- Beranda
- Stories from the Heart
Stories From The Heart
...
TS
banggolay
Stories From The Heart
ane menamai Novel ini Stories From The Heart, karena jujur ane masih belajar membuat novel, dan guru ane dari cerita cerita di forum ini.
ane tidak minta untuk agan menyukai novel ini, ini karya ane yang bisa dibilang ke 100, dari 99 novel ane yang tidak pernah selesai. novel novel sebelumnya tidak pernah selesai, karena ketika ane baca ulang dan hasilnya buruk, ane buang dan menulis baru lagi.
tidak ada yang gratis di zaman ini, maka dari itu jika ada kaskuser yang berhasil mengkritik ane bab demi bab sampai novel ane selesai, untuk juara satu akan ane kasih ganjaran sebesar 300.000 juara dua 100.000 dan juara tiga 50.000.
terima kasih kaskus!
ane tidak minta untuk agan menyukai novel ini, ini karya ane yang bisa dibilang ke 100, dari 99 novel ane yang tidak pernah selesai. novel novel sebelumnya tidak pernah selesai, karena ketika ane baca ulang dan hasilnya buruk, ane buang dan menulis baru lagi.
tidak ada yang gratis di zaman ini, maka dari itu jika ada kaskuser yang berhasil mengkritik ane bab demi bab sampai novel ane selesai, untuk juara satu akan ane kasih ganjaran sebesar 300.000 juara dua 100.000 dan juara tiga 50.000.
terima kasih kaskus!
Spoiler for INDEX:
Diubah oleh banggolay 24-03-2016 02:25
chotiarno720 dan anasabila memberi reputasi
2
4.9K
Kutip
18
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
banggolay
#16
Spoiler for a thousand days:
Di tengah riuh ramai nya terminal 2D bandara Soekarno-Hatta siang itu, di dalam sebuah cafe yang terletak di koridor bandara, nampak kirana yang sedang menyeruput ice cappucino nya, sambil tidak henti hentinya menengadah kepada monitor yang tergantung di langit langit dinding, tidak jauh dari tempatnya duduk.
monitor berwarna biru, yang menampilkan daftar daftar waktu kedatangan pesawat , sudah semenjak pagi dia duduk dan menunggu, yang dia tahu dalam 3 jam lagi dia akan bertemu dengan seorang pria, yang dilepasnya empat tahun yang lalu.
memory 4 tahun yang lalu, masih tersimpan rapi di dalam benaknya, sambil menunggu kepergian, Adam dan Kirana duduk di cafe yang sama Kirana berada saat ini, mereka berbincang dan tertawa , tidak ada kesedihan yang nampak diantara keduanya hingga panggilan boarding terakhir menggema melalui pengeras suara bandara. semakin dekat mereka berpisah, semakin berat langkah kedua nya. Tiba di depan gerbang, Adam memeluk Kirana, merasakan pelukan yang akan sangat dirindukan keduanya. Tak kuasa Kirana menahan tangis ketika Adam mengecup keningnya dan berkata "i love you". untuk mengurangi kesedihannya tidak ada kata lain yang diucapkan lagi oleh Adam, dan Kirana hanya berdiri melepas kepergian kekasihnya.
tanpa disadarinya, kenangan itu, telah membuatnya meneteskan air mata, namun untuk saat ini, bukan air mata pilu kehilangan yang diteteskannya, bagaimana mereka berdua dapat melewati segala rintangan, kesetiaan menunggu satu sama lain, dan akan berkumpul kembali di tempat yang sama yang pernah memisahkan keduanya.
"Bo, si Adam belom dateng ya?" tanya Nathan yang datang dari arah pintu cafetaria, dia lebih akrab memanggil kirana dengan nama bo kependekan dari kebo.
"belum nih, harusnya sih dia udah dateng, hampir hilang sabar gue udah nunggu 4 tahun buat ini" ucap kirana sambil berdiri meloncat memeluk Nathan, sambil mereka berdua tertawa di dalam pelukan hangat sahabat.
berselang Rio dan putra bergantian memeluk kirana. dan mengambil duduk di sekeliling meja kotak berwarna cokelat. Nathan mengambil duduk di sebelah kiri , Rio di sebelah kanan dan putra di depan kursi Kirana.
melihat pelanggan baru masuk, dengan sigap pelayan yang berdiri di sudut ruangan kafe dengan ramahnya memberikan menu kepada 4 sahabat itu.
"lo mau apa na?" tanya putra sambil melihat daftar isi buku menu, hanya untuk mendapatkan cafe tersebut tidak menyediakan makanan berat.
"gak put, gue udah ngopi kali tadi 2 gelas, aneh kok gue nervous ya?"
"yah... gaada makanan besar ya" keluh putra tidak memperdulikan pertanyaan dari kirana
"mati satu tumbuh seribu bro! dari kecil menjadi bukit!" Ucap Rio membalas keluhan Putra, sambil menganggung anggungkan dagunya, bahasa isyarat untuk sepakat.
"mas saya pesen sandwich nya 5 ya gapake sayuran, sama french fries nya juga boleh deh, caramel machiato nya boleh deh" setelah menyebutkan pesanannya kepada pelayan itu, dia menatap ke arah Rio sambil mengangguk angguk juga dan menunjuknya dengan 2 jari dari masing masing tangan.
melihat tingkah itu, Nathan dan Kirana hanya mengernyitkan dahi, memaklumi kalau putra memang mempunyai selera yang melimpah tentang makanan.
"itu saja mas pesanannya?" tanya pelayan disertai dengan senyuman ramah
"yang benar aja mas, tambahin dong desert nya boleh chocolate chip cookie sundae ya, 2 sama french fries nya tambahin lagi satu.. terus" sedang asyik asyiknya fikiran Putra berkelana membayangkan makanan yang sebentar lagi akan meleleh di dalam mulutnya, kirana datang menyelak.
"hush, Putra! udah jangan banyak banyak gitu ah, mas jadi dia pesan kopi aja caramel machiato, satu sandwich dan satu french fries ya" Kirana mengambil perannya sebagai satu satunya perempuan di perkumpulan ini, itupun nyasar karena Adam, untuk membatasi segala perilaku berlebihan teman teman pria nya.
"yaaah na, please sekali ini aja" mohon Putra
"udah Put, ikutin aja, boleh lo pesen yang tadi lo mau, cuman lo pulang ke rumahnya jalan kaki ya, gak akan gue anterin" ancam Nathan yang kebetulan si empunya mobil, dan dihari berbahagia seperti ini diberikan keistimewaan untuk menjadi sopir sahabat karibnya. hanya dia tidak pernah meminta.
"iya deh" ucap Putra sedih seraya menundukkan kepalanya, keluguannya yang mempercayai Nathan rela membuat dia jalan kaki dari bandara ke rumahnya yang terletak di jakarta timur. membuatnya terlihat makin lucu.
Rio dan kirana hanya mengingik kegelian melihat tingkah laku sahabat sahabatnya, di karenakan kesibukan masing masing, mereka ber empat tetap menjaga contact melalui social media, namun jarang ada waktu luang bersama untuk berjumpa. namun sesibuk apapun mereka, demi sahabat mereka, mereka menampikkan segala tanggung jawab mereka.
******
Adam duduk di kursi dalam cafetaria, matanya mengagumi keindahan kembali lagi di tanah air, kebahagiaan menyadari apa yang berawal pasti akan berakhir, dan kesedihan pula baginya untuk menyadari hal tersebut.
tangannya memegang kotak kecil berisi cincin tunangannya, matanya beralih ke arah tangannya yang memegangi kotak kecil itu di atas meja sampai sampai dia tidak menyadari bahwa dia sedang memegangnya.
kembali di bukanya kembali kotak kecil itu, baginya seperti membuka kembali kotak pandora kenangan, yang ingin di tutupnya selamanya, agar rasa sakit seperti ini, tidak lagi dirasakan olehnya.
hari bersama Kirana tidak lagi seceria dan disertai pelangi namun kini hanya angin hujan di sertai semilir angin dingin yang menusuk semua sendi yang melatar belakangi memory memory itu. di airport ini, perpisahannya bersama kirana 4 tahun yang lalu, dia hanya ingin melupakan moment tersebut, bahkan menghentikannnya, untuk melupakan hal seperti ini tidak akan terjadi di dalam kehidupannya.
ribuan hari sudah mereka lalui, membuat mereka tersadar beratnya perpisahan, sudah pula ia lalui ribuan hari tanpa senyuman gadis cantik itu di depannya, ataupun ribuan hari yang lalu semenjak ia terakhit melihat wajah cantiknya dan memegang lembut tangannya. namun tidak bisa dia memandang hari itu seperi dua atau tiga minggu yang lalu karena semenjak satu minggu lalu fikiran fikiran yang menghancurkan perasaannya kepada sekaligus dua orang yang disayangi, menjadikan ribuan hari itu hanya terasa tanpa arti.
dia mencoba memejamkan mata, hanya untuk membuktikan bahwa wajah kirana sudah tidak lagi ada disana ketika ia memejamkan matanya. atau hanya menemaninya di dalam waktu dia sangat merasa kesepian.
bahkan di dalam mimpinya dia tidak muncul meskipun hanya untuk menunjukkan senyuman bibir berwarna merah, kecil dan cantik tidak juga nampak. dia berharap agar dia bisa berdua saja malam ini dengan Kirana.
bayangannya, menjadikan peri kecilnya yang dulu itu, sebagai pengantin bak permaisuri, dengan segala impian masa kecilnya. menggunakan gaun pengantin yang dijahitkan oleh neneknya, gaun putih off shoulder yang sangat kaya akan detai bordir dan brukat, serta di lengkapi jubah yang super panjang dan lebar, membuat wanita kecil itu semakin terlihat anggun dan cantik.
bayangan itu seakan luntur, membayangkan apa yang telah dilakukan Kiran dibelakangnya, hanya terkadang dia berfikir apakah dia memang mencintai kirana sejak awal, apakah mereka hanya terjabak didalam emosi anak kecil yang bahkan belum mempelajari pelajaran hidup dan mengenal kata cinta, hingga waktu berjalan terus sehingga Kirana hanyalah zona nyaman baginya, begitupun apa yang dirasakan Kirana. seandainya dia mencintai kirana, tidak akan mungkin pun terbersit kecemburuan ataupun rasa saling tidak percaya seperti ini.
hanya saja dia bingung, perempuan yang tidak pernah di sangkanya akan menyakitinya, menjadi satu satunya yang memegang pisau bersama dengan sahabat terdekat bak saudaranya dan mencabik cabik hatinya
dia memutuskan untuk berdiri dari meja , sudah 7 jam setelah pendaratannya dia merenung di dalam cafe itu, hanya memesan makan sore dan malam dan satu gelas kopi hitam kesukaannya, diambilnya kopernya disamping meja, menguatkan kaki untuk berdiri dan membesarkan hati menerima apa yang sudah dan akan terjadi.
"mas, maaf ada yang ketinggalan"
kakinya terhenti mendengar panggilan dari pelayan yang bertugas merapihkan kembali mejanya setelah dia pergi. dia berderi menunggu pelayan itu datang ke arahnya, dan tersenyum menerima kotak cincin yang tadi sengaja di tinggalkannya di meja kafe itu kembali berada di tangannya.
0
Kutip
Balas