TS
Synaiderix
[OriFic] The World Where We Belong
The World Where We Belong
©Synaiderix
Genre: Fantasy, Adventure, Mystery & Romance
Main Character: Cliffilya El' Aurore, Lexia Drakero, Ginz Al' Errales
Rating: Semi-M
©Synaiderix
Genre: Fantasy, Adventure, Mystery & Romance
Main Character: Cliffilya El' Aurore, Lexia Drakero, Ginz Al' Errales
Rating: Semi-M
Spoiler for Prologue:
Summary/Prologue
Quote:
Tuhan tidak pernah membenci makhluk ciptaan-Nya. Ia pun tidak pernah menciptakan iblis untuk Ia benci. Ia menempatkan mereka di neraka karena Ia terlalu mencintai ciptaan-Nya agar kelak Iblis tidak melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Ini adalah sebuah revolusi. Dimana manusia harus berbagi tempat dengan iblis di dimensi jagat alam semesta yang mereka tempati saat ini.
150 tahun lalu. Tahun 1321 masehi. Bumi digemparkan dengan kemunculan Tree of Lifedi Kota Erande. Kemunculannya ditandai gempa dahsyat yang hampir memporak-porandakan seluruh tempat di Bumi. Akibatnya separuh dari populasi manusia berkurang. Penderitaan umat manusia tidak berhenti sampai disana. Kemunculan pohon berwarna perak itu adalah awal kemunculan makhluk lainnya. Ketika buahnya matang dan jatuh ke permukaan bumi. Cahaya perak dilapis bayang hitam berkilauan disekitar buah yang terjatuh dari pohonnya. Disanalah kaum iblis menampakan dirinya dan memulai kehidupannya di Bumi.
Selama 20 tahun, perselisihan antar umat manusia dan ras iblis menyebabkan perang dahysat yang belum pernah terjadi sepanjang masa. Dikala itu manusia memenangkan perang akibat ketidakseimbangan jumlah pasukan mereka. Pasca kekalahan iblis dan 100 tahun berlalu, para manusia melakukan tindakan genosida pada ras iblis. Mereka tidak mengenal apa itu wanita atau anak-anak, karena iblis adalah ancaman nyata bagi ras manusia. Mereka terpaksa melakukan pembersihan macam genosida. Banyak manusia berpendapat, ras iblis telah punah dari muka bumi ini. Namun tidak ada yang dapat menjamin keakuratan pendapat itu.
Tugas itulah yang dibebankan Putri Kerajaan Avagrad Empire, Astrid 'Avagril' kepada Vice Chief Organisasi Kepolisian negeri itu, Lexia Drakero. Ia harus mengusut tuntas perkara kematian Ratu Avagrad 10 tahun silam. Kematian sang ratu menyisakan kesan misteri yang sulit terpecahkan.
Spoiler for Hint & Character Design:
Character Design
Quote:
Cliffilya El' Aurore
adalah salah satu jendral pasukan iblis divisi satu di masanya 100 tahun silam.
Ia terkena kutukan manusia sehingga dirinya terkurung dalam wujud manusia. Ingatan gadis itu lumpuh bersamaan dengan kutukan itu. Meskipun dahulunya dia merupakan salah satu pendekar pedang terhebat dengan pedang Devil's Blissnya. Kini ia hanya manusia biasa yang tak dapat menggunakan kekuatannya sama sekali. Hingga akhirnya ia ditemukan Elias dan mengubah dirinya menjadi makhluk setengah manusia setengah iblis.
Spoiler for Human Form:
Spoiler for Half Demon Form:
adalah salah satu jendral pasukan iblis divisi satu di masanya 100 tahun silam.
Ia terkena kutukan manusia sehingga dirinya terkurung dalam wujud manusia. Ingatan gadis itu lumpuh bersamaan dengan kutukan itu. Meskipun dahulunya dia merupakan salah satu pendekar pedang terhebat dengan pedang Devil's Blissnya. Kini ia hanya manusia biasa yang tak dapat menggunakan kekuatannya sama sekali. Hingga akhirnya ia ditemukan Elias dan mengubah dirinya menjadi makhluk setengah manusia setengah iblis.
Quote:
Ginz Al' Errales
![[OriFic] The World Where We Belong](https://dl.kaskus.id/s-media-cache-ak0.pinimg.com/564x/a6/03/0f/a6030fd1d973a4ac5d02a96371b95e34.jpg)
Pemimpin utama pasukan iblis. Ginz adalah iblis pertama yang lahir ke bumi. Kekuatannya hilang selama beratus-ratus tahun. Ia mengorbankan kekuatannya itu demi melindungi pasukannya saat puncak peperangan antara iblis dan manusia. Hingga Lucifer datang memberi kabar baik padanya tentang pertumbuhan Pohon Kehidupan (Tree of Life) yang akan memulihkan kekuatannya kembali.
Spoiler for :
![[OriFic] The World Where We Belong](https://dl.kaskus.id/s-media-cache-ak0.pinimg.com/564x/a6/03/0f/a6030fd1d973a4ac5d02a96371b95e34.jpg)
Quote:
Lexia Drakeria
Spoiler for :
[img]Image is not available yet[/img]
COMING SOONHint
Quote:
COMING SOON
Spoiler for Index:
Status: On going
Quote:
Prolog(Link)
Chapter 1: The Kingdom of Avagrad
Quote:
Chapter 1.1:The Girl Who Leapt Through Her Death (Link)
Chapter 1.2: The Princess's Dream (Link)
Chapter 1.3: Our Duty Is To Protect The Kingdom (Link)
Chapter 1.4: Kingdom's Officer and Thesis
Chapter 1.2: The Princess's Dream (Link)
Chapter 1.3: Our Duty Is To Protect The Kingdom (Link)
Chapter 1.4: Kingdom's Officer and Thesis
Chapter 2: My Memory Flew Away
Diubah oleh Synaiderix 31-03-2016 08:51
0
4K
Kutip
4
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Fanstuff
1.9KThread•350Anggota
Tampilkan semua post
TS
Synaiderix
#1
Chapter 1.1: The Girl Who Leapt Through Her Death
Author's Note: Jeda dulu yak
sekalian curhat disini, ini adalah pengembangan cerita yang pernah ane tulis dan publikasikan sebelumnya di salah satu website karya tulis f*nfiction.n*t yang barusan ane delete dikarenakan fandom2 yg tersedia di f*nfic kurang mensupport jalannya cerita fiksi ini, jd ane memilih menulis ulang di kaskus
Tulisan ane masih cupu, jd ane butuh kritik dan saran agan2 sekalian untuk menilai karya tulis ane ini
untuk jeda, walau ane udah nulis beberapa chapter&sub chapter di ms word. tetep bakal ane lakukan penyesuaian dengan kondisi thread ini
terus juga bakal ane remake semua yg udah ane tulis di ms word. jd harap dimaklumi jika ada delay
Quote:
Hembusan napasku tervisualisasikan dengan kepulan asap putih. Pertanda suhu disekitarku kian mendingin. Aku menguatkan cengkraman pada lengan gaun lusuhku dan menggosok-gosokannya untuk mempertahankan suhu tubuh.
Butir-butir salju berjatuhan menerpa permukaan kulit bumi. Kristal putih itu turun meninggalkan tahta langit dengan lebatnya. Menandakan musim dingin telah tiba.
Satu ketika angin berhembus. Tulangku seakan tertusuk oleh gletser dingin berbentuk stalaktik. Tubuhku benar-benar tak kuasa lagi membendung dinginnya suhu.
"Ah!" Pekikan terkumandang saat kakiku hilang kendalinya. Tubuhku menampar permukaan tanah terbalut tumpukan salju. Aku tak sanggup lagi melangkahkan kakiku, bahkan sekedar bangkit dari posisiku pun tak bisa. Terlalu lama aku berjalan tak tentu arah. Aku tidak tahu aku berada dimana. Ingin sekali aku meminta bantuan pada seseorang, tapi tidak ada satupun tanda-tanda kehidupan disekitarku. Meskipun aku sudah berteriak hingga tenggorokanku sakit mencari perhatian sejak 13 jam lalu.
Meringis. Aku memaki diriku sendiri dalam hati. Belum cukupkah penderitaan yang kuterima? Setelah Guru Wellero mengasingkanku ke pulau ini. Kini kakiku menolak bekerja sama denganku. Ruam-ruam biru disekitar pergelangan kakiku yang terekspos saat gaunku tersibakkan membuktikan bahwa aku terlalu memaksakan diri.
Aku melayangkan tinjuku pada tumpukan salju dengan putus asa. Tangisku hendak pecah. Namun egoku menahannya.
'Aku tidak selemah ini! Aku adalah murid guru yang kuat!' Umpatku dalam hati. Apa daya—walau demikian, darah dalam tubuhku telah membeku. Ujung kuku jariku membiru lara. Putus asa, itulah hasil dari kebuntuanku selama 13 jam mencari bantuan. Aku tidak akan berhasil bertahan hidup dengan cuaca ekstrim seperti ini. Sayup-sayup, terdengar gemeresik langkah kaki seseorang dari kejauhan.
Aku tidak bisa mengenali sosoknya. Pandanganku lebih dahulu mengabur. Kesadaranku perlahan-lahan lenyap.
'Apakah ini akhir dari hidupku? Guru, maafkan aku karena aku tidak bisa membayar jasamu selama ini.' Rasa pilu menyeruak di dada ketika batinku berbicara. Senyum miris mengakhiri kesadaranku. Semuanya berangsur gelap. Dengan sisa kesadaran yang aku punya, aku bergumam,
“Guru…”
TAP.
“Bagaimana? Apa benar dia orangnya?” Deph Freau Al’ Errales menyahut, gadis dengan rambut perak sebahu itu bertanya pada rekan lelakinya.Ekspresi wajahnya meminta kepastian. Sementara rekannya sibuk mencermati tekstur tubuh gadis yang tergeletak didepannya.
“Ya, dia lah Cliffilya El' Aurore. Ketua Clan Auroria”
Deph mengangguk mengerti.
“Jadi dia Putri yang dikutuk para manusia menjadi salah satu dari mereka. Sayang dia tidak seberuntung Lord Ginz. Kudengar dari Yang Mulia. Ingatannya tersegel bersama dengan kekuatan dan tubuhnya. Kasihan” Deph memandang intens gadis kecil bersurai perak sepinggang dihadapannya. Tangan kirinya ia ulurkan kedepan. Membawa lentera dalam genggamannya menyingkap gelapnya malam pada pahatan wajah Clifillya atau akrab disapa Ilya itu.
"Sudahlah Deph, jangan banyak bicara. Kita tidak punya banyak waktu. Kita harus mengumpulkan semua iblis yang terpecah di seluruh belahan dunia dalam waktu duabulan saja." Keluh si lelaki, Elias De Apporo. Ia menghentak-hentakan kakinya tidak sabar.
"Jangan banyak mengeluh, Elias. Kalau kau mau, bantu aku mengurus ini."
Elias berdecih, "Tidak untuk kali ini. Seharusnya kita biarkan dia mati kedinginan."
“Astaga, Elias. Sudah seratus tahun berlalu. Tidak seharusnya kau terus menyimpan amarah dendam padanya.”
Elias kembali berdecih. Ia tak sudi menolong orang yang telah menyakitinya ratusan tahun silam. Bahkan jika ia bisa. Ia ingin pergi jauh darisini. Membangkitkan iblis lain selain gadis itu. Tapi Ginz benar-benar orang yang merepotkan. Ginz lah yang membuatnya terpaksa datang kemari bersama Deph.
Deph menyerah. Ia tidak dapat memaksakan kehendaknya pada Elias. Ia tahu apa yang Elias rasakan. Meskipun dengan sifat keras kepala Elias itu kelak menjadi hambatan kerampungan pekerjaan mereka. Deph tetap takkan bisa menyalahkan lelaki itu.
Mengingat masa lalu Elias yang mencoba bangkit dari keterpurukan begitu pilu untuk diingat.
Satu helaan napas ia hembuskan. Ia lalu mensejajarkan tubuhnya dengan posisi kepala Ilya setelah meletakkan lenteranya disamping tubuh ramping sang gadis. Menatap siluet Ilya lekat-lekat. Deph mulai merapal mantra,
"The turmoil of howl pains. The madness of zealot grows unbearable. They seperate, they defy Gabriel’s order. The princess of iron fist. The doll improvely risen its charm. Unite the dark! Revolt the light! Be regenerate with Hell’s Blessing and know your own fate."
"Tear I, Black Coffin!" Serentak, aura hitam pekat berbentuk kotak mengurung mereka dalam radius beberapa meter. Beberapa makhluk lain yang turut hadir menyaksikan sihir dahsyat itu bertumbangan. Tak sanggup menahan beban sihir itu.
"Tidak akan bekerja." Remeh Elias bergumam. Matanya kian menyipit dengan skeptis. Ia salah karena membiarkan Deph bekerja sendiri. Deph akan memakan banyak waktu jika ia hanya dapat merapal sihir rendahan. Berjalan mendekati tubuh Ilya. Suara kelintingan besi dari boots hitam Elias menyertai setiap langkahnya.
Deph melirik Elias dari ekor matanya sekilas saat suara langkah Elias menyapa gendang telinganya. Melihat reaksi dan ekspresi muka lelaki itu. Gestur wajah dingin Elias melunak. Pada akhirnya Elias takkan mampu membendung rasa rindunya akan cinta.
Deph tahu, seberat apapun dendam yang Elias simpan untuk Ilya. Elias selalu menanti kepulangan Ilya. Elias merindukan sosok pasangannya. Jelas. Menyadari hal itu, hati kecil Deph tersenyum. Ia harus menyatukan bangsanya kembali setelah terpecah sekian lama untuk bertahan hidup.
Ia harus mengembalikan semuanya.
"A sword will distract a being that chanting both Demons and Humans. A gravitational fissure with the power to torn apart the two kind of different species, Tear II, Perfect Black Coffin!" Kali ini rapalan mantra terlontar dari mulut bibir Elias. Ia mengacungkan pedang broadsword miliknya tepat didepan batang hidung Cliffilya.
Dengan itu, tak satupun makhluk disekitar kotak hitam yang kini dihias ribuan pedang menancap pada dinding-dinding kotak menyadarkan diri—terkecuali Deph dan Elias tentunya.
"Kau memang tak pintar menyembunyikan rasa empatimu pada Cliffilya-'Mu' ya Elias?" Sindir Deph dengan penekanan pada suffiks 'mu'.
"Ck, aku melakukan ini karena aku tidak ingin membuang-buang waktu lebih lama disini. Putri Deph."
"Terserah katamu saja, dasar munafik." Ucap Deph tak peduli. Dalam hati ia bersorak gembira. Sedikit lagi. Sedikit lagi semuanya akan kembali seperti sedia kala. Mimpi para iblis hidup layak di dunia ini akan kembali terkobar. Deph akan menghidupkan kembali mimpi itu.
Sedikit lagi. Bunga-bunga pohon Tree of Lifebermekaran. Ras iblis akan mendapatkan kembali kekuatannya seperti saat mereka berada di Neraka. Jika tiba waktunya. Tidak akan ada manusia yang dapat mengalahkan seorang iblis pun.
Tidak akan lagi bangsa iblis menderita kekalahan.
Butir-butir salju berjatuhan menerpa permukaan kulit bumi. Kristal putih itu turun meninggalkan tahta langit dengan lebatnya. Menandakan musim dingin telah tiba.
Satu ketika angin berhembus. Tulangku seakan tertusuk oleh gletser dingin berbentuk stalaktik. Tubuhku benar-benar tak kuasa lagi membendung dinginnya suhu.
"Ah!" Pekikan terkumandang saat kakiku hilang kendalinya. Tubuhku menampar permukaan tanah terbalut tumpukan salju. Aku tak sanggup lagi melangkahkan kakiku, bahkan sekedar bangkit dari posisiku pun tak bisa. Terlalu lama aku berjalan tak tentu arah. Aku tidak tahu aku berada dimana. Ingin sekali aku meminta bantuan pada seseorang, tapi tidak ada satupun tanda-tanda kehidupan disekitarku. Meskipun aku sudah berteriak hingga tenggorokanku sakit mencari perhatian sejak 13 jam lalu.
Meringis. Aku memaki diriku sendiri dalam hati. Belum cukupkah penderitaan yang kuterima? Setelah Guru Wellero mengasingkanku ke pulau ini. Kini kakiku menolak bekerja sama denganku. Ruam-ruam biru disekitar pergelangan kakiku yang terekspos saat gaunku tersibakkan membuktikan bahwa aku terlalu memaksakan diri.
Aku melayangkan tinjuku pada tumpukan salju dengan putus asa. Tangisku hendak pecah. Namun egoku menahannya.
'Aku tidak selemah ini! Aku adalah murid guru yang kuat!' Umpatku dalam hati. Apa daya—walau demikian, darah dalam tubuhku telah membeku. Ujung kuku jariku membiru lara. Putus asa, itulah hasil dari kebuntuanku selama 13 jam mencari bantuan. Aku tidak akan berhasil bertahan hidup dengan cuaca ekstrim seperti ini. Sayup-sayup, terdengar gemeresik langkah kaki seseorang dari kejauhan.
Aku tidak bisa mengenali sosoknya. Pandanganku lebih dahulu mengabur. Kesadaranku perlahan-lahan lenyap.
'Apakah ini akhir dari hidupku? Guru, maafkan aku karena aku tidak bisa membayar jasamu selama ini.' Rasa pilu menyeruak di dada ketika batinku berbicara. Senyum miris mengakhiri kesadaranku. Semuanya berangsur gelap. Dengan sisa kesadaran yang aku punya, aku bergumam,
“Guru…”
---'X'---
TAP.
“Bagaimana? Apa benar dia orangnya?” Deph Freau Al’ Errales menyahut, gadis dengan rambut perak sebahu itu bertanya pada rekan lelakinya.Ekspresi wajahnya meminta kepastian. Sementara rekannya sibuk mencermati tekstur tubuh gadis yang tergeletak didepannya.
“Ya, dia lah Cliffilya El' Aurore. Ketua Clan Auroria”
Deph mengangguk mengerti.
“Jadi dia Putri yang dikutuk para manusia menjadi salah satu dari mereka. Sayang dia tidak seberuntung Lord Ginz. Kudengar dari Yang Mulia. Ingatannya tersegel bersama dengan kekuatan dan tubuhnya. Kasihan” Deph memandang intens gadis kecil bersurai perak sepinggang dihadapannya. Tangan kirinya ia ulurkan kedepan. Membawa lentera dalam genggamannya menyingkap gelapnya malam pada pahatan wajah Clifillya atau akrab disapa Ilya itu.
"Sudahlah Deph, jangan banyak bicara. Kita tidak punya banyak waktu. Kita harus mengumpulkan semua iblis yang terpecah di seluruh belahan dunia dalam waktu duabulan saja." Keluh si lelaki, Elias De Apporo. Ia menghentak-hentakan kakinya tidak sabar.
"Jangan banyak mengeluh, Elias. Kalau kau mau, bantu aku mengurus ini."
Elias berdecih, "Tidak untuk kali ini. Seharusnya kita biarkan dia mati kedinginan."
“Astaga, Elias. Sudah seratus tahun berlalu. Tidak seharusnya kau terus menyimpan amarah dendam padanya.”
Elias kembali berdecih. Ia tak sudi menolong orang yang telah menyakitinya ratusan tahun silam. Bahkan jika ia bisa. Ia ingin pergi jauh darisini. Membangkitkan iblis lain selain gadis itu. Tapi Ginz benar-benar orang yang merepotkan. Ginz lah yang membuatnya terpaksa datang kemari bersama Deph.
Deph menyerah. Ia tidak dapat memaksakan kehendaknya pada Elias. Ia tahu apa yang Elias rasakan. Meskipun dengan sifat keras kepala Elias itu kelak menjadi hambatan kerampungan pekerjaan mereka. Deph tetap takkan bisa menyalahkan lelaki itu.
Mengingat masa lalu Elias yang mencoba bangkit dari keterpurukan begitu pilu untuk diingat.
Satu helaan napas ia hembuskan. Ia lalu mensejajarkan tubuhnya dengan posisi kepala Ilya setelah meletakkan lenteranya disamping tubuh ramping sang gadis. Menatap siluet Ilya lekat-lekat. Deph mulai merapal mantra,
"The turmoil of howl pains. The madness of zealot grows unbearable. They seperate, they defy Gabriel’s order. The princess of iron fist. The doll improvely risen its charm. Unite the dark! Revolt the light! Be regenerate with Hell’s Blessing and know your own fate."
"Tear I, Black Coffin!" Serentak, aura hitam pekat berbentuk kotak mengurung mereka dalam radius beberapa meter. Beberapa makhluk lain yang turut hadir menyaksikan sihir dahsyat itu bertumbangan. Tak sanggup menahan beban sihir itu.
"Tidak akan bekerja." Remeh Elias bergumam. Matanya kian menyipit dengan skeptis. Ia salah karena membiarkan Deph bekerja sendiri. Deph akan memakan banyak waktu jika ia hanya dapat merapal sihir rendahan. Berjalan mendekati tubuh Ilya. Suara kelintingan besi dari boots hitam Elias menyertai setiap langkahnya.
Deph melirik Elias dari ekor matanya sekilas saat suara langkah Elias menyapa gendang telinganya. Melihat reaksi dan ekspresi muka lelaki itu. Gestur wajah dingin Elias melunak. Pada akhirnya Elias takkan mampu membendung rasa rindunya akan cinta.
Deph tahu, seberat apapun dendam yang Elias simpan untuk Ilya. Elias selalu menanti kepulangan Ilya. Elias merindukan sosok pasangannya. Jelas. Menyadari hal itu, hati kecil Deph tersenyum. Ia harus menyatukan bangsanya kembali setelah terpecah sekian lama untuk bertahan hidup.
Ia harus mengembalikan semuanya.
"A sword will distract a being that chanting both Demons and Humans. A gravitational fissure with the power to torn apart the two kind of different species, Tear II, Perfect Black Coffin!" Kali ini rapalan mantra terlontar dari mulut bibir Elias. Ia mengacungkan pedang broadsword miliknya tepat didepan batang hidung Cliffilya.
Dengan itu, tak satupun makhluk disekitar kotak hitam yang kini dihias ribuan pedang menancap pada dinding-dinding kotak menyadarkan diri—terkecuali Deph dan Elias tentunya.
"Kau memang tak pintar menyembunyikan rasa empatimu pada Cliffilya-'Mu' ya Elias?" Sindir Deph dengan penekanan pada suffiks 'mu'.
"Ck, aku melakukan ini karena aku tidak ingin membuang-buang waktu lebih lama disini. Putri Deph."
"Terserah katamu saja, dasar munafik." Ucap Deph tak peduli. Dalam hati ia bersorak gembira. Sedikit lagi. Sedikit lagi semuanya akan kembali seperti sedia kala. Mimpi para iblis hidup layak di dunia ini akan kembali terkobar. Deph akan menghidupkan kembali mimpi itu.
Sedikit lagi. Bunga-bunga pohon Tree of Lifebermekaran. Ras iblis akan mendapatkan kembali kekuatannya seperti saat mereka berada di Neraka. Jika tiba waktunya. Tidak akan ada manusia yang dapat mengalahkan seorang iblis pun.
Tidak akan lagi bangsa iblis menderita kekalahan.
Author's Note: Jeda dulu yak
sekalian curhat disini, ini adalah pengembangan cerita yang pernah ane tulis dan publikasikan sebelumnya di salah satu website karya tulis f*nfiction.n*t yang barusan ane delete dikarenakan fandom2 yg tersedia di f*nfic kurang mensupport jalannya cerita fiksi ini, jd ane memilih menulis ulang di kaskus
Tulisan ane masih cupu, jd ane butuh kritik dan saran agan2 sekalian untuk menilai karya tulis ane ini
untuk jeda, walau ane udah nulis beberapa chapter&sub chapter di ms word. tetep bakal ane lakukan penyesuaian dengan kondisi thread ini
terus juga bakal ane remake semua yg udah ane tulis di ms word. jd harap dimaklumi jika ada delay
Diubah oleh Synaiderix 02-04-2016 12:45
0
Kutip
Balas