Kaskus

Story

galonze.b.c.n.bAvatar border
TS
galonze.b.c.n.b
1 Flat! 2 Wanita! 2 Cerita!
 1 Flat! 2 Wanita! 2 Cerita!

1 Flat2 Wanita 2 Cerita

 1 Flat! 2 Wanita! 2 Cerita!



Quote:


Spoiler for Rules:


Spoiler for F.A.Q:


Quote:
Diubah oleh galonze.b.c.n.b 11-06-2016 21:40
jabo218Avatar border
njek.lehAvatar border
sormin180Avatar border
sormin180 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
1.1M
3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.6KAnggota
Tampilkan semua post
galonze.b.c.n.bAvatar border
TS
galonze.b.c.n.b
#1417
Part 59 Eh…., Tante?
Hari telah berganti dan waktu pun terus berlalu, gak ada kesibukan lain selain tugas-kuliah-tugas-kuliah-tugas di kampus. Akhirnya malam minggu pun tiba, gue bersiap menuju ke rumah mila. Ya dia akhir akhir ini lebih senang tinggal di rumah om nya ditemani adiknya, selain karena mereka ingin dekat tentunya mila ingin kembali memperbaiki hubungan yang buruk dengan adiknya.

Saat motor ini melaju dengan kecepatan normal disebuah komplek perumahan yang cukup besar, tampak seorang wanita mengepalkan tangannya keatas, dengan senyum manis di birnya yang khas tentu memberikan semangat untuk segera menjemputnya. Gue lihat hari itu dia berpakaian nampak tidak seperti biasanya, dengan rambut yang telah di cat menjadi hitam dan diurai kebelakang disertai dengan memakai kaos lengan pendek yang sering ia pakai di Flat, tapi tetep saja tidak bisa menyembunyikan dada yang makin hari makin membusung. dengan celana jeans hitam serta High heel yang membuat dia semakin cantik,anggun dan lebih dewasa.

“nggak usah dimatiin” ucap dia sambil menutup pintu gerbang.

“ayo jalan, kok malah bengong” ucap mila yang sedaritadi melihat gue hanya bengong ke arah dia.

“eh iya mbak” ucap gue.

“Sekali lagi kamu panggil aku mbak, aku turun! Mending aku tidur aja dirumah” ucap dia jutek.

“eh… iya mbak… eh miel…” jawab gue sedikit gugup.

“Jalan!” ucapnya dengan ketus.

“iya sabar sabar, kayak naik tukang ojek aja pengen cepet cepet” jawab gue.

“jadi marah nihhh? Yaudah aku turun!” ucap dia jengkel.

“eh eh, enggak kok enggak marah, ya udah ayok jalan” ucap gue sambil menstarter motor.

“hhihihih” tawa dia.

“kok malah ketawa?”

“eh… enggak enggak lucu ajah..” jawab mila.

“ayoo cepetan jalan mas” ucap dia sambil memeluk dari belakang.

“apa?” ucap gue sedikit kaget dia memanggil dengan sebutan mas.

“eh enggak enggak, ayoo cepetan jalan udah lapar ni nungguin kamu daritadi” ucap dia.

“oke!” gue mulai menarik gas motor untuk melaju meninggalkan komplek rumahnya.

“eh bentar!” ucap mila mendadak yang membuat gue mengerem mendadak sehingga dada yang membusung itu menghantam punggung dan…. Uhhhhhhh enyyyoyoyyyyy.

“ihhhh pelan pelan karo ngerem! Cari kesempatan ya?” ucap mila.

“yeee siapa yang nyari kesempatan? Salah sendiri kamu ngomongnya ngedadak gitu” jawab gue.

“dasar cowok! Sama cewek gak mau ngalah!” ucap mila sambil mencubit punggung.

“awwwwwwww iya maaf….”

“kita mau makan dimana? Ucap mila sambil mendekatkan kepalanya ke bahu sebelah kiri.

“di café deket kampus aja, biar romantis” ucap gue.

“biar romantis atau biar murah?” ucap mila.

“heheheh” jawab gue sedikit malu.

“ya udah, ayuk jalan” ucap mila.

Akhirnya motor ini berjalan keluar komplek ditunggangi oleh dua orang, yang dimana satu orang didepan sedang bahagia sekali malam itu dan satu orang yang dibelakang hanya diam memeluk saja. Jalam malam telah ditelusuri dan akhirnya sampai juga di café dekat kampus. Café ini memang nampak besar dan nyaman, setelah masuk kedalam kita mencari tempat yang lebih nyaman, tempat yang dekat dengan sebuah kolam ikan. Setelah duduk dan menunggu akhirnya pelayan datang dan menawarkan kami makanan, gue sendiri sudah nampak akrab dengan pelayan pelayan di café ini karna memang café ini tempat kita nongkrong selain di warung depan kampus.

“MATAMU ITU! Celingak-celinguk! Nyari apa? Liatin cewek yang bening ya? Gak sopan! Udah bawa cewe masih aja nyari yang lain” ucap mila.

“eh enggak, Cuma pengen waspada aja! Kalau tiba tiba ada yang gebrak meja lagi kayak dulu gimana? hehehe” ucap gue.

“ihhhh apaan sih kamu! Awas ya!!!” ucap dia sambil mencoba mencubit tangan gue.

Tawa canda kami keluar saat malam itu, namun hingga saat ini gue masih tetap menganggap ada batasan diantara kami berdua, maklumlah kitakan belum ada hubungan apa apa. Setiap kali melihat wajah dia hati ini serasa nyaman sekali. Indah sekali makhluk hawa didepan ini.
Tak lama kemudian pelayan datang dengan pesanan yang telah dipesan, membawakan makanan dan minuman di kedua tangannya. Kami berdua dengan lahap menyantap makanan yang telah dipesan, tapi nakalnya mata ini selalu saja mencoba mencoba mencuri curi pandang ke wajahnya yang terlihat anggun itu.

“kalau makan yang makan aja! Gak usah lihat kemana mana, baru pertama kali ya liat cewek cantik?” ucap dia yang mulai sadar sedaritadi gue perhatikan.

“ihh geer siapa juga yang liatin kamu, aku liatin tuh kolam ikan dibelakang kamu bagus bagus ikannya” jawab gue berbohong.

“owhhh gitu. Ya udah..” ucap mila sambil menggeser tempat duduknya.

“lho kok pindah??” tanya gue heran.

“dah sana! Sekarang liatin aja tuh kolam ikan sepuas kamu, katanya bagus” jawab mila sambil kembali menyantap hidangannya.

“MATI! Ini anak kenapa jadi berubah gini?” ucap gue didalam hati.

Kita kemudian melanjutkan makan lagi, dengan dia yang telah pindah kesamping tapi tetap saja mata ini dengan sendirinya bergeser ikut ke samping untuk sekedar melihatnya makan. Entah kenapa hari ini dia cuek sekali, setiap kali makan dia melihat kedepan tanpa melirik kearah laki laki yang ada di sebelahnya ini. Ah…. Wanita memang sulit dimengerti……

“apa lagi sekarang? Ada Kolam ikan dibelakangku?” ucap dia sambil tetap fokus dengan makanannya.

“eh.. engak. Ada bidadari lagi makan” ucap gue santai.

“eehhhh dasar lu!! Pantes aja dicariin kagak ada! Taunya lagi mojok aja beduaan disini” ucap seorang pria dibelakang, kami berdua menoleh ke arah suara itu.

“eh.. yo.. kirain siapa” ucap gue, saat melirik wajah mila dia hanya tersenyum kecut kemudian melanjutkan makannya lagi. Mungkin dia tidak suka dengan kedatangan rio saat itu.

“duduk sini beb disebelahku” ucap rio menyuruh agnas duduk disampingnya.

“kok kalian ada disini?” tanya gue.

“terserah kita dong, kitaman kesini mau pacaran. Nah elu? Gak jelas! Hahaha” jawab rio sambil tertawa.

“gak jelas gimana?” tanya gue.

“ya….. gtu deh…” jawab rio sambil memberikan sebuah kode dimatanya.

Gue melihat raut wajah mila semakin suntuk dan kesal, tak ada senyum yang terlukis diwajahnya saat rio mulai datang dan duduk. Beberapa kali mereka berdua mencoba untuk mengajak mila berbicara hanya ditanggapi secukupnya saja. Benar benar kali ini dia berbeda seperti biasanya, dia terlihat cuek dan judes.

“eh… mila sudah jadian ya sama rangga?” tanya agnas.

“belum, kita Cuma makan biasa aja hari ini” ucap dia.

“kenapa gak jadia aja, iya gak yang?” tanya agnas kembali.

“hehehe gak mungkin kayanya nas…” jawab dia sambil melihat kearah gue dengan memasang tatapan mata penuh arti.

Tatapan mata yang dia arahkan saat itu adalah tatapan mata penuh tungtutan, tuntutan agar gue yang menjawabnya. Saat tak bisa menjawab pertanyaan itu, gue hanya tertunduk dan menghabiskan makanan di meja makan. Terlihat agnas dan rio sedang berbisik bisik sesuatu lalu kemudian tertawa cekikikan sedndiri. Saat pesanan mereka datang, makanan kami berdua telas habis di lahap, seperti biasa jika orang lain setelah makan harus merokok, kalau gue biasa meminum kopi.

“wan.. bawain kopi satu ya” ucap gue berbicara kearah dia.

“jangan mas, gak jadi” ucap mila memotong.

“gak usah minum kopi! Aku gak suka” ucap mila. Gue hanya bisa melongo melihat kejadian itu, tak ada protes keluar di bibir ini karena dari sorot matanya terlihat ketidak nyamanan dia berada disini.

“tuh ngga… perhatian tanda sayang itu” ucap rio.

“udah yo! Kasian dia!” ucap gue membela.

“owh.. sekarang udah dia aku ngomognya. Ciee udah jadan nih” ucap rio kembali.

“keliatannya sih udah jadian yang” timpal agnas.

Saat gue lihat mila hanya diam saja tanpa memandang ke arah kami. Pandangannya terus di arahkan kearah luar. Gue menjadi sedikit salah tingkah dengan sikap dia saat itu, ditambah lagi mereka berdua yang selalu mencandai gue dan mila. Lambat laun suasana kembali mencair, mila akhirnya mau memulai pembicaraan dengan mereka berdua dengan sikapnya yang tidak jutek lagi. Tapi kadang kadang juteknya kembali terlihat.

“dah malem, pulang yuk ngga..” ajak mila.

“eh iya…”

“yo, nas, gue balik duluan ya” ucap gue kepada mereka berdua.

“oke, hati hati ngga. Dijagian milanya” jawab rio.

“dijaga, dianter sampai depan rumah” timpal agnas.

“iya… iya….” Jawab gue kesal.

Setelah membayar makanan yang telah dipesan gue kemudian membonceng mila untuk pulang. Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut kami saat dijalan. Jujur sedikit kecewa dengan sikap dia hari ini, bukan hanya penampilannya saja yang berubah tapi sikapnya pun ikut tidak bisa bersahabat. Kami bertemu mereka pun tidak sengaja sama sekali. Hingga akhirnya kita masuk ke gerbang komplek, secara tiba tiba dia memeluk dengan sangat erat dan wajahnya kembali di sembunyikan di pundak gue.

“pelan pelan aja” ucap dia.
“maafin mila ya…” ucap dia kembali.

“kenapa?”

“kamu tau sikapku tadi waktu mereka berdua datang dan duduk di meja kita” jawab dia dengan suara pelan.

“mila nggak salah, aku yang salah, harusnya kita gak dateng ke café itu, kita dateng ke tempat yang agak jauhan harusnya…” jawab gue santai.

“aku gak suka” ucap dia.

“iya aku ngerti” jawab gue.

“kenapa sih? Tiap kita jalan berdua pasti aja ada yang ganggu, enggak dia enggak temenmu! Aku gak suka! Pengennya bedua aja” ucap mila terasa mulutnya ditempelkan di bahu kanan gue.

“iya, ngerti…. Tapi kan tadi juga kita ketemu sama mereka gak sengaja miel” ucap gue kedia.
“udah nyampe nih” ucap gue kembali tapi dia masih saja memeluk di belakang dengan muka yang disembunyikan di bahu kanan.

“pokoknya malam minggu besok kita keluar makan lagi! Ditempat lain” ucap dia di bahu kanan dengan suara yang sedang menahan tangis. terasa agak sedikit basah. Mungkin air matanya menetes ke baju.

“tapi aku gak tau café lain miel” ucap gue.

“pokoknya makan ditempat lain! Harusberdua cuma aku sama kamu! Aku gak mau makan di café itu lagi! Pokoknya gak mau!! Aku gak mau ketemu sama orang yang kamu kenal!! Apalagi kalo sampe ketemu dia!!!” ucap dia sambil menangis di bahu kanan gue.

“iya… minggu depan kita makan di tempat lain, aku cariin tempat yang lebih romantis”jawab gue.

“heem, janji tapi? Jemput aku lagi disini?” ucap dia sambil turun dan berdiri tepat disamping gue.

“iya janji” gue menjawab dengan angguka dan tersenyum kearah dia.

Tiba tiba tariknya helm oleh dia dan cupp bibir ini dikecup oleh mila. Saat bibir kami berdua berpisah dia melangkah menuju gerbang pintu. Dibukanya gerbang itu dan dia berdiri dengan kedua tangan yang disembunyikan di belakang dengan senyum yang terukir di wajahnya.

“ya udah aku pulang ya..” ucap gue ke dia.

“heem, hati hati. Jangan kebut kebutan pelan pelan aja. Yang penting nyampe ke flat” ucap dia sambil mendadahi gue.

Gue putar dan tarik motor pinjaman dari yohanes ini. Semakin jauh motor ini dan dilihat dari spion motor mila masih berada didepan pintu gerbang berdiri dan memandang kearah gue. Hingga motor ini dibelokan hilanglah bidadari cantik itu. Di jalan gue hanya tersenyum dengan sikapnya tadi, kadang jutek kadang manja. Kalo aja dia jadi istri gue, senang sekali pastinya hari hari yang dilewati kita bersama.

Quote:


Quote:


“Habis dari mana?” tanya intan yang saat itu dia sedang ditengah rumah nonton tv.

“malem mingguan” jawab gue cuek sambil sms dengan mila.

“sama dia?” tanya intan lagi.

“heem”

“huuuuuuhhhhh” jawab intan langsung masuk kedalam kamar.
Diubah oleh galonze.b.c.n.b 16-02-2016 22:24
JabLai cOY
sormin180
oktavp
oktavp dan 4 lainnya memberi reputasi
5
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.