- Beranda
- Stories from the Heart
Stories From The Heart
...
TS
banggolay
Stories From The Heart
ane menamai Novel ini Stories From The Heart, karena jujur ane masih belajar membuat novel, dan guru ane dari cerita cerita di forum ini.
ane tidak minta untuk agan menyukai novel ini, ini karya ane yang bisa dibilang ke 100, dari 99 novel ane yang tidak pernah selesai. novel novel sebelumnya tidak pernah selesai, karena ketika ane baca ulang dan hasilnya buruk, ane buang dan menulis baru lagi.
tidak ada yang gratis di zaman ini, maka dari itu jika ada kaskuser yang berhasil mengkritik ane bab demi bab sampai novel ane selesai, untuk juara satu akan ane kasih ganjaran sebesar 300.000 juara dua 100.000 dan juara tiga 50.000.
terima kasih kaskus!
ane tidak minta untuk agan menyukai novel ini, ini karya ane yang bisa dibilang ke 100, dari 99 novel ane yang tidak pernah selesai. novel novel sebelumnya tidak pernah selesai, karena ketika ane baca ulang dan hasilnya buruk, ane buang dan menulis baru lagi.
tidak ada yang gratis di zaman ini, maka dari itu jika ada kaskuser yang berhasil mengkritik ane bab demi bab sampai novel ane selesai, untuk juara satu akan ane kasih ganjaran sebesar 300.000 juara dua 100.000 dan juara tiga 50.000.
terima kasih kaskus!
Spoiler for INDEX:
Diubah oleh banggolay 24-03-2016 02:25
chotiarno720 dan anasabila memberi reputasi
2
4.9K
Kutip
18
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
banggolay
#1
Spoiler for Wake Me Up Before You Go Go:
Tidak seperti sore sore biasanya yang selalu hujan, sore itu langit Seattle berwarna jingga terang, angin dingin yang biasa menusuk diganti dengan angin sepoi sepoi yang menyejukkan, bagi orang orang yang sudah terbiasa dengan cuaca kota itu, mereka menggunakan kesempatan ini untuk camping, atau sekedar berjalan jalan dengan keluarga maupun pasangan ke downtown, mengagumi tingginya gedung gedung, space needle ,dan berbagai atraksi seniman jalanan dikota itu.
berbeda dengan anak muda itu, minggu sore, hari dimana setiap orang mengambil jatah untuk lari sejauh mungkin dari tanggung jawab dan kehidupan nyata, anak itu harus berada di pabrik laundry milik orang pakistan, bos yang menurut orang kejam, tegas, dan ketat pada anak buahnya. keringat bercucuran dan membasahi bajunya, bagaimana tidak, musim dingin pun akan terasa sangat panas didalam, apalagi hanya mereka berdua yang bekerja di musim panas, sementara yang lain mengambil libur musim panas, sialnya karena dia yang paling junior di tempat kerjanya, maka dia harus mengambil bagian bagian kerja terburuk, setrika uap dan memasukkan pakaian ke dryer yang panasnya minta ampun.
"esta caliente, amigo!" rekan kerjanya yang berkebangsaan mexico menggerutu dalam bahasa spanyol yang kurang lebih artinya "panas banget, bro!" , dia selalu menganggap anak muda indonesia itu, berkebangsaan philipina yang bahasa keduanya memang spanyol. dari perawakannya, seperti orang mexico selatan pada umumnya, kulit cokelat, tinggi standard orang latin sekitar 170cm, bertatoo di lengannya, entah tattoo apa mungkin semacam tattoo gangster atau hanya gambar yang dipilihnya di menu tattoo galery secara random.
"si, mucho caliente" dia senang rekan kerjanya berinteraksi dengannya dengan bahasa spanyol, karena dia bisa belajar bahasa spanyol secara tidak langsung, memang dari perawakannya anak muda itu, tinggi 175 cm, kulitnya kuning langsat , rambut necis gaya pompadour, sedikit berbeda dari gaya rambut pria asia kebanyakan yang memilih bergaya rambut panjang terurai, selalu memilih berpakaian rapi meski bekerja di lingkungan yang kotor seperti laundromat di sore hari dan membersihkan lingkungan kampus di siang hari, meski orang tuanya dari kalangan berada dan tetap membiayai biaya kuliahnya, namun dia lebih memilih bekerja untuk membayar living cost dengan bekerja kasar.
ini adalah tahun terakhir, tahun ke empatnya berada di negeri adidaya Paman Sam, dan tahun ke empatnya pula menjalani hubungan jarak jauh dengan kekasihnya di Jakarta yang berjarak 13 ribu kilometer jauhnya, yang sekarang sedang menikmati nyenyaknya tidur dibelahan dunia sana.
meski panasnya udara di dalam, keringat yang bercucuran, namun dia tidak pernah mengeluh, karena yang dia ketahui kalau hari ini adalah hari terakhirnya bekerja dan hari gajian, sedikit berbeda dari negara asalnya, gajian disini dilakukan 2 kali dalam satu bulan, di pertengahan bulan dan diakhir bulan, pada umumnya pekerja diharuskan mempunyai SSN singkatan dari Social Security Number, yang dimana pemerintah dapat melacak riwayat penghasilan individu untuk kepentingan pajak, karena dia adalah pelajar, yang tidak di izinkan untuk bekerja disana, dan temannya orang mexico adalah pendatang gelap, maka bos membayarkan gaji mereka dengan uang tunai.
"hey son, come here!" kakek berumur sekitar 70 tahunan, kumis dan janggut yang dipotong rapi, bermata sayu namun tidak ber kaca mata, rambut potongan rapi dengan uban yang ditutupi semir hitam yang dibelah pinggir, selalu memakai jas ketika datang ke tempat kerja, memanggil anak muda itu. dia lipat celana kain yang baru saja di setrikanya, di masukkan ke dalam plastik laundry dengan hanger dan di gantung di rolling sesuai dengan nomor notanya. dia berjalan ke tempat si kakek, di kasir depan, yang cukup jauh dari tempatnya menyetrika
dengan muka garang seakan ingin memangsa, si kakek sudah menunggu di mejanya. si anak muda selalu tahu semenjak hari pertamanya kerja, bahwa drama ini selalu terjadi di hari gajian. yang dimana sang kakek membuat buat kesalahan yang tidak pernah ada, panjang lebar selama hampir tiga puluh menit, dengan tujuan mengurangi gajinya. sepanjang ocehan itu, dia hanya membayangkan betapa lembutnya tangan kekasihnya disana, terakhir kali dia memegang tangan kecil itu, sesaat sebelum boarding, 4 tahun yang lalu, sayang kenangan terakhir yang ia punya dengan kedua mata bola ping pong kekasihnya, ketika mata itu di hiasi air mata tidak sanggup merelakan perpisahan dengannya, dia tidak sabar untuk pulang ke rumah membuka laptop dan menelfonnya, segala macam capek yang dia dapatkan sebagai mahasiswa full time, dan buruh kasar, seakan akan hilang, segala problema, sakit hati, semuanya luntur hanya dengan melihat sang kekasih menyapanya lewat layar laptop.
setelah menutup telinga dan memalingkan fikiran, dia tersenyum menyadari si kakek sudah berhenti berbicara, memberikannya amplop putih dengan namanya tertulis di kop surat "Adam", tidak di check olehnya berapa isi uang didalamnya, dia memasukkannya ke dalam saku celananya, memeluk si kakek, diikuti dengan kebingungan yang terpancar dari mimik mukanya, dan melepaskan genggamannya. meski dia adalah sosok menyebalkan ketika hari gajian, tapi dia adalah figur ayah baginya ketika hari biasa, tempatnya menuturkan kekesalan dan penyesalan. si kakek mempunya 3 anak perempuan yang semuanya sudah menikah, istrinya adalah korban dalam peperangan yang terjadi di pakistan pada tahun 1971. hingga dia mengadu nasib ke amerika pada tahun yang sama.
Adam menundukkan kepalanya menahan tangis, tidak menyangka dia kembali harus berpisah, mengucapkan selam perpisahan yang entah berapa kali sudah dia ucapkan kepada orang orang yang disayanginya, meninggalkan orang yang sudah dianggapnya keluarga. sedari kecil, dia selalu berpindah pindah tempat tinggal dan sekolah. jatuh bangun bisnis orang tuanya mesti dihadapinya, sampai ekonomi keluarganya stabil ketika dia SMA. yang beruntung baginya, karena menurut sebagian besar orang bahwa itu adalah masa terindah di kehidupan manusia.
"ayolah, kamu sudah 23 tahun, jangan menangis, seharusnya kamu berbahagia, kamu bisa melewati semua rintangan di depan kamu dengan nilai fantastis baik akademisi maupun kehidupan, betul jose?" si kakek menenangkannya, sambil mengelus pundaknya, meski ia tahu, ini juga sangat berat untuknya, ada penyesalan dari matanya yang tidak seharusnya dia membuat ikatan dengan anak muda ini, mengetahui dia kan pergi lagi dari hidupnya.
"betul, meski kamu sudah bosan dengan ungkapan spanyol dariku, aku akan tetap memberikanmu satu ungkapan lagi sebelum kamu pergi dan meninggalkan kami" Jose si orang mexico menambahkan, sambil kepalanya menengadah keatas, berfikir akan ungkapan yang ingin dia sampaikan, seakan mendapatkan ide, matanya bersinar dan berkata " A mal Tiempo, Buena cara" Jose menaikkan dagu Adam dengan telunjuknya dan berkata " meski dalam situasi sesulit apapun kamu harus tetap mengangkat wajah kamu".
"Saya percaya, kalau hari ini saya gajian" ungkap jose kepada si kakek, sang kakek yang tadinya terbawa suasana perpisahan, sambil mencari sesuatu di meja lacinya, ia menggerutu " kalian orang Mexico, fikirannya hanya uang dan uang, lama lama saya bisa menutup bisnis ini karena kalian selalu meminta gaji" Jose hanya tersenyum, berbeda dengan Adam, Jose sudah 11 tahun bekerja dengan si kakek, dan si kakek tidak bisa menipu jose dengan tipuan liciknya, karena jika jose keluar dari tempatnya, akan menimbulkan masalah yang sangat besar, dimana jose tau seluk beluk tokonya dari A-Z, akan susah mencarikan penggantinya. maka mengerutu lah hal yang paling bisa dilakukannya, Jose pernah berkata dengan Adam, kalau dia suka ketika kakek itu menggerutu, karena terdengar lucu olehnya. Adam yang disebelah Jose pun ikut tersenyum dengannya.
Adam tidak bisa berkata kata, ketika Jose memberikannya amplop yang baru saja diberikan si kakek kepadanya. amplop yang bertuliskan "JOSE" di kop nya. "berikan kekasihmu, suatu benda yang berkilau, dia pantas mendapatkannya" . Adam memeluk Jose, sebagai ucapan terima kasih " En Serio, muchas gracias!". tidak lama berselang pelanggan tetap si kakek memasuki toko, Mr. Harris, si kakek memanggilnya, tidak seperti pelanggan yang lain, dia tidak suka bercakap cakap, berbadan tinggi besar mantan NAVY, kulit putih dan selalu bersama anjing Beagle nya kemanapun dia pergi.
ketika Adam hendak kebelakang mengambil pakain Mr. Harris, namun Jose lebih dulu menahannya sebagai ungkapan solidaritas dia tidak ingin membuat Adam, bekerja lagi di menit terakhirnya. tidak kurang dari 5 menit Jose datang kembali dengan pakaian Mr.Harris, memberikannya kepada kakek agar di check kembali apakah ada pakaian yang lebih ataupun kurang, setelah si kakek menge check, Mr. Harris memberikan uang pecahan 100$ pada si kakek, lalu berjalan keluar.
"permisi Mr.Harris, kembalian anda" si kakek berteriak pada Mr. Harris yang sudah keluar, sembari memasukkan pakaian ke mobilnya " tidak, simpan saja, aku dengar tadi orang indonesia itu akan kembali ke kampung halamannya" Adam memandang Jose, dia hanya mengangkat bahu. si kakek memasukkan uang tersebut ke dalam mesin register, Jose berjalan ke arah si kakek " itu bukan sesuatu yang terpuji pak tua" dia memencet tombol biru bertuliskan CASH/TEND, mesin register terbuka, dan memberikan uang dengan pecahan 100$ ke Adam. si kakek hanya masam " hey, dia hanya bilang untuk disimpan, bukan untuk diberikan kepadanya" protes si kakek kepadanya, Jose hanya tersenyum mendengarnya " terserah kau saja pak tua".
******
Adam dan si kakek berkendara dengan mobil van tua berwarna abu abu si kakek, kursi belakangnya penuh dengan peralatan laundry, dan baju baju yang di gantung dengan hanger. biasanya permintaan khusus dari pelanggan, baju yang terkena noda yang tidak bisa dihilangkan dengan mesin laundry biasanya diberikan kepada si kakek, untuk dicuci dirumahnya dengan formula khusus yang biasa disebut oleh si kakek "Magic Formula".
Mobil Van tua itu melaju di Tol I-5, yang membentang dari perbatasan Oregon hingga Canada, selalu ramai namun tidak sampai membuat kemacetan. disisi kiri Adam, dia dapat melihat Lake Union, danau yang membelah kota kota di provinsi Washington, biasanya ketika hari kemerdekaan USA, Adam bersama teman temannya pergi ke utara Lake Union, bukit tinggi di selimuti rumput segar berwarna hijau, dari sana dia bisa melihat seluruh kota Seattle, berwarna warni di bisingkan dengan bunyi kembang api, mengganti warna langit dari gelap menjadi terang, sepanjang malam tanpa henti.
"terima kasih, sudah mau repot repot mengantarku, meski aku sudah ingin berangkat dengan bus " ungkap Adam kepada si kakek
si kakek melihat adam, berwajah bingung dan menambahkan " mungkin saya tidak mempunyai hati seperti emas, seperti Jose, yang memberikan hasil jerih payah keringatnya selama 14 hari kepada anak muda yang bahkan bukan saudaranya. tetapi saya punya common sense, lihat di sekitarmu, ini Amerika! kejam, dan tidak kenal ampun. ketika kamu masuk ke dalam toko perhiasan, sudah pasti akan ada orang yang membuntutimu bahkan hingga kau ke toilet umum sekalipun! dan ketika dia mempelajari bahwa kamu berkendara dengan bus, oh anakku, kamu akan menjadi makan malam yang lezat bagi mereka, kamu akan seperti.." si kakek terhenti memikirkan perumpamaan yang pantas dikatakannya
" ah, sudahlah cukup dengan analogy-mu, tetapi sekali llagi aku berterima kasih banyak atas kebaikanmu"
si kakek hanya diam tanpa jawaban, Adam berusaha memalingkan perhatian tidak merasa terganggu, sampai akhirnya dia tidak bisa menhannya lagi.
"apakah aku boleh mengganti lagunya?" lagu syahdu bollywood yang sudah dimainkan didalam mobil Van tua si kakek selama kurang lebih 30 menit lamanya, sangat menganggu imajinasinya, pemandangan hebatnya jalanan tol yang bertingkat dan Lake union di sore hari dengan lagu Bollywood yang diputarkan, dia selalu membayangkan ada dua sejoli berkejaran di tengah jalan tol, sang pemuda tidak sengaja menginjak kain saree si wanita, wanita itu terjatuh dan dengan sukses dilindas oleh kontainer, setidaknya sampai dia tidak sengaja mendapatkan kaset cd Wham! yang mungkin di miliki oleh anak si kakek, dan dengan nakal memutarnya tanpa persetujuan si kakek, hits "Wake me up before you go go" berdentum dengan indahnya, menemani sore pertama musim panas di Seattle.
"that's the spirit, oldman!"
berbeda dengan anak muda itu, minggu sore, hari dimana setiap orang mengambil jatah untuk lari sejauh mungkin dari tanggung jawab dan kehidupan nyata, anak itu harus berada di pabrik laundry milik orang pakistan, bos yang menurut orang kejam, tegas, dan ketat pada anak buahnya. keringat bercucuran dan membasahi bajunya, bagaimana tidak, musim dingin pun akan terasa sangat panas didalam, apalagi hanya mereka berdua yang bekerja di musim panas, sementara yang lain mengambil libur musim panas, sialnya karena dia yang paling junior di tempat kerjanya, maka dia harus mengambil bagian bagian kerja terburuk, setrika uap dan memasukkan pakaian ke dryer yang panasnya minta ampun.
"esta caliente, amigo!" rekan kerjanya yang berkebangsaan mexico menggerutu dalam bahasa spanyol yang kurang lebih artinya "panas banget, bro!" , dia selalu menganggap anak muda indonesia itu, berkebangsaan philipina yang bahasa keduanya memang spanyol. dari perawakannya, seperti orang mexico selatan pada umumnya, kulit cokelat, tinggi standard orang latin sekitar 170cm, bertatoo di lengannya, entah tattoo apa mungkin semacam tattoo gangster atau hanya gambar yang dipilihnya di menu tattoo galery secara random.
"si, mucho caliente" dia senang rekan kerjanya berinteraksi dengannya dengan bahasa spanyol, karena dia bisa belajar bahasa spanyol secara tidak langsung, memang dari perawakannya anak muda itu, tinggi 175 cm, kulitnya kuning langsat , rambut necis gaya pompadour, sedikit berbeda dari gaya rambut pria asia kebanyakan yang memilih bergaya rambut panjang terurai, selalu memilih berpakaian rapi meski bekerja di lingkungan yang kotor seperti laundromat di sore hari dan membersihkan lingkungan kampus di siang hari, meski orang tuanya dari kalangan berada dan tetap membiayai biaya kuliahnya, namun dia lebih memilih bekerja untuk membayar living cost dengan bekerja kasar.
ini adalah tahun terakhir, tahun ke empatnya berada di negeri adidaya Paman Sam, dan tahun ke empatnya pula menjalani hubungan jarak jauh dengan kekasihnya di Jakarta yang berjarak 13 ribu kilometer jauhnya, yang sekarang sedang menikmati nyenyaknya tidur dibelahan dunia sana.
meski panasnya udara di dalam, keringat yang bercucuran, namun dia tidak pernah mengeluh, karena yang dia ketahui kalau hari ini adalah hari terakhirnya bekerja dan hari gajian, sedikit berbeda dari negara asalnya, gajian disini dilakukan 2 kali dalam satu bulan, di pertengahan bulan dan diakhir bulan, pada umumnya pekerja diharuskan mempunyai SSN singkatan dari Social Security Number, yang dimana pemerintah dapat melacak riwayat penghasilan individu untuk kepentingan pajak, karena dia adalah pelajar, yang tidak di izinkan untuk bekerja disana, dan temannya orang mexico adalah pendatang gelap, maka bos membayarkan gaji mereka dengan uang tunai.
"hey son, come here!" kakek berumur sekitar 70 tahunan, kumis dan janggut yang dipotong rapi, bermata sayu namun tidak ber kaca mata, rambut potongan rapi dengan uban yang ditutupi semir hitam yang dibelah pinggir, selalu memakai jas ketika datang ke tempat kerja, memanggil anak muda itu. dia lipat celana kain yang baru saja di setrikanya, di masukkan ke dalam plastik laundry dengan hanger dan di gantung di rolling sesuai dengan nomor notanya. dia berjalan ke tempat si kakek, di kasir depan, yang cukup jauh dari tempatnya menyetrika
dengan muka garang seakan ingin memangsa, si kakek sudah menunggu di mejanya. si anak muda selalu tahu semenjak hari pertamanya kerja, bahwa drama ini selalu terjadi di hari gajian. yang dimana sang kakek membuat buat kesalahan yang tidak pernah ada, panjang lebar selama hampir tiga puluh menit, dengan tujuan mengurangi gajinya. sepanjang ocehan itu, dia hanya membayangkan betapa lembutnya tangan kekasihnya disana, terakhir kali dia memegang tangan kecil itu, sesaat sebelum boarding, 4 tahun yang lalu, sayang kenangan terakhir yang ia punya dengan kedua mata bola ping pong kekasihnya, ketika mata itu di hiasi air mata tidak sanggup merelakan perpisahan dengannya, dia tidak sabar untuk pulang ke rumah membuka laptop dan menelfonnya, segala macam capek yang dia dapatkan sebagai mahasiswa full time, dan buruh kasar, seakan akan hilang, segala problema, sakit hati, semuanya luntur hanya dengan melihat sang kekasih menyapanya lewat layar laptop.
setelah menutup telinga dan memalingkan fikiran, dia tersenyum menyadari si kakek sudah berhenti berbicara, memberikannya amplop putih dengan namanya tertulis di kop surat "Adam", tidak di check olehnya berapa isi uang didalamnya, dia memasukkannya ke dalam saku celananya, memeluk si kakek, diikuti dengan kebingungan yang terpancar dari mimik mukanya, dan melepaskan genggamannya. meski dia adalah sosok menyebalkan ketika hari gajian, tapi dia adalah figur ayah baginya ketika hari biasa, tempatnya menuturkan kekesalan dan penyesalan. si kakek mempunya 3 anak perempuan yang semuanya sudah menikah, istrinya adalah korban dalam peperangan yang terjadi di pakistan pada tahun 1971. hingga dia mengadu nasib ke amerika pada tahun yang sama.
Adam menundukkan kepalanya menahan tangis, tidak menyangka dia kembali harus berpisah, mengucapkan selam perpisahan yang entah berapa kali sudah dia ucapkan kepada orang orang yang disayanginya, meninggalkan orang yang sudah dianggapnya keluarga. sedari kecil, dia selalu berpindah pindah tempat tinggal dan sekolah. jatuh bangun bisnis orang tuanya mesti dihadapinya, sampai ekonomi keluarganya stabil ketika dia SMA. yang beruntung baginya, karena menurut sebagian besar orang bahwa itu adalah masa terindah di kehidupan manusia.
"ayolah, kamu sudah 23 tahun, jangan menangis, seharusnya kamu berbahagia, kamu bisa melewati semua rintangan di depan kamu dengan nilai fantastis baik akademisi maupun kehidupan, betul jose?" si kakek menenangkannya, sambil mengelus pundaknya, meski ia tahu, ini juga sangat berat untuknya, ada penyesalan dari matanya yang tidak seharusnya dia membuat ikatan dengan anak muda ini, mengetahui dia kan pergi lagi dari hidupnya.
"betul, meski kamu sudah bosan dengan ungkapan spanyol dariku, aku akan tetap memberikanmu satu ungkapan lagi sebelum kamu pergi dan meninggalkan kami" Jose si orang mexico menambahkan, sambil kepalanya menengadah keatas, berfikir akan ungkapan yang ingin dia sampaikan, seakan mendapatkan ide, matanya bersinar dan berkata " A mal Tiempo, Buena cara" Jose menaikkan dagu Adam dengan telunjuknya dan berkata " meski dalam situasi sesulit apapun kamu harus tetap mengangkat wajah kamu".
"Saya percaya, kalau hari ini saya gajian" ungkap jose kepada si kakek, sang kakek yang tadinya terbawa suasana perpisahan, sambil mencari sesuatu di meja lacinya, ia menggerutu " kalian orang Mexico, fikirannya hanya uang dan uang, lama lama saya bisa menutup bisnis ini karena kalian selalu meminta gaji" Jose hanya tersenyum, berbeda dengan Adam, Jose sudah 11 tahun bekerja dengan si kakek, dan si kakek tidak bisa menipu jose dengan tipuan liciknya, karena jika jose keluar dari tempatnya, akan menimbulkan masalah yang sangat besar, dimana jose tau seluk beluk tokonya dari A-Z, akan susah mencarikan penggantinya. maka mengerutu lah hal yang paling bisa dilakukannya, Jose pernah berkata dengan Adam, kalau dia suka ketika kakek itu menggerutu, karena terdengar lucu olehnya. Adam yang disebelah Jose pun ikut tersenyum dengannya.
Adam tidak bisa berkata kata, ketika Jose memberikannya amplop yang baru saja diberikan si kakek kepadanya. amplop yang bertuliskan "JOSE" di kop nya. "berikan kekasihmu, suatu benda yang berkilau, dia pantas mendapatkannya" . Adam memeluk Jose, sebagai ucapan terima kasih " En Serio, muchas gracias!". tidak lama berselang pelanggan tetap si kakek memasuki toko, Mr. Harris, si kakek memanggilnya, tidak seperti pelanggan yang lain, dia tidak suka bercakap cakap, berbadan tinggi besar mantan NAVY, kulit putih dan selalu bersama anjing Beagle nya kemanapun dia pergi.
ketika Adam hendak kebelakang mengambil pakain Mr. Harris, namun Jose lebih dulu menahannya sebagai ungkapan solidaritas dia tidak ingin membuat Adam, bekerja lagi di menit terakhirnya. tidak kurang dari 5 menit Jose datang kembali dengan pakaian Mr.Harris, memberikannya kepada kakek agar di check kembali apakah ada pakaian yang lebih ataupun kurang, setelah si kakek menge check, Mr. Harris memberikan uang pecahan 100$ pada si kakek, lalu berjalan keluar.
"permisi Mr.Harris, kembalian anda" si kakek berteriak pada Mr. Harris yang sudah keluar, sembari memasukkan pakaian ke mobilnya " tidak, simpan saja, aku dengar tadi orang indonesia itu akan kembali ke kampung halamannya" Adam memandang Jose, dia hanya mengangkat bahu. si kakek memasukkan uang tersebut ke dalam mesin register, Jose berjalan ke arah si kakek " itu bukan sesuatu yang terpuji pak tua" dia memencet tombol biru bertuliskan CASH/TEND, mesin register terbuka, dan memberikan uang dengan pecahan 100$ ke Adam. si kakek hanya masam " hey, dia hanya bilang untuk disimpan, bukan untuk diberikan kepadanya" protes si kakek kepadanya, Jose hanya tersenyum mendengarnya " terserah kau saja pak tua".
******
Adam dan si kakek berkendara dengan mobil van tua berwarna abu abu si kakek, kursi belakangnya penuh dengan peralatan laundry, dan baju baju yang di gantung dengan hanger. biasanya permintaan khusus dari pelanggan, baju yang terkena noda yang tidak bisa dihilangkan dengan mesin laundry biasanya diberikan kepada si kakek, untuk dicuci dirumahnya dengan formula khusus yang biasa disebut oleh si kakek "Magic Formula".
Mobil Van tua itu melaju di Tol I-5, yang membentang dari perbatasan Oregon hingga Canada, selalu ramai namun tidak sampai membuat kemacetan. disisi kiri Adam, dia dapat melihat Lake Union, danau yang membelah kota kota di provinsi Washington, biasanya ketika hari kemerdekaan USA, Adam bersama teman temannya pergi ke utara Lake Union, bukit tinggi di selimuti rumput segar berwarna hijau, dari sana dia bisa melihat seluruh kota Seattle, berwarna warni di bisingkan dengan bunyi kembang api, mengganti warna langit dari gelap menjadi terang, sepanjang malam tanpa henti.
"terima kasih, sudah mau repot repot mengantarku, meski aku sudah ingin berangkat dengan bus " ungkap Adam kepada si kakek
si kakek melihat adam, berwajah bingung dan menambahkan " mungkin saya tidak mempunyai hati seperti emas, seperti Jose, yang memberikan hasil jerih payah keringatnya selama 14 hari kepada anak muda yang bahkan bukan saudaranya. tetapi saya punya common sense, lihat di sekitarmu, ini Amerika! kejam, dan tidak kenal ampun. ketika kamu masuk ke dalam toko perhiasan, sudah pasti akan ada orang yang membuntutimu bahkan hingga kau ke toilet umum sekalipun! dan ketika dia mempelajari bahwa kamu berkendara dengan bus, oh anakku, kamu akan menjadi makan malam yang lezat bagi mereka, kamu akan seperti.." si kakek terhenti memikirkan perumpamaan yang pantas dikatakannya
" ah, sudahlah cukup dengan analogy-mu, tetapi sekali llagi aku berterima kasih banyak atas kebaikanmu"
si kakek hanya diam tanpa jawaban, Adam berusaha memalingkan perhatian tidak merasa terganggu, sampai akhirnya dia tidak bisa menhannya lagi.
"apakah aku boleh mengganti lagunya?" lagu syahdu bollywood yang sudah dimainkan didalam mobil Van tua si kakek selama kurang lebih 30 menit lamanya, sangat menganggu imajinasinya, pemandangan hebatnya jalanan tol yang bertingkat dan Lake union di sore hari dengan lagu Bollywood yang diputarkan, dia selalu membayangkan ada dua sejoli berkejaran di tengah jalan tol, sang pemuda tidak sengaja menginjak kain saree si wanita, wanita itu terjatuh dan dengan sukses dilindas oleh kontainer, setidaknya sampai dia tidak sengaja mendapatkan kaset cd Wham! yang mungkin di miliki oleh anak si kakek, dan dengan nakal memutarnya tanpa persetujuan si kakek, hits "Wake me up before you go go" berdentum dengan indahnya, menemani sore pertama musim panas di Seattle.
"that's the spirit, oldman!"
0
Kutip
Balas