Part # 4
Quote:
Original Posted By Malam kedua yang kami mengalamai salah satu Misteri yang berada di gunung Ciremai
Akhirnya kami melihat di sebrang sungai ada tempat yang kurang lebih panjang dan lebarnya 3 x 2 meter yang berada persis sebelum air terjun yang tingginya puluhan meter sampai kebawahnya, kamipun tidak melihat dasar dari jatuhnya air aliran sungai yang tepat berada kira - kira 1,5 meter dari tempat kami mendirikan tenda.
Kami tidak bisa mendirikan tenda selayaknya karena keadaan tempat yang kami pilih ranting - ranting pohon di tempat itu seperti membuat atap dan akhirnya kami mendirikan tenda alakadarnya, yang penting kami terlindung dari dinginnya malam dan embun.
Pintu tenda kami pun menghadap ke jurang air terjun yang ada di depan kami jarak pintu tenda kami kejurang hanya terhalang batuan yang tidak besar dan pohon yang merambat di bibir tebing, jadi kami terhapit disebelah kiri kami aliran sungai didepan kami jurang sebelah kanan kami pepohonan yang cukup lebat.
Setelah tenda kami berdiri yang tidak jelas bentuknya kami pun mulai menyalahkan lampu badai yang kami bawa, satu kami taruh di bibir jurang tepat nya di depan tenda di atas batu yang membatasi jurang yang satu lagi kami taruh di depan pintu tenda digantung dengan beberapa ranting pohon.
Cahaya lampu yang kami nyalakan lumayan agak membantu untuk pandangan mata kami melihat sekitar depan tenda, terus terang kami sebenarnya sangat takut di tempat yang kami putuskan untuk bermalam, semua terpaksa harus memilih tempat ini karena kami sudah tidak mungkin lagi bisa melewati air terjun yang sangat tinggi dan keadaan hari pun sudah semakin gelap.
Rasa dingin malam pun mulai terasa dan rasa lapar kami pun semakin menjadi kami semua hanya bisa menahannya, karena tak ada lagi yang bisa kami lakukan pada saat itu selain berharap bisa keluar dari hutan ini.
Selama kami belum bisa memejamkan mata obrolan kami berempat hanya bisa memberi semagat satu dengan yang lainya,kata - kata yang sering keluar dari mulut kami "Kita pasti bisa pulang!".
Kami merasa semakin solid tidak ada lagi perdebatan yang pernah ada diantara kami dalam memutuskan sesuatu, kami semua merasa lebih saling menjaga satu dengan yang lainnya.Yang sangat kami khawatirkan pada saat itu kami kehilangan salah satu dari kami karena keadaan yang sangat keritis kami sudah dua hari satu malam lambung kami tidak terisi apa pun kecuali air dan pucuk - pucuk daun yang kami bisa makan.
Kamipun semua mulai berusaha memejamkan mata kami posisi kami di dalam tenda Naning berada persis di dekat mulut tenda, saya berada disebelah nya di lanjutkan Encam disebelah saya dan Peking ada di paling kanan dari kami.
Suasana disekitar kamipun sangat hening dan terdengar hanaya suara – suara alamai di hutan itu ,saya pun seperti orang yang setengah tidur mendengar suara burung yang hinggap di atas tenda kami mengeluarkan bunyai layak nya burung yang sedang hinggap di dahan pohon, di saat saya mulai tertidur tiba - tiba Naning yang berada di sebelah kiri saya berteriak sambil ia menangis.
ALLAHHU AKBAR....LAILAH HAILLAULOH........ASTAGFIRLLAH ALAZIM.....YA ALLAH..............!!!",
Terus - menerus Naning berteriak tidak berhenti saya pun langsung kaget dan panik, saya takut terjadi apa - apa dengan Naning. Encam dan Pekingpun masih tertidur seakan - akan mereka tidak mendengar teriakan dari Naning.
Saya langsung menyikut tulang iga Encam yang tepat berada di sebelah kanan saya lalu dengan rasa kesakitan sikutan saya Encam terbangun dan Peking pun terbangun, kami semua dengan rasa ketakutan dan panik pada saat itu melihat Naning berterik dengan rasa takut yang luar biasa sampai ia gemetar sambil menangis,kami bertanya kepadanya.
.."Kenapa lo Ning ada apa?.........
", terus kami bertanya dan Naning pun bergeser mendekati kami ia hanya menjawab”!
" YA ALLAH .....LAILLAULAH.......GW PINGIN MALAM INI KITA SEMUA JANGAN ADA YANG TIDUR KITA SEMUA BERDO'A SAMBIL NUNGGU PAGI, GW MOHON KITA SEMUA MALAM INI JANGAN ADA YANG TIDUR GW MINTA CUMA ITU !!!",
kami terus bertanya " Ia ada apa Ning?........",
Naning tetap menjawab seperti tadi ia tidak mau menceritakan apa yang telah terjadi dengannya, suasana pun semakin terasa tidak nyaman lampu yang kami taruh di bibir jurang pun mati dengan sendirinya. kami semua pun tidak kuat melihat Naning yang terus ketakutan dan tidak berhenti menangis kami bertiga pun tidak bisa menahan air mata, kami semua berdo'a memohaon kepada Allah semoga kami semua selalu di lindunginya.
Suasana pun semakain terharu saat Encam berdo'a secara sepontan mengeluarkan kata - kata yang sangat menyentuh dan mengungkap kan seluruh kepasrahan kepada Allah SWT, kata - kata yang keluar dari mulutnya yang saya masih sedikit ingat.
" Ya Allah memang kami mahluk yang sangat lemah yang penuh dengan dosa dan kami mahluk yang sangatlah kecil mungkin lebih kecil dari butiran debu tolong selamat kan kami dari hutan belantara ini keluarkan kami dari hutan belantara ini ya Allah kami memohon kepada mu karena engkau adalah maha pengasih maha penyayang, maha dari segala maha kami hanya bisa memohon kepada mu karena hanya engkau lah yang mampuh menyelamatkan kami semua, dari hutan belantara ini ?..".
Tak satu pun dari kami yang bisa memejamkan mata, suasana di dalam benar - benar kami rasakan sangat amat sangat mengharukan kami hanya bisa duduk berkumpul saling berdekatan dan benar -benar memasrahkan dan mengikhlaskan apapu yang akn terjadi kepada kami.