- Beranda
- Stories from the Heart
Malang Mysterio (Horror Complete Stories)
...
TS
vigovampironeo
Malang Mysterio (Horror Complete Stories)
Ini trit merupakan kumpulan cerita cerita horror eike selama kuliah di kota Malang , terutama untuk cerita pendek akan eike masukkan di trit ini secara berkala....100 % true story tanpa rekayasa ,tanpa formalin dan tidak mengandung minyak babi , selain daripada itu cerita cerita ini memang dirancang dengan alur yang dinamiz sesuai kronologiz dan tata bahasa yang dramatiz sehingga cocix buat dibaca sebelum agan agan bobox cantix
Quote:

Quote:

vigo , niken , pendik , steve , renggo , zul , memet , danang , rani
Quote:
Penjelajahan Mistis di Kampus UMM(complete story)
Tiga Keranda di Jembatan Belakang Sengkaling(complete story)
Eric & Katrina(complete story)
Quote:
Malang Mysterio Exo(Trit Pelengkap)
Quote:
Apabila anda puas bilang sama teman , saudara atau tetangga anda ….. bila timbul gejala gejala aneh segera berobat ke mantri hewan terdekat di kota anda
Diubah oleh vigovampironeo 10-04-2022 07:28
ferist123 dan 28 lainnya memberi reputasi
25
976.6K
Kutip
2.7K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
vigovampironeo
#848
Astral Projection ke Monumen Jend Sudirman di Pacitan
ini cerita bukan sembarang cerita tetapi benar benar telah terjadi pada sekitar akhir tahun 2010 ketika eike masih kuliah semester 7 , 100 % true story tanpa rekayasa ,tanpa formalin dan tidak mengandung minyak babi , selain daripada itu cerita ini memang dirancang dengan alur yang dinamiz dan tata bahasa yang dramatiz sehingga cocix buat dibaca sebelum agan agan bobox cantix
Quote:

Quote:
Di atas ketinggian puluhan meter sukma kami melayang layang sambil menatap patung Jenderal Sudirman yang berdiri menjulang tak jauh di hadapan kami , saking menjulangnya patung panglima besar itu terlihat bagaikan raksasa yang menguasai pegunungan di daerah yang bernama Nawangan ini , salah satu kecamatan di kabupaten Pacitan yang geografisnya bergunung gunung.
Renggo : " dulu pak dirman gerilya sampe nawangan sini "
Steve : " ditandu ngelewatin pegunungan kayak gini bang ? "
Renggo : " iya stiv , soalnya pak dirman diburu kompeni terus "
Steve : " ada apaan lagi di sini bang ? "
Renggo : " pak dirman punya khodam yang masih hidup sampe sekarang "
Steve : " khodam ?!... makhluk apa bang ? "
Renggo : " ntar lu bakalan tau sendiri stiv "
Steve : " ada di sini juga ya bang ? "
Renggo : " ada di sekitar gunung gunung sebelah barat itu "
Aku dan Pendik hanya terdiam mendengar omongan Bang Renggo barusan , aku sama sekali tak mengerti tentang makhluk astral yang katanya menjadi khodam Jenderal Sudirman.
Pendik : " mana lho bang ?!.. aku kok ngga lihat apa apa "
Renggo : " kita tungguin sambil duduk di atas patung deh , ayo ikutin gw ! "
Dengan bersemangat Bang Renggo memimpin kami melayang mendekat ke arah patung Jenderal Sudirman itu , ketika kami tiba tepat di atas bagian kepalanya barulah kusadari betapa besarnya ukuran patung ini , apalagi saat kami mendarat di bagian pundaknya , ternyata sukma kami ini cuma setinggi lehernya saja.
Pendik : " guedi yo vig patunge "
(buesar yo vig patungnya)
Me : " nek mbangun piye yo ndik ? "
(kalo mbangun gimana ya ndik ?)
Kini di pundak patung raksasa ini kami berempat duduk sambil memandangi suasana sekitar yang tampak sunyi , hanya ada pegunungan , hutan serta pedesaan yang letaknya berpencar pencar.
Renggo : " tadi kita berangkat dari malang jam berapa stiv ? "
Steve : " setengah 5 kayaknya "
Renggo : " kita tungguin sampe matahari tenggelam "
Me : " emang khodamnya pak dirman nongolnya jam segitu bang ? "
Renggo : " iya vig , cuma pas mau maghrib doang "
Entah seperti apa wujud makhluk khodam itu , aku merasa semakin penasaran dan tak sabar menunggu kemunculannya menjelang maghrib nanti.
Steve : " jenderal sudirman emang beneran sakti ya bang ? "
Renggo : " kan pak dirman penganut kebatinan stiv , lu pernah denger pas pesawat belanda mau ngebom desa di jogja ? "
Steve : " ngga pernah bang , emang diapain pesawatnya ? "
Renggo : " ngga diapa apain pesawatnya , tapi pak dirman bisa bikin kamuflase gaib biar desanya kelihatan kayak hutan.... akhirnya tu pesawat gak jadi ngebom "
Steve : " ajian apa ya itu bang ? "
Renggo : " gw juga gak ngerti ajian apaan , pokoknya ajiannya tingkat tinggi semua... kan pak dirman dulu tirakatnya di pantai parangkusumo "
Dengan bersemangat Bang Renggo terus bercerita tentang sepak terjang Pak Dirman yang konon menguasai bermacam ajian tingkat tinggi , sementara dalam hati aku merasa kagum mendengar kisah pahlawan yang satu ini... suatu bentuk perjuangan yang berat dan benar benar mengerahkan segala daya baik fisik maupun metafisik , semuanya beliau lakukan hanya demi memerdekakan tanah air yang dicintainya ini.
Renggo : " ini kayaknya udah jam 5 lewat stiv , ya paling seperempat jam lagi nongol "
Steve : " aku kok ngga ngerasain energinya bang ? "
Renggo : " kan gw bilang masih belum nongol "
Aku merasa penasaran dan semakin tak sabar menunggu kemunculan makhluk itu , yang bisa kulakukan saat ini hanyalah memandangi eloknya pegunungan sekitar , apalagi pancaran matahari senja di ufuk barat membuat pemandangan tampak lebih indah.
Me : " ini pertama kali kita ngastral sore hari ya stiv "
Steve :" kalo aku udah sering kok mas ngastral jam segini , apalagi pas bersihin kabut asap di pekanbaru kemaren "
Renggo : " kita jadi punya banyak waktu buat ngastral , abis ini kita ke teluk pacitan "
Me : " wah asik tuh bos , kan ada pantai teleng ria di sono "
Pendik : " koyok traveling awake dhewe vig "
(kayak travelling kita vig)
Memang ada keuntungan tersendiri melakukan astral projection saat sore hari seperti ini , kami jadi punya banyak waktu buat menjelajahi berbagai tempat , selain itu apa yang kami lihat jadi lebih jelas daripada saat malam hari , dimana kemampuan mata astral akan berkurang dan apa yang terlihat jadi agak buram.
Steve : " bang ?!?.. "
Renggo : " eh siap siap semuanya ! "
Me : " mau nongol sekarang bang ?! "
Renggo : " iya vig , siap siap kita hadap ke barat ! "
Begitu Bang Renggo mengkomando kami langsung berdiri menghadap ke ufuk barat , katanya makhluk itu akan segera muncul tak lama lagi... selama beberapa menit kami terus memandangi ufuk barat namun makhluk itu masih belum kelihatan juga , satu satunya yang terlihat hanyalah matahari yang sinarnya semakin meredup dan semakin tenggelam di balik pegunungan.
Steve : " makin lama makin besar bang energinya "
Renggo : " berarti udah makin dekat stiv "
Pendik : " aku kok rodo wedi vig "
(aku kok agak takut vig)
Me : " lapo wedi ndik ?! "
(ngapain takut ndik ?!)
Renggo : " sttt !!... siap siap semuanya ! "
Perasaanku benar benar deg degan menanti kemunculan makhluk itu , apalagi Steve baru saja merasakan betapa besar energinya seiring dengan kian dekatnya kemunculan makhluk itu.
Steve : " bang ?!?.... iitu bang ?!? "
Renggo : " eh udah keliatan tuh , ayo lihat semuanya !! "
Me : " gak jelas bang "
Pendik : " endi lho vig ?! "
(mana lho vig ?!)
Kini kami terdiam dan terus mengamati ufuk barat dimana matahari tampak nyaris tenggelam , ternyata benar apa kata Bang Renggo... makhluk itu benar benar telah muncul dan terlihat di kejauhan sana.
Renggo : " dulu pak dirman gerilya sampe nawangan sini "
Steve : " ditandu ngelewatin pegunungan kayak gini bang ? "
Renggo : " iya stiv , soalnya pak dirman diburu kompeni terus "
Steve : " ada apaan lagi di sini bang ? "
Renggo : " pak dirman punya khodam yang masih hidup sampe sekarang "
Steve : " khodam ?!... makhluk apa bang ? "
Renggo : " ntar lu bakalan tau sendiri stiv "
Steve : " ada di sini juga ya bang ? "
Renggo : " ada di sekitar gunung gunung sebelah barat itu "
Aku dan Pendik hanya terdiam mendengar omongan Bang Renggo barusan , aku sama sekali tak mengerti tentang makhluk astral yang katanya menjadi khodam Jenderal Sudirman.
Pendik : " mana lho bang ?!.. aku kok ngga lihat apa apa "
Renggo : " kita tungguin sambil duduk di atas patung deh , ayo ikutin gw ! "
Dengan bersemangat Bang Renggo memimpin kami melayang mendekat ke arah patung Jenderal Sudirman itu , ketika kami tiba tepat di atas bagian kepalanya barulah kusadari betapa besarnya ukuran patung ini , apalagi saat kami mendarat di bagian pundaknya , ternyata sukma kami ini cuma setinggi lehernya saja.
Pendik : " guedi yo vig patunge "
(buesar yo vig patungnya)
Me : " nek mbangun piye yo ndik ? "
(kalo mbangun gimana ya ndik ?)
Kini di pundak patung raksasa ini kami berempat duduk sambil memandangi suasana sekitar yang tampak sunyi , hanya ada pegunungan , hutan serta pedesaan yang letaknya berpencar pencar.
Renggo : " tadi kita berangkat dari malang jam berapa stiv ? "
Steve : " setengah 5 kayaknya "
Renggo : " kita tungguin sampe matahari tenggelam "
Me : " emang khodamnya pak dirman nongolnya jam segitu bang ? "
Renggo : " iya vig , cuma pas mau maghrib doang "
Entah seperti apa wujud makhluk khodam itu , aku merasa semakin penasaran dan tak sabar menunggu kemunculannya menjelang maghrib nanti.
Steve : " jenderal sudirman emang beneran sakti ya bang ? "
Renggo : " kan pak dirman penganut kebatinan stiv , lu pernah denger pas pesawat belanda mau ngebom desa di jogja ? "
Steve : " ngga pernah bang , emang diapain pesawatnya ? "
Renggo : " ngga diapa apain pesawatnya , tapi pak dirman bisa bikin kamuflase gaib biar desanya kelihatan kayak hutan.... akhirnya tu pesawat gak jadi ngebom "
Steve : " ajian apa ya itu bang ? "
Renggo : " gw juga gak ngerti ajian apaan , pokoknya ajiannya tingkat tinggi semua... kan pak dirman dulu tirakatnya di pantai parangkusumo "
Dengan bersemangat Bang Renggo terus bercerita tentang sepak terjang Pak Dirman yang konon menguasai bermacam ajian tingkat tinggi , sementara dalam hati aku merasa kagum mendengar kisah pahlawan yang satu ini... suatu bentuk perjuangan yang berat dan benar benar mengerahkan segala daya baik fisik maupun metafisik , semuanya beliau lakukan hanya demi memerdekakan tanah air yang dicintainya ini.
Renggo : " ini kayaknya udah jam 5 lewat stiv , ya paling seperempat jam lagi nongol "
Steve : " aku kok ngga ngerasain energinya bang ? "
Renggo : " kan gw bilang masih belum nongol "
Aku merasa penasaran dan semakin tak sabar menunggu kemunculan makhluk itu , yang bisa kulakukan saat ini hanyalah memandangi eloknya pegunungan sekitar , apalagi pancaran matahari senja di ufuk barat membuat pemandangan tampak lebih indah.
Me : " ini pertama kali kita ngastral sore hari ya stiv "
Steve :" kalo aku udah sering kok mas ngastral jam segini , apalagi pas bersihin kabut asap di pekanbaru kemaren "
Renggo : " kita jadi punya banyak waktu buat ngastral , abis ini kita ke teluk pacitan "
Me : " wah asik tuh bos , kan ada pantai teleng ria di sono "
Pendik : " koyok traveling awake dhewe vig "
(kayak travelling kita vig)
Memang ada keuntungan tersendiri melakukan astral projection saat sore hari seperti ini , kami jadi punya banyak waktu buat menjelajahi berbagai tempat , selain itu apa yang kami lihat jadi lebih jelas daripada saat malam hari , dimana kemampuan mata astral akan berkurang dan apa yang terlihat jadi agak buram.
Steve : " bang ?!?.. "
Renggo : " eh siap siap semuanya ! "
Me : " mau nongol sekarang bang ?! "
Renggo : " iya vig , siap siap kita hadap ke barat ! "
Begitu Bang Renggo mengkomando kami langsung berdiri menghadap ke ufuk barat , katanya makhluk itu akan segera muncul tak lama lagi... selama beberapa menit kami terus memandangi ufuk barat namun makhluk itu masih belum kelihatan juga , satu satunya yang terlihat hanyalah matahari yang sinarnya semakin meredup dan semakin tenggelam di balik pegunungan.
Steve : " makin lama makin besar bang energinya "
Renggo : " berarti udah makin dekat stiv "
Pendik : " aku kok rodo wedi vig "
(aku kok agak takut vig)
Me : " lapo wedi ndik ?! "
(ngapain takut ndik ?!)
Renggo : " sttt !!... siap siap semuanya ! "
Perasaanku benar benar deg degan menanti kemunculan makhluk itu , apalagi Steve baru saja merasakan betapa besar energinya seiring dengan kian dekatnya kemunculan makhluk itu.
Steve : " bang ?!?.... iitu bang ?!? "
Renggo : " eh udah keliatan tuh , ayo lihat semuanya !! "
Me : " gak jelas bang "
Pendik : " endi lho vig ?! "
(mana lho vig ?!)
Kini kami terdiam dan terus mengamati ufuk barat dimana matahari tampak nyaris tenggelam , ternyata benar apa kata Bang Renggo... makhluk itu benar benar telah muncul dan terlihat di kejauhan sana.
Quote:
Semburat sinar matahari senja membuat kepakan sayap makhluk itu terlihat begitu anggun " koooakk !!.... kkoooakk !!... "sayup sayup terdengar suaranya yang menggema di pegunungan dan semakin lama terdengar semakin nyaring memecah kesunyian , seiring jaraknya yang kian dekat barulah kami menyadari kalau wujud makhluk itu ternyata adalah seekor gagak raksasa berbulu hitam.
Steve : " gagak raksasa ?! "
Renggo : " ya itu khodamnya pak dirman "
Me : " ggede bos !! "
Pendik : " wancik vig ?!... nggumun temenan aku "
Kami hanya bisa terpana menatap gagak raksasa yang terbang berkilo kilo meter di hadapan kami itu " koakkk !!!... kooakk !!!... " gema suaranya terdengar kian nyaring dan membuat kami tak kuasa meredam rasa takjub yang luar biasa... selama melakukan astral projection baru kali ini kujumpai makhluk astral sebesar itu.
Pendik : " bbang ?!.. iitu gagaknya kok terbang ke sini ?! "
Renggo : " ngga pa pa cuma lewat doang ndik , malah kita bisa liat lebih jelas lagi "
Steve : " apa perlu kita nyusul terbang ngikutin dari belakang bang ?! "
Renggo : " ngga perlu stiv , ntar malah kabur gagaknya.. kita ngelihat dari sini aja deh "
Ketakjuban ini terasa semakin menjadi jadi manakala gagak raksasa itu terbang semakin dekat ke arah monumen ini " kooakkk !!!... kooakkk !!!... " kian dekat jaraknya kian nyaring pula suaranya terdengar dan seketika menggetarkan hati sanubari , hingga akhirnya kami semua mendongakkan kepala saat gagak raksasa itu terbang melintas tepat di atas monumen ini , bentang sayap serta ukuran tubuhnya kira kira seukuran pesawat tempur dan " wuuzzz !!!... wuuzz !!!.... " kepakan sayapnya yang begitu lebar itu langsung menghasilkan angin kencang yang menerpa muka dan rambut kami.
Pendik : " wancik vig ?!... manuk kok guedine koyok pesawat "
(wancik ?!... burung kok besarnya kayak pesawat)
Me : " .... "
Tak sepatah kata bisa terucap untuk mengungkapkan ketakjubkan yang kurasakan ini , aku hanya bisa terdiam dan terus terpana memandangi gagak raksasa itu hingga akhirnya terbang menjauhi monumen ini.
Steve : " terbang ke timur terus bang "
Renggo : " mau nyari makan stiv "
Perlahan gagak raksasa itu terbang semakin menjauh ke arah timur sebelum akhirnya tak terlihat lagi oleh pandangan mata , entah mau terbang kemana makhluk itu.
Renggo : " lu tau stiv , burung kayak gitu umurnya tua banget , ada 1000 tahun lebih kayaknya "
Steve : " populasinya gimana bang ? "
Renggo : " ngga banyak di dunia ini , cuma sisa dikit... di kalimantan gw cuma nemu 3 ekor doang "
Steve : " apa burung kayak gitu udah ada jaman atlantis bang ? "
Renggo : " gw gak tau , mungkin udah ada "
Me : " trus kok bisa jadi khodamnya jenderal sudirman bang ? "
Renggo : " gagak itu kalo ketemu orang yang maqam spiritualnya tinggi pasti bakalan tunduk "
Sungguh luar biasa apa yang kusaksikan barusan , ketakjubanku terhadap apa yang ada di alam astral ini semakin lama semakin membuatku tertantang untuk menyibak misterinya lebih jauh lagi.
Renggo : " mau maghrib nih , kita langsung ke teluk pacitan sekarang aja ya ? "
Me : " oyi bos "
Pendik : " ayo ladub wes bang ! "
Perlahan kami mulai terbang dan beranjak meninggalkan komplek monumen yang mulai tampak gelap ini , dengan santai kami terbang menuju teluk Pacitan yang merupakan tujuan berikutnya.... entah apa yang akan kami jumpai di sana nanti.
Steve : " gagak raksasa ?! "
Renggo : " ya itu khodamnya pak dirman "
Me : " ggede bos !! "
Pendik : " wancik vig ?!... nggumun temenan aku "
Kami hanya bisa terpana menatap gagak raksasa yang terbang berkilo kilo meter di hadapan kami itu " koakkk !!!... kooakk !!!... " gema suaranya terdengar kian nyaring dan membuat kami tak kuasa meredam rasa takjub yang luar biasa... selama melakukan astral projection baru kali ini kujumpai makhluk astral sebesar itu.
Pendik : " bbang ?!.. iitu gagaknya kok terbang ke sini ?! "
Renggo : " ngga pa pa cuma lewat doang ndik , malah kita bisa liat lebih jelas lagi "
Steve : " apa perlu kita nyusul terbang ngikutin dari belakang bang ?! "
Renggo : " ngga perlu stiv , ntar malah kabur gagaknya.. kita ngelihat dari sini aja deh "
Ketakjuban ini terasa semakin menjadi jadi manakala gagak raksasa itu terbang semakin dekat ke arah monumen ini " kooakkk !!!... kooakkk !!!... " kian dekat jaraknya kian nyaring pula suaranya terdengar dan seketika menggetarkan hati sanubari , hingga akhirnya kami semua mendongakkan kepala saat gagak raksasa itu terbang melintas tepat di atas monumen ini , bentang sayap serta ukuran tubuhnya kira kira seukuran pesawat tempur dan " wuuzzz !!!... wuuzz !!!.... " kepakan sayapnya yang begitu lebar itu langsung menghasilkan angin kencang yang menerpa muka dan rambut kami.
Pendik : " wancik vig ?!... manuk kok guedine koyok pesawat "
(wancik ?!... burung kok besarnya kayak pesawat)
Me : " .... "
Tak sepatah kata bisa terucap untuk mengungkapkan ketakjubkan yang kurasakan ini , aku hanya bisa terdiam dan terus terpana memandangi gagak raksasa itu hingga akhirnya terbang menjauhi monumen ini.
Steve : " terbang ke timur terus bang "
Renggo : " mau nyari makan stiv "
Perlahan gagak raksasa itu terbang semakin menjauh ke arah timur sebelum akhirnya tak terlihat lagi oleh pandangan mata , entah mau terbang kemana makhluk itu.
Renggo : " lu tau stiv , burung kayak gitu umurnya tua banget , ada 1000 tahun lebih kayaknya "
Steve : " populasinya gimana bang ? "
Renggo : " ngga banyak di dunia ini , cuma sisa dikit... di kalimantan gw cuma nemu 3 ekor doang "
Steve : " apa burung kayak gitu udah ada jaman atlantis bang ? "
Renggo : " gw gak tau , mungkin udah ada "
Me : " trus kok bisa jadi khodamnya jenderal sudirman bang ? "
Renggo : " gagak itu kalo ketemu orang yang maqam spiritualnya tinggi pasti bakalan tunduk "
Sungguh luar biasa apa yang kusaksikan barusan , ketakjubanku terhadap apa yang ada di alam astral ini semakin lama semakin membuatku tertantang untuk menyibak misterinya lebih jauh lagi.
Renggo : " mau maghrib nih , kita langsung ke teluk pacitan sekarang aja ya ? "
Me : " oyi bos "
Pendik : " ayo ladub wes bang ! "
Perlahan kami mulai terbang dan beranjak meninggalkan komplek monumen yang mulai tampak gelap ini , dengan santai kami terbang menuju teluk Pacitan yang merupakan tujuan berikutnya.... entah apa yang akan kami jumpai di sana nanti.
Apabila anda puas bilang sama teman , saudara atau tetangga anda ….. bila timbul gejala gejala aneh segera berobat ke mantri hewan terdekat di kota anda
Diubah oleh vigovampironeo 16-09-2017 21:13
meqiba dan mas444 memberi reputasi
2
Kutip
Balas