- Beranda
- Stories from the Heart
1 Flat! 2 Wanita! 2 Cerita!
...
TS
galonze.b.c.n.b
1 Flat! 2 Wanita! 2 Cerita!

1 Flat2 Wanita 2 Cerita

Quote:
Spoiler for Rules:
Spoiler for F.A.Q:
Quote:
Diubah oleh galonze.b.c.n.b 11-06-2016 21:40
sormin180 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
1.1M
3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
galonze.b.c.n.b
#1674
Part 68 8 Bulan Kemudian.
---- Time Skip -----
“mas,… aku sayang sama kamu mas….” Ucap seorang wanita yang masih tergeletak lemas di dalam sebuah ruangan.
“aku juga, dek… percayalah, ber Do’a saja.. serahkan semuanya pada tuhan” ucap lelaki disebelahnya sambil menangis.
“mas…. Aku gak mau pisah…” ucap wanita tersebut sambil menangis.
“de…. Kalo mimpimu masih ingin hidup bersama mas terwujud suatu saat nanti, ini alamat mas de… percayalah… mas gak bakal menikah sebelum kamu mendapatkan lelaki lain” ucap lelaki tersebut sambil memberikan secarik kertas.
“kamu lelakiku… dan akan selalu menjadi lelakiku…” ucap wanita tersebut.
“mas pamit de…” ucap lelaki tersebut sambil mencium kening perempuan disampingnya.
“Haaahhhhhhh!!!!!” gue terbangun dengan jeritan tertahan! Keringat dingin membasahi sekujur tubuh ini. Entah kenapa akhir akhir ini gue sering sekali mimpi yang entah apa maksudnya semua mimpi tersebut gue sendiripun tidak mengerti. Saat melihat keadaan sekitar kamar yang masih gelap dan diluar hujan deras, gue melirik jam weker di dinding, ternyata jam masih menunjukan pukul 04.05 dini hari.
“Astagfirullah Alhadzim! Mimpi itu lagi!” ucap gue sambil mengusap keringat dan mencoba untuk bangkit.
Gue yang terdiam di dinding kamar hanya bisa termenung, merenungkan apa arti dari mimpi tadi?, masih mencoba menerka arti dari mimpi tersebut dengan hati tidak enak dan jantung yang berebar “Ya Allah, apa arti dari mimpi hambamu ini? Apakah hanya bunga tidur hamba ataukah ini sebuah firasat? Apa sebenarnya yang nanti akan terjadi? Ya Allah, semoga ini hanya bunga tidur saja dan semuanya akan baik baik saja! Amin…” ucap gue yang masih diam termenung.
Pagi harinya, gue sudah siap untuk berangkat ke kampus, kuliah semester 6 ini sangat berat sekali karna gue disibukkan dengan tugas akhir yang sedang dikerjakan. Melihat yohanes telah lulus beberapa bulan yang lalu membuat gue semakin semangat untuk segera menyelesaikan perkuliahan ini.
Setelah sampai di kampus, seperti biasa, gue berkumpul di warung depan dengan teman teman, hanya shella (pacar donny) yang tak nampak batang hidungnya karna sakit meriang. Namun akhir akhir ini memang suasana kita nampak tidak seperti biasanya. Agnas dan Nadia hanya saling tatap dengan tatapan mata yang tajam tampa mengucapkan sepatah katapun. Ya akhir akhir ini mereka sedang diterpa masalah kalo rio dikabarkan sedang menjalin hubungan belakang dengan nadia.
Nadia pun akhirnya menghela nafas panjang, “nas.. maafin aku ya,aku…., aku…” nadia tidak dapat meneruskan ucapannya, dadanya mungkin terasa sesak! Hingga air matanya mulai emngalir.
Agnas langsung memeluk nadia, air matanya pun menetes keluar “Gak nad, aku yang harusnya minta maaf…, maaf aku udah salah sangka sama kamu, udah kita gak usah bahas ini lagi ya!”
“Tapi… tapi.., aku emang bener bener gak ada maksud buat ngerusak hubungan kalian, aku yang salah.. aku yang…” rintih nadia sambil menangis.
“sudah sudah, kalian berdua gak ada yang salah kok! Kalo dibilang bersalah sebenernya juga aku ikut bersalah karena akulah penyebab semua masalah ini! Tapi udah lah gak usah bahas lagi, yang penting kita sudah saling memaafkan kan?” ucap rio sambil merangkul agnas.
Frans yang daritadi terdiam ikut buka suara juga “Nah betul itu yang, kita kan sahabat baik! Sudah yang lain biarkan berlalu, ngapain ribut terus dan saling menyalahkan juga?”
“iyaaaa maafin aku yang…” ucap nadia memeluk cowoknya.
“Macam sinetron sekali drama kalian ini” celetuk yohanes.
“Dasar lebaayyyyy” ucap gue ikut menimpal.
“Dasar pepesan kosong! Bilang aja kalo iri!” ucap amel.
(FYI Amel itu ceweknya Yohanes)
“Apa? Gue dianggap pepesan kosong? Ya ga apa apa lah! Maklum, amel udah dapet yang disebelah” ucap gue menunjuk yohanes.
“Ih.. Apaan? Ogah gue sama si Gorila itu!” ucap amel buru buru membantahnya.
“Alamak! Kemarin saja kau menerima aku lamar. Sekarang pas lagi ramai, kau pura pura menolakku!” sanggah yohanes, kita semuapun tertawa lebar.
“yaahhh udah pada jadian semua nih ya? Gue doang berarti yang belum laku!” keluh gue.
norman langsung merangkul gue dan berkata “Hahahahaa… sabar dong bro! makannya lu sih ngarepin jodoh orang mulu! Tapi gue yakin suatu saat lu juga bakalan nemu jodoh lu kok! You Are Handsome, handsome, handsome! Hahahaha”, mereka semua pun tertawa.
“Ya udah yoh! Kalo gitu lu harus ntraktir kita! Lu kan udah ngelamar dia, masa gak ada traktirannya sih!” mendengar apa yang dikatakan oleh donny, yohanes langsung menoyor kepalanya “Alamak! Makan saja yang di kepala kau itu! Lagi pula kan aku belum resmi meminang si Amel ini”
“Ya Ok lah kalo gitu, kita juga udah lama kan ga main bareng akhir akhir ini, ayo deh, kita ke mall makan makan! Gue yang traktir” ucap rio.
mendengar itu dony pun langsung kegirangan “Nah gitu dong bro! asyik kan kalo gitu! Makan-makan Im Coming!”
Setelah semua urusan di kampus selesai, kitapun langsung menuju ke sebuah mall di kawasan Cihampelas, sebelum makan siang, kita mencoba jalan-jalan terlebih dahulu dan menonton bioskop, malang bagi gue dan donny, yang awalnya bersemangat karena akan di traktir makan siang, tapi akhirnya jadi ‘Kambing Conge’, karena mereka semua asyik dengan pasangannya masing masing.
Haripun semakin sore dan kita memutuskan untuk pulang ke rumah masing masing, gue pulang menggunakan sepeda motor milik yohanes yang baru dia jual dengan harga murah. Ya walaupun motor bekas setidaknya motor itu hasil dari keringat gue selama bekerja paruh waktu di kantor milik dia.
Saat masuk kedalam flat. di tengah ruangan gue melihat mila yang sedang menangis tersendu sendu, sangat kasihan sekali melihat dia akhir akhir ini. Seperti banyak beban yang sedang bertumpu di pundaknya sampai sampai dia harus menderita seperti ini.
“hey… kenapa?” ucap gue sambil duduk disampingnya.
“hiks… hikss… hiks…” mila masih menangis.
“hey.. mbak kenapa? Ada yang bisa aku bantu?” ucap gue kembali bertanya.
“panggil aku seperti dulu saja” ucap dia masih menangis.
gue pun mengangguk sambil tersenyum “iya.., mila kenapa?”
“anton..anton.. dia.. dia…” mila masih nangis sesenggukan.
“sebentar…” ucap gue beranjak kedapur untuk mengambilkan segelas air minum, “ini diminum dulu biar kamunya agak tenangan” ucap gue sekembalinya dari dapur.
setelah meneguk air yang gue kasih, dan dia sudah mulai tenang, mila pun akhirnya mulai mau bercerita “aku mergokin anton jalan sama cewek lain” ucap mila pelan.
“hey sini sini…” ucap gue merangkul dia, “kamu yang sabar ya, kamu udah tanyain ke antonnya langsung kenapa dia bisa kayak gitu?”
“dia katanya masih sayang sama mantannya dan baru balikan lagi, pas aku tanya terus gimana hubungan kita kedepannya?, dia langsung putusin aku tanpa pikir panjang dulu” ucap dia kembali menangis.
“aku heran! Kenapa dia bisa bisanya kayak gitu? Padahal aku udah mulai coba serius sama dia, udah bisa nerima dia apa adanya, tapi respon dia kayak gitu, aku kesel… kesel kesel kesel….” Ucap dia sambil memukul mukul dada gue.
“cuppp cupp cupppp sabar ya…” ucap gue mencoba menenangkan dia.
“aku tuh kesel! Tiap ada laki laki yang deket sama aku pasti brengs3k semua gak ada yang bener bener sayang! Gak ada yang ngertiin aku! Gak ada yang mau bahagiain aku! Gak ada yang mau serius sama aku! Aku keseellll….. kesel… kesel kesel kesel….” Ucap dia kembali memukuli dada gue.
“kamu mau aku apain dia?” ucap gue sedikit emosi dengan perlakuan anton.
“…..” dia tidak menjawab ucapan gue, yang dia lakukan hanya membenamkan wajahnya di bahu sebelah kiri badan gue “gak perlu… aku cuma pengen kamu ada disini… jangan tinggalin aku lagi… jangan paksa aku buat pilih orang lain lagi..” ucap dia sambil mengecup bahu sebelah kiri gue.
“iya.. aku ada disini…aku gak bakal kemana mana lagi..” ucap gue memeluk dia.
“heem… gak boleh jauh jauh! Gak boleh cuekin aku! Gak boleh tinggalin aku lama lama! Gak boleh pokoknya gak boleh gak boleh gak boleh” ucap dia dengan manjanya sambil mencengkram bahu ini.
Senang sekali rasanya melihat dia seperti ini, melihat dia kembali bermanja manja seperti ini membuat gue teringat dengan kejadian malam hari dulu, ahh mungkin jika di ingat ingat kejadian dululah terakhir kali dia bermanja manja seperti ini. Dengan tekad yang sudah bulat gue tidak akan meninggalkan dia lagi untuk kedua kalinya.
“hey… kita keliling keliling bandung yukk” ucap gue mencoba membuat dia tersenyum kembali.
“gak mau! Di mobil gak bisa melukin kamu kayak gini” ucap mila dengan posisi masih memeluk gue.
“ya.. gak usah naik mobil”
“Gak mau! Aku gak mau diajakin jalan pake motor temen mu!” ucap mila masih menolak.
“ayoo liat dulu deh…” ucap gue sambil berdiri.
mila hanya diam duduk tanpa menjawab, “jadi gak mau nih?” ucap gue kembali bertanya.
dia yang masih diam lalu menjulurkan kedua tangannya ke atas “gendoooonnggg” ucap dia dengan manjanya.
“Dasar manja” ucap gue berjongkok dihadapan dia.
mila langsung membetet hidung gue dengan manjanya berucap “biarin.. dah lama juga gak manja manjaan sama kamu”
“ihhh baru pututs udah manja manjaan sama cowok lain” bales gue sambil membetet hidungnya.
“biarin! Aku gak pernah sayang sama dia! Sayangnya Cuma sama kamu weekkkk” ucap dia menjulurkan lidahnya tepat di hadapan gue.
gue yang sudah gemas dengan anak ini langsung bergerak dan membopong dia “Awww mas…” ucap mila.
Gue tidak menjawab keluhan yang keluar dari bibirnya. Dengan manjanya kepalanya dimasuka kedalam dada. Senyumnya semakin melebar walau kedua matanya masih terlihat merah dan membengkak saat gue melirik ke arah bawah. Langkah ini sengaja di buat lambat agar badan ini bisa lebih lama menggendongnya.
“cantik…sudah sampe…” ucap gue berhenti didepan sebuah motor.
tidak ada jawaban yang keluar, hanya senyuman yang dia berikan ke arah gue “mau dibonceng didepan?” ucap gue.
“mmmmmm” ucap dia tidak jelas karna berbicara di dada gue.
tanpa menunggu jawaban dari dia dengan mencoba meposisikan tubuh dia didepan dengan cara memangku “ihhhh beneran di depan, entar aku jatuh lagi” ucap mila tiba tiba dengan melompat, membuat sedikit keseimbangan motor ini miring dan hampir jatuh.
“Di belakang aja, biar bisa meluk kamu” ucap dia langsung duduk di jok belakang.
“pegangan” ucap gue menarik kedua tangannya.
“mas.. bentar…” ucap dia dengan pipi direbahkan di punggung dan memeluk dengan sangat erat.
“kenapa?”
“ini motor siapa?”
“motor ku, maaf ya kalo jelek.. uang hasil kerjaku selama beberapa bulan ini cuma bisa kebeli motor bekas” ucap gue dengan suara pelan.
“mas…”
“hmmmmm”
“ayookkk jalan…” ucap dia dengan manja sambil memeluk erat gue.
Entah bagaimana mengungkapkan perasaan gue malam ini, membonceng wanita yang dari dulu sangat sangat gue cintai. Motor ini berjalan dengan kecepatan pelan. Tangan kiri ini memegang kedua tangannya yang memeluk badan gue. Perjalanan sangat indah malam ini walau tak ada tujuan akan pergi kemana hingga akhirnya memasuki daerah kota yang penuh keramaian malam, melewati keramaian di sebuah warung pinggiran yang berjajar.
“mas… aku seneng banget…” ucap dia.
“hmmmm aku juga” ucap gue dengan tangan kiri masih memegangi kedua tangannya.
“jangan pulang, jalan terus sampe aku bobok” ucap dia dengan manjanya.
“iya, pegangan yang kenceng” ucap gue yang dibalas denga pelukan semakin kencang oleh kedua tangannya.
Entah kenapa pelukan dari mila selalu membuat gue merasa nyaman, pelukan dari dia berbeda dengan pelukan pelukan wanita lain. Dikecupnya bahu kanan gue dengan lembut oleh dia, ada rasa mengganjal sebenarnya di hati ini. Bagaimana mood dia bisa langsung berubah? Bagaimana dengan Anton? Masa bodoh lah! Seandainya nanti dia bersama gue pun belum tentu dia bisa menerima perubahan yang telah terjadi pada gue selama ini.
Belum hilang semua pertanyaan pertanyaan dikepala gue. Tiba tiba pelukan kedua tangannya menjadi mengendur, tubuhnya mulai terasa sedikit melemas dan mulai terdorong kebelakang, mungkin dia tertidur. Gue menghintikan laju motor kesamping jalan untuk memastikan apakah dia sudah tertidur atau belum.
“ahhhh dia bener bener tidur” ucap gue didalam hati.
Gue jalankan motor ini dengan kecepatan sangat pelan, tangan kiri gue posisikan memegang kedua tangan dia yang memeluk dari belakang untuk berjaga jaga takutnya dia terjengkang jatuh kebelakang.
“mas.. aku seneng banget malem ini…” ucapnya lembut dengan kedua tangannya kembali memeluk dengan sangat erat.
“dasar tua tua manja..” ucap gue pelan yang ternyata didengar oleh mila dan memukul punggung gue.
Selama perjalanan dia hanya diam tertidur dibelakang yang membuat gue sedikit khawatir kalau dia akan terjatuh. Semakin gue merasa khawatir semakin gue pegang kedua tangannya oleh tangan kiri dengan erat. Perjalanan pulang memang cukup jauh, kita yang waktu itu sedang di cimahi masih sangat jauh untuk pulang sampai ke flat kita, namun perasaan nyaman berdua bersama dia membuat badan ini tidak terasa lelah sama sekali.
“heyy bangun udah nyampe” ucap gue mencoba membangunkan dia.
“lemes masss” ucap dia dengan manjanya.
“iya bangun dulu bobonya diatas aja” ucap gue.
“gendongggg” ucap dia masih duduk di jok motor.
“nggghhhhh” ucap gue dengan suara tertahan saat menggendong tubuh dia.
“kenapa mass?” ucap dia sambil menutup matanya.
“beratthhhh” ucap gue.
“ihhhh aku endut gitu maksudnya?” ucap dia dengan manjanya.
“enduuuttt endduuttt banget sekarang” ucap gue menggoda dia.
“ihhh mas mah” ucap dia memukul dada gue.
“mas mau ngomong…” ucap gue yang saat itu menggendong dia baru sampai lantai dua.
“iya tau… mas mau ngomong mas sayang sama aku… nanti aku jawab iya aku juga sayang mas…” ucap dia sekenanya.
“geer banget sih…” ucap gue mencoba mengcontrol diri walaupun memang benar itu yang akan gue katakan.
“terus apa?”
“kamu jangan banyak makan… berathhh tau” ucap gue yang sudah sampai di pintu depan dan menurunkannya.
“owhh gitu? Ya udah!” ucap dia dengan juteknya.
saat dia membuka pintu dengan kuci miliknya saat itu juga gue peluk dia dari belakang “miel.. aku sayang sama kamu.., ini ucapan ku yang terakhir.. kalo kamu jawab aku terlalu muda gak bakal lagi aku nembak kamu....” ucap gue membalikan badannya sehingga kita berhadap hadapan.
“tapi… semua butuh waktu…” jawab dia sambil menundukan kepalanya.
“bukan itu jawaban yang aku mau, kalo iya mulai besok kita pacaran, kalo enggak aku gak bakalan gangguin kamu lagi, entah kenapa kalo terus terusan kayak gini aku ngerasa dimain sama kamu kalo gini caranya” ucap gue memandang dia serius.
“masss jangan melotot gitu matanya… takut.,..” ucap mila.
“Ya apa enggak?” ucap gue sedikit serius.
“mas.. semua butuh waktu…” ucap dia dengan tatapan binar.
“aku anggap itu jawaban enggak” ucap gue meninggalkan mila.
Butuh waktu? Entah apa maksud dia, apa hanya ingin mempermainkan gue atau sekedar mencari hiburan saat dia sedih entahlah. Yang jelas gue sudah mencoba kembali menyatakan cinta ini pada dia, walau memang momennya sangat tidak mendukung karna beberapa jam lalu dia baru putus dengan pacarnya dengan alasan yang menurut gue sedikit tidak masuk akal, lalu tiba tiba ada seorang cowok yang menyatakan cintanya begitu saja. Memang benar apa kata dia semua butuh waktu. Tapi apa tidak cukup selama 2 tahun lebih ini kita saling mengenal?
“mas,… aku sayang sama kamu mas….” Ucap seorang wanita yang masih tergeletak lemas di dalam sebuah ruangan.
“aku juga, dek… percayalah, ber Do’a saja.. serahkan semuanya pada tuhan” ucap lelaki disebelahnya sambil menangis.
“mas…. Aku gak mau pisah…” ucap wanita tersebut sambil menangis.
“de…. Kalo mimpimu masih ingin hidup bersama mas terwujud suatu saat nanti, ini alamat mas de… percayalah… mas gak bakal menikah sebelum kamu mendapatkan lelaki lain” ucap lelaki tersebut sambil memberikan secarik kertas.
“kamu lelakiku… dan akan selalu menjadi lelakiku…” ucap wanita tersebut.
“mas pamit de…” ucap lelaki tersebut sambil mencium kening perempuan disampingnya.
“Haaahhhhhhh!!!!!” gue terbangun dengan jeritan tertahan! Keringat dingin membasahi sekujur tubuh ini. Entah kenapa akhir akhir ini gue sering sekali mimpi yang entah apa maksudnya semua mimpi tersebut gue sendiripun tidak mengerti. Saat melihat keadaan sekitar kamar yang masih gelap dan diluar hujan deras, gue melirik jam weker di dinding, ternyata jam masih menunjukan pukul 04.05 dini hari.
“Astagfirullah Alhadzim! Mimpi itu lagi!” ucap gue sambil mengusap keringat dan mencoba untuk bangkit.
Gue yang terdiam di dinding kamar hanya bisa termenung, merenungkan apa arti dari mimpi tadi?, masih mencoba menerka arti dari mimpi tersebut dengan hati tidak enak dan jantung yang berebar “Ya Allah, apa arti dari mimpi hambamu ini? Apakah hanya bunga tidur hamba ataukah ini sebuah firasat? Apa sebenarnya yang nanti akan terjadi? Ya Allah, semoga ini hanya bunga tidur saja dan semuanya akan baik baik saja! Amin…” ucap gue yang masih diam termenung.
Pagi harinya, gue sudah siap untuk berangkat ke kampus, kuliah semester 6 ini sangat berat sekali karna gue disibukkan dengan tugas akhir yang sedang dikerjakan. Melihat yohanes telah lulus beberapa bulan yang lalu membuat gue semakin semangat untuk segera menyelesaikan perkuliahan ini.
Setelah sampai di kampus, seperti biasa, gue berkumpul di warung depan dengan teman teman, hanya shella (pacar donny) yang tak nampak batang hidungnya karna sakit meriang. Namun akhir akhir ini memang suasana kita nampak tidak seperti biasanya. Agnas dan Nadia hanya saling tatap dengan tatapan mata yang tajam tampa mengucapkan sepatah katapun. Ya akhir akhir ini mereka sedang diterpa masalah kalo rio dikabarkan sedang menjalin hubungan belakang dengan nadia.
Nadia pun akhirnya menghela nafas panjang, “nas.. maafin aku ya,aku…., aku…” nadia tidak dapat meneruskan ucapannya, dadanya mungkin terasa sesak! Hingga air matanya mulai emngalir.
Agnas langsung memeluk nadia, air matanya pun menetes keluar “Gak nad, aku yang harusnya minta maaf…, maaf aku udah salah sangka sama kamu, udah kita gak usah bahas ini lagi ya!”
“Tapi… tapi.., aku emang bener bener gak ada maksud buat ngerusak hubungan kalian, aku yang salah.. aku yang…” rintih nadia sambil menangis.
“sudah sudah, kalian berdua gak ada yang salah kok! Kalo dibilang bersalah sebenernya juga aku ikut bersalah karena akulah penyebab semua masalah ini! Tapi udah lah gak usah bahas lagi, yang penting kita sudah saling memaafkan kan?” ucap rio sambil merangkul agnas.
Frans yang daritadi terdiam ikut buka suara juga “Nah betul itu yang, kita kan sahabat baik! Sudah yang lain biarkan berlalu, ngapain ribut terus dan saling menyalahkan juga?”
“iyaaaa maafin aku yang…” ucap nadia memeluk cowoknya.
“Macam sinetron sekali drama kalian ini” celetuk yohanes.
“Dasar lebaayyyyy” ucap gue ikut menimpal.
“Dasar pepesan kosong! Bilang aja kalo iri!” ucap amel.
(FYI Amel itu ceweknya Yohanes)
“Apa? Gue dianggap pepesan kosong? Ya ga apa apa lah! Maklum, amel udah dapet yang disebelah” ucap gue menunjuk yohanes.
“Ih.. Apaan? Ogah gue sama si Gorila itu!” ucap amel buru buru membantahnya.
“Alamak! Kemarin saja kau menerima aku lamar. Sekarang pas lagi ramai, kau pura pura menolakku!” sanggah yohanes, kita semuapun tertawa lebar.
“yaahhh udah pada jadian semua nih ya? Gue doang berarti yang belum laku!” keluh gue.
norman langsung merangkul gue dan berkata “Hahahahaa… sabar dong bro! makannya lu sih ngarepin jodoh orang mulu! Tapi gue yakin suatu saat lu juga bakalan nemu jodoh lu kok! You Are Handsome, handsome, handsome! Hahahaha”, mereka semua pun tertawa.
“Ya udah yoh! Kalo gitu lu harus ntraktir kita! Lu kan udah ngelamar dia, masa gak ada traktirannya sih!” mendengar apa yang dikatakan oleh donny, yohanes langsung menoyor kepalanya “Alamak! Makan saja yang di kepala kau itu! Lagi pula kan aku belum resmi meminang si Amel ini”
“Ya Ok lah kalo gitu, kita juga udah lama kan ga main bareng akhir akhir ini, ayo deh, kita ke mall makan makan! Gue yang traktir” ucap rio.
mendengar itu dony pun langsung kegirangan “Nah gitu dong bro! asyik kan kalo gitu! Makan-makan Im Coming!”
Setelah semua urusan di kampus selesai, kitapun langsung menuju ke sebuah mall di kawasan Cihampelas, sebelum makan siang, kita mencoba jalan-jalan terlebih dahulu dan menonton bioskop, malang bagi gue dan donny, yang awalnya bersemangat karena akan di traktir makan siang, tapi akhirnya jadi ‘Kambing Conge’, karena mereka semua asyik dengan pasangannya masing masing.
Haripun semakin sore dan kita memutuskan untuk pulang ke rumah masing masing, gue pulang menggunakan sepeda motor milik yohanes yang baru dia jual dengan harga murah. Ya walaupun motor bekas setidaknya motor itu hasil dari keringat gue selama bekerja paruh waktu di kantor milik dia.
Saat masuk kedalam flat. di tengah ruangan gue melihat mila yang sedang menangis tersendu sendu, sangat kasihan sekali melihat dia akhir akhir ini. Seperti banyak beban yang sedang bertumpu di pundaknya sampai sampai dia harus menderita seperti ini.
“hey… kenapa?” ucap gue sambil duduk disampingnya.
“hiks… hikss… hiks…” mila masih menangis.
“hey.. mbak kenapa? Ada yang bisa aku bantu?” ucap gue kembali bertanya.
“panggil aku seperti dulu saja” ucap dia masih menangis.
gue pun mengangguk sambil tersenyum “iya.., mila kenapa?”
“anton..anton.. dia.. dia…” mila masih nangis sesenggukan.
“sebentar…” ucap gue beranjak kedapur untuk mengambilkan segelas air minum, “ini diminum dulu biar kamunya agak tenangan” ucap gue sekembalinya dari dapur.
setelah meneguk air yang gue kasih, dan dia sudah mulai tenang, mila pun akhirnya mulai mau bercerita “aku mergokin anton jalan sama cewek lain” ucap mila pelan.
“hey sini sini…” ucap gue merangkul dia, “kamu yang sabar ya, kamu udah tanyain ke antonnya langsung kenapa dia bisa kayak gitu?”
“dia katanya masih sayang sama mantannya dan baru balikan lagi, pas aku tanya terus gimana hubungan kita kedepannya?, dia langsung putusin aku tanpa pikir panjang dulu” ucap dia kembali menangis.
“aku heran! Kenapa dia bisa bisanya kayak gitu? Padahal aku udah mulai coba serius sama dia, udah bisa nerima dia apa adanya, tapi respon dia kayak gitu, aku kesel… kesel kesel kesel….” Ucap dia sambil memukul mukul dada gue.
“cuppp cupp cupppp sabar ya…” ucap gue mencoba menenangkan dia.
“aku tuh kesel! Tiap ada laki laki yang deket sama aku pasti brengs3k semua gak ada yang bener bener sayang! Gak ada yang ngertiin aku! Gak ada yang mau bahagiain aku! Gak ada yang mau serius sama aku! Aku keseellll….. kesel… kesel kesel kesel….” Ucap dia kembali memukuli dada gue.
“kamu mau aku apain dia?” ucap gue sedikit emosi dengan perlakuan anton.
“…..” dia tidak menjawab ucapan gue, yang dia lakukan hanya membenamkan wajahnya di bahu sebelah kiri badan gue “gak perlu… aku cuma pengen kamu ada disini… jangan tinggalin aku lagi… jangan paksa aku buat pilih orang lain lagi..” ucap dia sambil mengecup bahu sebelah kiri gue.
“iya.. aku ada disini…aku gak bakal kemana mana lagi..” ucap gue memeluk dia.
“heem… gak boleh jauh jauh! Gak boleh cuekin aku! Gak boleh tinggalin aku lama lama! Gak boleh pokoknya gak boleh gak boleh gak boleh” ucap dia dengan manjanya sambil mencengkram bahu ini.
Senang sekali rasanya melihat dia seperti ini, melihat dia kembali bermanja manja seperti ini membuat gue teringat dengan kejadian malam hari dulu, ahh mungkin jika di ingat ingat kejadian dululah terakhir kali dia bermanja manja seperti ini. Dengan tekad yang sudah bulat gue tidak akan meninggalkan dia lagi untuk kedua kalinya.
“hey… kita keliling keliling bandung yukk” ucap gue mencoba membuat dia tersenyum kembali.
“gak mau! Di mobil gak bisa melukin kamu kayak gini” ucap mila dengan posisi masih memeluk gue.
“ya.. gak usah naik mobil”
“Gak mau! Aku gak mau diajakin jalan pake motor temen mu!” ucap mila masih menolak.
“ayoo liat dulu deh…” ucap gue sambil berdiri.
mila hanya diam duduk tanpa menjawab, “jadi gak mau nih?” ucap gue kembali bertanya.
dia yang masih diam lalu menjulurkan kedua tangannya ke atas “gendoooonnggg” ucap dia dengan manjanya.
“Dasar manja” ucap gue berjongkok dihadapan dia.
mila langsung membetet hidung gue dengan manjanya berucap “biarin.. dah lama juga gak manja manjaan sama kamu”
“ihhh baru pututs udah manja manjaan sama cowok lain” bales gue sambil membetet hidungnya.
“biarin! Aku gak pernah sayang sama dia! Sayangnya Cuma sama kamu weekkkk” ucap dia menjulurkan lidahnya tepat di hadapan gue.
gue yang sudah gemas dengan anak ini langsung bergerak dan membopong dia “Awww mas…” ucap mila.
Gue tidak menjawab keluhan yang keluar dari bibirnya. Dengan manjanya kepalanya dimasuka kedalam dada. Senyumnya semakin melebar walau kedua matanya masih terlihat merah dan membengkak saat gue melirik ke arah bawah. Langkah ini sengaja di buat lambat agar badan ini bisa lebih lama menggendongnya.
“cantik…sudah sampe…” ucap gue berhenti didepan sebuah motor.
tidak ada jawaban yang keluar, hanya senyuman yang dia berikan ke arah gue “mau dibonceng didepan?” ucap gue.
“mmmmmm” ucap dia tidak jelas karna berbicara di dada gue.
tanpa menunggu jawaban dari dia dengan mencoba meposisikan tubuh dia didepan dengan cara memangku “ihhhh beneran di depan, entar aku jatuh lagi” ucap mila tiba tiba dengan melompat, membuat sedikit keseimbangan motor ini miring dan hampir jatuh.
“Di belakang aja, biar bisa meluk kamu” ucap dia langsung duduk di jok belakang.
“pegangan” ucap gue menarik kedua tangannya.
“mas.. bentar…” ucap dia dengan pipi direbahkan di punggung dan memeluk dengan sangat erat.
“kenapa?”
“ini motor siapa?”
“motor ku, maaf ya kalo jelek.. uang hasil kerjaku selama beberapa bulan ini cuma bisa kebeli motor bekas” ucap gue dengan suara pelan.
“mas…”
“hmmmmm”
“ayookkk jalan…” ucap dia dengan manja sambil memeluk erat gue.
Entah bagaimana mengungkapkan perasaan gue malam ini, membonceng wanita yang dari dulu sangat sangat gue cintai. Motor ini berjalan dengan kecepatan pelan. Tangan kiri ini memegang kedua tangannya yang memeluk badan gue. Perjalanan sangat indah malam ini walau tak ada tujuan akan pergi kemana hingga akhirnya memasuki daerah kota yang penuh keramaian malam, melewati keramaian di sebuah warung pinggiran yang berjajar.
“mas… aku seneng banget…” ucap dia.
“hmmmm aku juga” ucap gue dengan tangan kiri masih memegangi kedua tangannya.
“jangan pulang, jalan terus sampe aku bobok” ucap dia dengan manjanya.
“iya, pegangan yang kenceng” ucap gue yang dibalas denga pelukan semakin kencang oleh kedua tangannya.
Entah kenapa pelukan dari mila selalu membuat gue merasa nyaman, pelukan dari dia berbeda dengan pelukan pelukan wanita lain. Dikecupnya bahu kanan gue dengan lembut oleh dia, ada rasa mengganjal sebenarnya di hati ini. Bagaimana mood dia bisa langsung berubah? Bagaimana dengan Anton? Masa bodoh lah! Seandainya nanti dia bersama gue pun belum tentu dia bisa menerima perubahan yang telah terjadi pada gue selama ini.
Belum hilang semua pertanyaan pertanyaan dikepala gue. Tiba tiba pelukan kedua tangannya menjadi mengendur, tubuhnya mulai terasa sedikit melemas dan mulai terdorong kebelakang, mungkin dia tertidur. Gue menghintikan laju motor kesamping jalan untuk memastikan apakah dia sudah tertidur atau belum.
“ahhhh dia bener bener tidur” ucap gue didalam hati.
Gue jalankan motor ini dengan kecepatan sangat pelan, tangan kiri gue posisikan memegang kedua tangan dia yang memeluk dari belakang untuk berjaga jaga takutnya dia terjengkang jatuh kebelakang.
“mas.. aku seneng banget malem ini…” ucapnya lembut dengan kedua tangannya kembali memeluk dengan sangat erat.
“dasar tua tua manja..” ucap gue pelan yang ternyata didengar oleh mila dan memukul punggung gue.
Selama perjalanan dia hanya diam tertidur dibelakang yang membuat gue sedikit khawatir kalau dia akan terjatuh. Semakin gue merasa khawatir semakin gue pegang kedua tangannya oleh tangan kiri dengan erat. Perjalanan pulang memang cukup jauh, kita yang waktu itu sedang di cimahi masih sangat jauh untuk pulang sampai ke flat kita, namun perasaan nyaman berdua bersama dia membuat badan ini tidak terasa lelah sama sekali.
“heyy bangun udah nyampe” ucap gue mencoba membangunkan dia.
“lemes masss” ucap dia dengan manjanya.
“iya bangun dulu bobonya diatas aja” ucap gue.
“gendongggg” ucap dia masih duduk di jok motor.
“nggghhhhh” ucap gue dengan suara tertahan saat menggendong tubuh dia.
“kenapa mass?” ucap dia sambil menutup matanya.
“beratthhhh” ucap gue.
“ihhhh aku endut gitu maksudnya?” ucap dia dengan manjanya.
“enduuuttt endduuttt banget sekarang” ucap gue menggoda dia.
“ihhh mas mah” ucap dia memukul dada gue.
“mas mau ngomong…” ucap gue yang saat itu menggendong dia baru sampai lantai dua.
“iya tau… mas mau ngomong mas sayang sama aku… nanti aku jawab iya aku juga sayang mas…” ucap dia sekenanya.
“geer banget sih…” ucap gue mencoba mengcontrol diri walaupun memang benar itu yang akan gue katakan.
“terus apa?”
“kamu jangan banyak makan… berathhh tau” ucap gue yang sudah sampai di pintu depan dan menurunkannya.
“owhh gitu? Ya udah!” ucap dia dengan juteknya.
saat dia membuka pintu dengan kuci miliknya saat itu juga gue peluk dia dari belakang “miel.. aku sayang sama kamu.., ini ucapan ku yang terakhir.. kalo kamu jawab aku terlalu muda gak bakal lagi aku nembak kamu....” ucap gue membalikan badannya sehingga kita berhadap hadapan.
“tapi… semua butuh waktu…” jawab dia sambil menundukan kepalanya.
“bukan itu jawaban yang aku mau, kalo iya mulai besok kita pacaran, kalo enggak aku gak bakalan gangguin kamu lagi, entah kenapa kalo terus terusan kayak gini aku ngerasa dimain sama kamu kalo gini caranya” ucap gue memandang dia serius.
“masss jangan melotot gitu matanya… takut.,..” ucap mila.
“Ya apa enggak?” ucap gue sedikit serius.
“mas.. semua butuh waktu…” ucap dia dengan tatapan binar.
“aku anggap itu jawaban enggak” ucap gue meninggalkan mila.
Butuh waktu? Entah apa maksud dia, apa hanya ingin mempermainkan gue atau sekedar mencari hiburan saat dia sedih entahlah. Yang jelas gue sudah mencoba kembali menyatakan cinta ini pada dia, walau memang momennya sangat tidak mendukung karna beberapa jam lalu dia baru putus dengan pacarnya dengan alasan yang menurut gue sedikit tidak masuk akal, lalu tiba tiba ada seorang cowok yang menyatakan cintanya begitu saja. Memang benar apa kata dia semua butuh waktu. Tapi apa tidak cukup selama 2 tahun lebih ini kita saling mengenal?
oktavp dan 4 lainnya memberi reputasi
5
