- Beranda
- Stories from the Heart
1 Flat! 2 Wanita! 2 Cerita!
...
TS
galonze.b.c.n.b
1 Flat! 2 Wanita! 2 Cerita!

1 Flat2 Wanita 2 Cerita

Quote:
Spoiler for Rules:
Spoiler for F.A.Q:
Quote:
Diubah oleh galonze.b.c.n.b 11-06-2016 21:40
sormin180 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
1.1M
3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
galonze.b.c.n.b
#1436
Part 60 Eh…., Tante? (2)
Kembali malam minggu ini gue lewatin bareng mila, dengan membawa motor yang gue pinjam dari yohanes dengan imbalan gue membantu pekerjaan dia di kantor milik ayahnya. Dari pekerjaan itu pula gue mendapatkan penghasilan tambahan yang cukup untuk memenuhi biaya makan dan kebutuhan sehari hari.
Seperti biasa, mila sudah didepan pintu rumahnya menunggu kedatangan gue, hari ini dia memakai dress dengan belahan dada yang sedikit rendah dipadu dengan celana jeans hitam dengan heel yang cukup tinggi.
“ayo jalan mas” ucap dia.
“yeeee nyamain ama tukang ojek nih pake manggil mas segala” jawab gue sedikit nyeleneh.
“Masssss, ayooo jalan” ucap dia sambil memeluk dari belakang yang membuat gue sedikit grogi.
“eh… i…ya i..ya…”
“gak usah grogi gitu dong mas ku” ucap mila sedikit manja.
“heheheh” gue yang masih grogi hanya mampu tersenyum dan cengengesan.
Malam ini gue ajak mila ke daerah dago atas, pertama gue ajak dia makan di warung emperan, karena jika kita makan di café, selain malas faktor utama lainnya adalah dana yang tidak mencukupi, lagipula uang hasil kerja ini ingin gue belikan sesuatu untuk dia.
Setelah selesai makan, gue ajak dia duduk disebuah taman sambil menikmati keindahan kota bandung di malam hari dan melihat keindahan bintang yang cukup terang di malam ini.
“bintangnya indah dan terang ya ngga?” ucap mila sambil merebahkan dirinya disamping pundak gue.
“iya, jadi keliatan cerah malem ini” jawab gue.
“aku pengen disamain sama bintang”
“jangan mau disamakan dengan bintang” jawab gue sekenanya.
“ihhhh dasar gak romantis” ucap dia sambil memukul dada.
“bukannya gak romantis, tapi cahaya bintang itu cuma sementara, abis itu ngilang deh entah kemana…” jawab gue.
“ihhhh gak suka gak suka! Gak romantis ahhh” jawab dia judes.
“mana mungkin bidadari cantik kayak kamu disamain sama bintang, kalau sama cahaya indahnya aku baru setuju” ucap gue yang langsung melengoskan kepala kearah berlawanan dengan wajahnya.
“memang ada bidadari ya disini?” ucap mila sambil memalingkah wajahnya kearah gue dan tersenyum.
“ada, tapi dianya gak sadar” jawab gue sekenanya.
“mas kenapa? Kok kayak yang salting gitu? Gerogi ya deket cewek cantik?” ucap dia sambil mengarahkan wajahnya ke arah gue yang sedaritadi membuang muka kearah lain.
“emang ada cewek cantik disini?”
“ihhhhh” ucap dia dengan manja.
“hahahahaha” gue pun langsung memeluk dia dan… mmuuuaaachhhh sebuah kecupan gue daratkan di kening dia.
“ihhhhh cium cium” jawab dia sambil tersipu malu.
Gue lihat dia hanya tersenyum dan ke dua ditekuk dan dipeluk oleh kedua tangannya. Ah… terasa sekali nyaman didekat dia, senyumnya selalu membius hati ini dan tatapan mata dia membuat gue selalu grogi dan salting.
“Jam berapa?”
“gak tau” jawab gue.
“owh…” ucap dia sambil menggerakan kakinya seolah olah ingin berdiri.
teringat ketika minggu kemarin dimana dia meminta ingin cepat diantar pulang, gue kemudian bangkit dan langsung duduk ditanah tepat dihadapannya dengan dengan menyilangkan kedua kaki.
“kenapa?” tanya gue.
“ngaak apa apa, kok kamu malah duduk dibawah?”
“biar kamu gak cepet cepet minta pulang” jawab gue.
“ihhh kamu mah aneh, gimana caranya aku bisa pulang coba? Kan pergi kesininya aja bareng kamu?” ucap dia sambil tersenyum.
“tuhhh di depan rumah makan sana ada taksi” jawab gue datar.
“ada apa sih?” ucap dia sambil duduk dihadapan gue.
“nggak gak apa apa, cuma takut aja” ucap gue sambil tertunduk.
“eh… hehehe” jawab dia hanya tersenyum manis.
“malah senyum, kayak yang ngerti aja”
“ngerti dong, tenang… aku gak bakal pulang kalo kamu gak ngajak aku pulang” jawab dia sambil menowel hidung.
“kalau kita pulang besok pagi?
“kalau itu mau mu, aku ikut ikut aja” jawab mila.
“hahahah nggak ah…, tar dimarahin lagi sama adik mu” jawab gue.
“aneh ih, harusnya takut dimarahin sama mamah ku, sama om ku dirumah” jawab dia.
“ya itu juga salah satunya, tapi lebih takut sama adikmu itu..”
“lho kok bisa?”
“melsi suruh aku buat jagain kamu” ucap gue. “selalu….” Ucap gue kembali dengan nada pelan.
“makasih” ucap dia sambil memeluk gue yang gue balas dengan anggukan.
“miel…. Aku….” Uca gue tertahan, ingin sekali rasanya meneruskan kata kata untuk menyatakan cinta kepada dia, namun semuanya tertahan oleh rasa gugup dan grogi.
“Apa?” bisik dia pelan, dan keadaan menjadi hening sesaat. Tatapan mata kita berdua saling beradu dengan dekatnya, tak ada kata yang terucap kecuali hembusan angin malam yang mulai menusuk kedalam tulang.
“eeeee itu… akuuu” ucap gue masih grogi.
“kenpa?, kamu mau bilang… kalau kamu suka sama aku? Iya kan?” ucapnya tiba tiba, dengan keadaan masih terkejut dan ketika gue akan menganggukan kepala tangan kanan dia mencubit pipi sebelah kiri gue.
“emang ada ya tante tante yang suka ama brondong? hihihih” ucap mila.
“
”
“gak level ah… lagian juga cowoknya belum punya penghasilan.. mau dijajanin apa nanti kalo jalan malem mingguan? Masa nanti kalo tiap kita jalan cuma diajak makan di warung emperan terus.. heheheh” ucap mila dengan senyum mengejek.
“
”
“kenapa? Bingung ya…” tanya mila yang gue jawab dengan anggukan kepala.
“aku tuh Sarjana tau… umurku juga lebih tua dari kamu…” ucap dia sambil memeluk pundak gue.
“ehhhh…” gue masih bingung.
“hehehe baru tau yah? Umurku 28, kamu berapa? Pasti baru 21? Ihhhhh brondonggggg” ucap dia sambil mencubit pipi gue.
“siapa juga yang suka sama tante tante” jawab gue yang mulai bisa mengendalikan diri,.
“terus tadi mau bilang apa?” tanya dia lagi.
“itu make-up kamu ketebelan, lipstiknya juga gak enak diliat” jawab gue sambil memalingkan tubuh ini membelakangi mila.
“ihhhhhh” ucap dia sambil memukul punggung gue. Dia langsung mendekat dan memeluk gue dari arah belakang, kepalanya mendongkak keatas menatap mata gue, maklum mila emang lebih pendek walau sudah memakai heels yang tinggi.
“Apa? Mau balas?” ucap dia dan gue pun kembali terdiam karena tatapan matanya.
dengan tiba tiba “AWWWWWWWWW” mila menggigit bahu kiri gue dan langsung berlari menjauh.
“ihhhh cemen… katanya jago berantem… digigit segitu aja langsung teriak” ucap dia sambil berari menjauhi gue.
“Awas kamu ya!” ucap gue sambil berlari mengejar dia.
Walau dia berlari dengan pelan dan gue bisa mengejarnya dengan mudah, tapi tetap saja gue gak ingin cepat nangkep dia, gak ingin momen indah kerjar kejaran tengah malem ini kelewat gitu aja, kita berdia berlari muter muter keliling taman sambil tertawa dan membalas ejekan.
“Eit, gak kena… gak kena… weeeeee” ucap dia yang lolos dari sergapan gue.
“awas ya kamu”
Seperti saat kita kecil yang sering berlari lari dan bermain tangkap tangkapan. Kita seperti gak pernah ingin mengakhirin permainan kejar kejaran ini. Namun dengan kondisi kita yang sudah cukup berumur apalagi bila seorang perempuan, perlahan dia mulai dia mulai lemas. Dan…
“ahhhh kena kamu!” ucap gue dengan kedua tangan yang langsung memeluk perut dia dari belakang.
Bidadari cantik ini hanya diam saat kedua tangan gue memeluk perutnya dengan erat. Tubuhnya secara refleks disandarkan ke tubuh gue. Kedua tangannya memegang tangan gue. Ah…. Nyaman sekali berada didekat perempuan ini… rasa sayang dan cinta mulai menguat kepada dia.
“indah ya bintangnya?” ucap dia perlahan dengan kepala ditanggahkan keatas.
“iya” jawab gue dengan pelan sambil memeluk dia semakin erat.
Perlahan kepalanya mulai disandarkan ke leher gue, dan pipi kanannya direbahkan di bahu sebelahkanan. Leher kanannya terlihat putih dan indah, semakin erat pelukan ini agar dia tidak terlepas dari genggaman. Tubuh mila perlahan mulai bergoyang dengan bola mata yang terpejam, tangan kanannya meraih kepala gue agar menunduk dan bibir ini mendekat di leher kanan dia. Momen ini berlangsung sangat lama, bahkan pegal tubuh gue yang dipakai menyanggah tubuhnya sangat gak kerasa. Setelah lama dengan posisi tersebut mila membalikan badannya dan memeluk leher gue dengan posisi kepala yang mendongak keatas.
“Makasih…” ucap dia dengan senyuman di bibirnya.
“heemmmmmm” ucap gue yang semakin terbawa suasana.
Tubuhnya semakin melekat didalam pelukan, tangannya melingkar pindah kebelakang pinggung. Hangat dan erat sekali badan dia malam ini. Gue hanya bisa menundukan kepala dan tak berani menatapnya, bibir gue berhadapan langsung dengan kening dia.
“jaga aku, jangan pernah tinggalin aku…” ucap dia pelan.
“ya…” jawab gue.
“makasih…” ucap mila memper erat pelukannya.
“miel… aku..” belum selesai gue berbicara, mila kembali memotong.
“Apa? Mau bilang suka sama aku? Sayang sama aku?” ucap dia sambil mendongakan kepala dengan tatapan wajah yang mengejek.
“ehhhh….” Ucap gue kikuk.
“pokoknya gak bakal mau sampai kamu nanti punya penghasilan sendiri, aku gak mau waktu kita jalan nanti kamu masih pakai barang punya orang” ucap mila dengan wajah serius.
“ehhhh” gue hanya diam menundukan kepala.
“jangan lemes gitu…”ucap dia sambil mengusap usap rammbut gue.
“aku gak bakal kemana mana, dan hati ku milik kamu… kamu lelakiku… dengan segala kekurangan dan kelebihan mu aku selalu siap menerima… jadi, jangan pernah menyerah buat selalu dekat disisiku” ucap dia dihadapan gue.
“eh… anu… iya iya…” jawab gue dengan suara lemas.
“aaaaaa brondong baru ditolakkkkk…… ihhhhhh senyum donggggg” ucap dia sambil mengejek dan membetet hidung gue.
“awww sakit” ucap gue.
“sakit ya sakit. Tapi kenapa pelukannya malah makin erat?” tanya dia.
“ehh maaf…” ucap gue sambil menarik kedua tangan.
“hehheh pulang yuk, dah malem..” ucap dia sambil tersenyum dan menarik tangan gue.
“iya…”
Dengan ditemani oleh cahaya bintang, gue mengantarkan dia pula ke rumah omnya. Sudah 2 bulan ini dia tidak tidur di Flat, berbagai alasan gue tanyakan kepada dia kenapa tidak mau tidur lagi disana? Kalo tidak terpakai mending di kosongkan saja, kan sayang uang. Tapi dia menolak tawaran gue untuk mengosongkan kamarnya supaya tidak diisi oleh orang lain.
Tak ada kata yang terucap dari bibir kita berdua, hanya laju motor saja yang gue jalan kan pelan sekali, pingin rasanya setiap hari tetap bersamanya seperti ini. Momen dimana hanya kita berdua yang melewati tanpa ada gangguan dari pihak manapun. Ah.. tak sabar rasanya untuk segera lulus dan meminang bidadari ini….
“Terimakasih malam ini, cup…” ucap mila sambil memberikan kecupan di pipi kanan gue.
“Iya sama sama” jawab gue.
“heem”
“eh itu om mu dibelakang?” tanya gue berbohong.
“mana? gak ada?” ucap dia menoleh kebelakang, dan saat menoleh kan kepalanya kedepan “ah… kamu bo mmmmmmm mmmmmm” gue langsung mencium bibirnya tanpa ragu ragu.
“ihhhh kalo om liat gimana?” tanya dia dengan wajah memerah.
“ya aku turun dari motor, hehehe” jawab gue.
“ya udah aku pulang dulu miel..”
“iya hati hati” jawab mila.
Gue putar balik motor pinjaman ini, saat dilihat di kaca spion dia masih saja berdiri melihat motor gue, pingin rasanya masuk ke rumah itu dan menemui omnya disana. Tapi apa daya gue belum punya pekerjaan dan sampai sekarang masih berstatus sebagai Mahasiswa. dan yang bikin gue lebih kaget lagi ternyata umur gue terpaut 6 tahun dengan dia.
Seperti biasa, mila sudah didepan pintu rumahnya menunggu kedatangan gue, hari ini dia memakai dress dengan belahan dada yang sedikit rendah dipadu dengan celana jeans hitam dengan heel yang cukup tinggi.
“ayo jalan mas” ucap dia.
“yeeee nyamain ama tukang ojek nih pake manggil mas segala” jawab gue sedikit nyeleneh.
“Masssss, ayooo jalan” ucap dia sambil memeluk dari belakang yang membuat gue sedikit grogi.
“eh… i…ya i..ya…”
“gak usah grogi gitu dong mas ku” ucap mila sedikit manja.
“heheheh” gue yang masih grogi hanya mampu tersenyum dan cengengesan.
Malam ini gue ajak mila ke daerah dago atas, pertama gue ajak dia makan di warung emperan, karena jika kita makan di café, selain malas faktor utama lainnya adalah dana yang tidak mencukupi, lagipula uang hasil kerja ini ingin gue belikan sesuatu untuk dia.
Setelah selesai makan, gue ajak dia duduk disebuah taman sambil menikmati keindahan kota bandung di malam hari dan melihat keindahan bintang yang cukup terang di malam ini.
“bintangnya indah dan terang ya ngga?” ucap mila sambil merebahkan dirinya disamping pundak gue.
“iya, jadi keliatan cerah malem ini” jawab gue.
“aku pengen disamain sama bintang”
“jangan mau disamakan dengan bintang” jawab gue sekenanya.
“ihhhh dasar gak romantis” ucap dia sambil memukul dada.
“bukannya gak romantis, tapi cahaya bintang itu cuma sementara, abis itu ngilang deh entah kemana…” jawab gue.
“ihhhh gak suka gak suka! Gak romantis ahhh” jawab dia judes.
“mana mungkin bidadari cantik kayak kamu disamain sama bintang, kalau sama cahaya indahnya aku baru setuju” ucap gue yang langsung melengoskan kepala kearah berlawanan dengan wajahnya.
“memang ada bidadari ya disini?” ucap mila sambil memalingkah wajahnya kearah gue dan tersenyum.
“ada, tapi dianya gak sadar” jawab gue sekenanya.
“mas kenapa? Kok kayak yang salting gitu? Gerogi ya deket cewek cantik?” ucap dia sambil mengarahkan wajahnya ke arah gue yang sedaritadi membuang muka kearah lain.
“emang ada cewek cantik disini?”
“ihhhhh” ucap dia dengan manja.
“hahahahaha” gue pun langsung memeluk dia dan… mmuuuaaachhhh sebuah kecupan gue daratkan di kening dia.
“ihhhhh cium cium” jawab dia sambil tersipu malu.
Gue lihat dia hanya tersenyum dan ke dua ditekuk dan dipeluk oleh kedua tangannya. Ah… terasa sekali nyaman didekat dia, senyumnya selalu membius hati ini dan tatapan mata dia membuat gue selalu grogi dan salting.
“Jam berapa?”
“gak tau” jawab gue.
“owh…” ucap dia sambil menggerakan kakinya seolah olah ingin berdiri.
teringat ketika minggu kemarin dimana dia meminta ingin cepat diantar pulang, gue kemudian bangkit dan langsung duduk ditanah tepat dihadapannya dengan dengan menyilangkan kedua kaki.
“kenapa?” tanya gue.
“ngaak apa apa, kok kamu malah duduk dibawah?”
“biar kamu gak cepet cepet minta pulang” jawab gue.
“ihhh kamu mah aneh, gimana caranya aku bisa pulang coba? Kan pergi kesininya aja bareng kamu?” ucap dia sambil tersenyum.
“tuhhh di depan rumah makan sana ada taksi” jawab gue datar.
“ada apa sih?” ucap dia sambil duduk dihadapan gue.
“nggak gak apa apa, cuma takut aja” ucap gue sambil tertunduk.
“eh… hehehe” jawab dia hanya tersenyum manis.
“malah senyum, kayak yang ngerti aja”
“ngerti dong, tenang… aku gak bakal pulang kalo kamu gak ngajak aku pulang” jawab dia sambil menowel hidung.
“kalau kita pulang besok pagi?
“kalau itu mau mu, aku ikut ikut aja” jawab mila.
“hahahah nggak ah…, tar dimarahin lagi sama adik mu” jawab gue.
“aneh ih, harusnya takut dimarahin sama mamah ku, sama om ku dirumah” jawab dia.
“ya itu juga salah satunya, tapi lebih takut sama adikmu itu..”
“lho kok bisa?”
“melsi suruh aku buat jagain kamu” ucap gue. “selalu….” Ucap gue kembali dengan nada pelan.
“makasih” ucap dia sambil memeluk gue yang gue balas dengan anggukan.
“miel…. Aku….” Uca gue tertahan, ingin sekali rasanya meneruskan kata kata untuk menyatakan cinta kepada dia, namun semuanya tertahan oleh rasa gugup dan grogi.
“Apa?” bisik dia pelan, dan keadaan menjadi hening sesaat. Tatapan mata kita berdua saling beradu dengan dekatnya, tak ada kata yang terucap kecuali hembusan angin malam yang mulai menusuk kedalam tulang.
“eeeee itu… akuuu” ucap gue masih grogi.
“kenpa?, kamu mau bilang… kalau kamu suka sama aku? Iya kan?” ucapnya tiba tiba, dengan keadaan masih terkejut dan ketika gue akan menganggukan kepala tangan kanan dia mencubit pipi sebelah kiri gue.
“emang ada ya tante tante yang suka ama brondong? hihihih” ucap mila.
“
”“gak level ah… lagian juga cowoknya belum punya penghasilan.. mau dijajanin apa nanti kalo jalan malem mingguan? Masa nanti kalo tiap kita jalan cuma diajak makan di warung emperan terus.. heheheh” ucap mila dengan senyum mengejek.
“
”“kenapa? Bingung ya…” tanya mila yang gue jawab dengan anggukan kepala.
“aku tuh Sarjana tau… umurku juga lebih tua dari kamu…” ucap dia sambil memeluk pundak gue.
“ehhhh…” gue masih bingung.
“hehehe baru tau yah? Umurku 28, kamu berapa? Pasti baru 21? Ihhhhh brondonggggg” ucap dia sambil mencubit pipi gue.
“siapa juga yang suka sama tante tante” jawab gue yang mulai bisa mengendalikan diri,.
“terus tadi mau bilang apa?” tanya dia lagi.
“itu make-up kamu ketebelan, lipstiknya juga gak enak diliat” jawab gue sambil memalingkan tubuh ini membelakangi mila.
“ihhhhhh” ucap dia sambil memukul punggung gue. Dia langsung mendekat dan memeluk gue dari arah belakang, kepalanya mendongkak keatas menatap mata gue, maklum mila emang lebih pendek walau sudah memakai heels yang tinggi.
“Apa? Mau balas?” ucap dia dan gue pun kembali terdiam karena tatapan matanya.
dengan tiba tiba “AWWWWWWWWW” mila menggigit bahu kiri gue dan langsung berlari menjauh.
“ihhhh cemen… katanya jago berantem… digigit segitu aja langsung teriak” ucap dia sambil berari menjauhi gue.
“Awas kamu ya!” ucap gue sambil berlari mengejar dia.
Walau dia berlari dengan pelan dan gue bisa mengejarnya dengan mudah, tapi tetap saja gue gak ingin cepat nangkep dia, gak ingin momen indah kerjar kejaran tengah malem ini kelewat gitu aja, kita berdia berlari muter muter keliling taman sambil tertawa dan membalas ejekan.
“Eit, gak kena… gak kena… weeeeee” ucap dia yang lolos dari sergapan gue.
“awas ya kamu”
Seperti saat kita kecil yang sering berlari lari dan bermain tangkap tangkapan. Kita seperti gak pernah ingin mengakhirin permainan kejar kejaran ini. Namun dengan kondisi kita yang sudah cukup berumur apalagi bila seorang perempuan, perlahan dia mulai dia mulai lemas. Dan…
“ahhhh kena kamu!” ucap gue dengan kedua tangan yang langsung memeluk perut dia dari belakang.
Bidadari cantik ini hanya diam saat kedua tangan gue memeluk perutnya dengan erat. Tubuhnya secara refleks disandarkan ke tubuh gue. Kedua tangannya memegang tangan gue. Ah…. Nyaman sekali berada didekat perempuan ini… rasa sayang dan cinta mulai menguat kepada dia.
“indah ya bintangnya?” ucap dia perlahan dengan kepala ditanggahkan keatas.
“iya” jawab gue dengan pelan sambil memeluk dia semakin erat.
Perlahan kepalanya mulai disandarkan ke leher gue, dan pipi kanannya direbahkan di bahu sebelahkanan. Leher kanannya terlihat putih dan indah, semakin erat pelukan ini agar dia tidak terlepas dari genggaman. Tubuh mila perlahan mulai bergoyang dengan bola mata yang terpejam, tangan kanannya meraih kepala gue agar menunduk dan bibir ini mendekat di leher kanan dia. Momen ini berlangsung sangat lama, bahkan pegal tubuh gue yang dipakai menyanggah tubuhnya sangat gak kerasa. Setelah lama dengan posisi tersebut mila membalikan badannya dan memeluk leher gue dengan posisi kepala yang mendongak keatas.
“Makasih…” ucap dia dengan senyuman di bibirnya.
“heemmmmmm” ucap gue yang semakin terbawa suasana.
Tubuhnya semakin melekat didalam pelukan, tangannya melingkar pindah kebelakang pinggung. Hangat dan erat sekali badan dia malam ini. Gue hanya bisa menundukan kepala dan tak berani menatapnya, bibir gue berhadapan langsung dengan kening dia.
“jaga aku, jangan pernah tinggalin aku…” ucap dia pelan.
“ya…” jawab gue.
“makasih…” ucap mila memper erat pelukannya.
“miel… aku..” belum selesai gue berbicara, mila kembali memotong.
“Apa? Mau bilang suka sama aku? Sayang sama aku?” ucap dia sambil mendongakan kepala dengan tatapan wajah yang mengejek.
“ehhhh….” Ucap gue kikuk.
“pokoknya gak bakal mau sampai kamu nanti punya penghasilan sendiri, aku gak mau waktu kita jalan nanti kamu masih pakai barang punya orang” ucap mila dengan wajah serius.
“ehhhh” gue hanya diam menundukan kepala.
“jangan lemes gitu…”ucap dia sambil mengusap usap rammbut gue.
“aku gak bakal kemana mana, dan hati ku milik kamu… kamu lelakiku… dengan segala kekurangan dan kelebihan mu aku selalu siap menerima… jadi, jangan pernah menyerah buat selalu dekat disisiku” ucap dia dihadapan gue.
“eh… anu… iya iya…” jawab gue dengan suara lemas.
“aaaaaa brondong baru ditolakkkkk…… ihhhhhh senyum donggggg” ucap dia sambil mengejek dan membetet hidung gue.
“awww sakit” ucap gue.
“sakit ya sakit. Tapi kenapa pelukannya malah makin erat?” tanya dia.
“ehh maaf…” ucap gue sambil menarik kedua tangan.
“hehheh pulang yuk, dah malem..” ucap dia sambil tersenyum dan menarik tangan gue.
“iya…”
Dengan ditemani oleh cahaya bintang, gue mengantarkan dia pula ke rumah omnya. Sudah 2 bulan ini dia tidak tidur di Flat, berbagai alasan gue tanyakan kepada dia kenapa tidak mau tidur lagi disana? Kalo tidak terpakai mending di kosongkan saja, kan sayang uang. Tapi dia menolak tawaran gue untuk mengosongkan kamarnya supaya tidak diisi oleh orang lain.
Tak ada kata yang terucap dari bibir kita berdua, hanya laju motor saja yang gue jalan kan pelan sekali, pingin rasanya setiap hari tetap bersamanya seperti ini. Momen dimana hanya kita berdua yang melewati tanpa ada gangguan dari pihak manapun. Ah.. tak sabar rasanya untuk segera lulus dan meminang bidadari ini….
“Terimakasih malam ini, cup…” ucap mila sambil memberikan kecupan di pipi kanan gue.
“Iya sama sama” jawab gue.
“heem”
“eh itu om mu dibelakang?” tanya gue berbohong.
“mana? gak ada?” ucap dia menoleh kebelakang, dan saat menoleh kan kepalanya kedepan “ah… kamu bo mmmmmmm mmmmmm” gue langsung mencium bibirnya tanpa ragu ragu.
“ihhhh kalo om liat gimana?” tanya dia dengan wajah memerah.
“ya aku turun dari motor, hehehe” jawab gue.
“ya udah aku pulang dulu miel..”
“iya hati hati” jawab mila.
Gue putar balik motor pinjaman ini, saat dilihat di kaca spion dia masih saja berdiri melihat motor gue, pingin rasanya masuk ke rumah itu dan menemui omnya disana. Tapi apa daya gue belum punya pekerjaan dan sampai sekarang masih berstatus sebagai Mahasiswa. dan yang bikin gue lebih kaget lagi ternyata umur gue terpaut 6 tahun dengan dia.
Diubah oleh galonze.b.c.n.b 18-02-2016 22:25
oktavp dan 4 lainnya memberi reputasi
5
