- Beranda
- Stories from the Heart
DUA PULUH
...
TS
tumpaseae
DUA PULUH
Quote:
Indeks:
#1 Everyones Mommy
#2 The ONe with Repeated
#3 Salah Paham Manda
#4 Patah
#5 The One who Can See
NYARIS KISAH NYATA
#1 EVERYONES MOMMY
Masih dengan keadaan setengah sadar Sam berjalan menuju lantai dua kontrakan, hari ini minggu jadi maklumlah kalau kontrakan masih sepi seperti ruang ujian.
"Faaan.", panggil Sam dengan suara serak khas bangun tidurnya.
"Yaaa", teriak Fani dari dalam.
Segera Sam masuk melalui satu-satunya pintu yang menghubungkan langsung balkon atas dengan ruangan lantai dua.
"Makan yuk Fan, lontong sayur padang kek nya sedap, Fan.", ajak Sam yang menyender di kusen pintu sambil menggaruk-garuk punggungnya.
"Ya, tunggu. Ini dikit lagi beres. Lo bangunin anak-anak bawah, biar anak-anak atas gue bangunin.", jawab Fani yang masih sibuk membersihkan dapur.
Sepagi ini Fani sudah selesai mencuci, berberes di lantai dua mulai dari kamarnya, dapur sampai balkon sudah ia pel.
"Neeeess.", Fani mengetok pelan pintu kamar Nesa, selepas subuh tadi Nesa tidur lagi karena semalam ia begadang mengerjakan laporan praktikumnya yang deadline nanti malam. Nesa paling tidak suka kalau minggunya diganggu dengan urusan kuliah. Tidak ada yang boleh merusak Minggunya.
Nesa tak kunjung bangun, padahal yang lain sudah siap-siap.
"Saaa!! Lo mau sarapan ngga? Bangun, kita mau makan ke depan!", gedor Fani agak keras kali ini.
"Iya!! Ini gue lagi sarapan kok!", teriak Nesa dari dalam kamar.
"Nesa mana?", tanya Indra ketika mereka semua sudah berkumpul di teras depan lantai satu. Rumah kontrakan mereka terdiri dari tiga lantai, tangga yang menghubungkan setiap lantai terletak perseis di sudut teras jadi lantai satu dengan lantai yang lain terpisah sama sekali.
"Masi tidur. Semalem dia ngga tidur sama sekali gegara laporan.", jawab Manda sambil memasukkan password gembok pintu pagar.
"Da, lontong sayurnya lima ya, pakai telor semua. Yang tiga komplit plus kuah kacang tapi yang satunya dibungkus, trus yang satu ngga pake lobak tanpa kuah kacang, yang satu lagi ngga pake mi kuning.", pinta Fani lancar menyebutkan pesanan.
"Hari ini agenda kita enaknya ngapain ya?", tanya Indra sambil menunggu pesanan mereka.
“Lo ada kuis besok, Ndra. Jangan lupa.”, balas Fani sambil mengisi gelas-gelas dengan air yang tersedia di dalam teko.
“Alamak. Bener, untung lo ingetin, Fan!”, Indra benar-benar lupa kalau ia ada dua kuis.
“Woi, gue gabung ya?”, Erik, kaka sepupu Fani. Erik lebih tua tiga tahun dari Fani, sekarang ia tengah menempuh tahun kedua magisternya di kampus yang sama dengan Fani.
“Oi, bang. Duduk bang.”, ucap Sam sambil menarik bangku di sebelahnya.
“Tumben bang, ngga lari pagi di SARAGA.”, tanya Indra sebab Erik tak memakai pakaian olahraganya seperti biasanya.
“Lagi males. Lagian ini juga mau ke Jakarta, ada kondangan temen.”, jawab Erik sambil menerima gelas berisi minum dari Fani.
“Lo kapan bang?”, tanya Indra sambil senyum penuh arti melirik kepada Manda yang tak biasanya diam seperti orang linglung.
“Hahha, ngga tau gue. Masih di tangan Tuhan. Belum ditunjukin jalannya, ini masi ngeraba-raba.”, jawab Erik asal.
“Hati-hati Bang, salah raba bisa berabe.”, balas Sam. “Au, sakit Fan!”, Sam meringis ketika kepalanya dijitak Fani keras.
“Lo kalo ngomong ngga ada filternya. Ngga liat apa di sini ada dua anak gadis?”, Fani ngomel-ngomel.
“Lah kan iya Fan, salah raba bisa jadi masalah. Eh, tapi siapa bilang kalian perempuan?”, Sam menggerutu yang kemudian mendapat cubitan panas di pinggangnya. “Hati-hati Fan, ntar kecubit yang iya-iya jadi berabe.”, Sam terkekeh sambil memegangi tangan Fani.
“Sam! Bego!”, Fani menoyor kepala Sam lagi.
“Manda kok diem aja si?”, tanya Erik yang melihat Manda menunduk dalam semenjak kedatangannya tadi.
“Eh, ngga kok bang.”, jawab Manda sekenanya.
“Lagi panas dalem bang. Makanya diem.”, balas Indra yang mendapat pelototan dari Manda. “Tuh, liat aja pipinya nyampe merah kek itu.”, tambah Indra lagi.
“Ngga kok bang.”, Manda membela diri.
“Kamu risih ya aku gabung di sini?”, goda Erik.
“Eh, ngga bang. Serius.”, jawab Manda kaget mendengar Erik berpikir seperti itu.
“Seneng iya kali bang.”, bisik Indra pada Manda.
Sungguh, rasanya Manda ingin pulang saja. Boleh ngga lontongnya dibungkus trus bawa pulang? Ia meringis dalam hati.
“Nesaaaa! Bangun woi, udah jam Sembilan.”, Fani membuka pintu kamar Nesa yang ternyata tak dikunci. “Nes, woi. Bangun.”, Fani menggoyang-goyangkan bahu Nesa.
“Iya, ini dari tadi udah bangun.”, Nesa ngelindur lagi.
“Lo dari tidur belum bangun, Nes. Ini udah gue beliin lontong sayur.”, balas Fani sambil menyalakan laptop Nesa.
Nesa duduk dengan mata yang masih terpejam.
“Ini udah bangun nih.”, Nesa dengan suara seksi khas bangun tidurnya menye-menye sendiri.
“Nes, woi.”, Fani membangunkan Nesa yang entah sejak kapan sudah bersandar ke dinding di belakangnya, tertidur lagi.
“Iyaaa”, sekarang Nesa benar-benar sudah bangun dan berjalan menuju kamar mandi.
“Lontongnya kek biasakan Fan?”, tanya Nesa sambil menggosok gigi di depan pintu kamarnya.
“Nes, lo udah bangun?”, tanya Fani geli?
“Ini udah woi. Kan lagi gosok gigi gue. Ih odol gue udah kadaluarsa deh.”, balas Nesa kesal.
Fani berjalan kea rah Nesa dan mengangkat tangan Nesa yang sedang memegang facial foam.
“Aak, pantes rasanya aneh. Berpasir-pasir gitu.”, Nesa langsung meludah ke kamar mandi yang terletak pas di samping kamarnya.
Sudah jam dua siang, pantas saja Fani lapar, ia ketiduran dari jam sebelas tadi. Fani mendapati dapur dalam keadaan berantakan, sepertinya anak-anak habis membuat nasi mi goreng. Kecap dan saus sambal mengotori kompor yang tadi pagi sudah ia bersihkan, kuali dan piring bekas dibiarkan begitu saja di wastafel. Sudahlah, ia sangat lapar sampai-sampai untuk mengomelpun ia tak sanggup.
Indra dan Sam berkejar-kejaran di lantai dua sambil menyemprotkan air satu sama lainnya. Entah bagaimana ceritanya hingga laki-laki ini bisa perang seperti anak kecil. Alhasil ruang tengah di lantai dua becek ditambah lagi dengan marmer yang berwarna putih gading membuat jejak-jejak kaki di lantai semakin terlihat.
Fani yang baru datang hanya diam berdiri di pintu masuk, memperhatikan Indra dan Sam yang masih asik dan Nesa Manda tengah sibuk menonton di kamar Nesa.
Fani melemparkan bungkusan makanan yang tadi ia makan ke atas wastafel hingga menyenggol kuali yang langsung jatuh ke dalam bak pencuci piring, menimbulkan bunyi gaduh. Indra dan Sam langsung berhenti dari kejar-kejaran mereka.
“Gue ngga pernah mempermasalahkan soalan gue yang selalu beresin lantai dua, ngga pernah gue ngomel. Tapi seengganya kalian juga hargain gue dong yang udah capek bersihin. Gue ngga apa ngga dibantuin, tapi please tolong dijaga. Itu doang udah sangat membantu. Kalian udah kebangetan.”, Fani sudah tidak kuat lagi.
Kejadian ini bukan sekali atau dua kali tapi sudah berkali-kali dan Fani selalu diam. Inilah jadinya kalau memendam-mendam unek-unek, sekalinya keluar langsung meledak gede.
Fani langsung berlari ke kamar dengan air mata yang sudah tak bisa ia bendung. Ia menangis sejadi-jadinya di dalam kamar.
Sedangkan Indra dan yang lain merasa sangat bersalah pada Fani.
Sudah mau magrib dan dari tadi Fani tak keluar dari kamar. Indra dan Sam masih menunggu Fani di kamar Nesa.
“Lo juga sih, bisanya buat nangis anak orang.”, omel Manda ketika ia duduk di sebelah Nesa. “Fani tu orangnya ngga suka kotor, dia juga bukan tipe yang kalau ngerasa apa-apa langsung ngomong, pas dia udah ngga tahan ya kaya tadi siang. Langsung keluar semuanya.”, jelas Manda yang memang sudah menjadi teman dekat Fani semenjak SMA dulu.
Indra dan Sam diam sebab mereka tau kalau mereka salah dan memang tak ada yang perlu dibela dari kesalahan mereka barusan.
Tiba-tiba Fani keluar dari kamarnya dan masuk ke dalam kamar mandi kemudian masuk lagi ke dalam kamar.
“Fan, aku masuk ya.”, ketok Indra pelan di pintu kamar Fani yang memang tak tertutup rapat.
Fani sedang duduk di kursi meja belajarnya kemudian memutar badannya menghadap Indra.
“Hai, lo lagi apa?”, tanya Indra basa-basi.
Sam yang mendengarnya hanya bisa menepuk keningnya, "Ngapain juga nanya, ngga bisa liat apa!", bisik Sam kesal pada dirinya
“Indra bego ya kalau udah ngomong sama Fani.”, celetuk Nesa yang entah sejak kapan ikut berdiri menyender di sebalah Sam.
“Lo bisa ngga sekali-kali ngga kaya setan. Tiba-tiba ada tiba-tiba ilang.”, omel Sam yang kaget. “Bego maksudnya apa?”, tanya Sam penasaran.
Nesa hanya diam sambil cengengesan. Mereka berdua diam menyimak Indra yang sedang berbicara dengan Fani.
“Fani, maaf soal yang tadi.”, Indra duduk di tepi meja belajar Fani, menghadap Fani yang masih diam. “Fan? Gue minta maaf.”, ulang Indra.
Fani paling tidak tahan dengan yang seperti ini, airmatanya sudah mengucur keluar lagi. Indra yang tak mendapat jawaban Fani tambah panik menapati Fani menangis lagi.
“Fan, udah dong nangisnya, maafin gue ya?”, bujuk Indra yang sudah berlutut di depan Fani sedang yang bersangkutan masih menangis, walau tak bersuara tapi Fani sudah sesegukan dari tadi.
Indra diam sambil memegang kedua tangan Fani yang dipangku di atas pahanya, sambil sesekali mengusap punggung pergelangan tangan Fani dengan ibu jarinya.
“Kalian tu jahat banget ya.”, akhirnya Fani bersuara. “Bener-bener ngga ada ngotaknya. Gue ngga pernah kan nyinggung-nyinggung tentang gue yang selalu beresin rumah? Karena itu memang kesadaran gue, tapi tolong gue buat ngejaga nya. Sakit tau diginiin. Kayak yang gue ngga dihargaiin.”, semuanya tumpah, ia sudah tidak sanggup memendamnya sendiri.
“Iya, gue minta maaf ya? Gue sama Sam salah.”, pinta Indra sambil mencari-cari mata Fani.
Fani masih menunduk dan mengangguk pelan.
“Mana Sam?”, tanya Fani agak galak.
“Hamba di sini Yang Mulia.", Sam tiba-tiba muncul dari balik pintu dan langsung berlutut seolah Fani adalah Ratu dan ia ajudannya. “Maafkan kesalahan hamba. Mohon jangan hamba dihukum pancung.”, tutur Sam sambil membungkuk dalam.
Fani diam sambil menggigit bibirnya, menatahan tawanya. Sam memang paling bisa kalau urusan seperti ini.
Sam melirik Fani hati-hati karena tak kunjung mendapat jawaban.
“Fan, maafin gue doong.”, rengek Sam sambil mendekat dan menggenggam tangan Fani. “Gue janji ngga bakalan ulang-ulang lagi.”, tambah Sam sambil melukis garis silang di dada kirinya, tepat di bagian jantungnya kemudian mengangkat telapak tangannya seolah bersumpah.
Fani hanya membalasnya dengan senyum simpul.
“Jadi gue dimaafin ngga ini Fan?”, tanya Sam meminta kejelasan yang dibalas Fani dengan anggukan.
Segera Sam memeluk Fani sampai-sampai kaki Fani tak menapak lantai.
“Sam, sesek”, ucap Fani terbata-bata sebab Sam memeluknya kencang.
“Maafin gue yaaa.”, pinta Sam lagi berbisik tepat di telinga Fani.
“Iya, iya. Lepas dulu, sesek gue”, protes Fani sambil berusaha melerai peluk Sam.
“And then they are living happily ever after!”, sorak Nesa agak keras dan menampakkan bibir bebeknya dari pintu yang tak tertutup rapat.
-----
Diubah oleh tumpaseae 26-04-2016 00:36
anasabila memberi reputasi
1
1.9K
13
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
tumpaseae
#1
#2 The One With The Repeated Song
Fani berdiri menyender di kusen pintu kamar Nesa, sambil bersedekap ia meperhatikan Nesa yang sibuk sendiri lengkap dengan handuk yang menggulung rapi rambutnya.
“Nes, lo ngga bosen sama lagu itu?”, tanya Fani langsung ketika ia mendudukkan dirinya dengan cantik di atas kasur Nesa.
Nesa berhenti melipat kain yang kemarin sore ia angkat dan menatap Fani sebentar.
“Engga. Suka.”, seperti biasa Nesa dengan kata-katanya yang hemat.
“Tapi gue udah bosen dengernya, Nes. Ganti ya?”, bujuk Fani.
“Ngga mau. Ngga usah dengerin juga napa si, Fan? Kenapa lo ngga denger playlist lo sendiri?”, balas Nesa sambil memasukkan kain ke dalam lemari.
“Gimana gue ngga denger Nes, orang lo muter lagunya dengan volume maksimum.”, Fani gemas mendengar jawaban Nesa.
“Sekali-kali, Fan. Galak banget sih.”
“Arrghhh. Nesaaa, bukan masalah galak atau ngga, tapi siang sampe malem selama dua minggu penuh ini gue denger lagu yang sama. Dan gue mulai paranoid sama ini lagu.”, Fani mengacak rambutnya sendiri.
“Ah, masa. Baru beberapa hari ini doang kok.”, Fani hanya bisa speechless mendengar Nesa.
“Hai~”, sapa Fani ketika ia baru memasuki The Cube.
“Lesu banget, Fan?”, tanya Manda yang sudah datang satu jam yang lalu dengan Indra.
“Nesa.”, jawab Fani sambil bersender penuh pada Indra.
“Kenapa Nesa?”, tanya Indra.
“Pernah ngga kalian paranoid dengan satu lagu? Dimana-mana kalian denger, ngga siang ngga malam, ngga di angkot, ngga di radio, tivi, cafe. Saking bosennya, buat denger sedikit potongan lagunya aja bisa bikin kepala pusing. Pernah ngga?”, tanya Manda tiba-tiba.
“Pernah gue. Umbrella-nya si Rihanna. Serius, bukan gue ngga suka lagunya ya. Semasa lagu itu jaya di jamannya, dimana pun gue duduk semuanya muter lagu itu. Ella ella e e e under my umberella e e e e e.”, jawab Indra sambil menyanyikan beberapa lirik.
“Iya, sama. Gue juga pernah. Kalo gue Baby-nya Bieber. Beeuuhh, tsadesst!”, Indra membenarkan duduknya.
“Udah dua minggu ini si Nesa muter lagu yang sama. Dari pagi sampai malem, plus dengan volume maksimum. If This was A Movie-nya Taylor Swift.”, jelas Manda.
“Lagi patah hati apa dia? Tumben. Biasanya Nesa kan denger instrument terus, kek Yiruma.”, tanya Indra.
“Lo kaya yang ngga kenal Nesa aja. Dia bisa suka dan benci tanpa alasan dan kalaupun ada alasannya pasti aneh.”, sambung Manda menambahkan.
“Kamar gue kan pas banget di bawah kamar si Nesa, kenceng gilak kalo jendela kamar gue bukain. Tadi pagi aja jam tujuh gue udah denger Nesa muter itu lagu.”, tambah Indra.
Sam yang baru datang langsung mengisi tempat di sebelah Fani.
“Lo kenapa? Kusut banget.”, goda Indra.
“Inget ngga temen sefakultas gue yang agak melambai itu loh, si Danu, yang pernah ke kontrakan minta tolong instalin The Sims 3? Kata anak-anak dua tahun ini dia ngecengin gue cobaaa.”, Sam meringis mengingat cerita Alya tadi pagi.
“Kan! Gue bilang juga apa! Dia itu ada modus sama lo, ngapain juga minta tolong instalin The Sims, basi banget. Ngga percaya si dibilangin.”, Fani memang pernah bertemu dengan si Danu Danu nya Sam ini beberapa kali. Dan sudah bukan hal biasa lagi jika Danu datang ke kontrakan mereka, sekedar main sampai minta tolong yang aneh-aneh. Fani mulai curiga kalau Danu ada apa-apa pada Sam adalah ketika ia memergoki Danu memperhatikan Sam dengan pandangan yang…spesial? Bahkan Danu selalu bertingkah aneh ketika Fani di dekat Sam dan memberikan Fani tatapan ‘bitch, stay away from my men!’.
“Anjir, apes banget ya lo! Yang doyan cowo!”, Indra tertawa keras.
“Iya ya, perasaan si Sam lakunya sama yang belok terus. Lo inget ngga dia juga pernah di kejar sama banci perempatan depan?”, Manda membumbui kesialan Sam.
“Hah? Kapan? Ngga tau gue.”, Fani tidak tau cerita ini.
“Lo emang lagi ngga di Bandung waktu itu, Yo. Pas lo Ke Bekasi, jam dua belas malem kita kelaperan, nah makan nasi goreng Surya Bundo yang di depan lah kita. Lo tau kan ya banci yang suka mangkal di pangkalan ojek depan, yang kalo bulan Ramadhan dia berhijab plus gamis, nah si doi ngamen di meja kita. Kita kasihlah gopek. eh pas dia mau pindah meja entah kenapa dia balik ke sebelahnya Sam, si Sam cuma diem liatin si banci trus tiba-tiba dagunya dicolekin sambil bilang Ciiiinnn, gemesin deh brewoknya! Pengen digigitin deh. Arrgghhh~.”, Manda mengakhiri ceritanya dengan menirukan intonasi ala banci dan mencolek dagu Sam dua kali.
“Whahaha. Mampus lo, Sam. Saking desperatenya lo jadi pindah lapak yak?!”, Fani tidak bisa menahan tawanya melihat Sam yang sudah bermuka masam.
“Itu bukan yang pertama kalinya lo. Inget juga ngga pas kita malem-malem makan baso Malang sebelah Borma? Si Sam kan dikejar sama banci sampe-sampe dia sembunyi di dapur si mas yang punya warung baso.”, Manda mengungkit-ungkit kembali kejadian beberapa minggu lalu.
“Jorogin aja gue terus, kualat mampus kalian! Udah ah, gue balik ke kampus.”, ujar Sam ketika ia memakai kembali parka navy-nya.
“Udududuuu, yang pundungan.”, goda Fani sambil mencolek-colek pinggang Sam.
“Ngga tahan dia, butuh pelepasan.”, tambah Indra.
“Kampret, anjir, ta*i bab*i.”, kata-kata favorit Sam keluar dengan lancar sebelum ia benar-benar meninggalkan kawan-kawannya yang masih tertawa keras.
“Gue bisa gila kalo tiap hari kaya gini terus.”, Fani memijit pangkal hidungnya. “Di antara kita ngga ada yang bisa berhentiin Nesa?”, sambung Fani frustasi.
Malam ini seperti biasa mereka berkumpul di kamar Fani dan If This was Movie masih setia menduduki playlist favorit Nesa sampai hari ini bahkan Yiruma dan Depapepe yang disukai Nesa pun kalah dengan lagu dari Taylor Swift ini.
“Hanya Tuhan yang tau kapan Nesa bosan dengan lagu itu dan kembali dengan instrumennya.”, Manda menjawab sambil terus memperhatikan LCD laptop. Malam ini mereka menonton Disney Movie Up.
“Eh, beneran ada ngga sih orang yang sampai kayak gitunya mencintai?”, tanya Fani tiba-tiba. “Kalo Mr. Carl Fredricksen beneran ada di dunia nyata, oh god! How lucky that women. Haaaaah.”, Fani menangkup kedua tangannya dan membayangkan kalau dialah wanita yang beruntung itu.
“Ada.”, jawab Indra tiba-tiba.
“Serius? Siapa? Siapa?”, tanya Fani antusias.
“Tetangga gue. Istri beliau udah meninggal beberapa tahun yang lalu, sampai si bapak itu meninggal, setiap harinya beliau dateng ke makam si istri sambil bawa biscuit kesukaan istrinya. Beda lagi sama bapak temen ibu gue. Istrinya meninggal pas anak-anaknya masih kecil-kecil, ya mungkin yang paling gede umurnya baru sepuluh tahunan, dan sampai sekarang si bapak itu ngga nikah lagi. Lo bisa ngebayangin sendirikan gimana repotnya jadi orang tua tunggal terutama untuk laki-laki, ngurusin lima anak peremuan sendirian, belum lagi kebutuhan-kebutuhan lain yang ngga mungkin dipenuhin sendiri. Kata ibu gue ngga sedikit perempuan yang deketin bapak temen ibu gue ini, secara dia gagah dan mapan banget. Tapi semua wanita yang deketin dia tolak. Tapi kemungkinannya satu banding seribu, if you girls wanna men exactly like him.”, tunjuk Sam dengan dagunya ke laptop.
“Berarti masih ada kemungkinan kan ya gue dapet laki-laki kaya itu.”, Fani matanya entah fokus kemana.
“Kenapa cewe suka menghayal sih?”, tanya Indra penasaran.
“Ini bukan menghayal Ndra, tapi keinginan. Siapa yang ngga mau coba dapet laki-laki kayak itu? Listen, girls always can dream.”, jelas Fani. “Cewe itu semuanya sama, suka sama satu tipe laki-laki yang sama.”, sambung Fani.
“Well, kalo kaya gitu gue ngerasa gue kaya Brad Pitt.”, celetuk Sam asal.
“Boys, listen. Kita, perempuan, selalu membayangkan menikah dengan seorang laki-laki yang mencintai tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun, yang mencintai dua puluh empat jam selama sehari semalam. Perempuan mana pun, dewasa, remaja bahkan anak-anak sekalipun, kami akan selalu bermimpi seperti itu. Ya, tipikal unicorn boyfriend yang hanya bisa ditemukan di dalam novel. But back to the rule, girls always can dream.”, jelas Fani panjang.
“Iya bener banget. Dan perempuan itu egois soalan cinta, bener-bener egois. Like, say gue bilang ke lo, Sam, kalo gue mau makan rainbow cake. Trus lo langsung beliin gue, ninggalin semua kerjaan lo. Dan kemudian lo dateng ke gue ngos-ngosan dan berlutut sambil megang kue itu. Trus gue bilang kalo gue udah ngga pengen makan kue itu lagi.”, Fani ingat betul sepotong kecil adegan Norwegian Wood yang satu ini.
“Huh. Nyebelin itu namanya. Apaan coba maksudnya, minta dibeliin rainbow cake, udah cape-cape dibeliin eh malah dibuang. Kan bitchies banget namanya.”, Sam pengetahuannya nol besar tentang perempuan selain ciuman dan sex.
“O o, you wrong baby boy, totally you don’t understand women. Pantes jomblo.”, Manda meledek Sam.
“Bener, Sam ngga ngerti apa-apa tentang perempuan. Gue lanjut, dan ketika gue buang itu kue, lo minta maaf ke gue atas kebodohan lo, nanya kue apa yang gue pengen makan dan dengan senang hati lo akan beliin buat gue.-“
“Dibeliin untuk dibuang lagi?”, Indra memotong Fani.
“Salah, Ndra. Then I’d give you all the love you deserves for what you’ve done.”, Manda hapal betul sepenggal dialog ini.
“Love can be that strange, huh?”, Indra mengomentari.
“For women, that’s love.”, Fani membenarkan kutipan Manda tadi.
“Guys, by the way. Mungkin ngga sih balon segitu banyak bisa ngangkat rumah segede itu?”, Nesa entah sejak kapan sudah bergabung dengan mereka.
Mereka menatap Nesa heran, tidak ada yang mengerti jalan pikiran Nesa.
“Gue pengen nyoba deh, bisa ngga ya? Why? What's wrong?”, Nesa balik memandang teman-temannya heran.
“No dear, girls always can dream.”, jawab Sam.
“Jam sepuluh. Gue tidur duluan, good night loves.”, Manda mengemasi beberapa bukunya yang memang sengaja ia bawa.
“Like seriously, Nda? Ini masi sore, jam sepuluh.”, Sam mengomentari jam tidur Manda.
“Manda memang kayak gitu, Sam. Katanya sesuatu yang baik untuk metabolisme tidur jam sepuluh.”, jawab Fani.
“Thanks bear for the help, baby bear. Nite.”, Manda benar-benar meninggalkan mereka ke kamarnya.
“Nesa udah move on eh dari Taylor Swift.”, Sam langsung mengambil tempat di antara Indra dan Manda.
Trying Not To Love You Nickleback terdengar pelan dari kamar Nesa yang tak seperti biasanya pintu kamarnya terbuka lebar begitu saja dan ini sudah lewat beberapa minggu sejak tragedi Nesa’s If This was A Movie parranoid.
“Haaaaah, bahkan ini sudah jalan seminggu dia mutar lagu itu. Berulang-ulang, ngga kalah bikin paranoidnya dibanding If This was A movie.”, semua bisa merasakan betapa frustasinya Fani.
Well, Nesa adalah Nesa yang berasal dari galaksi antah berantah berdimensi tak berhingga.
“Nes, lo ngga bosen sama lagu itu?”, tanya Fani langsung ketika ia mendudukkan dirinya dengan cantik di atas kasur Nesa.
Nesa berhenti melipat kain yang kemarin sore ia angkat dan menatap Fani sebentar.
“Engga. Suka.”, seperti biasa Nesa dengan kata-katanya yang hemat.
“Tapi gue udah bosen dengernya, Nes. Ganti ya?”, bujuk Fani.
“Ngga mau. Ngga usah dengerin juga napa si, Fan? Kenapa lo ngga denger playlist lo sendiri?”, balas Nesa sambil memasukkan kain ke dalam lemari.
“Gimana gue ngga denger Nes, orang lo muter lagunya dengan volume maksimum.”, Fani gemas mendengar jawaban Nesa.
“Sekali-kali, Fan. Galak banget sih.”
“Arrghhh. Nesaaa, bukan masalah galak atau ngga, tapi siang sampe malem selama dua minggu penuh ini gue denger lagu yang sama. Dan gue mulai paranoid sama ini lagu.”, Fani mengacak rambutnya sendiri.
“Ah, masa. Baru beberapa hari ini doang kok.”, Fani hanya bisa speechless mendengar Nesa.
***
“Hai~”, sapa Fani ketika ia baru memasuki The Cube.
“Lesu banget, Fan?”, tanya Manda yang sudah datang satu jam yang lalu dengan Indra.
“Nesa.”, jawab Fani sambil bersender penuh pada Indra.
“Kenapa Nesa?”, tanya Indra.
“Pernah ngga kalian paranoid dengan satu lagu? Dimana-mana kalian denger, ngga siang ngga malam, ngga di angkot, ngga di radio, tivi, cafe. Saking bosennya, buat denger sedikit potongan lagunya aja bisa bikin kepala pusing. Pernah ngga?”, tanya Manda tiba-tiba.
“Pernah gue. Umbrella-nya si Rihanna. Serius, bukan gue ngga suka lagunya ya. Semasa lagu itu jaya di jamannya, dimana pun gue duduk semuanya muter lagu itu. Ella ella e e e under my umberella e e e e e.”, jawab Indra sambil menyanyikan beberapa lirik.
“Iya, sama. Gue juga pernah. Kalo gue Baby-nya Bieber. Beeuuhh, tsadesst!”, Indra membenarkan duduknya.
“Udah dua minggu ini si Nesa muter lagu yang sama. Dari pagi sampai malem, plus dengan volume maksimum. If This was A Movie-nya Taylor Swift.”, jelas Manda.
“Lagi patah hati apa dia? Tumben. Biasanya Nesa kan denger instrument terus, kek Yiruma.”, tanya Indra.
“Lo kaya yang ngga kenal Nesa aja. Dia bisa suka dan benci tanpa alasan dan kalaupun ada alasannya pasti aneh.”, sambung Manda menambahkan.
“Kamar gue kan pas banget di bawah kamar si Nesa, kenceng gilak kalo jendela kamar gue bukain. Tadi pagi aja jam tujuh gue udah denger Nesa muter itu lagu.”, tambah Indra.
Sam yang baru datang langsung mengisi tempat di sebelah Fani.
“Lo kenapa? Kusut banget.”, goda Indra.
“Inget ngga temen sefakultas gue yang agak melambai itu loh, si Danu, yang pernah ke kontrakan minta tolong instalin The Sims 3? Kata anak-anak dua tahun ini dia ngecengin gue cobaaa.”, Sam meringis mengingat cerita Alya tadi pagi.
“Kan! Gue bilang juga apa! Dia itu ada modus sama lo, ngapain juga minta tolong instalin The Sims, basi banget. Ngga percaya si dibilangin.”, Fani memang pernah bertemu dengan si Danu Danu nya Sam ini beberapa kali. Dan sudah bukan hal biasa lagi jika Danu datang ke kontrakan mereka, sekedar main sampai minta tolong yang aneh-aneh. Fani mulai curiga kalau Danu ada apa-apa pada Sam adalah ketika ia memergoki Danu memperhatikan Sam dengan pandangan yang…spesial? Bahkan Danu selalu bertingkah aneh ketika Fani di dekat Sam dan memberikan Fani tatapan ‘bitch, stay away from my men!’.
“Anjir, apes banget ya lo! Yang doyan cowo!”, Indra tertawa keras.
“Iya ya, perasaan si Sam lakunya sama yang belok terus. Lo inget ngga dia juga pernah di kejar sama banci perempatan depan?”, Manda membumbui kesialan Sam.
“Hah? Kapan? Ngga tau gue.”, Fani tidak tau cerita ini.
“Lo emang lagi ngga di Bandung waktu itu, Yo. Pas lo Ke Bekasi, jam dua belas malem kita kelaperan, nah makan nasi goreng Surya Bundo yang di depan lah kita. Lo tau kan ya banci yang suka mangkal di pangkalan ojek depan, yang kalo bulan Ramadhan dia berhijab plus gamis, nah si doi ngamen di meja kita. Kita kasihlah gopek. eh pas dia mau pindah meja entah kenapa dia balik ke sebelahnya Sam, si Sam cuma diem liatin si banci trus tiba-tiba dagunya dicolekin sambil bilang Ciiiinnn, gemesin deh brewoknya! Pengen digigitin deh. Arrgghhh~.”, Manda mengakhiri ceritanya dengan menirukan intonasi ala banci dan mencolek dagu Sam dua kali.
“Whahaha. Mampus lo, Sam. Saking desperatenya lo jadi pindah lapak yak?!”, Fani tidak bisa menahan tawanya melihat Sam yang sudah bermuka masam.
“Itu bukan yang pertama kalinya lo. Inget juga ngga pas kita malem-malem makan baso Malang sebelah Borma? Si Sam kan dikejar sama banci sampe-sampe dia sembunyi di dapur si mas yang punya warung baso.”, Manda mengungkit-ungkit kembali kejadian beberapa minggu lalu.
“Jorogin aja gue terus, kualat mampus kalian! Udah ah, gue balik ke kampus.”, ujar Sam ketika ia memakai kembali parka navy-nya.
“Udududuuu, yang pundungan.”, goda Fani sambil mencolek-colek pinggang Sam.
“Ngga tahan dia, butuh pelepasan.”, tambah Indra.
“Kampret, anjir, ta*i bab*i.”, kata-kata favorit Sam keluar dengan lancar sebelum ia benar-benar meninggalkan kawan-kawannya yang masih tertawa keras.
***
Come back, come back, come back to me like
You would, you would if this was a movie
Stand in the rain outside
'Til I came out
Come back, come back, come back to me like
You could, you could if you just said you're sorry
I know that we could work it out somehow
But if this was a movie you'd be here by now
You would, you would if this was a movie
Stand in the rain outside
'Til I came out
Come back, come back, come back to me like
You could, you could if you just said you're sorry
I know that we could work it out somehow
But if this was a movie you'd be here by now
“Gue bisa gila kalo tiap hari kaya gini terus.”, Fani memijit pangkal hidungnya. “Di antara kita ngga ada yang bisa berhentiin Nesa?”, sambung Fani frustasi.
Malam ini seperti biasa mereka berkumpul di kamar Fani dan If This was Movie masih setia menduduki playlist favorit Nesa sampai hari ini bahkan Yiruma dan Depapepe yang disukai Nesa pun kalah dengan lagu dari Taylor Swift ini.
“Hanya Tuhan yang tau kapan Nesa bosan dengan lagu itu dan kembali dengan instrumennya.”, Manda menjawab sambil terus memperhatikan LCD laptop. Malam ini mereka menonton Disney Movie Up.
“Eh, beneran ada ngga sih orang yang sampai kayak gitunya mencintai?”, tanya Fani tiba-tiba. “Kalo Mr. Carl Fredricksen beneran ada di dunia nyata, oh god! How lucky that women. Haaaaah.”, Fani menangkup kedua tangannya dan membayangkan kalau dialah wanita yang beruntung itu.
“Ada.”, jawab Indra tiba-tiba.
“Serius? Siapa? Siapa?”, tanya Fani antusias.
“Tetangga gue. Istri beliau udah meninggal beberapa tahun yang lalu, sampai si bapak itu meninggal, setiap harinya beliau dateng ke makam si istri sambil bawa biscuit kesukaan istrinya. Beda lagi sama bapak temen ibu gue. Istrinya meninggal pas anak-anaknya masih kecil-kecil, ya mungkin yang paling gede umurnya baru sepuluh tahunan, dan sampai sekarang si bapak itu ngga nikah lagi. Lo bisa ngebayangin sendirikan gimana repotnya jadi orang tua tunggal terutama untuk laki-laki, ngurusin lima anak peremuan sendirian, belum lagi kebutuhan-kebutuhan lain yang ngga mungkin dipenuhin sendiri. Kata ibu gue ngga sedikit perempuan yang deketin bapak temen ibu gue ini, secara dia gagah dan mapan banget. Tapi semua wanita yang deketin dia tolak. Tapi kemungkinannya satu banding seribu, if you girls wanna men exactly like him.”, tunjuk Sam dengan dagunya ke laptop.
“Berarti masih ada kemungkinan kan ya gue dapet laki-laki kaya itu.”, Fani matanya entah fokus kemana.
“Kenapa cewe suka menghayal sih?”, tanya Indra penasaran.
“Ini bukan menghayal Ndra, tapi keinginan. Siapa yang ngga mau coba dapet laki-laki kayak itu? Listen, girls always can dream.”, jelas Fani. “Cewe itu semuanya sama, suka sama satu tipe laki-laki yang sama.”, sambung Fani.
“Well, kalo kaya gitu gue ngerasa gue kaya Brad Pitt.”, celetuk Sam asal.
“Boys, listen. Kita, perempuan, selalu membayangkan menikah dengan seorang laki-laki yang mencintai tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun, yang mencintai dua puluh empat jam selama sehari semalam. Perempuan mana pun, dewasa, remaja bahkan anak-anak sekalipun, kami akan selalu bermimpi seperti itu. Ya, tipikal unicorn boyfriend yang hanya bisa ditemukan di dalam novel. But back to the rule, girls always can dream.”, jelas Fani panjang.
“Iya bener banget. Dan perempuan itu egois soalan cinta, bener-bener egois. Like, say gue bilang ke lo, Sam, kalo gue mau makan rainbow cake. Trus lo langsung beliin gue, ninggalin semua kerjaan lo. Dan kemudian lo dateng ke gue ngos-ngosan dan berlutut sambil megang kue itu. Trus gue bilang kalo gue udah ngga pengen makan kue itu lagi.”, Fani ingat betul sepotong kecil adegan Norwegian Wood yang satu ini.
“Huh. Nyebelin itu namanya. Apaan coba maksudnya, minta dibeliin rainbow cake, udah cape-cape dibeliin eh malah dibuang. Kan bitchies banget namanya.”, Sam pengetahuannya nol besar tentang perempuan selain ciuman dan sex.
“O o, you wrong baby boy, totally you don’t understand women. Pantes jomblo.”, Manda meledek Sam.
“Bener, Sam ngga ngerti apa-apa tentang perempuan. Gue lanjut, dan ketika gue buang itu kue, lo minta maaf ke gue atas kebodohan lo, nanya kue apa yang gue pengen makan dan dengan senang hati lo akan beliin buat gue.-“
“Dibeliin untuk dibuang lagi?”, Indra memotong Fani.
“Salah, Ndra. Then I’d give you all the love you deserves for what you’ve done.”, Manda hapal betul sepenggal dialog ini.
“Love can be that strange, huh?”, Indra mengomentari.
“For women, that’s love.”, Fani membenarkan kutipan Manda tadi.
“Guys, by the way. Mungkin ngga sih balon segitu banyak bisa ngangkat rumah segede itu?”, Nesa entah sejak kapan sudah bergabung dengan mereka.
Mereka menatap Nesa heran, tidak ada yang mengerti jalan pikiran Nesa.
“Gue pengen nyoba deh, bisa ngga ya? Why? What's wrong?”, Nesa balik memandang teman-temannya heran.
“No dear, girls always can dream.”, jawab Sam.
“Jam sepuluh. Gue tidur duluan, good night loves.”, Manda mengemasi beberapa bukunya yang memang sengaja ia bawa.
“Like seriously, Nda? Ini masi sore, jam sepuluh.”, Sam mengomentari jam tidur Manda.
“Manda memang kayak gitu, Sam. Katanya sesuatu yang baik untuk metabolisme tidur jam sepuluh.”, jawab Fani.
“Thanks bear for the help, baby bear. Nite.”, Manda benar-benar meninggalkan mereka ke kamarnya.
***
But if there's a pill to help me forget,
God knows I haven't found it yet
But I'm dying to, God I'm trying to
'Trying not to love you, only goes so far
Trying not to need you, is tearing me apart
Can't see the silver lining, down here on the floor
And I just keep on trying, but I don't know what for
'Cause trying not to love you
Only makes me love you more
Only makes me love you more
God knows I haven't found it yet
But I'm dying to, God I'm trying to
'Trying not to love you, only goes so far
Trying not to need you, is tearing me apart
Can't see the silver lining, down here on the floor
And I just keep on trying, but I don't know what for
'Cause trying not to love you
Only makes me love you more
Only makes me love you more
“Nesa udah move on eh dari Taylor Swift.”, Sam langsung mengambil tempat di antara Indra dan Manda.
Trying Not To Love You Nickleback terdengar pelan dari kamar Nesa yang tak seperti biasanya pintu kamarnya terbuka lebar begitu saja dan ini sudah lewat beberapa minggu sejak tragedi Nesa’s If This was A Movie parranoid.
“Haaaaah, bahkan ini sudah jalan seminggu dia mutar lagu itu. Berulang-ulang, ngga kalah bikin paranoidnya dibanding If This was A movie.”, semua bisa merasakan betapa frustasinya Fani.
Well, Nesa adalah Nesa yang berasal dari galaksi antah berantah berdimensi tak berhingga.
0