TS
Synaiderix
[OriFic] The World Where We Belong
The World Where We Belong
©Synaiderix
Genre: Fantasy, Adventure, Mystery & Romance
Main Character: Cliffilya El' Aurore, Lexia Drakero, Ginz Al' Errales
Rating: Semi-M
©Synaiderix
Genre: Fantasy, Adventure, Mystery & Romance
Main Character: Cliffilya El' Aurore, Lexia Drakero, Ginz Al' Errales
Rating: Semi-M
Spoiler for Prologue:
Summary/Prologue
Quote:
Tuhan tidak pernah membenci makhluk ciptaan-Nya. Ia pun tidak pernah menciptakan iblis untuk Ia benci. Ia menempatkan mereka di neraka karena Ia terlalu mencintai ciptaan-Nya agar kelak Iblis tidak melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Ini adalah sebuah revolusi. Dimana manusia harus berbagi tempat dengan iblis di dimensi jagat alam semesta yang mereka tempati saat ini.
150 tahun lalu. Tahun 1321 masehi. Bumi digemparkan dengan kemunculan Tree of Lifedi Kota Erande. Kemunculannya ditandai gempa dahsyat yang hampir memporak-porandakan seluruh tempat di Bumi. Akibatnya separuh dari populasi manusia berkurang. Penderitaan umat manusia tidak berhenti sampai disana. Kemunculan pohon berwarna perak itu adalah awal kemunculan makhluk lainnya. Ketika buahnya matang dan jatuh ke permukaan bumi. Cahaya perak dilapis bayang hitam berkilauan disekitar buah yang terjatuh dari pohonnya. Disanalah kaum iblis menampakan dirinya dan memulai kehidupannya di Bumi.
Selama 20 tahun, perselisihan antar umat manusia dan ras iblis menyebabkan perang dahysat yang belum pernah terjadi sepanjang masa. Dikala itu manusia memenangkan perang akibat ketidakseimbangan jumlah pasukan mereka. Pasca kekalahan iblis dan 100 tahun berlalu, para manusia melakukan tindakan genosida pada ras iblis. Mereka tidak mengenal apa itu wanita atau anak-anak, karena iblis adalah ancaman nyata bagi ras manusia. Mereka terpaksa melakukan pembersihan macam genosida. Banyak manusia berpendapat, ras iblis telah punah dari muka bumi ini. Namun tidak ada yang dapat menjamin keakuratan pendapat itu.
Tugas itulah yang dibebankan Putri Kerajaan Avagrad Empire, Astrid 'Avagril' kepada Vice Chief Organisasi Kepolisian negeri itu, Lexia Drakero. Ia harus mengusut tuntas perkara kematian Ratu Avagrad 10 tahun silam. Kematian sang ratu menyisakan kesan misteri yang sulit terpecahkan.
Spoiler for Hint & Character Design:
Character Design
Quote:
Cliffilya El' Aurore
adalah salah satu jendral pasukan iblis divisi satu di masanya 100 tahun silam.
Ia terkena kutukan manusia sehingga dirinya terkurung dalam wujud manusia. Ingatan gadis itu lumpuh bersamaan dengan kutukan itu. Meskipun dahulunya dia merupakan salah satu pendekar pedang terhebat dengan pedang Devil's Blissnya. Kini ia hanya manusia biasa yang tak dapat menggunakan kekuatannya sama sekali. Hingga akhirnya ia ditemukan Elias dan mengubah dirinya menjadi makhluk setengah manusia setengah iblis.
Spoiler for Human Form:
Spoiler for Half Demon Form:
adalah salah satu jendral pasukan iblis divisi satu di masanya 100 tahun silam.
Ia terkena kutukan manusia sehingga dirinya terkurung dalam wujud manusia. Ingatan gadis itu lumpuh bersamaan dengan kutukan itu. Meskipun dahulunya dia merupakan salah satu pendekar pedang terhebat dengan pedang Devil's Blissnya. Kini ia hanya manusia biasa yang tak dapat menggunakan kekuatannya sama sekali. Hingga akhirnya ia ditemukan Elias dan mengubah dirinya menjadi makhluk setengah manusia setengah iblis.
Quote:
Ginz Al' Errales
![[OriFic] The World Where We Belong](https://dl.kaskus.id/s-media-cache-ak0.pinimg.com/564x/a6/03/0f/a6030fd1d973a4ac5d02a96371b95e34.jpg)
Pemimpin utama pasukan iblis. Ginz adalah iblis pertama yang lahir ke bumi. Kekuatannya hilang selama beratus-ratus tahun. Ia mengorbankan kekuatannya itu demi melindungi pasukannya saat puncak peperangan antara iblis dan manusia. Hingga Lucifer datang memberi kabar baik padanya tentang pertumbuhan Pohon Kehidupan (Tree of Life) yang akan memulihkan kekuatannya kembali.
Spoiler for :
![[OriFic] The World Where We Belong](https://dl.kaskus.id/s-media-cache-ak0.pinimg.com/564x/a6/03/0f/a6030fd1d973a4ac5d02a96371b95e34.jpg)
Quote:
Lexia Drakeria
Spoiler for :
[img]Image is not available yet[/img]
COMING SOONHint
Quote:
COMING SOON
Spoiler for Index:
Status: On going
Quote:
Prolog(Link)
Chapter 1: The Kingdom of Avagrad
Quote:
Chapter 1.1:The Girl Who Leapt Through Her Death (Link)
Chapter 1.2: The Princess's Dream (Link)
Chapter 1.3: Our Duty Is To Protect The Kingdom (Link)
Chapter 1.4: Kingdom's Officer and Thesis
Chapter 1.2: The Princess's Dream (Link)
Chapter 1.3: Our Duty Is To Protect The Kingdom (Link)
Chapter 1.4: Kingdom's Officer and Thesis
Chapter 2: My Memory Flew Away
Diubah oleh Synaiderix 31-03-2016 08:51
0
4K
Kutip
4
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•347Anggota
Tampilkan semua post
TS
Synaiderix
#3
Chapter 1.3: Our Duty Is To Protect The Kingdom
Quote:
Secercah cahaya pagi menyapa tubuh seorang lelaki berambut hitam urakan. Lexia Drakero, lelaki itu. Sedikit mengerang ketika cahaya matahari mengusik tidurnya.
Burung-burung diluar bercicitan selayaknya alarm. Memaksa Lexia bangun dari bunga tidurnya. Lexia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Menghilangkan pandangan kabur dari lensa matanya. Uh, pusing. sepertinya aku kurang tidur tadi malam.
"Selamat pagi, Tuan Lex." Sapaan manis menyambut paginya Lexia. Menengok kearah sumber suara...
... Lexia membeliak secara spontan.
"Siapa kau?" Reflek Lexia menyibakkan selimut yang membungkus tubuhnya. Ia mengambil posisi duduk dan memasang sikap awasnya. Siapa dia? Kenapa ia bisa berada di kamarny—
“A-Anu. Saya pelayan Nona Astrid yang baru. Beliau menyuruh saya mengantarkan anda padanya begitu anda bangun dari tidur anda.”
Ah kesadarannya belum komprehensif memahami keadaan disekitarnya. Lex menaruh satu tangannya dikepala. Ia lupa, semalam ia terpaksa tidur di ruangan yang sama dengan Putri Astrid. Menemaninya hingga larut malam sampai mereka berdua terlelap. Matanya kembali beralih kearah wanita bergaun hitam hingga setumit kaki itu.
Ini petaka.
“Apa yang akan kau katakan pada orang-orang jika semalam aku tidur dengan Nona Astrid?” Selidik Lexia penuh curiga. Apa yang dipikirkan Astrid membiarkan orang asing mengetahui Lexia berada di kamar miliknya selama semalaman?
Anak kecil sialan, bisa-bisa karirnya tamat sekarang juga.
“S-Saya tidak akan mengatakan apapun. Saya hanya dititipkan amanat untuk membawa anda pada Nona Astrid sesegera mungkin setelah anda bangun.” Bulu kuduk pelayan itu meremang setelah aura dingin menusuk tersebar ke seantaro ruangan. Mata Lex tersorot tajam pada dirinya.
Lex berdehem pelan. Ia berdiri ‘tuk merapihkan penampilannya. Ia mengambil katananya yang tergeletak diseberang ranjang. Kemudian beralih menghampiri sang pelayan. Dengan gerakan intimidasi kepalanya tertunduk mensejajarkan tinggi kepalanya dengan daun kuping wanita itu.
“Aku tidak ingin mendengar satu rumor pun beredar. Bisa kau menjaga informasi ini tetap aman?” Lex berbicara penuh nada ancaman. Namun sarat akan harapan. Tentu saja Lex tidak berharap karirnya berakhir dengan cara yang seperti ini. Ia harus memastikan keselamatan dirinya.
“B-Baik!”
“Bagus. Sekarang tuntun aku pada Yang Mulia.” Menarik satu sudut bibirnya keatas. Lex puas melihat raut wajah ketakutan pelayan itu. Otot-otot tangannya ia renggangkan. Fuah, ia memang menyukai salah satu keahliannya ini. Berkat tubuh kekarnya yang rajin ia latih, ia dapat mengintimidasi orang-orang didekatnya dengan mudah.
“Baik. I-Ikut aku Tuan.” Sang pelayan berangsur keluar ruangan setelah lebih dulu membungkukan badannya. Langkah cepatnya memperlebar jarak antara dirinya dan Lex. Menjaga dirinya agar tetap aman. Sedang Lex mengekorinya dibelakang.
Lex melangkah tegap menunjukan wibawanya. Beberapa penjaga kastil yang berpapasan dengannya menunduk dan memberi sapaan hormat. Tidak banyak penjaga kastil yang berjaga hingga Lex menilai waktu masih menunjukan waktu pagi buta. Tidak habis terpikir dibenaknya. Terlalu awal untuk seorang Putri Astrid bangun lebih pagi dari ini.
Apa yang dilakukan gadis kecil itu pagi-pagi begini?
Mereka keluar dari kastil utama. Ah sekarang Lex mengerti kemana ia digiring wanita itu. Bangunan Cathedral berdiri kokoh ditengah taman kastil. Jelas itulah yang menjadi tempat tujuan mereka saat ini. Dimana taman tersebut tertanam beragam tanaman bunga menghiasi pinggir-pinggir tembok kastil. Memanjakan mata bagi siapapun yang memandangnya.
Suara langkah mereka menggema ketika kaki mereka menyentuh ubin marmer dingin. Sunyi dan senyap. Cathedral tersebut nyaris tak berpenghuni. Pilar-pilar di kedua sisi lorong menjadi satu-satunya objek pandang mata Lexia. Hingga bola mata Lexia tertuju pada satu sosok diujung aula. Seorang gadis berambut pirang dengan tinggi setengah dari tinggi badannya.
Lex tertegun. Pesona gadis itu terpancar lewat gaun putih panjang yang ia kenakan. Rambutnya ia biarkan tergerai hingga bahunya. Astrid, gadis itu sama sekali tidak terlihat seperti sosok gadis berusia belasan tahunan. Ia terlihat seperti gadis yang telah matang untuk dinikahi.
Menyadari dua kehadiran sosok lain disana. Astrid menoleh.
“Selamat pagi, Lexia.” Sambut Astrid hangat. Ia tersenyum menghadapi ekspresi penuh tanya Lex. Pastilah pria itu memiliki segudang pertanyaan dikepalanya, diantaranya mengapa Astrid mengenakan gaun pernikahan saat ini.
“Alasan apa yang membuatmu menyuruh pelayan wanita itu membawaku kesini, Yang Mulia.” Dari segudang pertanyaan dibenak, hal itu yang terucap dibibir. Bukan Lexia Drakero namanya jika tidak bersikap dingin dan acuh begini. Walau demikian, Astrid menyukainya. Menyukai kepribadian Lexia yang tertutup. Astrid tahu benar, dibalik sikap dinginnya. Tersimpan rasa cinta dan sayang yang amat besar di relung hati Lexia untuk dirinya.
“Aku hanya ingin mengulang permintaanku semalam disini.” Astrid memberi isyarat pada pelayan wanitanya agar meninggalkan mereka sendiri ditempat itu. Tidak butuh waktu lama sampai pelayan itu berlalu agar Astrid dan Lexia bebas berbicara tanpa harus terganggu dengan kehadiran orang lain. Lexia menaikkan satu alisnya keatas tanda bahwa ia tidak mengerti. Memberi ruang pada Astrid untuk melanjutkan kalimatnya yang bermakna sumbang bagi Lexia.
“Aku ingin…” Astrid menahan kalimatnya. Ia mendekati patung wanita bertudung yang terpahat indah diujung aula.
“Aku ingin mengunjungi tempat ini untuk menghadiri upacara penikahan kita.” Astrid mengusap-usap kaki patung yang terbuat dari bebatuan itu. Ia mengecilkan volume suaranya. Mengambarkan hati gadis itu yang gelisah.
“Aku tidak ingin mengunjungi tempat ini untuk menghadiri upacara pemakaman kakak. Jadi…” Sinar mata Astrid meredup saat pandangan Lexia dan dirinya bertemu dalam satu waktu. Hati Lexia ikut terenyuh melihatnya. Ia tidak suka melihat gadisnya bersedih. Astrid yang selama ini ia kenal adalah sosok yang periang.
Lexia mencintai tekstur wajah Astrid yang lembut dan harmonis ketika sinarnya terang. Ia tidak menyukai nelangsa yang menutupi sinar terang wajah Astrid. Meskipun terbilang langka melihat Astrid bersedih dalam jarak pandang manusia. Ia berharap tidak ingin melihatnya seumur hidupnya.
Kepalan tangan Lexia mendadak mengerat. Ia berketetapan dalam hatinya. Bersumpah ini adalah kali terakhir ia melihat Astrid bersedih,
“Aku akan, aku akan mengusut tuntas kasus ini,Yang Mulia. Jangan lagi kau khawatirkan soal itu. Aku akan melakukan segalanya untukmu.” Tegas Lexia menghampiri gadisnya. Ia menarik Astrid kedalam rengkuhannya. Membiarkan bulir-bulir air mata kembali menetes dari pelupuk mata Astrid.
“Dilain waktu kita mengunjungi tempat ini, adalah saat kita melaksanakan upacara pernikahan. Aku berjanji akan melindungimu dengan nyawaku sendiri Astrid, aku berjanji..”
“Hiks.. Aku mencintaimu, Lexia. Aku mencintaimu.” Ungkap Astrid disela-sela isak tangisnya. Ah pelukan ini, selalu bisa membuat Astrid merasa aman. Ia nyaman berada dalam perlindungan Lexia. Kumohon Lexia, sayangi aku dengan segenap jiwamu. Lindungi aku. Kaulah satu-satunya orang yang kusayang lebih dari siapapun.
Sssyat!!!
Satu ayunan pedang nyaris menebas kepala Lexia. Tubuhnya hampir terbelah menjadi dua. Beruntung Lexia sempat menyadarinya dan menghindari serangan tersebut dengan selamat. Hatinya berdenyut kaget oleh serangan tak terduga itu.
Lexia menggerakan bola matanya melihat sosok pelaku yang nyaris menghilangkan nyawanya itu. Kemudian bibirnya dihiasi seringai mengejek.
“Selamat pagi, Kuros. Gagal membunuhku lagi?”
“Kali ini aku akan benar-benar membunuhmu, Vice Chief. Kemana saja kau semalaman ini? Habis mengunjungi rumah bordil tanpa mengajakku ikut pergi bersamamu hee?” Tuding Kuros seraya mengacungkan pedangnya tepat didepan muka Lexia. Lexia terkekeh ringan mendengar candaan rekan kerjanya itu.
“Bukan urusanmu, bocah. Ngomong-ngomong karena kau telah berani mengayunkan pedang tanpa sepengetahuanku. Bagaimana jika pagi ini kita isi dengan ‘kegiatan menyenangkan’?” Tantang Lex melepas sarung katana panjangnya.
“Tawaran yang menarik. Ayo kita mulai!” Tanggap Kuros bergelora. Ia menantikan pertarungan ini lama sekali. Sudah lama mereka tidak berlatih adu kekuatan. Ini adalah momen yang tepat untuk menunjukan hasil latihannya selama ini.
“Ayo!”
Kuros memacu adrenalinnya. Kakinya bergerak gesit mengambil langkah mengelabui. Ia ingin gerakannya tak terbaca. Ia tidak peduli jika tenaganya terkuras habis diwaktu sesingkat ini. Ia merasa harus menumbangkan lawannya kali ini.
Selanjutnya adalah bunyi derakan pedang yang saling bersingungan. Gemuruh erangan kelelakian Kuros tergaung diujung tenggorokannya.
Menahan dorongan nafsu lawannya lewat tangkisan pedang. Lexia mengerahkan kedua tangannya. Satu tangannya ia tumpukan pada bilah pedang yang tumpul. Dengan jarak setipis itu. Ia bisa melihat bayangan dirinya sendiri dari pantulan mata Kuros Jellial; salah satu bawahannya.
"Hanya segini kemampuanmu, Vice Chief?" Kuros mencemooh. Pandangan merendahkan tersorot dari mata lelaki itu. Kuping Lexia mendadak memanas mendengarnya.
"Erggh!" Lexia menarik tubuhnya. Menghindari dorongan maut Kuros. Suara debuman keras mengiringi kehancuran setapak berbatu ketika ujung mata pedang Kuros menyentuh permukaan bumi.
Kuros masih belum selesai bertindak offensive. Pasca kehancuran tapak batu itu, ia segera menghampiri Lex. Pedangnya ia acungkan disamping kanan tubuhnya. Satu lagi tebasan melayang diudara saat jarak mempertemukan dirinya dan Lexia.
Uppercut!!
Lex memukul pedang Kuros lalu melompat kesamping guna menghindari serangan Kuros ‘tuk kedua kalinya. Berkali-kali mereka mengulangi gerakan tersebut. Dimana Kuros tanpa ampun membombardir Lexia dengan serangan-serangannya.
"Lagi-lagi kau menghindari seranganku. Ayolah, Vice Chief. Buat pertarungan ini sedikit menarik."
"Aku bisa memberimu sebuah pertarungan yang menarik. Tapi ada hal menarik yang ingin kutawarkan lebih dahulu padamu." Tawar Lexia sambil menempatkan katananya di pundak. Suara napas terengah-engah keduanya memberi jeda pembicaraan mereka. Kuros menghirup napas dalam-dalam sebelum ia bertanya,
"Hal yang ingin kau tawarkan?" Kuros mengangkat satu alisnya keatas. Wajah mudanya memasang ekspresi tak mengerti. Mendesak Lexia memberi kejelasan atas ucapannya.
"Ya. Aku ingin mengajakmu bertindak sedikit kriminal. Apa kau tertarik ikut mengambil peran dalam rencana jahatku?”
"Atas dasar apa kau ingin melakukan hal yang seperti itu? Seperti bukan dirimu saja." Bersungut-sungut kesal ingin menarikan pedangnya lagi. Kuros mengacungkan kembali pedangnya, "Aku menolak."
Mengusap belakang lehernya. Lexia mendesah berat. Memang tidak mudah membujuk Kuros menerima tawarannya. Lelaki itu benar-benar berwatak keras. Tapi Lexia tidak kehabisan akal memaksa lelaki berkuncir pirang itu mengikuti kemauannya. Tentu Kuros akan menerimanya setelah ia mengambil tindakan keras.
"Bagaimana jika kita bertaruh siapa yang akan memenangkan pertarungan ini, Kuros? Lalu kita bicarakan kembali tawaran itu" Semirik seringaian penuh percaya diri menghiasi wajah Lexia. Perangai lelaki itu berubah menjadi lebih gelap. Tentu tawaran itu disambut hangat lawannya. Kuros memasang ekspresi haus darahnya.
"Kau akan berlutut memohon ampun padaku, Vice Captain."
Dentingan pedang kembali beradu. Lexia bergerak lebih lincah. Ia tidak memberi kesempatan pada Kuros untuk membaca gerakannya. Alhasil geraman Kuros mulai terdengar. Gigi lelaki muda itu bergemutukan. Tapi tentu ia tidak membiarkan dirinya dikalahkan dengan mudah.
Kuros membantai seluruh belahan udara di titik kemungkinan Lexia berada. Suara semilir angin menjadi efek suara kecepatan Lexia saat berjalan mengitari lawannya. 'Sial dia terlalu cepat,' Kuros yang semula memasang kuda-kudanya dan tetap tidak bergeming dari tempatnya. Akhirnya memilih kabur dari lingkaran setan bentukan Lexia setelah ia menangis sekali serangan Lex.
Langkah kilat Kuros ditempuh demi menghindari serangan tak terbaca Lexia. Pikirannya terfokus pada satu tempat dimana Lexia tidak bisa menggunakan teknik langka ilmu pedangnya. Ia berlari ke ujung pekarangan markas kepolisian dimana terdapat dinding dengan sudut 90 derajat.
'Akan kubuat kau menyesal Lexia karena sudah mengajakku bertarung dengan serius.' Ia berketetapan. Sesekali kepalanya menengok kebelakang. Memastikan Lexia mengekori langkahnya. Kuros merasa lega saat semuanya berjalan sesuai rencana.
Tiba saatnya, Kuros melayangkan tendangannya kearah dinding tersebut. Mengambil beberapa langkah memutar diatas dinding tersebut. Sedetik kemudian tubuhnya berbalik melayang. Pedangnya teracung mantap. Inilah yang ia sebut sebagai counter attack.
"Reverse!" Senyum penuh kemenangan tercetak dibibir Kuros. Namun..
Sret..
..DUAAGH.
"Uaagh." Kuros terpental. Lexia ternyata membaca ide Kuros yang hendak melakukan serangan balik itu. Sesaat sebelum Kuros menendang dinding, Lexia lebih dulu menundukan badannya. Berjalan membungkuk hingga tiba saatnya ia meluncur di permukaan tanah. Disanalah kaki jenjang Lexia memberi tendangan maut tepat diperut Kuros.
Kuros segera menyeimbangkan tubuhnya. Beruntung ia dapat mendaratkan tubuhnya dengan sempurna. Ia meludah kesembarang arah. Kesalahan fatalnya adalah ia terlalu meremehkan otak cemerlang lawannya itu. Kuros terbuai akan lembeknya Lexia di babak sebelumnya.
Sekarang tidak ada waktu untuk bermain-main lagi.
Kuros menyipitkan matanya. Memasang kuda-kuda kembali, Ia menaruh pedangnya dibalik pinggangnya yang tertutup.
"Hoo. Kau ingin melakukan teknik itu ya. Baiklah."
'Tidak memasang kuda-kuda? Ck kau akan menyesalinya,Vice Chief. Kau akan sangat menyesalinya.' Sengit Kuros dalam hati. Ia berharap lebih dari itu. Kemampuan pria itu. Ia tidak pernah tahu sampai mana batas kekuatan Lex. Ia ingin mengungkapnya.
Mengambil langkah seribu. Kecepatan Kuros Sougo nyaris menyaingi cepatnya kilat membentur bumi. Satu sudut bibirnya terangkat keatas. Ia yakin kali ini pedangnya dapat mengenai Lexia. Menembus pertahanan lelaki itu.
"Avoida Strike!"
TRANK.
Suara itu, seketika menghentikan seluruh pergerakan mereka berdua. Kuros tersenyum. Senyum bahagia. Walau hanya berlangsung kurang dari lima menit. Ia menikmatinya. Ya, sekalipun ia menderita kekalahan untuk kesekian kalinya.
Kuros melirik dalam diam kearah serpihan-serpihan pedangnya yang patah. Masih enggan membalikan badannya melihat kondisi Lexia dibelakangnya. Ia telah kalah. Ia gagal menembus pertahanan Lexia. Kekuatan mereka masih tetap tidak berimbang. Lelaki seperti apa kau ini, Lex?
"Sudah saatnya kau menepati janjimu, Kuros."
"Apa yang kau ingin aku lakukan, Lex?" Tanya Kuros penuh curiga.
"Aku hanya ingin menangkap makhluk mitos yang membunuh Ratu Avagrad beberapa tahun lalu."
Nah, jadi itu yang kau maksud bertindak kriminal. Kuros mengerti, Lex melakukan itu demi kekasihnya. Kuros terkikik geli membayangkan dirinya dan Lex harus melayani dongeng sekumpulan orang gila mulai sekarang. Namun itulah keuntungan mereka dalam mengatasi kasus ini. Lex sama gilanya dengan para saksi itu. Lex memiliki penalaran diluar nalar manusia. Lelaki itu bukan manusia biasa seperti dirinya. Itulah alasan kenapa Lex memiliki jabatan yang lebih tinggi ketimbang dirinya.
Kegilaan Lex terbukti dengan hanya ia menghiraukan kasus ini. Karena dengan begitu, ia akan bersinggungan langsung dengan pihak militer. Bahkan mengobarkan perang secara tidak langsung. Pihak militer tidak akan suka Lex merogoh informasi dari salah satu anggotanya yang hilang kewarasannya. Mereka itu aib bagi pihak militer.
Berbuat kriminal ya, cukup menarik.
"Baiklah, kali ini aku ikut dalam penyelidikanmu, Vice Chief." Ah—Hanya ini setidaknya yang bisa dilakukan Kuros untuk menyamakan kedudukan kekuatan mereka. Ia ingin belajar menjalani hidup seperti lelaki itu agar kekuatan mereka dapat bersanding pantas.
"Kau akan sangat membantu, Kuros."
Burung-burung diluar bercicitan selayaknya alarm. Memaksa Lexia bangun dari bunga tidurnya. Lexia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Menghilangkan pandangan kabur dari lensa matanya. Uh, pusing. sepertinya aku kurang tidur tadi malam.
"Selamat pagi, Tuan Lex." Sapaan manis menyambut paginya Lexia. Menengok kearah sumber suara...
... Lexia membeliak secara spontan.
"Siapa kau?" Reflek Lexia menyibakkan selimut yang membungkus tubuhnya. Ia mengambil posisi duduk dan memasang sikap awasnya. Siapa dia? Kenapa ia bisa berada di kamarny—
“A-Anu. Saya pelayan Nona Astrid yang baru. Beliau menyuruh saya mengantarkan anda padanya begitu anda bangun dari tidur anda.”
Ah kesadarannya belum komprehensif memahami keadaan disekitarnya. Lex menaruh satu tangannya dikepala. Ia lupa, semalam ia terpaksa tidur di ruangan yang sama dengan Putri Astrid. Menemaninya hingga larut malam sampai mereka berdua terlelap. Matanya kembali beralih kearah wanita bergaun hitam hingga setumit kaki itu.
Ini petaka.
“Apa yang akan kau katakan pada orang-orang jika semalam aku tidur dengan Nona Astrid?” Selidik Lexia penuh curiga. Apa yang dipikirkan Astrid membiarkan orang asing mengetahui Lexia berada di kamar miliknya selama semalaman?
Anak kecil sialan, bisa-bisa karirnya tamat sekarang juga.
“S-Saya tidak akan mengatakan apapun. Saya hanya dititipkan amanat untuk membawa anda pada Nona Astrid sesegera mungkin setelah anda bangun.” Bulu kuduk pelayan itu meremang setelah aura dingin menusuk tersebar ke seantaro ruangan. Mata Lex tersorot tajam pada dirinya.
Lex berdehem pelan. Ia berdiri ‘tuk merapihkan penampilannya. Ia mengambil katananya yang tergeletak diseberang ranjang. Kemudian beralih menghampiri sang pelayan. Dengan gerakan intimidasi kepalanya tertunduk mensejajarkan tinggi kepalanya dengan daun kuping wanita itu.
“Aku tidak ingin mendengar satu rumor pun beredar. Bisa kau menjaga informasi ini tetap aman?” Lex berbicara penuh nada ancaman. Namun sarat akan harapan. Tentu saja Lex tidak berharap karirnya berakhir dengan cara yang seperti ini. Ia harus memastikan keselamatan dirinya.
“B-Baik!”
“Bagus. Sekarang tuntun aku pada Yang Mulia.” Menarik satu sudut bibirnya keatas. Lex puas melihat raut wajah ketakutan pelayan itu. Otot-otot tangannya ia renggangkan. Fuah, ia memang menyukai salah satu keahliannya ini. Berkat tubuh kekarnya yang rajin ia latih, ia dapat mengintimidasi orang-orang didekatnya dengan mudah.
“Baik. I-Ikut aku Tuan.” Sang pelayan berangsur keluar ruangan setelah lebih dulu membungkukan badannya. Langkah cepatnya memperlebar jarak antara dirinya dan Lex. Menjaga dirinya agar tetap aman. Sedang Lex mengekorinya dibelakang.
Lex melangkah tegap menunjukan wibawanya. Beberapa penjaga kastil yang berpapasan dengannya menunduk dan memberi sapaan hormat. Tidak banyak penjaga kastil yang berjaga hingga Lex menilai waktu masih menunjukan waktu pagi buta. Tidak habis terpikir dibenaknya. Terlalu awal untuk seorang Putri Astrid bangun lebih pagi dari ini.
Apa yang dilakukan gadis kecil itu pagi-pagi begini?
Mereka keluar dari kastil utama. Ah sekarang Lex mengerti kemana ia digiring wanita itu. Bangunan Cathedral berdiri kokoh ditengah taman kastil. Jelas itulah yang menjadi tempat tujuan mereka saat ini. Dimana taman tersebut tertanam beragam tanaman bunga menghiasi pinggir-pinggir tembok kastil. Memanjakan mata bagi siapapun yang memandangnya.
Suara langkah mereka menggema ketika kaki mereka menyentuh ubin marmer dingin. Sunyi dan senyap. Cathedral tersebut nyaris tak berpenghuni. Pilar-pilar di kedua sisi lorong menjadi satu-satunya objek pandang mata Lexia. Hingga bola mata Lexia tertuju pada satu sosok diujung aula. Seorang gadis berambut pirang dengan tinggi setengah dari tinggi badannya.
Lex tertegun. Pesona gadis itu terpancar lewat gaun putih panjang yang ia kenakan. Rambutnya ia biarkan tergerai hingga bahunya. Astrid, gadis itu sama sekali tidak terlihat seperti sosok gadis berusia belasan tahunan. Ia terlihat seperti gadis yang telah matang untuk dinikahi.
Menyadari dua kehadiran sosok lain disana. Astrid menoleh.
“Selamat pagi, Lexia.” Sambut Astrid hangat. Ia tersenyum menghadapi ekspresi penuh tanya Lex. Pastilah pria itu memiliki segudang pertanyaan dikepalanya, diantaranya mengapa Astrid mengenakan gaun pernikahan saat ini.
“Alasan apa yang membuatmu menyuruh pelayan wanita itu membawaku kesini, Yang Mulia.” Dari segudang pertanyaan dibenak, hal itu yang terucap dibibir. Bukan Lexia Drakero namanya jika tidak bersikap dingin dan acuh begini. Walau demikian, Astrid menyukainya. Menyukai kepribadian Lexia yang tertutup. Astrid tahu benar, dibalik sikap dinginnya. Tersimpan rasa cinta dan sayang yang amat besar di relung hati Lexia untuk dirinya.
“Aku hanya ingin mengulang permintaanku semalam disini.” Astrid memberi isyarat pada pelayan wanitanya agar meninggalkan mereka sendiri ditempat itu. Tidak butuh waktu lama sampai pelayan itu berlalu agar Astrid dan Lexia bebas berbicara tanpa harus terganggu dengan kehadiran orang lain. Lexia menaikkan satu alisnya keatas tanda bahwa ia tidak mengerti. Memberi ruang pada Astrid untuk melanjutkan kalimatnya yang bermakna sumbang bagi Lexia.
“Aku ingin…” Astrid menahan kalimatnya. Ia mendekati patung wanita bertudung yang terpahat indah diujung aula.
“Aku ingin mengunjungi tempat ini untuk menghadiri upacara penikahan kita.” Astrid mengusap-usap kaki patung yang terbuat dari bebatuan itu. Ia mengecilkan volume suaranya. Mengambarkan hati gadis itu yang gelisah.
“Aku tidak ingin mengunjungi tempat ini untuk menghadiri upacara pemakaman kakak. Jadi…” Sinar mata Astrid meredup saat pandangan Lexia dan dirinya bertemu dalam satu waktu. Hati Lexia ikut terenyuh melihatnya. Ia tidak suka melihat gadisnya bersedih. Astrid yang selama ini ia kenal adalah sosok yang periang.
Lexia mencintai tekstur wajah Astrid yang lembut dan harmonis ketika sinarnya terang. Ia tidak menyukai nelangsa yang menutupi sinar terang wajah Astrid. Meskipun terbilang langka melihat Astrid bersedih dalam jarak pandang manusia. Ia berharap tidak ingin melihatnya seumur hidupnya.
Kepalan tangan Lexia mendadak mengerat. Ia berketetapan dalam hatinya. Bersumpah ini adalah kali terakhir ia melihat Astrid bersedih,
“Aku akan, aku akan mengusut tuntas kasus ini,Yang Mulia. Jangan lagi kau khawatirkan soal itu. Aku akan melakukan segalanya untukmu.” Tegas Lexia menghampiri gadisnya. Ia menarik Astrid kedalam rengkuhannya. Membiarkan bulir-bulir air mata kembali menetes dari pelupuk mata Astrid.
“Dilain waktu kita mengunjungi tempat ini, adalah saat kita melaksanakan upacara pernikahan. Aku berjanji akan melindungimu dengan nyawaku sendiri Astrid, aku berjanji..”
“Hiks.. Aku mencintaimu, Lexia. Aku mencintaimu.” Ungkap Astrid disela-sela isak tangisnya. Ah pelukan ini, selalu bisa membuat Astrid merasa aman. Ia nyaman berada dalam perlindungan Lexia. Kumohon Lexia, sayangi aku dengan segenap jiwamu. Lindungi aku. Kaulah satu-satunya orang yang kusayang lebih dari siapapun.
‘
‘
‘
‘
‘
Sssyat!!!
Satu ayunan pedang nyaris menebas kepala Lexia. Tubuhnya hampir terbelah menjadi dua. Beruntung Lexia sempat menyadarinya dan menghindari serangan tersebut dengan selamat. Hatinya berdenyut kaget oleh serangan tak terduga itu.
Lexia menggerakan bola matanya melihat sosok pelaku yang nyaris menghilangkan nyawanya itu. Kemudian bibirnya dihiasi seringai mengejek.
“Selamat pagi, Kuros. Gagal membunuhku lagi?”
“Kali ini aku akan benar-benar membunuhmu, Vice Chief. Kemana saja kau semalaman ini? Habis mengunjungi rumah bordil tanpa mengajakku ikut pergi bersamamu hee?” Tuding Kuros seraya mengacungkan pedangnya tepat didepan muka Lexia. Lexia terkekeh ringan mendengar candaan rekan kerjanya itu.
“Bukan urusanmu, bocah. Ngomong-ngomong karena kau telah berani mengayunkan pedang tanpa sepengetahuanku. Bagaimana jika pagi ini kita isi dengan ‘kegiatan menyenangkan’?” Tantang Lex melepas sarung katana panjangnya.
“Tawaran yang menarik. Ayo kita mulai!” Tanggap Kuros bergelora. Ia menantikan pertarungan ini lama sekali. Sudah lama mereka tidak berlatih adu kekuatan. Ini adalah momen yang tepat untuk menunjukan hasil latihannya selama ini.
“Ayo!”
Kuros memacu adrenalinnya. Kakinya bergerak gesit mengambil langkah mengelabui. Ia ingin gerakannya tak terbaca. Ia tidak peduli jika tenaganya terkuras habis diwaktu sesingkat ini. Ia merasa harus menumbangkan lawannya kali ini.
Selanjutnya adalah bunyi derakan pedang yang saling bersingungan. Gemuruh erangan kelelakian Kuros tergaung diujung tenggorokannya.
Menahan dorongan nafsu lawannya lewat tangkisan pedang. Lexia mengerahkan kedua tangannya. Satu tangannya ia tumpukan pada bilah pedang yang tumpul. Dengan jarak setipis itu. Ia bisa melihat bayangan dirinya sendiri dari pantulan mata Kuros Jellial; salah satu bawahannya.
"Hanya segini kemampuanmu, Vice Chief?" Kuros mencemooh. Pandangan merendahkan tersorot dari mata lelaki itu. Kuping Lexia mendadak memanas mendengarnya.
"Erggh!" Lexia menarik tubuhnya. Menghindari dorongan maut Kuros. Suara debuman keras mengiringi kehancuran setapak berbatu ketika ujung mata pedang Kuros menyentuh permukaan bumi.
Kuros masih belum selesai bertindak offensive. Pasca kehancuran tapak batu itu, ia segera menghampiri Lex. Pedangnya ia acungkan disamping kanan tubuhnya. Satu lagi tebasan melayang diudara saat jarak mempertemukan dirinya dan Lexia.
Uppercut!!
Lex memukul pedang Kuros lalu melompat kesamping guna menghindari serangan Kuros ‘tuk kedua kalinya. Berkali-kali mereka mengulangi gerakan tersebut. Dimana Kuros tanpa ampun membombardir Lexia dengan serangan-serangannya.
"Lagi-lagi kau menghindari seranganku. Ayolah, Vice Chief. Buat pertarungan ini sedikit menarik."
"Aku bisa memberimu sebuah pertarungan yang menarik. Tapi ada hal menarik yang ingin kutawarkan lebih dahulu padamu." Tawar Lexia sambil menempatkan katananya di pundak. Suara napas terengah-engah keduanya memberi jeda pembicaraan mereka. Kuros menghirup napas dalam-dalam sebelum ia bertanya,
"Hal yang ingin kau tawarkan?" Kuros mengangkat satu alisnya keatas. Wajah mudanya memasang ekspresi tak mengerti. Mendesak Lexia memberi kejelasan atas ucapannya.
"Ya. Aku ingin mengajakmu bertindak sedikit kriminal. Apa kau tertarik ikut mengambil peran dalam rencana jahatku?”
"Atas dasar apa kau ingin melakukan hal yang seperti itu? Seperti bukan dirimu saja." Bersungut-sungut kesal ingin menarikan pedangnya lagi. Kuros mengacungkan kembali pedangnya, "Aku menolak."
Mengusap belakang lehernya. Lexia mendesah berat. Memang tidak mudah membujuk Kuros menerima tawarannya. Lelaki itu benar-benar berwatak keras. Tapi Lexia tidak kehabisan akal memaksa lelaki berkuncir pirang itu mengikuti kemauannya. Tentu Kuros akan menerimanya setelah ia mengambil tindakan keras.
"Bagaimana jika kita bertaruh siapa yang akan memenangkan pertarungan ini, Kuros? Lalu kita bicarakan kembali tawaran itu" Semirik seringaian penuh percaya diri menghiasi wajah Lexia. Perangai lelaki itu berubah menjadi lebih gelap. Tentu tawaran itu disambut hangat lawannya. Kuros memasang ekspresi haus darahnya.
"Kau akan berlutut memohon ampun padaku, Vice Captain."
Dentingan pedang kembali beradu. Lexia bergerak lebih lincah. Ia tidak memberi kesempatan pada Kuros untuk membaca gerakannya. Alhasil geraman Kuros mulai terdengar. Gigi lelaki muda itu bergemutukan. Tapi tentu ia tidak membiarkan dirinya dikalahkan dengan mudah.
Kuros membantai seluruh belahan udara di titik kemungkinan Lexia berada. Suara semilir angin menjadi efek suara kecepatan Lexia saat berjalan mengitari lawannya. 'Sial dia terlalu cepat,' Kuros yang semula memasang kuda-kudanya dan tetap tidak bergeming dari tempatnya. Akhirnya memilih kabur dari lingkaran setan bentukan Lexia setelah ia menangis sekali serangan Lex.
Langkah kilat Kuros ditempuh demi menghindari serangan tak terbaca Lexia. Pikirannya terfokus pada satu tempat dimana Lexia tidak bisa menggunakan teknik langka ilmu pedangnya. Ia berlari ke ujung pekarangan markas kepolisian dimana terdapat dinding dengan sudut 90 derajat.
'Akan kubuat kau menyesal Lexia karena sudah mengajakku bertarung dengan serius.' Ia berketetapan. Sesekali kepalanya menengok kebelakang. Memastikan Lexia mengekori langkahnya. Kuros merasa lega saat semuanya berjalan sesuai rencana.
Tiba saatnya, Kuros melayangkan tendangannya kearah dinding tersebut. Mengambil beberapa langkah memutar diatas dinding tersebut. Sedetik kemudian tubuhnya berbalik melayang. Pedangnya teracung mantap. Inilah yang ia sebut sebagai counter attack.
"Reverse!" Senyum penuh kemenangan tercetak dibibir Kuros. Namun..
Sret..
..DUAAGH.
"Uaagh." Kuros terpental. Lexia ternyata membaca ide Kuros yang hendak melakukan serangan balik itu. Sesaat sebelum Kuros menendang dinding, Lexia lebih dulu menundukan badannya. Berjalan membungkuk hingga tiba saatnya ia meluncur di permukaan tanah. Disanalah kaki jenjang Lexia memberi tendangan maut tepat diperut Kuros.
Kuros segera menyeimbangkan tubuhnya. Beruntung ia dapat mendaratkan tubuhnya dengan sempurna. Ia meludah kesembarang arah. Kesalahan fatalnya adalah ia terlalu meremehkan otak cemerlang lawannya itu. Kuros terbuai akan lembeknya Lexia di babak sebelumnya.
Sekarang tidak ada waktu untuk bermain-main lagi.
Kuros menyipitkan matanya. Memasang kuda-kuda kembali, Ia menaruh pedangnya dibalik pinggangnya yang tertutup.
"Hoo. Kau ingin melakukan teknik itu ya. Baiklah."
'Tidak memasang kuda-kuda? Ck kau akan menyesalinya,Vice Chief. Kau akan sangat menyesalinya.' Sengit Kuros dalam hati. Ia berharap lebih dari itu. Kemampuan pria itu. Ia tidak pernah tahu sampai mana batas kekuatan Lex. Ia ingin mengungkapnya.
Mengambil langkah seribu. Kecepatan Kuros Sougo nyaris menyaingi cepatnya kilat membentur bumi. Satu sudut bibirnya terangkat keatas. Ia yakin kali ini pedangnya dapat mengenai Lexia. Menembus pertahanan lelaki itu.
"Avoida Strike!"
TRANK.
Suara itu, seketika menghentikan seluruh pergerakan mereka berdua. Kuros tersenyum. Senyum bahagia. Walau hanya berlangsung kurang dari lima menit. Ia menikmatinya. Ya, sekalipun ia menderita kekalahan untuk kesekian kalinya.
Kuros melirik dalam diam kearah serpihan-serpihan pedangnya yang patah. Masih enggan membalikan badannya melihat kondisi Lexia dibelakangnya. Ia telah kalah. Ia gagal menembus pertahanan Lexia. Kekuatan mereka masih tetap tidak berimbang. Lelaki seperti apa kau ini, Lex?
"Sudah saatnya kau menepati janjimu, Kuros."
"Apa yang kau ingin aku lakukan, Lex?" Tanya Kuros penuh curiga.
"Aku hanya ingin menangkap makhluk mitos yang membunuh Ratu Avagrad beberapa tahun lalu."
Nah, jadi itu yang kau maksud bertindak kriminal. Kuros mengerti, Lex melakukan itu demi kekasihnya. Kuros terkikik geli membayangkan dirinya dan Lex harus melayani dongeng sekumpulan orang gila mulai sekarang. Namun itulah keuntungan mereka dalam mengatasi kasus ini. Lex sama gilanya dengan para saksi itu. Lex memiliki penalaran diluar nalar manusia. Lelaki itu bukan manusia biasa seperti dirinya. Itulah alasan kenapa Lex memiliki jabatan yang lebih tinggi ketimbang dirinya.
Kegilaan Lex terbukti dengan hanya ia menghiraukan kasus ini. Karena dengan begitu, ia akan bersinggungan langsung dengan pihak militer. Bahkan mengobarkan perang secara tidak langsung. Pihak militer tidak akan suka Lex merogoh informasi dari salah satu anggotanya yang hilang kewarasannya. Mereka itu aib bagi pihak militer.
Berbuat kriminal ya, cukup menarik.
"Baiklah, kali ini aku ikut dalam penyelidikanmu, Vice Chief." Ah—Hanya ini setidaknya yang bisa dilakukan Kuros untuk menyamakan kedudukan kekuatan mereka. Ia ingin belajar menjalani hidup seperti lelaki itu agar kekuatan mereka dapat bersanding pantas.
"Kau akan sangat membantu, Kuros."
Diubah oleh Synaiderix 02-04-2016 12:32
0
Kutip
Balas