- Beranda
- Stories from the Heart
When Music Unites Us
...
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.
Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.
Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!
Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.
P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya

Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Polyamorous
#454
Partitur no. 85 - Cadence
“Hah?”
“Kok malah ‘hah’?” tanyanya bingung.
Kuberhentikan sejenak game Shinobido yang sedang kumainkan.
“Kamu pengen ke Bali sama Rahma?”
“Iya, abisnya gara-gara masalah yang kemaren jadi agak males gitu sama mereka. Jangan bilang-bilang dulu ke yang lain ya!”
Ini bukan masalah pergi ke Bali atau ke mana pun itu. Ini mengenai firasat buruk yang kurasakan ketika mendengarnya.
“Asyik dong ketemu bule-bule nanti,” ledekku.
“Iya dong, hehe,” balasnya. “nanti aku pake bikini ah ke sana!”
“Curang!”
“Biarin!”
“Kalo gitu aku nanti ikut nitip bule juga, ya,”
“Nggak boleh!”
“Kamu berapa lama ke sana?”
Kusunggingkan senyum pahit. Perasaan aneh tiba-tiba menyebar keseluruh tubuhku. Aku merasakan perasaan ia akan pergi jauh entah ke mana. Aku merasakan perasaan kehilangan yang dalam. Bukan hak-ku untuk melarangnya juga, karena aku pula tak suka dilarang. Salahku juga karena rencana ke pulau itu batal.
Tapi...
***
Setiap hari, entah kapan, selalu kudengar orang membicarakan tentang waktu. Tepatnya, menikmati waktu. Menikmati setiap detik yang kita lalui. Mungkin mereka pernah merasakan detik-detik yang menyiksa hidupnya. Entahlah, pernah terbayangkan juga dalam pikiranku setiap detiknya di dunia ini ada yang menangis karena kehilangan, ada juga yang menangis karena bahagia atas kelahiran anaknya.
Terkadang, kita juga sering bermimpi ingin menjelajah waktu, meminta pertolongan alam agar menyatu dengan keinginan kita: mengembalikan waktu, dan merubah segalanya yang salah pada masa lalu, atau menuju masa depan, mengetahui segalanya tentang seluk beluk kehidupan masa depan kita.
Benakku semakin disesakkan oleh bayangan-bayangan perpisahan. Kesedihan akan bayangan itu terus berdatangan dan menghantui perlahan demi perlahan. Bagaimana kalau kebersamaan seperti tak bisa lagi kami nikmati bersama? Aku takut akan ketidakpastian masa depanku sendiri.
Mungkin diriku hanya kesepian. Baru saja teman-teman Muse beserta Kang Naufal berangkat ke Jogja dengan elf untuk manggung di tribute to Muse. Aku di sini sendiri, menyiapkan barang-barangku untuk perpisahan kelas yang sudah kami rencanakan bersama teman-teman sekelas esok hari.
Kulangkahkan kakiku menuju Lawson yang sangat dekat dengan rumahku, membeli keperluan untuk berpergian nanti.
“PING!”
Handphone-ku menderingkan notifikasi, berharap ada kabar dari Tasya yang sudah berada di Bali sejak kemarin. Ia menjadi sulit untuk dihubungi. Bahkan kemarin pesanku dari pagi baru dibalas pada malam hari. Aku teringat salam perpisahannya sehari sebelum keberangkatannya. Saat itulah, terakhirnya kami bertemu, juga berkomunikasi secara intensif.
Sesampainya di sana, ia masih sempat mengabari. Ia menceritakan pantai-pantai indah yang belum begitu tersentuh khalayak ramai. Kubayangkan kesenangannya saat menemui pantai-pantai indah di Bali. Mungkin setelahnya tak heran jika Tasya tak ingin kembali ke Jakarta.
Sehari setelah ia sampai di Bali, ia mulai menghilang bagai ninja. Kucoba menelpon, tetapi selalu tak diangkat. Apakah aku menuju orang yang posesif?
Notifikasi tadi pun juga bukan dari Tasya.
“Ada apa, Nin?” tanyaku membalas pesan BBM seorang teman sekolahku yang pindah ke Jogja, dengan setengah niat. Mengapa saat-saat seperti ini malah orang yang tak diharapkan malah datang?
“Katanya kakak lo ke Jogja, ya?”
“Iya, Nin. Hehe,”
“Lo nya ikut gak?”
“Nggak, Nin, gue mau perpisahan kelas soalnya, mepet waktunya.”
“Hoo, padahal gue pengen ketemu lo tadinya. Ada temen gue di sini mau kenalan sama lo.”
“Hah?” tulisku kaget. “siapa, Nin?”
“Temen gue model, cantik deh. Lo kan juga demen motret, kan? Bisa dong hehehe” jawabnya. “itu accept aja friend request di BBM lo.”
Kulihat notifikasi, ternyata memang benar ada permintaan pertemanan dari orang asing yang namanya juga jarang kudengar. Cornelia.
“Tapi gue kan masih sama Tasya, Nin..” jawabku. Tak pernah terpikirkan sedikitpun untuk berpaling dari Tasya. Meskipun entah apa yang sedang dilakukannya sekarang.
“Kalo gitu, seenggaknya lo bisa dapet temen baru, Man. Kali aja suatu saat lo butuh model kan?”
Dipikir-pikir, ia ada benarnya juga. Diperjalanan pulang ke rumah, kudapati ia menyapaku duluan.
“Hey!”
“Hai juga,” jawabku sekadarnya.
Ia memang benar cantik, bak model pada umumnya. Hanya saja wajahnya tetap muda dan tak terkesan seperti tua sebelum umurnya. Berbeda denganku yang tak usah memakai make up sudah terlihat ‘agak’ tua.
“Kok bisa mau nginvite pin gue sih?” tanyaku iseng.
“Dulu Nindi sering cerita tentang kamu, karena penasaran, aku liat kontak kamu di BBM. Hehe,”
Aku. Kamu.
Atau memang hanya sekedar sopan santun kebiasaan orang sana?
“Kamu teh emangnya model?”
“Pengennya, sih. Hehe,”
Memang tak pernah diduga oleh siapa pun, ia sangat asyik diajak mengobrol, mengisi kekosongan dan kesepian notifikasi handphone yang biasanya selalu ramai oleh Tasya. Kami membicarakan banyak hal, seperti masing-masing dari kamu sudah saling mengenal sejak lama. Mengingatkanku pada suatu hari di bulan Oktober.
Waktu memang seakan terasa sangat sebentar.
“Good night!” ucapnya menutup percakapan perkenalan kami yang sangat panjang.
Tepat sekali, mataku sudah mulai sayup, seperti setengah tertidur. Kulihat jam dinding sudah menunjukan pukul satu dan aku belum memasukan barangku untuk esok hari. Kubangunkan diriku dari tempat tidur untuk memasukan barang-barang yang sudah kusortir untuk kumasukan ke dalam tas.
Kutarik selimutku untuk memulai membawaku ke dunia mimpi, ketika handphone-ku kembali berdering. Bukankah Cornelia sudah tidur? Siapa lagi yang masih bangun pukul setengah dua pagi ini?
“Kangen kamu..” tulisnya.
Itu dari Tasya.
0
