- Beranda
- Stories from the Heart
I Am (NOT) Your Sister
...
TS
natashyaa
I Am (NOT) Your Sister
Dear Warga SFTH.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Sebelumnya ijinkan gue untuk menulis sepenggal kisah hidup gue di SFTH. Cerita ini bersumber dari pengalaman pribadi yang gue modifikasi sedemikian rupa sehingga membentuk cerita karangan gue sendiri. Cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang berbeda dari kedua tokohnya.
So... langsung saja.
Quote:
Diubah oleh natashyaa 20-01-2018 23:32
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
9
465K
3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
natashyaa
#1497
F Part 63
Senang rasanya bisa baikan lagi dengan Andrea. Gue dan Andrea mungkin dianggap kayak orang gila, serasa angkot ini punya kita berdua, soalnya kita ketawa dan asyik berdua. Penumpang lain juga nampak risih melihat tingkah kita. Tapi, apa boleh buat ya, soalnya lagi seneng. Gue dan Andrea sedang dalam perjalanan ke rumah Stella, gue ngajak Andrea buat main ke rumah Stella.
“Stella…” Gue memanggil Stella di depan pintu rumahnya.
“Fe… sepertinya gak ada orang dirumahnya.” Kata Andrea.
Gue dari tadi mijit bel rumah Stella dan tak ada jawaban dari dalam. Memang sih gue belum janjian dulu kalau hari ini mau main ke rumah Stella.
“Ah dia pasti ada kok soalnya jarang kemana-mana.” Kata gue yang masih terus memijit bel rumahnya.
“Yah.. mungkin saja hari ini dia pergi.” Kata Andrea
“Eh… gak dikunci.” Gue iseng memegang gagang pintu rumah Stella dan mendorongnya ke dalam, dan taraaa pintunya terbuka. Andrea nampak heran melihat pintu rumah Stella yang gak dikunci dan bisa dibuka oleh gue.
“ayo masuk aja, palingan dia ada di dalam.” Kata gue.
Gue dan Andrea akhirnya memutuskan untuk masuk ke rumah Stella. Kondisi ruanganya gelap, semua alat elektronik seperti tv, lampu, dll mati. Rumah ini seperti tidak ada penghuninya.
“Stella….?” Gue memanggil Stella pas udah masuk di dalam namun masih tidak ada jawaban.
“Fe.. kita udah kayak maling aja.” Ujar Andrea.
“SStt.. ah. Palingan dia ada di kamarnya.”
Gue dan Andrea sudah ada di depan pintu kamarnya yang tertutup rapat.
Tok…Tok.. Tok…
“Stell…” Kata gue namun tetap aja sepi tidak ada jawaban.
“Stellaaa…” Andrea ikutan memanggil namanya. Namun, masih belum ada jawaban.
“Eh… Fe.. coba buka pintunya.” Kata Andrea.
Gue pun kembali memegang gagang pintu dan mendorongnya dan taraaaa, sekali lagi pintunya terbuka. Sebelum masuk ke kamar Stella, gue dan Andrea saling menatap satu sama lain. Entah kenapa rasanya kita seperti berada di film detektif atau mata-mata yang sedang memecahkan misteri.
Gue dan Andrea masuk ke dalam, kamarnya berantakan sekali, penuh dengan kertas-kertas yang berserakan dan juga barang lainnya. Gue melihat sekeliling kamarnya dan gue menemukan seorang perempuan berada di sudut kamar dekat kasur sedang duduk di lantai sambil memeluk lututnya, dan perempuan itu adalah STELLA!!
“Stella.!!” Kata gue yang langsung menghampirinya. Andrea masih keheranan melihat sekeliling kamarnya yang berantakan dan melihat-lihat dinding kamar yang dipenuhi coretan dan gambar abstrak.
“Stella…?” Gue menyapa Stella. Namun pandangan Stella tampak kosong dan menatap lurus ke depan, selain itu Stella terus berbicara sendiri.
“Mati.. mati.. gak…”
“Ayo.. bunuh diri.. bunuh diri…”
“Sakit gak ya, sakit gak ya…”
“Jumpa lagi.. jumpa lagi…”
Gue kaget sekaligus takut mendengar ucapan Stella.
“Fe.. temen lo kenapa?” Ujar Andrea menghampiri.
“Gak tau Nde…” Gue menoleh ke arah Andrea. Gue lihat Andrea nampak shock dan terkejut juga melihat dan mendengar ucapan Stella.
Apakah bipolarnya kambuh lagi? Gue jadi cemas karena gue gak bisa ngapa-ngapain begitu juga Andrea.
“Stella…” Gue panik dan terus memanggil namanya dan menggoyang-goyang badannya.
“Stella…Ayolah.. ini gue Felisha!!”
Setelah mendengar nama gue, Stella baru berhenti bicara dan melihat ke arah gue dengan tatapan kosongnya.
“Felisha?” Kata Stella.
“Ya?”
“BANTU GUE!!!!!” Stella bangkit lalu sontak saja tangannya mendorong badan gue ke belakang. Badan gue yang belum siap terdorong ke belakang sampai pada akhirnya membentur ke tembok dan rasanya sakit sekali.
“Fe… bantu gue…” Ujarnya terus menerus. Sementara gue mengerang kesakitan “Aw…”
Andrea yang terkejut melihat kejadian tersebut kemudian berusaha melepaskan tangan Stella dari pundak gue.
“Stella, lo kenapa?” Tanya Andrea kepada Stella. Namun Stella mengacuhkan Andrea.
“Fe….li..sha..”
Gue sekuat tenaga mencoba melepaskan tangannya yang masih menempel di pundak gue namun susah sekali.
“STELLA LEPASIN!!?” Gue membentak Stella. Stella kemudian melepaskan tangannya dan kemudian terdiam. Andrea kemudian mencoba membantu gue untuk menyeimbangkan badan.
“Fe.. baju lo berdarah..” Ujar Andrea
“Hah!” Gue langsung melihat seragam putih abu gue dan ternyata benar dibagian yang dipegangi dan didorong Stella bewarna merah, merah darah. Gue lalu melihat ke arah Stella yang sedang melihat kedua telapak tangannya yang merah berlumuran darah.
Yang tadinya serasa film detektif sekarang gue merasa sedang berada di film thriler/horor. Suasanya sangat tegang dan mencekam. Andrea keliatan panik banget melihat kejadian ini.
“Lo gak apa-apa nde?” Tanya gue ke Andrea.
“Seharusnya gue yang nanya lo, lo gak kenapa-napa Fe?”
“Gue shock nde!”
“Apalagi gue Fe…”
“Fe….” Ujar Stella dengan suara parau. Gue kembali melihat ke arah Stella, sekarang dia sedang menangis dan nampak sedih sekali. Entah gue harus gimana lagi sekarang. Gue gak tau!
“Stella kenapa lo, bipolar lo kambuh lagi?” Tanya gue kepada Stella.
“ Bipolar Fe?” Andrea terkejut mendengarnya.
Stella tiba-tiba langsung memeluk dan menangis dipelukan gue.
“Fee.. bantu gue..”
“Bantu gimana?!” Kata gue.
“Tenangin gue.” Katanya.
“Stell, tatap mata gue. Rileks Stella, rileks,,, tenang, gue ada disini.”
“Coba tarik nafas dalam-dalam.” Tambah Andrea.
Masih memeluk badan gue, Stella sedang mencoba menangkan dirinya. Tangisannya kemudian reda, dan ia segera melepas pelukannya dari tubuh gue. Stella sudah mendingan dan tampak tenang sekarang. Tapi, bagi gue dan Andrea serasa sudah mengalami mimpi buruk.
“Fe…” Ujarnya dengan normal.
“Ya?” Kata gue.
“Terima kasih.” Katanya.
Gue dan Andrea melongo melihat perubahaan mood Stella yang drastis. Beberapa menit yang lalu Stella seperti orang depresi yang menakutkan tapi sekarang dia sudah normal kembali.
“Fe, maafin gue udah ngerepotin lo ya.”
“Eh btw, itu bukan darah, itu cat. Tadi gue sedang melukis tiba-tiba saja mood gue swing, dan ya ibegitulah, kalau udah gitu, pengen mati aja rasanya.” Ujarnya.
Aduh! Mungkin tadi saking paniknya sehingga tidak bisa berpikir jernih. Ternyata noda merah yang menempel di baju dan tangan Stella itu adalah cat. Padahal tadi gue dan Andrea udah panik banget ngelihat itu sebagai darah. Tapi tetap saja baju gue jadi kotor.
Gue dan Andrea kemudian duduk di kasur Stella dan kita berdua masih shock. Sementara Stella mulai membereskan dan merapikan barang-barangnya yang berserakan. Astaga, hari ini gue telah melalui hari yang panjang sekali. Dulu bipolar Stella pernah kambuh di rumah gue, tapi kali ini menurut gue lebih parah karena ada drama darah dan kondisi rumah yang sepinya. Gue takutnya tadi Stella beneran mau bunuh diri dengan mengiris nadinya sehingga berdarah, tapi syukurlah tadi itu darahnya boongan. Bagi Andrea, mungkin ini pengalamannya pertama kali melihat orang yang bipolarnya kambuh. Ekspresi wajahnya yang shock tidak bisa disembunyikannya, ia juga tampak ketakutan sekali ketika melihat Stella mendorong gue ke tembok.
“Aduh maafin gue banget ya, kalian pasti takut ngeliat gue.” Kata Stella.
“Biasanya gue ada obat antidepresan, cuman kebetulan lagi habis. Makanya gue gak bisa terlalu ngontrol lagi.” Lanjutnya.
Terserahlah Stella! Gue sudah capek banget hari ini. Selanjutnya setelah kondisi mulai normal, gue minta ganti pinjemin baju ke Stella karena seragam gue udah berlumuran DARAH, mana seragam gue masih dipake buat besok sekolah. Pada akhirnya gue dan Andrea tetap jadi main di rumah Stella sambil menunggu mamanya Stella pulang. Andrea banyak bertanya ke Stella mengenai bipolarnya, sedangkan gue asyik main ps mencoba melupakan kejadian tadi.
Sekitar jam 4tan lebih mama Stella pulang. Masing-masing dari kita tidak menceritakan kejadian yang terjadi tadi. Gue dan Andrea kemudian dianterin pulang oleh mama Stella dan Stella, sekalian Stella membeli obat bipolarnya.
Sebelum magrib gue udah sampai ke rumah, gue pengen cepet-cepet mandi dan tidur, namun pas gue mau masuk ke kamar gue, ibu gue sedang mengetuk pintu kamar Ani dan berteriak memanggilnya.
“Ibu sedang apa ?” Tanya gue kepada ibu.
“Ini, adikmu tidak mau sekolah lagi.”
“Lha, kenapa?”
"gara-gara kamu."
“………..”
“Stella…” Gue memanggil Stella di depan pintu rumahnya.
“Fe… sepertinya gak ada orang dirumahnya.” Kata Andrea.
Gue dari tadi mijit bel rumah Stella dan tak ada jawaban dari dalam. Memang sih gue belum janjian dulu kalau hari ini mau main ke rumah Stella.
“Ah dia pasti ada kok soalnya jarang kemana-mana.” Kata gue yang masih terus memijit bel rumahnya.
“Yah.. mungkin saja hari ini dia pergi.” Kata Andrea
“Eh… gak dikunci.” Gue iseng memegang gagang pintu rumah Stella dan mendorongnya ke dalam, dan taraaa pintunya terbuka. Andrea nampak heran melihat pintu rumah Stella yang gak dikunci dan bisa dibuka oleh gue.
“ayo masuk aja, palingan dia ada di dalam.” Kata gue.
Gue dan Andrea akhirnya memutuskan untuk masuk ke rumah Stella. Kondisi ruanganya gelap, semua alat elektronik seperti tv, lampu, dll mati. Rumah ini seperti tidak ada penghuninya.
“Stella….?” Gue memanggil Stella pas udah masuk di dalam namun masih tidak ada jawaban.
“Fe.. kita udah kayak maling aja.” Ujar Andrea.
“SStt.. ah. Palingan dia ada di kamarnya.”
Gue dan Andrea sudah ada di depan pintu kamarnya yang tertutup rapat.
Tok…Tok.. Tok…
“Stell…” Kata gue namun tetap aja sepi tidak ada jawaban.
“Stellaaa…” Andrea ikutan memanggil namanya. Namun, masih belum ada jawaban.
“Eh… Fe.. coba buka pintunya.” Kata Andrea.
Gue pun kembali memegang gagang pintu dan mendorongnya dan taraaaa, sekali lagi pintunya terbuka. Sebelum masuk ke kamar Stella, gue dan Andrea saling menatap satu sama lain. Entah kenapa rasanya kita seperti berada di film detektif atau mata-mata yang sedang memecahkan misteri.
Gue dan Andrea masuk ke dalam, kamarnya berantakan sekali, penuh dengan kertas-kertas yang berserakan dan juga barang lainnya. Gue melihat sekeliling kamarnya dan gue menemukan seorang perempuan berada di sudut kamar dekat kasur sedang duduk di lantai sambil memeluk lututnya, dan perempuan itu adalah STELLA!!
“Stella.!!” Kata gue yang langsung menghampirinya. Andrea masih keheranan melihat sekeliling kamarnya yang berantakan dan melihat-lihat dinding kamar yang dipenuhi coretan dan gambar abstrak.
“Stella…?” Gue menyapa Stella. Namun pandangan Stella tampak kosong dan menatap lurus ke depan, selain itu Stella terus berbicara sendiri.
“Mati.. mati.. gak…”
“Ayo.. bunuh diri.. bunuh diri…”
“Sakit gak ya, sakit gak ya…”
“Jumpa lagi.. jumpa lagi…”
Gue kaget sekaligus takut mendengar ucapan Stella.
“Fe.. temen lo kenapa?” Ujar Andrea menghampiri.
“Gak tau Nde…” Gue menoleh ke arah Andrea. Gue lihat Andrea nampak shock dan terkejut juga melihat dan mendengar ucapan Stella.
Apakah bipolarnya kambuh lagi? Gue jadi cemas karena gue gak bisa ngapa-ngapain begitu juga Andrea.
“Stella…” Gue panik dan terus memanggil namanya dan menggoyang-goyang badannya.
“Stella…Ayolah.. ini gue Felisha!!”
Setelah mendengar nama gue, Stella baru berhenti bicara dan melihat ke arah gue dengan tatapan kosongnya.
“Felisha?” Kata Stella.
“Ya?”
“BANTU GUE!!!!!” Stella bangkit lalu sontak saja tangannya mendorong badan gue ke belakang. Badan gue yang belum siap terdorong ke belakang sampai pada akhirnya membentur ke tembok dan rasanya sakit sekali.
“Fe… bantu gue…” Ujarnya terus menerus. Sementara gue mengerang kesakitan “Aw…”
Andrea yang terkejut melihat kejadian tersebut kemudian berusaha melepaskan tangan Stella dari pundak gue.
“Stella, lo kenapa?” Tanya Andrea kepada Stella. Namun Stella mengacuhkan Andrea.
“Fe….li..sha..”
Gue sekuat tenaga mencoba melepaskan tangannya yang masih menempel di pundak gue namun susah sekali.
“STELLA LEPASIN!!?” Gue membentak Stella. Stella kemudian melepaskan tangannya dan kemudian terdiam. Andrea kemudian mencoba membantu gue untuk menyeimbangkan badan.
“Fe.. baju lo berdarah..” Ujar Andrea
“Hah!” Gue langsung melihat seragam putih abu gue dan ternyata benar dibagian yang dipegangi dan didorong Stella bewarna merah, merah darah. Gue lalu melihat ke arah Stella yang sedang melihat kedua telapak tangannya yang merah berlumuran darah.
Yang tadinya serasa film detektif sekarang gue merasa sedang berada di film thriler/horor. Suasanya sangat tegang dan mencekam. Andrea keliatan panik banget melihat kejadian ini.
“Lo gak apa-apa nde?” Tanya gue ke Andrea.
“Seharusnya gue yang nanya lo, lo gak kenapa-napa Fe?”
“Gue shock nde!”
“Apalagi gue Fe…”
“Fe….” Ujar Stella dengan suara parau. Gue kembali melihat ke arah Stella, sekarang dia sedang menangis dan nampak sedih sekali. Entah gue harus gimana lagi sekarang. Gue gak tau!
“Stella kenapa lo, bipolar lo kambuh lagi?” Tanya gue kepada Stella.
“ Bipolar Fe?” Andrea terkejut mendengarnya.
Stella tiba-tiba langsung memeluk dan menangis dipelukan gue.
“Fee.. bantu gue..”
“Bantu gimana?!” Kata gue.
“Tenangin gue.” Katanya.
“Stell, tatap mata gue. Rileks Stella, rileks,,, tenang, gue ada disini.”
“Coba tarik nafas dalam-dalam.” Tambah Andrea.
Masih memeluk badan gue, Stella sedang mencoba menangkan dirinya. Tangisannya kemudian reda, dan ia segera melepas pelukannya dari tubuh gue. Stella sudah mendingan dan tampak tenang sekarang. Tapi, bagi gue dan Andrea serasa sudah mengalami mimpi buruk.
“Fe…” Ujarnya dengan normal.
“Ya?” Kata gue.
“Terima kasih.” Katanya.
Gue dan Andrea melongo melihat perubahaan mood Stella yang drastis. Beberapa menit yang lalu Stella seperti orang depresi yang menakutkan tapi sekarang dia sudah normal kembali.
“Fe, maafin gue udah ngerepotin lo ya.”
“Eh btw, itu bukan darah, itu cat. Tadi gue sedang melukis tiba-tiba saja mood gue swing, dan ya ibegitulah, kalau udah gitu, pengen mati aja rasanya.” Ujarnya.
Aduh! Mungkin tadi saking paniknya sehingga tidak bisa berpikir jernih. Ternyata noda merah yang menempel di baju dan tangan Stella itu adalah cat. Padahal tadi gue dan Andrea udah panik banget ngelihat itu sebagai darah. Tapi tetap saja baju gue jadi kotor.
Gue dan Andrea kemudian duduk di kasur Stella dan kita berdua masih shock. Sementara Stella mulai membereskan dan merapikan barang-barangnya yang berserakan. Astaga, hari ini gue telah melalui hari yang panjang sekali. Dulu bipolar Stella pernah kambuh di rumah gue, tapi kali ini menurut gue lebih parah karena ada drama darah dan kondisi rumah yang sepinya. Gue takutnya tadi Stella beneran mau bunuh diri dengan mengiris nadinya sehingga berdarah, tapi syukurlah tadi itu darahnya boongan. Bagi Andrea, mungkin ini pengalamannya pertama kali melihat orang yang bipolarnya kambuh. Ekspresi wajahnya yang shock tidak bisa disembunyikannya, ia juga tampak ketakutan sekali ketika melihat Stella mendorong gue ke tembok.
“Aduh maafin gue banget ya, kalian pasti takut ngeliat gue.” Kata Stella.
“Biasanya gue ada obat antidepresan, cuman kebetulan lagi habis. Makanya gue gak bisa terlalu ngontrol lagi.” Lanjutnya.
Terserahlah Stella! Gue sudah capek banget hari ini. Selanjutnya setelah kondisi mulai normal, gue minta ganti pinjemin baju ke Stella karena seragam gue udah berlumuran DARAH, mana seragam gue masih dipake buat besok sekolah. Pada akhirnya gue dan Andrea tetap jadi main di rumah Stella sambil menunggu mamanya Stella pulang. Andrea banyak bertanya ke Stella mengenai bipolarnya, sedangkan gue asyik main ps mencoba melupakan kejadian tadi.
Sekitar jam 4tan lebih mama Stella pulang. Masing-masing dari kita tidak menceritakan kejadian yang terjadi tadi. Gue dan Andrea kemudian dianterin pulang oleh mama Stella dan Stella, sekalian Stella membeli obat bipolarnya.
Sebelum magrib gue udah sampai ke rumah, gue pengen cepet-cepet mandi dan tidur, namun pas gue mau masuk ke kamar gue, ibu gue sedang mengetuk pintu kamar Ani dan berteriak memanggilnya.
“Ibu sedang apa ?” Tanya gue kepada ibu.
“Ini, adikmu tidak mau sekolah lagi.”
“Lha, kenapa?”
"gara-gara kamu."
“………..”
itkgid memberi reputasi
1
