- Beranda
- Stories from the Heart
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
...
TS
beavermoon
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
Selamat datang di BeaverMoon Land
Sudah lama tak berjumpa dengan halaman ini dan biasanya cuma liat info-info HT doang.
Dan pada akhirnya ane kembali dengan membawa kisah yang ngga terlalu bagus

Spoiler for Tanya Jawab:
Q : Bang bakalan panen kentang lagi ngga?"
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)
Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)

Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
Jadi buat agan dan aganwati sekalian yang mau mengikuti thread ini seharusnya baca AKU, KAMU, DAN LEMONterlebih dahulu. Cuma kalo mau baca ini dulu ya nggapapa ngga ada larangannya

Selamat membaca

Spoiler for INDEX:
Episode 1
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Diubah oleh beavermoon 28-01-2020 19:37
i4munited dan 13 lainnya memberi reputasi
14
77.6K
Kutip
417
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#29
Ternyata ini hari minggu, padahal kemaren janjinya update hari jumat.... 
Mohon maaf karena pekerjaan yang membuat ane susah nyentuh laptop jadi baru bisa update hari ini
Selamat membaca

Mohon maaf karena pekerjaan yang membuat ane susah nyentuh laptop jadi baru bisa update hari ini
Selamat membaca

Spoiler for Episode 2:
Aku terbangun pagi ini dan kulihat Reza masih terlelap dalam tidurnya. Aku menemukan buku usang itu ada di atas dadaku, mungkin semalam aku ketiduran saat membacanya. Kutaruh buku itu di atas meja dan aku bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk sekedar mencuci muka. Setelah itu aku membuka pintu yang menuju balkon dan matahari hampir muncul dari timur. Aku memutuskan untuk turun ke bawah untuk melihat keadaan.
Setibanya di bawah aku menemukan Nanda yang sedang menonton kartun di salah satu stasiun tv berlangganan. Aku duduk di sampingnya dan cukup membuatnya sedikit terkejut dengan kedatanganku.
“Ayah sama Ibu mana Nda?” Tanyaku
“Kan udah berangkat lagi Bang.” Jawabnya
“Oh iya ya, kamu udah sarapan?” Tanyaku
“Belum lah, aku juga baru bangun berapa menit yang lalu.” Katanya
“Yaudah kita sarapan di luar aja, ntar buat si Babon bungkus.” Ajakku
Aku naik ke atas untuk mengambil dompet dan juga hpku. Aku kembali melihat buku misterius itu lagi dan membuatku ingin membawanya kemanapun aku pergi. Dan akhirnya aku membawa buku itu dan kumasukan ke dalam tas kecil milikku. Kemudian aku dan juga Nanda menuju garasi untuk pergi mencari sarapan di luar.
“Woy, lu mau kemana?” Tanya Reza dari balkon kamarku
“Lah udah bangun! Tadi pas gue naik masih merem, nyari sarapan. Ayo buruan turun.” Ajakku
“Nih pake mobil gue aja.” Kata Reza sambil melempar kunci mobilnya yang berhasil kutangkap
Dan tidak lama kemudian, Reza sudah menghampiri kami dan ia mengendarai mobilnya
“Kita cari sarapan ya Pak Supir...” Kataku
Dia hanya memandangku dengan malas. Aku terpaksa duduk di belakang karena Nanda meminta untuk duduk di samping Reza. Selama di perjalanan aku terus melihat ke arah buku usang itu dan sepertinya buku ini memiliki daya tarik untuk terus kubaca tanpa henti.
“Bang, ini buburnya dimakan dulu dong jangan baca aja...” Kata Nanda
Aku tersadar bahwa aku sudah berada di warung tenda yang menjual bubur, dan aku melihat ke arah sekitar yang sudah ramai. Reza sudah masuk ke dalam mangkuk ke duanya sedangkan aku belum sama sekali untuk mulai memakan bubur ini.
“Tau lu makan dulu lah, ntar balik pas gue ngegame sama Nanda baru lu baca lagi.” Kata Reza
Dan akhirnya aku mulai memakan semangkuk bubur ayam ini hingga hanya tersisa bumbu di pinggiran mangkuknya saja. Aku dan Reza mulai menyalakan sebatang rokok dan kemudian Reza menunjukkan sesuatu dari hpnya.
“Lu masih inget dia ngga?” Tanya Reza
Aku melihat dengan seksama dan mencoba untuk mengingat siapa orang yang ada di dalam hp Reza, satu per satu aku mengingat wajah orang ini namun hasilnya nihil.
“Gue lupa deh beneran, emang dia siapa?” Tanyaku balik kepadanya
“Inget cewe yang pertama kali kita ke Club?” Tanya Reza lagi
Aku mencoba untuk mengingatnya lagi.
“Oh iya iya gue inget, loh kok lu bisa dapet kontaknya? Ketemu lagi? Kalo bahas itu gue jadi inget tragedi pantat.” Kataku
Kami berdua tertawa mengingat kejadian itu lagi, saat-saat pertama kami baru pertama kali masuk ke dalam Club.
“Abang ngomongin apaan tadi?” Tanya Nanda sekembalinya dari minimarket
“Ngga kok, udah balik aja.” Kata Reza
Dan kemudian kami pulang menuju rumahku. Benar saja, setelah tiba di rumah, Reza dan juga Nanda sudah tenggelam dalam layar permainan mereka untuk memulai balapan motor tersebut. Jika mereka sudah bertemu dan game consoleku sudah menyala maka dunia hanya milik mereka berdua, malah mereka lebih bisa dibilang sebagai kakak-adik yang sebenarnya.
Aku berbaring di atas kasur sambil memainkan hpku untuk sekedar melihat sosial media, dan setelah merasa bosan akhirnya aku mulai memainkan gitar lamaku. Gitar yang kumiliki semenjak aku duduk di kelas dua SMP dan masih bertahan hingga kini.Tiba-tiba aku mendengar ada suara ketukan beberapa kali hingga aku menghentikan permainan gitarku.
“Kenapa berenti Bram?” Tanya Reza tanpa melihat ke arahku
“Lu denger suara ketok-ketok ngga?” Tanyaku balik
“Itu mah suara ayam Bang.” Jawab Nanda
“Itu petok-petok Nda, sumpah ini serius kalian denger ngga?” Tanyaku lagi
“Ngga, udah ganggu gue main aja lu.” Protes Reza
Aku akan memulai untuk memainkan gitarku lagi namun aku kembali mendengar suara itu lagi. Karena penasaran aku mencoba untuk melihat dari balkon kamarku, sepertinya ada orang di depan rumahku menggunakan sedan putih yang harganya cukup mahal. Dan kemudian aku turun ke bawah untuk melihat tamu yang datang sepagi ini. Kubuka pintu gerbang ini dan aku sangat terkejut dengan tamu yang datang pada pagi hari ini. Beberapa detik aku terdiam memandanginya dengan rasa tidak percaya.
“Hai Bram, kamu apa kabar?” Tanyanya
“Kamu...”
Ia tersenyum kepadaku dan benar-benar sulit untuk kupercaya bahwa ia telah kembali. Aku memasukan mobilnya dan memarkirkannya di samping mobil Reza, setelah itu aku mempersilahkannya untuk masuk ke dalam rumah.
Dan di sinilah aku saat ini, di ruang tamu dengan orang yang benar-benar aku percaya bahwa ia takkan pernah kembali. Namun saat ini ia ada di sampingku, dan jujur saja aku sangat kaku untuk bertemu dengannya lagi.
“Ayah, Ibu, sama Nanda kemana?” Tanyanya
“Biasa lagi ada kerjaan mereka, kalo Nanda ada di atas lagi main sama si Babon.” Kataku
“Oh ada Reza juga di atas? Kalian masih main terus ya...” Katanya
“Reza mana punya temen lagi sih selain aku. Kamu apa kabar?” Tanyaku
“Baik kok seperti yang kamu liat aja sekarang Bram.” Jawabnya
Dan lagi-lagi aku melihat senyuman itu, senyuman yang pernah membuatku jatuh hati beberapa tahun yang lalu. Dan senyuman itu pula yang pernah membuatku merasakan sakit yang luar biasa.
“Ka Wid!” Teriak Nanda menuruni anak tangga disusul oleh Reza
“Hai Nda, apa kabar kamu?” Tanya Widya masih dengan keramahannya
“Gue kira lu orang udah gila ngobrol sendiri, taunya ada wanita ini.” Sahut Reza
“Ka Wid kemana aja? Kok baru keliatan lagi?” Tanya Nanda
Reza sempat memandangiku dan aku juga balas memandanginya.
“Ka Wid waktu itu banyak urusan Nda, jadi ngilang dulu.” Jelasnya
Aku dan Reza sepakat untuk membuatkan minuman di dapur, dan sesampainya di dapur Reza menggelengkan kepalanya.
“Ngga nyangka gue kalo dia bakalan balik lagi.” Katanya
“Gimana perasaan gue Bon, lu tau sendiri kan...” Kataku
Setelah berbincang cukup lama di ruang tamu, akhirnya aku mengantarkan Widya masuk ke dalam kamarku sedangkan Nanda dan juga Reza sedang mempersiapkan makan siang untuk kami berempat. Aku mengikutinya dari belakang, langkahnya masih sangat kukenali hingga saat ini. Ia melihat sekeliling kamarku dan kemudian berbalik menghadapku.
“Masih kayak dulu ya Bram...” Katanya
“Cuma miniaturnya aja yang nambah banyak.” Jelasku
Dan kemudian kami menuju balkon kamarku, ia duduk di bangku sedangkan aku hanya berdiri bersandar pada tembok sambil menyalakan sebatang rokok. Aku mencoba untuk meyakinkan diriku sekali lagi bahwa sosok yang ada di hadapanku adalah nyata bukanlah ilusi semata, dan memang benar ini adalah sebuah kenyataan.
Widya, adalah seseorang yang pernah mengisi hari-hariku. Semasa SMA adalah waktu yang cukup lama untuk mengenalnya dan waktu yang cukup lama juga untuk menaruh hati padanya.
“Kamu kenapa diem aja Bram?” Tanya Widya menghapus semua lamunanku
“Nggapapa kok Wid...” Kataku
“Kaget ya aku balik lagi?” Tanyanya lagi
Aku hanya bisa tersenyum kecil menanggapinya karena aku tidak tau harus berkata apa untuk menyampaikan kembalinya dia saat ini. Tidak lama kemudian datanglah Nanda memberitau bahwa makan siang sudah siap, aku dan juga Widya turun ke bawah untuk makan siang bersama. Selesai dengan makan siang, aku dan juga Widya membersihkan semua piring yang telah kami gunakan untuk makan siang. Nanda dan juga Reza sudah kembali dalam permainan mereka di kamarku.
“Maaf ya ngerepotin...” Kataku
“Ngga lah, harusnya aku yang bilang begitu udah disiapin makan siang segala.” Katanya
Dan lagi-lagi aku melihat senyuman itu, senyuman yang bisa meluluhkan hatiku secara menyeluruh. Bisa saja aku kembali menyukainya seperti beberapa tahun yang lalu. Widya berpamitan untuk pulang karena masih ada urusan yang harus ia selesaikan.
“Makasih ya Bram, nanti aku kabarin lagi.” Katanya
Aku hanya bisa menganggukan kepalaku tanpa ada satu katapun keluar. Dan kemudian mobil yang ia kendarai semakin lama semakin menjauh dari pandangannku dan menghilang di belokan sana. Aku masih memandangi ke arah sana tanpa tujuan.
“Woy! Ngeliatin apaan lu?” Teriak Reza dari balkon kamarku
Aku hanya menggelengkan kepala dan aku kembali masuk menuju kamarku. Aku duduk di samping Reza sambil menyalakan sebatang rokok lagi.
“Katanya lu mau lanjutin main?” Tanyaku
“Ya lu liat aja itu Nanda udah tidur gitu.” Kata Reza
Kuhembuskan asap putih dari mulutku secara perlahan dan menghilang diterpa oleh angin siang ini.
“Jadi gimana menurut lu tentang kembalinya dia?” Tanya Reza
Aku hanya bisa menghela nafas panjang dan tidak tau apa yang akan aku lakukan setelah ini. Memang aku pernah menaruh hati padanya, namun ada sedikit luka yang kembali terbuka saat aku melihat senyumannya.
Setibanya di bawah aku menemukan Nanda yang sedang menonton kartun di salah satu stasiun tv berlangganan. Aku duduk di sampingnya dan cukup membuatnya sedikit terkejut dengan kedatanganku.
“Ayah sama Ibu mana Nda?” Tanyaku
“Kan udah berangkat lagi Bang.” Jawabnya
“Oh iya ya, kamu udah sarapan?” Tanyaku
“Belum lah, aku juga baru bangun berapa menit yang lalu.” Katanya
“Yaudah kita sarapan di luar aja, ntar buat si Babon bungkus.” Ajakku
Aku naik ke atas untuk mengambil dompet dan juga hpku. Aku kembali melihat buku misterius itu lagi dan membuatku ingin membawanya kemanapun aku pergi. Dan akhirnya aku membawa buku itu dan kumasukan ke dalam tas kecil milikku. Kemudian aku dan juga Nanda menuju garasi untuk pergi mencari sarapan di luar.
“Woy, lu mau kemana?” Tanya Reza dari balkon kamarku
“Lah udah bangun! Tadi pas gue naik masih merem, nyari sarapan. Ayo buruan turun.” Ajakku
“Nih pake mobil gue aja.” Kata Reza sambil melempar kunci mobilnya yang berhasil kutangkap
Dan tidak lama kemudian, Reza sudah menghampiri kami dan ia mengendarai mobilnya
“Kita cari sarapan ya Pak Supir...” Kataku
Dia hanya memandangku dengan malas. Aku terpaksa duduk di belakang karena Nanda meminta untuk duduk di samping Reza. Selama di perjalanan aku terus melihat ke arah buku usang itu dan sepertinya buku ini memiliki daya tarik untuk terus kubaca tanpa henti.
Spoiler for Buku Harian:
Hari ini aku sedang duduk di halaman sekolah, melihat-lihat keramaian di saat jam istirahat berlangsung. Bukan kebiasaanku ketika istirahat untuk duduk di luar, namun hari ini aku sengaja untuk melihat Herman bermain basket di lapangan bersama teman-temannya. Perkenalkan namaku adalah Airin Kusuma Lestari, dan aku terbiasa untuk dipanggil dengan sebutan Airin. Aku adalah anak tunggal dari keluargaku, sebab itu orang tuaku sangat menyayangiku. Dan itu adalah Herman, lelaki bahkan teman pertama yang aku kenal di sekolah ini. Herman bukan orang biasa, melainkan menjadi sosok idola di sekolah ini. Pandai di bidang pelajaran begitu juga dengan ekstrakulikuler basketnya. Sebagai kapten tim basket sekolah, ia dituntut agar selalu tampil prima dan bisa menyemangati anggota tim yang lain. Dan itu pula yang membuat banyak wanita yang menaruh hati padanya. Namun tidak ada satupun yang dapat mendekatinya karena mereka semua tau bahwa aku memiliki kedekatan yang berbeda dengan Herman, padahal sudah berulang kali aku mengatakan bahwa aku hanya berteman dengannya.
Datanglah Mita dari kantin menghampiri dimana aku duduk saat ini, dengan membawa minuman kesukaannya dan juga roti isi keju buatannya sendiri.
“Tumben lo keluar pas istirahat Rin? Kesambet apaan?” Tanya Mita
“Gue pengen ngeliat Herman main basket aja Mit.” Kataku
“Pantesan banyak yang gagal dapetin Herman, saingannya kayak lo gini ya...” Goda Mita
“Kan udah gue bilang kalo gue sama dia cuma temenan doang ngga lebih Mit, lo lagi masih ngga percaya juga sama gue.” Protesku
“Gue sih percaya Rin, cuma tiap denger ada yang ngomongin Herman pasti aja langsung ngebahas lo juga. Ati-ati lo jadi public enemy.” Jelas Mita
Mita adalah orang yang paling dekat denganku selain Herman, ia adalah orang yang selalu ada untuk menghibur jika aku merasakan sesuatu yang salah. Dan untunglah Mita dapat mengerti bagaimana situasi yang sebenarnya terjadi antara aku dan juga Herman. Kemudian Herman mendatangi kami dengan keringatnya yang sudah tidak bisa dikendalikan lagi.
“Bagi minum dong...” Katanya mengambil minuman Mita
“Lo tuh ya Man, bawa anduk kek kalo abis main basket biar ngga jorok gitu.” Protes Mita
“Apa sih berisik banget, Airin aja ngga pernah protes sama keringet gue.” Kata Herman
Mita bangun dari duduknya untuk memukuli Herman dengan pelan. Aku hanya bisa tertawa melihat kelakuan mereka berdua. Dan tidak lama kemudian bel masuk pun berbunyi, kami melanjutkan pelajaran yang tertunda karena jam istirahat tadi. Siang hari dan matematika adalah obat bius yang paling handal untuk teman-teman sekelasku tanpa terkecuali. Apalagi Herman yang telah bermain tadi dan menguras tenaganya, ia mulai merasakan kantuk yang mendalam hingga akhirnya ia tertidur dengan posisi tangannya menopang dagu. Aku hanya bisa tersenyum melihat Herman dengan kelakuannya yang sulit untuk dirubah.
Datanglah Mita dari kantin menghampiri dimana aku duduk saat ini, dengan membawa minuman kesukaannya dan juga roti isi keju buatannya sendiri.
“Tumben lo keluar pas istirahat Rin? Kesambet apaan?” Tanya Mita
“Gue pengen ngeliat Herman main basket aja Mit.” Kataku
“Pantesan banyak yang gagal dapetin Herman, saingannya kayak lo gini ya...” Goda Mita
“Kan udah gue bilang kalo gue sama dia cuma temenan doang ngga lebih Mit, lo lagi masih ngga percaya juga sama gue.” Protesku
“Gue sih percaya Rin, cuma tiap denger ada yang ngomongin Herman pasti aja langsung ngebahas lo juga. Ati-ati lo jadi public enemy.” Jelas Mita
Mita adalah orang yang paling dekat denganku selain Herman, ia adalah orang yang selalu ada untuk menghibur jika aku merasakan sesuatu yang salah. Dan untunglah Mita dapat mengerti bagaimana situasi yang sebenarnya terjadi antara aku dan juga Herman. Kemudian Herman mendatangi kami dengan keringatnya yang sudah tidak bisa dikendalikan lagi.
“Bagi minum dong...” Katanya mengambil minuman Mita
“Lo tuh ya Man, bawa anduk kek kalo abis main basket biar ngga jorok gitu.” Protes Mita
“Apa sih berisik banget, Airin aja ngga pernah protes sama keringet gue.” Kata Herman
Mita bangun dari duduknya untuk memukuli Herman dengan pelan. Aku hanya bisa tertawa melihat kelakuan mereka berdua. Dan tidak lama kemudian bel masuk pun berbunyi, kami melanjutkan pelajaran yang tertunda karena jam istirahat tadi. Siang hari dan matematika adalah obat bius yang paling handal untuk teman-teman sekelasku tanpa terkecuali. Apalagi Herman yang telah bermain tadi dan menguras tenaganya, ia mulai merasakan kantuk yang mendalam hingga akhirnya ia tertidur dengan posisi tangannya menopang dagu. Aku hanya bisa tersenyum melihat Herman dengan kelakuannya yang sulit untuk dirubah.
“Bang, ini buburnya dimakan dulu dong jangan baca aja...” Kata Nanda
Aku tersadar bahwa aku sudah berada di warung tenda yang menjual bubur, dan aku melihat ke arah sekitar yang sudah ramai. Reza sudah masuk ke dalam mangkuk ke duanya sedangkan aku belum sama sekali untuk mulai memakan bubur ini.
“Tau lu makan dulu lah, ntar balik pas gue ngegame sama Nanda baru lu baca lagi.” Kata Reza
Dan akhirnya aku mulai memakan semangkuk bubur ayam ini hingga hanya tersisa bumbu di pinggiran mangkuknya saja. Aku dan Reza mulai menyalakan sebatang rokok dan kemudian Reza menunjukkan sesuatu dari hpnya.
“Lu masih inget dia ngga?” Tanya Reza
Aku melihat dengan seksama dan mencoba untuk mengingat siapa orang yang ada di dalam hp Reza, satu per satu aku mengingat wajah orang ini namun hasilnya nihil.
“Gue lupa deh beneran, emang dia siapa?” Tanyaku balik kepadanya
“Inget cewe yang pertama kali kita ke Club?” Tanya Reza lagi
Aku mencoba untuk mengingatnya lagi.
“Oh iya iya gue inget, loh kok lu bisa dapet kontaknya? Ketemu lagi? Kalo bahas itu gue jadi inget tragedi pantat.” Kataku
Kami berdua tertawa mengingat kejadian itu lagi, saat-saat pertama kami baru pertama kali masuk ke dalam Club.
“Abang ngomongin apaan tadi?” Tanya Nanda sekembalinya dari minimarket
“Ngga kok, udah balik aja.” Kata Reza
Dan kemudian kami pulang menuju rumahku. Benar saja, setelah tiba di rumah, Reza dan juga Nanda sudah tenggelam dalam layar permainan mereka untuk memulai balapan motor tersebut. Jika mereka sudah bertemu dan game consoleku sudah menyala maka dunia hanya milik mereka berdua, malah mereka lebih bisa dibilang sebagai kakak-adik yang sebenarnya.
Aku berbaring di atas kasur sambil memainkan hpku untuk sekedar melihat sosial media, dan setelah merasa bosan akhirnya aku mulai memainkan gitar lamaku. Gitar yang kumiliki semenjak aku duduk di kelas dua SMP dan masih bertahan hingga kini.Tiba-tiba aku mendengar ada suara ketukan beberapa kali hingga aku menghentikan permainan gitarku.
“Kenapa berenti Bram?” Tanya Reza tanpa melihat ke arahku
“Lu denger suara ketok-ketok ngga?” Tanyaku balik
“Itu mah suara ayam Bang.” Jawab Nanda
“Itu petok-petok Nda, sumpah ini serius kalian denger ngga?” Tanyaku lagi
“Ngga, udah ganggu gue main aja lu.” Protes Reza
Aku akan memulai untuk memainkan gitarku lagi namun aku kembali mendengar suara itu lagi. Karena penasaran aku mencoba untuk melihat dari balkon kamarku, sepertinya ada orang di depan rumahku menggunakan sedan putih yang harganya cukup mahal. Dan kemudian aku turun ke bawah untuk melihat tamu yang datang sepagi ini. Kubuka pintu gerbang ini dan aku sangat terkejut dengan tamu yang datang pada pagi hari ini. Beberapa detik aku terdiam memandanginya dengan rasa tidak percaya.
“Hai Bram, kamu apa kabar?” Tanyanya
“Kamu...”
Ia tersenyum kepadaku dan benar-benar sulit untuk kupercaya bahwa ia telah kembali. Aku memasukan mobilnya dan memarkirkannya di samping mobil Reza, setelah itu aku mempersilahkannya untuk masuk ke dalam rumah.
Dan di sinilah aku saat ini, di ruang tamu dengan orang yang benar-benar aku percaya bahwa ia takkan pernah kembali. Namun saat ini ia ada di sampingku, dan jujur saja aku sangat kaku untuk bertemu dengannya lagi.
“Ayah, Ibu, sama Nanda kemana?” Tanyanya
“Biasa lagi ada kerjaan mereka, kalo Nanda ada di atas lagi main sama si Babon.” Kataku
“Oh ada Reza juga di atas? Kalian masih main terus ya...” Katanya
“Reza mana punya temen lagi sih selain aku. Kamu apa kabar?” Tanyaku
“Baik kok seperti yang kamu liat aja sekarang Bram.” Jawabnya
Dan lagi-lagi aku melihat senyuman itu, senyuman yang pernah membuatku jatuh hati beberapa tahun yang lalu. Dan senyuman itu pula yang pernah membuatku merasakan sakit yang luar biasa.
“Ka Wid!” Teriak Nanda menuruni anak tangga disusul oleh Reza
“Hai Nda, apa kabar kamu?” Tanya Widya masih dengan keramahannya
“Gue kira lu orang udah gila ngobrol sendiri, taunya ada wanita ini.” Sahut Reza
“Ka Wid kemana aja? Kok baru keliatan lagi?” Tanya Nanda
Reza sempat memandangiku dan aku juga balas memandanginya.
“Ka Wid waktu itu banyak urusan Nda, jadi ngilang dulu.” Jelasnya
Aku dan Reza sepakat untuk membuatkan minuman di dapur, dan sesampainya di dapur Reza menggelengkan kepalanya.
“Ngga nyangka gue kalo dia bakalan balik lagi.” Katanya
“Gimana perasaan gue Bon, lu tau sendiri kan...” Kataku
Setelah berbincang cukup lama di ruang tamu, akhirnya aku mengantarkan Widya masuk ke dalam kamarku sedangkan Nanda dan juga Reza sedang mempersiapkan makan siang untuk kami berempat. Aku mengikutinya dari belakang, langkahnya masih sangat kukenali hingga saat ini. Ia melihat sekeliling kamarku dan kemudian berbalik menghadapku.
“Masih kayak dulu ya Bram...” Katanya
“Cuma miniaturnya aja yang nambah banyak.” Jelasku
Dan kemudian kami menuju balkon kamarku, ia duduk di bangku sedangkan aku hanya berdiri bersandar pada tembok sambil menyalakan sebatang rokok. Aku mencoba untuk meyakinkan diriku sekali lagi bahwa sosok yang ada di hadapanku adalah nyata bukanlah ilusi semata, dan memang benar ini adalah sebuah kenyataan.
Widya, adalah seseorang yang pernah mengisi hari-hariku. Semasa SMA adalah waktu yang cukup lama untuk mengenalnya dan waktu yang cukup lama juga untuk menaruh hati padanya.
“Kamu kenapa diem aja Bram?” Tanya Widya menghapus semua lamunanku
“Nggapapa kok Wid...” Kataku
“Kaget ya aku balik lagi?” Tanyanya lagi
Aku hanya bisa tersenyum kecil menanggapinya karena aku tidak tau harus berkata apa untuk menyampaikan kembalinya dia saat ini. Tidak lama kemudian datanglah Nanda memberitau bahwa makan siang sudah siap, aku dan juga Widya turun ke bawah untuk makan siang bersama. Selesai dengan makan siang, aku dan juga Widya membersihkan semua piring yang telah kami gunakan untuk makan siang. Nanda dan juga Reza sudah kembali dalam permainan mereka di kamarku.
“Maaf ya ngerepotin...” Kataku
“Ngga lah, harusnya aku yang bilang begitu udah disiapin makan siang segala.” Katanya
Dan lagi-lagi aku melihat senyuman itu, senyuman yang bisa meluluhkan hatiku secara menyeluruh. Bisa saja aku kembali menyukainya seperti beberapa tahun yang lalu. Widya berpamitan untuk pulang karena masih ada urusan yang harus ia selesaikan.
“Makasih ya Bram, nanti aku kabarin lagi.” Katanya
Aku hanya bisa menganggukan kepalaku tanpa ada satu katapun keluar. Dan kemudian mobil yang ia kendarai semakin lama semakin menjauh dari pandangannku dan menghilang di belokan sana. Aku masih memandangi ke arah sana tanpa tujuan.
“Woy! Ngeliatin apaan lu?” Teriak Reza dari balkon kamarku
Aku hanya menggelengkan kepala dan aku kembali masuk menuju kamarku. Aku duduk di samping Reza sambil menyalakan sebatang rokok lagi.
“Katanya lu mau lanjutin main?” Tanyaku
“Ya lu liat aja itu Nanda udah tidur gitu.” Kata Reza
Kuhembuskan asap putih dari mulutku secara perlahan dan menghilang diterpa oleh angin siang ini.
“Jadi gimana menurut lu tentang kembalinya dia?” Tanya Reza
Aku hanya bisa menghela nafas panjang dan tidak tau apa yang akan aku lakukan setelah ini. Memang aku pernah menaruh hati padanya, namun ada sedikit luka yang kembali terbuka saat aku melihat senyumannya.
Spoiler for Flashback:
Aku sedang berdiri di dermaga sore ini, angin berhembus cukup kencang menambah kesejukan di sini. Widya datang membawa botol minuman yang selalu sama untuk kami berdua.
“Makasih ya Wid...” Kataku
“Bram...” Katanya
Aku melihat ke arah wajahnya dengan seksama.
“Kamu tau ngga apa yang lebih menyakitkan dari patah hati?” Tanyanya
Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku karena aku ingin tau apa jawaban darinya.
“Yang lebih menyakitkan dari patah hati itu ketika kita saling mencintai tapi kita ngga tau perasaan satu sama lain...”
“Makasih ya Wid...” Kataku
“Bram...” Katanya
Aku melihat ke arah wajahnya dengan seksama.
“Kamu tau ngga apa yang lebih menyakitkan dari patah hati?” Tanyanya
Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku karena aku ingin tau apa jawaban darinya.
“Yang lebih menyakitkan dari patah hati itu ketika kita saling mencintai tapi kita ngga tau perasaan satu sama lain...”
khuman dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Kutip
Balas