Kaskus

Story

angmawAvatar border
TS
angmaw
A Choice Without Regrets
TRY

A Choice Without Regrets


Quote:


Sebuah potongan lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi asal USA, Asher Monroe Book. Lirik yang mengingatkan kita akan kata 'move on' sangat gamblang dijelaskan dalam lagu ini. Inti dari lagu ini adalah cinta tidak harus memiliki, yang penting diperjuangkan, jangan takut untuk mencoba dan mengambil resikonya.


Spoiler for Asher Monroe Book - Try:


Pilihan adalah sesuatu yang akan kita temui dalam hidup ini. Mau tidak mau kita harus memilih jalan yang akan kita ambil. Baik atau burukkah hasil yang akan kita dapatkan nanti? Who knows? Kita hanya menjalani apa yang telah digariskan oleh Tuhan. So, keep try! Tetap mencoba dan jangan ada penyesalan akan apa yang telah kita pilih nantinya.


Yap, ini adalah sepenggal kisah masa lalu gua. Tahun-tahun yang sangat berarti dalam hidup gua akan gua kenang kembali dan gua tuangkan disini. Cerita ini real adanya dan sesuai dengan pengalaman hidup gua. Mohon maaf untuk menjaga privasi gua tidak mencantumkan nama asli dalam tokoh-tokoh yang akan gua angkat selain nama gua.


Quote:


Happy Reading!
Diubah oleh angmaw 19-03-2016 23:27
0
4.8K
34
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
angmawAvatar border
TS
angmaw
#24
PART 08


Quote:


Di suatu pagi yang cerah, gua yang baru sampai di parkiran sekolah tiba-tiba menerima panggilan telepon. Di layar tertera nama Tari, Tari masih menghubungi gua dengan intensitas yang sama entah sms atau telepon sekedar berbasa-basi menanyakan kabar atau hal yang tidak penting lainnya.

“Hallo,”gua menjawab.

“Prik, bilangin ke kelas ya aku gak masuk lagi sakit soalnya,” terdengar nada memelas di seberang sana.

“Wee Tari kita kan beda sekolah,”

“Yee mampir kek ke sekolahku, masuk ke kelasku trus bilangin deh kalau akunya lagi sakit,”

“Males Tar, aku juga gak kenal siapa-siapa disana. Telepon temen kelasmu kek,”

“Ih gitu banget kamu prik, aku gak punya pulsa buat telpon temenku,”

“Lah ini kamu nelpon gak pake pulsa?!”

“Hehe gratisan ini,”

“Ya ntar aku telpon Windy dah,”

“Hehe makasi ya prik,”

Tuuuttt, telepon ditutup. Ada-ada aja ni anak, batin gua. Kemudian sesuai janji gua menelepon Windy memberi tahu kalau Tari gak masuk karena sakit. Setelah gua menutup telepon dan menyimpannya di saku celana, terasa ada yang mencolek punggung gua. Gua menoleh ternyata Arika berdiri di belakang gua dengan seragam sekolah rapi, memeluk tas dan dengan senyumnya yang manis.

“Pagi Adi,” Arika menyapa gua ramah.

Gua terdiam, masih menatap senyumnya. Senyum paling manis yang pernah gua lihat, senyum yang terukir dari lekukan bibir tipis dengan titik hitam kecil di atasnya. Memang hati tak bisa berbohong, hanya melihat senyumnya saja membuat hati gua berdebar. Sedikit lebay memang, tapi itulah yang gua rasakan.

“P… Pagi Arika,” jawab gua gugup.

“Ciieee yang pagi-pagi di telepon pacar,” katanya menggoda gua.

“Eh.. Temen Rik, tadi temen kok,”

“Temen apa temen hihi,”

“Mulai dah,”

“Haha gitu aja ngambek, dah yuk masuk ke kelas,”

Gua menganggukkan kepala dan kami pun menuju ke kelas dengan bergandengan tangan. Ciaelah boro-boro gandengan, ngobrol dengannya aja gua masih gugup haha. Sepanjang perjalanan menuju kelas tak henti gua dan Arika bercanda tawa. Arika anaknya memang enak di ajak ngobrol, apalagi setelah mengenalnya cukup lama (baru 2 minggu haha), dan akhirnya gua tahu Arika punya hobi yang sama dengan gua. Baca komik.

“Oh ya, nanti pulang sekolah kamu sibuk gak di?” Tanya Arika masih tetap melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.

“Gak sih, kenapa?” Tanya gua balik seraya mengekor dibelakangnya.

“Hmm, ya udah kalau gitu entar pulang sekolah kita jalan yuk. Temenin aku ke Gramed beli komik.”

Gua berhenti. Pasang wajah sok mikir. Jalan? Sama Arika? Asik juga, walau notabenenya kami cuma teman, tapi kan selama ini gua menyukainya diam-diam. Dan kali ini gua di ajak jalan, itu termasuk kencan bukan sih? Tanpa sadar bibir gua membentuk senyuman samar.

“Nggak usah kelamaan mikir. Pokoknya temenin aku, kita jalan. Titik!” tandas Arika tegas.

Kali ini tanpa pikir panjang gua langsung mengangguk. Membuat Arika ikutan tersenyum sebelum akhirnya berjalan meninggalkan gua yang masih diam terpaku.

Begitu tiba di kelas, suasana masih sepi hanya terlihat dua onggok manusia, Hendra dan Erna yang sedang asyik mengobrol. Trus Arika? Gua juga ga tahu, gua cuma melihat tasnya yang tergeletak di atas meja. Gua kemudian menuju bangku sebelah Hendra, meletakkan tas diatas meja dan mulai duduk. Tanpa sadar senyum yang sama masih bertengger di bibir gua. Senyum bahagia mengingat ajakan Arika tadi.

“Ehem, kayaknya ada yang lagi seneng nih?”

Gua menoleh, mendapati Hendra yang kini duduk semakin dekat dengan gua. Menyadari Hendra sedang berkata pada gua, gua hanya mampu membalas dengan senyuman.

“Ada apa ni, cerita dong,” kini Erna yang bertanya ketika melihat pertanyaan Hendra sebelumnya yang tak gua respon.

Kali ini gua hanya menggeleng. Terlihat mereka sedikit mengernyitkan dahi dan saling memandang.

“Lu sakit cong?” tanya Hendra seraya menempelkan telapak tangannya ke dahi gua.

Gua tak menjawab pertanyaannya, dengan masih tersenyum gua menjulurkan tangan kehadapannya bergaya seperti sedang meminta sesuatu.

“Apaan?” tanya Hendra masih penasaran.

“Pinjem PR IPA lu, gua belum buat,”

“Sialan gua kira apaan? Kebiasaan lu ternyata masih cong haha,” kata Hendra sambil memukul lengan gua. Terlihat Erna juga tertawa.

--

Bel sekolah berbunyi. Waktu yang gua tunggu sedari tadi, jam pulang. Gua dengan tergesa-gesa merapikan buku dan memasukkannya ke dalam tas. Gua menoleh kedepan dan tak mendapati Arika di bangkunya. Gua melihat sekeliling mencari sosok Arika. Mata gua terhenti, terlihat dari balik jendela Arika sedang berbicara sambil memegang hape yang di tempelkan di telinganya. Lama gua menatapnya, kemudian Arika melirik ke arah gua. Ia tersenyum dan membuka telapak tangannya mengisyaratkan gua untuk menunggu. Gua mengangguk pelan dan menunjuk ke arah bawah mengartikan bahwa gua akan menunggunya di lantai satu. Ia merepon dengan manganggukan kepala sambil tersenyum.

Gua melangkah keluar kelas dan menuruni anak tangga, gua menunggu di depan kantin seraya bersandar di dinding menatap ke arah tangga. Lewat 20 menit dan tak terlihat batang hidung Arika melewati tangga tersebut, hanya segelintir orang dan teman-teman kelas gua yang menuruni anak tangga. Gua mengambil hape di saku celana berniat menghubungi Arika. Terlihat di layar hape gua sebuah pesan SMS, gua lupa hape gua mode silent sedari tadi.

“Maaf banget di, jalannya lain hari ya. Ada urusan mendadak nih. Sekali lagi maaf ya,” dari Arika 15 menit yang lalu.

Gua menghela nafas panjang, dengan langkah gontai gua berjalan menuju tempat parkir dan bersiap untuk pulang. Setelah berjalan melewati halaman sekolah, langkah gua terhenti. Gua melihat Arika yang telah mengenakan jaket berwarna hijau berdiri didepan gerbang sekolah, sepertinya ia menunggu seseorang untuk menjemputnya. Gua mengangkat tangan dan berniat memanggilnya. Namun belum ada sepatah kata pun keluar dari mulut gua, terlihat seorang cowok yang mengendarai sepeda motor berhenti di depan Arika. Ia mengenakan helm yang diberikan cowok itu dan kemudian duduk di jok belakang motor. Arika memeluk cowok itu dari belakang, dan kemudian mereka berlalu.

Gua yang masih diam terpaku di temani teriknya sinar matahari hanya bisa menunduk, gua tersenyum kecut kemudian berkata, “Bodohnya gua, gua menyukai cewek yang gua baru tahu ternyata… Dia sudah ada yang punya.”

Quote:


Spoiler for HIVI! - Orang Ketiga:
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.