- Beranda
- Stories from the Heart
Sembunyi Sembunyi Sayang
...
TS
chocolavacake
Sembunyi Sembunyi Sayang
“
No one can separate us
No one
- TSH -
No one can separate us
No one
- TSH -
Spoiler for Index:
Prolog
Gelembung 1: Ficus benjamina
Gelembung 2: Postulat Einstein
Gelembung 3: Hujan di Bulan Juni
Gelembung 4: Pesan Pertama
Gelembung 5: Jangan Kecewakan Hati yang Sedang Berlindung Kepadamu
Gelembung 6: Dipisah Jarak
Gelembung 7: Tuan Putri
Gelembung 8: Liontin
Gelembung 9: Ini Punyaku
Gelembung 10: Kecupan Kedua
Gelembung-11: Lik Tik
Gelembung 12: Begundal
Gelembung 13: Cemburu
Gelembung 14: Pengakuan
Gelembung 15: Rika dan Mutmainah
Gelembung 16: Janji
Gelembung 17: Alun-alun
Gelembung 18: Ultimatum Nafla
Gelembung 19: Gulana
Gelembung 20: Ihsan
Gelembung 21: Surat Merah Muda
Gelembung 22: Getir Kekalahan
Gelembung 23: Teman SD
Gelembung 24: Radisty Ayu Anindya
Gelembung 25: Gerimis
Gelembung 26: Erupsi
Gelembung 27: Selamat Ulang Tahun
Gelembung 28: Rencana
Gelembung 1: Ficus benjamina
Gelembung 2: Postulat Einstein
Gelembung 3: Hujan di Bulan Juni
Gelembung 4: Pesan Pertama
Gelembung 5: Jangan Kecewakan Hati yang Sedang Berlindung Kepadamu
Gelembung 6: Dipisah Jarak
Gelembung 7: Tuan Putri
Gelembung 8: Liontin
Gelembung 9: Ini Punyaku
Gelembung 10: Kecupan Kedua
Gelembung-11: Lik Tik
Gelembung 12: Begundal
Gelembung 13: Cemburu
Gelembung 14: Pengakuan
Gelembung 15: Rika dan Mutmainah
Gelembung 16: Janji
Gelembung 17: Alun-alun
Gelembung 18: Ultimatum Nafla
Gelembung 19: Gulana
Gelembung 20: Ihsan
Gelembung 21: Surat Merah Muda
Gelembung 22: Getir Kekalahan
Gelembung 23: Teman SD
Gelembung 24: Radisty Ayu Anindya
Gelembung 25: Gerimis
Gelembung 26: Erupsi
Gelembung 27: Selamat Ulang Tahun
Gelembung 28: Rencana
Spoiler for Prolog:
Apa sihyang terlintas di pikiran kalian ketika mendengar kota 'Jember'?
Anang Hermansyah? Dewi Persik? Opick? Atau Tembakau? Benar, mereka berasal dari Jember dan deretan nama itu sudah jadi langganan saat aku mencoba memperkenalkan diri dengan menyisipkan kota asalku.
Kalau kalian punya waktu, datanglah kemari. Bagiku dan mungkin bagi siapapun yang lahir di tanah ini, Jember adalah sebuah mahakarya. Kalau Bandung diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum, maka menurutku Jember diciptakan ketika Tuhan sedang berbahagia. Lihat saja, kabupaten ini memiliki wilayah dari pegunungan hingga lautan. Di daerah utara sana, membentang gagah Pegunungan Hyang dengan Gunung Argopuro sebagai atapnya. Di bagian timur, berjajar rangkaian Pegunungan Ijen yang selalu mewarnai keindahan matahari terbit di waktu fajar. Sedangkan di wilayah selatan terhampar Samudra Hindia yang katanya menjadi teritorial Ratu Pantai Selatan. Tak hanya itu, mungkin karena benar saat itu Tuhan sedang berbahagia, wilayah kami dikaruniai tanah yang subur. Padi, jagung, tembakau, kopi, kakao, serta beragam jenis tanaman dapat tumbuh di sini. Sungai Bedadung yang mengalir dari Pegunungan Hyang di bagian Tengah, Sungai Mayang yang bersumber dari Pegunungan Raung di bagian timur, dan Sungai Bondoyudo yang bersumber dari Pegunungan Semeru di bagian barat, bahu membahu membantu kami mengairi irigasi para petani. Banyak hal yang harus kalian ketahui tentang tempat kelahiranku ini, nanti akan aku ceritakan.
Tapi, selain besarnya kekayaan alam yang dianugrahkan Yang Maha Agung, ada satu hal yang membuatku selalu rindu untuk pulang.
Kenangan.
Benar, sehebat dan seagung apapun seseorang pasti memiliki kenangan, yang akan selalu tersimpan di otaknya, mambantu dalam bertahan, atau bahkan sebagai motivator untuk berjuang. Masa laluku, yang selanjutnya tertata rapi dalam gelembung-gelembung kenangan, membekas indah pada dinding-dinding putih sebuah sekolah.
Mungkin kalian sudah berulang kali membaca novel, cerpen, atau menonton film, sinetron, FTV, dengan latar belakang SMA. Akupun tidak membantah, karena seperti orang-orang bilang, SMA merupakan masa yang paling indah. Betapa tidak, topik tak terhingga selalu dapat dibahas dan menjadi gelak tawa saat reuni berlangsung. Tawa, tangis, canda, lara, cinta, setiap dari kalian pasti mengalaminya. Begitu juga aku.
Ada berjuta kisah berlatar SMA yang jauh lebih baik dan tersaji dengan apik di luar sana. Tapi ini kisahku, aku hanya ingin bercerita, berbagi gelembung kenangan yang selalu aku tutup rapat sebelumnya.
Spoiler for Gelembung 1: Ficus benjamina:
Yang aku ingat, hari itu bukanlah hari terbaikku. Karena sejak awal, aku bingung harus bagaimana.
Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah. Bukan dalam artian masuk kelas lalu belajar tentunya. Hari ini dan tiga hari setelahnya, aku dan teman-teman se angkatanku akan menjalani kegiatan tidak terlalu penting bin membosankan nomor satu, bernama Masa Orientasi Sekolah, atau yang sering kalian sebut dengan akronim ospek. Tidak terlalu penting karena mungkin hanya 25% dari kegiatan yang diselenggarakan memberi output yang langsung dirasakan oleh siswa baru. Membosankan karena hampir semua sekolah dan hampir setiap kepanitiaan mengemasnya dengan seragam. Ada sih beberapa sekolah yang melakukan kegiatan tersebut dengan kegiatan yang bermanfaat, tapi tidak banyak.
Tidak salah bila banyak yang mengatakan bahwa ospek merupakan ajang balas dendam dari pengalaman kakak kelas pada saat mereka melaksanakan ospek. Nyatanya, tidak sedikit kasus siswa atau mahasiswa baru yang mengalami cedera bahkan meninggal saat melaksanakan kegiatan tersebut. Belum lagi kasus-kasus yang tidak mendapat sorotan media. Who knows?
Jarak rumahku ke sekolah tidak terlalu jauh. Sekali naik angkot, kira-kira 20 menit. Mengenakan baju putih lengan panjang, celana bahan warna hitam, dan sepatu hitam polos, aku berangkat menuju sekolah tanpa ditemani satu temanpun. Miris bukan? Sebenarnya ada satu orang teman SD ku yang tinggal di dekat rumah dan masuk ke sekolah itu juga, namun latar belakang SMP merubah derajat kita.
Aku satu-satunya siswa dari SMP ku yang masuk ke sekolah ini. Dari sebelas orang yang mendaftar, sepuluh orang tereliminasi. Dan akhirnya, di sinilah aku berada. Terdiam sendiri di tengah hiruk pikuk siswa yang bercengkrama, tertawa, dan bergembira satu dengan lainnya.
Tiba-tiba, terdengar suara bel panjang. Para siswa baru berhamburan menuju lapangan basket setelah beberapa kakak kelas (panitia) berteriak untuk berbaris di lapangan. Kami berbaris, tidak butuh waktu lama untuk menyusun barisan. Selanjutnya, dilaksanakanlah apel pembukaan.
Aku lupa, ternyata hari itu adalah hari Pra-MOS, yang artinya hari itu belum seperti ospek yang biasanya, istilah kerennya Warming Up. Tidak ada yang menarik di hari itu. Sebelum dhuhur, kami diperbolehkan pulang, tidak lupa dengan bermacam-macam penugasan yang harus dibawa keesokan hari tentunya.
Hari itu aku mendapatkan beberapa teman baru, aku lupa siapa saja mereka. Hanya satu orang yang aku ingat, namanya Ilham.
***
Di bangku sekolah dasar, aku tergolong siswa yang pandai. Terserah kalian menganggap aku sombong atau bangga, bagiku memang tidak jelas batas antara keduanya. Sering aku didaftarkan mengikuti lomba cerdas cermat atau olimpiade tingkat kecamatan dan kabupaten. Beberapa kali aku pulang membawa piala, meskipun tidak pernah menorehkan juara satu. Aku sering curiga karena di setiap lomba pemenangnya selalu dari sekolah kota.
Waktu itu kami sedang intensif belajar menghadapi UN. Jadi hanya mata pelajaran UN saja yang diajarkan. Di tengah pelajaran, seseorang mengetuk pintu kelas, Bu Iriantini, kepala sekolah. Lalu beliau meminta ijin untuk memanggil aku dan seorang temanku ke ruang kepala sekolah.
"Ada lomba, Olimpiade MIPA tingkat karesidenan. Kalau kalian ibu daftarkan, mau?"
Aku menghela nafas, lomba lomba lomba. Kami saling beradu pandang.
"Ibu yakin kalian bisa. Hitung-hitung lomba terakhir sebelum kalian lulus. Ini lomba dari universitas, jurinya pasti netral dan soalnya pasti aman, Ji."
Ah, tahu saja Ibu apa yang ada di pikiranku.
"Yasudah, kalian boleh kembali ke kelas. Nanti ibu kabari lagi teknis lombanya bagaimana."
Kami pun kembali ke kelas. Seperti kerbau yang dicongkel hidungnya, tanpa ada pembelaan dan kata-kata, kami secara sepihak terpaksa menerima apa yang sudah direncanakan kepada kami. Hari-hari selanjutnya aku dan temanku, Yoga, harus menambah jam belajar di sekolah, karena sore harinya kami mendapat tambahan les untuk menghadapi olimpiade terkhir kami.
***
Apa faedahnya menggunakan besek (wadah tape yang terbuat dari bambu) dikepala? Apa gunanya menggunakan tali rafia sebagai pengganti ikat pinggang? Apa manfaatnya menggunakan kaos kaki berbeda warna serta tali sepatu yang berbeda warna pula? Melatih mental? Yaelah, bro,kita disini MAU menuntut ilmu, bukan mau berperang.
Aku sempat kesal melihat daftar penugasan yang diberikan kakak-kakak panitia terhormat itu. Belum lagi mereka menyajikan dengan teka teki. Contohnya manusia salju, parabola terbalik, atau buku terang. Dan yang paling aku tidak habis pikir, kami disuruh membuat kalung berliontin bawang putih. Hello, emang kita mau ngusir drakula?
***
Namanya Yoga. Lelaki bulan Januari ini kami kenal sebagai pelukis ulung. Tulisan tangannya bagus, jauh diatas rata-rata tulisan tangan kami siswa lelaki di usia itu. Sampai kami lulus SD, belum ada yang menyaingi keluwesan tangannya dalam menggores pensil atau kuas. Dari tahun ke tahun, Yoga tidak pernah lupa meninggalkan catatan sejarah dengan memajang hasil karyanya di dinding kelas. Entah kenapa ketika lulus kuliah, pria berkulit putih dengan rambut kriting ini memutuskan untuk masuk SMK, jurusan otomotif pula yang diambilnya. Aku tidak sempat bertanya karena kami berbeda sekolah saat SMP. Tapi di sini kalian jangan terlalu memikirkan Yoga. Dia hanya pemain figuran yang hanya muncul saat kami mengikuti Olimpiade MIPA.
Jam di tanganku menunjukkan pukul sebelas kurang lima menit. Ada waktu sekitar 20 menit lagi untuk menunggu pengumuman siapa saja yang lolos tahap dua kualifikasi. Aku, Yoga, dan dua guru pendampingku duduk menunggu di sebuah ruangan mirip aula. Aku mulai bosan, riuh rendah suara peserta lain tak mau kalah dengan suara deras hujan. Ah, Januari tak pernah ingkar, aku percaya hujan yang dibawanya berasal dari percik sungai di surga firdaus, nyaman dan menentramkan.
Aku keluar aula. Tak jauh berbeda dengan kondisi di dalam, di luar siswa dan guru-guru berbicara sedikit agak lantang, tak mau kalah dengan nyanyian hujan. Untungnya kampus ini memiliki koridor-koridor yang menghubungkan antar gedung, sehingga mobilitas civitasnya tak terganggu hal-hal seperti hujan ini. Aku kagum dengan tata kelolanya. Bersih dan rindang. Sejauh mata memandang, warna hijau dari dedaunan mendominasi. Aku berjalan menyusuri koridor. Sesekali mengintip ruang kuliah melalui jendela. Aneh rasanya, berbeda dengan kelas kami yang memiliki meja dan kursi, di sini setiap orang memiliki kursi sendiri-sendiri, di setiap kursi terdapat papan penopang sebagai tempat untuk menulis. Keren sekali.
Ketika akan kembali menuju aula, pandanganku tertahan pada sebuah pohon Ficus benjamina yang ditanam di antara taman-taman dekat ruang kuliah. Aku tidak peduli dengan ratusan akar gantung yang bergelayut diterpa angin atau akarnya yang menjalar tak tahu arah, mataku melekat pada sesosok perempuan di bawahnya. Perempuan, perempuan asli, asal kalian tahu kesadaranku masih mampu membedakan mana perempuan asli mana perempuan jadi-jadian.
Aku kenal seragam yang ia kenakan. Sekilas memang aneh mengapa seorang perempuan duduk di bawah pohon beringin asyik membaca sebuah buku, di tengah hujan pula. Orang-orang di sekitar kelihatannya tidak terlalu peduli apa yang ia lakukan. Tapi aku melihat berbeda. Di usiaku yang saat itu baru 13 tahun, aku hanya penasaran apa yang dia lakukan. Cantik, putih kulitnya, wajahnya tak acuh melihat sekitar kakinya basah akibat percikan air hujan. Sesekali rambut panjang bergelombangnya diaturnya agar tak menutup telinga.
Lalu sedetik kemudian, panorama pohon yang dicap angker oleh masyarakat awam itu mendadak bercahaya. Otot pipi di sekitar mulutku bergerak tanpa komando, aku tersenyum. Betapa tidak, di sana, delapan meter dari tempat aku berdiri, perempuan itu seketika tersenyum di tengah ia membaca. Aih, apa pula itu sepasang lesung pipi muncul tiba-tiba.
Manisnya.
***
Karena semalam aku tidur agak larut dari biasanya, hari ini aku datang hampir telat. Menyiapkan segala penugasan bukan hal yang mudah. Ayah ibuku sedang di rumah saudara rewang pernikahan sepupuku. Rumah Ilham jauh, buang waktu juga bila aku harus kesana. Akhirnya aku persiapkan sendiri semuanya.
Meskipun hari pertama, sejak langkah kami masuk gerbang sekolah sudah disuguhkan dengan teriakan dan tatapan tajam senior. Sebenarnya aku tidak terlalu terpengaruh karena aku sudah hafal jalan ceritanya. Namun daripada aku dianggap berbuat onar, aku terima saja apa yang mereka lakukan.
Hari itu kami full di luar. Setelah apel pagi, kami diajak berkeliling mengenal berbagai ruangan yang ada di sana. Satu setengah jam kami berdiri dan berjalan sambil mencatat apa saja yang kami temukan.
Agak bingung sebenarnya ketika kegiatan selanjutnya dimulai. Kami dibagi menjadi beberapa regu lalu disuruh berlari kembali menuju lapangan. Aku dan Ilham ada di regu yang sama. Lalu datanglah dua senior yang mengambil alih barisan. Ya, di tengah sinar matahari yang mulai terik, kami dikomando untuk berlatih baris-berbaris.
Sayang, hari itu bukan hari baikku. Awalnya aku biasa saja dan mengikuti setiap komando yang diberikan. Tapi setelah 15 menit, aku merasa ada yang aneh. Berkali-kali aku menelan ludah. Sinar matahari berasa sangat tajam menusuk kulit. Keringat dingin tiba-tiba keluar tanpa diduga.
“Ji, kenapa?”
Aku menggelengkan kepala menjawab bisikan Ilham. Baru ingat ternyata sejak kemarin sore aku belum makan sesuap nasi.
Sial. Sakit kepala menggerogoti kesadaranku. Seketika rasa sakit dari lambung tak mau kalah menyiksa. Aku mencoba bertahan, berharap kegiatan konyol ini segera berakhir. Tapi apa daya, pandanganku tiba-tiba diambil alih oleh sebuah cahaya hitam, semakin lama semakin menutup kelopak mataku. Bruk! Aku terjatuh. Di tengah gelap aku sempat mendengar suara Ilham memanggil namaku. Aku pingsan.
Ketika tersadar, aku sedang berbaring di UKS sekolah. Menyadari aku sudah siuman, petugas UKS menghampiriku.
“Belum makan ya, Mas?”
Aku nyengir, malu sendiri pingsan hanya gara – gara belum mengisi perut. Lalu mbak-mbak petugas UKS tadi memeriksa tekanan darahku.
“Normal kok,” katanya sambil melepas tensimeter dari lenganku.
“Mau makan apa? Bubur mau? Yaudah saya beli dulu di kantin,” seketika mbak-mbak UKS pergi tanpa sempat aku menjawab pertanyaannya.
Hhhhh...
Aku mencoba untuk duduk meski pusing masih terasa. Ah, harusnya aku tidak lupa sarapan tadi. Ibu sih, pake acara rewang segala. Jadi ngerepotin banyak orang kan.
Ngomong-ngomong soal pingsan, aku penasaran apa hanya aku yang ada di ruangan ini. Dua tempat tidur di sebrang tempatku tidak ada siapa-siapa. Cuma seorang perempuan yang rupanya belum siuman terbaring di samping tempat tidurku. Kasihan, mungkin dia belum makan juga sepertiku.
Ruangan UKS ini tidak terlalu besar. Hanya dapat menampung empat tempat tidur. Ruangan mbak-mbak tadi dipisah dengan menggunakan sekat. Bersih. Dan layaknya ruang medis, baunya sangat khas.
Ketika mengamati ruangan ini, kepalaku sekejap seperti terkena setrum. Aku teringat sesuatu.
Perempuan, perempuan di sampingku ini, aku tidak asing dengan wajahnya. Tapi siapa. Aku mencoba mengingat-ingat siapa dia. Dahi ku kernyitkan, mata ku pejamkan, ayolah, ingat!
Kembali aku amati wajahnya. Putih. Samar-samar aku mulai mengingat. Rambut panjang bergelombang. Sepintas muncul ingatan seseorang mengatur rambut di sela telinganya. Bibir itu.
Ya!
Ficus benjamina. Lesung pipi.
Benar!
Itu pasti dia.
Gelembung 2: Postulat Einstein
Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah. Bukan dalam artian masuk kelas lalu belajar tentunya. Hari ini dan tiga hari setelahnya, aku dan teman-teman se angkatanku akan menjalani kegiatan tidak terlalu penting bin membosankan nomor satu, bernama Masa Orientasi Sekolah, atau yang sering kalian sebut dengan akronim ospek. Tidak terlalu penting karena mungkin hanya 25% dari kegiatan yang diselenggarakan memberi output yang langsung dirasakan oleh siswa baru. Membosankan karena hampir semua sekolah dan hampir setiap kepanitiaan mengemasnya dengan seragam. Ada sih beberapa sekolah yang melakukan kegiatan tersebut dengan kegiatan yang bermanfaat, tapi tidak banyak.
Tidak salah bila banyak yang mengatakan bahwa ospek merupakan ajang balas dendam dari pengalaman kakak kelas pada saat mereka melaksanakan ospek. Nyatanya, tidak sedikit kasus siswa atau mahasiswa baru yang mengalami cedera bahkan meninggal saat melaksanakan kegiatan tersebut. Belum lagi kasus-kasus yang tidak mendapat sorotan media. Who knows?
Jarak rumahku ke sekolah tidak terlalu jauh. Sekali naik angkot, kira-kira 20 menit. Mengenakan baju putih lengan panjang, celana bahan warna hitam, dan sepatu hitam polos, aku berangkat menuju sekolah tanpa ditemani satu temanpun. Miris bukan? Sebenarnya ada satu orang teman SD ku yang tinggal di dekat rumah dan masuk ke sekolah itu juga, namun latar belakang SMP merubah derajat kita.
Aku satu-satunya siswa dari SMP ku yang masuk ke sekolah ini. Dari sebelas orang yang mendaftar, sepuluh orang tereliminasi. Dan akhirnya, di sinilah aku berada. Terdiam sendiri di tengah hiruk pikuk siswa yang bercengkrama, tertawa, dan bergembira satu dengan lainnya.
Tiba-tiba, terdengar suara bel panjang. Para siswa baru berhamburan menuju lapangan basket setelah beberapa kakak kelas (panitia) berteriak untuk berbaris di lapangan. Kami berbaris, tidak butuh waktu lama untuk menyusun barisan. Selanjutnya, dilaksanakanlah apel pembukaan.
Aku lupa, ternyata hari itu adalah hari Pra-MOS, yang artinya hari itu belum seperti ospek yang biasanya, istilah kerennya Warming Up. Tidak ada yang menarik di hari itu. Sebelum dhuhur, kami diperbolehkan pulang, tidak lupa dengan bermacam-macam penugasan yang harus dibawa keesokan hari tentunya.
Hari itu aku mendapatkan beberapa teman baru, aku lupa siapa saja mereka. Hanya satu orang yang aku ingat, namanya Ilham.
***
Di bangku sekolah dasar, aku tergolong siswa yang pandai. Terserah kalian menganggap aku sombong atau bangga, bagiku memang tidak jelas batas antara keduanya. Sering aku didaftarkan mengikuti lomba cerdas cermat atau olimpiade tingkat kecamatan dan kabupaten. Beberapa kali aku pulang membawa piala, meskipun tidak pernah menorehkan juara satu. Aku sering curiga karena di setiap lomba pemenangnya selalu dari sekolah kota.
Waktu itu kami sedang intensif belajar menghadapi UN. Jadi hanya mata pelajaran UN saja yang diajarkan. Di tengah pelajaran, seseorang mengetuk pintu kelas, Bu Iriantini, kepala sekolah. Lalu beliau meminta ijin untuk memanggil aku dan seorang temanku ke ruang kepala sekolah.
"Ada lomba, Olimpiade MIPA tingkat karesidenan. Kalau kalian ibu daftarkan, mau?"
Aku menghela nafas, lomba lomba lomba. Kami saling beradu pandang.
"Ibu yakin kalian bisa. Hitung-hitung lomba terakhir sebelum kalian lulus. Ini lomba dari universitas, jurinya pasti netral dan soalnya pasti aman, Ji."
Ah, tahu saja Ibu apa yang ada di pikiranku.
"Yasudah, kalian boleh kembali ke kelas. Nanti ibu kabari lagi teknis lombanya bagaimana."
Kami pun kembali ke kelas. Seperti kerbau yang dicongkel hidungnya, tanpa ada pembelaan dan kata-kata, kami secara sepihak terpaksa menerima apa yang sudah direncanakan kepada kami. Hari-hari selanjutnya aku dan temanku, Yoga, harus menambah jam belajar di sekolah, karena sore harinya kami mendapat tambahan les untuk menghadapi olimpiade terkhir kami.
***
Apa faedahnya menggunakan besek (wadah tape yang terbuat dari bambu) dikepala? Apa gunanya menggunakan tali rafia sebagai pengganti ikat pinggang? Apa manfaatnya menggunakan kaos kaki berbeda warna serta tali sepatu yang berbeda warna pula? Melatih mental? Yaelah, bro,kita disini MAU menuntut ilmu, bukan mau berperang.
Aku sempat kesal melihat daftar penugasan yang diberikan kakak-kakak panitia terhormat itu. Belum lagi mereka menyajikan dengan teka teki. Contohnya manusia salju, parabola terbalik, atau buku terang. Dan yang paling aku tidak habis pikir, kami disuruh membuat kalung berliontin bawang putih. Hello, emang kita mau ngusir drakula?
***
Namanya Yoga. Lelaki bulan Januari ini kami kenal sebagai pelukis ulung. Tulisan tangannya bagus, jauh diatas rata-rata tulisan tangan kami siswa lelaki di usia itu. Sampai kami lulus SD, belum ada yang menyaingi keluwesan tangannya dalam menggores pensil atau kuas. Dari tahun ke tahun, Yoga tidak pernah lupa meninggalkan catatan sejarah dengan memajang hasil karyanya di dinding kelas. Entah kenapa ketika lulus kuliah, pria berkulit putih dengan rambut kriting ini memutuskan untuk masuk SMK, jurusan otomotif pula yang diambilnya. Aku tidak sempat bertanya karena kami berbeda sekolah saat SMP. Tapi di sini kalian jangan terlalu memikirkan Yoga. Dia hanya pemain figuran yang hanya muncul saat kami mengikuti Olimpiade MIPA.
Jam di tanganku menunjukkan pukul sebelas kurang lima menit. Ada waktu sekitar 20 menit lagi untuk menunggu pengumuman siapa saja yang lolos tahap dua kualifikasi. Aku, Yoga, dan dua guru pendampingku duduk menunggu di sebuah ruangan mirip aula. Aku mulai bosan, riuh rendah suara peserta lain tak mau kalah dengan suara deras hujan. Ah, Januari tak pernah ingkar, aku percaya hujan yang dibawanya berasal dari percik sungai di surga firdaus, nyaman dan menentramkan.
Aku keluar aula. Tak jauh berbeda dengan kondisi di dalam, di luar siswa dan guru-guru berbicara sedikit agak lantang, tak mau kalah dengan nyanyian hujan. Untungnya kampus ini memiliki koridor-koridor yang menghubungkan antar gedung, sehingga mobilitas civitasnya tak terganggu hal-hal seperti hujan ini. Aku kagum dengan tata kelolanya. Bersih dan rindang. Sejauh mata memandang, warna hijau dari dedaunan mendominasi. Aku berjalan menyusuri koridor. Sesekali mengintip ruang kuliah melalui jendela. Aneh rasanya, berbeda dengan kelas kami yang memiliki meja dan kursi, di sini setiap orang memiliki kursi sendiri-sendiri, di setiap kursi terdapat papan penopang sebagai tempat untuk menulis. Keren sekali.
Ketika akan kembali menuju aula, pandanganku tertahan pada sebuah pohon Ficus benjamina yang ditanam di antara taman-taman dekat ruang kuliah. Aku tidak peduli dengan ratusan akar gantung yang bergelayut diterpa angin atau akarnya yang menjalar tak tahu arah, mataku melekat pada sesosok perempuan di bawahnya. Perempuan, perempuan asli, asal kalian tahu kesadaranku masih mampu membedakan mana perempuan asli mana perempuan jadi-jadian.
Aku kenal seragam yang ia kenakan. Sekilas memang aneh mengapa seorang perempuan duduk di bawah pohon beringin asyik membaca sebuah buku, di tengah hujan pula. Orang-orang di sekitar kelihatannya tidak terlalu peduli apa yang ia lakukan. Tapi aku melihat berbeda. Di usiaku yang saat itu baru 13 tahun, aku hanya penasaran apa yang dia lakukan. Cantik, putih kulitnya, wajahnya tak acuh melihat sekitar kakinya basah akibat percikan air hujan. Sesekali rambut panjang bergelombangnya diaturnya agar tak menutup telinga.
Lalu sedetik kemudian, panorama pohon yang dicap angker oleh masyarakat awam itu mendadak bercahaya. Otot pipi di sekitar mulutku bergerak tanpa komando, aku tersenyum. Betapa tidak, di sana, delapan meter dari tempat aku berdiri, perempuan itu seketika tersenyum di tengah ia membaca. Aih, apa pula itu sepasang lesung pipi muncul tiba-tiba.
Manisnya.
***
Karena semalam aku tidur agak larut dari biasanya, hari ini aku datang hampir telat. Menyiapkan segala penugasan bukan hal yang mudah. Ayah ibuku sedang di rumah saudara rewang pernikahan sepupuku. Rumah Ilham jauh, buang waktu juga bila aku harus kesana. Akhirnya aku persiapkan sendiri semuanya.
Meskipun hari pertama, sejak langkah kami masuk gerbang sekolah sudah disuguhkan dengan teriakan dan tatapan tajam senior. Sebenarnya aku tidak terlalu terpengaruh karena aku sudah hafal jalan ceritanya. Namun daripada aku dianggap berbuat onar, aku terima saja apa yang mereka lakukan.
Hari itu kami full di luar. Setelah apel pagi, kami diajak berkeliling mengenal berbagai ruangan yang ada di sana. Satu setengah jam kami berdiri dan berjalan sambil mencatat apa saja yang kami temukan.
Agak bingung sebenarnya ketika kegiatan selanjutnya dimulai. Kami dibagi menjadi beberapa regu lalu disuruh berlari kembali menuju lapangan. Aku dan Ilham ada di regu yang sama. Lalu datanglah dua senior yang mengambil alih barisan. Ya, di tengah sinar matahari yang mulai terik, kami dikomando untuk berlatih baris-berbaris.
Sayang, hari itu bukan hari baikku. Awalnya aku biasa saja dan mengikuti setiap komando yang diberikan. Tapi setelah 15 menit, aku merasa ada yang aneh. Berkali-kali aku menelan ludah. Sinar matahari berasa sangat tajam menusuk kulit. Keringat dingin tiba-tiba keluar tanpa diduga.
“Ji, kenapa?”
Aku menggelengkan kepala menjawab bisikan Ilham. Baru ingat ternyata sejak kemarin sore aku belum makan sesuap nasi.
Sial. Sakit kepala menggerogoti kesadaranku. Seketika rasa sakit dari lambung tak mau kalah menyiksa. Aku mencoba bertahan, berharap kegiatan konyol ini segera berakhir. Tapi apa daya, pandanganku tiba-tiba diambil alih oleh sebuah cahaya hitam, semakin lama semakin menutup kelopak mataku. Bruk! Aku terjatuh. Di tengah gelap aku sempat mendengar suara Ilham memanggil namaku. Aku pingsan.
Ketika tersadar, aku sedang berbaring di UKS sekolah. Menyadari aku sudah siuman, petugas UKS menghampiriku.
“Belum makan ya, Mas?”
Aku nyengir, malu sendiri pingsan hanya gara – gara belum mengisi perut. Lalu mbak-mbak petugas UKS tadi memeriksa tekanan darahku.
“Normal kok,” katanya sambil melepas tensimeter dari lenganku.
“Mau makan apa? Bubur mau? Yaudah saya beli dulu di kantin,” seketika mbak-mbak UKS pergi tanpa sempat aku menjawab pertanyaannya.
Hhhhh...
Aku mencoba untuk duduk meski pusing masih terasa. Ah, harusnya aku tidak lupa sarapan tadi. Ibu sih, pake acara rewang segala. Jadi ngerepotin banyak orang kan.
Ngomong-ngomong soal pingsan, aku penasaran apa hanya aku yang ada di ruangan ini. Dua tempat tidur di sebrang tempatku tidak ada siapa-siapa. Cuma seorang perempuan yang rupanya belum siuman terbaring di samping tempat tidurku. Kasihan, mungkin dia belum makan juga sepertiku.
Ruangan UKS ini tidak terlalu besar. Hanya dapat menampung empat tempat tidur. Ruangan mbak-mbak tadi dipisah dengan menggunakan sekat. Bersih. Dan layaknya ruang medis, baunya sangat khas.
Ketika mengamati ruangan ini, kepalaku sekejap seperti terkena setrum. Aku teringat sesuatu.
Perempuan, perempuan di sampingku ini, aku tidak asing dengan wajahnya. Tapi siapa. Aku mencoba mengingat-ingat siapa dia. Dahi ku kernyitkan, mata ku pejamkan, ayolah, ingat!
Kembali aku amati wajahnya. Putih. Samar-samar aku mulai mengingat. Rambut panjang bergelombang. Sepintas muncul ingatan seseorang mengatur rambut di sela telinganya. Bibir itu.
Ya!
Ficus benjamina. Lesung pipi.
Benar!
Itu pasti dia.
Gelembung 2: Postulat Einstein
Diubah oleh chocolavacake 21-11-2020 20:55
anasabila memberi reputasi
1
35.9K
Kutip
295
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
chocolavacake
#159
Spoiler for Gelembung 15
:
Terkadang kita menjadi bingung, bertanya-tanya pada benak sendiri, apa sihsebenarnya arti hidup ini? Mengapa kita hidup di dunia ini? Untuk apa kita dilahirkan? Mengapa ada istilah kebahagiaan dan kesengsaraan? Bila memang harus sengsara, mengapa kita dilahirkan? Lihat saja, ada anak yang sejak lahir sudah hidup nyaman, sampai hembusan terakhirnya selalu dikelilingi kebahagiaan, penuh suka cita, bahkan bergelimang harta. Lalu di satu sisi hidup sesosok manusia dalam keluarga yang selalu dipenuhi masalah, terjebak kemiskinan, dan juga tak henti-hentinya dihantam kesengsaraan. Mengapa bisa seperti itu?
Lalu sering kita mendengar orang berkata bahwa itulah yang disebut takdir. Apa benar begitu?
Dalam agamaku, aku mengenal dua macam takdir: takdir Mubram dan takdir Muallaq. Takdir Mubram berkutat pada ketentuan-ketentan Tuhan yang tidak dapat diubah, tidak dapat dipilih, dan tidak dapat dinego. Laki-laki dan perempan, siang dan malam, hidup dan mati merupakan beberapa hal yang tidak akan mampu kita diskusikan denganNya. Kita hanya bisa nurut dan manut dengan garis yang sudah Dia berikan sejak kita diciptakan. Sementara takdir Muallaq adalah takdir yang dikaitkan dengan sesuatu yang lain. Tuhan memberikan sedikit kewenangan pada kita untuk menentukan bagaimana takdir ini berakhir. Manusia dapat mengubah dan memilih jalannya sendiri sesuai akal dan hati nurani, karena pada dasarnya dalam hidup ini terdapat dua kutub positif dan negatif yang akan selalu menemani perjalanan hidupnya.
Tapi lagi-lagi, selalu ada anomali yang tercipta. Satu dari sekian kasus selalu terdapat penyimpangan yang menarik perhatian dan membuat kita bertanya-tanya. Bisakah orang melarat mengubah hidupnya menjadi tidak melarat, toh orang-orang kaya sering menjadi lebih kaya. Sebaliknya, banyak rakyat miskin menjadi semakin miskin, bukan bertambah kaya. Padahal, cukup banyak kaum terpinggirkan itu sudah berjuang keras, bahkan sangat keras, siang malam mengais rejeki, mencari sesuap nasi. Tapi mengapa mereka masih saja belum menikmati gelar sebagai orang berada?
Memang sih, bagi sebagian orang, kekayaan bukanlah sebuah ukran mutlak untuk menjadi bahagia. Bisa makan dan berkumpul dengan keluarga sudah lebih cukup untuk mendefinisikan istilah. Seperti sebuah kalimat dari seorang pujangga yang selalu dijunjung tinggi Lik Tik, ‘kemiskinan hanya sekedar pola pikir seseorang yang gagal memahami hukum kesuksesan’.
Bagi Lik Tik, kehidupan dunia tak lebih dari sekedar jembatan rapuh di atas sebuah jurang terjal. Di ujung jembatan itu terbangun megah sebuah gerbang putih dengan dengan cahaya yang menyilaukan mata. Diperlukan pemahaman dan strategi brilian untuk melewati jembatan itu, bila salah langkah sejengkal saja, akan membuat kita terpeleset ke dalam jurang yang tak pernah diketahui dasarnya. Dan uniknya, sekali kita berjalan pada jembatan itu, kita tak pernah tahu kapan kita akan sampai. Ada yang baru menginjakkan kaki lalu tiba-tiba sudah berada di seberang sana, ada juga yang butuh berjalan, berlari, bahkan terseok-seok dalam waktu yang lama. Namun yang pasti, kita akan tetap melangkah maju, tidak ada jalan untuk mundur ke belakang.
“Seperti kata Sujiwo Tejo di radio kemarin: menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu bisa berencana menikah dengan siapa tapi nggak bisa kamu rencanakan cintamu untuk siapa,” jelas Lik Tik ditengah aktivitasnya membakar tumpukan sampah.
Aku pernah dengar kalimat itu, namun tak pernah ku sangka kumpulan kata itu yang keluar dari mulut Lik Tik.
“Kamu bisa melawan nasib, Ji, tapi nggak dengan takdir. Kalau kamu mau, bisa aja kan tiba-tiba pergi dari pernikahan yang nggak pernah kamu inginkan. Sedangkan cinta, kamu akan serasa melawan diri kamu sendiri buat menyangkal perasaanmu terhadap seseorang.”
Di titik ini aku mulai tak mengerti penjelasan lelaki paruh baya di sebelahku. Sekilas ku pandang kedua matanya terpaku pada kobaran api yang kian meredup setelah melahap tumpukan sampah di depan rumahnya. Seperti melontarkan tubuhnya ada sebuah peristiwa di masa lalu.
“Jadi, Lik Tik selama ini nggak..”
“Sssshh…” Lik Tik memotong ucapanku, beberapa kali ia menoleh ke belakang seakan-akan takut orang lain mendengar percakapan kami, “Jangan frontal, nanti ibunya Risma denger.”
Aku mengangguk, percakapan kami memang sangat sensitif. Saat itu aku tersadar bahwa pembicaraan ini bisa saja menjadi duri dalam rumah tangga Lik Tik. Sempat aku takut, namun Lik Tik mengajakku pergi ke tempat yang aman agar kami lebih leluasa.
Sore itu Lik Tik berjanji untuk menceritakan kisahnya kepadaku. Kami menuju ke sebuah gubuk di tengah sawah sebelah selatan, tempatku dulu bermain bersama teman-teman. Dari tempat itu aku mengenal senja. Sinar matahari sore sangat memikat dari sana, karena terpantul oleh hijaunya padi yang tak terhingga dan melambai-lambai sehingga menarik hati sekumpulan burung pipit. Belum lagi sayup-sayup lantunan Al-Qur’an dari surau milik Wak Samid, membuat semilir angin menjadi semakin syahdu.
“Jangan bicara ke siapa-siapa ya Ji. Biar kamu sendiri yang tau,” ucapnya setengah bertanya.
Aku menjawab dengan sebuah anggukan, mencoba meyakinkan lelaki beranak tiga ini untuk bersedia melajutkan ceritanya tadi.
“Namanya Mutmainah, aku kenal dia sejak umur 15 tahun,” Lik Tik memulai cerita sambil duduk di sebelahku.
“Waktu itu kami mengaji di tempat yang sama. Gelagat Mutmainah menyukaiku sudah terasa sejak pertama kali kami berkenalan. Teman-teman wanitanya juga sering berkata begitu. Beberapa kali kami berpapasan muka, tapi anehnya aku seperti kaku, nggak bisa berkata-kata, speechless kalo kata orang sekarang. Aku cuma tersenyum saat kami tak sengaja bertemu atau saat kedua mata kami saling mencuri pandang.”
“Lucu banget kalo diingat-ingat,” Lik Tik tiba-tiba tersenyum, “Hampir selama tiga kali lebaran kami masih seperti itu. Masih belum bisa merobohkan dinding malu untuk sekedar menyapa. Tapi itu nggak pernah jadi masalah, sebab aku tau pasti, Mutmainah nggak bisa bohong dari caranya melihat mataku. Cinta bisa datang dengan cara apa aja kan?” Lik tik bertanya sambil menoleh ke arahku.
“Dia jadi kembang desa, Ji. Wajahnya yang cantik, akhlaknya yang menawan, tutur katanya yang sopan, menjadi incaran banyak pemuda di desaku. Sampai-sampai pernah seorang pengusaha dari kota dateng buat ngelamar Mutmainah. Tapi semua itu ditolaknya mentah-mentah. Aku yakin di hatinya cuma ada aku Ji,” ucapnya disusul sebuah senyum yang mulai mengembang.
“Orang tuanya juga dekat denganku. Mereka tahu aku memendam rasa pada putri sulungnya, dan mereka juga tahu anaknya juga merasa demikian. Beruntung sekali orang tua Mutmainah tidak terlalu mementingkan derajat, kekayaan, pangkat, atau segala hal yang berbau dengan duniawi. Hanya lelaki dengan akhlak mulia yang boleh menjadi imam untuk putri kesayangan mereka, dan aku bisa dibilang masuk pada kategori itu.”
Untuk beberapa saat Lik Tik membisu, memberi jeda pada ceritanya. Aku hanya diam, tak berani menginterupsi suasana hati lelaki yang sering ku sebut sebagai suami siaga ini. Namun agaknya kediaman Lik Tik terasa sedikit lama. Sepi kembali tertiup bersama semilir angin sore. Entah apa yang ia pikirkan. Sedangkan aku merasa kosong.
“Tapi semuanya berubah sejak Rika datang ke desaku,” ucapnya disertai sebuah nafas panjang yang ia hela.
“Dia menetap dengan mengontrak sebuah rumah karena tempat kerjanya dekat dengan desa tempatku tinggal. Tak ada yang tau rekam jejak wanita itu, selain sebuah cerita bahwa ia seorang yatim piatu. Kedua adiknya masih berada di kampung halamannya, dan di asuh oleh keluarga bibinya.
Rika dan Mutmainah ibarat dua sisi koin yang berbeda. Tak jarang ia menjadi buah bibir orang-orang karena kebiasaannya pulang malam. Apalagi beberapa laki-laki sering terlihat bertamu di kediamannya dalam waktu yang cukup lama. Namun tak ada yang berani menegur Rika. Bukan karena takut atau enggan, orang-orang lebih memilih diam daripada harus berurusan dengan teman-teman Rika yang sebagian besar adalah preman. Singkatnya, Rika bukan wanita baik-baik saat itu,” kata Lik Tik menyimpulkan.
“Sampai pada suatu ketika, warga desaku dibuat geger karena desas desus Rika hamil di luar nikah.” Aku sontak terkejut mendengar punuturan Lik Tik barusan.
“Dan aku dijebak olehnya.” Lik tik berkta sambil menatapku. Rona kebahagiaan yang sempat ia tunjukkan beberapa saat yang lalu tiba-tiba tenggelam oleh sebuah cerita tentang wanita bernama Rika ini.
Dari sini aku mengerti penderitaan yang dialami Lik Tik. Ramalan Mbah Suro tentangnya benar-benar terjadi untuk ke sekian kali.
“Aku ingin menyangkal, tapi aku tak punya bukti. Demi stabilitas dan keamanan desa, aku memutuskan pergi dari desa itu bersama Rika, meninggalkan Mutmainah, melepas harapan orang tuanya terhadapku.”
“Aku menikahinya agar jabang bayi dalam rahimnya dapat lahir dengan status yang jelas. Namun kesialan kembali menimpaku. Rika keguguran. Aku sempat menyesal memutuskan untuk menikahi Rika, tapi segera kubuang jauh-jauh perasaan itu. Pernikahan kami sudah digariskan oleh Tuhan, dan aku tidak ingin melawan kehendakNya.”
“Tiga tahun kemudian Rika mengandung, melahirkan seorang anak laki-laki yang kamu kenal sebagai Rizky.”
Hah? Rizky? Jadi Rika itu istri Lik Tik sekarang? Baru tahu aku kalau istri Lik Tik bernama Rika, karena selama ini kami memanggilnya dengan sebutan Bu Tik atau Bu Rizky.
“Tapi semuanya terasa hambar Ji. Pernikahan yang kami bina belasan tahun ini aku jalani tanpa ada rasa cinta. Semuanya cuma karena tanggung jawabku sebagai seorang suami, sebagai seorang suami.”
Aku sebenarnya agak samar-samar dengan cerita Lik Tik. Belum cukup umur sepertinya aku untuk memahami pelik sebuah rumah tangga.
“Mungkin aku tidak mencintai istriku, tapi aku tak pernah membohonginya. Aku percaya, suatu hari nanti dia akan berubah Ji. Masa lalunya yang kurang menyenangkan untuk diceritakan bukan menjadi alasan baginya untuk dapat menjadi wanita yang baik, menjadi seorang istri yang berbakti pada suaminya.
Tapi menunggu tinggallah menununggu. Hari yang ku nanti tak kunjung datang. Malah ia semakin menjadi-jadi. Aku bingung, aku merasa gagal menjadi imam baginya. Dan sekarang, aku hanya bisa menerima. Berusaha memenuhi tanggung jawabku sebagai seorang suami, dan juga seorang ayah. Ada yang jauh lebih penting daripada sebuah perasaan yang mengikis hatiku di setiap harinya. Sekejam apapun dia padaku, aku lebih memilih bertahan, menjaga keutuhan rumah tangga ini demi masa depan Rizky, Riska dan Risma.”
Wajah Lik Tik semakin merah padam, namun kedua matanya mengisyaratkan sebuah penderitaan yang panjang.
“Lalu, bagaimana dengan Mutmainah?” kuberanikan diriku untuk bertanya.
Dengan cepat Lik Tik menoleh ke arahku, lalu tangannya mengeluarkan sebuah benda dari dalam dompetnya, “Cuma ini yang tersisa darinya,” katanya sambil menunjukkan sebuah kalung.
“Lima tahun setelah aku pergi, dia meninggal. Sebuah kecelakaan merenggut nyawanya. Andai saja semua tak terjadi, mungkin aku sedang berbahagia bersamanya saat ini.”
Seketika sore itu menjadi kelabu. Terik matahari tinggal seperempat lagi. Lik Tik masih menenangkan hatinya, kenangan tentang Mutmainah benar-benar memenjarakan hatinya saat ini. Mungkin ini yang dikatakan Lik Tik tentang nasib dan takdir tadi. Ini adalah pernikahan yang tak pernah ia inginkan. Statusnya saat ini memang suami Rika, namun cintanya tetaplah milik Mutmainah. Rupanya, jalan itulah yang ia pilih untuk meniti jembatan hidupnya. Aku yakin, di ujung sana Mutmainah akan menyambutnya dengan sebuah senyum dan pelukan hangat.
Meski dengan jelas ia paparkan, aku masih tidak percaya ada sebuah pernikahan yang bisa bertahan tanpa dasar cinta. Bagaimana bisa Lik Tik secara sembunyi memendam perasaan begitu lama? Tidakkah itu menjadi sebuah kepalsuan belaka? Ah sial, pikiranku terlalu dangkal untuk mengerti betapa kompleksnya kisah rumah tangga Lik Tik.
Lalu, setelah kukumpulkan sisa keberanianku, aku bertanya pada Lik Tik. “Jadi, selama ini, Lik Tik tidak pernah..” dengan cepat Lik Tik menatapku, memotong pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya.
Sedetik kemudian, Lik tik berpaling. Ia berjalan pelan keluar gubuk. Satu tangannya memegang tiang yang menopang atap rumbia. Kedua mata itu memandang jauh ke ufuk senja, lalu setetes air matanya jatuh membasahi rumput di hamparan pematang.
“Ya, benar. Aku memang tidak pernah mencintai Rika, Ji.”
***
Setelah menunggu beberapa bulan akhirnya kami siswa baru dipindahkan menuju ruang kelas yang sebenarnya. Ruang kelas yang baru saja selesai diperbaiki. Hal itu membuat kelasku dan kelas Naya menjadi berdekatan.
Aku masih duduk bersama Rama. Namun ia memilih untuk di bangku nomor dua dari depan. Entah apa maksudnya.
Lalu hari-hari yang aku lalui berjalan seperti biasanya. Tidak ada yang berubah meski kejadian ulang tahunku kemarin sempat memberi jarak di antara aku dan Naya. Bahkan, ia lebih mesra dari biasanya.
Waktu itu teknologi voice note tidak secanggih dan semurah sekarang. Pesan suara bisa dibilang mahal bagi pelajar sepertiku. Namun hal itu tak berlaku pada Naya. Sejak adegan kejutannya berakhir, ia tak pernah lagi mengirimkan pesan teks, melainkan pesan suara.
Aku jelas tidak menolak perubahan kelakuannya. Menikmati lembut suara Naya di antara perhatian-perhatian kecilnya sangat meneduhkan hatiku.
Tapi ada satu hal perubahan sikap Naya yang membuatku semakin bahagia. Dia kini memulai untuk menggunakan cara lama dalam berkomunikasi: berkirim surat. Ya, meski tidak secara langsung ia berikan suratnya, kata-kata manisnya sudah lebih dari cukup untuk membuatku melayang-layang.
Setiap jam istirahat, atau saat ia keluar kelas saat jam pelajaran, sebuah surat ia selipkan di bawah pot bunga di depan kelasku. Ia akan menoleh ke arahku dari balik jendela saat ia selesai menempatkan suratnya. Dan itu menjadi pertanda bagiku untuk mengambil sepucuk kertas dari wanita kesayanganku itu.
Aku pun melakukan hal yang sama. Saat aku mengambil surat Naya, saat itu pula suratku ku selipkan di bawah pot bunga. Lalu beberapa saat kemudian, malaikat berlesung pipi itu akan mengambilnya sambil mengisyaratkan sebuah ucapan terima kasih dari bibirnya, dari belik jendela tentu saja.
Kadang hanya kertas, kadang sebuah origami berbentuk hati yang ia berikan. Ternyata, teknologi lawas ini memberikan efek yang begitu magis. Lebih romantis. Terlebih lagi, hari ini Nya memberiku sebuah surat dengan amplop berwarna merah muda. Dengan jelas sebuah tulisan terukir di atasnya: Untuk lelakiku.
Kepada Aji, dengan penuh cinta.
Halo Aji, pasti kaget ya dapet surat merah muda dari aku? Hehehe. Itu ga usah senyum-senyum gitu, bisa-bisa aku kebawa mimpi liat senyumanmu itu. Emm, udah ah basa basinya, aku bingung mau nulis apa lagi. Langsung ke inti suratku ya, maaf kalo kamu jadi nggak ngerti. Ntar sms aja kalo ada yang kurang jelas.
Kutujukan untuk seseorang yang daripadanyalah segala kebahagiaanku bermuara.
Aji, ketika aku menatapmu untuk pertama kalinya, jujur aku merasa kita seperti sudah mengenal sejak lama. Kamu tahu, yang paling aku suka dari wajahmu adalah sepasang bola mata cokelatmu. Tatapan malu-malu saat kita berkenalan masih membekas dalam ingatanku hingga detik ini. Matamu benar-benar indah, Ji, sudah pernahkah kukatakan hal itu padamu sebelumnya?
Semua mengalir begitu saja. Kamu datang tanpa aku rencanakan sebelumnya. Tiba-tiba saja kamu memenuhi sudut-sudut terkecil dalam otakku sampai mengisi ruang-ruang kosong di relung hati terdalam. Aku melihatmu, mengenalmu, lalu mencintaimu. Sesederhana itu.
Sejak awal kita bertukar pesan, hari-hariku terasa penuh warna. Rasanya seperti ada yang berbeda, seperti ada energi baru yang mendorong dan membuatku lebih bersemangat. Jika sebelumnya relung hati ini dipenuhi rasa yang tak tentu arah, sepi dan tak bergairah, maka hadirmu mampu membuat segala perasaan itu.
Kamu tahu, ketika aku melihat sosok tubuhmu, bahkan ketika senyum itu belum kupandang, aku seperti tidak mampu berjalan tegak. Kolaborasi senyum dan bola matamu membat lututku lemah. Agak berlebihan memang, tapi itulah yang ku rasa.
Kamu orang paling sederhana yang pernah aku kenal. Bahkan kamu masih belum bisa menggunakan sumpit dengan benar. Penampilanmu begitu-begitu saja. Sebuah kaos oblong, jaket, celana jeans dan sandal gunung. Tak lebih, tak kurang. Entah kenapa setiap kita menghabiskan waktu di luar, kamu selalu mengenakan kaos berwarna hitam. Warna favoritmu kah? Ah bodoh, harusnya aku tahu segala hal tentangmu, bukan bertanya langsung seperti ini.
Kamu orang pertama yang bermain-main di dada ini, Ji. Asal kamu tahu, tidak ada satu lelakipun yang pernah membuatku melayang-layang seperti ini. Kamu yang pertama. Cinta pertamaku.
Oiya, kalung pemberianku masih utuh kan? Dijaga baik-baik ya. Ibaratkan itu aku, yang sudah sepenuhnya kamu miliki. Mungkin dulu kalung itu menjadi saksi kisah cinta sepupuku, namun sekarang, benda kecil itu akan menemani cerita kita. Kembalikan padaku saat aku benar-benar sepenuhnya menjadi milikmu.
Kubangun megah rasa cintamu di dada ini, calon seniman yang baru menjajaki semester satu. Kamulah orang yang selalu berhasil membuatku berlaku gila. Kamulah orang yang seringkali membuatku bertanya-tanya. Kamlah orang yang mengajarkanku untuk tidak takut bermimpi, menaruhkan segala resiko demi sebuah tujuan yang besar. Selain itu, hal-hal yang kamu lakukan selalu aneh dan tak biasa. Namun justru keanehan itu yang membuatmu menjadi sesosok yang selalu ku rindukan. Keanehan yang tak epernah ku temukan pada orang lain selama ini.
Sayang, -boleh kan aku memanggilmu dengan panggilan sayang?- aku minta maaf bila beberapa waktu lalu ku buat kamu menjadi tak menentu. Aku hanya ingin memberi kejutan, itu saja. Bila kamu tak suka, aku tak akan pernah lagi melakukan hal itu. Aku cuma ingin memberi yang terbaik dan tak akan pernah kamu lupakan. Jahat memang, namun percayalah, hanya kamu yang selalu membayangi malam-malamku.
Ingat percakapan kita di bibir laut selatan? Atau sesaat setelah aku mencium keningmu ketika hujan sore di sekolah? Ketahuilah, aku bersungguh-sungguh mengatakannya.
Aku tak pernah lelah untuk memaksa otakku agar memikirkanmu. Itu membantuku untuk memutar kembali segala memori yang kusimpan secara sengaja. Aku tak mau melupakan segala hal yang pernah kita lakukan bersama, aku tidak punya waktu untuk mengahapus jejak. Kamu akan selalu terpatri bersama aliran darah yang ku miliki. Meski sebenarnya kamu juga sangat sulit kutebak, seperti teka teki yang memiliki jawaban dan juga sejuta tafsiran.
Selama ini, aku selalu dibayangi berbagai pertanyaan yang menuntut untuk diberi jawaban. Tapi sekarang aku sadar, bahwa bukan jawaban yang sebenarnya ku cari, melainkan pengertian. Mengerti, bahwa sesungguhnya Tuhan tidak pernah membuat cerita seperti ini tanpa sebuah alasan. Dan mungkin saja Tuhan tidak pernah ingin aku mencari tahu alasan itu, tapi Ia ingin aku belajar dari cerita itu.
Kamu, aku, dan perasaan ini, tentu bukan sebuah kebetulan seperti kebanyakan orang bilang. Kebetulan bukan bagian dari kamus hidupku. Aku percaya semua ini adalah bagian dari rencana besarNya. Dan kita menjadi pemain dalam skenario terbaik yang Ia buat.
Sayang, sekali lagi, selamat ulang tahun. Terima kasih telah menjadikanku tuan putri yang selalu kamu sanjung tentang lesung pipinya. Kamu jauh lebih mengerti dalam memperlakukan wanita lebih dari yang aku kira. Satu pintaku, jangan ke mana-mana. Aku takut tak ada lagi hati ternyaman selain dirimu.
Sekian dulu surat kecilku ini. Aku tak tahu lagi harus menulis apa. Kamu terlalu indah melebihi jutaan kisah yang tak pernah usang dimakan waktu. Maka tetaplah kamu di sana, jangan pernah sedetikpun berubah menjadi orang yang tak aku kenal. Dan aku di sini selalu ada untuk menjadi bagian dari hidupmu.
Kamu tetap yang pertama. Selalu yang pertama.
Dari Naya-mu, yang selalu kehabisan cara
membuktikan rasa cintanya
Lalu sering kita mendengar orang berkata bahwa itulah yang disebut takdir. Apa benar begitu?
Dalam agamaku, aku mengenal dua macam takdir: takdir Mubram dan takdir Muallaq. Takdir Mubram berkutat pada ketentuan-ketentan Tuhan yang tidak dapat diubah, tidak dapat dipilih, dan tidak dapat dinego. Laki-laki dan perempan, siang dan malam, hidup dan mati merupakan beberapa hal yang tidak akan mampu kita diskusikan denganNya. Kita hanya bisa nurut dan manut dengan garis yang sudah Dia berikan sejak kita diciptakan. Sementara takdir Muallaq adalah takdir yang dikaitkan dengan sesuatu yang lain. Tuhan memberikan sedikit kewenangan pada kita untuk menentukan bagaimana takdir ini berakhir. Manusia dapat mengubah dan memilih jalannya sendiri sesuai akal dan hati nurani, karena pada dasarnya dalam hidup ini terdapat dua kutub positif dan negatif yang akan selalu menemani perjalanan hidupnya.
Tapi lagi-lagi, selalu ada anomali yang tercipta. Satu dari sekian kasus selalu terdapat penyimpangan yang menarik perhatian dan membuat kita bertanya-tanya. Bisakah orang melarat mengubah hidupnya menjadi tidak melarat, toh orang-orang kaya sering menjadi lebih kaya. Sebaliknya, banyak rakyat miskin menjadi semakin miskin, bukan bertambah kaya. Padahal, cukup banyak kaum terpinggirkan itu sudah berjuang keras, bahkan sangat keras, siang malam mengais rejeki, mencari sesuap nasi. Tapi mengapa mereka masih saja belum menikmati gelar sebagai orang berada?
Memang sih, bagi sebagian orang, kekayaan bukanlah sebuah ukran mutlak untuk menjadi bahagia. Bisa makan dan berkumpul dengan keluarga sudah lebih cukup untuk mendefinisikan istilah. Seperti sebuah kalimat dari seorang pujangga yang selalu dijunjung tinggi Lik Tik, ‘kemiskinan hanya sekedar pola pikir seseorang yang gagal memahami hukum kesuksesan’.
Bagi Lik Tik, kehidupan dunia tak lebih dari sekedar jembatan rapuh di atas sebuah jurang terjal. Di ujung jembatan itu terbangun megah sebuah gerbang putih dengan dengan cahaya yang menyilaukan mata. Diperlukan pemahaman dan strategi brilian untuk melewati jembatan itu, bila salah langkah sejengkal saja, akan membuat kita terpeleset ke dalam jurang yang tak pernah diketahui dasarnya. Dan uniknya, sekali kita berjalan pada jembatan itu, kita tak pernah tahu kapan kita akan sampai. Ada yang baru menginjakkan kaki lalu tiba-tiba sudah berada di seberang sana, ada juga yang butuh berjalan, berlari, bahkan terseok-seok dalam waktu yang lama. Namun yang pasti, kita akan tetap melangkah maju, tidak ada jalan untuk mundur ke belakang.
“Seperti kata Sujiwo Tejo di radio kemarin: menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu bisa berencana menikah dengan siapa tapi nggak bisa kamu rencanakan cintamu untuk siapa,” jelas Lik Tik ditengah aktivitasnya membakar tumpukan sampah.
Aku pernah dengar kalimat itu, namun tak pernah ku sangka kumpulan kata itu yang keluar dari mulut Lik Tik.
“Kamu bisa melawan nasib, Ji, tapi nggak dengan takdir. Kalau kamu mau, bisa aja kan tiba-tiba pergi dari pernikahan yang nggak pernah kamu inginkan. Sedangkan cinta, kamu akan serasa melawan diri kamu sendiri buat menyangkal perasaanmu terhadap seseorang.”
Di titik ini aku mulai tak mengerti penjelasan lelaki paruh baya di sebelahku. Sekilas ku pandang kedua matanya terpaku pada kobaran api yang kian meredup setelah melahap tumpukan sampah di depan rumahnya. Seperti melontarkan tubuhnya ada sebuah peristiwa di masa lalu.
“Jadi, Lik Tik selama ini nggak..”
“Sssshh…” Lik Tik memotong ucapanku, beberapa kali ia menoleh ke belakang seakan-akan takut orang lain mendengar percakapan kami, “Jangan frontal, nanti ibunya Risma denger.”
Aku mengangguk, percakapan kami memang sangat sensitif. Saat itu aku tersadar bahwa pembicaraan ini bisa saja menjadi duri dalam rumah tangga Lik Tik. Sempat aku takut, namun Lik Tik mengajakku pergi ke tempat yang aman agar kami lebih leluasa.
Sore itu Lik Tik berjanji untuk menceritakan kisahnya kepadaku. Kami menuju ke sebuah gubuk di tengah sawah sebelah selatan, tempatku dulu bermain bersama teman-teman. Dari tempat itu aku mengenal senja. Sinar matahari sore sangat memikat dari sana, karena terpantul oleh hijaunya padi yang tak terhingga dan melambai-lambai sehingga menarik hati sekumpulan burung pipit. Belum lagi sayup-sayup lantunan Al-Qur’an dari surau milik Wak Samid, membuat semilir angin menjadi semakin syahdu.
“Jangan bicara ke siapa-siapa ya Ji. Biar kamu sendiri yang tau,” ucapnya setengah bertanya.
Aku menjawab dengan sebuah anggukan, mencoba meyakinkan lelaki beranak tiga ini untuk bersedia melajutkan ceritanya tadi.
“Namanya Mutmainah, aku kenal dia sejak umur 15 tahun,” Lik Tik memulai cerita sambil duduk di sebelahku.
“Waktu itu kami mengaji di tempat yang sama. Gelagat Mutmainah menyukaiku sudah terasa sejak pertama kali kami berkenalan. Teman-teman wanitanya juga sering berkata begitu. Beberapa kali kami berpapasan muka, tapi anehnya aku seperti kaku, nggak bisa berkata-kata, speechless kalo kata orang sekarang. Aku cuma tersenyum saat kami tak sengaja bertemu atau saat kedua mata kami saling mencuri pandang.”
“Lucu banget kalo diingat-ingat,” Lik Tik tiba-tiba tersenyum, “Hampir selama tiga kali lebaran kami masih seperti itu. Masih belum bisa merobohkan dinding malu untuk sekedar menyapa. Tapi itu nggak pernah jadi masalah, sebab aku tau pasti, Mutmainah nggak bisa bohong dari caranya melihat mataku. Cinta bisa datang dengan cara apa aja kan?” Lik tik bertanya sambil menoleh ke arahku.
“Dia jadi kembang desa, Ji. Wajahnya yang cantik, akhlaknya yang menawan, tutur katanya yang sopan, menjadi incaran banyak pemuda di desaku. Sampai-sampai pernah seorang pengusaha dari kota dateng buat ngelamar Mutmainah. Tapi semua itu ditolaknya mentah-mentah. Aku yakin di hatinya cuma ada aku Ji,” ucapnya disusul sebuah senyum yang mulai mengembang.
“Orang tuanya juga dekat denganku. Mereka tahu aku memendam rasa pada putri sulungnya, dan mereka juga tahu anaknya juga merasa demikian. Beruntung sekali orang tua Mutmainah tidak terlalu mementingkan derajat, kekayaan, pangkat, atau segala hal yang berbau dengan duniawi. Hanya lelaki dengan akhlak mulia yang boleh menjadi imam untuk putri kesayangan mereka, dan aku bisa dibilang masuk pada kategori itu.”
Untuk beberapa saat Lik Tik membisu, memberi jeda pada ceritanya. Aku hanya diam, tak berani menginterupsi suasana hati lelaki yang sering ku sebut sebagai suami siaga ini. Namun agaknya kediaman Lik Tik terasa sedikit lama. Sepi kembali tertiup bersama semilir angin sore. Entah apa yang ia pikirkan. Sedangkan aku merasa kosong.
“Tapi semuanya berubah sejak Rika datang ke desaku,” ucapnya disertai sebuah nafas panjang yang ia hela.
“Dia menetap dengan mengontrak sebuah rumah karena tempat kerjanya dekat dengan desa tempatku tinggal. Tak ada yang tau rekam jejak wanita itu, selain sebuah cerita bahwa ia seorang yatim piatu. Kedua adiknya masih berada di kampung halamannya, dan di asuh oleh keluarga bibinya.
Rika dan Mutmainah ibarat dua sisi koin yang berbeda. Tak jarang ia menjadi buah bibir orang-orang karena kebiasaannya pulang malam. Apalagi beberapa laki-laki sering terlihat bertamu di kediamannya dalam waktu yang cukup lama. Namun tak ada yang berani menegur Rika. Bukan karena takut atau enggan, orang-orang lebih memilih diam daripada harus berurusan dengan teman-teman Rika yang sebagian besar adalah preman. Singkatnya, Rika bukan wanita baik-baik saat itu,” kata Lik Tik menyimpulkan.
“Sampai pada suatu ketika, warga desaku dibuat geger karena desas desus Rika hamil di luar nikah.” Aku sontak terkejut mendengar punuturan Lik Tik barusan.
“Dan aku dijebak olehnya.” Lik tik berkta sambil menatapku. Rona kebahagiaan yang sempat ia tunjukkan beberapa saat yang lalu tiba-tiba tenggelam oleh sebuah cerita tentang wanita bernama Rika ini.
Dari sini aku mengerti penderitaan yang dialami Lik Tik. Ramalan Mbah Suro tentangnya benar-benar terjadi untuk ke sekian kali.
“Aku ingin menyangkal, tapi aku tak punya bukti. Demi stabilitas dan keamanan desa, aku memutuskan pergi dari desa itu bersama Rika, meninggalkan Mutmainah, melepas harapan orang tuanya terhadapku.”
“Aku menikahinya agar jabang bayi dalam rahimnya dapat lahir dengan status yang jelas. Namun kesialan kembali menimpaku. Rika keguguran. Aku sempat menyesal memutuskan untuk menikahi Rika, tapi segera kubuang jauh-jauh perasaan itu. Pernikahan kami sudah digariskan oleh Tuhan, dan aku tidak ingin melawan kehendakNya.”
“Tiga tahun kemudian Rika mengandung, melahirkan seorang anak laki-laki yang kamu kenal sebagai Rizky.”
Hah? Rizky? Jadi Rika itu istri Lik Tik sekarang? Baru tahu aku kalau istri Lik Tik bernama Rika, karena selama ini kami memanggilnya dengan sebutan Bu Tik atau Bu Rizky.
“Tapi semuanya terasa hambar Ji. Pernikahan yang kami bina belasan tahun ini aku jalani tanpa ada rasa cinta. Semuanya cuma karena tanggung jawabku sebagai seorang suami, sebagai seorang suami.”
Aku sebenarnya agak samar-samar dengan cerita Lik Tik. Belum cukup umur sepertinya aku untuk memahami pelik sebuah rumah tangga.
“Mungkin aku tidak mencintai istriku, tapi aku tak pernah membohonginya. Aku percaya, suatu hari nanti dia akan berubah Ji. Masa lalunya yang kurang menyenangkan untuk diceritakan bukan menjadi alasan baginya untuk dapat menjadi wanita yang baik, menjadi seorang istri yang berbakti pada suaminya.
Tapi menunggu tinggallah menununggu. Hari yang ku nanti tak kunjung datang. Malah ia semakin menjadi-jadi. Aku bingung, aku merasa gagal menjadi imam baginya. Dan sekarang, aku hanya bisa menerima. Berusaha memenuhi tanggung jawabku sebagai seorang suami, dan juga seorang ayah. Ada yang jauh lebih penting daripada sebuah perasaan yang mengikis hatiku di setiap harinya. Sekejam apapun dia padaku, aku lebih memilih bertahan, menjaga keutuhan rumah tangga ini demi masa depan Rizky, Riska dan Risma.”
Wajah Lik Tik semakin merah padam, namun kedua matanya mengisyaratkan sebuah penderitaan yang panjang.
“Lalu, bagaimana dengan Mutmainah?” kuberanikan diriku untuk bertanya.
Dengan cepat Lik Tik menoleh ke arahku, lalu tangannya mengeluarkan sebuah benda dari dalam dompetnya, “Cuma ini yang tersisa darinya,” katanya sambil menunjukkan sebuah kalung.
“Lima tahun setelah aku pergi, dia meninggal. Sebuah kecelakaan merenggut nyawanya. Andai saja semua tak terjadi, mungkin aku sedang berbahagia bersamanya saat ini.”
Seketika sore itu menjadi kelabu. Terik matahari tinggal seperempat lagi. Lik Tik masih menenangkan hatinya, kenangan tentang Mutmainah benar-benar memenjarakan hatinya saat ini. Mungkin ini yang dikatakan Lik Tik tentang nasib dan takdir tadi. Ini adalah pernikahan yang tak pernah ia inginkan. Statusnya saat ini memang suami Rika, namun cintanya tetaplah milik Mutmainah. Rupanya, jalan itulah yang ia pilih untuk meniti jembatan hidupnya. Aku yakin, di ujung sana Mutmainah akan menyambutnya dengan sebuah senyum dan pelukan hangat.
Meski dengan jelas ia paparkan, aku masih tidak percaya ada sebuah pernikahan yang bisa bertahan tanpa dasar cinta. Bagaimana bisa Lik Tik secara sembunyi memendam perasaan begitu lama? Tidakkah itu menjadi sebuah kepalsuan belaka? Ah sial, pikiranku terlalu dangkal untuk mengerti betapa kompleksnya kisah rumah tangga Lik Tik.
Lalu, setelah kukumpulkan sisa keberanianku, aku bertanya pada Lik Tik. “Jadi, selama ini, Lik Tik tidak pernah..” dengan cepat Lik Tik menatapku, memotong pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya.
Sedetik kemudian, Lik tik berpaling. Ia berjalan pelan keluar gubuk. Satu tangannya memegang tiang yang menopang atap rumbia. Kedua mata itu memandang jauh ke ufuk senja, lalu setetes air matanya jatuh membasahi rumput di hamparan pematang.
“Ya, benar. Aku memang tidak pernah mencintai Rika, Ji.”
***
Setelah menunggu beberapa bulan akhirnya kami siswa baru dipindahkan menuju ruang kelas yang sebenarnya. Ruang kelas yang baru saja selesai diperbaiki. Hal itu membuat kelasku dan kelas Naya menjadi berdekatan.
Aku masih duduk bersama Rama. Namun ia memilih untuk di bangku nomor dua dari depan. Entah apa maksudnya.
Lalu hari-hari yang aku lalui berjalan seperti biasanya. Tidak ada yang berubah meski kejadian ulang tahunku kemarin sempat memberi jarak di antara aku dan Naya. Bahkan, ia lebih mesra dari biasanya.
Waktu itu teknologi voice note tidak secanggih dan semurah sekarang. Pesan suara bisa dibilang mahal bagi pelajar sepertiku. Namun hal itu tak berlaku pada Naya. Sejak adegan kejutannya berakhir, ia tak pernah lagi mengirimkan pesan teks, melainkan pesan suara.
Aku jelas tidak menolak perubahan kelakuannya. Menikmati lembut suara Naya di antara perhatian-perhatian kecilnya sangat meneduhkan hatiku.
Tapi ada satu hal perubahan sikap Naya yang membuatku semakin bahagia. Dia kini memulai untuk menggunakan cara lama dalam berkomunikasi: berkirim surat. Ya, meski tidak secara langsung ia berikan suratnya, kata-kata manisnya sudah lebih dari cukup untuk membuatku melayang-layang.
Setiap jam istirahat, atau saat ia keluar kelas saat jam pelajaran, sebuah surat ia selipkan di bawah pot bunga di depan kelasku. Ia akan menoleh ke arahku dari balik jendela saat ia selesai menempatkan suratnya. Dan itu menjadi pertanda bagiku untuk mengambil sepucuk kertas dari wanita kesayanganku itu.
Aku pun melakukan hal yang sama. Saat aku mengambil surat Naya, saat itu pula suratku ku selipkan di bawah pot bunga. Lalu beberapa saat kemudian, malaikat berlesung pipi itu akan mengambilnya sambil mengisyaratkan sebuah ucapan terima kasih dari bibirnya, dari belik jendela tentu saja.
Kadang hanya kertas, kadang sebuah origami berbentuk hati yang ia berikan. Ternyata, teknologi lawas ini memberikan efek yang begitu magis. Lebih romantis. Terlebih lagi, hari ini Nya memberiku sebuah surat dengan amplop berwarna merah muda. Dengan jelas sebuah tulisan terukir di atasnya: Untuk lelakiku.
Kepada Aji, dengan penuh cinta.
Halo Aji, pasti kaget ya dapet surat merah muda dari aku? Hehehe. Itu ga usah senyum-senyum gitu, bisa-bisa aku kebawa mimpi liat senyumanmu itu. Emm, udah ah basa basinya, aku bingung mau nulis apa lagi. Langsung ke inti suratku ya, maaf kalo kamu jadi nggak ngerti. Ntar sms aja kalo ada yang kurang jelas.

Kutujukan untuk seseorang yang daripadanyalah segala kebahagiaanku bermuara.
Aji, ketika aku menatapmu untuk pertama kalinya, jujur aku merasa kita seperti sudah mengenal sejak lama. Kamu tahu, yang paling aku suka dari wajahmu adalah sepasang bola mata cokelatmu. Tatapan malu-malu saat kita berkenalan masih membekas dalam ingatanku hingga detik ini. Matamu benar-benar indah, Ji, sudah pernahkah kukatakan hal itu padamu sebelumnya?
Semua mengalir begitu saja. Kamu datang tanpa aku rencanakan sebelumnya. Tiba-tiba saja kamu memenuhi sudut-sudut terkecil dalam otakku sampai mengisi ruang-ruang kosong di relung hati terdalam. Aku melihatmu, mengenalmu, lalu mencintaimu. Sesederhana itu.
Sejak awal kita bertukar pesan, hari-hariku terasa penuh warna. Rasanya seperti ada yang berbeda, seperti ada energi baru yang mendorong dan membuatku lebih bersemangat. Jika sebelumnya relung hati ini dipenuhi rasa yang tak tentu arah, sepi dan tak bergairah, maka hadirmu mampu membuat segala perasaan itu.
Kamu tahu, ketika aku melihat sosok tubuhmu, bahkan ketika senyum itu belum kupandang, aku seperti tidak mampu berjalan tegak. Kolaborasi senyum dan bola matamu membat lututku lemah. Agak berlebihan memang, tapi itulah yang ku rasa.
Kamu orang paling sederhana yang pernah aku kenal. Bahkan kamu masih belum bisa menggunakan sumpit dengan benar. Penampilanmu begitu-begitu saja. Sebuah kaos oblong, jaket, celana jeans dan sandal gunung. Tak lebih, tak kurang. Entah kenapa setiap kita menghabiskan waktu di luar, kamu selalu mengenakan kaos berwarna hitam. Warna favoritmu kah? Ah bodoh, harusnya aku tahu segala hal tentangmu, bukan bertanya langsung seperti ini.
Kamu orang pertama yang bermain-main di dada ini, Ji. Asal kamu tahu, tidak ada satu lelakipun yang pernah membuatku melayang-layang seperti ini. Kamu yang pertama. Cinta pertamaku.
Oiya, kalung pemberianku masih utuh kan? Dijaga baik-baik ya. Ibaratkan itu aku, yang sudah sepenuhnya kamu miliki. Mungkin dulu kalung itu menjadi saksi kisah cinta sepupuku, namun sekarang, benda kecil itu akan menemani cerita kita. Kembalikan padaku saat aku benar-benar sepenuhnya menjadi milikmu.
Kubangun megah rasa cintamu di dada ini, calon seniman yang baru menjajaki semester satu. Kamulah orang yang selalu berhasil membuatku berlaku gila. Kamulah orang yang seringkali membuatku bertanya-tanya. Kamlah orang yang mengajarkanku untuk tidak takut bermimpi, menaruhkan segala resiko demi sebuah tujuan yang besar. Selain itu, hal-hal yang kamu lakukan selalu aneh dan tak biasa. Namun justru keanehan itu yang membuatmu menjadi sesosok yang selalu ku rindukan. Keanehan yang tak epernah ku temukan pada orang lain selama ini.
Sayang, -boleh kan aku memanggilmu dengan panggilan sayang?- aku minta maaf bila beberapa waktu lalu ku buat kamu menjadi tak menentu. Aku hanya ingin memberi kejutan, itu saja. Bila kamu tak suka, aku tak akan pernah lagi melakukan hal itu. Aku cuma ingin memberi yang terbaik dan tak akan pernah kamu lupakan. Jahat memang, namun percayalah, hanya kamu yang selalu membayangi malam-malamku.
Ingat percakapan kita di bibir laut selatan? Atau sesaat setelah aku mencium keningmu ketika hujan sore di sekolah? Ketahuilah, aku bersungguh-sungguh mengatakannya.
Aku tak pernah lelah untuk memaksa otakku agar memikirkanmu. Itu membantuku untuk memutar kembali segala memori yang kusimpan secara sengaja. Aku tak mau melupakan segala hal yang pernah kita lakukan bersama, aku tidak punya waktu untuk mengahapus jejak. Kamu akan selalu terpatri bersama aliran darah yang ku miliki. Meski sebenarnya kamu juga sangat sulit kutebak, seperti teka teki yang memiliki jawaban dan juga sejuta tafsiran.
Selama ini, aku selalu dibayangi berbagai pertanyaan yang menuntut untuk diberi jawaban. Tapi sekarang aku sadar, bahwa bukan jawaban yang sebenarnya ku cari, melainkan pengertian. Mengerti, bahwa sesungguhnya Tuhan tidak pernah membuat cerita seperti ini tanpa sebuah alasan. Dan mungkin saja Tuhan tidak pernah ingin aku mencari tahu alasan itu, tapi Ia ingin aku belajar dari cerita itu.
Kamu, aku, dan perasaan ini, tentu bukan sebuah kebetulan seperti kebanyakan orang bilang. Kebetulan bukan bagian dari kamus hidupku. Aku percaya semua ini adalah bagian dari rencana besarNya. Dan kita menjadi pemain dalam skenario terbaik yang Ia buat.
Sayang, sekali lagi, selamat ulang tahun. Terima kasih telah menjadikanku tuan putri yang selalu kamu sanjung tentang lesung pipinya. Kamu jauh lebih mengerti dalam memperlakukan wanita lebih dari yang aku kira. Satu pintaku, jangan ke mana-mana. Aku takut tak ada lagi hati ternyaman selain dirimu.
Sekian dulu surat kecilku ini. Aku tak tahu lagi harus menulis apa. Kamu terlalu indah melebihi jutaan kisah yang tak pernah usang dimakan waktu. Maka tetaplah kamu di sana, jangan pernah sedetikpun berubah menjadi orang yang tak aku kenal. Dan aku di sini selalu ada untuk menjadi bagian dari hidupmu.
Kamu tetap yang pertama. Selalu yang pertama.
Dari Naya-mu, yang selalu kehabisan cara
membuktikan rasa cintanya
Diubah oleh chocolavacake 19-03-2016 03:13
0
Kutip
Balas