- Beranda
- Stories from the Heart
CERITA DALAM CERITA (HORROR)
...
TS
andinaruto88
CERITA DALAM CERITA (HORROR)
SELAMAT DATANG DI CERITA DALAM CERITA

Halo Kaskuser pecinta cerita horor. Ane akan share cerita mengenai cerita horor, baik yang dialami oleh ane sendiri ataupun dialami oleh keluarga ane. Semua yang ane tulis disini based on true story & ada beberapa bagian yang ane dibumbuin. untuk nama tokohnya ane samarkan, tetapi untuk lokasi kejadian semuanya adalah ASLI. Janji TS untuk selalu update cerita ini sampai tamat, karena TS sudah menuliskan beberapa ceritanya di LAPTOP ane, jadi tinggal UPDATE beberapa part saja.
Silahkan menikmati cerita ane sambil Tinggalin jejak, saran, dan apresiasinya, SALAM HORROR!!!
DAFTAR CERITA DALAM CERITA
Quote:
- BAYANGAN
- JEMBATAN
- MELINTAS
- BONCENG
- KKN
- JEMBATAN 2
- POHON
- BUKA PUASA
- GUNUNG
- DI DEPAN
- TANGAN
- HITAM
- KAMAR MANDI
- KANTOR
- PELUKAN
- SOSOK
Sering-sering cek page belakang gan,kadang ada INFO PENTING dan suka telat update DAFTAR CERITA
Quote:
BAYANGAN
Tokoh
yayat : Adikku, biasa disebut nomer 2, pendiam, pemberani, bisa “melihat” hal-hal mistis
Pita : Adikku paling bungsu, periang, rajin, terkadang bisa “melihat” sesuatu
Ani : sepupuku, selalu bersemangat, suka bercanda, menyukai cerita horor
Nisa : adiknya ani, polos, penakut,
Mas Dika : sepupuku, suka bercanda, jahil, sama seperti yayat bisa “melihat” hal-hal mistis
“Ayo kita cerita Hantu!” kata ani, sepupuku yang selalu penuh semangat.
Hari itu mungkin sekitar tahun 2010 akhir, kami mengadakan acara keluarga di Yogyakarta, biasanya keluargaku menginap di rumah budeku di daerah mundu. Rumah bude een sangatlah luas, terdiri dari 2 lantai, 3 kamar di lantai 1 dan 3 kamar di lantai 2. pohon manga di halaman depan dan ada pintu masuk khusus untuk motor disebelah kanan rumah, ditaman belakang ada sebuah kolam ikan berbentuk oval dan ruang khusus gudang. Kenapa harus aku ceritakan keadaan rumah ini? Karena akan ada hubungannya dengan cerita yang lain.
“sssttt disini ada loh…”
“jangan gitu ah mas, jadi takut” sahut nisa, sepupuku yang terkenal polos dan penakut.
“yaelah gitu aja lo takut nis, tidur sana lo” ucap ani mengejek adiknya sendiri.
”pada ngapain ini, ikut doong, pada main monopoli?” tiba-tiba pita datang dari arah kamar.
“bukan main, tapi mau cerita hantu hiiiii” sahut mas dika dengan mengangkat kedua tangannya.
“ah sudah ah udah malem, malah cerita serem..tidur aja” kata pita pada kami semua.
Kami berlima duduk diruang tengah rumah bude, waktu sudah menunjukan pukul 22.30. kami masih asyik bercerita tentang kehidupan masing-masing didaerah kami. Maklum kami semua terpisah laut dan berbeda pulau, sehingga terkadang pada kesempatan berkumpul keluargalah kita semua bisa bertemu. Aku dan yayat sedang kuliah di Yogya, mas Dika pun masih tinggal dengan bude een di Yogya,Pita tinggal bersama orangtuaku di Kalimantan, sedangkan Ani dan Nisa tinggal di Jakarta. Yayat yang daritadi nonton televisi, mulai berbicara
“aku ada cerita nih” ujarnya sambil tersenyum.
Semua terdiam. Aku mulai terbayang-bayang kejadian-kejadian yang selalu dia ceritakan, terkadang dia tidak mau menceritakannya kepadaku bahwa disekitarku banyak makhluk-makhluk tak berwujud. Aku baru tahu berbulan-bulan kemudian atau diceritakan sanak saudaraku.
“ayo ayo cerita!!” ani terlihat sangat bersemangat.
“mungkin pita tahu ceritanya soalnya aku bareng sama dia tuh”.
“mungkin sudah sebulan atau dua bulan yang lalu malah, udah lupa..waktu itu aku, pita sama mamah papah berangkat dari Sampit ke Palangka Raya, seingatku mungkin papah ada acara di Palangka Raya, dan kita berangkat sudah agak sorean pas papah udah pulang kerja, sekitar jam 4 lah klo ga salah” yayat berhenti sejenak untuk pindah tempat duduk mendekati kami semua.
“entah di desa mana aku lupa..waktu itu tiba-tiba mesin mobil mendadak mati, padahal tidak ada penerangan sama sekali disekitar jalan”.
Mungkin sedikit penjelasan, jalan dari Sampit ke Palangka Raya tidak seperti jalan-jalan yang ada di Jawa, di kiri dan di kanan jalan hanyalah hutan belantara dan sekali-kali ada kebun kelapa sawit yang sangat luas, rumah penduduk pun sangat sangat sedikit, hanya ada beberapa desa saja yang dilewati. sinyal HP pun terkadang ada terkadang tidak, lupakan lampu penerangan jalan, suasana jalan pada malam hari sangatlah gelap dan sepi, Hanya terdengar suara-suara binatang dan lampu-lampu dari mobil yang lewat.

“waktu itu sekitar jam 9 malem, aku masih ingat saat mengecek HP, Pita saat itu duduk disampingku”.
“oh yang waktu itu” jawab pita pelan.
“entah karena apa, mobil distarter terus sama papah gak bisa nyala, padahal bensin masih ada kata papah, akhirnya papah memutuskan untuk berjalan kaki meminta pertolongan warga sekitar, papah ingat melewati rumah penduduk sebelum mogok, papah meminta aku dan pita tetap di mobil, papah dan mamah jalan kaki ke rumah tersebut”.
“aku keluar dari mobil, sementara Pita duduk diam didalam mobil” yayat menghela napas.
“saat itu lah tiba-tiba dari arah hutan ada bayangan berwarna putih seperti cahaya, aku pikir itu senter atau lampu motor..kutanya pita yang didalam mobil, dia tidak menjawab tetapi wajahnya sudah pucat pasi, saat aku perhatikan bayangan tersebut semakin membesar dan mendekat ke arah mobil..reflek aku buru-buru masuk mobil, dan meminjam HP pita untuk merekam bayangan tersebut, tapi anehnya bayangan tersebut tidak tampak di kamera HP!”

Semua tampak terdiam mendengar kisah yayat. Yayat kemudian melanjutkan.
“Bayangan putih tersebut tampak melayang-layang dan semakin membesar, perlahan-lahan dari arah hutan muncul bayangan lain, aku hanya diam sambil mencoba membaca surat Al-Qur'an yang aku hafal, aku dan pita hanya bisa pasrah melihat bayangan-bayangan tersebut, kami berdua tidak bisa bergerak sama sekali, aku hanya bisa memejamkan mata berharap semua bayangan itu menghilang”
"tiba-tiba dari luar mobil seperti ada suara memanggilku pelan,suara itu perlahan semakin keras...ternyata itu adalah suara mamah dan papah, terkejut aku membuka mata dan melihat keluar mobil, bayangan-bayangan tadi sudah tidak ada, dan tampak papah dan mamah beserta warga sekitar, mereka mengira kami sedang tertidur"
"ya begitulah ceritanya, tuh si pita tahu kok"
kami hanya terdiam sambil melirik satu sama lain.
Tokoh
yayat : Adikku, biasa disebut nomer 2, pendiam, pemberani, bisa “melihat” hal-hal mistis
Pita : Adikku paling bungsu, periang, rajin, terkadang bisa “melihat” sesuatu
Ani : sepupuku, selalu bersemangat, suka bercanda, menyukai cerita horor
Nisa : adiknya ani, polos, penakut,
Mas Dika : sepupuku, suka bercanda, jahil, sama seperti yayat bisa “melihat” hal-hal mistis
“Ayo kita cerita Hantu!” kata ani, sepupuku yang selalu penuh semangat.
Hari itu mungkin sekitar tahun 2010 akhir, kami mengadakan acara keluarga di Yogyakarta, biasanya keluargaku menginap di rumah budeku di daerah mundu. Rumah bude een sangatlah luas, terdiri dari 2 lantai, 3 kamar di lantai 1 dan 3 kamar di lantai 2. pohon manga di halaman depan dan ada pintu masuk khusus untuk motor disebelah kanan rumah, ditaman belakang ada sebuah kolam ikan berbentuk oval dan ruang khusus gudang. Kenapa harus aku ceritakan keadaan rumah ini? Karena akan ada hubungannya dengan cerita yang lain.
“sssttt disini ada loh…”
“jangan gitu ah mas, jadi takut” sahut nisa, sepupuku yang terkenal polos dan penakut.
“yaelah gitu aja lo takut nis, tidur sana lo” ucap ani mengejek adiknya sendiri.
”pada ngapain ini, ikut doong, pada main monopoli?” tiba-tiba pita datang dari arah kamar.
“bukan main, tapi mau cerita hantu hiiiii” sahut mas dika dengan mengangkat kedua tangannya.
“ah sudah ah udah malem, malah cerita serem..tidur aja” kata pita pada kami semua.
Kami berlima duduk diruang tengah rumah bude, waktu sudah menunjukan pukul 22.30. kami masih asyik bercerita tentang kehidupan masing-masing didaerah kami. Maklum kami semua terpisah laut dan berbeda pulau, sehingga terkadang pada kesempatan berkumpul keluargalah kita semua bisa bertemu. Aku dan yayat sedang kuliah di Yogya, mas Dika pun masih tinggal dengan bude een di Yogya,Pita tinggal bersama orangtuaku di Kalimantan, sedangkan Ani dan Nisa tinggal di Jakarta. Yayat yang daritadi nonton televisi, mulai berbicara
“aku ada cerita nih” ujarnya sambil tersenyum.
Semua terdiam. Aku mulai terbayang-bayang kejadian-kejadian yang selalu dia ceritakan, terkadang dia tidak mau menceritakannya kepadaku bahwa disekitarku banyak makhluk-makhluk tak berwujud. Aku baru tahu berbulan-bulan kemudian atau diceritakan sanak saudaraku.
“ayo ayo cerita!!” ani terlihat sangat bersemangat.
“mungkin pita tahu ceritanya soalnya aku bareng sama dia tuh”.
“mungkin sudah sebulan atau dua bulan yang lalu malah, udah lupa..waktu itu aku, pita sama mamah papah berangkat dari Sampit ke Palangka Raya, seingatku mungkin papah ada acara di Palangka Raya, dan kita berangkat sudah agak sorean pas papah udah pulang kerja, sekitar jam 4 lah klo ga salah” yayat berhenti sejenak untuk pindah tempat duduk mendekati kami semua.
“entah di desa mana aku lupa..waktu itu tiba-tiba mesin mobil mendadak mati, padahal tidak ada penerangan sama sekali disekitar jalan”.
Mungkin sedikit penjelasan, jalan dari Sampit ke Palangka Raya tidak seperti jalan-jalan yang ada di Jawa, di kiri dan di kanan jalan hanyalah hutan belantara dan sekali-kali ada kebun kelapa sawit yang sangat luas, rumah penduduk pun sangat sangat sedikit, hanya ada beberapa desa saja yang dilewati. sinyal HP pun terkadang ada terkadang tidak, lupakan lampu penerangan jalan, suasana jalan pada malam hari sangatlah gelap dan sepi, Hanya terdengar suara-suara binatang dan lampu-lampu dari mobil yang lewat.

ILUSTRASI
“waktu itu sekitar jam 9 malem, aku masih ingat saat mengecek HP, Pita saat itu duduk disampingku”.
“oh yang waktu itu” jawab pita pelan.
“entah karena apa, mobil distarter terus sama papah gak bisa nyala, padahal bensin masih ada kata papah, akhirnya papah memutuskan untuk berjalan kaki meminta pertolongan warga sekitar, papah ingat melewati rumah penduduk sebelum mogok, papah meminta aku dan pita tetap di mobil, papah dan mamah jalan kaki ke rumah tersebut”.
“aku keluar dari mobil, sementara Pita duduk diam didalam mobil” yayat menghela napas.
“saat itu lah tiba-tiba dari arah hutan ada bayangan berwarna putih seperti cahaya, aku pikir itu senter atau lampu motor..kutanya pita yang didalam mobil, dia tidak menjawab tetapi wajahnya sudah pucat pasi, saat aku perhatikan bayangan tersebut semakin membesar dan mendekat ke arah mobil..reflek aku buru-buru masuk mobil, dan meminjam HP pita untuk merekam bayangan tersebut, tapi anehnya bayangan tersebut tidak tampak di kamera HP!”

ILUSTRASI
Semua tampak terdiam mendengar kisah yayat. Yayat kemudian melanjutkan.
“Bayangan putih tersebut tampak melayang-layang dan semakin membesar, perlahan-lahan dari arah hutan muncul bayangan lain, aku hanya diam sambil mencoba membaca surat Al-Qur'an yang aku hafal, aku dan pita hanya bisa pasrah melihat bayangan-bayangan tersebut, kami berdua tidak bisa bergerak sama sekali, aku hanya bisa memejamkan mata berharap semua bayangan itu menghilang”
"tiba-tiba dari luar mobil seperti ada suara memanggilku pelan,suara itu perlahan semakin keras...ternyata itu adalah suara mamah dan papah, terkejut aku membuka mata dan melihat keluar mobil, bayangan-bayangan tadi sudah tidak ada, dan tampak papah dan mamah beserta warga sekitar, mereka mengira kami sedang tertidur"
"ya begitulah ceritanya, tuh si pita tahu kok"
kami hanya terdiam sambil melirik satu sama lain.
-----00----
Diubah oleh andinaruto88 13-05-2016 13:23
anasabila memberi reputasi
1
19.5K
Kutip
58
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
andinaruto88
#16
Quote:
Intro
Ane sering banget denger cerita ini dari bapak ane gan, beliau sering bercerita saat masih tinggal di desa, nama desanya Pembuang Hulu tepatnya di Hanau. Desa ini terletak di Kalimantan Tengah gan deket sama Pangkalan bun. Beliau mendapat tugas di sini, kami sekeluarga ikut diboyong ke desa ini gan. Saat itu pita belum lahir, ane masih kelas 3 SD dan yayat masih TK. Bapak mendapatkan rumah dinas untuk keluarga selama disini.
Ane masih ingat betapa takutnya ane tinggal di rumah dinas ini, bayangin dibelakang rumah kami hutan belantara dengan segala jenis binatang liar. Ane pernah melihat ular sebesar paha orang dewasa melingkar di pohon jambu belakang rumah, melihat biawak berwarna hitam dengan mata berwarna merah. lebih gilanya, suatu malam tiba-tiba ada suara bunyi seperti benda terjatuh dua kali, keesokan harinya ane diberitau bapak suara itu adalah suara beruang yang jatuh saat mencuri buah nangka!. oke langsung disimak cerita berikut gan
Desa ini bener bener terpencil, jalan untuk menuju desa sangat sangat jelek. Jalannya masih berupa tanah dan berlumpur dengan disamping kiri kanannya rawa-rawa dan hutan belantara, sangat jarang ada rumah penduduk disepanjang jalan ini. Saat itu masih sedikit kendaraan, paling hanya satu dua motor yang melintas, sesekali truk yang membawa kayu gelondongan atau yang membawa bahan pokok. Jalanan bener-bener sepi apalagi belum ada lampu-lampu jalan.
Ada satu jembatan yang dilewati untuk menuju desa Hanau ini, panjangnya mungkin Cuma sekitar 6 meteran, terbuat dari kayu ulin kehitaman dan hanya bisa dilewati satu mobil saja. Disebelah jembatan berdiri kokoh pohon besar rindang. Konon katanya pohon ini tidak bisa ditebang saat pembangunan jembatan, sehingga dibiarkan begitu saja.
Orang –orang desa ataupun orang luar sudah tahu jika melewati jembatan malem-malem harus “permisi” dulu. Tidak ada orang yang berani melewati jembatan ini jika udah malem, Lebih baik putar balik dan menginap dulu di desa sebelumnya (walaupun katanya ditempuh 2 jam lagi) baru berangkat keesokan paginya.
Bapak bercerita mungkin sudah seminggu di desa ini. Kebetulan bapak ada rapat atau acara di Sampit hari itu, perjalanan dari Hanau ke Sampit memakan waktu sekitar 4-5 jam. Saat itu bapak Cuma mendapat motor dinas, sehingga berangkatlah beliau mengendarai motor pada pagi hari.
Acara di Sampit berakhir sore hari, bapak ragu-ragu antara langsung pulang atau menginap dulu, selain jarak tempuh, cuaca pada saat itu sudah sangat mendung. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya bapak putuskan untuk langsung pulang, karena ada beberapa pekerjaan yang harus selesai esok harinya.
Ditengah- tengah perjalanan akhirnya hujanpun turun. Bapak dengan terpaksa mencari tempat berteduh, kebetulan ada rumah masyarakat sekitar, sehingga bapak berteduh dirumah tersebut. ketika diluar sudah mulai gelap dan sudah gerimis, mengenakan jas hujan bapak memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, karena bapak tidak ingin terlalu malam sampai di rumah.
Saat itu suasana sangat sepi dan gelap sekali, Cuma terdengar suara motor bapak dan binatang malam yang terdengar. Terlihat dilampu motor hanya air hujan berjatuhan dan beberapa tanaman rawa yang basah. Bapak mengendarai motornya dengan perlahan karena jalan berlumpur sehingga motor sangat sulit dikendalikan. Tibalah bapak di jembatan itu, jembatan dengan pohon besar di sampingnya.
Saat berada ditengah-tengah jembatan, tiba-tiba motor mendadak mati…
Bapak turun mengecek busi dan mencoba menghidupkan motor, motor tetap tidak bisa hidup…
Tiba-tiba…Bapak mencium wangi bunga melati yang sangat-sangat harum..sampai-sampai bapak menutup hidungnya karena wanginya sangat-sangat menusuk…
Bapak mulai panik dan berulang kali mencoba menghidupkan motornya kembali…tetapi lagi-lagi mesin motor tidak merespon…
Saat itulah bapak teringat perkataan penduduk desa untuk bilang permisi apabila melewati jembatan tersebut…dengan sopan bapak berkata “bue saya Cuma menumpang lewat, jangan mengganggu, saya juga asli sini”. (Aslinya pake Bahasa Dayak)
Perlahan bapak mencoba menghidupkan kembali motor, dan……motor kembali menyala!
Saat itulah tanpa sadar bapak menoleh ke arah pohon besar itu, bapak samar-samar melihat rambut yang menjuntai dari pohon sampai ke tanah…
Buru-buru bapak memacu motornya…sambil mengucapkan do'a didalam hati
setelah berada diujung jembatan saat itulah kembali tercium bau, tetapi kali ini bau Bangkai..bau bangkai yang sangat-sangat menyengat..
Keesokan harinya bapak menceritakan hal ini ke teman sekantor bapak. temen bapak malah memuji bapak, karena bapak sangat-sangat berani melintasi jembatan tersebut. padahal penduduk disini tidak ada yang berani melintasi jembatan tersebut apabila malam tiba.
Outro
Itu tadi pengalaman bapak ane gan, ane mendengar langsung dari beliau. Ane udah puluhan tahun ga ke desa Hanau ini gan, bapak di Hanau selama 5 tahun, kemudian pindah ke desa Parenggean. Ane ga begitu tahu jembatan itu sekarang gimana keadaannya. Sekian dulu gan
Ane sering banget denger cerita ini dari bapak ane gan, beliau sering bercerita saat masih tinggal di desa, nama desanya Pembuang Hulu tepatnya di Hanau. Desa ini terletak di Kalimantan Tengah gan deket sama Pangkalan bun. Beliau mendapat tugas di sini, kami sekeluarga ikut diboyong ke desa ini gan. Saat itu pita belum lahir, ane masih kelas 3 SD dan yayat masih TK. Bapak mendapatkan rumah dinas untuk keluarga selama disini.
Ane masih ingat betapa takutnya ane tinggal di rumah dinas ini, bayangin dibelakang rumah kami hutan belantara dengan segala jenis binatang liar. Ane pernah melihat ular sebesar paha orang dewasa melingkar di pohon jambu belakang rumah, melihat biawak berwarna hitam dengan mata berwarna merah. lebih gilanya, suatu malam tiba-tiba ada suara bunyi seperti benda terjatuh dua kali, keesokan harinya ane diberitau bapak suara itu adalah suara beruang yang jatuh saat mencuri buah nangka!. oke langsung disimak cerita berikut gan
JEMBATAN
Desa ini bener bener terpencil, jalan untuk menuju desa sangat sangat jelek. Jalannya masih berupa tanah dan berlumpur dengan disamping kiri kanannya rawa-rawa dan hutan belantara, sangat jarang ada rumah penduduk disepanjang jalan ini. Saat itu masih sedikit kendaraan, paling hanya satu dua motor yang melintas, sesekali truk yang membawa kayu gelondongan atau yang membawa bahan pokok. Jalanan bener-bener sepi apalagi belum ada lampu-lampu jalan.
Ada satu jembatan yang dilewati untuk menuju desa Hanau ini, panjangnya mungkin Cuma sekitar 6 meteran, terbuat dari kayu ulin kehitaman dan hanya bisa dilewati satu mobil saja. Disebelah jembatan berdiri kokoh pohon besar rindang. Konon katanya pohon ini tidak bisa ditebang saat pembangunan jembatan, sehingga dibiarkan begitu saja.
Orang –orang desa ataupun orang luar sudah tahu jika melewati jembatan malem-malem harus “permisi” dulu. Tidak ada orang yang berani melewati jembatan ini jika udah malem, Lebih baik putar balik dan menginap dulu di desa sebelumnya (walaupun katanya ditempuh 2 jam lagi) baru berangkat keesokan paginya.
Bapak bercerita mungkin sudah seminggu di desa ini. Kebetulan bapak ada rapat atau acara di Sampit hari itu, perjalanan dari Hanau ke Sampit memakan waktu sekitar 4-5 jam. Saat itu bapak Cuma mendapat motor dinas, sehingga berangkatlah beliau mengendarai motor pada pagi hari.
Acara di Sampit berakhir sore hari, bapak ragu-ragu antara langsung pulang atau menginap dulu, selain jarak tempuh, cuaca pada saat itu sudah sangat mendung. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya bapak putuskan untuk langsung pulang, karena ada beberapa pekerjaan yang harus selesai esok harinya.
Ditengah- tengah perjalanan akhirnya hujanpun turun. Bapak dengan terpaksa mencari tempat berteduh, kebetulan ada rumah masyarakat sekitar, sehingga bapak berteduh dirumah tersebut. ketika diluar sudah mulai gelap dan sudah gerimis, mengenakan jas hujan bapak memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, karena bapak tidak ingin terlalu malam sampai di rumah.
Saat itu suasana sangat sepi dan gelap sekali, Cuma terdengar suara motor bapak dan binatang malam yang terdengar. Terlihat dilampu motor hanya air hujan berjatuhan dan beberapa tanaman rawa yang basah. Bapak mengendarai motornya dengan perlahan karena jalan berlumpur sehingga motor sangat sulit dikendalikan. Tibalah bapak di jembatan itu, jembatan dengan pohon besar di sampingnya.
Saat berada ditengah-tengah jembatan, tiba-tiba motor mendadak mati…
Bapak turun mengecek busi dan mencoba menghidupkan motor, motor tetap tidak bisa hidup…
Tiba-tiba…Bapak mencium wangi bunga melati yang sangat-sangat harum..sampai-sampai bapak menutup hidungnya karena wanginya sangat-sangat menusuk…
Bapak mulai panik dan berulang kali mencoba menghidupkan motornya kembali…tetapi lagi-lagi mesin motor tidak merespon…
Saat itulah bapak teringat perkataan penduduk desa untuk bilang permisi apabila melewati jembatan tersebut…dengan sopan bapak berkata “bue saya Cuma menumpang lewat, jangan mengganggu, saya juga asli sini”. (Aslinya pake Bahasa Dayak)
Perlahan bapak mencoba menghidupkan kembali motor, dan……motor kembali menyala!
Saat itulah tanpa sadar bapak menoleh ke arah pohon besar itu, bapak samar-samar melihat rambut yang menjuntai dari pohon sampai ke tanah…
Spoiler for ILUSTRASI:
Buru-buru bapak memacu motornya…sambil mengucapkan do'a didalam hati
setelah berada diujung jembatan saat itulah kembali tercium bau, tetapi kali ini bau Bangkai..bau bangkai yang sangat-sangat menyengat..
Keesokan harinya bapak menceritakan hal ini ke teman sekantor bapak. temen bapak malah memuji bapak, karena bapak sangat-sangat berani melintasi jembatan tersebut. padahal penduduk disini tidak ada yang berani melintasi jembatan tersebut apabila malam tiba.
Outro
Itu tadi pengalaman bapak ane gan, ane mendengar langsung dari beliau. Ane udah puluhan tahun ga ke desa Hanau ini gan, bapak di Hanau selama 5 tahun, kemudian pindah ke desa Parenggean. Ane ga begitu tahu jembatan itu sekarang gimana keadaannya. Sekian dulu gan
NEXT CERITA MELINTAS
0
Kutip
Balas