Kaskus

Story

monica.ochaAvatar border
TS
monica.ocha
[Completed] Hey Fanny
Quote:


[Completed] Hey Fanny


Quote:



[Completed] Hey Fanny

Mohon kebijakannya karena cerita ini mengandung bahasa dan adegan yang tidak patut ditiru.




Quote:


Quote:


Quote:

Diubah oleh monica.ocha 05-03-2016 06:30
kekesedAvatar border
g.gowang.Avatar border
efti108Avatar border
efti108 dan 25 lainnya memberi reputasi
22
172.8K
520
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.4KAnggota
Tampilkan semua post
monica.ochaAvatar border
TS
monica.ocha
#386

PAGE 27



Tiwi's POV

Aku bersiap untuk berangkat ke rumah Robby, sudah kurang lebih tiga-hari aku selalu menjenguk Robby yang sedang sedih berduka atas meniggal ibunya. Tidak ada yang menyangka Ibu Robby akan meninggal, aku masih ingat beberapa hari yang lalu aku masih sempat berbicara dengan beliau. Pendarahan bagian dalam tidak dapat tertolong karena ibu Robby terlalu lambat di larikan kerumah sakit. Beberapa tulang yang patah pada bagian badanpun membuat kemungkinan hidup beliau semakin kecil. Robby begitu kecewa dan sangat tertekan dan beberapa hari ini dia jarang berbicara kepadaku atau DIka, dia juga susah makan. Dia lebih banyak menghabiskan seluruh waktunya dikamar, mencoba membayang-bayangkan sosok ibunya. Terkadang aku khawatir dengan keadaan Robby saat aku sedang dirumah, aku ingin menelfon dan menanyakan keadaannya. Tapi beberapa hari yang lalu disaat Robby jatuh dari sepeda motor, HPnya hilang entah kemana.

Melihat Robby seperti ini membuat aku lebih mengerti apa arti seorang Ibu...

Pintu garasi masih tertutup rapat dan papan turut berduka cita masih berserakan di halaman rumah, hanya mobil Dika yang terparkir disana. Suasana rumah juga sepi karena dirumah ini hanya ada Bibik, Robby dan Dika. Tepat di hari Ibu Robby meninggal, Ayah Robby mendapatkan kenaikan pangkat di perusahaannya dan mengharuskan ayah Robby untuk berangkat ke Jerman. Ayah Robby yang biasa di panggil dengan sebutan Iben awalnya tidak ingin mengambil kesempatan emas itu, dia menghawatirkan keadaan Robby jika nanti ditinggalnya. Tapi Robby terus memaksa agar ayahnya mengambil kesempatan itu dan meyakinkan ayahnya jika dia akan baik-baik saja. Om Iben tentunya percaya dengan anaknya yang sudah besar. Satu hari kemudian Om Iben berangkat ke Jerman melalui Singapore bersama kak Monic. Tidak tahu dengan om Iben, tapi kak Monic akan pulang kembali ke indonesia dalam waktu tujuh-hari untuk berkunjung ke makan ibunya.

Dika terlihat sangat serius dengan duduk di depan TV, dia bahkan tidak sadar jika aku sudah masuk ke dalam. Aku berjalan dari belakang mendekati Dika dan menyentuh pelan bahu sebelah kanannya, dia tersentak terkejut.

"Robby mana?" Suaraku pelan seperti berbisik

"Atas" Balas Dika dengan suara yang pelan


Aku bergegas menuju lantai atas untuk melihat keadaan Robby, aku sungguh khawatir. Aku tidak mengajak Dika, tapi dia mengikutiku dari belakang. Saat aku menatap ke belakang dan melihatnya, dia hanya menyuruku melanjutkan langkahku dengan isyarat dari tangannya.

Ku buka dan aku intip Robby yang sedang berada di dalam kamar, ku buat suara gesekan pintu sekecil mungkin. Aku terkejut melihat apa yang sedang terjadi di dalam, aku tidak percaya. Kulihat Robby sedang duduk di lantai dengan bersandar di pinggiran kasur. Disekitar Robby terdapat beberapa botol minuman beralkohol berwarna hijau serta beberapa bungkus Rokok yang berwarna putih. Aku membuka pintu kamar dengan tergesa, Dika menarik kembali pintu dan menutup.

"Jangan" Tegas Dika dengan kepalanya tertunduk, jarinya menahan kaca mata yang tergantung hampir terlepas

"Loh kenapa?" Aku bertanya dengan bingung, sama sekali tidak mengerti apa yang Dika maksud

"Dia butuh waktu" Kepalanya masih tertunduk, dia tidak berani melihatku "Biarin dia sendiri" Sambungnya

"Lo udah gila ya, dik? Butuh sendiri tapi gak begitu caranya" Nada suaraku naik beberapa oktaf, dika terkejut dan menatapku

"Ya tapi 'kan..."

Aku langsung memotong "Awas gw mau masuk!" Aku menepis tangan Dika yang dengan erat menggenggam ganggang pintu


Dika tidak lagi berusaha untuk menahanku, dia tidak bisa lagi melawanku. Dia jelas tahu pasti jika apa yang Robby lakukan itu salah, tapi sebagai seorang teman dan sesama Pria, mungkin Dika beranggapan jika itu yang terbaik untuk Robby.

Perlahan aku masuk ke kamar Robby, langkahku sangat pelan dan kecil, aku tidak ingin membuat dia terkejut. Jujur, aku takut dengan keadaan Robby sekarang. Dengan minuman yang telah diminumnya, aku tidak yakin apakah dia masih sadar. Dika tidak lagi terlihat di depan pintu.

"Rob?" Dengan pelan aku coba duduk disebelahnya, mengambil pelan botoh minuman keras itu dan meletakkannya dilantai

Robby tidak membalasku atau menatapku, dia tertunduk....


< TO THE PREVIOUS PAGE

kaskus-image


Diubah oleh monica.ocha 23-02-2016 05:44
Opiknh
mmuji1575
g.gowang.
g.gowang. dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.