- Beranda
- Stories from the Heart
[Completed] Hey Fanny
...
TS
monica.ocha
[Completed] Hey Fanny
Quote:
![[Completed] Hey Fanny](https://s.kaskus.id/images/2016/03/05/8417038_20160305062914.jpg)
Quote:
![[Completed] Hey Fanny](https://s.kaskus.id/images/2016/01/25/8417038_20160125102311.png)
Mohon kebijakannya karena cerita ini mengandung bahasa dan adegan yang tidak patut ditiru.
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh monica.ocha 05-03-2016 06:30
efti108 dan 25 lainnya memberi reputasi
22
172.4K
520
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
monica.ocha
#450
PAGE 32
Sudah beberapa hari ini suasana di rumah menjadi agak sepi. Tiwi tidak lagi berkunjung seperti biasanya, dia sekrang lebih sering menghabiskan waktu bersama Maman. Aku masih belum tahu bagaimana dia bisa mendapatkan kontak Maman. Aku hanya menganggap Tiwi bergurau semata saat dia menyebutkan kalau dia tertarik kepada Maman, ternyata aku salah. Tiwi juga tidak bosan-bosan untuk terus menangkut topiknya dengan pria bernama asli Arif Rahman itu disaat kami sedang mengobrol santai.
Aku lebih sering menghabiskan waktu di dalam kamar sendirian, menatap ke arah langit-langit menghayalkan masa depan. Semenjak bertengkar dan akhirnya putus dengan Raya, Dika sekarang lebih suka sendirian di kostnya. Aku sempat menghawatirkan keadaan Dika tapi dia terus mengatakan jika dia baik-baik saja dan butuh waktu untuk sendiri. Mungkin kesendirian adalah saat yang tepat untuk berpikir dengan jernih. Entah kenapa dengan tiba-tiba aku terpikir dengan Fanny. Seolah aku melihatnya tersenyum, tertawa sambil menarik tanganku. Setiap kali aku terpikir olehnya, jantungku berdetak sangat kencang, seolah ada mesin diesel yang bergerak di dalam dan nafasku menjadi melaju.
Kudengar suara mobil berhenti di depan rumah. Dengan segera aku bangkit dan mengintip sedikit ke arah jendela dengan curiga. Tiwi baru saja diantarkan oleh Maman, entah dari mana mereka. Entah bagaimana aku bisa sangat kesal melihat hal sepele itu dan kenapa Tiwi minta diantarkan ke sini disaat hari sudah hampir tengah malam. Perasaan jengkel membuat pikiranku semakin kacau, rasanya aku ingin marah saja kepada Tiwi.
Suara sepatunya yang sedang menaiki tangga bisa terdengar jelas dari dalam kamar. Dengan segera aku mencoba untuk pura-pura tertidur. Suara pintu yang terbuka membuat aku membalikkan badanku ke arah berlawanan, membuat Tiwi sama sekali tidak bisa melihat wajahku. Lalu suara pintu tertutup sangat pelan, dia pasti sadar kalau aku sedang tertidur dengan pulas. Aku merasakan getaran kecil, Tiwi duduk di pinggiran tempat tidur.
"Letih banget..." Dia berkata seolah aku mendengarkannya, meski dia tahu aku sedang tertidur
Beberapa getaran kembali terjadi di atas tempat tidur. Tiwi bukannya hendak bergegas untuk pergi, dia malah menaikkan kedua kakinya keatas dan bersandar.
"Lo kok tidur sih? Gak ada yang temenin gw dong, padahal gw mau curhat"
Kurasakan jari-jari kecilnya bermain di lenganku.
"Dia orangnya baik lho, Rob" Dia berhenti sejenak dan menghembukan nafasnya "Yahh.. gw senang banget sama dia" Lanjutnya
Kali ini mataku terbuka. Tiwi yang sedang berada di belakangku pasti tidak bisa melihatku.
"Dan lo mau tau kabar baiknya apa?" Ucap Tiwi dengan nada yang membuat aku penasaran "Dia nembak aku.... Yee... dan sekarang kamu gak boleh ngejek aku jones lagi, sekarang aku udah punya pacar"
Dengan sekejap rasanya aku kehilangan semua partikel-partikel yang berada di dalam tubuhku, rasanya sungguh hampa tak bersuara. Meski dia hanya sahabatku, hal itu tetap terdengar sangat menyakitkan. Dengan perlahan aku bisa merasakan hembusan kecil nafasnya di dekat telingaku
"Tapi gak akan pernah ada yang bisa ngegantiin lo sebagai sahabat gw" Ucapnya lalu mencium lembut pipi sebelah kiriku "gw sayang sama lo"
Mendengar itu keluar dari mulut Tiwi membuat aku agak sedikit membaik, meskipun sakitnya masih terasa. Malam itu aku hanya bisa merenungi nasib sampai akhirnya aku tak sadarkan diri hingga tertidur.
***
Kedua tanganku menutupi seluruh wajahku. Kedua kaki aku tekukkan di depan dada. Aku baru saja bertemu ibu. Dia tersenyum dengan lambaian kecilnya. Kapal kecil itu akhirnya menepi dan berlabuh di tempat aku berdiri. Ibu dengan senyumannya perlahan turun dari kapal dengan wajah yang sedih, lalu menghampiriku.
"Rob, ada apa? kenapa?" Suaranya terdengar pelan
"Semuanya hilang.. semuanya" Aku terisak menangis di hadapan ibu
"Maksud kamu?" Perlahan telapak tangannya yang lembut membasuk pelan pipiku
"Pertama kak Monic, terus mama, terus ayah, Fanny dan akhirnya Tiwi" ucapku dengan isak tangis "Aku hampa, ma... aku sendiri"
Ibu hanya tersenyum, telapak tangannya masih bermain di pipiku "Robby, semua yang pergi bisa kembali"
"Kalau gitu aku ingin mama kembali"
Ibu masih tersenyum "Mama enggak pergi, mama masih ada sama kamu. Jika sesuatu pergi, coba kejar dan ambil. Bagaimana kamu bisa mendapatkan sesuatu itu kembali jika kamu sendiri tidak percaya. Coba percaya dengan diri kamu sendiri, lalu semuanya akan berjalan dengan baik"
Perlahan ibu seperti tertarik ke atas bersama kapal yang baru berlabuh dan semua penumpang yang baru turun. Cahaya putih itu menyilaukan mataku sampai kedua tanganku harus menutupi silaunya. Cahaya itu tidak tegak lurus ke atas, melainkan mereng ke samping .
"Jika semuanya tidak berjalan dengan apa yang kamu harapkan, jangan lampiaskan ke orang terdekatmu" Ucap ibu
Mimpi yang aneh itu sudah membuat aku terbangun pada pukul 5 pagi. Tiwi dengan santainya masih tertidur pulas di sebelahku. Aku masih belum berani untuk bergerak. Bukan karena Tiwi yang sedang berada di sampingku, tapi karena mimpi itu. Kulihat Tiwi sedikit agak kedinginan, kedua kaki dan tangannya menekuk. Selimut yang harusnya bisa untuk menyelimuti dua orang itu hanya tergulung padaku. Tiwi mungkin tidak mau mengambil sedikit bagian dari selimut, takut selimut itu tidak cukup besar untuk berdua dan akhirnya aku harus meresap kedinginan. Ku selimuti Tiwi yang kedinginan dan mencium pelan pipinya.
< TO THE PREVIOUS PAGE

Diubah oleh monica.ocha 29-02-2016 06:35
g.gowang. dan 3 lainnya memberi reputasi
4