Nesa sambil menggosok gigi di depan pintu kamarnya.
“Nes, lo udah bangun?”, tanya Fani geli?
“Ini udah woi. Kan lagi gosok gigi gue. Ih odol gue udah kadaluarsa deh.”, balas Nesa kesal.

Fani berjalan kea rah Nesa dan mengangkat tangan Nesa yang sedang memegang facial foam.

“Aak, pantes rasanya aneh. Berpasir-pasir gitu.”, Nesa langsung meludah ke kamar mandi yang terletak pas di samping kamarnya.

Sudah jam dua siang, pantas saja Fani lapar, ia ketiduran dari jam sebelas tadi. Fani mendapati dapur dalam keadaan berantakan, sepertinya anak-anak habis membuat nasi mi goreng. Kecap dan saus sambal mengotori kompor yang tadi pagi sudah ia bersihkan, kuali dan piring bekas dibiarkan begitu saja di wastafel. Sudahlah, ia sangat lapar sampai-sampai untuk mengomelpun ia tak sanggup.

Indra dan Sam berkejar-kejaran di lantai dua sambil menyemprotkan air satu sama lainnya. Entah bagaimana ceritanya hingga laki-laki ini bisa perang seperti anak kecil. Alhasil ruang tengah di lantai dua becek ditambah lagi dengan marmer yang berwarna putih gading membuat jejak-jejak kaki di lantai semakin terlihat.

Fani yang baru datang hanya diam berdiri di pintu masuk, memperhatikan Indra dan Sam yang masih asik dan Nesa Manda tengah sibuk menonton di kamar Nesa.
Fani melemparkan bungkusan makanan yang tadi ia makan ke atas wastafel hingga menyenggol kuali yang langsung jatuh ke dalam bak pencuci piring, menimbulkan bunyi gaduh. Indra dan Sam langsung berhenti dari kejar-kejaran mereka.

“Gue ngga pernah mempermasalahkan soalan gue yang selalu beresin lantai dua, ngga pernah gue ngomel. Tapi seengganya kalian juga hargain gue dong yang udah capek bersihin. Gue ngga apa ngga dibantuin, tapi please tolong dijaga. Itu doang udah sangat membantu. Kalian udah kebangetan.”, Fani sudah tidak kuat lagi.

Kejadian ini bukan sekali atau dua kali tapi sudah berkali-kali dan Fani selalu diam. Inilah jadinya kalau memendam-mendam unek-unek, sekalinya keluar langsung meledak gede.
Fani langsung berlari ke kamar dengan air mata yang sudah tak bisa ia bendung. Ia menangis sejadi-jadinya di dalam kamar.
Sedangkan Indra dan yang lain merasa sangat bersalah pada Fani.

Sudah mau magrib dan dari tadi Fani tak keluar dari kamar. Indra dan Sam masih menunggu Fani di kamar Nesa.

“Lo juga sih, bisanya buat nangis anak orang.”, omel Manda ketika ia duduk di sebelah Nesa. “Fani tu orangnya ngga suka kotor, dia juga bukan tipe yang kalau ngerasa apa-apa langsung ngomong, pas dia udah ngga tahan ya kaya tadi siang. Langsung keluar semuanya.”, jelas Manda yang memang sudah menjadi teman dekat Fani semenjak SMA dulu.

Indra dan Sam diam sebab mereka tau kalau mereka salah dan memang tak ada yang perlu dibela dari kesalahan mereka barusan.
Tiba-tiba Fani keluar dari kamarnya dan masuk ke dalam kamar mandi kemudian masuk lagi ke dalam kamar.

“Fan, aku masuk ya.”, ketok Indra pelan di pintu kamar Fani yang memang tak tertutup rapat.
Fani sedang duduk di kursi meja belajarnya kemudian memutar badannya menghadap Indra.
“Hai, lo lagi apa?”, tanya Indra basa-basi.
Sam yang mendengarnya hanya bisa menepuk keningnya, "Ngapain juga nanya, ngga bisa liat apa!", bisik Sam kesal pada dirinya
“Indra bego ya kalau udah ngomong sama Fani.”, celetuk Nesa yang entah sejak kapan ikut berdiri menyender di sebalah Sam.
“Lo bisa ngga sekali-kali ngga kaya setan. Tiba-tiba ada tiba-tiba ilang.”, omel Sam yang kaget. “Bego maksudnya apa?”, tanya Sam penasaran.
Nesa hanya diam sambil cengengesan. Mereka berdua diam menyimak Indra yang sedang berbicara dengan Fani.

“Fani, maaf soal yang tadi.”, Indra duduk di tepi meja belajar Fani, menghadap Fani yang masih diam. “Fan? Gue minta maaf.”, ulang Indra.
Fani paling tidak tahan dengan yang seperti ini, airmatanya sudah mengucur keluar lagi. Indra yang tak mendapat jawaban Fani tambah panik menapati Fani menangis lagi.
“Fan, udah dong nangisnya, maafin gue ya?”, bujuk Indra yang sudah berlutut di depan Fani sedang yang bersangkutan masih menangis, walau tak bersuara tapi Fani sudah sesegukan dari tadi.
Indra diam sambil memegang kedua tangan Fani yang dipangku di atas pahanya, sambil sesekali mengusap punggung pergelangan tangan Fani dengan ibu jarinya.

“Kalian tu jahat banget ya.”, akhirnya Fani bersuara. “Bener-bener ngga ada ngotaknya. Gue ngga pernah kan nyinggung-nyinggung tentang gue yang selalu beresin rumah? Karena itu memang kesadaran gue, tapi tolong gue buat ngejaga nya. Sakit tau diginiin. Kayak yang gue ngga dihargaiin.”, semuanya tumpah, ia sudah tidak sanggup memendamnya sendiri.
“Iya, gue minta maaf ya? Gue sama Sam salah.”, pinta Indra sambil mencari-cari mata Fani.
Fani masih menunduk dan mengangguk pelan.

“Mana Sam?”, tanya Fani agak galak.
“Hamba di sini Yang Mulia.", Sam tiba-tiba muncul dari balik pintu dan langsung berlutut seolah Fani adalah Ratu dan ia ajudannya. “Maafkan kesalahan hamba. Mohon jangan hamba dihukum pancung.”, tutur Sam sambil membungkuk dalam.
Fani diam sambil menggigit bibirnya, menatahan tawanya. Sam memang paling bisa kalau urusan seperti ini.
Sam melirik Fani hati-hati karena tak kunjung mendapat jawaban.
“Fan, maafin gue doong.”, rengek Sam sambil mendekat dan menggenggam tangan Fani. “Gue janji ngga bakalan ulang-ulang lagi.”, tambah Sam sambil melukis garis silang di dada kirinya, tepat di bagian jantungnya kemudian mengangkat telapak tangannya seolah bersumpah.
Fani hanya membalasnya dengan senyum simpul.

“Jadi gue dimaafin ngga ini Fan?”, tanya Sam meminta kejelasan yang dibalas Fani dengan anggukan.
Segera Sam memeluk Fani sampai-sampai kaki Fani tak menapak lantai.
“Sam, sesek”, ucap Fani terbata-bata sebab Sam memeluknya kencang.
“Maafin gue yaaa.”, pinta Sam lagi berbisik tepat di telinga Fani.
“Iya, iya. Lepas dulu, sesek gue”, protes Fani sambil berusaha melerai peluk Sam.

“And then they are living happily ever after!”, sorak Nesa agak keras dan menampakkan bibir bebeknya dari pintu yang tak tertutup rapat.

-----
Diubah oleh tumpaseae 26-04-2016 00:36
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
1.9K
13
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
tumpaseaeAvatar border
TS
tumpaseae
#5
#3 SALAH PAHAM MANDA
Flashback dua tahun lalu
“Sam, kamar yang kosong di atas udah jadi diisi belum?”, tanya Fani ketika menolong Sam dan Indra mengangkut barang. Hari ini mereka mulai tinggal di kontrakan baru.
“Belum, udah gue tawarin ke temen-temen gue, tapi belum laku-laku.”, jawab Sam setelah ia berhasil memindahkan sebuah lemari kayu kecil dengan Indra.
“Buat temen gue aja ya? Kasian kosannya mau di renov akhir bulan ini, dan doi belum dapet kosan baru.”, jelas Fani.
“Cantik ngga? Kalo ngga cantik ngga boleh.”, jawab Sam asal.
Fani melempar Sam dengan kaos bekas yang ia dijadikan kain pel tepat ke muka Sam.
“Kotor ini woy, for your information aja ya.”, omel Sam kesal. “I-iye boleh boleh.”, sambung Sam lagi yang tak mau mendapat kemurkaan seorang Fani.
“Key, berarti dia bisa langsung pindahan ke sini.”, ujar Fani entah pada siapa sebab hanya ia seorang yang di kamar Sam.

Kampret memang!

Pagi-pagi jam delapan Fani menggedor-gedor pintu kamar Sam dan Indra.
“Paan Faaann”, protes Indra dengan suara serak bangun tidurnya.
“Astaga?!”, bisik Fani kaget.

Di dalam kamar Indra ia melihat Sam tertidur topless dengan posisi tengkurap dan berselimut sampai pinggang, tak jauh beda dengan Indra yang juga topless tapi bedanya sekarang Indra menutupi dadanya dengan kaos hitam Batmannya.

“Jangan mikir yang engga-engga deh Fan. Semalem gerah banget.”, jelas Indra kesal.
“Gue mikir yang iya iya kok, Ndra.”, goda Fani sambil memainkan alisnya.
“Buset ini perempuan. Paan?”, tanya Indra sekali lagi.
“Buru bangun terus yang bersih, kita tolongin Manda bawa barang. Jam sepuluh dia nyampe. Kasian dia.”, jelas Fani.
“Manda, Fan?”, gumam Sam masih dalam posisi tengkurap.
“Awas lo ngebayangin yang engga-engga!”, ancam Fani.
“Kaya yang tau aja gue bayangin apa?”, desis Sam yang masih terdengar jelas oleh Fani.
“Apa lagi kalo engga yang iya iya. Otak lo kan ngga jauh dari selangkangan.”, serang Indra.
“Tega lo woi. Kek yang suci bersih aja lo.”, balas Sam memutar posisinya menjadi terlentang.
“Serah ya, yang penting gue ngga berhubungan dekat dengan dengan tangan dan tisu.”, ledek Indra.
“Kampret. Lo juga bego, nontonin bok*ep kek minum obat!”, Sam tidak mau kalah.
“Ekheeem, ada perempuan woi di sini, kali aja elo-elo pada lupa.”, sisndir Fani.
“Fan, tau ngga. Waktu di asrama dulu, gue pernah denger si Indra ngigoin nama elo pas tidur, terus senyam seyum. Pasti dia mimpiin yang iya iya.”, Sam menyerang Indra membabi buta.
“Anjir, lo kalo becanda dijaga juga dong image gue!”, bisik Indra kesal sampil memiting leher Sam.
“Laki-laki ngga jauh-jauh dari selangkangan ya otaknya.”, kemudian Fani pergi.

Kepala Sam dipukul keras oleh Indra.
“Sakit bego!!”, teriak Sam sambil menjatuhkan badannya ke kasur yang ternyata di sambut langsung oleh dinding di belakangnya.

Sakit, anjiirrr!

Manda: Fan, aku udah di depan gang nih.

Tak lama setelah pesan Whatsapp dikirimkan Manda, Fani dan yang lain langsung bergerak menuju gang.
“Man, ini kenalin temen-temen gue. Ini Indra, ini-“
“Halo, aku Sam.”, potong Sam langsung.
“Samuel?”, tanya Manda sambil membalas jabat tangan Sam.
“Samsul, Man.”, bisik Fani agak keras, Manda tertawa dan Sam meringis.
“Manda manis banget ya Ndra.”, bisik Sam ketika mereka membawa kardus-kardus berisi buku.
“Lo sehari aja bisa ngga engga turn on? Liat cewe yang masi pake baju aja bisa tegang apalagi dikasi yang polos.”, Sam tidak tau kalau Indra sudah keberatan membawa kardus-kardus Manda.
“Elah, gue ngomong sesuai kenyataan broo. Tambah lagi lesung pipi sebelah yang dia punya. Gilaaakk, demenan gue dia, Ndra. Ngga beda jauh sama Ariana Grande. apa lagi doi mungil unyu-unyu gitu, pelukable banget laaah.”, Sam semakin menjadi-jadi.
“Lo kirain anak orang guling? Ini buku apa batu sih, berat banget! Dia makan buku ya? Dari tadi tu kita bawa kardus isinya buku semua. Gile ini cewe.”, gumam Indra sendiri.

“Makasi banyak ya Ndra, Sam.”, tiba-tiba Manda datang sambil membawa infuse water yang sengaja ia buat tadi malam. “Sok, diminum dulu.”, tawar Manda sambil membenarkan letak kacamata bacanya yang meluncur dari hidung mancung kecilnya.
Untuk beberapa detik Indra dan Sam benar-benar terpaku, mereka berdua melihat Manda dalam gerakan slow motion.
“Halloo?”, Manda menyadarkan mereka dari imajinasi sesaat.
“Eh, iya Man. O-ooke. Makasi yaa.”, jawab Indra kaget. “Manis banget.”, bisik Indra pada dirinya sendiri sesaat setelah Manda meninggalkan mereka.
“Apa gue bilang. Dan doi wangi banget. Kaya wangi dede bayi gemesin gitu, dia kayanya make parfum bayi deh. Coba nanti pas dia deket lo, endusin. Wangi sumpah, wanginya antara ada dan tiada. Bikin idung nyari-nyari wanginya. Dasar penggoda.”, geram Sam.
“Apanya yang diendusin? Otak mesum lo sehari diliburin dulu bisa ngga Sam?’, tiba-tiba Fani sudah berdiri di depan pintu.
Untung tidak ada Manda, kalau tidak bisa mati kutu mereka.

***

“Saaam, Ndraa.”, panggil Manda.
“I’m here!”, teriak Sam dari dalam kamar.
“Tolongin geser lemari dong, say. Ngga bisa aku sama Fani, ngga kuat.”, pinta Manda dr dapur lantai satu.
Sam yang dipanggil ‘say’ oleh Manda mengangguk dan senyam senyum sendiri.

“Sam, geser dikit lagi.”, arahan dari Fani.
“Udah?”
“Belum. Eh, u-udah udah.”, Tanpa babibu Fani langsung melepaskan bagian lemari yang ia tahan membuat telunjuk Sam tertimpa beban lemari.
“Auu. Fan, lo kalo lepas kasi kode dulu napa.”, Sam meringis.
Sebenarnya tidak seberapa perihnya, Sam sengaja melebih-lebihkannya di depan Manda.
“Astaga, lo ngga apa?” tanya Manda kaget ketika melihat telunjuk Sam berdarah. “Aku ambil handsaplas dulu.”
“Sam, maafin. Gue kira lo udah lepas duluan.”, tutur Fani menyesal.
“Fan, ternyata bahagia sesederhana ini yaa.”, gumam Sam menatap Fani yang kemudian kepalanya dipukul oleh Fani.
“Ke-la-ku-an. Rugi gue minta maaf.”, gumam Fani sambil memukul bahu Sam disetiap penggalan katanya.

***

Malam ini mereka nongkrong di The Cube, kafe dengan konsep anak muda banget yang menyediakan beberapa permainan seperti uno, kartu, ular tangga, monopoli, selain harga makanannya masih harga wajar saku mahasiswa, jaraknya juga tak begitu jauh dari kontrakan mereka.
Seperti biasa mereka duduk di ruang no smokingm mengisi meja paling ujung tepat di sebelah jendela besar yang langsung tembus ke halaman belakang kafe yang juga dijadikan sebagai garden café.

Bandung malam ini gerimis, menambah kesan romantis untuk Bandung yang memang menyimpan kekuatan magis untuk perasaan. Sam duduk tepat di depan Manda yang tengah sibuk dengan buku barunya, ia baru tau kalau Manda benar-benar perempuan yang gila baca dan menulis. Apapun selagi itu menarik akan dibacanya, novel, sastra, politik, sejarah, filosofi, tapi tampaknya Manda lebih tertarik pada sastra, hampir seluruh koleksi buku Manda berbau sastra.
Di mata Sam, Manda adalah sosok Chairul Anwar ‘liar’ dengan puisi Aku-nya.
Dengan buku Manda benar-benar lupa sekelilingnya, Sam yakin gadis ini tak akan menghiraukan apapun jika sudah membaca buku.

Sekali lagi, Sam dibuat terpaku oleh Manda yang membenarkan letak kacamatanya.

“Lap lap lap.”, tiba-tiba Fani menghapus tepi bibir Sam dengan tisu basah yang tadi ia pakai.
Sam yang kaget takut ke-gep oleh Manda buru-buru menghapus bibirnya yang basah.
“Paan si, Fan.”, Sam kesal diganggu oleh Fani.
Apa ia bilang, tak ada yang bisa mengalihkan Manda dari buku.
Jika Manda sudah dengan buku, ia seperti berada di tempat lain.

***

“Ndra, kek nya Manda klik deh ke gue.”, bisik Sam pada Indra ketika mereka sedang nongkrong McD.
“Klak klik klak klik. Ke elo? Penjahat kelamin kek elo?”, balas Indra.
“Serius! Gue bisa merasakan getar-getarnya.”, Sam asal.
“Ngga ada testimoni gue ngga percaya. Tukang kibul.”, balas Indra sambil membolak-balik buku menu.
“Yeee ngga percayaan. Liat ya, doi perhatian banget sama gue.”, bela Sam.
“Sam, kamu pesen apa? Biar sekalian.”, tiba-tiba Manda bertanya pada Sam.
“Samain aja sama elo, Man.”, jawab Sam cengengesan.
“Gue paket panas satu, Man.”, pesan Indra pada Manda.
“Nih ya liat, waktu itu gue luka trus dia ngobatin gue. nih buktinya.”, pamer Sam sambil membuka dompetnya dan memamerkan handsaplas pemberian Manda.
“Biasa aja lagi, Sam”, Indra kesal melihat tingkah bocah Sam. “Lo nyimpen handsaplas bekas?!”, tanya Indra.
“Kan sayang Ndra. Dari yayang Manda, udah dipegang juga sama Manda. Gue akan menyimpan ini sebagai pusaka berharga gue.”, Sam cengengesan lagi sambil memperhatikan Manda yang datang dengan membawa nampan berisi pesanannya.
“Perhatian? Yang kek itu lo sebut perhatian?”, tanya Indra geli yang dibalas Sam dengan anggukan antusias.
“Bego, doi emang baek ke semua orang kali. Ngga ke elo aja keules. Ke gue, ke Fani, ke Nesa juga. Doi emang ringan tangan kata si Fani.”, jelas Indra sambil memperhatikan tampang lucu Sam.
“Alah bilang aja lo iri si Manda suka ke gue.”, jawab Sam sambil mengangkat tangannya dan memperhatikan telunjuknya.
“Serah. Gue udah ngomong ya.”

***

Idul Adha dua tahun lalu
“Sam belum balik, Ndra?”, tanya Manda.
"Ngga tau, kek nya udah.", tanya Indra sambil menambahkan sambal ke mangkoknya.

Siang tadi Manda mendapat kiriman daging kurban dari tantenya di Cimahi sebab tahun ini beliau ikut berkurban jadi mendapat beberapa kupon, jadilah ia memasak sop.

“Sam?”, ketok Manda.
“Ya Man? Bentar.”, teriak Sam dari dalam kamar.
sepertinya Sam baru bangun.
“Nih, tadi aku masak sop. Takut kamu ngga kebagian katanya kamu suka banget sama sop, anak-anak pada bar-bar di atas.”, jelas Manda sambil menyerahkan semangkok sop berikut dengan nasinya.
Sam tersenyum lebar,”M-makasi ya Man. Tau aja lo sukaan gue.”
“Iya dong apa yang ngga gue tau tentang lo. Gue ke atas dulu. Dah!”, Manda meninggalkan Sam yang masih terpaku di depan pintu kamarnya sambil menatap penuh arti pada sop di tangannya.
“Si Sam segitu sukanya ya sama sop?”, tanya Manda ketika ia duduk di sebelah Nesa.
“Kan udah gue bilangin, dia segala jenis sop suka.”, jawab Indra yang masih belum selesai dengan sopnya.
“Iya, pas gue tinggal tadi aja dia masi natapin sop yang gue kasi dengan tatapan priceless gitu loh. Syukurlah dia suka.”, Manda ngga tau aja, gara-gara embel-embel ‘Iya dong apa yang ngga gue tau tentang lo’-nya Manda, tatapan Sam bisa se-priceless itu.

Samsul: Nnniiihhh! Testimoni dari gue.
Samsul: Tadi manda ngantar sendiri ke kamar gue.
Samsul sent a picture


Indra senyam senyum sendiri melihat pesan Whatsapp yang dikirim teman gilanya. Ya sudahlah, sekali-kali melihat Sam berbunga-bunga seperti ini tak masalah. Kasian, biasanya selama ini ditolak cewe terus. Padahal tampangnya cakep, postur tinggi tegap, brewokan, tapi emang suratan yang sial ditolak mulu sama kecengan, belum juga jadian.

***

“aarggh bad girl!”, desis Sam ketika melihat Manda. Setelah lebih dari sebulan Sam memperhatikan Manda, akhirnya ia sadar sendiri kalau doi memang tipikal orang yang suka nolong, perhatian sama siapapun. Ngga peduli cewe ato cowo.
“Lah kenapa lo ngatain anak orang?”, tanya Indra geli.
“Doi kesel, akhirnya tau kalau Manda itu baik ke semua orang. Udah cape-cape baper padahal kan ya?”, goda Nesa sambil menepuk-nepuk pelan bahu Sam.
“Nes, jangan diperjelaslaah~”, goda Indra.
“Kampret lo pada.”, balas Sam kesal.
“Man, ada yang ngerasa di PHP-in tu sama lo.”, ujar Indra ketika Manda duduk disebelah Sam.
“Eeh?”, Manda bingung. “Aaaa”, Manda mengerti arti lirikan nakal Nesa dan Indra.
“A-apa?!”, tanya Sam agak keras sebab dia malu ke gep oleh Manda. “Gue ke kamar mandi dulu!”, buru-buru Sam meninggalkan meja mereka.
“Mau nyabun ya Sam?!”, teriak Indra keras membuat pengunjung The Cube yang lain terkekeh menatap Sam geli.
Tai lo! Gumam Sam pada Indra tak bersuara.

*****
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.