- Beranda
- Stories from the Heart
Kereta terakhir ke kamar kita
...
TS
rahan
Kereta terakhir ke kamar kita
Quote:
Diubah oleh rahan 17-02-2016 01:29
anasabila memberi reputasi
1
28.8K
213
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
rahan
#227
EPISODE 11
OPHELIA PART 1
Ibang, Jonson, Songke dan Dandra duduk di sofa ruang serba guna di tengah bilik Indonesia. Mereka membicarakan apa yang akan mereka segera lakukan sebagai tim.
"Ini berbahaya." Ibang memecah keheningan setelah mendengarkan penuturan panjang lebar dari Songke.
"Ini MUNGKIN berbahaya. Tapi rencana ini HARUS kita lakukan." Songke menekankan sekali lagi.
"Aku tak keberatan. Selama kita bersatu aku tidak keberatan. Tapi kalau aku harus jalan sendiri, mungkin aku akan pikir pikir ulang." ujar Dandra.
"Jadi Ophelia ini ... hidup atau mati?" Giliran Jonson bersuara.
"Dia hidup ... tapi akan segera mati. Dan bila dia mati ... kita semua akan mati." Songke berbicara dengan sangat pelan, memastikan Jonson bisa memahaminya.
"Dan kau tahu ini semua bagaimana? Kau belum menjelaskannya tadi." Ibang masih ragu
"Begini ...Ophelia adalah nama wanita, tokoh fiksi dalam satu drama karya Shakespeare yang berjudul Hamlet sekitar tahun 1600an. Aku tak ingat persisnya. Yang aku tahu, gadis ini mati bunuh diri di cerita tersebut.” Songke menjelaskan
“Jadi dia akan bunuh diri juga? Kali ini, lepas enam ratus tahun. Belum lagi ini nyata. Yang kau sebut tadi itu fiksi. Bukan begitu?” Dandra mencoba memastikan.
“Aku tidak bisa memastikan. Dan itulah sebabnya mengapa kita harus ke Alexandria.”
“Ada sesuatu yang aneh terjadi saat ini.” Ibang bersandar dan menangkupkan kedua tangannya di dadanya.
“Masalahnya adalah kita tidak bisa mengabaikan ramalan Raya, bang. Gadis Gipsi itu telah membahayakan dirinya sendiri untuk menyampaikan “penglihatannya” pada kita.” Songke mengingatkan.
“Kalau kita ke Alexandria, bagaimana dengan Raya dan Padre serta semua yang lain?” Jonson buka suara lagi.
“Aku rasa sebaiknya kita ajak Raya. Gadis itu akan berguna.” Ibang menyatakan usulnya sambil melirik Jonson.
“Apa yang harus kita lakukan dengan Padre dan yang lain? Kita harus memperingatkan mereka untuk kemungkinan terburuk.” Dandra pun ikut bicara.
“Aku akan bicara dengan Padre. Aku sangat optimis dengan situasi ini sebenarnya.”
“Apa yang kau maksud dengan optimis Songke? Aku rasa sekarang kondisinya sedang genting?!” Dandra kebingungan dengan maksud perkataan Songke.
“Sama sekali tidak ada yang genting. Ini adalah isyarat dari langit agar kita maju. Ini adalah kesempatan yang kita tunggu untuk melakukan perubahan. Kau tentu tidak lupa, Raya hanya mengatakan seluruh Albetistra meledak. Ia tidak mengatakan melihat ada korban jiwa atau apapun. Ia hanya mengatakan ledakan besar. Jadi inilah kesempatan kita, untuk memastikan agar tak ada korban jiwa. Ledakan itu kurasa akan tetap terjadi.”
Air muka ketiga temannya berubah jadi penuh harap mendengar penjelasan dari Songke.
“Jenius!” ucap Dandra.
“Seperti yang hanya bisa dilakukan oleh Songke seorang,” puji Ibang.
“Mak pintar kali kau ini,” Jonson tersenyum.
Keempat sekawan itu kini dapat sedikit bernafas lega.
“Aku segera panggilkan Padre dan Raya,” ujar Dandra.
Diubah oleh rahan 17-02-2016 00:41
0