- Beranda
- Stories from the Heart
A Choice Without Regrets
...
TS
angmaw
A Choice Without Regrets
TRY

Quote:
Sebuah potongan lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi asal USA, Asher Monroe Book. Lirik yang mengingatkan kita akan kata 'move on' sangat gamblang dijelaskan dalam lagu ini. Inti dari lagu ini adalah cinta tidak harus memiliki, yang penting diperjuangkan, jangan takut untuk mencoba dan mengambil resikonya.
Spoiler for Asher Monroe Book - Try:
Pilihan adalah sesuatu yang akan kita temui dalam hidup ini. Mau tidak mau kita harus memilih jalan yang akan kita ambil. Baik atau burukkah hasil yang akan kita dapatkan nanti? Who knows? Kita hanya menjalani apa yang telah digariskan oleh Tuhan. So, keep try! Tetap mencoba dan jangan ada penyesalan akan apa yang telah kita pilih nantinya.
Yap, ini adalah sepenggal kisah masa lalu gua. Tahun-tahun yang sangat berarti dalam hidup gua akan gua kenang kembali dan gua tuangkan disini. Cerita ini real adanya dan sesuai dengan pengalaman hidup gua. Mohon maaf untuk menjaga privasi gua tidak mencantumkan nama asli dalam tokoh-tokoh yang akan gua angkat selain nama gua.
Quote:
Happy Reading!
Diubah oleh angmaw 19-03-2016 23:27
0
4.8K
34
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54KAnggota
Tampilkan semua post
TS
angmaw
#23
PART 07
Hari-hari gua sekolah berjalan seperti biasa, gua sudah mulai berinteraksi dengan teman-teman yang lain. Gua memang orangnya susah untuk memulai suatu percakapan, walaupun sejatinya gua introvert tapi karena teman sekelas rata-rata ramah gua jadi cepat berbaur. Tapi ada satu kumpulan cewek-cewek rese bernama genk ‘Bajigur’, genk yang diisi 6 cewek cantik, modis, elegan, dan rata-rata kaya. Pokoknya calon istri idaman dah itu kata Hendra, tapi gua gak tertarik karena sifat mereka yang angkuhnya bukan main. Terlihat dari cara mereka memperkenalkan diri di depan kelas, gaya bicaranya, cara berdirinya, pokoknya buat gua ga respect dengan mereka. Mereka duduk bergerombol di bangku bagian tengah dan jarang bergaul dengan teman sekelas, mereka berinteraksi hanya dalam satu komunitas, itulah genk ‘Bajigur’.
Tapi dari keenam cewek itu ada satu cewek yang dari pertama ketemu sangat ramah ke gua, anehnya hanya ramah ke gua. Ke Hendra, Erna, Arika atau ke teman sekelas lainnya pun sifatnya sama seperti teman satu genk-nya, rese abis. Nama cewek itu Riska, berwajah cantik khas blasteran India, berkulit putih, rambut lurus sebahu, body nya beuh tinggi dan seksi abis.
--
“Dor!”
“Eh!”kata gua spontan saat tiba-tiba ada seseorang yang mengagetkatkan gua di susul suara gelak tawa.
“Hahaha, kaget ya di? Ngelamun aja sih,”
Saat itu jam istirahat. Gua yang lagi berdiri di balkon kelas, membungkuk melipatkan tangan yang tertumpu di atas tembok balkon sembari menatap sawah yang terhampar luas sejauh mata memandang.
“Riska! Ga punya kerjaan apa?!” geram gua. Mata gua menyipit menatap ke arah sosok cewek yang kini masih tampak berusaha menahan tawanya. “Kayaknya kamu seneng banget ya, bisa mati muda terus dikagetin mulu,” sambung gua lagi sambil mengalihkan tatapan gua ke arah hamparan sawah.
“Jangan lebay. Kamu nggak ngidap lemah jantung jadi gimana ceritanya bisa mati muda,” Riska mencibir. Sebelum mulut gua kembali terbuka ia sudah terlebih dahulu menambahkan, “Boleh tanya sesuatu gak di?”
“Tanya aja, isi permisi segala,” jawab gua.
“Ehem, sebenernya kamu punya hubungan apa sama Arika?” Riska kembali bertanya.
“Hah?” refleks gua menoleh. Menatap lurus ke arah Riska yang kini juga sedang menatap gua.
“Kalian pacaran ya? Habis tak lihat kamu akrab banget sama dia,” selidik Riska dengan nada menuduh.
“Ha? Ya enggaklah. Apaan sih, kamu kan tahu kami cuma temenan,” elak gua cepat. Gua gak mau gosip yang aneh-aneh beredar. Bukannya gimana, gua takut kabar tersebut buat hubungan pertemanan gua dan Arika jadi memburuk. Belum juga deketin udah jadi musuh duluan, pikir gua.
“Yakin cuma nganggep dia temen?”
Tanpa ragu gua mengangguk cepat. Gantian gua yang merasa heran saat melihat senyum lega terukir di wajah Riska.
“Bagus deh,” kata Riska dengan senyum sumringahnya. “Nih, mau?” sambungnya seraya memberikan gua sebotol Teh P*ci yang sedari tadi dipegangnya.
“Ciah, tahu aja temen lagi haus,” kata gua seraya mengambil botol tersebut dengan sukarela. Sruttt, “Ah! Segernya. Teh P*ci memang selalu di hati,” sambung gua antusias setelah meminumnya.
“Kalau aku ada di hatimu gak di?”
Hampir aja teh yang gua sedot keluar dari hidung, gua segera menatap ke arah Riska yang tampak menunduk malu. Ia tak menyadari ekspresi shock di wajah gua akan pertanyaan yang baru saja keluar dari mulutnya.
“Eh maksudnya?”
“Mmmm, aku suka sama kamu di.”
Gua diam terpaku. Gua gak salah dengar kan? Seorang cewek mengungkapkan perasaannya ke gua, dan gua tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.
“Kamu mau kan di jadi pacarku?” tanya Riska sambil mengangkat wajahnya. Tersenyum penuh harap pada gua.
Hening. Pertanyaan yang membuat gua makin shock, ini untuk pertama kalinya gua di tembak cewek.
“Aku….” Belum sempat gua melanjutkan kata-kata, tawa Riska meledak seakan menonton acara lawak yang sangat lucu.
“Hahahaha….”
Gua mengernyitkan dahi, mencoba menerka apa maksud dari tawanya itu.
“Hahaha… Liat deh mukamu di lucu banget, keliatan shock gitu hahaha,” kata Riska masih dengan tawanya.
“Sialan,” Gerutu gua.
“Hahaha, santai di becanda doang kok,” sambil menepuk punggung gua, “Udah ya di, bentar lagi masuk. Jangan dimasukin ke hati ya sayang,” sambungnya masih menggoda gua.
“Bodo!”
“Hahaha…”
Dan Riska pun berlalu menuju ke kelas. Sial, kena lagi gua. Riska memang orang yang ramah, tapi paling sering ngisengin gua. Seperti tadi, gua terbawa suasana kemakan ‘akting’ yang dimainkan Riska. Gua benar-benar melihat ekspresi nyata dari Riska, ia seakan berkata dari hati tentang perasaannya. Jujur, jika tadi adalah hal nyata yang terjadi mungkin gua gak bisa menerimanya. Bukannya gua munafik, siapa coba yang gak kepengen cewek cantik muka India dengan badan yang seksi, jadi pacar lagi. Tapi ya saat itu gua memang belum menyukai Riska, apalagi ditembak secara mendadak gitu.
Teetttt, bel masuk berbunyi. Dengan menghela nafas panjang gua membuang botol teh ke tempat sampah yang ada di samping bibir pintu dan melangkahkan kaki menuju ke ruang kelas. Gua duduk tepat dibelakang Arika yang tengah sibuk menopang dagu sambil menunduk membaca buku. Seandainya saja sandiwara tadi menjadi nyata dan pemeran ceweknya adalah…
Arika.
0