- Beranda
- Stories from the Heart
1 Flat! 2 Wanita! 2 Cerita!
...
TS
galonze.b.c.n.b
1 Flat! 2 Wanita! 2 Cerita!

1 Flat2 Wanita 2 Cerita

Quote:
Spoiler for Rules:
Spoiler for F.A.Q:
Quote:
Diubah oleh galonze.b.c.n.b 11-06-2016 21:40
sormin180 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
1.1M
3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
galonze.b.c.n.b
#2051
Part 75 Sayang
“ceklek….” Bunyi suara pintu yang gue buka.
“de…. Udah bobo?” ucap gue memanggil dia dari depan. Tak terdengar ada suara balasan dari dia di dalam, mungkin dia sudah tidur duluan. Saat melangkah ke tengah rumah ternyata dia sedang menonton televisi dengan serius.
“kok gak dijawab sih sayang…” ucap gue bersandar di samping dia.
“….” Tak ada balasan dari mila, dia hanya diam dan fokus memandang ke arah televisi.
“kok manyun gitu sih? jelek ah gak boleh” ucap gue sambil mengelus elus rambut dia.
“gak usah pulang aja sekalian udah!” ucap dia ngambek.
“maaf sayang… tadi bantuin benerin komputer temen yang rusak…” ucap gue berbohong kepada dia.
“adek tuh nungguin dari habis maghrib, pengen makan bareng mas juga, tuh liat masakannya udah pada dingin semua kan?!! masnya main teruuuuusssssssss!” ucap dia tanpa memandang gue berbicara dengan bibir manyun ke depan.
“iya kan tadi udah ijin dek?”
“iya tapi jangan lama lama, ini dikasih izin malah lama lama keluarnya. Heuh! Kayaknya gak betah tinggal disini sama ade!” ucap mila dengan judesnya sambil melotot kearah gue.
“iya maaf… kasian juga temenku tadi kalo gak dibantuin, skripsinya gak bakal beres beres dong sayang…” ucap gue.
“bantuin temen apaan, tadi aku telepon norman kamu lagi maen maen sama dia…” mila masih ngambek dan kembali memalingkan wajahnya ke tv.
“iya maaf sayang, kumpul kali kali doang. Udah jangan manyun gitu jelek… mmuuuaacchhh” ucap gue sambil mengecup pipinya.
“iya tapi kan… kamutuh… iiiiiiiiiiiiiihhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh” ucap dia sambil mencubit perut gue.
“awwwww sakit ade…” ucap gue mengaduh.
“udah maem dulu masnya, ade suapin cepetan…” ucap dia sambil berdiri dan menarik tangan gue kearah dapur.
Senang sekali melihat tingkah laku dia yang manja ini. wanita dengan tank-top hitam dan celana pendek berwarna coklat terlihat sangat cantik sekali malam ini. Tingkah judes tapi manjanya dia sangat dapat membuat gue melupakan sejenak masalah yang baru saja dialami.
“nih liat? Masakannya jadi pada dingin semua kan? Aaaaa cepet buka mulutnya..” ucap mila menyuapi gue.
Hari itu dia memasak ayam goreng dengan sayur cah kangkung. Memang terlihat sangat enak jika dari tampilannya. tapi saat suapan pertama masuk kedalam mulut, terasa asiinn sekali rasa ayam gorengnya saat sampai dimulut. Gue pun memaklumi itu karna dia jarang sekali memasak sendiri.
“mas kenapa? Gak enak yah?” ucap mila menyadari ada yang aneh saat gue mengunyah makanannya. Dengan tatapan bingung, dia mengunyah ayam goreng yang ada di piring, dan tiba tiba wajahnya tertunduk.
“mas! Kalo asin bilang asin! Kalo gak enak bilang gak enak!” ucap dia marah.
“masakanmu gak ada yang gak enak dek, semua pasti aku makan. Buku buku di rak juga kalo kamu goreng aku makan juga” ucap gue mencoba membuat dia untuk tidak gampang putus asa.
“udah gak usah dimakan lagi” ucap mila sambil berdiri membereskan piring dan mengecup pipi gue.
“sayang kok diem?” tanya gue, mila hanya melanjutkan mencuci piringnya.
“ya udah adek besok gorengin buku aja buat mas…” ucap dia judes.
“loh kok gitu?” tanya gue.
“katanya adek masakin apa aja mas bakal makan..” ucap dia masih dengan judesnya.
“ya gak gitu juga sayang… kalau buku digoreng kan gak enak, emang adek mau mas makan buku yang digoreng?” tanya gue, mila hanya membalas dengan menggelengkan kepala.
“udah gak usah dipikirin, besok lagi kalo ke asinan kan masih bisa dikurangin lagi garemnya, yang penting jangan berhenti mencoba, sama yang paling penting itu kamu yang mas mmmmmmmmhhhhh” ucap gue terhambat oleh bibir mila.
“brondong ku romantis banget sih… mmhhhhhh” ucap dia.
“iya, ini brondong yang gak lama lagi bakal jadi imammu” ucap gue disela sela ciuman kita.
“Bobok yu sayang ku yang jelek!” ucap dia sambil mengulurkan tangan dengan manjanya, gue hanya tersenyum kemudian membopong dia.
“baru kali ini ya ada cowok dikatain jelek terus sama pacarnya” ucap gue berpura pura memasang wajah jengkel.
“ihhhh jangan marah, ih…. Ihhh… ihhhhhh” ucap die memukul mukul dada gue dengan manjanya.
dia dengan manjanya memohon mohon agar gue tidak marah lagi. Namun akhirnya gue kalah dan memanjakan dia kembali. Senyum di bibirnya yang mempesona membuat gue semakin sayang kepada dia, walau sampai saat ini masih menyembunyikan kejadian yang baru saja gue alami dengan intan.
“mas, besok besok mainnya jangan sampe malem malem, mas kan udah punya adek. Pokoknya kalo kerja sama kuliah selese harus cepet pulang ke rumah pokoknya!” ucap dia.
“iya sayang, udah bobok udah malem..” ucap gue sambil mengecup keningnya.
saat akan beranjak keluar dari kamar dia “mas mau kemana sayang?” tanya mila.
“bobo di kamar mas” jawab gue polos, gue tak mau lagi tidur dengan dia seperti kemarin malam, sungguh tak tahan jika harus tidur seranjang dengan dia lagi.
“bobo sini ah..” ucap dia manja sekali.
“iya tapi kan sayangg…” ucap gue terhenti saat wajahnya berubah menjadi jengkel.
“iya iya deh bobo sini” ucap gue dengan gugup merebahkan diri disamping dia.
Kami berdua berpandangan dan saling melempar senyum. Tak satupun dari kami melepaskan pandangan dari mata masing masing. Benar benar membahagiakan sekali, gue berasa seperti baru menikah saja. Gue betet hidung mancung dia sambil gue goyang goyangkan ke kiri dan kekanan. Dia hanya membalas dengan senyuman dan saking gemasnya dengan senyuman dia, gue membetet hidungnya terlalu keras.
“awwww sakit masss…” ucap mila dengan suara cempreng.
“kamu gemesin sih sayang…” ucap gue kembali memencet hidungnya.
“mas mau bubu pake levis?” tanya dia sedikit menggoda.
“ya pake ini aja” jawab gue.
“ahhhh gak mau ah risih akunya, ganti sana ganti” ucap mila mendorong dorong gue untuk mengganti celana.
Gue pun berdiri dan berjalan ke kamar untuk mengganti celana yang gue kenakan dengan celana pendek. Saat kembali ke kamarnya gue jadi salah tingkah dengan keadaan ini, melihat tubuh mulus dia bisa bisa sang jendral bangun dan siap untuk perang.
“mas, bobo bobo duluan, ade mau sikat gigi dulu sama bersihin muka” ucap dia meloyor ke kamar mandi.
“ade, mas kedepan bentar ya?” ucap gue saat dia sedang melangkah ke kamar mandi.
“mas mau ngerokok ya? Katanya mau berenti mas!” ucap dia berteriak di kamar mandi.
“iya tapikan gak bisa langsung berenti gitu aja dek, ini juga mas kali kali aja ngerokok nya” ucap gue.
“iya udah jangan lama lama, ade udah ngantuk penngen bubu mas…” ucap dia dengan manjanya.
“iya sayang…. Iya…” jawab gue sambil melangkah keluar.
Mila membersihkan dirinya di kamar mandi dan gue berjalan ke luar kearah balkon. Saat ini masih tidak menyangka kalau gue akan tidur seranjang dengan dia malam ini. hanya sebatang rokok menemani gue dibalkon dengan kepulan asap yang keluar dari bibir gue.
Bagaimana keadaan intan sekarang? Sedang apa dia sekarang? Astaga kenapa gue tiba tiba khawatir dengan dia? ahhhh intan… kalau saja semuanya berjaan sesuai dengan rencana yang kita buat, pasti akhirnya dia tidak akan jadi seperti ini. Tapi untuk sekarang, hati ini sudah milik mila dan akan selamanya menjadi milik dia.
Sambil menghisap rokok gue buka buka handphone, terdapat beberapa sms dari intan yang tidak gue balas dan gue acuhkan. Gue hanya membuka buka facebook untuk update status.
Drrtt….. drt…. Drrt….. *Hp gue bergetar
tut… tut… tut…. *telfon gue tutup sepihak.
Apa sih yang dia mau? Kenapa sulit sekali untuk melupakan? Tidur dengan lelaki lain saja bisa, kenapa melupakan seseorang yang sudah tidak menyayangi dia sulit sekali dia lupakan?
tut… tut… tut…. *kembali gue tutup telfon sepihak.
“SAYANGGG! Bobo sini, ade udah ngantuk” ucap mila teriak dari dalam.
gue yang kaget mendengar dia langsung mematikan rokok “iya sebentar…”
“gak mau! Cepetaaaaaannnnnn!” teriak dia kembali dengan nada lebih keras.
“iya de iya, jangan teriak teriak gitu malu sama tetangga!” ucap gue sambil berjalan kedalam flat.
Saat selesai cuci muka dan membersihkan badan, gue langsung masuk kedalam kamar dan melihat dia sudah tiduran, gue segera berjalan menuju kearah dia. mila tertidur disebelah kanan dengan posisi tubuh memunggungi gue.
“eh mas udah disini, kirain masih diluar” ucap dia membalikan badannya kearah gue.
“ihhh mas masa mau bobo mukanya ditutup kayak gitu, entar pengap loh…” ucap dia saat melihat wajah gue langsung dibenamkan kedalam bantal.
“nggggg nggggggg” jawab gue.
“ngomong apa sih? mas yang jelas dong..” ucap dia kembali.
“nngggggg ngggggg”
“ih gak denger massssssssssssssssss” ucap dia manja.
Gue langsung menarik muka dari bantal, saat melirik kesamping dihadapan gue sudah ada wajah dengan rambut yang masih terurai rapi. Dia tersenyum manis dengan posisi tidur menyamping disamping gue. Gue menatap wajah dia tanpa berani melihat ke bagian bawah.
“kenapa sayang?” tanya mila.
“i.. itu celanamu sayang” ucap gue gugup.
“celana? Kenapa? Kan semalem juga aku pake celana kayak gini, emang mas gak tau?” tanya dia.
“eh.. iya gitu? Aduuh mas gak tau de” jawab gue pura pura.
“aahhhhhh, pasti bukan itu kan yang mas mau tanyain? Apa hayoo?” tanya dia dengan jari telunjuknya memencet mencet hidung gue.
“nggggg ngggggggg” ucap gue kembali membenamka wajah kebantal.
“apaa sih mas?”
“nngggn nnggggggg”
“ihhhhh BUKA!” ucap dia memaksa sambil menarik bantal.
“itu de…”
“itu apa?”
“itu kok makin gede sih?”
“apanya yang makin gede?” tanya dia bingung.
“itunya sayang…” ucap gue menunjuk kearah dadanya.
“itunya apa sayaaang? Ihhh mas yang jelas ngomongnya” ucap dia sepertinya sengaja menggoda gue.
“itu dadanya” jawab gue pelan.
“iya kan BH ku dilepas mas, kemaren aja aku gak lepas soalnya capek banget pengen langsung bobok, kenapa mas gak suka ya?” tanya dia.
“eh… eh… e… enggakk kok enggakk suka suka” jawab gue.
“ya terus kenapa?”
“enggak gak kenapa napa. eh dek, emang gak apa apa kalau kita tidur sekamar terus? Kita kan belum..” ucap gue tertahan.
“belum apa? Belum nikah gitu maksudnya? Gapapa kan kita Cuma tidur berdua aja gak nyampe ngelakuin yang macem macem” ucap dia.
“yang macem macem itu yang kayak gimana dek?” tanya gue kembali.
Pletak! Mila memukul kepala gue dengan tangan kanannya “dasar mesum!”
“dek, ini tuh namanya kumpul kebol tau, gak boleh..” ucap gue.
Pletak! Kembali mila memukul kepala gue “aku bukan kebo!”
“ihh serius de, entar kalo aku gak tahan terus ngegabruk kamu gimana?” tanya gue serius.
Pletak! Dia memukul kepala gue lebih keras “gak apa apa kok, adek Cuma gak mau jauh lagi dari mas, kita kayak ginituh salah satu cara ade biar bisa ngawasin mas” ucap dia sambil memejamkan matanya di hadapan gue.
“lagian juga temen temenku banyak yang sering tidur kayak gini sama cowoknya!” ucap dia lagi.
“hah? Serius dek? Sampe ML?” tanya gue spontan.
Pletak! Mila kembali memukul kepala gue “ihh otakmu itu isinya yang jorok jorok terus!”
“I’m Happy…” ucap gue.
“aku lebih seneng lagi” jawab mila tersenyum.
Perlahan lahan bibir kita saling mendekat dan akhirnya kami berciuman, saling melumat bibir dan memang mila benar benar bisa sekali membuat gue nyaman dan dapat melupakan semua yang telah terjadi. Tubuh kita saling menghimpit, tangannya turun dari bahu menuju ketangan gue secara perlahan lahan bergerak hingga sampai kepada kedua tangan gue dan meremasnya. Sambil berciuman gue pun ikut meremas tangannya dan menggenggam tangannya erat.
Mata kami yang semua terbuka perlahan lahan mulai terpejam, genggaman tangannya kemudian lepas dan mengusap ngusap rambut gue. Perlahan lahan tangan dia kembali memegang tangan gue dan ditariknya lalu diarahkan kepada kedua dadanya.
“udah de, nanti kelepasan” ucap gue mencoba menahan nafsu dan ego yang sedang mencoba mengalahkan akal sehat gue.
“ssshhhh kenapa?” tanya dia.
“nanti ya sayang, belum saatnya” ucap gue, memang belum saatnya gue melakukan hal itu dengan dia. gue berusaha mencoba dan menahan untuk tidak melakukan hal tersebut sampai dia benar benar sah menjadi istri gue.
“cuppp” jawab dia dengan kecupan di pipi kiri gue.
Gue lalu memeluk dia dan kitapun terlelap tidur. Gue merasa seperti teman teman dikampus gue yang lainnya, yang kadang kadang sering tidur di rumah pacarnya. Bahkan rio sudah sering dengan agnas tidur berdua seperti ini, entah mereka memang salig sayang atau sedang mencari kehangatan. Tapi yang jelas gue sekarang sedang disini dengan mila dan tak ingin jauh lagi dari dia, gue ingin selalu dekat dengan dia sampai kita tua nanti.
“de…. Udah bobo?” ucap gue memanggil dia dari depan. Tak terdengar ada suara balasan dari dia di dalam, mungkin dia sudah tidur duluan. Saat melangkah ke tengah rumah ternyata dia sedang menonton televisi dengan serius.
“kok gak dijawab sih sayang…” ucap gue bersandar di samping dia.
“….” Tak ada balasan dari mila, dia hanya diam dan fokus memandang ke arah televisi.
“kok manyun gitu sih? jelek ah gak boleh” ucap gue sambil mengelus elus rambut dia.
“gak usah pulang aja sekalian udah!” ucap dia ngambek.
“maaf sayang… tadi bantuin benerin komputer temen yang rusak…” ucap gue berbohong kepada dia.
“adek tuh nungguin dari habis maghrib, pengen makan bareng mas juga, tuh liat masakannya udah pada dingin semua kan?!! masnya main teruuuuusssssssss!” ucap dia tanpa memandang gue berbicara dengan bibir manyun ke depan.
“iya kan tadi udah ijin dek?”
“iya tapi jangan lama lama, ini dikasih izin malah lama lama keluarnya. Heuh! Kayaknya gak betah tinggal disini sama ade!” ucap mila dengan judesnya sambil melotot kearah gue.
“iya maaf… kasian juga temenku tadi kalo gak dibantuin, skripsinya gak bakal beres beres dong sayang…” ucap gue.
“bantuin temen apaan, tadi aku telepon norman kamu lagi maen maen sama dia…” mila masih ngambek dan kembali memalingkan wajahnya ke tv.
“iya maaf sayang, kumpul kali kali doang. Udah jangan manyun gitu jelek… mmuuuaacchhh” ucap gue sambil mengecup pipinya.
“iya tapi kan… kamutuh… iiiiiiiiiiiiiihhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh” ucap dia sambil mencubit perut gue.
“awwwww sakit ade…” ucap gue mengaduh.
“udah maem dulu masnya, ade suapin cepetan…” ucap dia sambil berdiri dan menarik tangan gue kearah dapur.
Senang sekali melihat tingkah laku dia yang manja ini. wanita dengan tank-top hitam dan celana pendek berwarna coklat terlihat sangat cantik sekali malam ini. Tingkah judes tapi manjanya dia sangat dapat membuat gue melupakan sejenak masalah yang baru saja dialami.
“nih liat? Masakannya jadi pada dingin semua kan? Aaaaa cepet buka mulutnya..” ucap mila menyuapi gue.
Hari itu dia memasak ayam goreng dengan sayur cah kangkung. Memang terlihat sangat enak jika dari tampilannya. tapi saat suapan pertama masuk kedalam mulut, terasa asiinn sekali rasa ayam gorengnya saat sampai dimulut. Gue pun memaklumi itu karna dia jarang sekali memasak sendiri.
“mas kenapa? Gak enak yah?” ucap mila menyadari ada yang aneh saat gue mengunyah makanannya. Dengan tatapan bingung, dia mengunyah ayam goreng yang ada di piring, dan tiba tiba wajahnya tertunduk.
“mas! Kalo asin bilang asin! Kalo gak enak bilang gak enak!” ucap dia marah.
“masakanmu gak ada yang gak enak dek, semua pasti aku makan. Buku buku di rak juga kalo kamu goreng aku makan juga” ucap gue mencoba membuat dia untuk tidak gampang putus asa.
“udah gak usah dimakan lagi” ucap mila sambil berdiri membereskan piring dan mengecup pipi gue.
“sayang kok diem?” tanya gue, mila hanya melanjutkan mencuci piringnya.
“ya udah adek besok gorengin buku aja buat mas…” ucap dia judes.
“loh kok gitu?” tanya gue.
“katanya adek masakin apa aja mas bakal makan..” ucap dia masih dengan judesnya.
“ya gak gitu juga sayang… kalau buku digoreng kan gak enak, emang adek mau mas makan buku yang digoreng?” tanya gue, mila hanya membalas dengan menggelengkan kepala.
“udah gak usah dipikirin, besok lagi kalo ke asinan kan masih bisa dikurangin lagi garemnya, yang penting jangan berhenti mencoba, sama yang paling penting itu kamu yang mas mmmmmmmmhhhhh” ucap gue terhambat oleh bibir mila.
“brondong ku romantis banget sih… mmhhhhhh” ucap dia.
“iya, ini brondong yang gak lama lagi bakal jadi imammu” ucap gue disela sela ciuman kita.
“Bobok yu sayang ku yang jelek!” ucap dia sambil mengulurkan tangan dengan manjanya, gue hanya tersenyum kemudian membopong dia.
“baru kali ini ya ada cowok dikatain jelek terus sama pacarnya” ucap gue berpura pura memasang wajah jengkel.
“ihhhh jangan marah, ih…. Ihhh… ihhhhhh” ucap die memukul mukul dada gue dengan manjanya.
dia dengan manjanya memohon mohon agar gue tidak marah lagi. Namun akhirnya gue kalah dan memanjakan dia kembali. Senyum di bibirnya yang mempesona membuat gue semakin sayang kepada dia, walau sampai saat ini masih menyembunyikan kejadian yang baru saja gue alami dengan intan.
“mas, besok besok mainnya jangan sampe malem malem, mas kan udah punya adek. Pokoknya kalo kerja sama kuliah selese harus cepet pulang ke rumah pokoknya!” ucap dia.
“iya sayang, udah bobok udah malem..” ucap gue sambil mengecup keningnya.
saat akan beranjak keluar dari kamar dia “mas mau kemana sayang?” tanya mila.
“bobo di kamar mas” jawab gue polos, gue tak mau lagi tidur dengan dia seperti kemarin malam, sungguh tak tahan jika harus tidur seranjang dengan dia lagi.
“bobo sini ah..” ucap dia manja sekali.
“iya tapi kan sayangg…” ucap gue terhenti saat wajahnya berubah menjadi jengkel.
“iya iya deh bobo sini” ucap gue dengan gugup merebahkan diri disamping dia.
Kami berdua berpandangan dan saling melempar senyum. Tak satupun dari kami melepaskan pandangan dari mata masing masing. Benar benar membahagiakan sekali, gue berasa seperti baru menikah saja. Gue betet hidung mancung dia sambil gue goyang goyangkan ke kiri dan kekanan. Dia hanya membalas dengan senyuman dan saking gemasnya dengan senyuman dia, gue membetet hidungnya terlalu keras.
“awwww sakit masss…” ucap mila dengan suara cempreng.
“kamu gemesin sih sayang…” ucap gue kembali memencet hidungnya.
“mas mau bubu pake levis?” tanya dia sedikit menggoda.
“ya pake ini aja” jawab gue.
“ahhhh gak mau ah risih akunya, ganti sana ganti” ucap mila mendorong dorong gue untuk mengganti celana.
Gue pun berdiri dan berjalan ke kamar untuk mengganti celana yang gue kenakan dengan celana pendek. Saat kembali ke kamarnya gue jadi salah tingkah dengan keadaan ini, melihat tubuh mulus dia bisa bisa sang jendral bangun dan siap untuk perang.
“mas, bobo bobo duluan, ade mau sikat gigi dulu sama bersihin muka” ucap dia meloyor ke kamar mandi.
“ade, mas kedepan bentar ya?” ucap gue saat dia sedang melangkah ke kamar mandi.
“mas mau ngerokok ya? Katanya mau berenti mas!” ucap dia berteriak di kamar mandi.
“iya tapikan gak bisa langsung berenti gitu aja dek, ini juga mas kali kali aja ngerokok nya” ucap gue.
“iya udah jangan lama lama, ade udah ngantuk penngen bubu mas…” ucap dia dengan manjanya.
“iya sayang…. Iya…” jawab gue sambil melangkah keluar.
Mila membersihkan dirinya di kamar mandi dan gue berjalan ke luar kearah balkon. Saat ini masih tidak menyangka kalau gue akan tidur seranjang dengan dia malam ini. hanya sebatang rokok menemani gue dibalkon dengan kepulan asap yang keluar dari bibir gue.
Bagaimana keadaan intan sekarang? Sedang apa dia sekarang? Astaga kenapa gue tiba tiba khawatir dengan dia? ahhhh intan… kalau saja semuanya berjaan sesuai dengan rencana yang kita buat, pasti akhirnya dia tidak akan jadi seperti ini. Tapi untuk sekarang, hati ini sudah milik mila dan akan selamanya menjadi milik dia.
Sambil menghisap rokok gue buka buka handphone, terdapat beberapa sms dari intan yang tidak gue balas dan gue acuhkan. Gue hanya membuka buka facebook untuk update status.
Drrtt….. drt…. Drrt….. *Hp gue bergetar
Quote:
tut… tut… tut…. *telfon gue tutup sepihak.
Apa sih yang dia mau? Kenapa sulit sekali untuk melupakan? Tidur dengan lelaki lain saja bisa, kenapa melupakan seseorang yang sudah tidak menyayangi dia sulit sekali dia lupakan?
Quote:
tut… tut… tut…. *kembali gue tutup telfon sepihak.
“SAYANGGG! Bobo sini, ade udah ngantuk” ucap mila teriak dari dalam.
gue yang kaget mendengar dia langsung mematikan rokok “iya sebentar…”
“gak mau! Cepetaaaaaannnnnn!” teriak dia kembali dengan nada lebih keras.
“iya de iya, jangan teriak teriak gitu malu sama tetangga!” ucap gue sambil berjalan kedalam flat.
Saat selesai cuci muka dan membersihkan badan, gue langsung masuk kedalam kamar dan melihat dia sudah tiduran, gue segera berjalan menuju kearah dia. mila tertidur disebelah kanan dengan posisi tubuh memunggungi gue.
“eh mas udah disini, kirain masih diluar” ucap dia membalikan badannya kearah gue.
“ihhh mas masa mau bobo mukanya ditutup kayak gitu, entar pengap loh…” ucap dia saat melihat wajah gue langsung dibenamkan kedalam bantal.
“nggggg nggggggg” jawab gue.
“ngomong apa sih? mas yang jelas dong..” ucap dia kembali.
“nngggggg ngggggg”
“ih gak denger massssssssssssssssss” ucap dia manja.
Gue langsung menarik muka dari bantal, saat melirik kesamping dihadapan gue sudah ada wajah dengan rambut yang masih terurai rapi. Dia tersenyum manis dengan posisi tidur menyamping disamping gue. Gue menatap wajah dia tanpa berani melihat ke bagian bawah.
“kenapa sayang?” tanya mila.
“i.. itu celanamu sayang” ucap gue gugup.
“celana? Kenapa? Kan semalem juga aku pake celana kayak gini, emang mas gak tau?” tanya dia.
“eh.. iya gitu? Aduuh mas gak tau de” jawab gue pura pura.
“aahhhhhh, pasti bukan itu kan yang mas mau tanyain? Apa hayoo?” tanya dia dengan jari telunjuknya memencet mencet hidung gue.
“nggggg ngggggggg” ucap gue kembali membenamka wajah kebantal.
“apaa sih mas?”
“nngggn nnggggggg”
“ihhhhh BUKA!” ucap dia memaksa sambil menarik bantal.
“itu de…”
“itu apa?”
“itu kok makin gede sih?”
“apanya yang makin gede?” tanya dia bingung.
“itunya sayang…” ucap gue menunjuk kearah dadanya.
“itunya apa sayaaang? Ihhh mas yang jelas ngomongnya” ucap dia sepertinya sengaja menggoda gue.
“itu dadanya” jawab gue pelan.
“iya kan BH ku dilepas mas, kemaren aja aku gak lepas soalnya capek banget pengen langsung bobok, kenapa mas gak suka ya?” tanya dia.
“eh… eh… e… enggakk kok enggakk suka suka” jawab gue.
“ya terus kenapa?”
“enggak gak kenapa napa. eh dek, emang gak apa apa kalau kita tidur sekamar terus? Kita kan belum..” ucap gue tertahan.
“belum apa? Belum nikah gitu maksudnya? Gapapa kan kita Cuma tidur berdua aja gak nyampe ngelakuin yang macem macem” ucap dia.
“yang macem macem itu yang kayak gimana dek?” tanya gue kembali.
Pletak! Mila memukul kepala gue dengan tangan kanannya “dasar mesum!”
“dek, ini tuh namanya kumpul kebol tau, gak boleh..” ucap gue.
Pletak! Kembali mila memukul kepala gue “aku bukan kebo!”
“ihh serius de, entar kalo aku gak tahan terus ngegabruk kamu gimana?” tanya gue serius.
Pletak! Dia memukul kepala gue lebih keras “gak apa apa kok, adek Cuma gak mau jauh lagi dari mas, kita kayak ginituh salah satu cara ade biar bisa ngawasin mas” ucap dia sambil memejamkan matanya di hadapan gue.
“lagian juga temen temenku banyak yang sering tidur kayak gini sama cowoknya!” ucap dia lagi.
“hah? Serius dek? Sampe ML?” tanya gue spontan.
Pletak! Mila kembali memukul kepala gue “ihh otakmu itu isinya yang jorok jorok terus!”
“I’m Happy…” ucap gue.
“aku lebih seneng lagi” jawab mila tersenyum.
Perlahan lahan bibir kita saling mendekat dan akhirnya kami berciuman, saling melumat bibir dan memang mila benar benar bisa sekali membuat gue nyaman dan dapat melupakan semua yang telah terjadi. Tubuh kita saling menghimpit, tangannya turun dari bahu menuju ketangan gue secara perlahan lahan bergerak hingga sampai kepada kedua tangan gue dan meremasnya. Sambil berciuman gue pun ikut meremas tangannya dan menggenggam tangannya erat.
Mata kami yang semua terbuka perlahan lahan mulai terpejam, genggaman tangannya kemudian lepas dan mengusap ngusap rambut gue. Perlahan lahan tangan dia kembali memegang tangan gue dan ditariknya lalu diarahkan kepada kedua dadanya.
“udah de, nanti kelepasan” ucap gue mencoba menahan nafsu dan ego yang sedang mencoba mengalahkan akal sehat gue.
“ssshhhh kenapa?” tanya dia.
“nanti ya sayang, belum saatnya” ucap gue, memang belum saatnya gue melakukan hal itu dengan dia. gue berusaha mencoba dan menahan untuk tidak melakukan hal tersebut sampai dia benar benar sah menjadi istri gue.
“cuppp” jawab dia dengan kecupan di pipi kiri gue.
Gue lalu memeluk dia dan kitapun terlelap tidur. Gue merasa seperti teman teman dikampus gue yang lainnya, yang kadang kadang sering tidur di rumah pacarnya. Bahkan rio sudah sering dengan agnas tidur berdua seperti ini, entah mereka memang salig sayang atau sedang mencari kehangatan. Tapi yang jelas gue sekarang sedang disini dengan mila dan tak ingin jauh lagi dari dia, gue ingin selalu dekat dengan dia sampai kita tua nanti.
oktavp dan 4 lainnya memberi reputasi
5

From : Intan