TS
Synaiderix
[OriFic] The World Where We Belong
The World Where We Belong
©Synaiderix
Genre: Fantasy, Adventure, Mystery & Romance
Main Character: Cliffilya El' Aurore, Lexia Drakero, Ginz Al' Errales
Rating: Semi-M
©Synaiderix
Genre: Fantasy, Adventure, Mystery & Romance
Main Character: Cliffilya El' Aurore, Lexia Drakero, Ginz Al' Errales
Rating: Semi-M
Spoiler for Prologue:
Summary/Prologue
Quote:
Tuhan tidak pernah membenci makhluk ciptaan-Nya. Ia pun tidak pernah menciptakan iblis untuk Ia benci. Ia menempatkan mereka di neraka karena Ia terlalu mencintai ciptaan-Nya agar kelak Iblis tidak melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Ini adalah sebuah revolusi. Dimana manusia harus berbagi tempat dengan iblis di dimensi jagat alam semesta yang mereka tempati saat ini.
150 tahun lalu. Tahun 1321 masehi. Bumi digemparkan dengan kemunculan Tree of Lifedi Kota Erande. Kemunculannya ditandai gempa dahsyat yang hampir memporak-porandakan seluruh tempat di Bumi. Akibatnya separuh dari populasi manusia berkurang. Penderitaan umat manusia tidak berhenti sampai disana. Kemunculan pohon berwarna perak itu adalah awal kemunculan makhluk lainnya. Ketika buahnya matang dan jatuh ke permukaan bumi. Cahaya perak dilapis bayang hitam berkilauan disekitar buah yang terjatuh dari pohonnya. Disanalah kaum iblis menampakan dirinya dan memulai kehidupannya di Bumi.
Selama 20 tahun, perselisihan antar umat manusia dan ras iblis menyebabkan perang dahysat yang belum pernah terjadi sepanjang masa. Dikala itu manusia memenangkan perang akibat ketidakseimbangan jumlah pasukan mereka. Pasca kekalahan iblis dan 100 tahun berlalu, para manusia melakukan tindakan genosida pada ras iblis. Mereka tidak mengenal apa itu wanita atau anak-anak, karena iblis adalah ancaman nyata bagi ras manusia. Mereka terpaksa melakukan pembersihan macam genosida. Banyak manusia berpendapat, ras iblis telah punah dari muka bumi ini. Namun tidak ada yang dapat menjamin keakuratan pendapat itu.
Tugas itulah yang dibebankan Putri Kerajaan Avagrad Empire, Astrid 'Avagril' kepada Vice Chief Organisasi Kepolisian negeri itu, Lexia Drakero. Ia harus mengusut tuntas perkara kematian Ratu Avagrad 10 tahun silam. Kematian sang ratu menyisakan kesan misteri yang sulit terpecahkan.
Spoiler for Hint & Character Design:
Character Design
Quote:
Cliffilya El' Aurore
adalah salah satu jendral pasukan iblis divisi satu di masanya 100 tahun silam.
Ia terkena kutukan manusia sehingga dirinya terkurung dalam wujud manusia. Ingatan gadis itu lumpuh bersamaan dengan kutukan itu. Meskipun dahulunya dia merupakan salah satu pendekar pedang terhebat dengan pedang Devil's Blissnya. Kini ia hanya manusia biasa yang tak dapat menggunakan kekuatannya sama sekali. Hingga akhirnya ia ditemukan Elias dan mengubah dirinya menjadi makhluk setengah manusia setengah iblis.
Spoiler for Human Form:
Spoiler for Half Demon Form:
adalah salah satu jendral pasukan iblis divisi satu di masanya 100 tahun silam.
Ia terkena kutukan manusia sehingga dirinya terkurung dalam wujud manusia. Ingatan gadis itu lumpuh bersamaan dengan kutukan itu. Meskipun dahulunya dia merupakan salah satu pendekar pedang terhebat dengan pedang Devil's Blissnya. Kini ia hanya manusia biasa yang tak dapat menggunakan kekuatannya sama sekali. Hingga akhirnya ia ditemukan Elias dan mengubah dirinya menjadi makhluk setengah manusia setengah iblis.
Quote:
Ginz Al' Errales
![[OriFic] The World Where We Belong](https://dl.kaskus.id/s-media-cache-ak0.pinimg.com/564x/a6/03/0f/a6030fd1d973a4ac5d02a96371b95e34.jpg)
Pemimpin utama pasukan iblis. Ginz adalah iblis pertama yang lahir ke bumi. Kekuatannya hilang selama beratus-ratus tahun. Ia mengorbankan kekuatannya itu demi melindungi pasukannya saat puncak peperangan antara iblis dan manusia. Hingga Lucifer datang memberi kabar baik padanya tentang pertumbuhan Pohon Kehidupan (Tree of Life) yang akan memulihkan kekuatannya kembali.
Spoiler for :
![[OriFic] The World Where We Belong](https://dl.kaskus.id/s-media-cache-ak0.pinimg.com/564x/a6/03/0f/a6030fd1d973a4ac5d02a96371b95e34.jpg)
Quote:
Lexia Drakeria
Spoiler for :
[img]Image is not available yet[/img]
COMING SOONHint
Quote:
COMING SOON
Spoiler for Index:
Status: On going
Quote:
Prolog(Link)
Chapter 1: The Kingdom of Avagrad
Quote:
Chapter 1.1:The Girl Who Leapt Through Her Death (Link)
Chapter 1.2: The Princess's Dream (Link)
Chapter 1.3: Our Duty Is To Protect The Kingdom (Link)
Chapter 1.4: Kingdom's Officer and Thesis
Chapter 1.2: The Princess's Dream (Link)
Chapter 1.3: Our Duty Is To Protect The Kingdom (Link)
Chapter 1.4: Kingdom's Officer and Thesis
Chapter 2: My Memory Flew Away
Diubah oleh Synaiderix 31-03-2016 08:51
0
4K
Kutip
4
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•348Anggota
Tampilkan semua post
TS
Synaiderix
#2
Chapter 1.2: The Princess's Dream
Quote:
Jauh dari pulau bersalju tempat dimana Ilya terkapar sekarat. Terdengar derap langkah kasar di ubin berbatu. Urat pertanda bahwa emosi pria yang sedang melangkah itu tidak stabil, menyembul keluar. Tampak lebih jelas ketika sinar rembulan menyinari wajahnya.
'Sialan, Aku tidak punya cukup waktu untuk istirahat. Dan gadis kecil itu, seenaknya saja memberi perintah padaku tengah malam seperti ini. Sialan, sialan, sialan!' Rutuk lelaki itu kesal.
Langkahnya baru terhenti sampainya ia dipersimpangan koridor kastil. Tepat didepan sepasang daun pintu bercorak pohon peach. Menghela napas dengan malas. Lelaki itu lantas membuka daun pintu itu sembrono. Masih berdiri diambang pintu ketika ia menguap panjang.
"Paman Lexia!!"
Lelaki itu—Lexia Drakero. Terperanjat kaget ketika sesosok gadis datang memeluknya tiba-tiba. Membenamkan kepalanya di dadanya yang bidang. Lexia belum beres menghilangkan kantuknya. Kekesalannya semakin menjadi mendengar sebutan paman yang diperuntukannya. Umurku masih berkepala dua!
Lantas apa-apaan gadis ini? Siapa yang mengizinkannya memelukku? Hendak menghardik gadis itu namun segera Lex urungkan niatannya itu. Karena Lexia samar-samar melihat bekas garis air mata di pipi gadis itu.
Air muka Lexia yang awalnya menampilkan kekesalannya, mengendur secara sempurna. Ada apa pula dengan gadis ini?
“Ada apa Putri Astrid? Kenapa memanggilku malam-malam begini?” Lexia berkata. Napasnya ia tarik perlahan. Berusaha mengontrol emosinya. Tidak bagus. Jarang ia melihat putrinya menangis. Melihat garis air mata Astrid membuat Lexia merasakan firasat buruk.
"A-aku.." Astrid merapatkan tubuhnya dengan tubuh Lexia. Mendekap Lexia erat-erat. Darisana Lexia dapat merasakan getaran tangan sang gadis, Astrid sedang dibayangi rasa takut. Setidaknya itulah yang dipahami Lex. Tidak biasanya putrinya bertingkah begini.
“Aku.. apa? Mohon katakan padaku apa yang terjadi, Yang Mulia.”
"A-aku bermimpi buruk, Paman Lexia." Astrid berbicara parau.
"Mimpi buruk?” Ulang Lexia. Seketika itu, Lexia dapat merasakan anggukan kepala Astrid di dadanya. Hati Lexia terculas protes. Dasar anak kecil, rupanya gadis ini menangis karena mimpinya. Padahal Lexia sudah mempersiapkan setiap kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
“Mohon dengarkan aku, Yang Mulia. Tidak pantas kau membuatku khawatir hanya karena kau bermimpi buruk. Aku hanya boleh kau panggil ketika kau dalam bahaya. Mohon mengertilah, Yang Mulia.” Akhirnya kekesalannya tersampaikan juga. Lega walau ucapannya masih dalam bentuk kalimat formal.
"Tidak. Ini berbeda dari sebelumnya. Aku bermimpi kalau…" Astrid menggantungkan kalimatnya. Ia menahan napasnya ketika berusaha mengingat apa-apa yang terjadi di bunga tidurnya.
"Kalau?" Kesabaran Lexia sudah berada diujung kepala. Ini membuang-buang waktu istirahatnya.
"…Kalau Kakak akan mati dalam waktu dekat…"
Terkejut. Jelas. Lexia tidak menyangka Astird akan mengucapkan hal tabu seperti itu. Nalarnya semaksimal mungkin mencari celah kalau Putri Astrid baru saja melemparkan sebuah candaan—yang tentu saja baginya tidak lucu.
Ia tidak salah dengar kan?
Lexia mendorong tubuh Astrid. Tampaklah bulir-bulir air mata yang mengalir dari pipi sang gadis. Firasatnya benar. Ada yang tidak beres disini. Lexia memasang ekspresi muka seriusnya.
“Dengarkan aku, Astrid. Apa yang terjadi di dalam mimpimu. Lupakanlah. Mungkin itu hanya sekedar mimpi. Tapi kau tidak boleh mengatakan hal itu ke sembarang orang.” Saran Lexia penuh ketegasan. Kepala lelaki itu menengok-nengok keseluruh sudut ruangan. Memastikan tidak ada yang mendengar omongan Astrid.
Situasi akan memburuk jika ada pemberontak kerajaan yang menguping obrolan mereka.
“Kau tahu, banyak orang yang mengincar nyawa Kakakmu itu Astrid demi tahta kerajaan. Jadi aku harap kau tidak membicarakan mimpi itu ke orang selain aku. Okay?” Lexia tak lagi menyebut Astrid Yang Mulia sebab ia ingin gadis itu mencerna kalimatnya.
"Kau tidak mengerti, Lexia. Demon, Demon, Demonlah yang..." Getir Astrid terbata-bata.
"Yang Mulia.." Lexia membungkukan badannya, mengangkat dagu gadis itu seraya menyeka air matanya.
"..Tidak ada lagi Demon di dunia ini. Kita manusia. Telah memenangkan pertempuran antar ras itu lama sekali." Upaya Lexia menghimbur Tuan Putrinya nampaknya sia-sia. Terbukti ketika Astrid memalingkan mukanya.
"Lalu siapa yang membunuh Mama setelahnya?"
DEG
Lexia mengingat jelas insiden itu. Insiden saat tentara kalvari mengawal Sang Ratu pergi ke kota Nmoire. Tiba-tiba diserang oleh sekelompok makhluk misterius. Tidak ada yang selamat dari serangan itu. Saksimata bahkan tak bisa memberi kesaksian karena mendadak menjadi gila pasca insiden berdarah itu.
Karena insiden itu pula lah. Raja hilang akal sehatnya. Hingga tahtanya diwariskan secara paksa kepada putra sulungnya; Diaz Avagril. Kakak tertua Putri Astrid. Selama bertahun-tahun, insiden itu mengoreskan duka mendalam bagi kerajaan Avagrad Empire.
Rumor yang beredar bahwa Demon telah kembali menginvasi bumi sebenarnya tidak dapat dibuktikan. Karena sepengamatannya, Demon tidak lagi menunjukan tanda-tanda kehidupannya di muka bumi ini. Demon telah punah bersamaan dengan pembantaian ras iblis atau senantiasa disebut genosida pasca perang dahsyat itu.
Tapi itu semua tidak cukup untuk menutupi segala kemungkinan yang ada jika Demon masih berkeliaran di dunia ini. Itu terbukti dengan pola aneh yang ditinggalkan mayat-mayat tentara kalvari. Tiap-tiap dari mereka menyimpan symbol khas yang biasa tersemat di bendera bangsa Demon di punggung tangan mereka.
Bahkan sejak kematian para tentara kalvari itu. Lebih banyak lagi kasus kematian yang tidak dapat diungkap di Negeri Avagrad ini. Tak heran Putri Astrid kini terlihat shock bermimpi seperti itu.
"Temani aku semalaman ini." Pinta sang gadis memelas. Satu tangannya menarik lengan baju Lexia. Memastikan bahwa lelaki itu tidak akan pergi kemanapun.
"Eh?"
Apa?!
Binar-binar harap yang terpatri di iris mata Astrid mendesak Lexia untuk segera memberi jawaban. Lexia menelan air ludahnya susah payah. Kalau ketahuan. Ini akan menjadi skandal besar jika seorang Vice Chief Pusat Kepolisian Avagrad berada dalam satu ruangan yang sama dengan putri kerajaan—Astrid selama semalaman penuh.
Menolak permintaan gadis ini pun ia tak enak hati. Tak pantas ia menyepelekan mimpi Astrid mengingat gadis itu menyinggung soal kematian ibunya.
"Baiklah…" Susah payah Lexia memberi jawaban seperti itu. Alih-alih terpaksa menerima permintaan Astrid. Lexia memiliki alasan lain. Ada hal yang perlu ia gali dari Putri Astrid akan hal ini.
"Terima kasih, Lexia!" Astrid berangsur memeluk pinggang laki-laki itu. Sedang Lexia hanya bisa meringis. Ia berat hati memberikan keputusan seperti itu. Ayolah, ia hanya memiliki waktu istirahat yang sangat sedikit.
“Astrid…”
"Jangan menyuruhku tidur, aku tidak ingin mimpi itu datang lagi." Titah Astrid lebih dulu menyela. Lexia tak dapat berbuat banyak. Lex paham kekalutan yang menyelimuti hati Astrid. Tidak mungkin menyuruh Astrid tidur setelah ia bermimpi buruk seperti itu. Hal yang terbaik yang dapat ia lakukan adalah menuruti perintah Astrid. Ia menurut saja ketika tangannya ditarik Putri Astrid. Menuntun lelaki itu untuk ikut memposisikan dirinya duduk dipinggiran ranjang.
Sudah menjadi rahasia umum kalau Putri Astrid memiliki hubungan spesial dengan seorang Lexia Drakero. Tapi mereka tidak pernah berada berduaan di satu ruangan. Tak ayal, atmosfer yang tercipta diantara mereka terasa canggung.
"Kau tahu, mereka berbohong padaku." Astrid membuka topik pembicaraan. Manik matanya redup. Pertama kalinya Lexia melihat Astrid seperti tak bernafsu hidup.
"Berbohong?"
"Aku tahu apa yang sebenarnya terjadi diluarsana. Walau mereka berusaha menutupinya. Bahkan kalian, Polisi tidak tahu menahu soal itu. Hanya kau yang turut merasa curiga sama sepertiku." Kali pertama bagi Lexia mendapati Putri Astrid membawa topik serius untuk dibicarakan.
Lexia semakin mengkerutkan keningnya. Apa yang kepolisian tidak ketahui? Perlahan Lexia mulai membawa suasana ini kearah yang lebih serius.
"Lanjutkan."
"Aku mendengar rumor itu, Lexia. Kalau ibuku mati dibunuh sekumpulan Demon. Meskipun mereka berusaha mati-matian menutupi kabar itu. Aku mendengarnya! aku mengetahuinya! Aku hanya berpura-pura bertingkah seakan aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya berpura-pura bodoh! Tapi tidakkah mereka mengerti perasaanku?!" Isak Astrid histeris. Tangisnya pecah. Membuat Astrid menundukan kepalanya untuk menutupi tangisannya.
Lexia memejamkan matanya sesaat. Mengumpulkan atensinya untuk ikut merasakan gelombang emosi Astrid. Pastilah berat bagi Astrid menerima kenyataan bahwa ibunya mati dengan cara yang tidak wajar. Apalagi dalam mimpinya malam ini kakaknya mengalami hal serupa.
Telapak tangan Lexia bergerak mendorong punggung Astrid agar kembali ke dalam dekapannya. Ia mendekapnya sambil sesekali mengusap punggung sang gadis pelan. Memberi gadis itu sedikit ketenangan lewat sentuhan tangannya.
“Apalagi yang kau ketahui, Astrid?” Inilah yang Lexia maksudkan menggali informasi.
Astrid tak serta merta menjawab. Ia menghapus jejak air matanya terlebih dahulu. Mengatur ritme napasnya yang tidak beraturan. Beberapa jenak kemudian,
"W-Wellero.."
"Apa yang kau ketahui soal Wellero, Astrid?" Obrolan mereka selama beberapa saat jeda, Astrid nampaknya masih belum bisa memulihkan pikiran jernihnya. Pikiran gadis itu masih dilanda badai emosi yang hebat.
Lexia tidak memaksa gadis itu berbicara. Ia membiarkan gadis itu menghirup udara sebanyak-banyak lebih dulu. Mencari ketenangan yang bertebaran diudara. Setelah diyakinkan dirinya siap berbicara, Astrid melanjutkan,
"A-Aku mencuri informasi kalau d-dia ada kaitannya dengan kematian mama. Pihak militer menahannya atas tuduhan pemberontakan. Tapi mereka tidak mempublikasikan penahanan Wellero untuk alasan tertentu. Aku tidak tahu untuk alasan apa."
“Jadi kau memintaku mencari tahu alasan ‘dibalik’ penangkapan itu?” Lexia menyasar inti pembicaraan Astrid. Nadanya sedikit ia tekankan pada kata ‘dibalik’. Astrid mengangguk lemah setelahnya.
“U-Um.” Jemari Astrid saling bertautan cemas. Ia sepertinya benar-benar berharap Lexia dapat mengusut tuntas kasus ini.
Bola mata Lexia terangkat keatas. Memandang langit-langit ruangan yang bercorak elegan dengan warna krem. Ia mempertimbangkan keputusannya dengan alot. Tidak sembarangan menyelidiki kegiatan militer. Sedikit saja membuat kesalahan. Maka karir Lexia yang selama ini ia bangun dan perjuangkan akan runtuh dalam sekejap mata. Lexia cukup menyadari hal itu. Setelah melalui proses pertimbangan,
"Baiklah, mulai besok aku akan menginvestigasi penangkapan Wellero."
'Sialan, Aku tidak punya cukup waktu untuk istirahat. Dan gadis kecil itu, seenaknya saja memberi perintah padaku tengah malam seperti ini. Sialan, sialan, sialan!' Rutuk lelaki itu kesal.
Langkahnya baru terhenti sampainya ia dipersimpangan koridor kastil. Tepat didepan sepasang daun pintu bercorak pohon peach. Menghela napas dengan malas. Lelaki itu lantas membuka daun pintu itu sembrono. Masih berdiri diambang pintu ketika ia menguap panjang.
"Paman Lexia!!"
Lelaki itu—Lexia Drakero. Terperanjat kaget ketika sesosok gadis datang memeluknya tiba-tiba. Membenamkan kepalanya di dadanya yang bidang. Lexia belum beres menghilangkan kantuknya. Kekesalannya semakin menjadi mendengar sebutan paman yang diperuntukannya. Umurku masih berkepala dua!
Lantas apa-apaan gadis ini? Siapa yang mengizinkannya memelukku? Hendak menghardik gadis itu namun segera Lex urungkan niatannya itu. Karena Lexia samar-samar melihat bekas garis air mata di pipi gadis itu.
Air muka Lexia yang awalnya menampilkan kekesalannya, mengendur secara sempurna. Ada apa pula dengan gadis ini?
“Ada apa Putri Astrid? Kenapa memanggilku malam-malam begini?” Lexia berkata. Napasnya ia tarik perlahan. Berusaha mengontrol emosinya. Tidak bagus. Jarang ia melihat putrinya menangis. Melihat garis air mata Astrid membuat Lexia merasakan firasat buruk.
"A-aku.." Astrid merapatkan tubuhnya dengan tubuh Lexia. Mendekap Lexia erat-erat. Darisana Lexia dapat merasakan getaran tangan sang gadis, Astrid sedang dibayangi rasa takut. Setidaknya itulah yang dipahami Lex. Tidak biasanya putrinya bertingkah begini.
“Aku.. apa? Mohon katakan padaku apa yang terjadi, Yang Mulia.”
"A-aku bermimpi buruk, Paman Lexia." Astrid berbicara parau.
"Mimpi buruk?” Ulang Lexia. Seketika itu, Lexia dapat merasakan anggukan kepala Astrid di dadanya. Hati Lexia terculas protes. Dasar anak kecil, rupanya gadis ini menangis karena mimpinya. Padahal Lexia sudah mempersiapkan setiap kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
“Mohon dengarkan aku, Yang Mulia. Tidak pantas kau membuatku khawatir hanya karena kau bermimpi buruk. Aku hanya boleh kau panggil ketika kau dalam bahaya. Mohon mengertilah, Yang Mulia.” Akhirnya kekesalannya tersampaikan juga. Lega walau ucapannya masih dalam bentuk kalimat formal.
"Tidak. Ini berbeda dari sebelumnya. Aku bermimpi kalau…" Astrid menggantungkan kalimatnya. Ia menahan napasnya ketika berusaha mengingat apa-apa yang terjadi di bunga tidurnya.
"Kalau?" Kesabaran Lexia sudah berada diujung kepala. Ini membuang-buang waktu istirahatnya.
"…Kalau Kakak akan mati dalam waktu dekat…"
Terkejut. Jelas. Lexia tidak menyangka Astird akan mengucapkan hal tabu seperti itu. Nalarnya semaksimal mungkin mencari celah kalau Putri Astrid baru saja melemparkan sebuah candaan—yang tentu saja baginya tidak lucu.
Ia tidak salah dengar kan?
Lexia mendorong tubuh Astrid. Tampaklah bulir-bulir air mata yang mengalir dari pipi sang gadis. Firasatnya benar. Ada yang tidak beres disini. Lexia memasang ekspresi muka seriusnya.
“Dengarkan aku, Astrid. Apa yang terjadi di dalam mimpimu. Lupakanlah. Mungkin itu hanya sekedar mimpi. Tapi kau tidak boleh mengatakan hal itu ke sembarang orang.” Saran Lexia penuh ketegasan. Kepala lelaki itu menengok-nengok keseluruh sudut ruangan. Memastikan tidak ada yang mendengar omongan Astrid.
Situasi akan memburuk jika ada pemberontak kerajaan yang menguping obrolan mereka.
“Kau tahu, banyak orang yang mengincar nyawa Kakakmu itu Astrid demi tahta kerajaan. Jadi aku harap kau tidak membicarakan mimpi itu ke orang selain aku. Okay?” Lexia tak lagi menyebut Astrid Yang Mulia sebab ia ingin gadis itu mencerna kalimatnya.
"Kau tidak mengerti, Lexia. Demon, Demon, Demonlah yang..." Getir Astrid terbata-bata.
"Yang Mulia.." Lexia membungkukan badannya, mengangkat dagu gadis itu seraya menyeka air matanya.
"..Tidak ada lagi Demon di dunia ini. Kita manusia. Telah memenangkan pertempuran antar ras itu lama sekali." Upaya Lexia menghimbur Tuan Putrinya nampaknya sia-sia. Terbukti ketika Astrid memalingkan mukanya.
"Lalu siapa yang membunuh Mama setelahnya?"
DEG
Lexia mengingat jelas insiden itu. Insiden saat tentara kalvari mengawal Sang Ratu pergi ke kota Nmoire. Tiba-tiba diserang oleh sekelompok makhluk misterius. Tidak ada yang selamat dari serangan itu. Saksimata bahkan tak bisa memberi kesaksian karena mendadak menjadi gila pasca insiden berdarah itu.
Karena insiden itu pula lah. Raja hilang akal sehatnya. Hingga tahtanya diwariskan secara paksa kepada putra sulungnya; Diaz Avagril. Kakak tertua Putri Astrid. Selama bertahun-tahun, insiden itu mengoreskan duka mendalam bagi kerajaan Avagrad Empire.
Rumor yang beredar bahwa Demon telah kembali menginvasi bumi sebenarnya tidak dapat dibuktikan. Karena sepengamatannya, Demon tidak lagi menunjukan tanda-tanda kehidupannya di muka bumi ini. Demon telah punah bersamaan dengan pembantaian ras iblis atau senantiasa disebut genosida pasca perang dahsyat itu.
Tapi itu semua tidak cukup untuk menutupi segala kemungkinan yang ada jika Demon masih berkeliaran di dunia ini. Itu terbukti dengan pola aneh yang ditinggalkan mayat-mayat tentara kalvari. Tiap-tiap dari mereka menyimpan symbol khas yang biasa tersemat di bendera bangsa Demon di punggung tangan mereka.
Bahkan sejak kematian para tentara kalvari itu. Lebih banyak lagi kasus kematian yang tidak dapat diungkap di Negeri Avagrad ini. Tak heran Putri Astrid kini terlihat shock bermimpi seperti itu.
"Temani aku semalaman ini." Pinta sang gadis memelas. Satu tangannya menarik lengan baju Lexia. Memastikan bahwa lelaki itu tidak akan pergi kemanapun.
"Eh?"
Apa?!
Binar-binar harap yang terpatri di iris mata Astrid mendesak Lexia untuk segera memberi jawaban. Lexia menelan air ludahnya susah payah. Kalau ketahuan. Ini akan menjadi skandal besar jika seorang Vice Chief Pusat Kepolisian Avagrad berada dalam satu ruangan yang sama dengan putri kerajaan—Astrid selama semalaman penuh.
Menolak permintaan gadis ini pun ia tak enak hati. Tak pantas ia menyepelekan mimpi Astrid mengingat gadis itu menyinggung soal kematian ibunya.
"Baiklah…" Susah payah Lexia memberi jawaban seperti itu. Alih-alih terpaksa menerima permintaan Astrid. Lexia memiliki alasan lain. Ada hal yang perlu ia gali dari Putri Astrid akan hal ini.
"Terima kasih, Lexia!" Astrid berangsur memeluk pinggang laki-laki itu. Sedang Lexia hanya bisa meringis. Ia berat hati memberikan keputusan seperti itu. Ayolah, ia hanya memiliki waktu istirahat yang sangat sedikit.
“Astrid…”
"Jangan menyuruhku tidur, aku tidak ingin mimpi itu datang lagi." Titah Astrid lebih dulu menyela. Lexia tak dapat berbuat banyak. Lex paham kekalutan yang menyelimuti hati Astrid. Tidak mungkin menyuruh Astrid tidur setelah ia bermimpi buruk seperti itu. Hal yang terbaik yang dapat ia lakukan adalah menuruti perintah Astrid. Ia menurut saja ketika tangannya ditarik Putri Astrid. Menuntun lelaki itu untuk ikut memposisikan dirinya duduk dipinggiran ranjang.
Sudah menjadi rahasia umum kalau Putri Astrid memiliki hubungan spesial dengan seorang Lexia Drakero. Tapi mereka tidak pernah berada berduaan di satu ruangan. Tak ayal, atmosfer yang tercipta diantara mereka terasa canggung.
"Kau tahu, mereka berbohong padaku." Astrid membuka topik pembicaraan. Manik matanya redup. Pertama kalinya Lexia melihat Astrid seperti tak bernafsu hidup.
"Berbohong?"
"Aku tahu apa yang sebenarnya terjadi diluarsana. Walau mereka berusaha menutupinya. Bahkan kalian, Polisi tidak tahu menahu soal itu. Hanya kau yang turut merasa curiga sama sepertiku." Kali pertama bagi Lexia mendapati Putri Astrid membawa topik serius untuk dibicarakan.
Lexia semakin mengkerutkan keningnya. Apa yang kepolisian tidak ketahui? Perlahan Lexia mulai membawa suasana ini kearah yang lebih serius.
"Lanjutkan."
"Aku mendengar rumor itu, Lexia. Kalau ibuku mati dibunuh sekumpulan Demon. Meskipun mereka berusaha mati-matian menutupi kabar itu. Aku mendengarnya! aku mengetahuinya! Aku hanya berpura-pura bertingkah seakan aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya berpura-pura bodoh! Tapi tidakkah mereka mengerti perasaanku?!" Isak Astrid histeris. Tangisnya pecah. Membuat Astrid menundukan kepalanya untuk menutupi tangisannya.
Lexia memejamkan matanya sesaat. Mengumpulkan atensinya untuk ikut merasakan gelombang emosi Astrid. Pastilah berat bagi Astrid menerima kenyataan bahwa ibunya mati dengan cara yang tidak wajar. Apalagi dalam mimpinya malam ini kakaknya mengalami hal serupa.
Telapak tangan Lexia bergerak mendorong punggung Astrid agar kembali ke dalam dekapannya. Ia mendekapnya sambil sesekali mengusap punggung sang gadis pelan. Memberi gadis itu sedikit ketenangan lewat sentuhan tangannya.
“Apalagi yang kau ketahui, Astrid?” Inilah yang Lexia maksudkan menggali informasi.
Astrid tak serta merta menjawab. Ia menghapus jejak air matanya terlebih dahulu. Mengatur ritme napasnya yang tidak beraturan. Beberapa jenak kemudian,
"W-Wellero.."
"Apa yang kau ketahui soal Wellero, Astrid?" Obrolan mereka selama beberapa saat jeda, Astrid nampaknya masih belum bisa memulihkan pikiran jernihnya. Pikiran gadis itu masih dilanda badai emosi yang hebat.
Lexia tidak memaksa gadis itu berbicara. Ia membiarkan gadis itu menghirup udara sebanyak-banyak lebih dulu. Mencari ketenangan yang bertebaran diudara. Setelah diyakinkan dirinya siap berbicara, Astrid melanjutkan,
"A-Aku mencuri informasi kalau d-dia ada kaitannya dengan kematian mama. Pihak militer menahannya atas tuduhan pemberontakan. Tapi mereka tidak mempublikasikan penahanan Wellero untuk alasan tertentu. Aku tidak tahu untuk alasan apa."
“Jadi kau memintaku mencari tahu alasan ‘dibalik’ penangkapan itu?” Lexia menyasar inti pembicaraan Astrid. Nadanya sedikit ia tekankan pada kata ‘dibalik’. Astrid mengangguk lemah setelahnya.
“U-Um.” Jemari Astrid saling bertautan cemas. Ia sepertinya benar-benar berharap Lexia dapat mengusut tuntas kasus ini.
Bola mata Lexia terangkat keatas. Memandang langit-langit ruangan yang bercorak elegan dengan warna krem. Ia mempertimbangkan keputusannya dengan alot. Tidak sembarangan menyelidiki kegiatan militer. Sedikit saja membuat kesalahan. Maka karir Lexia yang selama ini ia bangun dan perjuangkan akan runtuh dalam sekejap mata. Lexia cukup menyadari hal itu. Setelah melalui proses pertimbangan,
"Baiklah, mulai besok aku akan menginvestigasi penangkapan Wellero."
Diubah oleh Synaiderix 02-04-2016 12:35
0
Kutip
Balas