Quote:
Di pelataran rumah sakit, kupandangi orang-orang yang hilir mudik dengan urusannya masing-masing. Kadang terdengar sirine ambulan dan sekumpulan orang yang berbondong-bondong menyelamatkan seseorang yang membutuhkan pengobatan darurat. Jas putih yang berseliweran, disertai dengan tatapan yang bersahaja seakan meneduhkan suasana yang gaduh tersebut. Merekalah para dokter yang siap menolong siapapun yang membutuhkan jasanya. Sayangnya aku tidak ingin menjadi dokter.
Ruang ECU itu terletak di lantai tiga. Dari kaca di pintu masuknya, aku diam-diam mengintip seorang pria tua yang terbaring lemah di tempat tidur. Dengan cairan infus dan lainnya yang tidak kuketahui benar mengalir dan masuk ke dalam nadinya. Di sebelahnya ada alat monitor untuk detak jantung dan beberapa suster yang rutin memeriksa keadaan pria tua itu dan pasien lainnya.
Aku menahan napasku saat melihat pria tua itu. Dia ayahku. Sebulan yang lalu diabetes yang diidapnya tiba-tiba saja menjadi monster ganas yang mengambil seluruh kekuatannya, lalu jadilah dia terbaring lemah tak berdaya. Kakinya sudah sulit berjalan, ditambah dengan cidera di otaknya saat kecelakaan dulu, menjadikannya semakin sulit untuk sekedar tertawa dan menghirup segarnya udara pagi. Kadang aku berpikir, sanggupkah aku bila menjadi beliau?
Ayah sudah dua hari di dalam rumah sakit. Luka di kakinya semakin parah. Kadar gulanya sudah sangat tinggi. Dan yang lebih penting, aku berat mengatakannya tapi dia sudah bukan ayahku yang dulu. Dia hilang ingatan, walau masih menyimpan memori tentang aku dan keluargaku. Sisanya lupa. Dia yang dulu siang malam berjuang menafkahi keluarga kecil kami. Entah sudah berapa kali aku melihatnya jatuh dari motor akibat terlalu lelah, tapi dia bahkan tidak sedikitpun mengeluh.
Dulu ayah selalu marah-marah. Apa saja bisa dia jadikan alasan untuk marah. Kadang aku kesal dengan keegoisannya itu. Tapi justru kini aku malah merindukan sosok galaknya itu. Sekarang ayah tidak banyak bicara, atau lebih tepatnya tidak tahu harus berbicara apa. Hilang ingatan yang dideritanya itu membunuh semua memori yang sudah dia rangkai sejak lahir di bumi ini. Lalu tiba-tiba saja semua terhapus dengan begitu cepatnya.
Dulu kami banyak uang, karena ayah selalu giat bekerja. Semenjak ayah sakit, keadaan seolah memaksaku untuk menjadi tulang punggung bagi keluarga kami. Ada ayah yang harus kusembuhkan, adik-adik yang masih harus kusekolahkan dan aku sendiri yang masih harus menyelesaikan kuliahku yang masih lama. Untung saja ibuku seorang pedagang makanan, setidaknya kami masih punya uang untuk makan sehari-hari. Sisanya, aku menjadi guru privat, bimbel dan kadang-kadang menggantikan pekerjaan ayahku dulu, menjadi teknisi mesin kasir. Dan kami masih bisa bertahan hidup dengan segala rezeki yang ada.
***
Aku tumbuh bersama segala omelan dan bentakanmu. Ya, benci itu memang ada, tapi ajaibnya benci itu tak pernah dan tak akan bisa meredam cintaku sebagai anak. Aku yang berjuang sendiri tanpa sepatah pun kalimat mendukung darimu, aku yang melangkah sendiri tanpa tanganmu yang berusaha menuntun.
Aku ingat saat pertama kalinya kau menceritakan tentangku pada temanmu, saat aku menjadi seorang mahasiswa di perguruan tinggi negeri. Aku melihat matamu yang berbinar-binar saat memberitahu mereka bahwa aku ini anakmu yang hebat.
Kadang aku merenung, bagaimana caramu menunjukkan cintamu pada kami, keluargamu, dibalik omelan dan bentakan yang kau lontarkan tiap hari? Di setiap kata-kata yang penuh dengan sindiran kepada kami, atau dari sikapmu yang tak mau tahu dan masa bodoh. Ayah kadang aku iri saat aku melihat bagaimana akrabnya seorang anak perempuan dengan ayahnya, aku juga ingin merasakan jatuh cinta pada pria pertama dalam hidupku, yakni ayahku sendiri.
Kadang aku iri melihat dengan mudahnya seorang ayah merangkul putrinya. Saling berbagi cerita hidup, memberikan kejutan yang tak terduga di hari ulang tahun dan menciptakan banyak kenangan lainnya.
Bukan berarti aku tidak mensyukuri keberadaanmu ayah. Bukan berarti aku menyesal menjadi anakmu. Bukan berarti aku menginginkan ayah yang lain, bukan.
Bagaimanapun, seperti apapun kau, satu hal yang harus selalu kuingat adalah kau ayahku. Dengan segala kekurangan dan kelebihanmu, sudah berhasil membesarkanku dan adik-adik yang lain dengan baik, sudah menjadi kepala keluarga yang baik dan suami yang baik pula tentunya.
Karena aku tak pernah sungguh-sungguh membenci apa yang kau lakukan terhadapku. Aku mencintaimu, dan maaf aku belum mampu membalas semua pengorbananmu.
***
Ayahku kini harus berjalan dengan bertumpu pada tembok. Ayahku kini tak bisa buang air sendiri. Ayahku kini terbaring lemah diatas kasur.
Ayah, kita tahu hidup adalah bagai berjalan dimana setiap perjalanan selalu menemukan titik akhirnya. Ayah aku tidak ingin memungkiri bahwa entah kapan kita akan mejumpai apa yang kita sebut dengan kematian. Entah kau atau aku yang pergi lebih dulu, biarlah menjadi urusan Tuhan. Ayah, bila saat kita sudah tiba, ingin sekali aku menanyakan ini padamu;
Sudahkah aku menjadi anak yang baik?
Aku ini anakmu yang nakal. Berani membentak dan membangkang perintahmu. Kerap pulang malam bermain bersama teman, menghabiskan uangmu untuk hal-hal yang tidak penting. Aku yang kadang membolos sekolah padahal kau yang paling banting tulang agar aku bisa menjadi anak yang pintar.
Maukah kau memaafkanku sebagaimana aku memaafkanmu?
Kita ini manusia kan? Kau tahu manusia selalu dipenuhi dengan lumpur, yah. Entah itu kebencian, kejahatan, kemunafikan, aku tak ingin memungkiri semua itu. Aku ini manusia yang penuh dengan lumpur, begitu pula dengan engkau dan manusia lainnya.
Namun karena lumpur itulah kita mengenal kata maaf. Kita mengenal sebuah kebaikan yang bersinar terang di dunia kita yang penuh kegelapan.
Ayah, pintaku, maukah kau bertahan sampai aku meraih mimpiku? Maukah kau berjuang lebih keras melawan penyakitmu sampai aku menjadi orang yang berhasil? Maukah kau melihatku nanti, mengenakan toga, melihat buah hasil perjuanganku, perjuangan kita semua?
Ayah, sebentar lagi, bisa kan?
Dan bila saat itu tiba, masihkah aku boleh bertanya padamu;
Sudahkah aku menjadi anak yang baik?