- Beranda
- Stories from the Heart
Until The Day
...
TS
yohanaekky
Until The Day

********************************
Penantian:
(kb) Suatu kegiatan yang tidak enak untuk dilakukan menurut pengakuan setiap orang, tetapi mau tidak mau semua orang pernah melakukannya, paling tidak satu kali dalam hidupnya.
~UTD~
Terbuang. Tertolak. Menjalani kehidupan yang keras di jalanan sendirian dan kelaparan. Itulah Aporriftikhe. Dia ingin memiliki setidaknya satu orang yang mempedulikannya dan juga sebuah rumah. Namun fitnah yang telah ia terima membuat tak seorang pun mau mendekatinya. Harapannya sudah putus sehingga ia berhenti menanti. Tak seorang pun yang kunjung datang setidaknya untuk memberinya sepeser uang atau secuil roti atau sebuah kandang untuk melindunginya dari terik matahari atau hujan deras.
Hingga pada suatu hari ia terpaksa harus melakukan perbuatan tercela karena perutnya yang lapar. Namun tindakannya itu justru hampir membawanya kepada maut, jika tidak ada sebuah tangan terulur padanya dan menyelamatkan dirinya.
Tangan itu, tangan yang mengubah hidupnya. Tangan itu, tangan yang membuatnya kembali menanti dan gemar menanti. Karena tangan itu adalah harapan baginya.
© 2015. All Rights Reserved.
Written by Yohana Ekky.
INDEX:
01 IDENTITY
02 THE STRETCHED HAND
03 HOME
04 REJECTED TO ACCEPTED
05 IT'S CALLED LIFE! (PART 1)
06 IT'S CALLED LIFE! (PART 2)
07 HEART MENDING (PART 1) - a || b
08 THE ENEMY'S ATTACK - a || b
09 TAKING HER BACK
10 HE TOLD ME THE TRUTH
11 THE UNWANTED PRINCESS (PART 1) - a || b
12 THE UNWANTED PRINCESS (PART 2) -a || b
13 WILL THERE BE PEACE?
14 THERE HAS TO BE PEACE
15 THE VISION
16 DEFENSE AND WAR STRATEGY NEW!!!
Diubah oleh yohanaekky 29-06-2016 19:11
anasabila memberi reputasi
1
6.5K
96
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yohanaekky
#82
“Kurasa dia sudah pergi,” aku menyelinap keluar sambil mengipas-ngipaskan tanganku pada wajah dan leherku untuk menciptakan angin. Aku merasa sangat kepanasan tiba-tiba. Detak jantungku juga berdetak lebih kencang entah bagaimana. “Sekarang jelaskan padaku alasannya.” Aku teringat akan pertanyaanku yang belum terjawab tadi sekaligus mengalihkan situasi yang terasa canggung ini.
Sotiras bersandar di dinding luar celah tadi. Ia menjawab, “Aku tidak menyukainya.”
“Lalu mengapa kau tidak mencegahnya datang kemari?” cetusku. “Sederhana kan?”
“Ya. Tapi hanya dalam kata-kata. Dalam aslinya, tidak sederhana sama sekali.” Sotiras menyibakkan rambutnya yang diterpa angin menutupi sebagian wajahnya. “Raja adalah orang yang bijaksana. Ia tahu apa yang ia lakukan. Aku percaya itu. Hanya saja aku benar-benar tidak menyukainya. Prodoti adalah gadis yang sangat agresif dan aku yakin benar bahwa ia ingin memilikiku.”
Aku tertawa mendengarnya. Kedengarannya sangat lucu sekali jika Prodoti begitu agresif mengejar Sotiras. Mungkin itu juga alasan mengapa ia melarangku untuk mendekati Sotiras. Atau lebih tepatnya Sotiras yang membuatku selalu dekat dengannya.
“Jangan tertawa kau. Memangnya kau pikir enak dikejar-kejar oleh gadis yang tidak kau sukai?” Sotiras melirikku kesal.
Aku masih tertawa melihat ekspresi kesal Sotiras. Ia tampak lucu sekali kalau seperti ini.
“Dan, aku juga tahu. Prodoti adalah orang yang memintamu untuk menjauhiku kan?”
GLEK. Dia tahu juga akhirnya. Aku mengangguk.
“Tidak boleh. Kau harus berada dekat denganku. Jika mungkin, setiap waktu.”
Aku menaikkan kedua alisku. “Mengapa begitu?” tanyaku tidak paham. Jika saja dia mampu membuatku diijinkan untuk tidak ikut berperang, aku akan dengan senang hati untuk berada dekat dengannya. Namun situasi yang sesungguhnya adalah sebaliknya. Berada dekat dengannya berarti berada dekat dengan peperangan.
“Kau ini satu-satunya cara agar aku dapat terhindar dari Prodoti, Apo.” Sotiras menjelaskan dengan kesal karena aku tidak memahami ucapannya.
“Kalau aku menolak bagaimana?” aku menggodanya lalu tertawa puas. Kujulurkan lidahku padanya seraya mengoloknya.
Sotiras memicingkan sebelah matanya. “Mudah saja. Kubiarkan kau ikut berperang tanpa kemampuan apapun. Sehingga kau akan—”
Aku berhenti tertawa seketika ketika membayangkan diriku berlumuran darah.
Sotiras pun ganti menertawaiku.
“Dasar kau ini,” aku berjalan meninggalkannya dengan kesal.
Masih tertawa, Sotiras berjalan menyusulku. “Aku bercanda. Tidak mungkin aku melakukannya.” Ia menyentuh lenganku tapi kukibaskan segera. “Apo? Ayolah, gadis cantik tidak boleh sering marah. Kau akan cepat tua nantinya.”
Aku mendesis. “Aku tidak peduli,” ucapku ketus sambil terus berjalan lurus kembali menuju kerajaan.
Sotiras tidak membalas ucapanku lagi selain tertawa.
~ UTD ~
Akhirnyaaaaaaaa... Nikmati saja dulu ya walaupun baru satu chapter. Semoga besok bisa nulis lagi. Soalnya mau ke gereja dulu paginya. Hoho. Enjoy!
Sotiras bersandar di dinding luar celah tadi. Ia menjawab, “Aku tidak menyukainya.”
“Lalu mengapa kau tidak mencegahnya datang kemari?” cetusku. “Sederhana kan?”
“Ya. Tapi hanya dalam kata-kata. Dalam aslinya, tidak sederhana sama sekali.” Sotiras menyibakkan rambutnya yang diterpa angin menutupi sebagian wajahnya. “Raja adalah orang yang bijaksana. Ia tahu apa yang ia lakukan. Aku percaya itu. Hanya saja aku benar-benar tidak menyukainya. Prodoti adalah gadis yang sangat agresif dan aku yakin benar bahwa ia ingin memilikiku.”
Aku tertawa mendengarnya. Kedengarannya sangat lucu sekali jika Prodoti begitu agresif mengejar Sotiras. Mungkin itu juga alasan mengapa ia melarangku untuk mendekati Sotiras. Atau lebih tepatnya Sotiras yang membuatku selalu dekat dengannya.
“Jangan tertawa kau. Memangnya kau pikir enak dikejar-kejar oleh gadis yang tidak kau sukai?” Sotiras melirikku kesal.
Aku masih tertawa melihat ekspresi kesal Sotiras. Ia tampak lucu sekali kalau seperti ini.
“Dan, aku juga tahu. Prodoti adalah orang yang memintamu untuk menjauhiku kan?”
GLEK. Dia tahu juga akhirnya. Aku mengangguk.
“Tidak boleh. Kau harus berada dekat denganku. Jika mungkin, setiap waktu.”
Aku menaikkan kedua alisku. “Mengapa begitu?” tanyaku tidak paham. Jika saja dia mampu membuatku diijinkan untuk tidak ikut berperang, aku akan dengan senang hati untuk berada dekat dengannya. Namun situasi yang sesungguhnya adalah sebaliknya. Berada dekat dengannya berarti berada dekat dengan peperangan.
“Kau ini satu-satunya cara agar aku dapat terhindar dari Prodoti, Apo.” Sotiras menjelaskan dengan kesal karena aku tidak memahami ucapannya.
“Kalau aku menolak bagaimana?” aku menggodanya lalu tertawa puas. Kujulurkan lidahku padanya seraya mengoloknya.
Sotiras memicingkan sebelah matanya. “Mudah saja. Kubiarkan kau ikut berperang tanpa kemampuan apapun. Sehingga kau akan—”
Aku berhenti tertawa seketika ketika membayangkan diriku berlumuran darah.
Sotiras pun ganti menertawaiku.
“Dasar kau ini,” aku berjalan meninggalkannya dengan kesal.
Masih tertawa, Sotiras berjalan menyusulku. “Aku bercanda. Tidak mungkin aku melakukannya.” Ia menyentuh lenganku tapi kukibaskan segera. “Apo? Ayolah, gadis cantik tidak boleh sering marah. Kau akan cepat tua nantinya.”
Aku mendesis. “Aku tidak peduli,” ucapku ketus sambil terus berjalan lurus kembali menuju kerajaan.
Sotiras tidak membalas ucapanku lagi selain tertawa.
~ UTD ~
Akhirnyaaaaaaaa... Nikmati saja dulu ya walaupun baru satu chapter. Semoga besok bisa nulis lagi. Soalnya mau ke gereja dulu paginya. Hoho. Enjoy!
Diubah oleh yohanaekky 24-03-2016 21:50
0