Kaskus

Story

PolyamorousAvatar border
TS
Polyamorous
When Music Unites Us
When Music Unites Us


Sinopsis:
Dalam lintas waktu yang terus berjalan, perlahan aku terus menyadari bahwa sebuah nada yang telah tergores tak bisa hilang. Bermula dari sebuah sebuah nada progresif yang mengalun, nada-nada ini bercerita mengenai bagaimana musik mempengaruhi kehidupan seorang remaja biasa bernama Iman yang menjalani masa mudanya sebagai pecinta musik, juga sebagai pemain musik.

Musik sebagai bahasa universal menyatukan hati para individu penyuka nada serupa, hingga akhirnya mereka saling terkoneksi karena adanya musik.

Satu dua patah kata awal untuk mengantarkanmu ke duniaku; Satu dua nada untuk membawa jiwamu menembus dimensi lain!

Teruntuk:
Tahun-tahun paling menyenangkan di masa remaja;
Teman-teman dan sahabat-sahabatku;
Penulis-penulis favoritku dan penulis yang membantu memperbaiki tulisanku;
Juga dosen bahasa Inggris-ku dan komunikasi massa yang selalu memberikan semangat;
Hingga untuk kamu yang membuat cerita ini ada.
Kalian adalah referensi musik terbaik dalam hidupku.



P.S : Part-part awal sedang masa konstruksi lagi, gue tulis ulang. Mohon maaf jika jadi agak belang gitu bacanya emoticon-Malu (S)

Quote:


Quote:


Quote:
Diubah oleh Polyamorous 10-09-2017 20:23
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
47.1K
445
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
PolyamorousAvatar border
TS
Polyamorous
#453
Partitur no. 84


Burung kakak tua mengeluarkan suaranya yang kencang menghiasi pagi yang sejuk. Ia tak akan pernah berhenti berkicau kecuali santapan paginya sudah tersedia di dalam kandang. Mataku masih terkantuk-kantuk, mungkin semuanya juga, tapi jika tak ada yang memberikannya makan, burung itu terus berisik.

Tak apa. Dengan begitu, mentari menampakan cahaya paginya yang indah disertai suara burung-burung lain berkicau masih sempat untuk kunikmati. Kuambil tas kameraku, kubersihkan kameranya sebelum memotret.

“Yah, Kakang pamit dulu, ya.” Ucapan Kang Naufal beriringan dengan teh pagi hari yang baru saja dibawa oleh Mbak Eli ke teras.

“Mau ke mana?” tanya ayah setelah menyeruput teh hangatnya itu. Aku juga mengambil teh bagianku. “kok pagi banget?’

“Ke Bandung, yah.”

“Bukannya mau ke Jogja, ya?”

“Itu masih hari Kamis atau Jum’at besok berangkatnya,” jawab Kang Naufal. “ini sama temen-temen yang lain.”

“Pacarnya ikut nggak?” tanya ayahku spontan. “kalo pacarnya ikutan, nggak ayah bolehin.”

Glek. Secangkir tehku langsung habis mendengar kata itu.

“Nggak kok, Dita lagi ke Puncak sama keluarganya.”

“Hoo, yaudah. Hati-hati, ya,” ayahku memberikan tangannya untuk disalimi Kang Naufal. “udah bilang Bunda belum?”

Kang Naufal mengangguk, dan perlahan bayangannya menghilang dari rumah.

“Gawat...” gumamku dalah hati. Pikiran demi pikiran selalu terlintas di atas kepalaku. Pasalnya, hari ini adalah batas akhir transfer untuk rencana liburanku ke pulau bersama Tasya dan teman-temannya. Dan aku sudah berjanji untuk transfer tunai melalui akun bank milik ayahku, karena aku sendiri belum memiliki akun bank.

Bagaimana jika rencana itu gagal karena tak dibolehkan pergi oleh ayahku? Alasan apa yang harus kukarang? Bagaimana kalau malah kualat karena berbohong? Aku takut seperti saudaraku yang kuliah di Kampusnya ayah, Aldi namanya. Kakaknya meninggal ketika ia kabur dari rumah untuk pergi dengan teman-temannya ke sebuah pantai.

Sial...

***


“Gimana kalo biar murah, gue ajak temen gue buat ikut? Dia deket sama Bang Ichy juga, kok..” usul Tasya di grup.

“Siapa emangnya?”

Notifikasi grup kembali berdering, menandakan seseorang baru saja bergabung di grup.

“Eh, Mak Lampir!” ledek Bang Ichy.

“Welcome, El!” sambut Tasya. “ini yang tadi gue bilang mau gabung!”

Siapa sangka, yang bergabung adalah Edelweis! Seperti ada hembusan angin segar di dalam ruangan yang pengap.

“Hehe,” tulis Fira di grup. Ia nampak ketus dengan kehadiran Edelweis. Begitu pula dengan Om Mamat.

Mereka berdua meninggalkan grup itu, tanpa ada angin dan tak ada hujan, juga tanpa pamit terlebih dahulu.

“Eh, eh, kok pada left group?” tanya Edelweis kebingungan. “gue salah ya?”

Situasi seketika menjadi aneh. Terasa canggung. Grupnya menjadi sepi mendadak.

Hanya berseling berapa menit, sindiran demi sindiran dilontarkan mereka berdua melalui Path, juga twitter. Tentu saja, sindiran-sindiran itu ditujukan untuk Tasya. Emosiku langsung tersulut melihatnya. “Rasain tuh, udah gue block. Lagian main semaunya sendiri tanpa minta persetujuan orang lain. Dasar egois!” tulis Fira.

“Sya, kamu udah liat yang di Path itu?” tanyaku.

“Udah,” jawabnya. “segitunya ya nyampe aku disindir-sindir gitu? Emang apa salahnya ngajak temen, kan kalo lebih murah kita juga yang enak..”

Seperti orang kepanasan, kusindir balik Fira yang pernah atau bahkan masih menyukai Afi sampai sekarang. Kumainkan lagu It Hurts dari Angels & Airwaves yang liriknya kuganti dengan “Your bestfriend is not your boyfriend #eh”dengan kata #eh dibelakangnya.

“Emang kamu beneran diblock?”

“Iya, Man..”

Emosiku semakin menjadi-jadi. Kubuka status Fira di path yang menyindir Tasya, kuketik balik balasan untuknya. “Ini buat Tasya, ya? Kok mainnya blok-blokan, sih?”

Menunggu balasannya membuat darahku serasa mendidih. Jantungku juga berdegup dengan kencang. Tak biasanya aku suka membuat sebuah keributan. Layar telepon genggamku terus kunyala-matikan, menunggu sesuatu yang sebenarnya tak penting. Ayolah, cepat dibalas!

“Liat komen di path-nya Fira deh, Sya..” ujarku.

“Kamu balesin ya sindirannya?”

“Iya. Hehe,” kataku malu. “nggak apa-apa, kan?”

“Nggak apa-apa, kok. Mama aja ngedukung kamu!”

Wah, dengan begini, adrenalinku bertambah. Aku mendapat dukungan dari orang yang menjadi jaminan mutu. Karena tak kunjung terlihat notifikasi balasannya, kubuka sendiri Path ku dan mencari statusnya Fira tadi. Ternyata, ia baru saja membalasnya.

“Dih, kok kepedean banget ya jadi orang?”

Siap. Siaga 1. Ia sudah mengajak perang.

“Terus siapa lagi dong? Itu Tasya tadi bilang ke gue kalo abis diblock sama lo. Kok childish banget sih?”

“Childish? Anak ingusan kayak lo ngerti apa soal childish? Lo belum ngerasain sih rasanya nyari duit sendiri!”

Hah?

“Kok nggak nyambung ya lo?”

Pertarungan sepertinya sudah mulai melenceng.

“Pacar gue aja tau masalah ini nggak ikut campur kok, karena dia udah dewasa, tau ini urusan pribadi. Nah elo, main ikut campur aja urusan pacarnya. Emang si Tasya nggak berani apa muncul sendiri ke sini?” ketus Fira.

Semakin ke sini, aku semakin tak mengerti. Ia semakin tak nyambung. Yang kusinggung itu childish karena ia bermain sindir-sindiran. Mengapa ia tak ngomong saja langsung ke orangnya?

PING.

Sebuah notifikasi undangan grup datang ke akun line ku.

“Kalo lo emang beneran laki-laki, masuk ke grup yang udah gue buat!” sahut Om Mamat.

Oke. Tantangan siap diterima!

“Sayang, kamu jangan masuk grup itu, ya..” ujar Tasya cepat-cepat.

“Kenapa emangnya? Biar pada tau rasa aja, sya..”

“Jangan, kalo mereka emang gitu orangnya, ya udah deh.. Udah ketawan aslinya..”

“Udah kamu tenang aja, biar aku yang nanganin! Hehe,” kataku dengan sok berani. Nyaliku memang sedang naik.

Kupencet tombol untuk bergabung. Di grup itu hanya ada kita bertiga. Baru masuk saja, diriku ini sudah dicecar-cecar.

“Dasar lo bocah! Nggak laki-laki amat sih lo! Laki gue aja tau masalah ini gak ikut campur, lah elo main ikut campur aja!”

“Pacar gue disindir-sindir terus gue harus diem aja?”

“Emang itu buat Tasya apa? Pede banget!”

“Ya mana ada sih maling yang ngakuin perbuatannya? Sama kayak lo, Fir!”

“Emang lo udah tau susahnya nyari duit, terus ngatain gue childish?”

“Apa hubungannya sih? Maksud gue tuh childish karena caranya nyindir, bukan ngomong langsung.”

“Dasar bencong!”

Baru akan kubalas, Om Mamat tampak ingin melerai. “Udah Fir, Man. Maksud kita gini lho, Tasya ini main ngajak orang aja, padahal kan maksud kita buat orang yang kita deket aja, sahabat-sahabatnya..”

“Oke, Om. Tapi kan bisa diomongin baik-baik ya, bukan sindiran kayak gitu? Apalagi sampe block akun orang.”

“Suka-suka gue dong!” ketus Fira.

“Gini, Man. Lo tuh kayak makin memperkeruh masalah tau. Kalo masalah ini pengen selesai, lo suruh Tasya ikutan masuk grup ini.”

Siapa takut!

“Sayang, coba kamu gabung deh, seru lho!” seruku.

“Apanya yang seru coba!”

“Ada kesenjangan sosial antara kucing-kucing komplek,” ledekku.

“Ih, serius!”

“Udah coba gabung aja..”

Tak lama, Tasya sudah bergabung dalam kerusuhan itu. Seperti sebelumnya, ia dicecar. Bedanya, Tasya tak seemosi diriku. Ia bisa mengontrol emosinya dengan pembawaan diri yang sangat baik.

Umpatan demi umpatan masih Fira layangkan kepadaku, juga sedikit kepada Tasya. Entahlah siapa yang salah, semua berdasarkan dari sudut mana kamu berdiri. Melihat pembawaan diri Tasya yang santai-santai saja, aku pun turut memadamkan emosi.

Dan karena tak mau memperpanjang masalah, aku meminta maaf terlebih dahulu. Kepada Fira, Om Mamat, juga Tasya. Mungkin aku memang bukan lelaki seperti yang Fira bilang. Mungkin aku memang hanya memperkeruh sebuah masalah. Tak apa, cercaan-cercaan dari Fira kuterima tanpa kubalik-balikan seperti tadi. Semua selesai, begitu pula denganku. Semua sosial mediaku di unfriend oleh Fira.

“Terus gimana nih liburannya?” tanyaku melalui telepon keesokan harinya.

Sebenarnya masih terpikir olehku kata-kata ayah kemarin. Kupikirkan langkahku berikutnya sambil memainkan Playstation Portable milik Harrys.

“Kayaknya sih dibatalin, Man..” ujar Tasya.

“Yah, sayang banget, padahal pengen liburan sama kamu..”

Setengah hatiku entah merasa lega, tapi bagian hatiku yang lain merasakan sesuatu yang tak mengenakan.

“Tapi aku udah punya rencana lain.”
Diubah oleh Polyamorous 06-04-2016 19:03
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.