- Beranda
- Stories from the Heart
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
...
TS
beavermoon
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
Selamat datang di BeaverMoon Land
Sudah lama tak berjumpa dengan halaman ini dan biasanya cuma liat info-info HT doang.
Dan pada akhirnya ane kembali dengan membawa kisah yang ngga terlalu bagus

Spoiler for Tanya Jawab:
Q : Bang bakalan panen kentang lagi ngga?"
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)
Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)

Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
Jadi buat agan dan aganwati sekalian yang mau mengikuti thread ini seharusnya baca AKU, KAMU, DAN LEMONterlebih dahulu. Cuma kalo mau baca ini dulu ya nggapapa ngga ada larangannya

Selamat membaca

Spoiler for INDEX:
Episode 1
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Diubah oleh beavermoon 28-01-2020 19:37
i4munited dan 13 lainnya memberi reputasi
14
77.9K
Kutip
417
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#42
Spoiler for Episode 3:
Spoiler for Buku Harian:
Aku sedang duduk di dalam kelas sambil membaca buku novel seperti biasanya, suasana kelas yang hening membuatku sangat nyaman untuk membaca ditambah dengan lantunan instumen musik dari hpku.
“Sibuk banget sih, kerjaannya baca mulu kayak ngga ada yang lain.” Kata Herman duduk di sampingku
“Apa deh Man kayak baru pertama kali ngeliat gue aja. Lo sendiri kenapa ngga main basket di lapangan?” Tanyaku
“Lagi males aja, makanya balik dari kantin buru-buru biar ngga disuruh main. Lu baca buku apa sih?” Tanyanya balik kepadaku
“Cuma novel cinta-cintaan doang Man, bukan bacaan yang berat.” Kataku
Ia mengambil bagian kanan dari headset yang kupasang di telingaku dan ia ikut mendengarkan lagu instrumen ini, aku masih fokus dengan novel yang sedang kubaca tanpa memperdulikannya di sampingku.
Tiba-tiba saja pundakku serasa berat sebelah dan baru kusadari bahwa Herman sedang bersandar di pundakku.
“Lagunya enak Rin, bikin gue ngantuk.” Katanya
Aku hanya bisa tersenyum kepadanya dan kemudian aku kembali membaca lagi. Namun konsentrasiku sepertinya terganggu dengan kedatangan Herman ditambah dengan posisinya yang sedang bersandar di bahuku. Cukup banyak mata yang memandang ke arah kami dari luar kelas yang membuatku merasa tidak enak.
“Ngga usah peduliin mereka Rin...” Kata Herman lagi
Mungkin Herman juga merasakan apa yang aku rasakan hingga ia bisa berkata seperti itu. Bukan itu saja, ada hal lain yang mengangguku saat ini. Entah itu apa, namun rasanya seperti detak jantungku yang mulai berdetak dengan kencang.
“Sibuk banget sih, kerjaannya baca mulu kayak ngga ada yang lain.” Kata Herman duduk di sampingku
“Apa deh Man kayak baru pertama kali ngeliat gue aja. Lo sendiri kenapa ngga main basket di lapangan?” Tanyaku
“Lagi males aja, makanya balik dari kantin buru-buru biar ngga disuruh main. Lu baca buku apa sih?” Tanyanya balik kepadaku
“Cuma novel cinta-cintaan doang Man, bukan bacaan yang berat.” Kataku
Ia mengambil bagian kanan dari headset yang kupasang di telingaku dan ia ikut mendengarkan lagu instrumen ini, aku masih fokus dengan novel yang sedang kubaca tanpa memperdulikannya di sampingku.
Tiba-tiba saja pundakku serasa berat sebelah dan baru kusadari bahwa Herman sedang bersandar di pundakku.
“Lagunya enak Rin, bikin gue ngantuk.” Katanya
Aku hanya bisa tersenyum kepadanya dan kemudian aku kembali membaca lagi. Namun konsentrasiku sepertinya terganggu dengan kedatangan Herman ditambah dengan posisinya yang sedang bersandar di bahuku. Cukup banyak mata yang memandang ke arah kami dari luar kelas yang membuatku merasa tidak enak.
“Ngga usah peduliin mereka Rin...” Kata Herman lagi
Mungkin Herman juga merasakan apa yang aku rasakan hingga ia bisa berkata seperti itu. Bukan itu saja, ada hal lain yang mengangguku saat ini. Entah itu apa, namun rasanya seperti detak jantungku yang mulai berdetak dengan kencang.
Kututup buku yang sedang kubaca ini dan memasukannya ke dalam tasku. Kunyalakan sebatang rokok lagi, dan kemudian aku melihat ke arah depan dimana banyak sekali gerombolan mahasiswa yang sedang berbincang. Aku sedang berada di kampus, sayangnya hari ini dosen yang ditunggu batal datang. Aku sengaja untuk sekedar duduk di halaman depan gedung jurusanku. Dari kejauhan aku melihat ada sesosok wanita yang membuat mataku tertarik untuk melihatnya. Dandanan yang sederhana saja dapat Cumiakan mataku ini.
“Ngeliatin siapa deh Bram?” Tanya Zahra yang sudah duduk di sampingku
“Ngga kok. Eh gimana ngga jadi hari ini?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan
“Ya ganti hari jadinya, mungkin minggu depan jadi nambah materinya.” Jelasnya
Aku hanya mengangguk dan kemudian aku mencoba untuk melihat wanita yang tadi, namun sayangnya aku tidak menemukannya lagi. Mungkin ia sudah masuk ke dalam kelas atau sudah pulang. Dan akhirnya aku memutuskan untuk pulang juga karena hari semakin siang. Aku berpisah dengan Zahra di parkiran mobil karena kami membawa kendaraan masing-masing. Kunyalakan mesin mobil tua ini dan bergegas menuju rumah. Bertepatan di gerbang kampus aku melihat wanita yang sempat menarik perhatianku, ia sedang menunggu di seberang sana dan ternyata ia menaiki angkutan umum.
“Wah ngga nyangka cewe secantik itu naik angkot, pasti sederhana banget gaya hidupnya.” Kataku seorang diri
Setengah jam menembus perjalanan menuju rumah, akhirnya aku tiba dan aku kembali dikejutkan oleh sebuah sedan putih yang sudah terparkir di halaman rumahku. Aku memasukan mobilku ke dalam garasi dan kembali memandangi mobil sedan ini lagi.
Karena semakin penasaran akhirnya aku masuk ke dalam rumah dan tidak menemukan Widya di ruang tamu. Aku memutuskan untuk naik ke atas menuju kamarku dan akhirnya aku menemukannya sedang duduk di balkon kamar bersama dengan Nanda
“Kamu ada di sini?” Tanyaku
“Kamu udah pulang?” Tanyanya balik kepadaku
“Nah kan Abang udah pulang jadi aku tinggal ya Ka Wid, ngantuk mau bobo.” Kata Nanda
Nanda meninggalkan kami berdua di balkon, dan di sinilah kami berdua yang masih saling terdiam satu sama lain. Kami hanya bisa saling tatap untuk beberapa saat hingga akhirnya aku mencoba untuk membuka percakapan dengannya.
“Kamu dari kapan di sini?” Tanyaku dengan segala kekakuan
“Belum lama sih, tadi pas balik ketemu Nanda di depan jadi barengan aja.” Jawabnya
Dan kami kembali terdiam lagi. Entah mengapa kemarin sangat berbeda dengan hari ini, jika kemarin adalah hari pertama aku kembali melihatnya lagi maka hari ini adalah hari dimana aku harus membiasakan diri untuk bertemu dengannya lagi.
Aku berniat untuk mengajaknya bermain game dan ia pun menyetujuinya. Aku pikir bahwa aku sudah yang paling handal dalam permainan ini namun tak disangka orang seperti Widya mampu mengimbangi permainanku, meskipun hasil akhirnya aku tetap memenangi permainan bola ini.
“Aku ngga nyangka kamu bisa jago kayak gitu.” Kataku
“Jago darimana kalo kamu tetep yang menang?” Tanyanya
“Seenggaknya kamu lebih jago dari si Babon.” Kataku
Kami berdua tertawa dan melanjutkan permainan kedua kami dan lagi-lagi hasilnya aku masih memenangkan permainan ini. Hingga tidak terasa hari sudah semakin sore dan Nanda sudah selesai dengan mandinya.
“Kamu mau kemana Nda?” Tanyaku heran
“Mau ketemu temen Bang, nanti jam sembilan juga udah pulang.” Jawabnya
“Kamu sama siapa?” Tanya Widya
“Nanti dijemput sama temen aku ke sini, paling bentar lagi.” Jawabnya lagi
Aku dan Widya menyudahi permainan kami untuk turun ke bawah mengantar Nanda. Dan memang benar sudah ada dua temannya yang datang menggunakan mobil mereka. Nanda berpamitan dengan kami dan pergi menghampiri temannya, kemudian mobil mereka menjauh dari pandangan kami dan menghilang di belokan sana. Bertepatan juga dengan mobil mewah yang sudah aku kenal menuju rumahku.
“Itu mobilnya Reza kan?” Tanya Widya
Aku hanya mengangguk kepadanya. Setelah mobil Reza terparkir akhirnya dia menghampiri kami berdua dengan gayanya yang sangat tidak enak untuk dipandang.
“Aduh sore-sore gini berdua aja, jadi ngga enak mau ganggu...” Goda Reza
“Apa deh Za, ngga gitu juga lah.” Kata Widya
“Nih gue bawain makanan, tapi cuma tiga.” Katanya
“Ya emang pas buat bertiga, tadi mobil yang di belokan itu isinya Nanda sama temen-temennya.” Kataku meraih bungkusan makanan itu
Kami mulai memakan makanan yang dibawakan Reza sambil menonton acara tv. Hingga akhirnya makanan kami habis dan kami saling berbincang di ruang tamu. Malam sudah datang, kami masih saja berbincang di ruang tamu. Tiba-tiba saja Reza berlari ke lantai atas, aku dan Widya yang melihat itu cukup kebingungan dengan apa yang akan ia lakukan. Sekembalinya ia dari lantai atas, ia membawa gitar tuaku dan juga satu pack kartu remi.
“Lu mau main gitar apa main kartu?” Tanyanya dengan nafas yang terengah-engah
“Jadi lu lari ke atas cuma buat ngambil gituan doang?” Tanyaku balik kepadanya
“Biar ngga bosen Bram, kita main di pinggir kolam aja.” Jawabnya
Widya hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Reza.
Spoiler for Flashback:
Aku sedang berjalan menuju parkiran sekolahku untuk pulang ke rumah. Aku sedang menyalakan mobil tua ini dan bergegas untuk pulang. Ada seseorang yang mengetuk kaca jendela mobilku, dan aku melihat itu adalah Widya.
“Kenapa Wid?” Tanyaku
“Aku boleh main ke rumah kamu dulu ngga? Bosen Bram di rumah, tapi ntar anterin aku balik lagi.” Pintanya
Aku memandangnya dengan malas dan akhirnya aku mengiyakannya. Setibanya di rumah aku melihat Ayah dan juga Ibu yang sedang berbincang di halaman depan. Mereka cukup kaget dengan kedatanganku yang tidak biasanya karena kali ini aku membawa salah seorang teman wanitaku.
“Ayah, Ibu kenalin ini temen aku.” Kataku kepada mereka
“Halo Om dan Tante, aku Widya temennya Bram...” Kata Widya sambil menyalami mereka
“Hai Wid, kamu cantik banget.” Kata Ibu
“Yakin Bram kamu cuma mau temenan sama dia? Cantik loh jangan disia-siain.” Goda Ayah
“Ayah apa sih ngomongnya. Maaf ya Wid soalnya ini pertama kalinya Bram bawa cewe ke rumah jadi kita agak kaget aja.” Jelas Ibu
Aku hanya memandang malas ke arah mereka berdua. Setelah itu Widya diajak masuk ke dalam dan makan bersama. Seperti biasa, aku selalu makan di depan tv sedangkan Ayah dan juga Ibu selalu makan di meja makan.
“Gitu tuh kerjaannya Bram, kalo makan pasti di depan tv sambil nonton kartun.” Kata Ibu
“Aku juga biasanya gitu sih Tante kalo di rumah.” Kata Widya
“Wah Bram, kamu punya temen juga nih.” Kata Ayah
“Yaudah sini aja Wid.” Ajakku kepadanya
Kemudian Widya menghampiriku dengan piring berisi nasi serta lauk pauknya dan duduk di sebelahku. Tidak lama kemudian Nanda pulang dan ia cukup terkejut melihat kedatangan wanita yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ia menghampiriku dan mencium tanganku seperti biasa.
“Hai bakpao isi cokelat, kenalin nih temen Abang.” Kataku
“Apa sih Abang gitu mulu. Hai, aku Nanda adiknya Abang.” Katanya
“Hai aku Widya, salam kenal ya.” Kata Widya bersalaman dengannya
Nanda menghampiri Ayah dan juga Ibu untuk ikut makan juga.
“Kalo pipi aku kayak bakpao juga ngga?” Tanyanya sambil menggembungkan pipinya dan tersenyum
Aku terdiam melihat senyumannya karena itu salah satu senyuman termanis yang pernah aku lihat. Setelah selesai makan aku mengajak Widya untuk menuju kamarku, dan ia cukup terkejut dengan keadaan kamarku yang terbilang rapih.
“Kamar kamu serapih ini Bram?” Tanyanya heran
“Ya begini adanya Wid.” Jawabku singkat
“Kamu seneng sama mobil tua ya?” Tanyanya melihat miniatur mobil antik yang ada di etalase kaca
Aku mengangguk dan tersenyum kepadanya, setelah itu kami menuju balkon untuk melihat-lihat saja. Dari kejauhan aku melihat Reza yang sedang menuju rumahku menggunakan motornya dan ia juga baru pulang dari sekolah. Ia masuk ke dalam rumahku dan segera menuju kamarku. Ia pun terkejut dengan kehadiran sosok wanita yang ada bersamaku saat ini.
“Bon, kenalin ini temen gue. Wid, ini sahabat aku dari kecil.” Kataku kepada mereka
Mereka saling berkenalan.
“Gue kira lu udah ngga punya temen cewe lagi Bram, ternyata masih ada.” Kata Reza
“Udah ah mending kita lanjutin poker gimana? Mau ikut ngga Wid?” Tanyaku
“Boleh deh aku juga suka main poker.” Jawabnya
Kami memulai permainan poker kami, dari satu ronde ke ronde yang lain hingga aku tersadar bahwa muka kami sudah penuh dengan bedak sesuai dengan peraturan yang kalah akan dicoret mukanya menggunakan bedak. Kami saling pandang dan akhirnya kami menertawai diri kami sendiri hingga kelelahan.
“Kenapa Wid?” Tanyaku
“Aku boleh main ke rumah kamu dulu ngga? Bosen Bram di rumah, tapi ntar anterin aku balik lagi.” Pintanya
Aku memandangnya dengan malas dan akhirnya aku mengiyakannya. Setibanya di rumah aku melihat Ayah dan juga Ibu yang sedang berbincang di halaman depan. Mereka cukup kaget dengan kedatanganku yang tidak biasanya karena kali ini aku membawa salah seorang teman wanitaku.
“Ayah, Ibu kenalin ini temen aku.” Kataku kepada mereka
“Halo Om dan Tante, aku Widya temennya Bram...” Kata Widya sambil menyalami mereka
“Hai Wid, kamu cantik banget.” Kata Ibu
“Yakin Bram kamu cuma mau temenan sama dia? Cantik loh jangan disia-siain.” Goda Ayah
“Ayah apa sih ngomongnya. Maaf ya Wid soalnya ini pertama kalinya Bram bawa cewe ke rumah jadi kita agak kaget aja.” Jelas Ibu
Aku hanya memandang malas ke arah mereka berdua. Setelah itu Widya diajak masuk ke dalam dan makan bersama. Seperti biasa, aku selalu makan di depan tv sedangkan Ayah dan juga Ibu selalu makan di meja makan.
“Gitu tuh kerjaannya Bram, kalo makan pasti di depan tv sambil nonton kartun.” Kata Ibu
“Aku juga biasanya gitu sih Tante kalo di rumah.” Kata Widya
“Wah Bram, kamu punya temen juga nih.” Kata Ayah
“Yaudah sini aja Wid.” Ajakku kepadanya
Kemudian Widya menghampiriku dengan piring berisi nasi serta lauk pauknya dan duduk di sebelahku. Tidak lama kemudian Nanda pulang dan ia cukup terkejut melihat kedatangan wanita yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ia menghampiriku dan mencium tanganku seperti biasa.
“Hai bakpao isi cokelat, kenalin nih temen Abang.” Kataku
“Apa sih Abang gitu mulu. Hai, aku Nanda adiknya Abang.” Katanya
“Hai aku Widya, salam kenal ya.” Kata Widya bersalaman dengannya
Nanda menghampiri Ayah dan juga Ibu untuk ikut makan juga.
“Kalo pipi aku kayak bakpao juga ngga?” Tanyanya sambil menggembungkan pipinya dan tersenyum
Aku terdiam melihat senyumannya karena itu salah satu senyuman termanis yang pernah aku lihat. Setelah selesai makan aku mengajak Widya untuk menuju kamarku, dan ia cukup terkejut dengan keadaan kamarku yang terbilang rapih.
“Kamar kamu serapih ini Bram?” Tanyanya heran
“Ya begini adanya Wid.” Jawabku singkat
“Kamu seneng sama mobil tua ya?” Tanyanya melihat miniatur mobil antik yang ada di etalase kaca
Aku mengangguk dan tersenyum kepadanya, setelah itu kami menuju balkon untuk melihat-lihat saja. Dari kejauhan aku melihat Reza yang sedang menuju rumahku menggunakan motornya dan ia juga baru pulang dari sekolah. Ia masuk ke dalam rumahku dan segera menuju kamarku. Ia pun terkejut dengan kehadiran sosok wanita yang ada bersamaku saat ini.
“Bon, kenalin ini temen gue. Wid, ini sahabat aku dari kecil.” Kataku kepada mereka
Mereka saling berkenalan.
“Gue kira lu udah ngga punya temen cewe lagi Bram, ternyata masih ada.” Kata Reza
“Udah ah mending kita lanjutin poker gimana? Mau ikut ngga Wid?” Tanyaku
“Boleh deh aku juga suka main poker.” Jawabnya
Kami memulai permainan poker kami, dari satu ronde ke ronde yang lain hingga aku tersadar bahwa muka kami sudah penuh dengan bedak sesuai dengan peraturan yang kalah akan dicoret mukanya menggunakan bedak. Kami saling pandang dan akhirnya kami menertawai diri kami sendiri hingga kelelahan.
Aku, Widya dan juga Reza sudah berada di pinggir kolam dengan permainan poker kami yang entah sudah keberapa kalinya. Muka kami sudah penuh dengan bedak yang bentuknya sudah tidak karuan lagi
“Jack...” Kataku
“Queen...” Kata Reza
“King...” Kata Widya
“As...” Kataku
“Poker...” Kata Reza
“Bom!” Teriak Widya
Aku dan Widya hanya bisa tertawa melihat Reza yang lagi-lagi kalah dalam permainan biasa ini, ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja diberikan oleh Widya dengan melihat seluruh kartu yang sudah berserakan di lantai pinggir kolam.
“Pantesan daritadi ngga ada yang keluar, ditahan-tahan buat bom.” Kata Reza sambil menepuk dahinya
“Lu udah sering main masih aja kena bom mulu.” Kataku
Dan setelah menempuh puluhan game, akhirnya kami menyudahi permainan itu. Reza sudah naik ke kamarku terlebih dahulu sedangkan aku masih di sini menunggu Widya yang sedang bersiap-siap untuk pulang.
“Yaudah aku pulang dulu ya Bram.” Katanya
“Iya Wid, kamu hati-hati di jalan. Kalo ada apa-apa kabarin aja.” Kataku
Ia mengangguk dan tersenyum kepadaku, setelah itu ia mencium pipiku dan itu sangat membuatku terkejut. Aku hanya dapat terdiam dan menatap senyumannya yang benar-benar membuatku jatuh hati. Ia pergi meninggalkan rumahku dan semakin menjauh dari pandanganku.
“Weh, lu ngapain bengong di situ? Buruan naik.” Teriak Reza dari balkon kamarku
Aku melihat ke arahnya dan segera naik ke kamarku. Aku masih tidak percaya dengan apa yang baru saja aku terima, dan itu masih terasa hingga saat ini. Widya mencium pipiku malam ini dan aku tidak dapat berbuat apa-apa selain hanya diam tanpa kata.
“Lu kenapa diem aja deh?” Tanya Reza
Aku hanya menggelengkan kepalaku.
“Gue tau kok Bram kalo lu pasti suka lagi sama dia. Dari dulu emang lu masih suka kan sama dia sampe sekarang?” Tanya Reza
“Tumben lu bener...” Jawabku singkat
“Yaudah santai aja dulu, liat perkembangannya dia. Kalo dia ngga bakalan ngilang lagi baru lu nyatain perasaan lu.” Kata Reza
“Iya santai aja dulu ya...” Jawabku singkat lagi
“Mending kita nonton film aja, gue ada yang baru nih...” Ajak Reza
“Fim baru? Apaan?” Tanyaku
Kami saling pandang dan akhirnya kami tersenyum bersama-sama. Dan akhirnya malam ini kami memutuskan untuk menonton film bersama, film yang dibintangi oleh Ameri Ichinose dan teman-temannya.
Diubah oleh beavermoon 08-04-2016 19:14
khuman dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Kutip
Balas