- Beranda
- Stories from the Heart
Seandainya Gue Bisa Nggak Menikah Dulu
...
TS
kangplastik
Seandainya Gue Bisa Nggak Menikah Dulu
Quote:
Spoiler for F.A.Q:
Sebuah cerita tentang keluarga baru, yang semoga bisa menjadi bahan pelajaran untuk agan dan aganwati sekalian, sebelum memutuskan untuk memulai sebuah rumah tangga.
Selamat menikmati
Quote:
Selamat menikmati

Quote:
Diubah oleh kangplastik 21-06-2016 10:41
0
23.6K
145
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
kangplastik
#22
Gue pernah pacaran hanya 3 kali sepanjang hidup gue. Yang terakhir, gue jadikan mantan untuk menjadi istri. Ketiganya sama-sama berasal dari 1 kampus, tapi hanya istri gue yang sejurusan dengan gue.
Sebenarnya, dibandingkan dengan mantan-mantan gue yang lain, istri gue ini paling sedikit punya kesamaan dengan gue. Bisa dibilang, kami BEDA banget.
Gue tau persis, bahkan sebelum pacaran, kalau gue dan Tiara lanjut sampai nikah, gue bakal sering berantem sama dia, karena perbedaan-perbedaan itu. Nggak, kami nggak berbeda agama.Tapi banyak hal-hal yang sifatnya prinsipil yang kita sangat sangat berbeda.
You know what? Apa sebenarnya yang bikin gue pertahankan Tiara mati-matian dulu?
Selepas putus dari mantan gue yang kedua, gue deket sama Tiara. Memang sih, menjelang putus, gue sudah sempat dekat dengan Tiara, untuk sekedar curhat, ngobrol dan lain-lain, yang tentu saja nggak lebih. Sementara itu, hubungan antara gue dan mantan gue, yaitu Dilla, makin merenggang.
Come on, di jaman seperti ini, mungkin perbedaan suku sudah jarang sekali dijadikan alasan putus. Tapi nyatanya, gue masih mengalami hal tersebut. Ibu gue nggak pernah sekalipun melarang gue untuk menikah dengan wanita dari suku lain. Tapi beliau sering bilang, lebih baik sama yang sesuku.
Iya, orang tualah alasan terbesar gue untuk mencari jodoh.
Hubungan gue dan Dilla sebenarnya baik-baik aja. Kita cocok banget, dan dia sangat-sangat pengertian ke gue. Tapi karena suatu masalah, ditambah omongan Ibu gue yang membuat gue sangat berpikir lagi untuk lanjutin hubungan gue, akhirnya kita berdua pisah. Dan nggak berapa lama gue jadian lagi sama Tiara.
Dengan Dilla, Ibu gue nggak terlalu welcome. Masih terlihat banget menjaga jarak dengan Dilla. Tapi ketika sama Tiara, bahkan sebelum gue jadian, beliau udah suka, padahal gue hanya menunjukkan fotonya dari handphonegue.
Ketika akhirnya gue dan Tiara sudah resmi berpacaran, dan akhirnya bertemu Ibu gue, beliau langsung suka. Impresi pertamanya sungguh meyakinkan, sehingga gue saat itu sudah mulai bisa berpikir,
Dan gue tetap berpegang sama kata-kata gue itu. Dan dengan berjalannya waktu, seberat apapun masalah kita, kepala gue selalu meyakinkan gue satu hal,
Itu terus gue ulang-ulang sampai akhirnya kita menikah.
Sebenarnya, dibandingkan dengan mantan-mantan gue yang lain, istri gue ini paling sedikit punya kesamaan dengan gue. Bisa dibilang, kami BEDA banget.
Gue tau persis, bahkan sebelum pacaran, kalau gue dan Tiara lanjut sampai nikah, gue bakal sering berantem sama dia, karena perbedaan-perbedaan itu. Nggak, kami nggak berbeda agama.Tapi banyak hal-hal yang sifatnya prinsipil yang kita sangat sangat berbeda.
You know what? Apa sebenarnya yang bikin gue pertahankan Tiara mati-matian dulu?
Selepas putus dari mantan gue yang kedua, gue deket sama Tiara. Memang sih, menjelang putus, gue sudah sempat dekat dengan Tiara, untuk sekedar curhat, ngobrol dan lain-lain, yang tentu saja nggak lebih. Sementara itu, hubungan antara gue dan mantan gue, yaitu Dilla, makin merenggang.
Come on, di jaman seperti ini, mungkin perbedaan suku sudah jarang sekali dijadikan alasan putus. Tapi nyatanya, gue masih mengalami hal tersebut. Ibu gue nggak pernah sekalipun melarang gue untuk menikah dengan wanita dari suku lain. Tapi beliau sering bilang, lebih baik sama yang sesuku.
Quote:
Iya, orang tualah alasan terbesar gue untuk mencari jodoh.
Hubungan gue dan Dilla sebenarnya baik-baik aja. Kita cocok banget, dan dia sangat-sangat pengertian ke gue. Tapi karena suatu masalah, ditambah omongan Ibu gue yang membuat gue sangat berpikir lagi untuk lanjutin hubungan gue, akhirnya kita berdua pisah. Dan nggak berapa lama gue jadian lagi sama Tiara.
Dengan Dilla, Ibu gue nggak terlalu welcome. Masih terlihat banget menjaga jarak dengan Dilla. Tapi ketika sama Tiara, bahkan sebelum gue jadian, beliau udah suka, padahal gue hanya menunjukkan fotonya dari handphonegue.
Quote:
Ketika akhirnya gue dan Tiara sudah resmi berpacaran, dan akhirnya bertemu Ibu gue, beliau langsung suka. Impresi pertamanya sungguh meyakinkan, sehingga gue saat itu sudah mulai bisa berpikir,
Quote:
Dan gue tetap berpegang sama kata-kata gue itu. Dan dengan berjalannya waktu, seberat apapun masalah kita, kepala gue selalu meyakinkan gue satu hal,
Quote:
Itu terus gue ulang-ulang sampai akhirnya kita menikah.
delia.adel memberi reputasi
1
