- Beranda
- Stories from the Heart
Yaudah, gue mati aja
...
TS
dasadharma10
Yaudah, gue mati aja
Cover By: kakeksegalatahu
Thank for your read, and 1000 shares. I hope my writing skill will never fade.
Gue enggak tau tulisan di atas bener apa enggak, yang penting kalian tau maksud gue


----------
----------
PERLU DIKETAHUI INI BUKAN KISAH DESPERATE, JUDULNYA EMANG ADA KATA MATI, TAPI BUKAN BERARTI DI AKHIR CERITA GUE BAKALAN MATI.
----------
Spoiler for QandA:
WARNING! SIDE STORY KHUSUS 17+
NOTE! SIDE STORY HANYA MEMPERJELAS DAN BUKAN BAGIAN DARI MAIN STORY
Spoiler for Ilustrasi:
Cerita gue ini sepenuhnya REAL bagi orang-orang yang mengalaminya. Maka, demi melindungi privasi, gue bakalan pake nama asli orang-orang itu. Nggak, gue bercanda, gue bakal mengganti nama mereka dengan yang lebih bagus. Dengan begitu tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Kecuali mata kalian.
Spoiler for INDEX:
Diubah oleh dasadharma10 06-01-2017 18:49
agoritme dan 11 lainnya memberi reputasi
12
1.1M
3.5K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dasadharma10
#1000
PART 50
Gue nggak tahu harus seneng apa sedih. Pulang dari kampus, Masayu, Emil, dan Inah sudah berada di kamar gue, mereka bertiga mainan kinect sambil ketawa-ketawa nggak jelas. Harusnya, harusnya nih posisi Inah itu adalah posisi gue, guling-gulingan bertiga diatas kasur bareng Masau sama Emil, pasti gue bakal seneng banget. Sayangnya itu semua cuma khayalan gue, apalah daya gue yang cuma bisa nontonin tv di ruang tamu sambil diam-diam mencuri dengar pembicaraan mereka.
“Wi, aku nggak nyangka kamu kayak gitu!” teriak Emil dari atas.
Kayak gitu? Gue? Mereka lagi ngomongin gue?! Inah, iya, Inah pasti cerita macem-macem, gue nggak bisa membiarkan ini semua berlanjut. “Nah, jangan cerita yang nggak bener!”
“Wi, kamu udah sembuh kan homonya?” teriak Masayu.
Homo? Wah, ini sih gawat. Bisa-bisa harga diri gue hancur kalo Inah cerita yang lain lagi. Gue langsung berlari menaiki tangga menuju kamar gue.
BLAAM!
Pintu kamar di tutup. Sewaktu gue buka gagang pintunya, ternyata di kunci.
“Dawi, gimana rasanya dicium bencong? Anget ya?” tanya Masayu dibalik pintu.
“Inaaaahh, please stop Naaaaah,” gue mengiba.
“Celana dalam bencongnya warna apa Wi?” tanya Emil.
“Udah Nah, udah.” Gue tarik-tarik gagang pintu kamar gue, “Udah yaaaa….”
“Warnanya apa dulu dong Wi?” lanjut Emil. “Kasih tau kita dulu.”
“Gue gedor-gedor pintu kamar gue, “Enggak, gue nggak mau bahas.”
“Jawab dulu dong kak!”
Gue meratapi nasib gue yang memalukan ini. Rahasia-rahasia gue terbongkar semudah ini dari mulut adik gue sendiri. Apakah gue kakak yang bruruk hingga akhirnya adik gue mengkhianati gue seperti ini?
"Kakak jawab!" teriak Inah.
“Kuning Nah, kuning!” jawab gue menyedihkan.
“Alami nggak?” tanya Inah.
“Alami, aslinya warna putih, warna kuningya karena faktor lain, bukan pewarna,” terrang gue terpaksa.
“Kamu kenapa Wi?” tanya mbak Irma.
“Ada apa sih kok gedor-gedor pintu?” Sintya ikutan keluar.
“Ini, si Inah cerita macem-macem masalah masa laluku mbak.”
“Kalian ngapain? Ayo buka pintunya!” teriak mbak Irma dengan nada tinggi.
Sintya menggedor pintu kamar gue, “Ini cepetan dibuka!”
Gue nggak menyangka mbak Irma sama Sintya ternyata belain gue. Wajar kalo SIntya belain gue, dia sudah menikah, jadi mungkin pemikirannya lebih dewasa. Tapi ini mbak Irma yang biasanya berada dipihak Emil sekarang bakal bantuin gue. Wajah marah tergambar di wajah mbak Irma, atau itu wajah excited.
Ya, gue salah mengira. Begitu pintu dibuka, mbak Irma dan Sintya langsung masuk ke dalam kamar gue lalu menguncinya kembali.
“Lanjut lagi!” teriak mbak Irma bersemangat.
Gue sadar, Inah pasti bakalan cerita segala macam tentang gue. Gue juga sadar, ini adalah hari terakhir dimana gue memiliki sebuah rahasia. Dan gue juga sadar, peluang gue mendapatkan Masayu sudah lenyap.
Gue nggak tahu harus seneng apa sedih. Pulang dari kampus, Masayu, Emil, dan Inah sudah berada di kamar gue, mereka bertiga mainan kinect sambil ketawa-ketawa nggak jelas. Harusnya, harusnya nih posisi Inah itu adalah posisi gue, guling-gulingan bertiga diatas kasur bareng Masau sama Emil, pasti gue bakal seneng banget. Sayangnya itu semua cuma khayalan gue, apalah daya gue yang cuma bisa nontonin tv di ruang tamu sambil diam-diam mencuri dengar pembicaraan mereka.
“Wi, aku nggak nyangka kamu kayak gitu!” teriak Emil dari atas.
Kayak gitu? Gue? Mereka lagi ngomongin gue?! Inah, iya, Inah pasti cerita macem-macem, gue nggak bisa membiarkan ini semua berlanjut. “Nah, jangan cerita yang nggak bener!”
“Wi, kamu udah sembuh kan homonya?” teriak Masayu.
Homo? Wah, ini sih gawat. Bisa-bisa harga diri gue hancur kalo Inah cerita yang lain lagi. Gue langsung berlari menaiki tangga menuju kamar gue.
BLAAM!
Pintu kamar di tutup. Sewaktu gue buka gagang pintunya, ternyata di kunci.
“Dawi, gimana rasanya dicium bencong? Anget ya?” tanya Masayu dibalik pintu.
“Inaaaahh, please stop Naaaaah,” gue mengiba.
“Celana dalam bencongnya warna apa Wi?” tanya Emil.
“Udah Nah, udah.” Gue tarik-tarik gagang pintu kamar gue, “Udah yaaaa….”
“Warnanya apa dulu dong Wi?” lanjut Emil. “Kasih tau kita dulu.”
“Gue gedor-gedor pintu kamar gue, “Enggak, gue nggak mau bahas.”
“Jawab dulu dong kak!”
Gue meratapi nasib gue yang memalukan ini. Rahasia-rahasia gue terbongkar semudah ini dari mulut adik gue sendiri. Apakah gue kakak yang bruruk hingga akhirnya adik gue mengkhianati gue seperti ini?
"Kakak jawab!" teriak Inah.
“Kuning Nah, kuning!” jawab gue menyedihkan.
“Alami nggak?” tanya Inah.
“Alami, aslinya warna putih, warna kuningya karena faktor lain, bukan pewarna,” terrang gue terpaksa.
“Kamu kenapa Wi?” tanya mbak Irma.
“Ada apa sih kok gedor-gedor pintu?” Sintya ikutan keluar.
“Ini, si Inah cerita macem-macem masalah masa laluku mbak.”
“Kalian ngapain? Ayo buka pintunya!” teriak mbak Irma dengan nada tinggi.
Sintya menggedor pintu kamar gue, “Ini cepetan dibuka!”
Gue nggak menyangka mbak Irma sama Sintya ternyata belain gue. Wajar kalo SIntya belain gue, dia sudah menikah, jadi mungkin pemikirannya lebih dewasa. Tapi ini mbak Irma yang biasanya berada dipihak Emil sekarang bakal bantuin gue. Wajah marah tergambar di wajah mbak Irma, atau itu wajah excited.
Ya, gue salah mengira. Begitu pintu dibuka, mbak Irma dan Sintya langsung masuk ke dalam kamar gue lalu menguncinya kembali.
“Lanjut lagi!” teriak mbak Irma bersemangat.
Gue sadar, Inah pasti bakalan cerita segala macam tentang gue. Gue juga sadar, ini adalah hari terakhir dimana gue memiliki sebuah rahasia. Dan gue juga sadar, peluang gue mendapatkan Masayu sudah lenyap.
Diubah oleh dasadharma10 12-03-2016 23:55
JabLai cOY memberi reputasi
1


