- Beranda
- Stories from the Heart
[Completed] Hey Fanny
...
TS
monica.ocha
[Completed] Hey Fanny
Quote:
![[Completed] Hey Fanny](https://s.kaskus.id/images/2016/03/05/8417038_20160305062914.jpg)
Quote:
![[Completed] Hey Fanny](https://s.kaskus.id/images/2016/01/25/8417038_20160125102311.png)
Mohon kebijakannya karena cerita ini mengandung bahasa dan adegan yang tidak patut ditiru.
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh monica.ocha 05-03-2016 06:30
efti108 dan 25 lainnya memberi reputasi
22
172.5K
520
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
monica.ocha
#283
PAGE 21
Fanny's POV
Urusan keberangkatan ke paris sudah aku pikirkan dan baik-baik. Hampir dua-minggu lebih aku harus mengurus surat-surat yang begitu kompleks dan rumit. Trip ini lebih ke kunjungan dari pada berkerja. Aku tidak ingin bekerja dulu, aku ingin membersihkan semua pikiran-pikiran aneh ini, mungkin saat di paris aku bisa melupakan semuanya. Ayah terus berusaha mendorongku untuk bekerja disana, tapi aku selalu menolak tawaran itu, aku bahkan sampai ingin membatalkan keberangkatanku jika yah tetap membawa topik yang sama. Ayah yang sudah rindu terhadapku akhirnya mengalah dan menyuruku agar sampai di sana dengan selamat.
Berminggu-minggu sudah aku habiskan di kostan raya, membuat aku lebih mengerti apa artinya sebuah sahabat, membuat aku lebih mengerti apa arti sebuah kehidupan. Raya rela berbagi tempat tidurnya bersamaku, berbagi persedian makanannya bersamaku, dan berbagi apa yang dia punya kepadaku. Wanita itu senang saat aku bisa tinggal bersamanya untuk beberapa minggu ini.
Malam ini adalah malam keberangkatanku. Aku tidak ingin raya mengantarkanku ke bandara, cukup aku sendiri saja yang harus pergi. Raya yang juga cengeng itupun tidak bisa berhenti menangis sejak tadi malam, begitupun aku. Sudah aku kemas segala barang-barangku di dalam koper, sementaranya sisanya aku titipkan kepada raya jika aku akan kembali ke indonesia. Aku memang sudah pasti akan kembali ke indonesia, tapi tidak tahu kapan, aku bukan warga negara prancis seperti ayahku, aku masih warga indonesia.
Tak lupa aku memberitahukan edo dengan keberangkatanku. Dia yang sedang berada di jakarta menawarkan sebuah tumpangan ke bandara. Tidak semua orang kuberi tahu tentang keberangkatanku, hanya sahabatku dan edo. Tawaran edo tidak bisa aku tolak, aku memang membutuhkan sebuah tumpangan kebandara. Dosa rasanya aku mencoba untuk melupakan robby tentang hal ini, pria yang aku cintai sejak pandangan pertama, tapi inilah kenyataan pahit yang harus aku teguk. Perlahan aku mencoba untuk melupakannya, aku yakin kepergianku dari sini bisa membuat aku terlupa akannya. Aku senang ada edo yang perduli kepadaku, walaupun dia sadar aku masih belum bisa menerima cintanya.
Suara ketokan di pintu terdengar jelas di telingaku disaat aku sedang berada di kamar bersama raya, aku sudah tahu itu edo.
“Ray, jemputan gw, gw pamit ya” ucapku kepada raya yang matanya berkaca
Sebuah pelukan hangat mendarat, tangisan tak lagi bisa terbendung, semua cairan di mataku mulai jatuh di bahu raya. Perlahanku lepaskan pelukan raya, menatapnya untuk yang terakhir kali “Jagain robby buat gw ray” Kata terjujur yang keluar dari hati kecil ini
***
“Rob, raya mau ngomong ama lo” Aku terkejut, dika memberiku hpnya kepadaku yang sedang asik membaca komik
“Lah kenapa?” aku masih enggan untuk mengambil hp dari tangan dika
“Tau dah, pegangin nih, gw mau mandi”
Aku bingung kenapa raya ingin bicara kepadku. Terus kuperhatikan nama yang tertera di layar berulang-ulang untuk memastikan itu memang raya.
“Hallo, ray?” Suaraku pelan seolah berbisik
“Rob, fanny..” Suaranya seolah tidak yakin untuk melanjuti “Kejar fanny rob” sambungnya
“Ha? Kejar apaan?” Aku semakin bingung “Ray, kenapa fanny?” Kupastikan raya masih disana
“Kejar dia dibandara, malam ini dia berangkat ke paris” raya langsung menutup telfon
Jantungku berdetak sangat kuat, sekujur tubuhku merasa risih entah karena apa. Nama itu sudah hilang dari kepalaku, tapi tiba-tiba nama itu kembali masuk, membuat aku sesak. Mataku sibuk melihat ke arah jam, berharap fanny belum berangkat.
Kenapa? Kenapa aku harus mengejar dia? Kenapa tidak kubiarkan saja dia pergi? Bukankah itu maunya? Kenyataannya, cinta bertolak belaka dengan realita, penggambaran logikapun tidak masuk akal di buatnya.
Pikiranku sungguh kacau, tak perduli dengan laju mobil ini, terus ku paksa semaksimal mungkin.
Aku langsung berlari tak tentu arah mencoba untuk mencari fanny di dalam bandara. Lampu-lampu terang ini seringkali membutakan mataku yang dari tadi berkendara dalam keadaan gelap. Aku tidak menyerah, berdoa semoga fanny masih disini. Aku seperti sedang mencari jarum dalam tumpukan jerami, seperti orang gila yang melihat kesana-kemari. Aku tidak perduli dengan orang-orang ini, tujuanku hanya satu, dapatkan fanny.
Kuraba saku celan jeans ini untuk mengambil hp dan menghubungi raya, aku baru sadar kalau aku lupa membawa hp. Aku ingin berteriak di tengah keributan ini, berteriak keras karena penyesalan. Wajah orang-orang ini tampak bahagia, membuat aku ingin menampar mereka tanpa alasan yang jelas.
Disaat kantung mata ini mulai ber-air, disaat kaki ini berat untuk melangkah, disaat nafas ini susah untuk di hidup dan kepala ini ingin pecah, kulihat jelas fanny disana. Seorang yang dulunya aku cari-cari, sorang yang dulunya aku yakini sedang berpeluk hangat dengan pria yang lengannya di penuhi tato. Nafasku tertahan dengan pandangan yang fokus kesana, kutelan ludah untuk membasahi kerongkonganku yang dari tadi sudah terpekik diam didalam, tangan ini mulai bergetar tak menentu.
Otakku memaksa untuk mundur dan menyerah, tapi hati ini memaksa untuk maju dan berusaha. Dua prinsip yang berbeda sedang beradu di dalam diriku, aku tidak tahu yang mana harus aku ikuti. Seperti ayah bilang, pemenang tidak menyerah di ronde pertama. Kutarik nafas dalam dan kuhembuskan pelan lewat mulut, kucoba rasakan semua yang ada di sekitarku menjadi melambat. Perlahanku atur nafasku agar tidak kacau, kuanggap semua yang ada di sekelilingku dalam mode slow-motion.
“Fanny, please jangan pergi” Kata sayu ini keluar dari mulutku yang mewakili isi hati, mencoba mencegah wanita yang belum lama ku kenal ini
“G..gw sayang sama lo, please jangan pergi” Cahaya-cahaya terang ini membantu proses perairan dimataku,membuat aku ingin menangis. Aku berharap kata ini bisa menahannya beranjak.
***
Fanny’s POV
Aku menelan ludahku berkali-kali ketika robby mengatakan hal itu. Air mata ini sudah bercucuran tanpa permisi. Edo tampak bingung dengan apa yang terjadi, dia sadar akan sesuatu diantara aku dan robby, dia mencoba memberi jarak dengan mundur beberapa langkah.
Kenapa disaat seperti ini lo muncul dan bilang sayang ke gw, kenapa?
Tanganku sibuk menyapu air mata yang tanpa henti keluar, tak berani kupandang matanya. Detupan di jantung sudah tak bisa ku kendalikan.
“Please jangan pergi” Mata robby tampak berkaca, tatapannya penuh emosional
“Sorry rob, gw gak bisa, gw harus pergi”
Suara dari langit-langit terus terdengar, mencoba untuk mengingatkan keberangkatanku. Tapi aku masih belum beranjak, aku menuggu robby untuk menahanku atau setidaknya memelukku. Air mata ini keluar karena kebodohanku, membuat semuanya menjadi rumit. Tapi kuharapa robby bisa mendapatkan apa yang terbaik untuknya dari tiwi, kekasihnya...
Please, tahan gw, jangan biarkan gw pergi, peluk gw melebihi apa yang edo lakukan rob...
Robby masih terdiam, dia terlihat sudah rela akan kepergianku. Robby masih tidak berkata, tapi aku ingin sekali medapatkan pelukannya, dia tidak mengerti. Aku melepaskan gangangan koper, membantingnya tanpa khawatir. Aku tidak ingin menunggu sampai pesawatku pergi meninggalkan ku disini, ku peluk robby yang tidak peka ini dengan erat, kurasakan lilitan tangannya memelukku dengan erat, meletakkan wjahnya di bahuku “Gw juga sayang sama lo” Berat untuk ku katakan, tapi inilah sejujurnya.
Rob, gw gak akan pernah lupain pelukan ini. Gw berjanji untuk terlalu tersenyum saat mengingat ini...
“Gw harus pergi....”
< TO THE PREVIOUS PAGE
Diubah oleh monica.ocha 17-02-2016 01:41
g.gowang. dan 3 lainnya memberi reputasi
4