- Beranda
- Stories from the Heart
Sembunyi Sembunyi Sayang
...
TS
chocolavacake
Sembunyi Sembunyi Sayang
“
No one can separate us
No one
- TSH -
No one can separate us
No one
- TSH -
Spoiler for Index:
Prolog
Gelembung 1: Ficus benjamina
Gelembung 2: Postulat Einstein
Gelembung 3: Hujan di Bulan Juni
Gelembung 4: Pesan Pertama
Gelembung 5: Jangan Kecewakan Hati yang Sedang Berlindung Kepadamu
Gelembung 6: Dipisah Jarak
Gelembung 7: Tuan Putri
Gelembung 8: Liontin
Gelembung 9: Ini Punyaku
Gelembung 10: Kecupan Kedua
Gelembung-11: Lik Tik
Gelembung 12: Begundal
Gelembung 13: Cemburu
Gelembung 14: Pengakuan
Gelembung 15: Rika dan Mutmainah
Gelembung 16: Janji
Gelembung 17: Alun-alun
Gelembung 18: Ultimatum Nafla
Gelembung 19: Gulana
Gelembung 20: Ihsan
Gelembung 21: Surat Merah Muda
Gelembung 22: Getir Kekalahan
Gelembung 23: Teman SD
Gelembung 24: Radisty Ayu Anindya
Gelembung 25: Gerimis
Gelembung 26: Erupsi
Gelembung 27: Selamat Ulang Tahun
Gelembung 28: Rencana
Gelembung 1: Ficus benjamina
Gelembung 2: Postulat Einstein
Gelembung 3: Hujan di Bulan Juni
Gelembung 4: Pesan Pertama
Gelembung 5: Jangan Kecewakan Hati yang Sedang Berlindung Kepadamu
Gelembung 6: Dipisah Jarak
Gelembung 7: Tuan Putri
Gelembung 8: Liontin
Gelembung 9: Ini Punyaku
Gelembung 10: Kecupan Kedua
Gelembung-11: Lik Tik
Gelembung 12: Begundal
Gelembung 13: Cemburu
Gelembung 14: Pengakuan
Gelembung 15: Rika dan Mutmainah
Gelembung 16: Janji
Gelembung 17: Alun-alun
Gelembung 18: Ultimatum Nafla
Gelembung 19: Gulana
Gelembung 20: Ihsan
Gelembung 21: Surat Merah Muda
Gelembung 22: Getir Kekalahan
Gelembung 23: Teman SD
Gelembung 24: Radisty Ayu Anindya
Gelembung 25: Gerimis
Gelembung 26: Erupsi
Gelembung 27: Selamat Ulang Tahun
Gelembung 28: Rencana
Spoiler for Prolog:
Apa sihyang terlintas di pikiran kalian ketika mendengar kota 'Jember'?
Anang Hermansyah? Dewi Persik? Opick? Atau Tembakau? Benar, mereka berasal dari Jember dan deretan nama itu sudah jadi langganan saat aku mencoba memperkenalkan diri dengan menyisipkan kota asalku.
Kalau kalian punya waktu, datanglah kemari. Bagiku dan mungkin bagi siapapun yang lahir di tanah ini, Jember adalah sebuah mahakarya. Kalau Bandung diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum, maka menurutku Jember diciptakan ketika Tuhan sedang berbahagia. Lihat saja, kabupaten ini memiliki wilayah dari pegunungan hingga lautan. Di daerah utara sana, membentang gagah Pegunungan Hyang dengan Gunung Argopuro sebagai atapnya. Di bagian timur, berjajar rangkaian Pegunungan Ijen yang selalu mewarnai keindahan matahari terbit di waktu fajar. Sedangkan di wilayah selatan terhampar Samudra Hindia yang katanya menjadi teritorial Ratu Pantai Selatan. Tak hanya itu, mungkin karena benar saat itu Tuhan sedang berbahagia, wilayah kami dikaruniai tanah yang subur. Padi, jagung, tembakau, kopi, kakao, serta beragam jenis tanaman dapat tumbuh di sini. Sungai Bedadung yang mengalir dari Pegunungan Hyang di bagian Tengah, Sungai Mayang yang bersumber dari Pegunungan Raung di bagian timur, dan Sungai Bondoyudo yang bersumber dari Pegunungan Semeru di bagian barat, bahu membahu membantu kami mengairi irigasi para petani. Banyak hal yang harus kalian ketahui tentang tempat kelahiranku ini, nanti akan aku ceritakan.
Tapi, selain besarnya kekayaan alam yang dianugrahkan Yang Maha Agung, ada satu hal yang membuatku selalu rindu untuk pulang.
Kenangan.
Benar, sehebat dan seagung apapun seseorang pasti memiliki kenangan, yang akan selalu tersimpan di otaknya, mambantu dalam bertahan, atau bahkan sebagai motivator untuk berjuang. Masa laluku, yang selanjutnya tertata rapi dalam gelembung-gelembung kenangan, membekas indah pada dinding-dinding putih sebuah sekolah.
Mungkin kalian sudah berulang kali membaca novel, cerpen, atau menonton film, sinetron, FTV, dengan latar belakang SMA. Akupun tidak membantah, karena seperti orang-orang bilang, SMA merupakan masa yang paling indah. Betapa tidak, topik tak terhingga selalu dapat dibahas dan menjadi gelak tawa saat reuni berlangsung. Tawa, tangis, canda, lara, cinta, setiap dari kalian pasti mengalaminya. Begitu juga aku.
Ada berjuta kisah berlatar SMA yang jauh lebih baik dan tersaji dengan apik di luar sana. Tapi ini kisahku, aku hanya ingin bercerita, berbagi gelembung kenangan yang selalu aku tutup rapat sebelumnya.
Spoiler for Gelembung 1: Ficus benjamina:
Yang aku ingat, hari itu bukanlah hari terbaikku. Karena sejak awal, aku bingung harus bagaimana.
Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah. Bukan dalam artian masuk kelas lalu belajar tentunya. Hari ini dan tiga hari setelahnya, aku dan teman-teman se angkatanku akan menjalani kegiatan tidak terlalu penting bin membosankan nomor satu, bernama Masa Orientasi Sekolah, atau yang sering kalian sebut dengan akronim ospek. Tidak terlalu penting karena mungkin hanya 25% dari kegiatan yang diselenggarakan memberi output yang langsung dirasakan oleh siswa baru. Membosankan karena hampir semua sekolah dan hampir setiap kepanitiaan mengemasnya dengan seragam. Ada sih beberapa sekolah yang melakukan kegiatan tersebut dengan kegiatan yang bermanfaat, tapi tidak banyak.
Tidak salah bila banyak yang mengatakan bahwa ospek merupakan ajang balas dendam dari pengalaman kakak kelas pada saat mereka melaksanakan ospek. Nyatanya, tidak sedikit kasus siswa atau mahasiswa baru yang mengalami cedera bahkan meninggal saat melaksanakan kegiatan tersebut. Belum lagi kasus-kasus yang tidak mendapat sorotan media. Who knows?
Jarak rumahku ke sekolah tidak terlalu jauh. Sekali naik angkot, kira-kira 20 menit. Mengenakan baju putih lengan panjang, celana bahan warna hitam, dan sepatu hitam polos, aku berangkat menuju sekolah tanpa ditemani satu temanpun. Miris bukan? Sebenarnya ada satu orang teman SD ku yang tinggal di dekat rumah dan masuk ke sekolah itu juga, namun latar belakang SMP merubah derajat kita.
Aku satu-satunya siswa dari SMP ku yang masuk ke sekolah ini. Dari sebelas orang yang mendaftar, sepuluh orang tereliminasi. Dan akhirnya, di sinilah aku berada. Terdiam sendiri di tengah hiruk pikuk siswa yang bercengkrama, tertawa, dan bergembira satu dengan lainnya.
Tiba-tiba, terdengar suara bel panjang. Para siswa baru berhamburan menuju lapangan basket setelah beberapa kakak kelas (panitia) berteriak untuk berbaris di lapangan. Kami berbaris, tidak butuh waktu lama untuk menyusun barisan. Selanjutnya, dilaksanakanlah apel pembukaan.
Aku lupa, ternyata hari itu adalah hari Pra-MOS, yang artinya hari itu belum seperti ospek yang biasanya, istilah kerennya Warming Up. Tidak ada yang menarik di hari itu. Sebelum dhuhur, kami diperbolehkan pulang, tidak lupa dengan bermacam-macam penugasan yang harus dibawa keesokan hari tentunya.
Hari itu aku mendapatkan beberapa teman baru, aku lupa siapa saja mereka. Hanya satu orang yang aku ingat, namanya Ilham.
***
Di bangku sekolah dasar, aku tergolong siswa yang pandai. Terserah kalian menganggap aku sombong atau bangga, bagiku memang tidak jelas batas antara keduanya. Sering aku didaftarkan mengikuti lomba cerdas cermat atau olimpiade tingkat kecamatan dan kabupaten. Beberapa kali aku pulang membawa piala, meskipun tidak pernah menorehkan juara satu. Aku sering curiga karena di setiap lomba pemenangnya selalu dari sekolah kota.
Waktu itu kami sedang intensif belajar menghadapi UN. Jadi hanya mata pelajaran UN saja yang diajarkan. Di tengah pelajaran, seseorang mengetuk pintu kelas, Bu Iriantini, kepala sekolah. Lalu beliau meminta ijin untuk memanggil aku dan seorang temanku ke ruang kepala sekolah.
"Ada lomba, Olimpiade MIPA tingkat karesidenan. Kalau kalian ibu daftarkan, mau?"
Aku menghela nafas, lomba lomba lomba. Kami saling beradu pandang.
"Ibu yakin kalian bisa. Hitung-hitung lomba terakhir sebelum kalian lulus. Ini lomba dari universitas, jurinya pasti netral dan soalnya pasti aman, Ji."
Ah, tahu saja Ibu apa yang ada di pikiranku.
"Yasudah, kalian boleh kembali ke kelas. Nanti ibu kabari lagi teknis lombanya bagaimana."
Kami pun kembali ke kelas. Seperti kerbau yang dicongkel hidungnya, tanpa ada pembelaan dan kata-kata, kami secara sepihak terpaksa menerima apa yang sudah direncanakan kepada kami. Hari-hari selanjutnya aku dan temanku, Yoga, harus menambah jam belajar di sekolah, karena sore harinya kami mendapat tambahan les untuk menghadapi olimpiade terkhir kami.
***
Apa faedahnya menggunakan besek (wadah tape yang terbuat dari bambu) dikepala? Apa gunanya menggunakan tali rafia sebagai pengganti ikat pinggang? Apa manfaatnya menggunakan kaos kaki berbeda warna serta tali sepatu yang berbeda warna pula? Melatih mental? Yaelah, bro,kita disini MAU menuntut ilmu, bukan mau berperang.
Aku sempat kesal melihat daftar penugasan yang diberikan kakak-kakak panitia terhormat itu. Belum lagi mereka menyajikan dengan teka teki. Contohnya manusia salju, parabola terbalik, atau buku terang. Dan yang paling aku tidak habis pikir, kami disuruh membuat kalung berliontin bawang putih. Hello, emang kita mau ngusir drakula?
***
Namanya Yoga. Lelaki bulan Januari ini kami kenal sebagai pelukis ulung. Tulisan tangannya bagus, jauh diatas rata-rata tulisan tangan kami siswa lelaki di usia itu. Sampai kami lulus SD, belum ada yang menyaingi keluwesan tangannya dalam menggores pensil atau kuas. Dari tahun ke tahun, Yoga tidak pernah lupa meninggalkan catatan sejarah dengan memajang hasil karyanya di dinding kelas. Entah kenapa ketika lulus kuliah, pria berkulit putih dengan rambut kriting ini memutuskan untuk masuk SMK, jurusan otomotif pula yang diambilnya. Aku tidak sempat bertanya karena kami berbeda sekolah saat SMP. Tapi di sini kalian jangan terlalu memikirkan Yoga. Dia hanya pemain figuran yang hanya muncul saat kami mengikuti Olimpiade MIPA.
Jam di tanganku menunjukkan pukul sebelas kurang lima menit. Ada waktu sekitar 20 menit lagi untuk menunggu pengumuman siapa saja yang lolos tahap dua kualifikasi. Aku, Yoga, dan dua guru pendampingku duduk menunggu di sebuah ruangan mirip aula. Aku mulai bosan, riuh rendah suara peserta lain tak mau kalah dengan suara deras hujan. Ah, Januari tak pernah ingkar, aku percaya hujan yang dibawanya berasal dari percik sungai di surga firdaus, nyaman dan menentramkan.
Aku keluar aula. Tak jauh berbeda dengan kondisi di dalam, di luar siswa dan guru-guru berbicara sedikit agak lantang, tak mau kalah dengan nyanyian hujan. Untungnya kampus ini memiliki koridor-koridor yang menghubungkan antar gedung, sehingga mobilitas civitasnya tak terganggu hal-hal seperti hujan ini. Aku kagum dengan tata kelolanya. Bersih dan rindang. Sejauh mata memandang, warna hijau dari dedaunan mendominasi. Aku berjalan menyusuri koridor. Sesekali mengintip ruang kuliah melalui jendela. Aneh rasanya, berbeda dengan kelas kami yang memiliki meja dan kursi, di sini setiap orang memiliki kursi sendiri-sendiri, di setiap kursi terdapat papan penopang sebagai tempat untuk menulis. Keren sekali.
Ketika akan kembali menuju aula, pandanganku tertahan pada sebuah pohon Ficus benjamina yang ditanam di antara taman-taman dekat ruang kuliah. Aku tidak peduli dengan ratusan akar gantung yang bergelayut diterpa angin atau akarnya yang menjalar tak tahu arah, mataku melekat pada sesosok perempuan di bawahnya. Perempuan, perempuan asli, asal kalian tahu kesadaranku masih mampu membedakan mana perempuan asli mana perempuan jadi-jadian.
Aku kenal seragam yang ia kenakan. Sekilas memang aneh mengapa seorang perempuan duduk di bawah pohon beringin asyik membaca sebuah buku, di tengah hujan pula. Orang-orang di sekitar kelihatannya tidak terlalu peduli apa yang ia lakukan. Tapi aku melihat berbeda. Di usiaku yang saat itu baru 13 tahun, aku hanya penasaran apa yang dia lakukan. Cantik, putih kulitnya, wajahnya tak acuh melihat sekitar kakinya basah akibat percikan air hujan. Sesekali rambut panjang bergelombangnya diaturnya agar tak menutup telinga.
Lalu sedetik kemudian, panorama pohon yang dicap angker oleh masyarakat awam itu mendadak bercahaya. Otot pipi di sekitar mulutku bergerak tanpa komando, aku tersenyum. Betapa tidak, di sana, delapan meter dari tempat aku berdiri, perempuan itu seketika tersenyum di tengah ia membaca. Aih, apa pula itu sepasang lesung pipi muncul tiba-tiba.
Manisnya.
***
Karena semalam aku tidur agak larut dari biasanya, hari ini aku datang hampir telat. Menyiapkan segala penugasan bukan hal yang mudah. Ayah ibuku sedang di rumah saudara rewang pernikahan sepupuku. Rumah Ilham jauh, buang waktu juga bila aku harus kesana. Akhirnya aku persiapkan sendiri semuanya.
Meskipun hari pertama, sejak langkah kami masuk gerbang sekolah sudah disuguhkan dengan teriakan dan tatapan tajam senior. Sebenarnya aku tidak terlalu terpengaruh karena aku sudah hafal jalan ceritanya. Namun daripada aku dianggap berbuat onar, aku terima saja apa yang mereka lakukan.
Hari itu kami full di luar. Setelah apel pagi, kami diajak berkeliling mengenal berbagai ruangan yang ada di sana. Satu setengah jam kami berdiri dan berjalan sambil mencatat apa saja yang kami temukan.
Agak bingung sebenarnya ketika kegiatan selanjutnya dimulai. Kami dibagi menjadi beberapa regu lalu disuruh berlari kembali menuju lapangan. Aku dan Ilham ada di regu yang sama. Lalu datanglah dua senior yang mengambil alih barisan. Ya, di tengah sinar matahari yang mulai terik, kami dikomando untuk berlatih baris-berbaris.
Sayang, hari itu bukan hari baikku. Awalnya aku biasa saja dan mengikuti setiap komando yang diberikan. Tapi setelah 15 menit, aku merasa ada yang aneh. Berkali-kali aku menelan ludah. Sinar matahari berasa sangat tajam menusuk kulit. Keringat dingin tiba-tiba keluar tanpa diduga.
“Ji, kenapa?”
Aku menggelengkan kepala menjawab bisikan Ilham. Baru ingat ternyata sejak kemarin sore aku belum makan sesuap nasi.
Sial. Sakit kepala menggerogoti kesadaranku. Seketika rasa sakit dari lambung tak mau kalah menyiksa. Aku mencoba bertahan, berharap kegiatan konyol ini segera berakhir. Tapi apa daya, pandanganku tiba-tiba diambil alih oleh sebuah cahaya hitam, semakin lama semakin menutup kelopak mataku. Bruk! Aku terjatuh. Di tengah gelap aku sempat mendengar suara Ilham memanggil namaku. Aku pingsan.
Ketika tersadar, aku sedang berbaring di UKS sekolah. Menyadari aku sudah siuman, petugas UKS menghampiriku.
“Belum makan ya, Mas?”
Aku nyengir, malu sendiri pingsan hanya gara – gara belum mengisi perut. Lalu mbak-mbak petugas UKS tadi memeriksa tekanan darahku.
“Normal kok,” katanya sambil melepas tensimeter dari lenganku.
“Mau makan apa? Bubur mau? Yaudah saya beli dulu di kantin,” seketika mbak-mbak UKS pergi tanpa sempat aku menjawab pertanyaannya.
Hhhhh...
Aku mencoba untuk duduk meski pusing masih terasa. Ah, harusnya aku tidak lupa sarapan tadi. Ibu sih, pake acara rewang segala. Jadi ngerepotin banyak orang kan.
Ngomong-ngomong soal pingsan, aku penasaran apa hanya aku yang ada di ruangan ini. Dua tempat tidur di sebrang tempatku tidak ada siapa-siapa. Cuma seorang perempuan yang rupanya belum siuman terbaring di samping tempat tidurku. Kasihan, mungkin dia belum makan juga sepertiku.
Ruangan UKS ini tidak terlalu besar. Hanya dapat menampung empat tempat tidur. Ruangan mbak-mbak tadi dipisah dengan menggunakan sekat. Bersih. Dan layaknya ruang medis, baunya sangat khas.
Ketika mengamati ruangan ini, kepalaku sekejap seperti terkena setrum. Aku teringat sesuatu.
Perempuan, perempuan di sampingku ini, aku tidak asing dengan wajahnya. Tapi siapa. Aku mencoba mengingat-ingat siapa dia. Dahi ku kernyitkan, mata ku pejamkan, ayolah, ingat!
Kembali aku amati wajahnya. Putih. Samar-samar aku mulai mengingat. Rambut panjang bergelombang. Sepintas muncul ingatan seseorang mengatur rambut di sela telinganya. Bibir itu.
Ya!
Ficus benjamina. Lesung pipi.
Benar!
Itu pasti dia.
Gelembung 2: Postulat Einstein
Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah. Bukan dalam artian masuk kelas lalu belajar tentunya. Hari ini dan tiga hari setelahnya, aku dan teman-teman se angkatanku akan menjalani kegiatan tidak terlalu penting bin membosankan nomor satu, bernama Masa Orientasi Sekolah, atau yang sering kalian sebut dengan akronim ospek. Tidak terlalu penting karena mungkin hanya 25% dari kegiatan yang diselenggarakan memberi output yang langsung dirasakan oleh siswa baru. Membosankan karena hampir semua sekolah dan hampir setiap kepanitiaan mengemasnya dengan seragam. Ada sih beberapa sekolah yang melakukan kegiatan tersebut dengan kegiatan yang bermanfaat, tapi tidak banyak.
Tidak salah bila banyak yang mengatakan bahwa ospek merupakan ajang balas dendam dari pengalaman kakak kelas pada saat mereka melaksanakan ospek. Nyatanya, tidak sedikit kasus siswa atau mahasiswa baru yang mengalami cedera bahkan meninggal saat melaksanakan kegiatan tersebut. Belum lagi kasus-kasus yang tidak mendapat sorotan media. Who knows?
Jarak rumahku ke sekolah tidak terlalu jauh. Sekali naik angkot, kira-kira 20 menit. Mengenakan baju putih lengan panjang, celana bahan warna hitam, dan sepatu hitam polos, aku berangkat menuju sekolah tanpa ditemani satu temanpun. Miris bukan? Sebenarnya ada satu orang teman SD ku yang tinggal di dekat rumah dan masuk ke sekolah itu juga, namun latar belakang SMP merubah derajat kita.
Aku satu-satunya siswa dari SMP ku yang masuk ke sekolah ini. Dari sebelas orang yang mendaftar, sepuluh orang tereliminasi. Dan akhirnya, di sinilah aku berada. Terdiam sendiri di tengah hiruk pikuk siswa yang bercengkrama, tertawa, dan bergembira satu dengan lainnya.
Tiba-tiba, terdengar suara bel panjang. Para siswa baru berhamburan menuju lapangan basket setelah beberapa kakak kelas (panitia) berteriak untuk berbaris di lapangan. Kami berbaris, tidak butuh waktu lama untuk menyusun barisan. Selanjutnya, dilaksanakanlah apel pembukaan.
Aku lupa, ternyata hari itu adalah hari Pra-MOS, yang artinya hari itu belum seperti ospek yang biasanya, istilah kerennya Warming Up. Tidak ada yang menarik di hari itu. Sebelum dhuhur, kami diperbolehkan pulang, tidak lupa dengan bermacam-macam penugasan yang harus dibawa keesokan hari tentunya.
Hari itu aku mendapatkan beberapa teman baru, aku lupa siapa saja mereka. Hanya satu orang yang aku ingat, namanya Ilham.
***
Di bangku sekolah dasar, aku tergolong siswa yang pandai. Terserah kalian menganggap aku sombong atau bangga, bagiku memang tidak jelas batas antara keduanya. Sering aku didaftarkan mengikuti lomba cerdas cermat atau olimpiade tingkat kecamatan dan kabupaten. Beberapa kali aku pulang membawa piala, meskipun tidak pernah menorehkan juara satu. Aku sering curiga karena di setiap lomba pemenangnya selalu dari sekolah kota.
Waktu itu kami sedang intensif belajar menghadapi UN. Jadi hanya mata pelajaran UN saja yang diajarkan. Di tengah pelajaran, seseorang mengetuk pintu kelas, Bu Iriantini, kepala sekolah. Lalu beliau meminta ijin untuk memanggil aku dan seorang temanku ke ruang kepala sekolah.
"Ada lomba, Olimpiade MIPA tingkat karesidenan. Kalau kalian ibu daftarkan, mau?"
Aku menghela nafas, lomba lomba lomba. Kami saling beradu pandang.
"Ibu yakin kalian bisa. Hitung-hitung lomba terakhir sebelum kalian lulus. Ini lomba dari universitas, jurinya pasti netral dan soalnya pasti aman, Ji."
Ah, tahu saja Ibu apa yang ada di pikiranku.
"Yasudah, kalian boleh kembali ke kelas. Nanti ibu kabari lagi teknis lombanya bagaimana."
Kami pun kembali ke kelas. Seperti kerbau yang dicongkel hidungnya, tanpa ada pembelaan dan kata-kata, kami secara sepihak terpaksa menerima apa yang sudah direncanakan kepada kami. Hari-hari selanjutnya aku dan temanku, Yoga, harus menambah jam belajar di sekolah, karena sore harinya kami mendapat tambahan les untuk menghadapi olimpiade terkhir kami.
***
Apa faedahnya menggunakan besek (wadah tape yang terbuat dari bambu) dikepala? Apa gunanya menggunakan tali rafia sebagai pengganti ikat pinggang? Apa manfaatnya menggunakan kaos kaki berbeda warna serta tali sepatu yang berbeda warna pula? Melatih mental? Yaelah, bro,kita disini MAU menuntut ilmu, bukan mau berperang.
Aku sempat kesal melihat daftar penugasan yang diberikan kakak-kakak panitia terhormat itu. Belum lagi mereka menyajikan dengan teka teki. Contohnya manusia salju, parabola terbalik, atau buku terang. Dan yang paling aku tidak habis pikir, kami disuruh membuat kalung berliontin bawang putih. Hello, emang kita mau ngusir drakula?
***
Namanya Yoga. Lelaki bulan Januari ini kami kenal sebagai pelukis ulung. Tulisan tangannya bagus, jauh diatas rata-rata tulisan tangan kami siswa lelaki di usia itu. Sampai kami lulus SD, belum ada yang menyaingi keluwesan tangannya dalam menggores pensil atau kuas. Dari tahun ke tahun, Yoga tidak pernah lupa meninggalkan catatan sejarah dengan memajang hasil karyanya di dinding kelas. Entah kenapa ketika lulus kuliah, pria berkulit putih dengan rambut kriting ini memutuskan untuk masuk SMK, jurusan otomotif pula yang diambilnya. Aku tidak sempat bertanya karena kami berbeda sekolah saat SMP. Tapi di sini kalian jangan terlalu memikirkan Yoga. Dia hanya pemain figuran yang hanya muncul saat kami mengikuti Olimpiade MIPA.
Jam di tanganku menunjukkan pukul sebelas kurang lima menit. Ada waktu sekitar 20 menit lagi untuk menunggu pengumuman siapa saja yang lolos tahap dua kualifikasi. Aku, Yoga, dan dua guru pendampingku duduk menunggu di sebuah ruangan mirip aula. Aku mulai bosan, riuh rendah suara peserta lain tak mau kalah dengan suara deras hujan. Ah, Januari tak pernah ingkar, aku percaya hujan yang dibawanya berasal dari percik sungai di surga firdaus, nyaman dan menentramkan.
Aku keluar aula. Tak jauh berbeda dengan kondisi di dalam, di luar siswa dan guru-guru berbicara sedikit agak lantang, tak mau kalah dengan nyanyian hujan. Untungnya kampus ini memiliki koridor-koridor yang menghubungkan antar gedung, sehingga mobilitas civitasnya tak terganggu hal-hal seperti hujan ini. Aku kagum dengan tata kelolanya. Bersih dan rindang. Sejauh mata memandang, warna hijau dari dedaunan mendominasi. Aku berjalan menyusuri koridor. Sesekali mengintip ruang kuliah melalui jendela. Aneh rasanya, berbeda dengan kelas kami yang memiliki meja dan kursi, di sini setiap orang memiliki kursi sendiri-sendiri, di setiap kursi terdapat papan penopang sebagai tempat untuk menulis. Keren sekali.
Ketika akan kembali menuju aula, pandanganku tertahan pada sebuah pohon Ficus benjamina yang ditanam di antara taman-taman dekat ruang kuliah. Aku tidak peduli dengan ratusan akar gantung yang bergelayut diterpa angin atau akarnya yang menjalar tak tahu arah, mataku melekat pada sesosok perempuan di bawahnya. Perempuan, perempuan asli, asal kalian tahu kesadaranku masih mampu membedakan mana perempuan asli mana perempuan jadi-jadian.
Aku kenal seragam yang ia kenakan. Sekilas memang aneh mengapa seorang perempuan duduk di bawah pohon beringin asyik membaca sebuah buku, di tengah hujan pula. Orang-orang di sekitar kelihatannya tidak terlalu peduli apa yang ia lakukan. Tapi aku melihat berbeda. Di usiaku yang saat itu baru 13 tahun, aku hanya penasaran apa yang dia lakukan. Cantik, putih kulitnya, wajahnya tak acuh melihat sekitar kakinya basah akibat percikan air hujan. Sesekali rambut panjang bergelombangnya diaturnya agar tak menutup telinga.
Lalu sedetik kemudian, panorama pohon yang dicap angker oleh masyarakat awam itu mendadak bercahaya. Otot pipi di sekitar mulutku bergerak tanpa komando, aku tersenyum. Betapa tidak, di sana, delapan meter dari tempat aku berdiri, perempuan itu seketika tersenyum di tengah ia membaca. Aih, apa pula itu sepasang lesung pipi muncul tiba-tiba.
Manisnya.
***
Karena semalam aku tidur agak larut dari biasanya, hari ini aku datang hampir telat. Menyiapkan segala penugasan bukan hal yang mudah. Ayah ibuku sedang di rumah saudara rewang pernikahan sepupuku. Rumah Ilham jauh, buang waktu juga bila aku harus kesana. Akhirnya aku persiapkan sendiri semuanya.
Meskipun hari pertama, sejak langkah kami masuk gerbang sekolah sudah disuguhkan dengan teriakan dan tatapan tajam senior. Sebenarnya aku tidak terlalu terpengaruh karena aku sudah hafal jalan ceritanya. Namun daripada aku dianggap berbuat onar, aku terima saja apa yang mereka lakukan.
Hari itu kami full di luar. Setelah apel pagi, kami diajak berkeliling mengenal berbagai ruangan yang ada di sana. Satu setengah jam kami berdiri dan berjalan sambil mencatat apa saja yang kami temukan.
Agak bingung sebenarnya ketika kegiatan selanjutnya dimulai. Kami dibagi menjadi beberapa regu lalu disuruh berlari kembali menuju lapangan. Aku dan Ilham ada di regu yang sama. Lalu datanglah dua senior yang mengambil alih barisan. Ya, di tengah sinar matahari yang mulai terik, kami dikomando untuk berlatih baris-berbaris.
Sayang, hari itu bukan hari baikku. Awalnya aku biasa saja dan mengikuti setiap komando yang diberikan. Tapi setelah 15 menit, aku merasa ada yang aneh. Berkali-kali aku menelan ludah. Sinar matahari berasa sangat tajam menusuk kulit. Keringat dingin tiba-tiba keluar tanpa diduga.
“Ji, kenapa?”
Aku menggelengkan kepala menjawab bisikan Ilham. Baru ingat ternyata sejak kemarin sore aku belum makan sesuap nasi.
Sial. Sakit kepala menggerogoti kesadaranku. Seketika rasa sakit dari lambung tak mau kalah menyiksa. Aku mencoba bertahan, berharap kegiatan konyol ini segera berakhir. Tapi apa daya, pandanganku tiba-tiba diambil alih oleh sebuah cahaya hitam, semakin lama semakin menutup kelopak mataku. Bruk! Aku terjatuh. Di tengah gelap aku sempat mendengar suara Ilham memanggil namaku. Aku pingsan.
Ketika tersadar, aku sedang berbaring di UKS sekolah. Menyadari aku sudah siuman, petugas UKS menghampiriku.
“Belum makan ya, Mas?”
Aku nyengir, malu sendiri pingsan hanya gara – gara belum mengisi perut. Lalu mbak-mbak petugas UKS tadi memeriksa tekanan darahku.
“Normal kok,” katanya sambil melepas tensimeter dari lenganku.
“Mau makan apa? Bubur mau? Yaudah saya beli dulu di kantin,” seketika mbak-mbak UKS pergi tanpa sempat aku menjawab pertanyaannya.
Hhhhh...
Aku mencoba untuk duduk meski pusing masih terasa. Ah, harusnya aku tidak lupa sarapan tadi. Ibu sih, pake acara rewang segala. Jadi ngerepotin banyak orang kan.
Ngomong-ngomong soal pingsan, aku penasaran apa hanya aku yang ada di ruangan ini. Dua tempat tidur di sebrang tempatku tidak ada siapa-siapa. Cuma seorang perempuan yang rupanya belum siuman terbaring di samping tempat tidurku. Kasihan, mungkin dia belum makan juga sepertiku.
Ruangan UKS ini tidak terlalu besar. Hanya dapat menampung empat tempat tidur. Ruangan mbak-mbak tadi dipisah dengan menggunakan sekat. Bersih. Dan layaknya ruang medis, baunya sangat khas.
Ketika mengamati ruangan ini, kepalaku sekejap seperti terkena setrum. Aku teringat sesuatu.
Perempuan, perempuan di sampingku ini, aku tidak asing dengan wajahnya. Tapi siapa. Aku mencoba mengingat-ingat siapa dia. Dahi ku kernyitkan, mata ku pejamkan, ayolah, ingat!
Kembali aku amati wajahnya. Putih. Samar-samar aku mulai mengingat. Rambut panjang bergelombang. Sepintas muncul ingatan seseorang mengatur rambut di sela telinganya. Bibir itu.
Ya!
Ficus benjamina. Lesung pipi.
Benar!
Itu pasti dia.
Gelembung 2: Postulat Einstein
Diubah oleh chocolavacake 21-11-2020 20:55
anasabila memberi reputasi
1
36K
Kutip
295
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
chocolavacake
#173
Spoiler for Gelembung 17: Alun-alun:
Kota atau kabupaten mana yang tidak memiliki alun-alun? Setiap kota di republik ini pasti memiliki setidaknya satu alun-alun. Sejak jaman kerajaan dulu, alun-alun sudah menjadi pusat kegiatan. Baik sebagai tempat berlatih perang, tempat penyelenggaraan sayembara, penyampaian titah raja pusat perdagangan maupun sebagai tempat hiburan.
Seperti kota-kota lainnya, alun-alun Jember menjadi benang merah konsep universal tentang sebuah kota di dunia. Filosofi tata kota yang membagi simbol keimanan, penghukuman, dan juga pemerintahan. Lihat saja, di sebelah barat berdiri megah sebuah masjid Baitul Amin, yang di sampingnya terdapat sebuah taman kanak-kanak tempatku belajar dulu. Di sebelah utara terdapat rumah bupati alias Pendopo Wahyawibawagraha. Di ujung lainnya di arah yang sama, terbangun sebuah hotel prodeo yang katanya sudah ada sejak tahun 1883. Di arah timur berjajar kantor cabang sejumlah bank. Dan di sisi selatan berdirilah kantor pemerintahan dengan sebuah monumen Letkol Moch. Sroedji terpampang di depannya.
Sejak dulu, titik nol Kabupaten Jember ini memang merupakan pusat kegiatan masyarakat. Tempat ini merupakan arus pertemuan dari jalan raya Jember yang merupakan pusat perniagaan, jalan dari utara yang menghubungkan Jember dan Bondowoso, dan jalan dari selatan yang menghubungkan Jember dan Banyuwangi. Letak yang strategis ini menjadikan alun-alun Jember selalu menjadi keramaian. Terlebih dengan kebijakan pemerintah Jember yang menjadikan alun-alun menjadi taman bermain.
Di sini, minggu pagi adalah surga bagi kebanyakan orang. Semua jalan yang menuju alun-alun ditutup sementara. Memanjakan penikmat pagi di alun-alun untuk menghirup udara tanpa campuran asap kendaraan. Istilah sekarang menyebutnya Car Free Day. Ada yang berolah raga, jalan-jalan, bersepeda, menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga, atau bahkan sekedar duduk-duduk sambil menikmati udara pagi. Akupun sama, di alun-alun, aku akan bertemu Tuan Putriku pagi ini.
“Ketemu di mana, Ji?” kata Rama sembari memarkirkan motornya.
“Katanya sih depan Telkom, gatau deh sudah dateng apa belum.”
“Nggak bawa hp emang?”
“Ketinggalan di tempatmu, dari semalem aku cas soalnya.”
Rama menggelengkan kepalanya, entah apa yang ia pikirkan di kepala bundarnya itu.
Setelah sedikit melakukan pemanasan, aku dan Rama memulai aktivitas pagi itu dengan berlari-lari kecil mengitari alun-alun. Suasana pagi itu sangat menyegarkan. Langit di udara seperti mendukung karena tak satu pun awan tampak menggantung di sana. Membuat sinar mentari leluasa menghangatkan tubuh kami agar mengeluarkan keringat.
Tak sampai satu putaran penuh, langkah kaki kami terhenti oleh sebuah suara yang memanggil namaku. Kuatur nafasku yang terasa agak berat. Rama ikut berhenti dan berdiri di sampingku.
“Naya, Ji,” ucap Rama sambil menunjuk tempat Naya dan Nafla berdiri.
Aku sedikit pangling, Naya benar-benar tahu cara berpakaian. Kali ini ia mengenakan kerudung hitam, jaket putih, celana training, dan sepatu kets. Mungkin caraku mendeskripsikannya terlalu sederhana, karena aku tak terlalu mengerti jenis jaket, kerudung, ataupun celana training yang ia kenakan. Tapi yang pasti, dia terlihat menawan. Ya iyalah.
“Udah lama kalian?”
“Nggak kok, baru lari satu puteran,” jawabku.
“Yawes aku joging duluan ya Nay,” tiba-tiba Nafla meninggalkan kami, disusul Rama yang ikut berlari tanpa permisi.
Daaan, di sinilah kami.
Kencan pertama di pagi hari.
“Mau lari lagi nggak, Ji?”
“Emm ntar aja deh, tapi kalo kamu mau aku temenin nggak papa.”
“Nggak deh, aku cuma nemenin Nafla aja sebenernya. Lagian aku lagi dapet nih. Nggak biasa jogging pas lagi dapet. Hehe.”
“Dapet? Dapet apaan Nay? Bagi-bagi dong kalo dapet rejeki,” kataku bercanda.
“Apaan sih Ji, nggak lucu tau,” ucapnya sambil tertawa.
Kami berjalan santai di depan kantor kabupaten. Ratusan orang berlalu lalang untuk berjalan, berlari, atau bersepeda. Dentuman musik aerobik menemani langkah kami pagi itu. Kulihat, cukup banyak orang yang melakukan senam aerobik meskipun gerakannya morat-marit, tak serasi antara kiri dan kanan saat mengikuri gerakan instruktur.
“Ke sana saja yuk, Ji. Laper nih,” Naya menunjuk sebuah jalan yang dipadati oleh banyak orang.
Aku mengiyakan saja, demi kamu, apasih yang nggak.
Minggu pagi, di sepanjang Jalan Kartini, tepatnya di pertigaan Jalan Dewi Sartika hingga alun-alun sana, ditutup sementara. Pasalnya terdapat pasar kaget di sepanjang jalan itu. Lapak pedagang kaki lima berjajar rapat seakan tak memberikan celah untuk pejalan kaki, mulai dari jajanan pasar seperti cenil, klepon, horog-horogsampai jajanan modern macam hamburger mini ada di sana. Penyedia jasa becak odong-odong dan helikopter berputar, kolam pancing ikan anak-anak juga turut serta, ditemani dengan lagi anak-anak yang booming sejak tahun 90an. Bibit tanaman, sate, es campur, dan hampir segala makanan dan minuman asli Jember ada di sana.
Kalau IPB punya pasar kaget Babakan atau UGM dengan Sunmor UGMnya, Jember punya pasar kaget ini. Uniknya, pasar kaget ini tak memiliki nama atau kegiatan, mengalir begitu saja sejak era Bupati Samsul Hadi Siswoyo. Pedagang hanya membayar uang retribusi minimal Rp 500 perminggunya sebagai uang kebersihan. Kalau kalian mampir ke sini, sebaiknya datang sekitar pukul 06.00-08.30, di samping udara masih segar dan sejuk, kuliner atau pedagang yang dituju biasanya masih ada sekitar jam-jam itu.
“Mau makan apa Nay?” tanyaku saat berjalan di sela-sela kerumunan orang.
“Apa ya, jangan yang berat-berat Ji.”
Aku diam sejenak, mengedarkan pandangan keluar dari kerumunan orang yang berdesakan.
“Mau jenang Nay?”
Jenang dalam bahasa Indonesia disebut bubur, orang Madura biasa menyebutnya tajin. Berbeda dengan bubur ayam, jenang di Jember biasanya terbuat dari tepung beras atau ketan hitam dan disajikan dengan santan. Jenang kesukaanku adalah jenang sapar atau bubur candil. Silakan cari di google bro kalau ingin tahu lebih detilnya.
“Lupis aja Ji, di situ,” Naya menunjuk sebuah lapak yang menjual jajanan lupis.
Setelah aku melihatnya, kuraih tangan Naya agar tak tertinggal saat melewati kerumunan ini. Kurasakan jemarinya menggenggam tanganku erat seperti biasa, membuatku tersenyum untuk waktu yang lama.
“Ibu, mau lupisnya dua dimakan sini ya bu,” kata Naya pada ibu-ibu penjual lupis saat kami tiba.
“Aku mau cenil aja Nay,” ucapku menyanggah pesanan Naya.
“Cenil satu sama lupis satu kalo gitu, Bu,” ibu itu mengangguk sambil tersenyum saat tangannya menyajikan pesaanan kami di atas daun pisang.
Di pasar-pasar banyak yang menjual jajanan pasar seperti ini, di rumahku juga ada yang penjual keliling dengan dagangan serupa. Lupis, cenil, klepon, tiwul, grontol, horog-horog, tersedia di sini. Beberapa orang biasanya suka mencampur-campur saat membeli. Serupa dengan kebiasaan ibuku saat membawakan oleh-oleh untukku dan Riana selepas dari pasar.
“Terima kasih, Bu.” Ucap Naya saat lupisnya berada di tangannya.
“Nggak mau nambah Nay?”
“Nggak ah, ini aja hehe”
“Ibuku biasanya kalo beli suka campur-campur gitu. Biar macem-macem katanya.”
“Waah ibumu suka beli juga Ji? Kalo di rumah biasanya Uti yang suka bikin beginian, apalagi grontol jagung, beh sedap deh,” ujarnya sambil mengacungkan jempol.
“Utiku jagonya bikin jajanan pasar Ji. Mulai nagasari, wajik, klepon, gethuk, cenil, lupis, semuanya bisa.”
“Kamu sendiri bisa nggak?” tanyaku.
“Emm, teorinya sih aku ngerti. Cuman prakteknya belum pernah, hehe.”
“Podo ae kalo gitu namanya.”
“Ih beda tau, nggak semua orang ngerti pengetahuan bikin jajanan pasar,” ucapnya membela diri, “Nih aku jelasin ya, klepon itu dibikin dari tepung beras ketan, terus dalemnya diisi gula merah, direbus, terus ditaburin kelapa. Lupis bikinnya ketan dikasih kapur sirih sama bahan lain, direbus, terus disajiin sama kuah gula merah. Kalo cenil itu dari tepung kanji yang direbus terus dikasih warna biar cantik, abis gitu direbus lagi sampe mateng, terus ntar dikasih parutan kelapa. Terus tiwul itu dari singkong yang ditumbuk, dikasih gula merah, dikukus, terus dikasih parutan kelapa. Kalo grontol itu dari butir jagung yang direbus sama air sama garem sampe abis, terus dicampur parutan kelapa terus dikukus, abis gitu dikasih gula pasir. Terus kalo horog-horog itu dibuat dari tepung beras, dikukus, terus diparut kasar, abis itu dikasih kelapa parut deh.
Gimana, bener kan, Bu?” tanya Naya pada ibu-ibu penjual tadi.
“Bener mbak, wes ayu, pinter nggawe jajan pisan ya,” jawab ibu itu tersenyum.
“Tuh, Ji. Ibunya aja mengakui. Gimana menurutmu? Aku udah istriable belum?” tanya Naya antusias.
“Hmm gimana ya, kalo jenang bisa nggak Nay? Aku suka jenang juga soalnya.”
“Waduh, emm, jenang ya. Emm, ntar deh aku tanya mama dulu.”
“Yaaah gagal istriable kalo gitu mah hahaha”
“Ih jahaaaat,” rengek Naya sambil mencubit pinggangku.
“Sakit Nay sakit,” kataku setenggah meringis.
“Biarin, suruh siapa!” jari Naya masih belum beranjak mencubitku.
“Hmm dicariin daritadi ternyata di sini,” tiba-tiba Nafla dan Rama memergoki kami, dengan cepat tangan Naya melepas cubitannya.
“Wong aku laper, yaudah makan aja. Mau nggak Fla?”
“Nggak ah, lagi nggak pengen. Yuk Nay pulang, ibuku minta dianterin pergi tuh,” ucap Nafla mengagetkan Naya.
“Kok pulang? Baru berapa menit juga, Naya aja belum joging,” ucapku.
“Iyanih, ntar Naya kita anterin pulang deh,” timpal Rama membantuku.
“Nggak usah deh, motorku juga dititipin di rumah Nafla. Aku pulang aja ya.”
“Yaah, yaudah deh kalo gitu,” ucapku setengah pasrah.
“Kapan-kapan kita jogging lagi ya,” Naya menambahkan perkataannya.
“Jogging ya, bukan jajan!” Rama berbicara sedikit kesal.
“Kita duluan ya Ji, Ma,” kata Naya lalu pergi bersama Nafla.
Aku dan rama mengangguk lalu melambaikan tangan. Kemudian Rama mengajakku untuk membeli es campur depan Radio Suara Kartika sambil melepas lelah.
“Naya lagi alergi ya, Ji?” tanya Rama.
“Alergi?”
“Kok mukanya agak merah gitu tadi?”
“Merah? Masa sih? Perasaaan nggak deh.”
“Oh, berarti mataku yang agak anu hehe.”
Aku memandangi mereka berjalan mengitari alun-alun, karena rumah Nafla lewat jalan Sultan Agung di utara sana. Kuamati langkahnya dari tempatku duduk, sembari menikmati es campur bersama Rama. Terbesit pertanyaan Rama barusan. Merah? Setahuku tak ada yang aneh dari Naya hari ini. Lebih cantik malah. Hmm salah lihat mungkin temanku ini.
“Nyampe segitunya ngeliatinnya Ji,” kata Rama tiba-tiba.
“Apaan sih, aku lho biasa aja,” ucapku membela diri.
Es campur di tanganku tinggal sedikit lagi. Aku tak lagi memperhatikan kedua wanita itu. Kunikmati sisa es campur tak lagi menggunakan sendok, melainkan kuminum seperti menenggak segelas air. Kebiasaanku sejak kecil.
Belum sempat menjauhkan gelas dari mulutku, seseorang secara tiba-tiba menabrak keras bahu kiriku dan membuat es campur sedikit menodai kaos yang aku kenakan. “Maaf mas,” kata lelaki itu lalu berlari pergi.
Aku tak menghiraukannya. Mataku tertuju pada sekumpulan orang yang berlari menuju arah alun-alun. Aku masih mencari tahu apa yang terjadi, namun aku kaget tak terperi. Rama sudah tak ada di sampingku. Ia meninggalkan es campur, kunci motor dan handphonenya di sini. Aku ingin menyusul ke mana ia pergi, tapi segera kuurungkan takut ia bingung saat aku tak ada di sini.
Dari tempatku duduk, kulihat sebuah kerumunan semakin menjadi-jadi di seberang jalan Bank Mandiri. Lalu rasa penasaran bercampur takut menghampiriku. Tidak biasanya ada kerumunan di sana. Naya dan Nafla tak lagi ku lihat, mungkin dia di antara kerumunan itu, atau mungkin sudah sampai di rumah Nafla. Lalu ku dengar sirine ambulan manghampiri dan sedikit membuyarkan kerumunan itu.
Ketika aku hendak berdiri karena tak tahan dengan apa yang terjadi, Rama tiba-tiba berlari ke arahku. Nafasnya terengah-engah saat berada dihadapanku. Lelaki ini jelas dari sana. Kuberikan es campur miliknya tadi,
“Ntar aja!” ucapnya sambil mengatur napas yang tak beraturan.
“Itu ada apa? Kenapa ada mobil ambulan?” tanyaku saat Rama mengeluarkan diri dari kerumunan yang berpencar.
“Ayo ikut, Ji. Cepet!” Rama menarik tanganku setelah sesaat memandangku lama, lalu berlari menuju motor yang ia parkirkan tadi.
Di tengah langkah kakiku yang terburu-buru, kusempatkan menoleh pada kerumunan itu. Kerumunan yang mulai memudar membuatku dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Nafla. Aku melihat Nafla. Aku melihatnya berkali-kali mengusap air mata sebelum ia memasuki ambulan itu. Setelah pintu tertutup, mobil putih itu bergegas pergi, menjauhi keramaian yang aku sendiri masih tak tahu apa penyebabnya.
Lalu seketika sebuah sesak membekap dadaku bersama sebuah pertanyaan yang hinggap di antara kebingunganku pagi itu.
Naya di mana?
Gelembung 18: Ultimatum Nafla
Seperti kota-kota lainnya, alun-alun Jember menjadi benang merah konsep universal tentang sebuah kota di dunia. Filosofi tata kota yang membagi simbol keimanan, penghukuman, dan juga pemerintahan. Lihat saja, di sebelah barat berdiri megah sebuah masjid Baitul Amin, yang di sampingnya terdapat sebuah taman kanak-kanak tempatku belajar dulu. Di sebelah utara terdapat rumah bupati alias Pendopo Wahyawibawagraha. Di ujung lainnya di arah yang sama, terbangun sebuah hotel prodeo yang katanya sudah ada sejak tahun 1883. Di arah timur berjajar kantor cabang sejumlah bank. Dan di sisi selatan berdirilah kantor pemerintahan dengan sebuah monumen Letkol Moch. Sroedji terpampang di depannya.
Sejak dulu, titik nol Kabupaten Jember ini memang merupakan pusat kegiatan masyarakat. Tempat ini merupakan arus pertemuan dari jalan raya Jember yang merupakan pusat perniagaan, jalan dari utara yang menghubungkan Jember dan Bondowoso, dan jalan dari selatan yang menghubungkan Jember dan Banyuwangi. Letak yang strategis ini menjadikan alun-alun Jember selalu menjadi keramaian. Terlebih dengan kebijakan pemerintah Jember yang menjadikan alun-alun menjadi taman bermain.
Di sini, minggu pagi adalah surga bagi kebanyakan orang. Semua jalan yang menuju alun-alun ditutup sementara. Memanjakan penikmat pagi di alun-alun untuk menghirup udara tanpa campuran asap kendaraan. Istilah sekarang menyebutnya Car Free Day. Ada yang berolah raga, jalan-jalan, bersepeda, menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga, atau bahkan sekedar duduk-duduk sambil menikmati udara pagi. Akupun sama, di alun-alun, aku akan bertemu Tuan Putriku pagi ini.
“Ketemu di mana, Ji?” kata Rama sembari memarkirkan motornya.
“Katanya sih depan Telkom, gatau deh sudah dateng apa belum.”
“Nggak bawa hp emang?”
“Ketinggalan di tempatmu, dari semalem aku cas soalnya.”
Rama menggelengkan kepalanya, entah apa yang ia pikirkan di kepala bundarnya itu.
Setelah sedikit melakukan pemanasan, aku dan Rama memulai aktivitas pagi itu dengan berlari-lari kecil mengitari alun-alun. Suasana pagi itu sangat menyegarkan. Langit di udara seperti mendukung karena tak satu pun awan tampak menggantung di sana. Membuat sinar mentari leluasa menghangatkan tubuh kami agar mengeluarkan keringat.
Tak sampai satu putaran penuh, langkah kaki kami terhenti oleh sebuah suara yang memanggil namaku. Kuatur nafasku yang terasa agak berat. Rama ikut berhenti dan berdiri di sampingku.
“Naya, Ji,” ucap Rama sambil menunjuk tempat Naya dan Nafla berdiri.
Aku sedikit pangling, Naya benar-benar tahu cara berpakaian. Kali ini ia mengenakan kerudung hitam, jaket putih, celana training, dan sepatu kets. Mungkin caraku mendeskripsikannya terlalu sederhana, karena aku tak terlalu mengerti jenis jaket, kerudung, ataupun celana training yang ia kenakan. Tapi yang pasti, dia terlihat menawan. Ya iyalah.

“Udah lama kalian?”
“Nggak kok, baru lari satu puteran,” jawabku.
“Yawes aku joging duluan ya Nay,” tiba-tiba Nafla meninggalkan kami, disusul Rama yang ikut berlari tanpa permisi.
Daaan, di sinilah kami.
Kencan pertama di pagi hari.
“Mau lari lagi nggak, Ji?”
“Emm ntar aja deh, tapi kalo kamu mau aku temenin nggak papa.”
“Nggak deh, aku cuma nemenin Nafla aja sebenernya. Lagian aku lagi dapet nih. Nggak biasa jogging pas lagi dapet. Hehe.”
“Dapet? Dapet apaan Nay? Bagi-bagi dong kalo dapet rejeki,” kataku bercanda.
“Apaan sih Ji, nggak lucu tau,” ucapnya sambil tertawa.
Kami berjalan santai di depan kantor kabupaten. Ratusan orang berlalu lalang untuk berjalan, berlari, atau bersepeda. Dentuman musik aerobik menemani langkah kami pagi itu. Kulihat, cukup banyak orang yang melakukan senam aerobik meskipun gerakannya morat-marit, tak serasi antara kiri dan kanan saat mengikuri gerakan instruktur.
“Ke sana saja yuk, Ji. Laper nih,” Naya menunjuk sebuah jalan yang dipadati oleh banyak orang.
Aku mengiyakan saja, demi kamu, apasih yang nggak.
Minggu pagi, di sepanjang Jalan Kartini, tepatnya di pertigaan Jalan Dewi Sartika hingga alun-alun sana, ditutup sementara. Pasalnya terdapat pasar kaget di sepanjang jalan itu. Lapak pedagang kaki lima berjajar rapat seakan tak memberikan celah untuk pejalan kaki, mulai dari jajanan pasar seperti cenil, klepon, horog-horogsampai jajanan modern macam hamburger mini ada di sana. Penyedia jasa becak odong-odong dan helikopter berputar, kolam pancing ikan anak-anak juga turut serta, ditemani dengan lagi anak-anak yang booming sejak tahun 90an. Bibit tanaman, sate, es campur, dan hampir segala makanan dan minuman asli Jember ada di sana.
Kalau IPB punya pasar kaget Babakan atau UGM dengan Sunmor UGMnya, Jember punya pasar kaget ini. Uniknya, pasar kaget ini tak memiliki nama atau kegiatan, mengalir begitu saja sejak era Bupati Samsul Hadi Siswoyo. Pedagang hanya membayar uang retribusi minimal Rp 500 perminggunya sebagai uang kebersihan. Kalau kalian mampir ke sini, sebaiknya datang sekitar pukul 06.00-08.30, di samping udara masih segar dan sejuk, kuliner atau pedagang yang dituju biasanya masih ada sekitar jam-jam itu.
“Mau makan apa Nay?” tanyaku saat berjalan di sela-sela kerumunan orang.
“Apa ya, jangan yang berat-berat Ji.”
Aku diam sejenak, mengedarkan pandangan keluar dari kerumunan orang yang berdesakan.
“Mau jenang Nay?”
Jenang dalam bahasa Indonesia disebut bubur, orang Madura biasa menyebutnya tajin. Berbeda dengan bubur ayam, jenang di Jember biasanya terbuat dari tepung beras atau ketan hitam dan disajikan dengan santan. Jenang kesukaanku adalah jenang sapar atau bubur candil. Silakan cari di google bro kalau ingin tahu lebih detilnya.
“Lupis aja Ji, di situ,” Naya menunjuk sebuah lapak yang menjual jajanan lupis.
Setelah aku melihatnya, kuraih tangan Naya agar tak tertinggal saat melewati kerumunan ini. Kurasakan jemarinya menggenggam tanganku erat seperti biasa, membuatku tersenyum untuk waktu yang lama.
“Ibu, mau lupisnya dua dimakan sini ya bu,” kata Naya pada ibu-ibu penjual lupis saat kami tiba.
“Aku mau cenil aja Nay,” ucapku menyanggah pesanan Naya.
“Cenil satu sama lupis satu kalo gitu, Bu,” ibu itu mengangguk sambil tersenyum saat tangannya menyajikan pesaanan kami di atas daun pisang.
Di pasar-pasar banyak yang menjual jajanan pasar seperti ini, di rumahku juga ada yang penjual keliling dengan dagangan serupa. Lupis, cenil, klepon, tiwul, grontol, horog-horog, tersedia di sini. Beberapa orang biasanya suka mencampur-campur saat membeli. Serupa dengan kebiasaan ibuku saat membawakan oleh-oleh untukku dan Riana selepas dari pasar.
“Terima kasih, Bu.” Ucap Naya saat lupisnya berada di tangannya.
“Nggak mau nambah Nay?”
“Nggak ah, ini aja hehe”
“Ibuku biasanya kalo beli suka campur-campur gitu. Biar macem-macem katanya.”
“Waah ibumu suka beli juga Ji? Kalo di rumah biasanya Uti yang suka bikin beginian, apalagi grontol jagung, beh sedap deh,” ujarnya sambil mengacungkan jempol.
“Utiku jagonya bikin jajanan pasar Ji. Mulai nagasari, wajik, klepon, gethuk, cenil, lupis, semuanya bisa.”
“Kamu sendiri bisa nggak?” tanyaku.
“Emm, teorinya sih aku ngerti. Cuman prakteknya belum pernah, hehe.”
“Podo ae kalo gitu namanya.”
“Ih beda tau, nggak semua orang ngerti pengetahuan bikin jajanan pasar,” ucapnya membela diri, “Nih aku jelasin ya, klepon itu dibikin dari tepung beras ketan, terus dalemnya diisi gula merah, direbus, terus ditaburin kelapa. Lupis bikinnya ketan dikasih kapur sirih sama bahan lain, direbus, terus disajiin sama kuah gula merah. Kalo cenil itu dari tepung kanji yang direbus terus dikasih warna biar cantik, abis gitu direbus lagi sampe mateng, terus ntar dikasih parutan kelapa. Terus tiwul itu dari singkong yang ditumbuk, dikasih gula merah, dikukus, terus dikasih parutan kelapa. Kalo grontol itu dari butir jagung yang direbus sama air sama garem sampe abis, terus dicampur parutan kelapa terus dikukus, abis gitu dikasih gula pasir. Terus kalo horog-horog itu dibuat dari tepung beras, dikukus, terus diparut kasar, abis itu dikasih kelapa parut deh.
Gimana, bener kan, Bu?” tanya Naya pada ibu-ibu penjual tadi.
“Bener mbak, wes ayu, pinter nggawe jajan pisan ya,” jawab ibu itu tersenyum.
“Tuh, Ji. Ibunya aja mengakui. Gimana menurutmu? Aku udah istriable belum?” tanya Naya antusias.
“Hmm gimana ya, kalo jenang bisa nggak Nay? Aku suka jenang juga soalnya.”
“Waduh, emm, jenang ya. Emm, ntar deh aku tanya mama dulu.”
“Yaaah gagal istriable kalo gitu mah hahaha”
“Ih jahaaaat,” rengek Naya sambil mencubit pinggangku.
“Sakit Nay sakit,” kataku setenggah meringis.
“Biarin, suruh siapa!” jari Naya masih belum beranjak mencubitku.
“Hmm dicariin daritadi ternyata di sini,” tiba-tiba Nafla dan Rama memergoki kami, dengan cepat tangan Naya melepas cubitannya.
“Wong aku laper, yaudah makan aja. Mau nggak Fla?”
“Nggak ah, lagi nggak pengen. Yuk Nay pulang, ibuku minta dianterin pergi tuh,” ucap Nafla mengagetkan Naya.
“Kok pulang? Baru berapa menit juga, Naya aja belum joging,” ucapku.
“Iyanih, ntar Naya kita anterin pulang deh,” timpal Rama membantuku.
“Nggak usah deh, motorku juga dititipin di rumah Nafla. Aku pulang aja ya.”
“Yaah, yaudah deh kalo gitu,” ucapku setengah pasrah.
“Kapan-kapan kita jogging lagi ya,” Naya menambahkan perkataannya.
“Jogging ya, bukan jajan!” Rama berbicara sedikit kesal.
“Kita duluan ya Ji, Ma,” kata Naya lalu pergi bersama Nafla.
Aku dan rama mengangguk lalu melambaikan tangan. Kemudian Rama mengajakku untuk membeli es campur depan Radio Suara Kartika sambil melepas lelah.
“Naya lagi alergi ya, Ji?” tanya Rama.
“Alergi?”
“Kok mukanya agak merah gitu tadi?”
“Merah? Masa sih? Perasaaan nggak deh.”
“Oh, berarti mataku yang agak anu hehe.”
Aku memandangi mereka berjalan mengitari alun-alun, karena rumah Nafla lewat jalan Sultan Agung di utara sana. Kuamati langkahnya dari tempatku duduk, sembari menikmati es campur bersama Rama. Terbesit pertanyaan Rama barusan. Merah? Setahuku tak ada yang aneh dari Naya hari ini. Lebih cantik malah. Hmm salah lihat mungkin temanku ini.
“Nyampe segitunya ngeliatinnya Ji,” kata Rama tiba-tiba.
“Apaan sih, aku lho biasa aja,” ucapku membela diri.
Es campur di tanganku tinggal sedikit lagi. Aku tak lagi memperhatikan kedua wanita itu. Kunikmati sisa es campur tak lagi menggunakan sendok, melainkan kuminum seperti menenggak segelas air. Kebiasaanku sejak kecil.
Belum sempat menjauhkan gelas dari mulutku, seseorang secara tiba-tiba menabrak keras bahu kiriku dan membuat es campur sedikit menodai kaos yang aku kenakan. “Maaf mas,” kata lelaki itu lalu berlari pergi.
Aku tak menghiraukannya. Mataku tertuju pada sekumpulan orang yang berlari menuju arah alun-alun. Aku masih mencari tahu apa yang terjadi, namun aku kaget tak terperi. Rama sudah tak ada di sampingku. Ia meninggalkan es campur, kunci motor dan handphonenya di sini. Aku ingin menyusul ke mana ia pergi, tapi segera kuurungkan takut ia bingung saat aku tak ada di sini.
Dari tempatku duduk, kulihat sebuah kerumunan semakin menjadi-jadi di seberang jalan Bank Mandiri. Lalu rasa penasaran bercampur takut menghampiriku. Tidak biasanya ada kerumunan di sana. Naya dan Nafla tak lagi ku lihat, mungkin dia di antara kerumunan itu, atau mungkin sudah sampai di rumah Nafla. Lalu ku dengar sirine ambulan manghampiri dan sedikit membuyarkan kerumunan itu.
Ketika aku hendak berdiri karena tak tahan dengan apa yang terjadi, Rama tiba-tiba berlari ke arahku. Nafasnya terengah-engah saat berada dihadapanku. Lelaki ini jelas dari sana. Kuberikan es campur miliknya tadi,
“Ntar aja!” ucapnya sambil mengatur napas yang tak beraturan.
“Itu ada apa? Kenapa ada mobil ambulan?” tanyaku saat Rama mengeluarkan diri dari kerumunan yang berpencar.
“Ayo ikut, Ji. Cepet!” Rama menarik tanganku setelah sesaat memandangku lama, lalu berlari menuju motor yang ia parkirkan tadi.
Di tengah langkah kakiku yang terburu-buru, kusempatkan menoleh pada kerumunan itu. Kerumunan yang mulai memudar membuatku dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Nafla. Aku melihat Nafla. Aku melihatnya berkali-kali mengusap air mata sebelum ia memasuki ambulan itu. Setelah pintu tertutup, mobil putih itu bergegas pergi, menjauhi keramaian yang aku sendiri masih tak tahu apa penyebabnya.
Lalu seketika sebuah sesak membekap dadaku bersama sebuah pertanyaan yang hinggap di antara kebingunganku pagi itu.
Naya di mana?
Gelembung 18: Ultimatum Nafla
Diubah oleh chocolavacake 01-08-2016 10:44
0
Kutip
Balas