Kaskus

Story

rahanAvatar border
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
29K
213
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.5KAnggota
Tampilkan semua post
rahanAvatar border
TS
rahan
#228
EPISODE 12


GOOD BYE ALBETISTRA





"Padre, Albetistra akan meledak. Dan kami akan pergi untuk mencoba mencegah ini terjadi Padre." Ibang membuka percakapan.

"Ya, aku pun sudah bicara dengan Raya. Aku dengar dari Dandra, kalian akan mengajak Raya dalam perjalanan kalian?" tanya Padre.

"Benar Padre, kami perlu medium dan ia adalah orang yang membawa kabar ini. Akan sulit bila saat ini kami harus bergerak tanpa petunjuk dari Raya, Padre." Songke menjawabnya.

"Kapan kami harus meninggalkan tempat ini? Aku bisa menerima telepati. Tapi aku tidak yakin kalian akan bisa mengirimkan telepati dari Alexandria. Dan Googlax tentunya tak akan tinggal diam. Kami pun mungkin akan kehilangan nyawa kami bila ledakan itu benar-benar terjadi, tapi kami tidak khawatir akan hal itu. Kami tidak percaya ramalan, tetapi kita bisa bertindak dengan keputusan seorang pemimpin. Pertanyaannya adalah, apakah kau orang yang akan menjadi pemimpin kami Songke, Ibang?" tanya Padre.

Yang ditanya hanya bisa saling berpandangan. Padre adalah sosok yang dihormati dan disegani oleh para Albetistran. Googlax tidak boleh mengetahui apa yang akan terjadi di tempat ini, tetapi itu artinya ada resiko para Albetistran akan tetap terperangkap di Albetistra.

"Aku rasa aku akan membuat permintaan khusus di Alexandria." Songke berujar cepat setelah berpikir beberapa saat.

"Kau akan menyerahkan diri lagi?" ucap Padre.

"Tidak menyerahkan diri Padre. Negosiasi. Sudah waktunya Googlax menerima terjadinya perubahan.

"Tapi itu tak mungkin terjadi. Googlax tidak bernegosiasi dengan Albetistran." Padre terdengar khawatir.

"I'm gonna make him an offer he can't refuse." Songke berkata dengan yakin.

--------


“Semua sudah selesai berkemas?” Ibang menegaskan pada Raya dan ketiga temannya

“Sudah sip semua. What now?” tanya Dandra.

“Dia mau ajak jalan kaki 4 hari,” ucap Jonson menunjuk pada Songke.

“Eh?! Kok kau bisa tahu sih?” Yang ditunjuk terkejut karena ia merasa belum cerita kepada siapapun.

“Aku pun sudah lihat, dari sini ke Alexandria, 4 days walking distance. Tak susah pun baca pikiran awak. Kita mau ke Alexandria, kan.” Jelas Jonson lagi.

Jonson jelas semakin pintar. Ibang, Dandra, dan Songke dalam diam saling bertukar pandang. Ini sangat aneh bagi mereka.

“Time out sebentar,” ucap Songke.

“Kenapa kau tiba-tiba makin tambah pintar? Ada sesuatu yang sepertinya meleset dalam perhitunganku.”

Songke mulai berjalan mondar-mandir di ruangan tersebut.

“Yang aku tahu sebagai fakta, adalah:
1. Ransum Googlax adalah upaya Googlax mensabotase Albetistran.
2. Ransum memberi pengaruh aneh pada Jonson. Kita sudah buat reversanya dari zat itu.
3. Raya peramal yang selalu tepat, ada ledakan Albetistra dan Ophelia di visinya.
4. Ophelia ada di Alexandria, dan kita harus kesana.”

“Lalu apa yang aneh?” ujar Dandra lagi.

“Dalam perhitunganku, Ophelialah yang akan membuat Alexandria meledak. Mengapa? Karena ia adalah salah satu master yang bertugas di Dewan Militer di Googlax, dan ia bertanggung jawab atas persenjataan berat. Dalam perhitunganku, Googlax TIDAK TAHU apa yang akan terjadi, atau Googlax TIDAK TAHU bahwa Albetistra akan meledak, dan bahwa Ophelia akan bunuh diri. Dan juga ia tidak tahu bahwa ransumnya akan membuat kontradiksi pada Jonson. Tapi, bagaimana bila perhitunganku salah? Bagaimana bila Googlax tahu bahwa akan terjadi ledakan, dan penyebabnya? Ataukah Googlax tahu akan terjadi ledakan tapi tidak tahu penyebabnya?” Songke kembali meracau seperti biasa ia lakukan saat gelisah atau over-excited.

“Aku curiga yang terakhir, Googlax tahu bahwa akan terjadi ledakan. Tapi mereka tidak tahu penyebabnya. Dan itulah mengapa mereka berupaya melumpuhkan Albetistran dengan cara seperti ini?! Bukan karena mereka ingin segera mengakses isi kepala kita, tetapi karena mereka ingin menghindarkan terjadinya ledakan tersebut. Karena mereka berpikir bahwa Albetistran lah yang akan menyebabkan ledakan tersebut dan bukan salah satu dari Master yang terkoneksi Googlax. Dan ini menimbulkan pertanyaan besar, bagaimana cara mereka tahu bahwa ledakan itu akan terjadi, mereka tidak punya “visi” seperti yang dimiliki Raya. Aku harus bisa membedakan kesengajaan dan mana yang ketidaksengajaan. Mana yang diketahui Googlax, mana yang diatur langit. Tanpa itu, aku hanya akan menarik kesimpulan berdasarkan asumsi yang keliru.”

“Aku punya pertanyaan yang lebih penting.” Jonson tiba tiba berkata.

“Apa yang membuatmu yakin Ophelia tidak meledakkan tempat ini sekarang atau dalam waktu dekat? Apa yang membuatmu merasa ia akan menunggu kita dalam 4 hari atau bahwa ledakan itu akan terjadi setelah 4 hari?” Jonson melanjutkan pertanyaannya dan membuat semua orang bahkan Songke terdiam tak percaya.

Hening sesaat di ruangan itu. Hingga Songke kembali tersenyum.

“Wah-wah. Sekarang jelas semuanya, dengan kau yang sepintar ini, ini jelas perbuatan langit.”
Ia menghela nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan.
“Kau benar Jonson. Aku hanya menggantungkan diri pada harapan kosong. Tidak ada penjelasan ilmiah yang aku gunakan untuk kepercayaanku itu. Hanya berharap ada sedikit keadilan langit masih tersisa, bahwa ada sedikit waktu untuk kita menegakkan apa yang kita percayai sebagai kebenaran. Ayo kita bergerak sekarang. Mungkin tak banyak waktu tersisa.”

Pemuda bilik Indonesia bergerak keluar. Raya mendampingi mereka, berjalan di tengah empat sekawan itu.
Diubah oleh rahan 18-02-2016 12:10
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.