- Beranda
- Stories from the Heart
Sometimes Love Just Ain't Enough
...
TS
jayanagari
Sometimes Love Just Ain't Enough
Halo, gue kembali lagi di Forum Stories From The Heart di Kaskus ini 
Semoga masih ada yang inget sama gue ya
Kali ini gue kembali lagi dengan sebuah cerita yang bukan gue sendiri yang mengalami, melainkan sahabat gue.
Semoga cerita gue ini bisa berkenan di hati para pembaca sekalian

Semoga masih ada yang inget sama gue ya

Kali ini gue kembali lagi dengan sebuah cerita yang bukan gue sendiri yang mengalami, melainkan sahabat gue.
Semoga cerita gue ini bisa berkenan di hati para pembaca sekalian


*note : cerita ini sudah seizin yang bersangkutan.
Quote:
Quote:
Diubah oleh jayanagari 24-04-2016 00:40
jenggalasunyi dan 9 lainnya memberi reputasi
10
422.2K
1.5K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
jayanagari
#1122
PART 45 – Side B
Gue duduk di sofa empuk sebuah café, sambil mengetik chat untuk Anin. Sesekali gue melirik ke pasangan disamping gue, yang barangkali barusan jadian, sehingga mereka saling melemparkan kata-kata gombal satu sama lain yang membuat gue merinding. Ketika perasaan geli gue udah memuncak, yang bisa gue lakukan hanyalah menghela napas panjang dan menggelengkan kepala, berharap pemandangan itu cepat berlalu. Entah berapa lama gue menunggu, tapi sosok yang gue nantikan masih belum dateng juga.
Gue bosan dan kemudian menelpon Anin yang malam itu ada dirumah. Cuma sekali terdengar nada panggil, sebelum suara lembut terdengar di ujung.
“halauw….” gue cengengesan.
“halauw-halauw, gimana udah dateng belom?” yang diujung sana sewot.
“beyum….” gue semakin iseng.
“jijik ah….”
Gue kemudian ketawa ngakak mendengar Anin sewot. Jarang-jarang dia sewot, dan itu merupakan hiburan tersendiri buat gue. Apalagi disaat gue bosen macem sekarang ini.
“udah tau mau ngomong apa ntar?” tanya Anin.
“sepertinya gitu.”
“hayo gak usah macem-macem sama cewe lain!” ancamnya.
gue memutar bola mata keatas, “satu macem aja udah repot….” sahut gue pelan.
“nanti beliin pizza dong mas….”
“nah kan dibilang juga apa, satu aja udah repot….”
terdengar suara tawa cekikikan diujung sana.
Teleponan dengan Anin itu gak berlangsung lama. Untungnya gak lama setelah gue menutup telepon itu, Fira dateng. Satu yang langsung gue tangkap, wajahnya gak excited melainkan ada sedikit ketegangan. Barangkali dia takut gue sidang atau gimana. Gue tersenyum kepadanya, untuk sedikit menurunkan ketegangannya.
“sori lama yah…” ucap Fira sambil duduk di kursi di hadapan gue.
“ah gakpapa kok. abis darimana?” gue tersenyum.
“tadi abis keluar sama temen sih, cuma kesininya agak macet, jadi ya lama gitu deh…” jelasnya. “Udah lama?”
gue mengangguk pelan, “ya lumayan sih. Haha…”
Gue kemudian mempersilakan dia untuk memesan sesuatu dari menu, sementara gue cuma minum teh panas karena udah kenyang. Gue memperhatikan setiap gesturenya sewaktu memesan makanan, memanggil pelayan, dan caranya berbicara ke pelayan. Beberapa waktu kemudian kami udah terlibat dalam sebuah percakapan. Tentu saja gue memulainya dengan basa-basi dulu, karena gak mungkin gue langsung membicarakan apa yang jadi maksud gue tanpa pembuka. Akhirnya gue sampai pada hal yang gue ingin bicarakan.
“lo punya pacar, Fir?” tanya gue.
Fira menggeleng, “enggak, kenapa emang?”
“ah gakpapa. Kirain lo punya.”
“kenapa emangnya?”
“gue sama anak-anak pernah liat lo makan berdua sama cowok di warung ayam penyet. Dulu banget tapi, mungkin lo udah lupa. Kirain itu cowok lo. Hahaha.” gue tertawa kering.
“keliatannya kayak itu cowok gue yah?”
gue memiringkan kepala, “yah, keliatannya kayak gitu sih….” gue menghirup teh sedikit, “….dan Dhika juga ngiranya gitu.”
Mendengar nama Dhika gue sebut, Fira terdiam dan raut mukanya berubah. Dengan gelisah dia membetulkan posisi duduknya.
“lo disini cuma buat nanyain Dhika?” tanyanya pelan.
“bisa dibilang gitu….”
“kenapa gak Dhika nya sendiri yang disini sama gue?”
Gue memandangi Fira sejenak dan memiringkan kepala.
“gue pikir lo juga pasti tau lah kenapa yang di depan lo ini gue, bukan Dhika.” gue tersenyum.
Fira terdiam. Gue pun kemudian melanjutkan.
“gue disini bukan untuk berprasangka buruk ke elo, gue cuma mau tanya beberapa hal ke lo. Dan, ya, gue lakuin ini buat sahabat gue. Semoga lo gak tersinggung gara-gara itu ya.” jelas gue sambil tersenyum.
Fira terdiam agak lama.
“lo mau tanya apa?” ucapnya pada akhirnya.
Gue menarik napas panjang.
“mungkin lo udah bisa menebak gue mau bertanya apa ke lo. Ya, ini soal Dhika. Soal lo dan Dhika.” gue memiringkan kepala, menyelidiki perubahan sekecil apapun di raut wajahnya, “gimana perasaan lo ke Dhika?”
Fira terdiam, dan memainkan tas tangannya yang ditaruh di meja. Dia mencubit-cubit kecil salah satu bagiannya, berpikir. Kemudian dia memandang gue lekat-lekat.
“harus gue jawab sekarang?”
“it’s all yours.”sahut gue pelan. Gue menyerahkan seluruh pilihan itu ke dia. Dan memang itu haknya untuk menjawab atau enggak.
“…. gue gak ada perasaan apa-apa ke Dhika….” katanya pada akhirnya. Dia memalingkan wajah ke arah lain, menghindari kontak mata dengan gue. Gue memahami kenapa dia melakukan itu.
“lo yakin?” gue menatapnya.
Fira menarik napas dalam-dalam, dan terdiam buat beberapa waktu.
“iya gue yakin, gue gak ada perasaan apa-apa ke Dhika…” ucapnya.
Quote:
Gue duduk di sofa empuk sebuah café, sambil mengetik chat untuk Anin. Sesekali gue melirik ke pasangan disamping gue, yang barangkali barusan jadian, sehingga mereka saling melemparkan kata-kata gombal satu sama lain yang membuat gue merinding. Ketika perasaan geli gue udah memuncak, yang bisa gue lakukan hanyalah menghela napas panjang dan menggelengkan kepala, berharap pemandangan itu cepat berlalu. Entah berapa lama gue menunggu, tapi sosok yang gue nantikan masih belum dateng juga.
Gue bosan dan kemudian menelpon Anin yang malam itu ada dirumah. Cuma sekali terdengar nada panggil, sebelum suara lembut terdengar di ujung.
“halauw….” gue cengengesan.
“halauw-halauw, gimana udah dateng belom?” yang diujung sana sewot.
“beyum….” gue semakin iseng.
“jijik ah….”
Gue kemudian ketawa ngakak mendengar Anin sewot. Jarang-jarang dia sewot, dan itu merupakan hiburan tersendiri buat gue. Apalagi disaat gue bosen macem sekarang ini.
“udah tau mau ngomong apa ntar?” tanya Anin.
“sepertinya gitu.”
“hayo gak usah macem-macem sama cewe lain!” ancamnya.
gue memutar bola mata keatas, “satu macem aja udah repot….” sahut gue pelan.
“nanti beliin pizza dong mas….”
“nah kan dibilang juga apa, satu aja udah repot….”
terdengar suara tawa cekikikan diujung sana.
Teleponan dengan Anin itu gak berlangsung lama. Untungnya gak lama setelah gue menutup telepon itu, Fira dateng. Satu yang langsung gue tangkap, wajahnya gak excited melainkan ada sedikit ketegangan. Barangkali dia takut gue sidang atau gimana. Gue tersenyum kepadanya, untuk sedikit menurunkan ketegangannya.
“sori lama yah…” ucap Fira sambil duduk di kursi di hadapan gue.
“ah gakpapa kok. abis darimana?” gue tersenyum.
“tadi abis keluar sama temen sih, cuma kesininya agak macet, jadi ya lama gitu deh…” jelasnya. “Udah lama?”
gue mengangguk pelan, “ya lumayan sih. Haha…”
Gue kemudian mempersilakan dia untuk memesan sesuatu dari menu, sementara gue cuma minum teh panas karena udah kenyang. Gue memperhatikan setiap gesturenya sewaktu memesan makanan, memanggil pelayan, dan caranya berbicara ke pelayan. Beberapa waktu kemudian kami udah terlibat dalam sebuah percakapan. Tentu saja gue memulainya dengan basa-basi dulu, karena gak mungkin gue langsung membicarakan apa yang jadi maksud gue tanpa pembuka. Akhirnya gue sampai pada hal yang gue ingin bicarakan.
“lo punya pacar, Fir?” tanya gue.
Fira menggeleng, “enggak, kenapa emang?”
“ah gakpapa. Kirain lo punya.”
“kenapa emangnya?”
“gue sama anak-anak pernah liat lo makan berdua sama cowok di warung ayam penyet. Dulu banget tapi, mungkin lo udah lupa. Kirain itu cowok lo. Hahaha.” gue tertawa kering.
“keliatannya kayak itu cowok gue yah?”
gue memiringkan kepala, “yah, keliatannya kayak gitu sih….” gue menghirup teh sedikit, “….dan Dhika juga ngiranya gitu.”
Mendengar nama Dhika gue sebut, Fira terdiam dan raut mukanya berubah. Dengan gelisah dia membetulkan posisi duduknya.
“lo disini cuma buat nanyain Dhika?” tanyanya pelan.
“bisa dibilang gitu….”
“kenapa gak Dhika nya sendiri yang disini sama gue?”
Gue memandangi Fira sejenak dan memiringkan kepala.
“gue pikir lo juga pasti tau lah kenapa yang di depan lo ini gue, bukan Dhika.” gue tersenyum.
Fira terdiam. Gue pun kemudian melanjutkan.
“gue disini bukan untuk berprasangka buruk ke elo, gue cuma mau tanya beberapa hal ke lo. Dan, ya, gue lakuin ini buat sahabat gue. Semoga lo gak tersinggung gara-gara itu ya.” jelas gue sambil tersenyum.
Fira terdiam agak lama.
“lo mau tanya apa?” ucapnya pada akhirnya.
Gue menarik napas panjang.
“mungkin lo udah bisa menebak gue mau bertanya apa ke lo. Ya, ini soal Dhika. Soal lo dan Dhika.” gue memiringkan kepala, menyelidiki perubahan sekecil apapun di raut wajahnya, “gimana perasaan lo ke Dhika?”
Fira terdiam, dan memainkan tas tangannya yang ditaruh di meja. Dia mencubit-cubit kecil salah satu bagiannya, berpikir. Kemudian dia memandang gue lekat-lekat.
“harus gue jawab sekarang?”
“it’s all yours.”sahut gue pelan. Gue menyerahkan seluruh pilihan itu ke dia. Dan memang itu haknya untuk menjawab atau enggak.
“…. gue gak ada perasaan apa-apa ke Dhika….” katanya pada akhirnya. Dia memalingkan wajah ke arah lain, menghindari kontak mata dengan gue. Gue memahami kenapa dia melakukan itu.
“lo yakin?” gue menatapnya.
Fira menarik napas dalam-dalam, dan terdiam buat beberapa waktu.
“iya gue yakin, gue gak ada perasaan apa-apa ke Dhika…” ucapnya.
Diubah oleh jayanagari 07-03-2016 21:09
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3