- Beranda
- Stories from the Heart
A Choice Without Regrets
...
TS
angmaw
A Choice Without Regrets
TRY

Quote:
Sebuah potongan lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi asal USA, Asher Monroe Book. Lirik yang mengingatkan kita akan kata 'move on' sangat gamblang dijelaskan dalam lagu ini. Inti dari lagu ini adalah cinta tidak harus memiliki, yang penting diperjuangkan, jangan takut untuk mencoba dan mengambil resikonya.
Spoiler for Asher Monroe Book - Try:
Pilihan adalah sesuatu yang akan kita temui dalam hidup ini. Mau tidak mau kita harus memilih jalan yang akan kita ambil. Baik atau burukkah hasil yang akan kita dapatkan nanti? Who knows? Kita hanya menjalani apa yang telah digariskan oleh Tuhan. So, keep try! Tetap mencoba dan jangan ada penyesalan akan apa yang telah kita pilih nantinya.
Yap, ini adalah sepenggal kisah masa lalu gua. Tahun-tahun yang sangat berarti dalam hidup gua akan gua kenang kembali dan gua tuangkan disini. Cerita ini real adanya dan sesuai dengan pengalaman hidup gua. Mohon maaf untuk menjaga privasi gua tidak mencantumkan nama asli dalam tokoh-tokoh yang akan gua angkat selain nama gua.
Quote:
Happy Reading!
Diubah oleh angmaw 19-03-2016 23:27
0
4.7K
34
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
angmaw
#28
PART 09
"Adi!"Kata Riska setengah berteriak kearah gua.
“Apaan?" tanya gua dengan raut kesel secara Riska telah menganggu aktivitas gua membaca sebuah buku.
"Lagi ngapain ni?" Tanya Riska sambil duduk di samping gua. Sementara tangannya dengan santai meraih buku ber-cover bocah berambut kuning dari tangan gua, tanpa memperdulikan sedikit pun tatapan sebel yang gua lemparkan atas tindakan seenak jidatnya itu.
"Huwahahahha..... Kamu baca komik? Gak salah? Bukannya kamu bilang gak suka Dora ya?" tanya Riska atau mungkin lebih disebut sebagai ledekan kali ya.
"Diem," balas gua sewot sambil meraih kembali buku gua, “Naruto beda dengan Dora.” Sambung gua.
"Tetep aja kartun, kayak anak kecil aja." Kata Riska sambil mencoba merebut buku gua lagi.
“Biarin.” Jawab gua seraya menepis tangan Riska dan memasukkan buku gua ke dalam tas.
“Isss, pelit amat.” Kata Riska dengan tampang yang dibuat cemberut.
“Kenapa?”
“Kenapa apanya?”
“Kok tumben?”
“Tumben apaan? Isss, ngomongnya gak jelas gitu.”
“Kok tumben gak rumpi bareng Bajigur?”
“Emang kenapa? Gak boleh aku ngobrol dengan yang lain?”
“Bukannya gitu, biasanya kan……”
Gua berhenti berkata setelah melihat tatapan sinis Riska kearah gua. Setelah diam beberapa saat, Riska kembali berkata.
“Di….”
“Ya?”
“Pernah gak kamu merasakan pahitnya kehidupan saat kamu punya semua?”
“Maksudnya?”
“Kalau secara materi aku udah lebih dari cukup, mau apa tinggal bilang. Tapi disini aku seperti hampa, gak ada satu orang pun yang mengerti perasaanku, yang bisa ku ajak berbagi, bercanda gurau dan sebagainya. Orang tuaku sibuk gak pernah punya waktu untukku, sementara disini aku gak punya teman.”
“…..”
“Aku kira dengan gabung di Bajigur bisa lebih dekat dengan yang lain, tapi ternyata mereka malah makin menjauh. Para cewek Bajigur juga kalo ada maunya baru nyariin aku.”
Gua diam sejenak, mencoba meresapi maksud dari Riska.
“Ris…” Gua mendekatkan wajah gua menatap lurus ke arah matanya, “Cobalah terbuka ke semua orang, jangan memilih dalam berteman. Bagaimana sikapmu ke mereka, itulah sikap yang kau dapat dari mereka. Dan juga disini kamu gak sendiri, aku ini temanmu juga kan. Jadi jangan merasa kesepian lagi.” Sambung gua mantap.
“Di… Omonganmu tua banget ya sama kayak muka mu, hahaha…”
“Yaelah ni anak, bukannya di dengerin omongan orang tua.”
“Hahaha… lucu kamu di. Thanks ya wejangannya, cuma kamu yang bisa ku ajak berbagi.”
“Santai Ris, sama teman emang harus saling berbagi kan.”
“Sip deh, udah mau masuk nih.” kata Riska seraya beranjak dari tempat duduk.
“Iya, buruan balik ke bangkumu Ris. Dari tadi aku diliatin mulu sama genk Bajigur, takutnya aku di apa-apain nanti hahaha….”
“Haha iya deh.”
Baru dua langkah berjalan, Riska berbalik ke arah gua dan kemudian berkata.
“Oya di nanti pulang sekolah sibuk gak? Denpasar Festival udah buka nih, jalan yuk!”
“Hmmm gimana ya?”
“Aku traktir Teh P*ci deh.”
“Ayok!”
“Hahaha… Oke deh pulang sekolah aku tunggu di parkiran.”
“Siap!”
Dan kemudian Riska kembali ke bangkunya. Bel sekolah pun berbunyi, dan dipadukan dengan suara burung yang bernyanyi. Banyak teman-teman gua berhamburan masuk ke kelas, termasuk juga Arika yang tepat datang setelah bel masuk. Arika menuju ke bangkunya yang terletak didepan bangku gua, setelah meletakkan tas diatas meja Arika menyapa gua.
“Pagi Adi. Si Hendra sama Erna kemana? Kok belum datang?”
Untuk sejenak gua terdiam. Kejadian kemarin sore kembali membayang di ingatan gua. Apalagi saat gua tau kalau Arika... Entahlah, tiba-tiba mood gua kembali down. Setelah terlebih dahulu menghela nafas gua berujar singkat.
“Gatau.”
Sekilas gua melihat Arika mengernyitkan dahinya dan menatap gua heran, kemudian gua memalingkan wajah karena tak kuasa melihat tatapan Arika ke gua.
“Kamu kenapa di?”
Yaelah pake nanya lagi, udah jelas-jelas lu yang buat gua kayak gini Arika. Kenapa lu gak bilang kalau lu udah punya cowok?! Geram gua dalam hati. Mungkin gua nya juga yang terlalu berharap kali ya.
Gua hanya menggeleng sambil tersenyum kecut tak menjawab pertanyaannya.
Arika membalikkan tubuhnya dan kemudian duduk, setelah tahu Pak Bingar masuk ke dalam kelas. Ya nama beliau Pak Bingar, guru PKn yang terkenal dengan kebijaksanaannya dalam mengajar. Atau kata lainnya guru ter-‘killer’ di SMK gua.
Selang beberapa saat, terdengar dari arah luar suara larian langkah kaki dan kemudian muncul dua orang remaja labil dari balik pintu kelas dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
“Maaf pak kami terlambat.” Ucap Hendra dan Erna bersamaan.
“Ciiieeeee!!! Telatnya aja barengan…” Sontak suara anak-anak kelas menyambut kedatangan mereka.
Hanya dengan tatapan tajam Pak Bingar ke arah kami, membuat anak-anak kembali diam. Bahkan burung di balkon kelas kami pun tak berani menyanyikan kicauannya. See? Itulah kehebatan yang dimiliki Pak Bingar.
“Saya tidak akan menanyakan alasan kalian terlambat, cepat duduk! Dan nanti jam istirahat kalian berdua ke ruangan saya.” Kata Pak Bingar dengan tegasnya.
“Baik Pak.” Jawab Hendra dan Erna, kemudian mereka bergegas untuk duduk.
Hendra yang sudah mendaratkan pantatnya di kursi sebelah gua tampak masih bercucuran keringat di wajahnya. Belum sempat gua bertanya, Hendra lantas berbisik ke arah gua.
“Gua terlambat gara-gara lu.”
“Hah? Gua?”
“Lu gak ingat kemarin?"
---
Kemarin petang pulang dari Gramedia setelah gua membeli buku komik hanya seorang diri. Di tengah perjalanan pulang, gua menghentikan laju motor dan menepi di pinggir jalan. Pikiran gua kusut, sampai kemudian sebuah ide terlintas di kepala gua. Tanpa pikir panjang lagi segera gua keluarkan Hape dari dalam saku. Begitu melihat kontak yang gua cari, gua langsung menekan tombol calling. Semenit kemudian gua mematikan panggilan dan langsung mengenakan helm dan kembali melaju. Namun bukannya pulang ke rumah, kedai Mie Badrun menjadi pilihan gua. Kedai ini adalah tempat favorit gua dikala suntuk melanda, selain makanan khasnya yang enak yakni mie goreng dengan campurn bumbu kacang dan diperkaya tambahan sayur, lontong, tahu goreng, telor goreng, bawang goreng, cabai tabur dan kerupuk, harganya juga ramah untuk dompet anak sekolahan dan anak kost.
“Kenapa si gua harus berurusan lagi sama masalah ‘cinta’ yang bikin ribet?”
“Lagi? Maksud lu?” tanya gua saat mendengar nada mengeluh dari mulut Hendra, sahabat gua yang sengaja gua ‘paksa’ untuk menghibur hati yang kacau.
Hendra tidak langsung menjawab. Namun kepalanya mengangguk membenarkan. Tangannya dengan santai memasukkan sesendok mie kedalam mulutnya.
“Kemaren temen gua waktu masih SMP juga bingung soal kisah cintanya. Namanya Yoga, udah jelas-jelas dia cinta sama pacarnya. Eh malah kerena mantan cewek yang di suka muncul lagi dia jadi bingung. Untung aja kisahnya happy ending. Lah sekarang lu juga sama. Udah jelas-jelas lu katanya suka sama Arika, eh malah baru tahu kalo dianya sudah punya cowok."
“Sialan lo,” gerutu gua kesal. “Ya mana gua tahu cuk, masa ia gua harus tanya statusnya. Mending kalau dia mau jawab, la kalau enggak? Trus gua dikiranya terlalu mengurusi privasi orang gimana? Yang ada ni ya, bukannya malah happy ending justru hubungan pertemanan gua sama dia malah jadi berantakan.”
“Terus sekarang maunya apa?” tanya Hendra lagi.
“Tau... hibur gua dong. Lagi suntuk nih. Kira-kira obat suntuk apa ya?” tanya gua lagi.
“Baygon cair.”
“Pletak!”
Sebuah jitakan gua daratkan telak di kepala Hendra atas balasan saran ngawurnya.
“Iya. Kalau minum baygon, suntuk memang hilang tapi nyawa juga melayang."
“Hahaha, itu pinter....” Hendra tergelak. “Lagian lo pake suntuk segala. Kayak manusia aja,” sambung Hendra terdengar mengerutu.
“Gua emang manusia,” geram gua makin gondok.
Emosi bener deh ngadepin ni anak satu. Tiba-tiba gua jadi merasa menyesal minta saran dari Hendra. Tau gini mendingan gua minta temenin Erna aja kali ya. Walau tu anak genitnya udah kebangetan tapi paling nggak dia kalau ngomong gak nyelekit.
“Kalau lo emang manusia berlakulah layaknya manusia," nasehat Hendra lirih.
“Maksudnya?”
“Dengar cong. Tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan, itu memang bener. Tapi paling nggak berusahalah untuk mendapatkannya. Jangan terlalu cepat mengalah, apa lagi terburu-buru menyerah karena doi sudah punya cowok.” terang Hendra, kali ini dengan tampang serius.
gua terdiam. Mencoba mencerna maksud dari ucapan sahabat gua barusan.
“Tumben lu pinter."
“Pletak!”
“Membalas itu selalu lebih baik dari pada tidak ada balasannya,” kata Hendra cepat sebelum gua sempat protes karena jitakan yang mendarat di kepala gua.
“Oh ya, lo katanya suntuk kan? Ya udah, hari ini gua jadi sahabat yang baik deh. Kita main PES aja. Lagian gua juga udah lama nggak main PES. Tangan gua udah gatel pengen ngalahin lo," ajak Hendra beberapa saat kemudian.
Sejenak gua berpikir. Sepertinya itu ide bagus. Terlebih juga gua suka main game. Akhirnya tanpa pikir panjang gua segera menyetujui saran Hendra barusan. Kami main PES sampai larut malam dan pulang jam 1 pagi. Sedikit banyak pikiran gua sudah mulai plong. Ternyata pada akhirnya Hendra memang bisa menghibur gua.
---
“Lu udah ingat kan?” tanya Hendra setelah yakin gua sudah mengingat kejadian kemarin.
“Hehe gak usah pake tatapan sinis gitu juga kali. Lagian yang ngajakin main PES kan elu.” Jawab gua tak mau kalah.
Tanpa diduga sebuah sepidol mendarat ke kepala gua. Arah lemparannya gua yakin dari arah meja guru. Mampus, gua kena hukum juga lari keliling lapangan 3 kali.
---
Bel sekolah berdering, jam istirahat pun tiba. Gua mengambil buku komik dari dalam tas dan berniat membacanya.
“Komik baru nih.” Kata Arika mencoba membuka obrolan.
Gua tak menjawab dan langsung berniat melangkah keluar, tapi tangan Arika sudah terlebih dahulu mencekal. Gua berusaha untuk melepaskan, tapi sepertinya cengkraman Arika semakin kuat. Akhirnya gua lebih memutuskan untuk menyerah.
“Kamu kenapa sih?” tanya gua dengan nada lelah.
“Justru kamu yang kenapa?” balas Arika balik.
“Oke, kayaknya aku kecapean setelah dihukum keliling lapangan barusan. Jadi sekarang pengen istirahat dulu. Jadi aku harap kamu bisa ngerti."
Mendengar ucapan dingin gua barusan, genggaman Arika langsung terlepas. Memanfaatkan moment tersebut, gua segera berlalu.
Belum sempat melewati pintu kelas, terasa bahu gua ditahan oleh genggaman seseorang dari belakang.
“Aku minta maaf tentang yang kemarin, bolehkan aku menebusnya?” Kata Arika yang kemudian melepas tangannya dari bahu gua. “Bagaimana kalau nanti pulang sekolah kita jalan?” sambungnya.
Gua membalikkan badan dan kemudian berkata.
“Sorry Rik. Hari ini aku nggak bisa, tadi pagi aku udah janji sepulang sekolah jalan bareng Riska ke Denpasar Festival.”
“O...” Sahut Arika, gua melihat jelas raut kecewa terpancar di wajahnya.
“Membatalkan janji secara sepihak tanpa alasan yang jelas tentu akan terasa sangat menyebalkan bukan?” tanya gua lagi.
Arika terdiam dengan wajah menunduk. Jujur ia pasti sangat kaget mendengar ucapan gua barusan. Jelas ia merasa sangat tersindir. Di helanya nafas untuk sejenak sebelum mulutnya terbuka untuk menjawab.
“Ya sudah kamu pergi aja. Kasian Riska nya kalau harus batal kesana,” Gua melihat Arika berusaha tersenyum paksa. Mengubur dalam-dalam rasa kecewa yang jelas dirasakannya.
“Oh, ya sudah kalau begitu. Sorry aku mau ke kantin dulu ya,” pamit gua.
Arika hanya membalas dengan anggukan. Dengan cepat gua melangkahkan kaki menuju kantin. Sesekali gua menoleh kebelakang. Melihat Arika yang masih berdiri terpaku. Gua hela nafas untuk sejenak. Jelas gua merasa kecewa karena Arika sama sekali gak mencegah gua untuk jalan dengan Riska.
Dasar bodoh, apa yang telah gua lakukan? Gua merasa menjadi orang yang paling jahat di muka bumi ini. Bagaimana bisa gua bersikap dingin seperti itu kepada Arika, belum tentu ia yang salah kan? Siapa tahu ia memang ada kepentingan yang mendesak kemarin. Mungkin kepentingan dengan cowoknya. Argh! Masa bodo lah, sudah terlanjur basah. Biarlah kejadian ini berlalu seiring berjalannya waktu.
0