Kaskus

Story

galonze.b.c.n.bAvatar border
TS
galonze.b.c.n.b
1 Flat! 2 Wanita! 2 Cerita!
 1 Flat! 2 Wanita! 2 Cerita!

1 Flat2 Wanita 2 Cerita

 1 Flat! 2 Wanita! 2 Cerita!



Quote:


Spoiler for Rules:


Spoiler for F.A.Q:


Quote:
Diubah oleh galonze.b.c.n.b 11-06-2016 21:40
jabo218Avatar border
njek.lehAvatar border
sormin180Avatar border
sormin180 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
1.1M
3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
galonze.b.c.n.bAvatar border
TS
galonze.b.c.n.b
#1625
Part 66 I’m Gentleman!
Quote:


(lahh? Kenapa ni anak pagi pagi ngirim sms kayak gini? Pake nyebut nyebut gue arogan lagi!)

Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Dengan berbagai alasan gue coba berikan kepada mila, hingga pesan terakhir itu tidak mendapatkan balasan dari dia lagi. Gue kemudian duduk disebuah bangku taman yang kosong karna jam sudah menunjuka pukul 09.20. Kadang kadang berfikir walau sudah tidak mau peduli pada mila lagi, tapi tetap saja ada rasa senang setiap kali dia telfon atau menyapa.

Quote:


Hanya itulah pesan yang dikirim oleh mila, not gentle? Childish? Masa bodoh dengan semua yang dia ucapkan.

“woy! Bengong mulu lu!” ucap norman dari belakang arah gue.

“oy, tumben sendiri aja anak anak mana?”

“gak tau nih…udah pada pulang paling, udah malem juga”

saat sedang mengobrol berdua ditaman, tiba tiba HP norman berbunyi pertanda telfon masuk.

“Tumben si agnas telfon” ucap norman sambil melihat kearah handphonenya.

“Kangen kali sama lu, ahahaha”

“ASU!”

“iya hallooo nas..” ucap norman.

“APA? DIMANA?” norman berdiri dari duduknya dan berbicara cukup keras, membuat gue sedikit kaget.

“DI CAFÉ? OKE AKU KESANA SAMA RANGGA!” lanjut norman dengan bentakan yang lebih keras.

“Ada apa man?” ucap gue ikut berdiri.

“itu ada gerombolan cowok yang lagi mukulin orang” ucap norman sambil berjalan.

“Siapa?”

“entah tadi kata si agnas, namanya..... Si geny, denny, gorry ahhh pokoknya itulah…” ucap norman.
“terus apa urusannya sama si agnas?” ucap gue masih bingung.

“udah sekarang kita ke café xxx” ucap norman.

“man…” ucap gue berhenti berjalan.

“apa? Kenapa?”
“itu kan cafenya mila?”
“gak penting itu cafenya siapa…” ucap norman.

“gak ikut ah gue, males”ucap gue kembali duduk.

Bugh! Pukulan ringan mendarat di wajah gue “gue gak ngerti masalah lu sama dia, entah pernah nyakitin lu! pernah mau bunuh lu gue gak peduli! Tapi ini Rio! Dia ada didalem sana ikut dipukulin! Dasar bodoh!” bentak norman.

ahhh rio.. ia dia sahabat gue “ayo cepet man! Pake motor aja biar cepet!” ucap gue ke dia.

Dalam perjalanan norman menelpon anak anak lain untuk segera menuju ke café yang sudah duberitahukan. Gue tarik gas secepatnya tanpa memperdulikan peraturan dijalan. Lampu merahpun gue tabrak tanpa memperdulikan tilang polisi hingga sampai lah di depan café milik mila.
Di depan sana, dari kejauhan gue melihat seseorang sedang di injak injak di depan pintu café, lelaki itu… anton! Iya itu anton!. Dan gue melihat seorang wanita sedang mencoba mencegah kerumunan orang yang sedang menginjak nginjak anton, iya perempuan itu adalah mila. Melihat kejadian itu norman gue suruh turun di pinggir jalan dan sesegara mungkin tanpa berfikir panjang gue gas motor yang sedang dinaiki ini dan gue tabrakan motor ini ke salah satu dari mereka hingga ada yang terjatuh dan mereka serentak mundur kebelakang.

“Woy baik! Kalo berani satu lawan satu! Jangan main keroyokan!” bentak gue sambil mengangkat tubuh anton dan memapahnya untuk mundur.

“Makasih rangga” ucap mila sambil menangis.

“wihhh datang juga nih si cupu” ucap laki laki yang berjalan kearah gue. Di sekitar café ini terlihat agak sepi jadi jarang ada orang lewat dan pengunjung.

saat gue membalikan kearah suara itu… ah gue kenal dengan wajah ini. Wajah ini yang melabrak gue saat waktu pertama kali jalan bareng mila. Entah apa urusan dia dengan anton ini, tapi yang jelas gue memang tidak suka dengan sikap dia yang kasar dan sekarang dia sedang main keroyokan memukuli anton.

“Gerry!” ucap gue.

“masih inget juga lu! Mau jadi jagoan dateng kesini Cuma berdua?” ucap gerry, terlihat saat gue itung ternyata dia membawa 7 orang temannya.

“kuat gak nih kita?” ucap norman berbisik.

“gue masih belum mau mati disini! Lu suruh mila telfon polisi!” ucap gue memerintah.

“udah! Tadi gue yang telfon, tunggu sekitar 15 menit” ucap norman.

“lima belas menit sambil di pukulin sama 8 orang? Wassalam…” ucap gue dengan lemas.

“berisik njing! Udah benrantem aje sekarang! Urusan mati belakangan!” ucap norman.

Salah satu dari mereka mulai maju dan memukul dengan tangan kanannya dapat gue hindari, saat menghindar segera gue pukul perutnya dan gue tendang kebelakang. Tib tiba dari arah belakang ada orang lain yang menendang punggung gue, hampir saja jatuh tersungkur tapi gue segera berbalik dan bugh! Seseorang menendang dari arah kiri. Gue pun jatuh dan mencoba kembali berdiri dan memukuli mereka berempat.

Norman terlihat mulai kewalahan dengan pukulan dari segala arah, gue melihat pelipis kirinya sudah berdarah, darah bercucuran di wajak dia karna di tendang tendang oleh empat orang. Gue yang sudah tidak fokus karna melihat norman sedang dipukuli dengan tiba tiba dari belakagn mila berteriak.

“Rangga! Awas…” ucap mila. Saat gue menoleh dan…

Pyaarrrrrr…….

“RANGGGAAAAAAA” teriak mila. “TOLONGGGG TOLONG” ucap mila tetapi tidak ada orang karna sudah malam.

Sebuah pukulan botol menghantap bagian pundak gue, terasa sangat perih dan ngilu pundak ini. Gue jatuh ketanah dan merangkak, begitupula dengan norman yang hanya pasrah dipukuli sambil memegang kepalanya. Diangkatnya tubuh gue dan dilemparnya disamping norman hingga kita tersungkur bersebelahan, gerry membawa sebuah botol yang pecah dan mendatangi kita berdua.

“masih mau sok jagoan?” ucap dia.

“ini yang namanya hidup bro! yang kuat yang berkuasa!” teriak gerry pada kita berdua.

“sudah! Tolong berhenti berhennnttttttttttttttttttiiiiiiii” teriak mila.

“diem lu! Nanti urusan lu ama gue di ranjang!” ucap gerry.

“Hei! Gue laporin lu ke polisi!” ucap anton.

“iya, tapi mana polisi? Sampe sekarang mereka belum dateng dateng” ucap salah satu dari mereka.

“sebelum polisi dateng! lu udah pada bonyok dan Kita udah kabur duluan” ucap salah satu dari mereka juga.

Dengan tubuh yang sudah tidak berdaya dan kepala ini serasa sangat sakit dan pening. Hanya injakan injakan dari mereka yang gue rasakan. Bahkan beberapa dari mereka masih memukuli anton dan menendang nendangnya. Dengan sekuat tenaga gue mencoba berdiri dan buggghhhh ditendangnya kembali perut ini hingga kembali tersungkur.

“Mati lu!” ucap salah satu dari mereka dengan mengangkat sebuah botol.

“jangan! RANGGGGAAAA” teriak mila.

Bugh! Tiba tiba gue melihat rio memukul dari belakang dengan badan yang sudah lemas, dari mana saja anak ini? Tapi dari wajahnya terlihat dia sudah dipukuli terlebih dahulu. Anton pun kembali bangkit dan membantu norman yang sedang dipukuli, tapi belum sempat dia memukul dengan dengan tiba tiba kembali dia jatuh tersungkur dan dipukuli oleh 4 orang. Ah… 15 menit ini serasa 15 jam.. lama sekali…

“Woy setan! Jangan keroyokan!” ucap salah seorang sambil berlari kearah gue.

Entah apa lagi yang terjadi tapi gue melihat ada empat orang yang datang menghampiri sambil membawa stick baseball dan kayu balok. Gue melihat kearah suara itu ternyata mereka itu asu-asu setang-setan celeng-celeng yang lama sekali datangnya. 4 pentil orang bodoh yang sedang mencoba menolong kita sambil membawa kayu dan stick baseball.

Perkelahiaan pun tak dapat dihindari lagi, memang sekarang sedikit berimbang terlihat satu orang melayani dua orang, tapi jika mereka tidak membawa alat bantu untuk berkelahi. Mungkin nasibnya akan sama seperti kita bertiga.

“SETAN! Lama banget sih lu” ucap norman masih tergeletak lemas.

“hehehe tambah ganteng kali wajah kau pake bedak merah itu” ucap yohanes dengan badannya yang besar sedang memukuli mereka semua.

“mulutmu itu loh njing!” ucap gue kesal.

Frans kemudian melempar sebuah botol air mineral satu liter kepada kami bertiga, dengan cepat kita langsung meminumnya dan menyiramkan ke kepala kita masing masing.

“yaelah malah dipake adus! Cepet bantuin ini masih rusuh nih!” ucap frans.

“iya sabar dong!” ucap gue sambil berdiri dan kembali ikut berkelahi.

Mengetahui mereka sedang kewalahan, mila langsung berdiri dan menarik anton dan memeluk dia dengan sangat erat, sebuah pemandangan yang sangat romantis tapi menyayat hati ini. Mila nampak menangis sejadi jadinya sambil memeluk erat anton yang sedang tak sadarkan diri, dengan tenaga yang tersisa dia mencoba menarik anton untuk menjauh dari kerumunan kita dan duduk di dinding bangunan.

“gong! Bawa rokok?” ucap norman sambil berkelahi, emang edan orang ini! Lagi berntem masih inget aja sama rokok!

“ada coy..” yohanes langsung menghampiri norman dan memasang sebatang rokok dibibirnya.

“mukalu makin ganteng yo kalo diliat liat! liat si agnas keliatan seneng banget sampe nangis kejeng kejeng gitu!” ucap doni sambil berkelahi memukuli orang yang tergeletak dihadapannya.

“MATAMU NJING!” ucap rio melotot.

“hashhh hashhh hashhh…. Bro stel musik dong! Biar lebih heroik!” ucap frans sambil ngos ngosan.

“bentar!” ucap doni mengeluarkan smartphone miliknya dan memainkan lagu Linkin Park dengan sangat keras.

“ASU KABEH! LAGI GELUT KITA! MALAH SETEL MUSIK! MALAH NGEROKOK! KELAKUAN LU NJING!” ucap gue kesal.

Perkelahian pun masih saja berlanjut, entah sudah berapa lama kami memukuli mereka yang jelas saat ini posisi kita berimbang sama sama kuat. Dari kejauhan terdengar suara sirine mobil polisi.

Wiu… wiu…. Wiu… wiu… wiu…
“woy! Polisi coy!” ucap doni.
“udah, kali cepet sembunyi didalem, sisanya biar aku yang urus” ucap mila, kita pun akhirnya bersembunyi di dalam ruangan pribadi milik mila.

saat sesampainya di dalam ruangan mila, kita hanya duduk pasrah menunggu apa yang sedang terjadi, seluruh badan gue terasa panas dan sangat sakit sekali.

“hey ngapain lu gong?!” ucap frans.

“bentar! Aku telfon dulu tanteku… biar ada yang ngobatin luka kita” ucap yohanes.

“JANGAN!” ucap norman dan gue berteriak.

“kenapa?” tanya frans.

“Pokokya jangan jangan! Jangan suruh tante dewi kesini!” ucap norman yang dihiraukan oleh yohanes.

jelas gue dan norman sangat ketakutan dengan tante dewi ini, memang dia tidak jago berantem. tapi jika kita sudah berkelahi dan diobati oleh dia. bayarannya adalah.... mengepel/membersihkan rumah sakit tempat dia bekerja. Sekitar setengah jam kita bersembunyi didalam, entah apa saja yang sedang mereka bicarakan diluar yang jelas gue pingin cepat cepat pulang dan intirahat dirumah. Kepala ini serasa sakit sekali….

“Yohhhhhhhhhhhhhh!” ucap seseorang wanita berteriak dari luar ruangan.

“Mampos!” ucap norman.

“Dasar anak anak bandel! Udah dibilang jangan berkelahi masih saja” ucap perempuan tersebut sambil menjewer kuping yohanes.

“Kamu juga sama aja! Kalian juga!” ucap nya lagi menjewer kita satu persatu.

“Ammpuuunn tante… ammmm…. Punnnnn” ucap kita semua.

“sayang… hiks hiks hiks” teriak agnas tiba tiba, yang dibelakangnya di ikutin oleh pacar mereka masing masing. Gue yang melihat mereka semua mendapat perhatian dari wanitanya masing masing menjadi sedikit iri dibuatnya.

“udah dibilangin juga jangan sering sering berantem masih saja! Kamu itu… ihhhhhhhh” ucap salah satu wanita kepada doni sambil menangis.

“lihat sendiri kan aku gak apa apa kok?” ucap doni santai. sialan si gendut ini! Jelas gak apa apa wong dia berantem pake stick baseball.

“gak apa apa gimana! Tuh liat bibir kamu berdarah sayang…” ucap dia lagi sambil memeluk doni.

“iyaaa adu duh duh… pelan pelan masih sakit badan ku sayang” ucap doni.

“Frans gak apa apa? Itu mukanya lebam gitu sini nadia bersihin” ucap nadia.

“gak apa apa nad hehehe” jawab dia cengengesan.

“kalian kayaknya cuma luka ringan! Bentar tante obati mereka berdua dulu” ucap tante dewi menghampiri gue,norman dan rio yang terlihat sangat parah.

“iya iya, yoh gak apa apa, obatin aja mereka yang sok jago” ucap yohanes. Gue hanya melihat mereka malah bermesraan dengan pacarnya masing masing, sialan! Asu kabeh! Coba bayangin gimana perasaan kalian kalo lagi sakit terus gak punya pacar dan didepan malah ngeliat orang yang lagi pacaran?

“kamu gak apa apa rangga?” ucap mila tiba tiba duduk disamping gue.

“gak apa apa” jawab gue. Kemudian mila mengambil kapas yang dibasahi oleh alkohol, ketika tangannya mencoba menyentuh kening yang terluka, dengan refleks gue langsung memundurkan kepala menjauh dari tangannya.

“Rangga, sini biar aku obatin” ucap mila.

“gak usah, biar nanti tante dewi saja, gak usah repot repot” ucap gue mencoba tersenyum kearahnya.wajahnya nampak menunjukan raut wajah kecewa dengan sikap gue ini, kaca kaca dimatanya bertambah tebal sudah tak bisa dibendung lagi.

“dah selese! Nah sekarang giliran si bandel ini!” ucap tante dewi berjalan menghampiri gue.

“iya anak itu emang bandel tan” ucap norman menimpal.

“kamu juga sama saja! Kalian juga! Bandel semua” ucap tante dewi membuat mereka semua bersembunyi dibalik tubuh pacarnya masing masing.

“iya tante tapi jangan di…” belum selesai norman berbicara tetapi sudah dipotong oleh tante dewi.

“Harus dihukum kalian semua!” bentak tante dewi.

“jangan dong tante… kasihan…” ucap agnas sambil menangis dan diikuti pembelaan dari pacar mereka masing masing. Tante dewi hanya mendengus kesal dan berjalan kearah gue.

“nah, ini siapanya rangga? Kok daritadi nempel nempel terus?” ucap tante dewi.

“teman dekat rangga tante” ucap mila.

“Cuma temen biasa” ucap gue menimpal.

“ini yang bener yang mana? Temen deket apa temen biasa?” ucap tante dewi.

“Pacarnya tanteeeeeee” ucap norman dari arah belakang. Gue melihat mila hanya terdiam menunduk, wajahnya terlihat meneteskan airmata.

“ya udah! Mau teman biasa, teman dekat, ato pacarnya! Kamu bantu tante bersihin lukanya rangga” ucap tante dewi.

“ah… iya tante…” ucap mila dengan wajah yang sumringah. Diusapnya sedikit demi sedkit luka dikepala ini dengan perlahan dan hati hati.

“Adu du duh…” ucap gue merintih kesakitan.

“eh maaf maaf… sakit?” ucap mila nampak sedkit kaget saat gue mengaduh.

“pelan pelan saja” ucap gue.

“I,,,, i…. iya” ucap dia kembali tersenyum.

“sebentar,…” ucap tante dewi kemudian berjalan kearah pintu dan menelpon seseorang sambil memandang kami semua dan menggeleng gelengkan kepala. Sesaat kemudian dia kembali dan duduk disamping gue.

“sekarang kamu rebahan dulu” ucap tante.

“rebahan disini aja ngga” ucap mila menawarkan pahanya.

“gak usah, rebahan di tante saja” jawab gue langsung rebahan di paha tante dewi.

“dasar anak anak manja tukang berantem!” ucap tante kesal.

“aku pijit mau?” ucap mila.

“nggak usah, nggak apa apa kok” ucap gue menolak tawaran mila.

“kamu itu! Dapet perhatian lebih dari perempuan malah nolak!” ucap tante dewi.

“Tante jangan melotot gitu takut!” ucap agnas langsung terdiam memasukan kepalanya kedalam pelukan rio. Jelas saja daritadi tatapan mata tante dewi sangat tajam kearah kita semua.

Sejenak kemudian setelah kita semua selesai di obati, kita semua mulai saling melempar canda, gurau dan juga banyolan. Kami memang biasa tertawa dalam suasana apapun, sekalipun wajah sudah babak belur seperti ini. Setelah semua urusan selesai kitapun memutuskan untuk pulang, tampak mereka semua masih berpacaran layaknya suami istri.

“biar aku yang antar kamu pulang” ucap mila.

“sudah kamu ke RS aja jengukin anton” jawab gue datar.

“Pokoknya aku yang antar kamu!” ucap dia sedikit membentak dan memaksa. Semua orang yang ada didalam ruangan sontak terkejut dengan ucapan mila, tak terkecuali tante dewi. Dia tidak berkomentar apa apa hanya tatapan matanya menjadi sangat teduh diarahkan kearah mila.

“sudah ngga, motor biar si linggong yang bawa” ucap norman yang gue balas dengan anggukan.

Tante dewi kemudian pulang terlebih dahulu menggunakan mobilnya dan sebelum dia pulang dia menitipkan pesan bahwa minggu depan harus datang ke rumah sakit tempat dia bekerja, sudah pasti kita akan dia suruh menggantikan posisi OB nanti. Satu persatu dari kitapun akhirnya pulang kerumah masing masing. Gue kemudian membuka pintu belakang mobil milik mila dan memilih duduk dibelakang. Mila yang sudah duduk didepan menengok kearah belakang.

“Rangga, kamu duduk didepan saja, ndak apa apa kok” ucap mila.

“udah, aku duduk dibelakang saja” jawab gue. Nampak sedikit kekecewaan diraut wajahnya, kemudian mobil berjalan menuju ke flat. Selama perjalanan tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulut kami, gue pun hanya melihat keluar kaca jendela mobil.

“Rangga”
“hhmmm?”
“maaf…”
“udah, gak perlu minta maaf… kamu gak salah…”
“makasih ya…”
“oh iya aku pengen nanya, kok cafenya sepi? Kenapa rio bisa ada disana?” ucap gue mengalihkan pembicaraan.
“eh… anu.. itu…” ucap dia kebingungan.
“ya sudah gak usah dijawab… entar aja ceritanya kalo udah siap” ucap gue kedia.
“eh rangga…, aku pengen kita berdua..” ucap dia yang langsung gue potong.
“maaf, aku lagi pengen istirahat, aku pengen rehat sejenak kepalaku pusing banget soalnya” ucap gue mencoba menghindari percakapan dengan dia.
“iya.. maaf.. istirahat aja…” ucap mila.

Keheningan pun kembali datang diantara kami, kulihat pohon pohon disamping jalan berjalan mendur meninggalkan kami berdua. Sesekali gue melirik ke kaca tengah mobil, terlihat mila selalu menyempatkan menatap gue dan kadang pula tatapan kami bertemu di kaca itu. Dia melemparkan senyum ke arah gue namun hanya di tanggapi dengan dingin dan tanpa senyuman. Lelah sekali hari ini sampai membuat gue terkantuk kantuk, malam semakin gelap gue lihat jam didepan mobil menunjukan pukul 23:40.

Akhirnya sampai juga di parkiran Flat, didepan sana sudah duduk seorang wanita memakai tanktop dengan belahan dada rendah sehingga memperlihatkan belahan dadanya yang membusung dan Celana kream sedikit ketat menutupi hingga bawah lututnya, dia adalah intan.
Diubah oleh galonze.b.c.n.b 26-02-2016 20:27
piaupiaupiau
sormin180
oktavp
oktavp dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.