- Beranda
- Stories from the Heart
Yaudah, gue mati aja
...
TS
dasadharma10
Yaudah, gue mati aja
Cover By: kakeksegalatahu
Thank for your read, and 1000 shares. I hope my writing skill will never fade.
Gue enggak tau tulisan di atas bener apa enggak, yang penting kalian tau maksud gue


----------
----------
PERLU DIKETAHUI INI BUKAN KISAH DESPERATE, JUDULNYA EMANG ADA KATA MATI, TAPI BUKAN BERARTI DI AKHIR CERITA GUE BAKALAN MATI.
----------
Spoiler for QandA:
WARNING! SIDE STORY KHUSUS 17+
NOTE! SIDE STORY HANYA MEMPERJELAS DAN BUKAN BAGIAN DARI MAIN STORY
Spoiler for Ilustrasi:
Cerita gue ini sepenuhnya REAL bagi orang-orang yang mengalaminya. Maka, demi melindungi privasi, gue bakalan pake nama asli orang-orang itu. Nggak, gue bercanda, gue bakal mengganti nama mereka dengan yang lebih bagus. Dengan begitu tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Kecuali mata kalian.
Spoiler for INDEX:
Diubah oleh dasadharma10 06-01-2017 18:49
xue.shan dan 10 lainnya memberi reputasi
11
1.1M
3.5K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dasadharma10
#1097
PART 57
Ini adalah hari yang gue tunggu-tunggu! Libur panjang weekend, gue bisa main DOTA sepuasnya! Gimana masalah Inah? Bodo amat! Inah bilang dia mau pergi sama Emil, mbak Irma dan Masayu. Iya, Masayu yang itu, yang masih belum kasih gue kepastian hingga seminggu setelah hari penembakan yang enggak gie sengaja. Enggak, gue kan laki, jadi udah pasti hari penembakan itu gue sengaja. Oke, gue akuin itu beneran enggak gue sengaja.
Mbak Irma bilang dia baru menang lelang villa di daerah Kaliurang dan dia bermaksud mengadakan ‘Girls day out’ bersama cewek-cewek kosan. Jujur, sebenernya gue enggak tau apa itu ‘Girls day out’. Yang gue tahu girls itu artinya cewek-cewek, day itu hari, dan out itu artinya keluar, kalo disusun kurang lebih jadi cewek-cewek yang bernama hari keluar.
Jadi sekilas yang ada dipikiran gue tentang ‘Girls day out’ adalah saat dimana terjadi reuni organisasi rahasia cewek-cewek bernama Hari untuk reuni. Kalo tebakan gue bener, mungkin kurang lebih percakapan mereka kayak gini.
“Eh, Hari, lama enggak ketemu ya?” sapa Heri satu.
Hari dua memeluknya, “Iya nih Har, sekarang agak kurusan yah kamu.”
“Hai girls! Ready for ‘Girls day out’?” teriak Hari tiga.
Hari yang lain berteriak serentak, “Wohoooo! Hari sisterhood!”
Iya, kayaknya kurang lebih kayak gitu. Tapi memangnya penghuni kos ini ada yang punya nama Hari? Inah adek gue kan enggak ada nama Harinya? Apa dia jadi tamu tak diundang?
Jujur, gue sendiri sedikit gagal paham pikiran gue tentang perkumpulan cewek-cewek bernama Hari itu. Masuk akal enggak sih itu beneran saat dimana cewek-cewek bernama Hari berkumpul? Apa gue yang salah mengartikan ‘Girls day out’? Gue rasa enggak. Pemahaman bahasa Inggris gue sejauh ini lumayan kok, guru bahasa Inggris sewaktu SMA juga sempat geleng-geleng sambil nangis ketika melihat lembar jawaban hasil ujian gue. Yah, cara orang mengekspresikan rasa bahagia beda-beda.
Pagi ini gue lagi duduk-duduk diteras sambil menikmati teh hangat buatan Inah dan rokok sebatang, iya tinggal sebatang. Disamping gue ada koh Wahyu yang lagi kesusahan buka kaleng bir gara-gara kukunya dipotong kependekan sama Sintya.
“Nanti kalo anakku lahir bakalan aku didik biar dengerin omongan orang tua,” kata koh Wahyu.
“Susah kali koh, anak mah ngikutin orang tuanya.” Gue menghembuskan asap rokok, “Kalo orang tuanya kayak gini ya hasilnya kayak gini juga.”
“Apa maksudmu? Aku berbakti, aku dengerin perkataan orangtua kok.”
Koh Wahyu berbakti dan mendengarkan perkataan orangtua? Jawabannya iya. Iya kalo standar berbakti dan mendengarkan perkataan orangtua diturunin sampe kaki. Yakali berbakti dan mendengar perkataan orangtua nikah lari sampe seberang pulau.
“Engh, mending cari cara lain deh Koh, jangan jadi contoh secara langsung gitu.”
“Contoh secara enggak langsung? Maksudmu pake dongeng apa cerita-cerita gitu? Oldschool banget itu Wi.”
“Iya, tapi itu manjur koh. Tapi jangan dikasih tontonan kancil, ntar jadi kayak Inah, usilnya minta ampun.”
“Adekmu sering waktu kecil sering dikasih lihat kancil?”
“Enggak sih, aku yang sering.”
Koh Wahyu masih kesusahan buka kaleng bir, “Enggak, besok bakalan aku kasih lihat tentang superhero.”
“Superhero juga harus dipilih hati-hati Koh.”
“Kenapa gitu? Kan superhero orang baik dan mereka juga dengerin perkataan orangtua, selain itu mereka juga membela kebenaran.”
“Batman enggak, bapak ibunya mati di depan matanya dia malah teriak-teriak enggak jelas. Dia lebih deket sama pembantunya, terus pas udah gede malah sering keluyuran malem-malem pake topeng. Itu kalo Batman di ndonesia udah digebukin anak pengkolan. Ya paling enggak kartun gitu, yang imajinasinya lebih hidup.” Gue mengaduk teh gue, “Misalnya digimon gitu.”
“Oh, yang monster-monster gitu. Enggak ah, digimon kasar gitu, monsternya agak brutal, mending pokemon yang lebih lucuan Wi.”
“Pokemon? Sadar enggak sih koh? Pokemon itu nyeritain anak remaja yang mengelilingi dunia nangkepin monster buat ditarungin.” Gue meminum teh gue, “Koh Wahyu mau nanti anak Kokoh gedenya keliling dunia nangkepin ayam liar terus diikutin sabung ayam?”
Koh Wahyu berhasil membuka kaleng bir, “Fixlah udah.”
“Fix? Fix apaan?”
“Fix, sebelum anakku lahir aku bakalan pindah kosan.”
“Kenapa gitu? Ada mas Roni?”
“Enggak, ada kamu, anakku besok bukannya dengerin orangtua malah ngejawab mulu.
Mas Roni keluar kosan dan ikutan duduk di lantai teras, dia ditengah-tengah gue dan koh Wahyu. Tangan kanan mengambil bir koh Wahyu, dan tangan kiri mengambil rokok gue.
“Lagi asik apa nih bro?” ucap mas Roni sok gaul. “Ikutan dong bro.”
“Asiknya udah kelar,” koh Wahyu beranjak dari teras.
Gue ikutin koh Wahyu masuk ke dalam kos, “Silahkan asik-asik sendiri.”
“EH! Ada orangtua dateng malah pada pergi, sini duduk!” perintah mas Roni.
Gue dan koh Wahyu kembali duduk dengan terpaksa.
Sambil berbagi rokok milik mas Roni yang katanya import itu, mas Roni mulai menceritakan segala rencananya tentang ‘Girls day out’. Ya, dia berencana buat diam-diam mengikuti acara yang dibuat cewek-cewek. Dia beralasan kalo cewek-cewek pergi ke villa sendirian takut ada yang jahatin, jadi mas Roni bermaksud mengawal para cewek. Bisa ditebak, dia memaksa gue dan koh Wahyu buat ikut dalam rencananya.
Menurut gue mas Roni berlebihan, ada orang yang bakal berbuat jahat sama mereka? Emang ada orang yang lebih jahat dari mbak Irma? Emang ada orang yang lebih jahat dari Masayu? Gue aja digantungin gini.
“Waduuuuh, aku ada kerjaan mas.” Koh Wahyu menghembuskan nafas lega, “Aku juga lagi jagain Sintya tuh.”
Mas Roni manggut-manggut, “Oke, masuk akal juga Yu.”
“Wa … waduuuh, waduuuhh….” Gue bener-bener enggak ada akal buat menolak ajakan mas Roni, “Waduuuuh….”
“Kenapa Wi? Sembelit lagi?” tanya koh Wahyu sambil nahan ketawa.
“Mau cari alasan apa Wi? Mau alasan ada kuliah dadakan? Ini weekend panjang. Mau alasan temenmu kecelakaan? Jalanan macet, enggak ada yang bisa ngebut, nyawa mereka aman. Waduh apa lagi sekarang? gamparin bolak-balik nih.”
“Wa … waduuuh, langitnya cerah ya,” ucap gue sambil menelan ludah.
Ini adalah hari yang gue tunggu-tunggu! Libur panjang weekend, gue bisa main DOTA sepuasnya! Gimana masalah Inah? Bodo amat! Inah bilang dia mau pergi sama Emil, mbak Irma dan Masayu. Iya, Masayu yang itu, yang masih belum kasih gue kepastian hingga seminggu setelah hari penembakan yang enggak gie sengaja. Enggak, gue kan laki, jadi udah pasti hari penembakan itu gue sengaja. Oke, gue akuin itu beneran enggak gue sengaja.
Mbak Irma bilang dia baru menang lelang villa di daerah Kaliurang dan dia bermaksud mengadakan ‘Girls day out’ bersama cewek-cewek kosan. Jujur, sebenernya gue enggak tau apa itu ‘Girls day out’. Yang gue tahu girls itu artinya cewek-cewek, day itu hari, dan out itu artinya keluar, kalo disusun kurang lebih jadi cewek-cewek yang bernama hari keluar.
Jadi sekilas yang ada dipikiran gue tentang ‘Girls day out’ adalah saat dimana terjadi reuni organisasi rahasia cewek-cewek bernama Hari untuk reuni. Kalo tebakan gue bener, mungkin kurang lebih percakapan mereka kayak gini.
“Eh, Hari, lama enggak ketemu ya?” sapa Heri satu.
Hari dua memeluknya, “Iya nih Har, sekarang agak kurusan yah kamu.”
“Hai girls! Ready for ‘Girls day out’?” teriak Hari tiga.
Hari yang lain berteriak serentak, “Wohoooo! Hari sisterhood!”
Iya, kayaknya kurang lebih kayak gitu. Tapi memangnya penghuni kos ini ada yang punya nama Hari? Inah adek gue kan enggak ada nama Harinya? Apa dia jadi tamu tak diundang?
Jujur, gue sendiri sedikit gagal paham pikiran gue tentang perkumpulan cewek-cewek bernama Hari itu. Masuk akal enggak sih itu beneran saat dimana cewek-cewek bernama Hari berkumpul? Apa gue yang salah mengartikan ‘Girls day out’? Gue rasa enggak. Pemahaman bahasa Inggris gue sejauh ini lumayan kok, guru bahasa Inggris sewaktu SMA juga sempat geleng-geleng sambil nangis ketika melihat lembar jawaban hasil ujian gue. Yah, cara orang mengekspresikan rasa bahagia beda-beda.
Pagi ini gue lagi duduk-duduk diteras sambil menikmati teh hangat buatan Inah dan rokok sebatang, iya tinggal sebatang. Disamping gue ada koh Wahyu yang lagi kesusahan buka kaleng bir gara-gara kukunya dipotong kependekan sama Sintya.
“Nanti kalo anakku lahir bakalan aku didik biar dengerin omongan orang tua,” kata koh Wahyu.
“Susah kali koh, anak mah ngikutin orang tuanya.” Gue menghembuskan asap rokok, “Kalo orang tuanya kayak gini ya hasilnya kayak gini juga.”
“Apa maksudmu? Aku berbakti, aku dengerin perkataan orangtua kok.”
Koh Wahyu berbakti dan mendengarkan perkataan orangtua? Jawabannya iya. Iya kalo standar berbakti dan mendengarkan perkataan orangtua diturunin sampe kaki. Yakali berbakti dan mendengar perkataan orangtua nikah lari sampe seberang pulau.
“Engh, mending cari cara lain deh Koh, jangan jadi contoh secara langsung gitu.”
“Contoh secara enggak langsung? Maksudmu pake dongeng apa cerita-cerita gitu? Oldschool banget itu Wi.”
“Iya, tapi itu manjur koh. Tapi jangan dikasih tontonan kancil, ntar jadi kayak Inah, usilnya minta ampun.”
“Adekmu sering waktu kecil sering dikasih lihat kancil?”
“Enggak sih, aku yang sering.”
Koh Wahyu masih kesusahan buka kaleng bir, “Enggak, besok bakalan aku kasih lihat tentang superhero.”
“Superhero juga harus dipilih hati-hati Koh.”
“Kenapa gitu? Kan superhero orang baik dan mereka juga dengerin perkataan orangtua, selain itu mereka juga membela kebenaran.”
“Batman enggak, bapak ibunya mati di depan matanya dia malah teriak-teriak enggak jelas. Dia lebih deket sama pembantunya, terus pas udah gede malah sering keluyuran malem-malem pake topeng. Itu kalo Batman di ndonesia udah digebukin anak pengkolan. Ya paling enggak kartun gitu, yang imajinasinya lebih hidup.” Gue mengaduk teh gue, “Misalnya digimon gitu.”
“Oh, yang monster-monster gitu. Enggak ah, digimon kasar gitu, monsternya agak brutal, mending pokemon yang lebih lucuan Wi.”
“Pokemon? Sadar enggak sih koh? Pokemon itu nyeritain anak remaja yang mengelilingi dunia nangkepin monster buat ditarungin.” Gue meminum teh gue, “Koh Wahyu mau nanti anak Kokoh gedenya keliling dunia nangkepin ayam liar terus diikutin sabung ayam?”
Koh Wahyu berhasil membuka kaleng bir, “Fixlah udah.”
“Fix? Fix apaan?”
“Fix, sebelum anakku lahir aku bakalan pindah kosan.”
“Kenapa gitu? Ada mas Roni?”
“Enggak, ada kamu, anakku besok bukannya dengerin orangtua malah ngejawab mulu.
Mas Roni keluar kosan dan ikutan duduk di lantai teras, dia ditengah-tengah gue dan koh Wahyu. Tangan kanan mengambil bir koh Wahyu, dan tangan kiri mengambil rokok gue.
“Lagi asik apa nih bro?” ucap mas Roni sok gaul. “Ikutan dong bro.”
“Asiknya udah kelar,” koh Wahyu beranjak dari teras.
Gue ikutin koh Wahyu masuk ke dalam kos, “Silahkan asik-asik sendiri.”
“EH! Ada orangtua dateng malah pada pergi, sini duduk!” perintah mas Roni.
Gue dan koh Wahyu kembali duduk dengan terpaksa.
Sambil berbagi rokok milik mas Roni yang katanya import itu, mas Roni mulai menceritakan segala rencananya tentang ‘Girls day out’. Ya, dia berencana buat diam-diam mengikuti acara yang dibuat cewek-cewek. Dia beralasan kalo cewek-cewek pergi ke villa sendirian takut ada yang jahatin, jadi mas Roni bermaksud mengawal para cewek. Bisa ditebak, dia memaksa gue dan koh Wahyu buat ikut dalam rencananya.
Menurut gue mas Roni berlebihan, ada orang yang bakal berbuat jahat sama mereka? Emang ada orang yang lebih jahat dari mbak Irma? Emang ada orang yang lebih jahat dari Masayu? Gue aja digantungin gini.
“Waduuuuh, aku ada kerjaan mas.” Koh Wahyu menghembuskan nafas lega, “Aku juga lagi jagain Sintya tuh.”
Mas Roni manggut-manggut, “Oke, masuk akal juga Yu.”
“Wa … waduuuh, waduuuhh….” Gue bener-bener enggak ada akal buat menolak ajakan mas Roni, “Waduuuuh….”
“Kenapa Wi? Sembelit lagi?” tanya koh Wahyu sambil nahan ketawa.
“Mau cari alasan apa Wi? Mau alasan ada kuliah dadakan? Ini weekend panjang. Mau alasan temenmu kecelakaan? Jalanan macet, enggak ada yang bisa ngebut, nyawa mereka aman. Waduh apa lagi sekarang? gamparin bolak-balik nih.”
“Wa … waduuuh, langitnya cerah ya,” ucap gue sambil menelan ludah.
Diubah oleh dasadharma10 01-04-2016 11:56
JabLai cOY memberi reputasi
1


