- Beranda
- Stories from the Heart
Until The Day
...
TS
yohanaekky
Until The Day

********************************
Penantian:
(kb) Suatu kegiatan yang tidak enak untuk dilakukan menurut pengakuan setiap orang, tetapi mau tidak mau semua orang pernah melakukannya, paling tidak satu kali dalam hidupnya.
~UTD~
Terbuang. Tertolak. Menjalani kehidupan yang keras di jalanan sendirian dan kelaparan. Itulah Aporriftikhe. Dia ingin memiliki setidaknya satu orang yang mempedulikannya dan juga sebuah rumah. Namun fitnah yang telah ia terima membuat tak seorang pun mau mendekatinya. Harapannya sudah putus sehingga ia berhenti menanti. Tak seorang pun yang kunjung datang setidaknya untuk memberinya sepeser uang atau secuil roti atau sebuah kandang untuk melindunginya dari terik matahari atau hujan deras.
Hingga pada suatu hari ia terpaksa harus melakukan perbuatan tercela karena perutnya yang lapar. Namun tindakannya itu justru hampir membawanya kepada maut, jika tidak ada sebuah tangan terulur padanya dan menyelamatkan dirinya.
Tangan itu, tangan yang mengubah hidupnya. Tangan itu, tangan yang membuatnya kembali menanti dan gemar menanti. Karena tangan itu adalah harapan baginya.
© 2015. All Rights Reserved.
Written by Yohana Ekky.
INDEX:
01 IDENTITY
02 THE STRETCHED HAND
03 HOME
04 REJECTED TO ACCEPTED
05 IT'S CALLED LIFE! (PART 1)
06 IT'S CALLED LIFE! (PART 2)
07 HEART MENDING (PART 1) - a || b
08 THE ENEMY'S ATTACK - a || b
09 TAKING HER BACK
10 HE TOLD ME THE TRUTH
11 THE UNWANTED PRINCESS (PART 1) - a || b
12 THE UNWANTED PRINCESS (PART 2) -a || b
13 WILL THERE BE PEACE?
14 THERE HAS TO BE PEACE
15 THE VISION
16 DEFENSE AND WAR STRATEGY NEW!!!
Diubah oleh yohanaekky 29-06-2016 19:11
anasabila memberi reputasi
1
6.5K
96
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yohanaekky
#81
12 The Unwanted Princess (Part 2)
“Tolong panggil dia kemari agar bergabung dalam makan malam,” Raja memerintahkan pada pelayan itu yang segera melaksanakannya. Ia pergi meninggalkan ruang makan untuk menjemput Prodoti.
Aku bertanya-tanya dalam hati mengapa Raja masih menerima Prodoti berkunjung kemari seakan ia dan negerinya tidak pernah melakukan kejahatan pada Kerajaan Ouranos. Jika aku adalah Raja, mungkin aku tidak akan pernah berkomunikasi dengan negeri itu.
Memang betul pihak Kerajaan Ouranos mengambil peran dalam kesalahan itu, tapi seperti kata Chara, Prodoti lah yang mengelabuinya untuk merencanakan pernikahan itu. Jadi dapat disimpulkan bahwa Prodoti lah yang melakukan kesalahan terbesar ditambah dengan pencemaran nama baik kerajaan ini.
“Raja dan Ratu, ini Puteri Prodoti sudah datang,” ucapan itu membuat kami semua yang ada di meja makan berpaling ke arah sumber suara.
Tepat di belakangnya, berdirilah seorang gadis dengan segala keanggunannya dalam balutan gaun merah sederhana tetapi begitu indah. Ia tersenyum sambil berjalan mendekat. Raja dan Sotiras berdiri menyambut, sementara yang lainnya tetap duduk.Aku, sebagai orang baru yang tidak cukup banyak tahu, mengikuti mayoritas yang ada, tetap dalam posisi duduk.
Prodoti berhenti di dekat Ratu yang tetap duduk dan memberi hormat padanya. “Selamat malam, Ratu. Senang bertemu dengan Anda kembali.”
Ratu tersenyum lalu berkata, “Aku juga.”
Dengan itu, Prodoti berjalan sedikit lebih jauh dan berhenti di dekat Raja dan Sotiras. Ia juga memberi hormat dan menyapa, “Selamat malam, Raja dan Pangeran Sotiras. Senang bertemu kembali.”
Sementara Sotiras hanya memberikan sebuah anggukan dan senyuman, Raja berkata, “Selamat datang, Prodoti,” Raja mengangkat tangan kirinya, mengisyaratkan agar seorang pelayan datang mendekat. Ia memerintahkan, “Ambilkan satu kursi lagi dan letakkan di sebelah Chara agar Prodoti dapat duduk dan bergabung dalam makan malam.”
“Tidak, Raja. Biarkan aku menunggu saja di ruang tamu. Aku sungguh tidak ingin menganggu makan malam semuanya,” Prodoti menolak.
Namun, Raja justru berkata, “Tidak masalah. Setelah perjalanan yang cukup jauh, kau pasti merasa lapar.” Ia kembali memberintahkan pelayan untuk segera mengambilkan sebuah kursi.
Seusai diletakkannya sebuah kursi di sebelah Chara, belum sempat Prodoti duduk, Chara beranjak dari kursinya dan berkata, “Raja, aku permisi kembali ke kamarku. Aku sudah selesai makan dan harus segera menyelesaikan pekerjaan mendesak.”
Semua yang ada disitu tahu bahwa itu hanyalah sebuah alibi yang Chara ucapkan karena tidak ingin berada dekat dengan Prodoti yang dulu pernah melukai hatinya. Sepertinya Raja memahami hal tersebut sehingga ia mengijinkan Chara meninggalkan tempat.
Dengan sedikit membungkuk untuk memberi hormat, Chara akhirnya melangkahkan kakinya pergi.
Melihat kejadian ini, aku buru-buru berpaling pada Prodoti untuk melihat bagaimana reaksinya. Apakah ia tampak sedih atau justru tidak peduli. Namun sayang sekali, ia menundukkan kepalanya dan segera duduk.
Selama makan malam berlangsung, tidak ada seorang pun yang mengajak Prdoti bicara kecuali Raja. Yang lainnya dan aku mengobrol satu sama lain.
Saat aku sedang mengobrol dengan Chari dengan asyiknya, Sotiras memanggil namaku. “Tolong ambilkan gula yang ada di dekatmu itu. Teh ini rasanya masih kurang manis, “pintanya.
Kulihat wadah keramik berwarna putih yang berisi gula itu. Aku hendak mengulurkan tanganku mengambilnya, tetapi Prodoti lebih dahulu mengambilnya dan memberikannya pada Sotiras.
Ada apa dengan gadis ini? Ya sudahlah. Aku tidak memikirkannya lalu melanjutkan kembali obrolanku dengan Chari sambil sesekali meneguk tehku.
Beberapa waktu kemudian makan malam selesai. Pama, Bibi, Chari dan Ratu lebih dahulu meninggalkan tempat. Aku masih tinggal karena ingin mengambil buah Evlogia akibat merasa ketagihan setelah memakannya tadi siang bersama Bibi. Sementara Sotiras masih menemani Raja yang sedang memutuskan dimana Prodoti dapat tidur.
Mendengar percakapan itu, aku mendekat pada Raja. Aku ingat ucapan Gracia pada pelayan yang lainnya mengenai kamar kosong di sebelah kamarku. Aku pun memberitahukan pada Raja, “Ada sebuah ruang kosong di sebelah kamarku. Kurasa dia dapat tidur disana, Raja.”
Raja mengangguk-angguk. “Baiklah kalau begitu, tolong antarkan Prodoti ke kamarnya, Apo,” secara sopan ia memintaku.
Aku mengangguk. “Tentu saja,” ucapku. Kemudian aku berpaling pada Prodoti. “Mari, aku akan mengantarmu.”
Prodoti tersenyum padaku.
Kami berjalan bersebelahan meninggalkan ruang makan. Baru saja melangkahkan kaki keluar dari pintu, Prodoti segera menarik lenganku, membuatku berhenti berjalan.
“Ya? Apakah ada sesuatu yang tertinggal? Atau mungkin kau memerlukan sesuatu?” tanyaku seraya berusaha bersahabat dengannya.
Bukannya senyuman lembut yang kulihat seperti di ruang makan, tetapi ekspresi sinis disertai ucapan, “simpan saja senyumanmu itu. Aku tidak memerlukannya,” lah yang kuterima.
Mendengarnya, jantung sesasa dihantam oleh sesuatu yang keras. “Maaf, tapi apa maksudmu berkata demikian?” Sebisa mungkin aku bersuaha tetap tenang. Jika saja aku bukan anggota kerajaan, aku sudah pasti memakinya balik.
Prodoti berbisik, “Jangan pernah dekati Sotiras, jika kau tidak ingin terluka.”
Aku heran mendengarnya, dan hanya meresponnya dengan tawa kecil. Gadis ini rupanya mengerikan juga.
Prodoti tiba-tiba saja mencengkeram lenganku lalu segera kukibaskan karena kuku-kukunya menyakiti lenganku.
Sambil mengelus-elus bagian lenganku yang dicengkeram, aku berkata padanya, “Tidak perlu berlaku kasar seperti itu. Tidak mendekati Sotiras adalah hal yang mudah untuk dilakukan, tahu tidak?” Aku berdecak kesal. “Kau ini cantik tapi mengerikan.”
Prodoti melengos lalu melenggang pergi meninggalkanku.
Dasar gadis aneh. Seharusnya Raja tidak menerima kedatangannya kembali disini.
Aku berjalan mengikuti Prodoti yang rupanya tahu dimana letak kamar baginya yang dimaksud oleh Raja. Ia masuk begitu saja tanpa mengucapkan apapun.
Daripada merasa kesal, aku pergi ke luar istana sebelah timur untuk menghirup udara segar. Kuletakkan kedua tanganku pada pagar yang membatasi antara teras dengan taman kecil yang ada di depannya.
Udara malam itu sangat sejuh, tapi tidak ada angin sehingga aku tidak merasa kedinginan. Langit hitam bertabur bintang membuatku lebih merasa nyaman berlama-lama disini.
“Mengapa kau tidak masuk ke dalam kamarmu?”
Aku menoleh dan melihat Sotiras berdiri sambil menyandarkan tubuhnya pada ambang pintu. Tanpa berlama-lama aku berpaling dari Sotiras dan memandang ke arah langit. “Aku sudah seirng melihat bintang dari kamarku. Aku hanya ingin tahu bagaimana kelihatannya dari sini.”
Sotiras tertawa kecil. Semilir angin singkat kemudian terasa di sisi tubuh sebelah kananku menunjukkan kehadirannya di sebelahku.
“Hei, seseorang memintaku untuk tidak mendekatimu. Jadi lebih baik kau pergi saja sana dan biarkan aku berada disini. Barangkali orang itu melihat dan mengira aku mendekatimu. “Terang-terangan aku memberitahunya, tetapi aku masih memiliki hati sehingga aku tak menyebut nama Prodoti disini.
“Permintaan macam apa itu? Siapa pula yang memintanya? Sungguh aneh.” Sotiras terdengar tidak menyukainya. “Atau jangan-jangan karena tadi siang aku membuatmu kesal hingga kau berkata seperti ini padaku? Kau ini. Kekanak-kanakan sekali, Apo.”
Secepat kilat aku menoleh padanya dan berdecak. “Aku tidak kekanak-kanakan. Buktinya aku tidak menyebut nama orang yang memintaku untuk tidak mendekatimu, bukan?” Aku membela diri. Sungguh menyebalkan. Aku tidak terima disebut kekanak-kanakan seperti itu. Aku berpaling darinya setelahnya.
“Baiklah. Siapapun yang memintamu seperti itu, jangan ikuti. Karena aku justru perlu untuk melatihmu berperang.” Pernyataan Sotiras hampir-hampir membuat kedua bola mataku melompat keluar.
“Perang? Aku? Mengapa?” Aku menatapnya penasaran bercampur rasa terkejut.
Sotiras menyilangkan kedua lengannya di depan dada. “Kau ingat tadi siang Chara bercerita bahwa para pemuda kerajaan ditugaskan untuk keluar ke negeri-negeri lain untuk menolong mereka?”
Aku mengangguk.
“Akan besar kemungkinannya bahwa kau akan berperang dengan pasukan Katastrepsei demi merebut kembali negeri-negeri yang mereka jajah.”
Aku menelan ludah tak percaya. “Memangnya harus? Apakah tidak bisa jika aku tinggal saja di istana tanpa berperang?”
Sotiras menggeleng. “Semua pemuda maupun pemudi Kerajaan tidak dapat menghindarinya. Ini adalah kewajiban kita.”
Di titik inilah aku merasa sangat menyesal menjadi bagian dari kerajaan ini.
“Apa sekarang kau menyesal menjadi anggota kerajaan?”
DUG! Apakah dia dapat membaca pikiranku?
“Jika boleh aku katakan, hidupmu di luar kerajaan justru jauh lebih menyakitkan,” lanjutnya. “Satu-satunya kewajibanmu disini yang tidak dapat dihindari adalah berperang. Dan aku dapat meyakinkanmu bahwa kau tidak akan mati.”
“Tapi terluka parah,”
“Atau tidak terluka sama sekali.” Ia membantah pernyataanku. “Itulah sebabnya aku akan mengajarimu cara berperang.” Sotiras menegaskan inti dari perkataannya.
Kepalaku rasanya menjadi pusing seketika. Telapak tanganku juga terasa dingin. Membayangkan perang saja sudah cukup bagiku untuk menggetarkan seluruh tubuhku. Terlebih perang ini berkaitan dengan Katastrepsei. Aku sama sekali tidak ingin bertemu dengannya lagi.
“Kau baik-baik saja?” tanya Sotiras.
“Tidak.” Aku berterus terang. “Kau sukses membuatku sakit. Jadi sekarang aku akan kembali ke kamar lalu tidur. Barangkali aku akan segera lupa akan apa yang kau ucapkan malam ini.” Sambil memegangi dahiku aku berbalik dan pergi meninggalkan Sotiras.
Hawa sejuk menerpa tubuhku, membangunkanku dengan paksa dari tidur lelapku. Selimut yang kupakai tampak sudah tersingkir dan tergulung tidak karuan. Kebiasaan alam bawah sadarku yang satu ini rasanya ingin kuperbaiki. Aku berandai jika aku dapat tidur tanpa harus bergerak bebas kemana-mana. Itulah sebabnya aku pernah menolak untuk tidur dekat dengan teman-temanku ketika menjalani pelatihan dasar di sekolah dasar.
Aku duduk di sisi ranjangku untuk sedikit meregangkan kakiku sebelum menapak. Sembari melakukan peregangan, aku mengalihkan pandangan ke arah jendela.
Jendela terbuka dan tirai-tirai diterbangkan oleh angin. Payah sekali. Aku pasti lupa menutupnya. Lain kali aku tidak boleh lupa jika aku tidak ingin jatuh sakit.
Tanpa melakukan tindakan apapun terhadap jedela itu, karena memang sudah pagi, aku masuk ke dalam kamar mandi.
Aku berencana untuk berlama-lama berendam di dalam air panas. Tubuhku yang sedikit beku ini perlu dihangatkan.
Namun sayang sekali tampaknya rencanaku tidak akan terlaksana. Suara Gracia memanggil namaku terdengar dan ia menyampaikan pesan yang sama sekali tidak aku sukai.
“Pangeran Sotiras memanggil Anda untuk segera menemuinya di tempat yang sama seperti yang Anda datangi bersama Pangeran kemarin.”
“Untuk apa?” tanyaku setengah berteriak agar Gracia mendengar ucapanku.
“Pangeran tidak menyebutkan alasan apapun, Puteri.”
Sotiras benar-benar keras kepala. Sudah kukatakan jangan mendekatiku juga. Dasar kepala batu.
“Baiklah. Terima kasih, Gracia. Kau boleh pergi.”
“Uh, Puteri. Tapi Pangeran meminta Anda untuk segera menemuinya sepuluh menit lagi.”
Aku berdecak kesal karenanya. “Iya. Silakan pergi. Aku sudah paham.”
“Baik, Puteri.”
Ingin sekali rasanya aku menolak permintaan pangeran yang satu ini. Namun kurasa aku tidak berdaya untuk melakukannya. Sotiras adalah seorang pangeran, dan semua orang yang dimintanya melakukan sesuatu pasti menurutinya. Atau lebih tepatnya, harus menurutinya. Terkadang aku merasa hal itu cukup egois kedengarannya.
Tanpa mempedulikan kerapian penampilanku, aku segera keluar dari dalam kamar dengan pakaian seadanya dengan rambut diikat tinggi. Paman dan Bibi yang kebetulan berjalan melewati kamarku mengajakku untuk bergabung bersama mereka untuk makan pagi. Dengan berat hati aku menolak ajakan mereka. Itu semua karena Sotiras!
Perutku keroncongan, tapi aku harus bertemu dengan Sotiras di sebuah tempat yang perjalanannya menghabiskan tenaga yang cukup besar. Entah berapa banyak umpatan kekesalan yang kuucapkan di sepanjang perjalanan. Sempat aku menahan untuk tidak mengumpat mengingat ibu pernah memperingatkanku mengenai hal ini, tetapi rasanya aku tidak sanggup. Sebut saja penyebutnya adalah Sotiras.
Aku menghela nafas dalam-dalam ketika sampai di tempat yang ditentukan. Sotiras berdiri dengan bersandar pada sebuah pohon yang besar. Ia melambai, mengisyaratkanku untuk datang mendekat. Aku pun melakukannya.
“Pagi yang menyenangkan, bukan?” itulah ucapan sambutan Sotiras atas kedatanganku.
Aku tertawa palsu. “Iya,” lalu memasang wajah lusuh.
Sotiras mengangkat tangan kananku dan memutarnya sehingga telapak tanganku menghadap ke atas. Diletakkannya satu buah Evlogia di atasnya. “Makanlah. Setelah itu kita latihan.”
“Latihan? Latihan perang? Satu buah Evlogia? Mana cukup? Aku benar-benar kelaparan sekarang, Sotiras.” Bertubi-tubi kuluapkan keluhanku padanya.
Sotiras hanya tersenyum. “Makan saja dulu. Baru bicara.”
Aku berdecak tanpa berkata apapun lagi. Pengaruhnya terlalu besar sehingga aku tidak dapat melakukan apapun lagi selain memakan buah itu tepat seperti perintahnya. Dengan cepat aku menghabiskannya.
Melihatnya, Sotiras kemudian memintaku untuk mengikutinya. Lagi-lagi, aku tidak punya pilihan selain mengikuti ucapannya.
Sotiras membawaku ke sebuah tempat yang lebih landai dengan lebih sedikit rumput yang tinggi. Kira-kira di tengah area itu kami berhenti.
“Kita akan melakukan pemanasan,” ucap Sotiras.
“Hem,” aku merespon singkat.
“Ikuti apa yang kulakukan.”
“Hem,” respon yang sama kuberikan.
Sotiras menunjukkan gerakan-gerakan pelan dengan kedua tangan dan kaki yang tampak mudah dilakukan tetapi rupanya membuat keringatku keluar perlahan. Beberapa kali kuusap keringatku dengan ujung lengan bajuku sehingga semakin lama bagian lengan itu makin basah. Sampai pada suatu waktu tertentu Sotiras berhenti.
“Hari ini aku akan mengajarimu gerakan-gerakan dasar memainkan pedang yang ringan mengingat kau masih dalam masa pemulihan.”
Aku mengangguk saja.
Sotiras berjalan ke suatu tempat yang dekat kemudian kembali lagi dengan membawa dua pedang yang terbuat dari kayu. Salah satunya diberikannya padaku.
“Kau, berdiri di sampingku dan ikuti instruksiku.”
Aku mengangguk lagi.
Untuk setiap gerakan, Sotiras memberikan contoh sebelum kemudian memintaku untuk mengulanginya bersama dengannya. Ada cukup banyak rangkaian gerakan yang ia tunjukkan padaku, namun hanya beberapa saja yang berhasil kuulangi dengan baik. Tidak jarang aku memukul beberapa bagian tubuhku seperti kepala, lengan dan punggung dengan pedang ini. Untung saja ini hanya pedang kayu. Tidak akan lucu jadinya jika ini pedang sungguhan.
Yang membuatku heran, Sotiras tidak tertawa seperti yang biasa ia lakukan jika aku melakukan sesuatu yang aneh. Ia justru dengan sabar mengajariku bagaimana caranya agar tidak mengenai tubuhku sendiri dengan pedang.
Mungkin dua jam lamanya aku belajar gerakan-gerakan dasar permainan pedang ini. Tubuhku sudah bermandikan keringat. Aku merasa lega sekali akhirnya pelajaran hari ini berakhir. Aku meminta Sotiras untuk membiarkanku duduk karena lelah.
Aku berjalan ke pohon besar yang tadi dan duduk di bawahnya. Matahari sudah cukup tinggi sehingga aku perlu tempat berteduh. Kuselonjorkan kedua kakiku dan menyandarkan tubuhku pada batang pohon.
Sotiras pun menghampiri dan turut duduk di sebelahku. “Kau baik-baik saja?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Lelah?”
Aku mengangguk kembali.
“Tapi tidak lapar, bukan?”
Aku menggeleng. Sedetik kemudian aku tersadar akan responku. Aku tidak lapar? Bagaimana bisa?
Sotiras tersenyum saat aku berpaling padanya dengan ekspresi orang dungu yang sedang terkejut. “Satu buah Evlogia memberikan daya tahan yang cukup untuk lima sampai tujuh jam. Tapi karena kau baru saja berlatih pedang, mungkin dua jam lagi kau akan membutuhkan makanan untuk perutmu yang kosong itu.”
Kurasa ini alasannya aku tidak jatuh sakit karena tertidur dengan jendela terbuka semalaman. Hebat sekali buah ini.
“Kita akan terus melanjutkan pelajaran ini setiap hari sampai kau bisa.” Sotiras memberitahukan hal yang paling tidak ingin kudengar.
Semakin lama belajar, semakin lama aku mahir, dan semakin dekat pula aku bergabung dalam peperangan. Oh tidak.
“Sotiras,” samar-samar terdengar suara memanggil seseorang yang duduk di sebelahku ini.
Tiba-tiba kurasakan pergelangan tangan kananku dicengkeram erat. Aku berpaling pada Sotiras yang melakukannya dan bertanya mengapa. Ia tidak menjawab tetapi memintaku untuk tidak bicara. Kemudian ia menarikku pergi dari sana dengan paksa.
Tanpa tahu kemana Sotiras membawaku, aku hanya mengikutinya sesuai dengan instruksi. Kami berhenti di tempat yang tidak terlalu jauh dari pohon itu dan masuk di sebuah celah di lereng bukit.
"Pangeran Sotiras, dimana kau?” suara itu kembali terdengar. Semakin lama aku semakin sadar milik siapa suara itu.
“Mengapa kau menghindar dari Prodoti?” tanyaku dengan suara normal.
Sotiras menutup mulutku dengan telapak tangannya memintaku untuk diam.
Secara paksa aku menyingkirkan telapak tangannya dari mulutku. “Kau ini ada apa? Dia masih berada di tempat yang cukup jauh sehingga ia tidak mungkin mendengar ucapanku.”
Sotiras kembali memintaku untuk diam, tapi kali ini ia hanya menggunakan jari telunjuknya yang ia tempelkan di mulutnya.
Aku masih tidak mengerti mengapa ia bertindak semacam ini, tetapi aku melakukannya saja. Ya, lagi. Aku tidak tahu mengapa aku bisa begitu saja mengikuti ucapannya.
“Sotiras?” suara itu terdengar semakin keras dan tidak jauh dari celah ini. “Pangeran Sotiras, kau ini ada dimana? Aku sangat merindukanmu. Tidakkah kita dapat bicara?” Kali ini suara itu terdengar sangat dekat. Mungkin sekitar satu atau dua meter.
Sotiras memandangku seolah ia ingin membuktikan sesuatu mengenai permintaannya agar aku diam. Aku bergidik jadinya karena berpikir bahwa Prodoti memiliki kekuatan tertentu yang memampukannya untuk mendengar sesuatu dari jarak yang jauh.
“Dasar. Pelayan itu membohongiku. Sotiras tidak ada disini.” Prodoti berdecak kesal lalu pergi.
Beberapa waktu lamanya kami masih ada di celah itu, menunggu sampai Prodoti benar-benar pergi jauh. Pada saat itulah, aku akhirnya menyadari bahwa posisiku berada terlalu dekat dengannya. Mungkin hanya sekitar dua puluh sentimeter jaraknya wajahku dari wajahnya.
Aku bertanya-tanya dalam hati mengapa Raja masih menerima Prodoti berkunjung kemari seakan ia dan negerinya tidak pernah melakukan kejahatan pada Kerajaan Ouranos. Jika aku adalah Raja, mungkin aku tidak akan pernah berkomunikasi dengan negeri itu.
Memang betul pihak Kerajaan Ouranos mengambil peran dalam kesalahan itu, tapi seperti kata Chara, Prodoti lah yang mengelabuinya untuk merencanakan pernikahan itu. Jadi dapat disimpulkan bahwa Prodoti lah yang melakukan kesalahan terbesar ditambah dengan pencemaran nama baik kerajaan ini.
“Raja dan Ratu, ini Puteri Prodoti sudah datang,” ucapan itu membuat kami semua yang ada di meja makan berpaling ke arah sumber suara.
Tepat di belakangnya, berdirilah seorang gadis dengan segala keanggunannya dalam balutan gaun merah sederhana tetapi begitu indah. Ia tersenyum sambil berjalan mendekat. Raja dan Sotiras berdiri menyambut, sementara yang lainnya tetap duduk.Aku, sebagai orang baru yang tidak cukup banyak tahu, mengikuti mayoritas yang ada, tetap dalam posisi duduk.
Prodoti berhenti di dekat Ratu yang tetap duduk dan memberi hormat padanya. “Selamat malam, Ratu. Senang bertemu dengan Anda kembali.”
Ratu tersenyum lalu berkata, “Aku juga.”
Dengan itu, Prodoti berjalan sedikit lebih jauh dan berhenti di dekat Raja dan Sotiras. Ia juga memberi hormat dan menyapa, “Selamat malam, Raja dan Pangeran Sotiras. Senang bertemu kembali.”
Sementara Sotiras hanya memberikan sebuah anggukan dan senyuman, Raja berkata, “Selamat datang, Prodoti,” Raja mengangkat tangan kirinya, mengisyaratkan agar seorang pelayan datang mendekat. Ia memerintahkan, “Ambilkan satu kursi lagi dan letakkan di sebelah Chara agar Prodoti dapat duduk dan bergabung dalam makan malam.”
“Tidak, Raja. Biarkan aku menunggu saja di ruang tamu. Aku sungguh tidak ingin menganggu makan malam semuanya,” Prodoti menolak.
Namun, Raja justru berkata, “Tidak masalah. Setelah perjalanan yang cukup jauh, kau pasti merasa lapar.” Ia kembali memberintahkan pelayan untuk segera mengambilkan sebuah kursi.
Seusai diletakkannya sebuah kursi di sebelah Chara, belum sempat Prodoti duduk, Chara beranjak dari kursinya dan berkata, “Raja, aku permisi kembali ke kamarku. Aku sudah selesai makan dan harus segera menyelesaikan pekerjaan mendesak.”
Semua yang ada disitu tahu bahwa itu hanyalah sebuah alibi yang Chara ucapkan karena tidak ingin berada dekat dengan Prodoti yang dulu pernah melukai hatinya. Sepertinya Raja memahami hal tersebut sehingga ia mengijinkan Chara meninggalkan tempat.
Dengan sedikit membungkuk untuk memberi hormat, Chara akhirnya melangkahkan kakinya pergi.
Melihat kejadian ini, aku buru-buru berpaling pada Prodoti untuk melihat bagaimana reaksinya. Apakah ia tampak sedih atau justru tidak peduli. Namun sayang sekali, ia menundukkan kepalanya dan segera duduk.
Selama makan malam berlangsung, tidak ada seorang pun yang mengajak Prdoti bicara kecuali Raja. Yang lainnya dan aku mengobrol satu sama lain.
Saat aku sedang mengobrol dengan Chari dengan asyiknya, Sotiras memanggil namaku. “Tolong ambilkan gula yang ada di dekatmu itu. Teh ini rasanya masih kurang manis, “pintanya.
Kulihat wadah keramik berwarna putih yang berisi gula itu. Aku hendak mengulurkan tanganku mengambilnya, tetapi Prodoti lebih dahulu mengambilnya dan memberikannya pada Sotiras.
Ada apa dengan gadis ini? Ya sudahlah. Aku tidak memikirkannya lalu melanjutkan kembali obrolanku dengan Chari sambil sesekali meneguk tehku.
Beberapa waktu kemudian makan malam selesai. Pama, Bibi, Chari dan Ratu lebih dahulu meninggalkan tempat. Aku masih tinggal karena ingin mengambil buah Evlogia akibat merasa ketagihan setelah memakannya tadi siang bersama Bibi. Sementara Sotiras masih menemani Raja yang sedang memutuskan dimana Prodoti dapat tidur.
Mendengar percakapan itu, aku mendekat pada Raja. Aku ingat ucapan Gracia pada pelayan yang lainnya mengenai kamar kosong di sebelah kamarku. Aku pun memberitahukan pada Raja, “Ada sebuah ruang kosong di sebelah kamarku. Kurasa dia dapat tidur disana, Raja.”
Raja mengangguk-angguk. “Baiklah kalau begitu, tolong antarkan Prodoti ke kamarnya, Apo,” secara sopan ia memintaku.
Aku mengangguk. “Tentu saja,” ucapku. Kemudian aku berpaling pada Prodoti. “Mari, aku akan mengantarmu.”
Prodoti tersenyum padaku.
Kami berjalan bersebelahan meninggalkan ruang makan. Baru saja melangkahkan kaki keluar dari pintu, Prodoti segera menarik lenganku, membuatku berhenti berjalan.
“Ya? Apakah ada sesuatu yang tertinggal? Atau mungkin kau memerlukan sesuatu?” tanyaku seraya berusaha bersahabat dengannya.
Bukannya senyuman lembut yang kulihat seperti di ruang makan, tetapi ekspresi sinis disertai ucapan, “simpan saja senyumanmu itu. Aku tidak memerlukannya,” lah yang kuterima.
Mendengarnya, jantung sesasa dihantam oleh sesuatu yang keras. “Maaf, tapi apa maksudmu berkata demikian?” Sebisa mungkin aku bersuaha tetap tenang. Jika saja aku bukan anggota kerajaan, aku sudah pasti memakinya balik.
Prodoti berbisik, “Jangan pernah dekati Sotiras, jika kau tidak ingin terluka.”
Aku heran mendengarnya, dan hanya meresponnya dengan tawa kecil. Gadis ini rupanya mengerikan juga.
Prodoti tiba-tiba saja mencengkeram lenganku lalu segera kukibaskan karena kuku-kukunya menyakiti lenganku.
Sambil mengelus-elus bagian lenganku yang dicengkeram, aku berkata padanya, “Tidak perlu berlaku kasar seperti itu. Tidak mendekati Sotiras adalah hal yang mudah untuk dilakukan, tahu tidak?” Aku berdecak kesal. “Kau ini cantik tapi mengerikan.”
Prodoti melengos lalu melenggang pergi meninggalkanku.
Dasar gadis aneh. Seharusnya Raja tidak menerima kedatangannya kembali disini.
Aku berjalan mengikuti Prodoti yang rupanya tahu dimana letak kamar baginya yang dimaksud oleh Raja. Ia masuk begitu saja tanpa mengucapkan apapun.
Daripada merasa kesal, aku pergi ke luar istana sebelah timur untuk menghirup udara segar. Kuletakkan kedua tanganku pada pagar yang membatasi antara teras dengan taman kecil yang ada di depannya.
Udara malam itu sangat sejuh, tapi tidak ada angin sehingga aku tidak merasa kedinginan. Langit hitam bertabur bintang membuatku lebih merasa nyaman berlama-lama disini.
“Mengapa kau tidak masuk ke dalam kamarmu?”
Aku menoleh dan melihat Sotiras berdiri sambil menyandarkan tubuhnya pada ambang pintu. Tanpa berlama-lama aku berpaling dari Sotiras dan memandang ke arah langit. “Aku sudah seirng melihat bintang dari kamarku. Aku hanya ingin tahu bagaimana kelihatannya dari sini.”
Sotiras tertawa kecil. Semilir angin singkat kemudian terasa di sisi tubuh sebelah kananku menunjukkan kehadirannya di sebelahku.
“Hei, seseorang memintaku untuk tidak mendekatimu. Jadi lebih baik kau pergi saja sana dan biarkan aku berada disini. Barangkali orang itu melihat dan mengira aku mendekatimu. “Terang-terangan aku memberitahunya, tetapi aku masih memiliki hati sehingga aku tak menyebut nama Prodoti disini.
“Permintaan macam apa itu? Siapa pula yang memintanya? Sungguh aneh.” Sotiras terdengar tidak menyukainya. “Atau jangan-jangan karena tadi siang aku membuatmu kesal hingga kau berkata seperti ini padaku? Kau ini. Kekanak-kanakan sekali, Apo.”
Secepat kilat aku menoleh padanya dan berdecak. “Aku tidak kekanak-kanakan. Buktinya aku tidak menyebut nama orang yang memintaku untuk tidak mendekatimu, bukan?” Aku membela diri. Sungguh menyebalkan. Aku tidak terima disebut kekanak-kanakan seperti itu. Aku berpaling darinya setelahnya.
“Baiklah. Siapapun yang memintamu seperti itu, jangan ikuti. Karena aku justru perlu untuk melatihmu berperang.” Pernyataan Sotiras hampir-hampir membuat kedua bola mataku melompat keluar.
“Perang? Aku? Mengapa?” Aku menatapnya penasaran bercampur rasa terkejut.
Sotiras menyilangkan kedua lengannya di depan dada. “Kau ingat tadi siang Chara bercerita bahwa para pemuda kerajaan ditugaskan untuk keluar ke negeri-negeri lain untuk menolong mereka?”
Aku mengangguk.
“Akan besar kemungkinannya bahwa kau akan berperang dengan pasukan Katastrepsei demi merebut kembali negeri-negeri yang mereka jajah.”
Aku menelan ludah tak percaya. “Memangnya harus? Apakah tidak bisa jika aku tinggal saja di istana tanpa berperang?”
Sotiras menggeleng. “Semua pemuda maupun pemudi Kerajaan tidak dapat menghindarinya. Ini adalah kewajiban kita.”
Di titik inilah aku merasa sangat menyesal menjadi bagian dari kerajaan ini.
“Apa sekarang kau menyesal menjadi anggota kerajaan?”
DUG! Apakah dia dapat membaca pikiranku?
“Jika boleh aku katakan, hidupmu di luar kerajaan justru jauh lebih menyakitkan,” lanjutnya. “Satu-satunya kewajibanmu disini yang tidak dapat dihindari adalah berperang. Dan aku dapat meyakinkanmu bahwa kau tidak akan mati.”
“Tapi terluka parah,”
“Atau tidak terluka sama sekali.” Ia membantah pernyataanku. “Itulah sebabnya aku akan mengajarimu cara berperang.” Sotiras menegaskan inti dari perkataannya.
Kepalaku rasanya menjadi pusing seketika. Telapak tanganku juga terasa dingin. Membayangkan perang saja sudah cukup bagiku untuk menggetarkan seluruh tubuhku. Terlebih perang ini berkaitan dengan Katastrepsei. Aku sama sekali tidak ingin bertemu dengannya lagi.
“Kau baik-baik saja?” tanya Sotiras.
“Tidak.” Aku berterus terang. “Kau sukses membuatku sakit. Jadi sekarang aku akan kembali ke kamar lalu tidur. Barangkali aku akan segera lupa akan apa yang kau ucapkan malam ini.” Sambil memegangi dahiku aku berbalik dan pergi meninggalkan Sotiras.
Hawa sejuk menerpa tubuhku, membangunkanku dengan paksa dari tidur lelapku. Selimut yang kupakai tampak sudah tersingkir dan tergulung tidak karuan. Kebiasaan alam bawah sadarku yang satu ini rasanya ingin kuperbaiki. Aku berandai jika aku dapat tidur tanpa harus bergerak bebas kemana-mana. Itulah sebabnya aku pernah menolak untuk tidur dekat dengan teman-temanku ketika menjalani pelatihan dasar di sekolah dasar.
Aku duduk di sisi ranjangku untuk sedikit meregangkan kakiku sebelum menapak. Sembari melakukan peregangan, aku mengalihkan pandangan ke arah jendela.
Jendela terbuka dan tirai-tirai diterbangkan oleh angin. Payah sekali. Aku pasti lupa menutupnya. Lain kali aku tidak boleh lupa jika aku tidak ingin jatuh sakit.
Tanpa melakukan tindakan apapun terhadap jedela itu, karena memang sudah pagi, aku masuk ke dalam kamar mandi.
Aku berencana untuk berlama-lama berendam di dalam air panas. Tubuhku yang sedikit beku ini perlu dihangatkan.
Namun sayang sekali tampaknya rencanaku tidak akan terlaksana. Suara Gracia memanggil namaku terdengar dan ia menyampaikan pesan yang sama sekali tidak aku sukai.
“Pangeran Sotiras memanggil Anda untuk segera menemuinya di tempat yang sama seperti yang Anda datangi bersama Pangeran kemarin.”
“Untuk apa?” tanyaku setengah berteriak agar Gracia mendengar ucapanku.
“Pangeran tidak menyebutkan alasan apapun, Puteri.”
Sotiras benar-benar keras kepala. Sudah kukatakan jangan mendekatiku juga. Dasar kepala batu.
“Baiklah. Terima kasih, Gracia. Kau boleh pergi.”
“Uh, Puteri. Tapi Pangeran meminta Anda untuk segera menemuinya sepuluh menit lagi.”
Aku berdecak kesal karenanya. “Iya. Silakan pergi. Aku sudah paham.”
“Baik, Puteri.”
Ingin sekali rasanya aku menolak permintaan pangeran yang satu ini. Namun kurasa aku tidak berdaya untuk melakukannya. Sotiras adalah seorang pangeran, dan semua orang yang dimintanya melakukan sesuatu pasti menurutinya. Atau lebih tepatnya, harus menurutinya. Terkadang aku merasa hal itu cukup egois kedengarannya.
Tanpa mempedulikan kerapian penampilanku, aku segera keluar dari dalam kamar dengan pakaian seadanya dengan rambut diikat tinggi. Paman dan Bibi yang kebetulan berjalan melewati kamarku mengajakku untuk bergabung bersama mereka untuk makan pagi. Dengan berat hati aku menolak ajakan mereka. Itu semua karena Sotiras!
Perutku keroncongan, tapi aku harus bertemu dengan Sotiras di sebuah tempat yang perjalanannya menghabiskan tenaga yang cukup besar. Entah berapa banyak umpatan kekesalan yang kuucapkan di sepanjang perjalanan. Sempat aku menahan untuk tidak mengumpat mengingat ibu pernah memperingatkanku mengenai hal ini, tetapi rasanya aku tidak sanggup. Sebut saja penyebutnya adalah Sotiras.
Aku menghela nafas dalam-dalam ketika sampai di tempat yang ditentukan. Sotiras berdiri dengan bersandar pada sebuah pohon yang besar. Ia melambai, mengisyaratkanku untuk datang mendekat. Aku pun melakukannya.
“Pagi yang menyenangkan, bukan?” itulah ucapan sambutan Sotiras atas kedatanganku.
Aku tertawa palsu. “Iya,” lalu memasang wajah lusuh.
Sotiras mengangkat tangan kananku dan memutarnya sehingga telapak tanganku menghadap ke atas. Diletakkannya satu buah Evlogia di atasnya. “Makanlah. Setelah itu kita latihan.”
“Latihan? Latihan perang? Satu buah Evlogia? Mana cukup? Aku benar-benar kelaparan sekarang, Sotiras.” Bertubi-tubi kuluapkan keluhanku padanya.
Sotiras hanya tersenyum. “Makan saja dulu. Baru bicara.”
Aku berdecak tanpa berkata apapun lagi. Pengaruhnya terlalu besar sehingga aku tidak dapat melakukan apapun lagi selain memakan buah itu tepat seperti perintahnya. Dengan cepat aku menghabiskannya.
Melihatnya, Sotiras kemudian memintaku untuk mengikutinya. Lagi-lagi, aku tidak punya pilihan selain mengikuti ucapannya.
Sotiras membawaku ke sebuah tempat yang lebih landai dengan lebih sedikit rumput yang tinggi. Kira-kira di tengah area itu kami berhenti.
“Kita akan melakukan pemanasan,” ucap Sotiras.
“Hem,” aku merespon singkat.
“Ikuti apa yang kulakukan.”
“Hem,” respon yang sama kuberikan.
Sotiras menunjukkan gerakan-gerakan pelan dengan kedua tangan dan kaki yang tampak mudah dilakukan tetapi rupanya membuat keringatku keluar perlahan. Beberapa kali kuusap keringatku dengan ujung lengan bajuku sehingga semakin lama bagian lengan itu makin basah. Sampai pada suatu waktu tertentu Sotiras berhenti.
“Hari ini aku akan mengajarimu gerakan-gerakan dasar memainkan pedang yang ringan mengingat kau masih dalam masa pemulihan.”
Aku mengangguk saja.
Sotiras berjalan ke suatu tempat yang dekat kemudian kembali lagi dengan membawa dua pedang yang terbuat dari kayu. Salah satunya diberikannya padaku.
“Kau, berdiri di sampingku dan ikuti instruksiku.”
Aku mengangguk lagi.
Untuk setiap gerakan, Sotiras memberikan contoh sebelum kemudian memintaku untuk mengulanginya bersama dengannya. Ada cukup banyak rangkaian gerakan yang ia tunjukkan padaku, namun hanya beberapa saja yang berhasil kuulangi dengan baik. Tidak jarang aku memukul beberapa bagian tubuhku seperti kepala, lengan dan punggung dengan pedang ini. Untung saja ini hanya pedang kayu. Tidak akan lucu jadinya jika ini pedang sungguhan.
Yang membuatku heran, Sotiras tidak tertawa seperti yang biasa ia lakukan jika aku melakukan sesuatu yang aneh. Ia justru dengan sabar mengajariku bagaimana caranya agar tidak mengenai tubuhku sendiri dengan pedang.
Mungkin dua jam lamanya aku belajar gerakan-gerakan dasar permainan pedang ini. Tubuhku sudah bermandikan keringat. Aku merasa lega sekali akhirnya pelajaran hari ini berakhir. Aku meminta Sotiras untuk membiarkanku duduk karena lelah.
Aku berjalan ke pohon besar yang tadi dan duduk di bawahnya. Matahari sudah cukup tinggi sehingga aku perlu tempat berteduh. Kuselonjorkan kedua kakiku dan menyandarkan tubuhku pada batang pohon.
Sotiras pun menghampiri dan turut duduk di sebelahku. “Kau baik-baik saja?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Lelah?”
Aku mengangguk kembali.
“Tapi tidak lapar, bukan?”
Aku menggeleng. Sedetik kemudian aku tersadar akan responku. Aku tidak lapar? Bagaimana bisa?
Sotiras tersenyum saat aku berpaling padanya dengan ekspresi orang dungu yang sedang terkejut. “Satu buah Evlogia memberikan daya tahan yang cukup untuk lima sampai tujuh jam. Tapi karena kau baru saja berlatih pedang, mungkin dua jam lagi kau akan membutuhkan makanan untuk perutmu yang kosong itu.”
Kurasa ini alasannya aku tidak jatuh sakit karena tertidur dengan jendela terbuka semalaman. Hebat sekali buah ini.
“Kita akan terus melanjutkan pelajaran ini setiap hari sampai kau bisa.” Sotiras memberitahukan hal yang paling tidak ingin kudengar.
Semakin lama belajar, semakin lama aku mahir, dan semakin dekat pula aku bergabung dalam peperangan. Oh tidak.
“Sotiras,” samar-samar terdengar suara memanggil seseorang yang duduk di sebelahku ini.
Tiba-tiba kurasakan pergelangan tangan kananku dicengkeram erat. Aku berpaling pada Sotiras yang melakukannya dan bertanya mengapa. Ia tidak menjawab tetapi memintaku untuk tidak bicara. Kemudian ia menarikku pergi dari sana dengan paksa.
Tanpa tahu kemana Sotiras membawaku, aku hanya mengikutinya sesuai dengan instruksi. Kami berhenti di tempat yang tidak terlalu jauh dari pohon itu dan masuk di sebuah celah di lereng bukit.
"Pangeran Sotiras, dimana kau?” suara itu kembali terdengar. Semakin lama aku semakin sadar milik siapa suara itu.
“Mengapa kau menghindar dari Prodoti?” tanyaku dengan suara normal.
Sotiras menutup mulutku dengan telapak tangannya memintaku untuk diam.
Secara paksa aku menyingkirkan telapak tangannya dari mulutku. “Kau ini ada apa? Dia masih berada di tempat yang cukup jauh sehingga ia tidak mungkin mendengar ucapanku.”
Sotiras kembali memintaku untuk diam, tapi kali ini ia hanya menggunakan jari telunjuknya yang ia tempelkan di mulutnya.
Aku masih tidak mengerti mengapa ia bertindak semacam ini, tetapi aku melakukannya saja. Ya, lagi. Aku tidak tahu mengapa aku bisa begitu saja mengikuti ucapannya.
“Sotiras?” suara itu terdengar semakin keras dan tidak jauh dari celah ini. “Pangeran Sotiras, kau ini ada dimana? Aku sangat merindukanmu. Tidakkah kita dapat bicara?” Kali ini suara itu terdengar sangat dekat. Mungkin sekitar satu atau dua meter.
Sotiras memandangku seolah ia ingin membuktikan sesuatu mengenai permintaannya agar aku diam. Aku bergidik jadinya karena berpikir bahwa Prodoti memiliki kekuatan tertentu yang memampukannya untuk mendengar sesuatu dari jarak yang jauh.
“Dasar. Pelayan itu membohongiku. Sotiras tidak ada disini.” Prodoti berdecak kesal lalu pergi.
Beberapa waktu lamanya kami masih ada di celah itu, menunggu sampai Prodoti benar-benar pergi jauh. Pada saat itulah, aku akhirnya menyadari bahwa posisiku berada terlalu dekat dengannya. Mungkin hanya sekitar dua puluh sentimeter jaraknya wajahku dari wajahnya.
Diubah oleh yohanaekky 24-03-2016 21:46
0