- Beranda
- Stories from the Heart
Lagu Terakhirku (True Story)
...
TS
dhikalonerz
Lagu Terakhirku (True Story)
Spoiler for Cover:
Quote:
Quote:
Quote:
Spoiler for Prologue:
Spoiler for index:
Diubah oleh dhikalonerz 25-03-2016 22:12
b46eeeh memberi reputasi
0
10.6K
83
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dhikalonerz
#76
Bagian 26
Memang tanpa kehadiranku, bagi teman-teman ini kurang begitu lengkap rasanya. Apalagi kami sudah bersahabat sudah lama, dan dari sejak kami kecil hingga saat ini persahabatan di antara kami sangatlah erat. Akan tetapi, walaupun tanpa kehadiranku. Mereka tetap fokus latihan. Dan mereka juga ingin menunjukkan padaku, kalau mereka juga bisa di andalkan walau tanpa diriku. Karena yang selama ini slalu menjadi unjung tombak di grup band kami adalah aku seorang.
Mereka juga tidak ingin aku saja yang menjadi ujung tombak di grup band ini. Karna, jika masih aku yang menjadi ujung tombak di grup band, sama halnya dengan memberikan semua beban kepadaku. Apalagi saat ini juga aku mengalami masalah, jadi mereka takkan membiarkanku menanggung semua beban. Dan seberat apapun masalah kami, harus di tanggung bersama. Karna kami memiliki rasa yang sama, suka ataupun duka slalu bersama. Itulah motto dari persahabatan kami.
Dan mereka pun tetap meneruskan latihan band, meski tanpa kehadiranku sementara waktu ini.
Rumah itu memang tampak sekali terlihat usang, dengan warna cat rumah yang mulai pudar dan pucat. Akan tetapi, halaman rumah itu sangatlah bersih dan rapi. Banyak juga tanaman-tanaman hias yang tumbuh di halaman rumah itu. Sehingga membuat rumah itu juga tampak indah dengan berbagai tanaman hiasnya.
Kemudian aku dan yang lainnya mulai memasuki halaman rumah itu, dengan langkah yang ragu dan bimbang, aku pun mulai berjalan mendekati pintu rumah itu. Kemudian bel pintu rumah itu pun di pencet oleh Nyokap.
Chaca yang juga bingung melihat aku dan Nyokap, membuat ia juga bertanya dengan Papahnya.
Dengan langkah yang bimbang, aku dan Chaca pun masuk ke dalam rumah itu. Kami berdua masuk juga karna mengikuti orang tua kami yang lebih dulu masuk.
Kemudian aku pun beranjak masuk ke dalam kamar itu dengan di temani Nyokap. Ia pun di sana hanya melihat dan mendapatkan sosok seseorang lelaki tua paruh baya seperti Papahnya Chaca yang terbaring sakit dan tak berdaya.
Seakan-akan merasakan sesuatu ikatan batin dengan orang itu, maka aku mendekati lelaki paruh baya itu dengan langkah yang pelan dan tanpa sadar. Tak terasa air mata pun jatuh dan membasahi kedua pipiku, saat dimana aku melihat laki-laki itu.
Seperti mendapatkan sebuah tamparan di wajah, aku pun terkejut bukan kepalang saat kini aku harus bertemu dengan Bokap. aku bingung apa yang harus aku lakukan kini. Marah ? Ataukah senang ?
Kemudian akibat dari percakapan singkat antara Nyokap dan aku di dalam kamar tadi. Akhirnya membuat Bokapku terbangun dari tidurnya. Dan kini ia pun untuk pertama kalinya bertemu dengan anak kesayangannya itu saat sudah tumbuh dewasa, yaitu aku.
Dengan perasaan yang bingung dan bimbang, antara Marah ataukah Senang. akhirnya aku pun berteriak. Tanda aku benar-benar bingung dan ragu.
Karna mendengar semua perkataanku tadi, Bokap pun tak kuasa menahan tangis, ia pun merasa terpukul dan sedih. Dan juga karna teriakanku yang keras tadi juga membuat Cha dan Papahnya ikut masuk ke dalam kamar. Ia melihat dan mendapatiku yang seperti bukan diriku. Chaca hanya bisa diam terpaku melihat kejadian yang di depan matanya itu.
***
Quote:
Memang tanpa kehadiranku, bagi teman-teman ini kurang begitu lengkap rasanya. Apalagi kami sudah bersahabat sudah lama, dan dari sejak kami kecil hingga saat ini persahabatan di antara kami sangatlah erat. Akan tetapi, walaupun tanpa kehadiranku. Mereka tetap fokus latihan. Dan mereka juga ingin menunjukkan padaku, kalau mereka juga bisa di andalkan walau tanpa diriku. Karena yang selama ini slalu menjadi unjung tombak di grup band kami adalah aku seorang.
Mereka juga tidak ingin aku saja yang menjadi ujung tombak di grup band ini. Karna, jika masih aku yang menjadi ujung tombak di grup band, sama halnya dengan memberikan semua beban kepadaku. Apalagi saat ini juga aku mengalami masalah, jadi mereka takkan membiarkanku menanggung semua beban. Dan seberat apapun masalah kami, harus di tanggung bersama. Karna kami memiliki rasa yang sama, suka ataupun duka slalu bersama. Itulah motto dari persahabatan kami.
Quote:
Dan mereka pun tetap meneruskan latihan band, meski tanpa kehadiranku sementara waktu ini.
***
Quote:
Rumah itu memang tampak sekali terlihat usang, dengan warna cat rumah yang mulai pudar dan pucat. Akan tetapi, halaman rumah itu sangatlah bersih dan rapi. Banyak juga tanaman-tanaman hias yang tumbuh di halaman rumah itu. Sehingga membuat rumah itu juga tampak indah dengan berbagai tanaman hiasnya.
Kemudian aku dan yang lainnya mulai memasuki halaman rumah itu, dengan langkah yang ragu dan bimbang, aku pun mulai berjalan mendekati pintu rumah itu. Kemudian bel pintu rumah itu pun di pencet oleh Nyokap.
Quote:
Chaca yang juga bingung melihat aku dan Nyokap, membuat ia juga bertanya dengan Papahnya.
Quote:
Dengan langkah yang bimbang, aku dan Chaca pun masuk ke dalam rumah itu. Kami berdua masuk juga karna mengikuti orang tua kami yang lebih dulu masuk.
Quote:
Kemudian aku pun beranjak masuk ke dalam kamar itu dengan di temani Nyokap. Ia pun di sana hanya melihat dan mendapatkan sosok seseorang lelaki tua paruh baya seperti Papahnya Chaca yang terbaring sakit dan tak berdaya.
Seakan-akan merasakan sesuatu ikatan batin dengan orang itu, maka aku mendekati lelaki paruh baya itu dengan langkah yang pelan dan tanpa sadar. Tak terasa air mata pun jatuh dan membasahi kedua pipiku, saat dimana aku melihat laki-laki itu.
Quote:
Seperti mendapatkan sebuah tamparan di wajah, aku pun terkejut bukan kepalang saat kini aku harus bertemu dengan Bokap. aku bingung apa yang harus aku lakukan kini. Marah ? Ataukah senang ?
Kemudian akibat dari percakapan singkat antara Nyokap dan aku di dalam kamar tadi. Akhirnya membuat Bokapku terbangun dari tidurnya. Dan kini ia pun untuk pertama kalinya bertemu dengan anak kesayangannya itu saat sudah tumbuh dewasa, yaitu aku.
Quote:
Dengan perasaan yang bingung dan bimbang, antara Marah ataukah Senang. akhirnya aku pun berteriak. Tanda aku benar-benar bingung dan ragu.
Quote:
Karna mendengar semua perkataanku tadi, Bokap pun tak kuasa menahan tangis, ia pun merasa terpukul dan sedih. Dan juga karna teriakanku yang keras tadi juga membuat Cha dan Papahnya ikut masuk ke dalam kamar. Ia melihat dan mendapatiku yang seperti bukan diriku. Chaca hanya bisa diam terpaku melihat kejadian yang di depan matanya itu.
Quote:
0

.