- Beranda
- Stories from the Heart
Until The Day
...
TS
yohanaekky
Until The Day

********************************
Penantian:
(kb) Suatu kegiatan yang tidak enak untuk dilakukan menurut pengakuan setiap orang, tetapi mau tidak mau semua orang pernah melakukannya, paling tidak satu kali dalam hidupnya.
~UTD~
Terbuang. Tertolak. Menjalani kehidupan yang keras di jalanan sendirian dan kelaparan. Itulah Aporriftikhe. Dia ingin memiliki setidaknya satu orang yang mempedulikannya dan juga sebuah rumah. Namun fitnah yang telah ia terima membuat tak seorang pun mau mendekatinya. Harapannya sudah putus sehingga ia berhenti menanti. Tak seorang pun yang kunjung datang setidaknya untuk memberinya sepeser uang atau secuil roti atau sebuah kandang untuk melindunginya dari terik matahari atau hujan deras.
Hingga pada suatu hari ia terpaksa harus melakukan perbuatan tercela karena perutnya yang lapar. Namun tindakannya itu justru hampir membawanya kepada maut, jika tidak ada sebuah tangan terulur padanya dan menyelamatkan dirinya.
Tangan itu, tangan yang mengubah hidupnya. Tangan itu, tangan yang membuatnya kembali menanti dan gemar menanti. Karena tangan itu adalah harapan baginya.
© 2015. All Rights Reserved.
Written by Yohana Ekky.
INDEX:
01 IDENTITY
02 THE STRETCHED HAND
03 HOME
04 REJECTED TO ACCEPTED
05 IT'S CALLED LIFE! (PART 1)
06 IT'S CALLED LIFE! (PART 2)
07 HEART MENDING (PART 1) - a || b
08 THE ENEMY'S ATTACK - a || b
09 TAKING HER BACK
10 HE TOLD ME THE TRUTH
11 THE UNWANTED PRINCESS (PART 1) - a || b
12 THE UNWANTED PRINCESS (PART 2) -a || b
13 WILL THERE BE PEACE?
14 THERE HAS TO BE PEACE
15 THE VISION
16 DEFENSE AND WAR STRATEGY NEW!!!
Diubah oleh yohanaekky 29-06-2016 19:11
anasabila memberi reputasi
1
6.6K
96
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yohanaekky
#65
09 Taking Her Back
Aroma busuk dan amis seperti darah ikan tercium. Perlahan-lahan kubuka mataku dan samar-samar kulihat sebuah bangunan berlumut dan kotor menjadi tempat dimana aku berpijak.
Kurasakan tanganku yang begitu sakit di sekitar pergelangan. Masih samar-samar kulihat sesuatu menjerat kedua pergelangan tanganku. Seiring berjalannya waktu semakin jelas aku melihat diriku sedang dikurung di suatu tempat entah berantah dengan terikat dan posisi berdiri.
Kupalingkan wajahku ke sebelah kiriku, kulihat sebuah tahta dan seseorang duduk disana. Tubuhnya besar dan kekar. Ia memakai pakaian berwarna hitam legam. Wajahnya sangat rupawan, tetapi di kepalanya tumbuh dua tanduk yang besar.
Secara otomatis, aku merasakan ketakutan yang begitu besar. Kehadirannya benar-benar membuatku gemetar.
"S-si-siapa k-kau?" bahkan lidahku pun rasanya kelu dan bergetar.
Orang yang duduk di tahta itu tertawa terbahak-bahak. "Gadis muda. Kau ini memang betul-betul terlalu polos sehingga menjadi bodoh." Ia bangkit dari tahtanya dan berjalan menghampiriku.
Aku menjadi semakin takut ketika ia datang mendekat. "Lepaskan aku."
Ia justru tertawa lagi. Tangannya menangkup dahiku. "Tidak bisa, gadis muda. Kau adalah umpan yang sangat baik. Jika kau ada disini, Pangeran muda itu akan datang dan aku dapat menghancurkannya. Dan saat aku menghancurkannya orang tuanya pun akan hancur juga." Ia tertawa lagi.
Mendengar perkataannya itu, rasa takutku berangsur-angsur berubah menjadi rasa benci. Timbul rasa percaya di dalam hatiku bahwa Sotiras, Raja dan Ratu tidak akan dihancurkan. Kerajaan Ouranos adalah kerajaan yang sangat kuat. Aku yakin orang sombong ini akan dikalahkan.
"Apa yang kau pikirkan, gadis muda? Apakah kau berpikir aku dapat dikalahkan?" Ia tertawa mengejek. "Aku ini Katastrepsei, Sang Penghancur yang tidak akan dapat dihancurkan!"
Apa? Dia ini Katastrepsei? Jadi inilah wujud asli Katastrepsei?
"Aku akan memenangkan Pertempuran Besar. Aku sudah memenuhi negeri ini dengan kejahatan. Semua orang akan saling membunuh. Semua orang akan memberontak terhadap Raja. Kerajaan Ouranos akan jatuh dan hancur, dan kerajaanku lah yang akan berkuasa!" Katastrepsei tertawa dengan liciknya.
Aku muak mendengar tawanya. Aku muak mendengar ejekannya. "TIDAK! KERAJAANMU LAH YANG AKAN HANCUR!" Aku berteriak padanya.
Katastrepsei berpaling padaku dengan tampang bengisnya. Pada saat itulah aku melihat perubahan terjadi pada wajahnya. Wajah rupawan nya berubah menjadi buruk rupa menyerupai kambing.
Aku merasa ngeri melihatnya hingga aku menutup mata.
Katastrepsei menangkup daguku. Dari jarak sedekat itu, aroma busuk tercium dan aku merasa sangat mual. "Beraninya kau berkata seperti itu!" Ia kemudian menampar wajahku dan menyisakan rasa sakit yang begitu besar. Bahkan rasa sakit ini melebihi tamparan ibu tiriku.
Tanpa terduga air mataku jatuh membasahi pipiku dengan derasnya. Aku merasa ketakutan. Sangat ketakutan. Tolong aku. Tolong aku. Siapapun tolong aku.
Katastrepsei meninggalkanku dengan amarah yang sangat besar. Ia memberi isyarat kepada salah satu anak buahnya yang aku tidak mengerti. Namun setelah itu, seorang bertubuh kecil dan jelek mendatangiku dengan sebuah batang bambu yang panjang di tangannya.
Tanpa peringatan, makhluk jelek itu memukul punggungku, betisku, dan perutku. Setelah itu ia pergi.
Sakit. Sangat sakit. Aku hanya merasakan sakit. Aku mengerang tapi justru rasa sakit itu bertambah. Aku hanya dapat menangis saat ini.
"Sotiras," aku menyebut namanya seolah dia dapat mendengarku. Aku benar-benar berharap dia datang dan menyelamatkanku seperti waktu itu. Namun mungkin, semua ini sia-sia.
Tiba-tiba tubuhku berguncang. Berguncang dengan sangat hebat. Aku membuka mataku perlahan dan menyadari aku telah tidak sadarkan diri.
Samar-samar indera pendengaranku menangkap sesuatu. Aku mendengar seseorang menyebut namaku.
"Apo, Apodektes, sadarlah." Seseorang berada di hadapanku. Tidak. Aku ada dalam dekapan orang itu.
"So..tiras?" Aku melihat wajahnya. Ya. Aku melihat wajah Sotiras.
"Ya, ini aku." Sotiras menyentuh pipiku.
"Sotiras? Sotiras?" Kugenggam tangannya yang menyentuh pipiku. "Kau disini." Aku langsung memeluknya dan menangis. "Kau disini. Kau disini."
Sotiras membelai rambutku dan menepuk-nepuk punggungku dengan lembut. "Aku disini, Apo. Ya, aku disini bersamamu."
Pikiranku kemudian teringat pada si bengis Katastrepsei itu. Aku melepaskan diri dari pelukan Sotiras dan memandangnya, "Dimana dia? Dimana dia?"
Tahu siapa yang kumaksudkan, Sotiras menjawab, "Dia melarikan diri saat aku dan pasukan kerajaan menyerang tempat ini."
Secercah rasa lega pun muncul di dalam hatiku. Dia sudah jauh, maksudku, setidaknya aku tidak berada di dekatnya lagi seperti tadi. Aku sungguh tidak mau bertemu lagi dengannya.
"Ayo Apo. Kita segera pergi dari sini. Kau terlalu banyak terluka." Aku mengiyakan ajakan Sotiras mengingat rasa nyeri yang begitu dalam menusuk setiap sisi tubuhku.
Dengan berkali-kali mengerang saat mencoba untuk berdiri dan berjalan, akhirnya aku sampai di dalam kereta. Selama perjalanan aku bersandar pada Sotiras dan menutup mataku, mencoba untuk tidur demi mengurangi rasa sakit ini.
Aku terbangun ketika merasakan tubuhku terguncang. Dengan berat aku membuka mataku. Sotiras masih ada di sampingku sebagai sandaranku. Tetapi kemudian aku mendengar suara dari luar yang meneriakkan "Kita diserang!"
Aku berusaha menegakkan tubuhku saat Sotiras membuka tirai jendela kereta baik sebelah kanan dan kiri secara bergantian untuk melihat apa yang terjadi di luar.
Kereta masih ada di suatu tempat yang tampak seperti hutan. Pasukan kerajaan sudah membentuk pertahanan di sekeliling kereta. Hanya sekitar beberapa meter jauhnya tampak makhluk-makhluk bertubuh aneh yang membentuk sepasukan besar sedang berlari menyerbu kami.
"Kau tunggu disini, aku akan kel--"
"Tidak," aku mencegah Sotiras yang hendak meninggalkanku. "Kau tidak boleh pergi." Tanpa sadar tanganku terlalu keras mencengkeram pergelangan tangan Sotiras. Aku sedikit merasa bersalah. Tetapi aku tidak melepaskannya.
Sotiras meletakkan tangannya di atas tanganku. "Kau akan baik-baik saja disini. Aku ada di luar."
Aku menggeleng, bersikeras mencegahnya untuk pergi. "Ketakutan terbesarku bukanlah untuk bertemu dengan Katastrepsei lagi, Sotiras."
Jika kau ada disini, Pangeran muda itu akan datang dan aku dapat menghancurkannya. Dan saat aku menghancurkannya orang tuanya pun akan hancur juga. Aku kembali teringat akan ucapannya dan tawanya yang menakutkan.
"Aku tidak ingin Katastrepsei menangkapmu." Aku memandangnya sungguh-sungguh, berharap agar dia mengikuti permintaanku.
Sotiras tersenyum. "Dia tidak akan mampu melakukannya. Tenang saja, Apo."
"TIDAK. Mengapa kau tidak mendengarkan saja apa yang kukatakan dan melakukannya?"
"Pasukan kerajaan membutuhkanku, Apo. Aku berjanji untuk tidak tertangkap dan segera membawaku pergi dari sini."
Aku masih tidak ingin Sotiras pergi. Jika ia sampai tertangkap, Raja, Ratu, Kerajaan Ouranos...
"Tingga lah disini. Aku akan mengalahkan mereka."
Pada akhirnya aku tidak dapat membantah lagi. Sotiras terlalu meyakinkan dan aku tidak memiliki alasan yang lebih kuat untuk menahannya.
Sesuai dengan instruksi Sotiras, tirai jendela ditutup rapat. Aku menunggu di dalam kereta sambil berharap bahwa Sotiras dan pasukan kerajaan berhasil mengalahkan mereka.
Terdengar suara teriakan dari pihak musuh saat mereka sudah datang. Pedang yang saling bertemu satu sama lain pun tak kalah besar suaranya. Erangan kesakitan dan juga tawa licik musuh menambah kengerian itu.
BRAK! Kereta berguncang dan aku terhempas ke sisi kanan. Kepalaku hampir saja membentur jendela tetapi tanganku terlebih dahulu menahan tubuhku.
"Apo! Keluar dari kereta!" Suara Sotiras terdengar dari kejauhan tapi masih cukup jelas bagiku.
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di luar sana, tetapi karena Sotiras meneriakkan perintah itu, aku segera membuka pintu kereta. Saat aku hendak melompat, niatku terhalang dengan jarak antara kereta dan tanah sudah sekitar satu meter. Dua makhluk bersayap sedang berusaha mengangkat kereta ini.
Jika saja tubuhku tidak sakit aku sudah pasti akan melompat. Namun keadaannya berbeda saat ini. Saat aku mendarat di tanah, aku pasti akan kesakitan. Namun itu jauh lebih baik daripada ikut terbawa oleh kedua makhluk jelek ini kepada Katastrepsei.
Melihat dan mendengar Sotiras yang sambil menangkis pukulan musuh sudah berteriak terus menerus agar aku melompat, akhirnya aku memutuskan untuk melompat. Jaraknya sudah cukup tinggi tapi aku tidak peduli. Kulangkahkan kakiku dan aku melompat dengan menutup mata.
Aku sudah menyiapkan diri untuk merasa kesakitan. Tetapi sesuatu yang aneh terjadi.
Tidak ada lagi suara peperangan. Tidak ada lagi suara angin bertiup kencang. Semuanya sunyi. Hanya terdengar suara desahan nafasku sendiri.
Saat kubuka mataku, aku melihat semuanya berhenti bergerak. Dedaunan yang tertiup angin dan melayang di udara pun diam. Begitu pula aku yang masih ada di antara langit dan bumi.
Sotiras berjalan mendekat dan menggapai tanganku lalu aku jatuh ke dalam dekapannya. Perlahan ia membuatku berjejak di tanah dan berdiri.
"Apa yang terjadi?" tanyaku heran sambil masih berpegangan pada lengan Sotiras untuk menjaga keseimbangan tubuhku.
Sotiras menunjuk ke suatu arah dengan lirikan matanya.
Tampak Raja Dikaosyni datang dalam kebesarannya bersama dengan seorang penjaga. Mereka datang mendekat.
Raja tidak berbicara apapun. Ia hanya menjentikkan jarinya dan para pasukan kerajaan yang mematung itu kembali hidup dan bergerak. Sementara itu musuh masih dalam keadaan yang sama. Raja meminta pada pasukan kerajaan untuk datang mendekat dengan hanya mengangkat tangan kanannya. Setelah itu, tongkat yang ia bawa di tangan kanannya diketukkan ke tanah.
Tampak sesuatu yang terlihat seperti gelombang cahaya di udara yang kemudian menyambar musuh dan menghancurkan mereka dalam sekejap menjadi butiran debu. Segera setelah itu semuanya menjadi hidup kembali.
"Katastrepsei melarikan diri lagi. Kita belum mendapatkannya. Kita lebih baik menyusun strategi agar kita cepat menemukannya." Raja memberitahu dengan suara yang bijaksana. "Ayo kita kembali ke kerajaan."
Rasanya sangat lega dapat menginjakkan kaki di istana kembali. Tidak ada kata lain kali untuk menyelundup keluar dari istana diam-diam. Pertemuan dengan Katastrepsei satu kali sudah cukup membuatku jera.
"Apo!" Dari kejauhan Ratu berseru dan berlari menuju ke arahku. Ia memelukku dengan erat sesaat ia berada di dekatku. "Aku senang melihatmu kembali kesini."
Rasa hangat memenuhiku sampai-sampai aku melupakan nyeri yang muncul karena pelukan Ratu terlalu erat. Hatiku juga terasa seperti bunga yang mekar setelah disinari matahari. Seseorang merindukanku, menungguku pulang. Air mataku berlinang di kedua pipiku.
"Ibu--uh, maksudku, Ratu,"
Ratu membelai punggungku, "Kau boleh memanggilku ibu, Apo."
"Terima kasih," suaraku tiba-tiba menjadi lirih karena rasa haru yang begitu besar.
"Iya, sayang," ucap Ratu dengan lembutnya. Ia melepaskan pelukannya dariku dan memandangku dengan seksama. "Apa kau baik-baik saja?"
"Ibu, kurasa Apo sebenarnya menahan rasa sakit saat ibu memeluknya sangat erat tadi." Sotiras seolah bertindak menjadi juru bicaraku. Tepat saat aku enggan mengatakan bahwa aku terluka.
"Ada apa? Apa yang terjadi? Mengapa kau tidak memberitahuku? Kau bahkan tidak mengerang. Pelukanku tadi telah menyakitimu, bukan begitu?" Ratu mengucapkan serentetan perkataan yang seolah tak kunjung berhenti.
Aku tersenyum mendengarnya. "Sukacitaku mengetahuimu sedang menungguku pulang menutup rasa sakit karena luka di tubuhku, Ratu," ucapku meyakinkannya.
Ratu berdecak dalam senyumannya. "Sudah, sudah. Kau harus segera membasuh tubuh dan mendapatkan pengobatan."
Ratu memerintahkan para pelayan perempuan dan para tabib wanita untuk segera mengurusku. Mereka melayaniku dengan baik dan bahkan cukup sabar ketika aku menyerang kesakitan. Terkadang aku harus menahan perih karena tidak enak terlalu sering mengerang. Satu setengah jam berlalu sampai beberapa bagian tubuhku sudah diobati dan dibalut rapi.
~ UTD ~
Maaaaaaf bangeeeet baru update ya.. Baru ada waktu. Rencananya mau post dua atau tiga sekalian tapi masih belum ada waktu. Coba deh tar hari ini kalo bisa post satu lagi. Hoho. Enjoy!
Kurasakan tanganku yang begitu sakit di sekitar pergelangan. Masih samar-samar kulihat sesuatu menjerat kedua pergelangan tanganku. Seiring berjalannya waktu semakin jelas aku melihat diriku sedang dikurung di suatu tempat entah berantah dengan terikat dan posisi berdiri.
Kupalingkan wajahku ke sebelah kiriku, kulihat sebuah tahta dan seseorang duduk disana. Tubuhnya besar dan kekar. Ia memakai pakaian berwarna hitam legam. Wajahnya sangat rupawan, tetapi di kepalanya tumbuh dua tanduk yang besar.
Secara otomatis, aku merasakan ketakutan yang begitu besar. Kehadirannya benar-benar membuatku gemetar.
"S-si-siapa k-kau?" bahkan lidahku pun rasanya kelu dan bergetar.
Orang yang duduk di tahta itu tertawa terbahak-bahak. "Gadis muda. Kau ini memang betul-betul terlalu polos sehingga menjadi bodoh." Ia bangkit dari tahtanya dan berjalan menghampiriku.
Aku menjadi semakin takut ketika ia datang mendekat. "Lepaskan aku."
Ia justru tertawa lagi. Tangannya menangkup dahiku. "Tidak bisa, gadis muda. Kau adalah umpan yang sangat baik. Jika kau ada disini, Pangeran muda itu akan datang dan aku dapat menghancurkannya. Dan saat aku menghancurkannya orang tuanya pun akan hancur juga." Ia tertawa lagi.
Mendengar perkataannya itu, rasa takutku berangsur-angsur berubah menjadi rasa benci. Timbul rasa percaya di dalam hatiku bahwa Sotiras, Raja dan Ratu tidak akan dihancurkan. Kerajaan Ouranos adalah kerajaan yang sangat kuat. Aku yakin orang sombong ini akan dikalahkan.
"Apa yang kau pikirkan, gadis muda? Apakah kau berpikir aku dapat dikalahkan?" Ia tertawa mengejek. "Aku ini Katastrepsei, Sang Penghancur yang tidak akan dapat dihancurkan!"
Apa? Dia ini Katastrepsei? Jadi inilah wujud asli Katastrepsei?
"Aku akan memenangkan Pertempuran Besar. Aku sudah memenuhi negeri ini dengan kejahatan. Semua orang akan saling membunuh. Semua orang akan memberontak terhadap Raja. Kerajaan Ouranos akan jatuh dan hancur, dan kerajaanku lah yang akan berkuasa!" Katastrepsei tertawa dengan liciknya.
Aku muak mendengar tawanya. Aku muak mendengar ejekannya. "TIDAK! KERAJAANMU LAH YANG AKAN HANCUR!" Aku berteriak padanya.
Katastrepsei berpaling padaku dengan tampang bengisnya. Pada saat itulah aku melihat perubahan terjadi pada wajahnya. Wajah rupawan nya berubah menjadi buruk rupa menyerupai kambing.
Aku merasa ngeri melihatnya hingga aku menutup mata.
Katastrepsei menangkup daguku. Dari jarak sedekat itu, aroma busuk tercium dan aku merasa sangat mual. "Beraninya kau berkata seperti itu!" Ia kemudian menampar wajahku dan menyisakan rasa sakit yang begitu besar. Bahkan rasa sakit ini melebihi tamparan ibu tiriku.
Tanpa terduga air mataku jatuh membasahi pipiku dengan derasnya. Aku merasa ketakutan. Sangat ketakutan. Tolong aku. Tolong aku. Siapapun tolong aku.
Katastrepsei meninggalkanku dengan amarah yang sangat besar. Ia memberi isyarat kepada salah satu anak buahnya yang aku tidak mengerti. Namun setelah itu, seorang bertubuh kecil dan jelek mendatangiku dengan sebuah batang bambu yang panjang di tangannya.
Tanpa peringatan, makhluk jelek itu memukul punggungku, betisku, dan perutku. Setelah itu ia pergi.
Sakit. Sangat sakit. Aku hanya merasakan sakit. Aku mengerang tapi justru rasa sakit itu bertambah. Aku hanya dapat menangis saat ini.
"Sotiras," aku menyebut namanya seolah dia dapat mendengarku. Aku benar-benar berharap dia datang dan menyelamatkanku seperti waktu itu. Namun mungkin, semua ini sia-sia.
Tiba-tiba tubuhku berguncang. Berguncang dengan sangat hebat. Aku membuka mataku perlahan dan menyadari aku telah tidak sadarkan diri.
Samar-samar indera pendengaranku menangkap sesuatu. Aku mendengar seseorang menyebut namaku.
"Apo, Apodektes, sadarlah." Seseorang berada di hadapanku. Tidak. Aku ada dalam dekapan orang itu.
"So..tiras?" Aku melihat wajahnya. Ya. Aku melihat wajah Sotiras.
"Ya, ini aku." Sotiras menyentuh pipiku.
"Sotiras? Sotiras?" Kugenggam tangannya yang menyentuh pipiku. "Kau disini." Aku langsung memeluknya dan menangis. "Kau disini. Kau disini."
Sotiras membelai rambutku dan menepuk-nepuk punggungku dengan lembut. "Aku disini, Apo. Ya, aku disini bersamamu."
Pikiranku kemudian teringat pada si bengis Katastrepsei itu. Aku melepaskan diri dari pelukan Sotiras dan memandangnya, "Dimana dia? Dimana dia?"
Tahu siapa yang kumaksudkan, Sotiras menjawab, "Dia melarikan diri saat aku dan pasukan kerajaan menyerang tempat ini."
Secercah rasa lega pun muncul di dalam hatiku. Dia sudah jauh, maksudku, setidaknya aku tidak berada di dekatnya lagi seperti tadi. Aku sungguh tidak mau bertemu lagi dengannya.
"Ayo Apo. Kita segera pergi dari sini. Kau terlalu banyak terluka." Aku mengiyakan ajakan Sotiras mengingat rasa nyeri yang begitu dalam menusuk setiap sisi tubuhku.
Dengan berkali-kali mengerang saat mencoba untuk berdiri dan berjalan, akhirnya aku sampai di dalam kereta. Selama perjalanan aku bersandar pada Sotiras dan menutup mataku, mencoba untuk tidur demi mengurangi rasa sakit ini.
Aku terbangun ketika merasakan tubuhku terguncang. Dengan berat aku membuka mataku. Sotiras masih ada di sampingku sebagai sandaranku. Tetapi kemudian aku mendengar suara dari luar yang meneriakkan "Kita diserang!"
Aku berusaha menegakkan tubuhku saat Sotiras membuka tirai jendela kereta baik sebelah kanan dan kiri secara bergantian untuk melihat apa yang terjadi di luar.
Kereta masih ada di suatu tempat yang tampak seperti hutan. Pasukan kerajaan sudah membentuk pertahanan di sekeliling kereta. Hanya sekitar beberapa meter jauhnya tampak makhluk-makhluk bertubuh aneh yang membentuk sepasukan besar sedang berlari menyerbu kami.
"Kau tunggu disini, aku akan kel--"
"Tidak," aku mencegah Sotiras yang hendak meninggalkanku. "Kau tidak boleh pergi." Tanpa sadar tanganku terlalu keras mencengkeram pergelangan tangan Sotiras. Aku sedikit merasa bersalah. Tetapi aku tidak melepaskannya.
Sotiras meletakkan tangannya di atas tanganku. "Kau akan baik-baik saja disini. Aku ada di luar."
Aku menggeleng, bersikeras mencegahnya untuk pergi. "Ketakutan terbesarku bukanlah untuk bertemu dengan Katastrepsei lagi, Sotiras."
Jika kau ada disini, Pangeran muda itu akan datang dan aku dapat menghancurkannya. Dan saat aku menghancurkannya orang tuanya pun akan hancur juga. Aku kembali teringat akan ucapannya dan tawanya yang menakutkan.
"Aku tidak ingin Katastrepsei menangkapmu." Aku memandangnya sungguh-sungguh, berharap agar dia mengikuti permintaanku.
Sotiras tersenyum. "Dia tidak akan mampu melakukannya. Tenang saja, Apo."
"TIDAK. Mengapa kau tidak mendengarkan saja apa yang kukatakan dan melakukannya?"
"Pasukan kerajaan membutuhkanku, Apo. Aku berjanji untuk tidak tertangkap dan segera membawaku pergi dari sini."
Aku masih tidak ingin Sotiras pergi. Jika ia sampai tertangkap, Raja, Ratu, Kerajaan Ouranos...
"Tingga lah disini. Aku akan mengalahkan mereka."
Pada akhirnya aku tidak dapat membantah lagi. Sotiras terlalu meyakinkan dan aku tidak memiliki alasan yang lebih kuat untuk menahannya.
Sesuai dengan instruksi Sotiras, tirai jendela ditutup rapat. Aku menunggu di dalam kereta sambil berharap bahwa Sotiras dan pasukan kerajaan berhasil mengalahkan mereka.
Terdengar suara teriakan dari pihak musuh saat mereka sudah datang. Pedang yang saling bertemu satu sama lain pun tak kalah besar suaranya. Erangan kesakitan dan juga tawa licik musuh menambah kengerian itu.
BRAK! Kereta berguncang dan aku terhempas ke sisi kanan. Kepalaku hampir saja membentur jendela tetapi tanganku terlebih dahulu menahan tubuhku.
"Apo! Keluar dari kereta!" Suara Sotiras terdengar dari kejauhan tapi masih cukup jelas bagiku.
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di luar sana, tetapi karena Sotiras meneriakkan perintah itu, aku segera membuka pintu kereta. Saat aku hendak melompat, niatku terhalang dengan jarak antara kereta dan tanah sudah sekitar satu meter. Dua makhluk bersayap sedang berusaha mengangkat kereta ini.
Jika saja tubuhku tidak sakit aku sudah pasti akan melompat. Namun keadaannya berbeda saat ini. Saat aku mendarat di tanah, aku pasti akan kesakitan. Namun itu jauh lebih baik daripada ikut terbawa oleh kedua makhluk jelek ini kepada Katastrepsei.
Melihat dan mendengar Sotiras yang sambil menangkis pukulan musuh sudah berteriak terus menerus agar aku melompat, akhirnya aku memutuskan untuk melompat. Jaraknya sudah cukup tinggi tapi aku tidak peduli. Kulangkahkan kakiku dan aku melompat dengan menutup mata.
Aku sudah menyiapkan diri untuk merasa kesakitan. Tetapi sesuatu yang aneh terjadi.
Tidak ada lagi suara peperangan. Tidak ada lagi suara angin bertiup kencang. Semuanya sunyi. Hanya terdengar suara desahan nafasku sendiri.
Saat kubuka mataku, aku melihat semuanya berhenti bergerak. Dedaunan yang tertiup angin dan melayang di udara pun diam. Begitu pula aku yang masih ada di antara langit dan bumi.
Sotiras berjalan mendekat dan menggapai tanganku lalu aku jatuh ke dalam dekapannya. Perlahan ia membuatku berjejak di tanah dan berdiri.
"Apa yang terjadi?" tanyaku heran sambil masih berpegangan pada lengan Sotiras untuk menjaga keseimbangan tubuhku.
Sotiras menunjuk ke suatu arah dengan lirikan matanya.
Tampak Raja Dikaosyni datang dalam kebesarannya bersama dengan seorang penjaga. Mereka datang mendekat.
Raja tidak berbicara apapun. Ia hanya menjentikkan jarinya dan para pasukan kerajaan yang mematung itu kembali hidup dan bergerak. Sementara itu musuh masih dalam keadaan yang sama. Raja meminta pada pasukan kerajaan untuk datang mendekat dengan hanya mengangkat tangan kanannya. Setelah itu, tongkat yang ia bawa di tangan kanannya diketukkan ke tanah.
Tampak sesuatu yang terlihat seperti gelombang cahaya di udara yang kemudian menyambar musuh dan menghancurkan mereka dalam sekejap menjadi butiran debu. Segera setelah itu semuanya menjadi hidup kembali.
"Katastrepsei melarikan diri lagi. Kita belum mendapatkannya. Kita lebih baik menyusun strategi agar kita cepat menemukannya." Raja memberitahu dengan suara yang bijaksana. "Ayo kita kembali ke kerajaan."
Rasanya sangat lega dapat menginjakkan kaki di istana kembali. Tidak ada kata lain kali untuk menyelundup keluar dari istana diam-diam. Pertemuan dengan Katastrepsei satu kali sudah cukup membuatku jera.
"Apo!" Dari kejauhan Ratu berseru dan berlari menuju ke arahku. Ia memelukku dengan erat sesaat ia berada di dekatku. "Aku senang melihatmu kembali kesini."
Rasa hangat memenuhiku sampai-sampai aku melupakan nyeri yang muncul karena pelukan Ratu terlalu erat. Hatiku juga terasa seperti bunga yang mekar setelah disinari matahari. Seseorang merindukanku, menungguku pulang. Air mataku berlinang di kedua pipiku.
"Ibu--uh, maksudku, Ratu,"
Ratu membelai punggungku, "Kau boleh memanggilku ibu, Apo."
"Terima kasih," suaraku tiba-tiba menjadi lirih karena rasa haru yang begitu besar.
"Iya, sayang," ucap Ratu dengan lembutnya. Ia melepaskan pelukannya dariku dan memandangku dengan seksama. "Apa kau baik-baik saja?"
"Ibu, kurasa Apo sebenarnya menahan rasa sakit saat ibu memeluknya sangat erat tadi." Sotiras seolah bertindak menjadi juru bicaraku. Tepat saat aku enggan mengatakan bahwa aku terluka.
"Ada apa? Apa yang terjadi? Mengapa kau tidak memberitahuku? Kau bahkan tidak mengerang. Pelukanku tadi telah menyakitimu, bukan begitu?" Ratu mengucapkan serentetan perkataan yang seolah tak kunjung berhenti.
Aku tersenyum mendengarnya. "Sukacitaku mengetahuimu sedang menungguku pulang menutup rasa sakit karena luka di tubuhku, Ratu," ucapku meyakinkannya.
Ratu berdecak dalam senyumannya. "Sudah, sudah. Kau harus segera membasuh tubuh dan mendapatkan pengobatan."
Ratu memerintahkan para pelayan perempuan dan para tabib wanita untuk segera mengurusku. Mereka melayaniku dengan baik dan bahkan cukup sabar ketika aku menyerang kesakitan. Terkadang aku harus menahan perih karena tidak enak terlalu sering mengerang. Satu setengah jam berlalu sampai beberapa bagian tubuhku sudah diobati dan dibalut rapi.
~ UTD ~
Maaaaaaf bangeeeet baru update ya.. Baru ada waktu. Rencananya mau post dua atau tiga sekalian tapi masih belum ada waktu. Coba deh tar hari ini kalo bisa post satu lagi. Hoho. Enjoy!
0