- Beranda
- Sejarah & Xenology
Soerabaia Tempo Doeloe
...
TS
r3zam4n
Soerabaia Tempo Doeloe
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
0
21.1K
24
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
6.5KThread•11.6KAnggota
Tampilkan semua post
f4u.corsair
#9
Sejarah Kayoon dan Kepoetran

Kayun Surabaya Tempo Dulu
Kayun adalah nama sebuah area yang perumahan elite Surabaya kurang lebih tahun 1920-1940. Menjadi batas timur sebuah kompleks perumahan elit berbentuk segitiga Embong-wijk. Istimewanya perumahan di sepanjang jalan Kayon ini menghadap ke Timur dan waterfront! Mungkin merupakan kawasan paling diminati orang Belanda.
Kata Kayun / Kayon / Kajoon sendiri berasal dari kosa kata literatur Bahasa Jawa. Yang paling sering muncul adalah dalam pagelaran wayang kulit. Setiap intermezo adegan, sebuah gunungan (yang terekam di balik koin 100 Rupiah Rumah Gadang tahun 1978) menjadi semacam pembabakan.
Kamus Jawa-Inggris karya Elinor Clark Horne (1974) menulis arti Kajun/Kayun sebagai sebuah harapan, cita-cita, keinginan. Kata intinya ajun (kosa kata sastra)yang sinonim dengan arep (versi sehari-harinya). Juga berarti hidup (alive) atau kehidupan atau lebih luas lagi bisa bermakna realita (kehidupan). Contoh pemakaian berikut menunjukan betapa sulitnya menangkap kedalaman kosa kata Jawa untuk diterjemahkan ke bahasa Indonesia "sowan ngayunaning Pangeran" = "khusuk berdoa menghadap Tuhan", padahal makna doa disini bukan hanya berdoa saja namun ada makna realta kehidupan, menjalani hidup dan menghargai hidup seperti orang Bali menghargai dan mengistimewakan kematian.
Kata ajun / ayun juga menjadi kata yang diperkenalkan ke anak-anak ketika masih sangat kecil. Berupa mainan ayunan yang begitu menyenangkan semua anak-anak. Dalam seni pewayangan sendiri sebuah buku berjudul "Beyond Translation" karya A.L. Becker (1975), kata Kayun mendapat pemaknaan sebagai berikut :
"Konsep waktu dalam pewayangan tidak memiliki batasan, tapi yang jelas tidak satu timeline. Kejadian atau koinsiden tidak berwaktu. Pagelaran wayang itu sendiri secara simbolis satu hari. Fenomena aneh ini perlu di sebutkan disini. Pembabakan adegan ditandai dengan sebuah wayang besar stiliran sebuah pohon atau gunung yang disebut Kayon atau gunungan. Selama pertunjukan yang biasanya diadakan di malam hari, kayon menandai perjalanan waktu imajiner sang surya dari timur ke barat yang diciptakan oleh efek pencahayaan dan bayang-bayangnya (biasanya sengaja setting pertunjukan melintang ke timur- barat, atau jika tidak memungkinkan utara-selatan dengan utara sebagai pengganti timurnya).
Kayon merupakan jam dramatik yang hanya menandai runutan atau kronologi plot dalam cerita bukan urutan waktu seperti di jam tangan penontonya". Hal 42-43.
Melihat pemaknaan kata Kayun dan penamaan ruas jalan Kayun serasa menemukan kecocokan yang sepertinya bukan kebetulan. Siapapun yang menamakan jalan itu kayun mungkin memiliki wawasan sastra Jawa yang mendalam. Sebuah area yang diimpikan semua orang kaya di Surabaya dengan pemandangan sungai yang asri, jauh dari keramaian Kota Lama (Jembatan Merah dan sekitarnya) namun tidak terlalu jauh dengan Tunjungan, dan area Simpang sendiri sedang menjadi pusat atraksi baru kota Surabaya pada waktu itu
Sebuah istilah lain yang perlu diketahui semua penduduk Surabaya adalah istilah "Puter Kayon", Hein Buitenweg dalam bukunya "Krokodillenstad" - Kota Buaya (1980) yang berisi foto-foto Surabaya berikut nostalgia di setiap fotonya merekam aktifitas puter kayun yang banyak dilakukan orang-orang muda Belanda di Surabaya ketika sore tiba.
Menyewa kereta atau mobil melintasi putaran Embong-wijk mulai dari Kaliasin (apotek simpang) , sampai di patung karapan sapi berbalik ke Panglima Sudirman, belok ke kanan Hotel Brantas dan balik kiri menyusuri jalan Kayun menuju jalan Simpang (jalan Pemuda) kembali ke starting point. Aktifitas menikmati sejuknya hawa di sore hari setelah panasnya siang hari merupakan relaksasi yang begitu dinikmati mereka.
Saat inipun jika kita ingin menikmati sejuknya udara di jantung kota Surabaya, jangan masuk ke Mall ber AC karena dinginnya kering, masuklah ke pasar bunga Kayun dan nikmati atmosfer yang berbeda diantara bunga-bunga yang dijual pedagang bunga. Mungkin satu hal inilah yang tersisa dari keistimewaan Kayun dalam sejarah kota Surabaya.
artikel pic asli di http://muara-info.blogspot.co.id/201...empo-dulu.html
Quote:

0
Gedung Siola
Pada zaman Belanda, gedung yang terletak di pojok Jalan Pahlawan dengan jalan Kebun Rojo Surabaya ini dikenal sebagai gedung NV.Lindeteves. Dalam dokumentasi “Surabaya Tempo Dulu”, foto ini diambil tahun 1930. Sekarang gedung ini digunakan sebagai gedung Bank Mandiri dan sebelumnya pernah dipakai oleh Bank Niaga. Pemerintah Kota Surabaya, mencatat gedung ini sebagai salah satu “cagar budaya” di Kota Surabaya.
Foto menunjukkan pintu masuk utama Rumah Sakit Umum/Rumah Sakit CBZ (Centrale Burgelijke Zieken inrichting) Jl. Simpang (sekarang Jl. Pemuda), Surabaya. Rumah sakit ini dibangun sebelum tahun 1900. Setelah kemerdekaan rumah sakit ini dinamakan R.S. Simpang. Kemudian dipindahkan ke Jl. Dharma Husada dan dinamakan R.S. Dr. Soetomo. Setelah itu rumah sakit umum di Jl. Pemuda tersebut diratakan dengan tanah. Di atasnya dibangun komlplek pertokoan "Surabaya Delta Plaza". Nampak pula tram listrik lin (angka 2) di atas menunjukkan jurusan Goebeng Boulevard (Raya Gubeng) stasiun terakhir sampai Celebes straat (jalan Sulawesi ke stasiun akhir juga di Willemplein (JMP) vise versa (v.v) = pulang pergi (p.p.).
Jalan Panglima Sudirman dulu bernama Palmelaan. Foto diambil pada tahun 1925-an. Jalan tersebut dilewati oleh tram, sebagai bagian dari transportasi umum kota Surabaya. Sayang sekali bahwa pemandangan seperti ini sekarang sudah hilang dari Surabaya.
Jalan Kembang Jepun tahun 1930, difoto dari Gedung Internatio – Jembatan Merah – gerbang Barat
GERBANG Jalan Kembang Jepun darI arah Timur dengan gaya tradisional China di tahun 1930-an. Gerbang ini pernah dirubuhkan dan saat di Jalan Kembang Jepun itu diadakan kegiatan Kya-Kya, yaitu pasar makanan pada malam hari tahun 2005-2007, gerbang khas China dibangun kembali,
Dulu Jalan Pahlawan Surabaya ini bernama Alun-alun Straat. Foto diambil tahun 1930. Masih terlihat ada rel trem listrik, kendaraan dokar dan mobil pada zaman itu. Sekarang semua sudah berubah
GEDUNG Raad van Justitie (Pengadilan Tinggi) di Zaman Belanda, di Jalan Pahlawan (Alun-alun Straat) pada perayaan HUT Ratu Wilhelmina tanggal 31 Agustus 1935. Ada acara karnaval dan pawai yang disaksikan rakyat yang memenuhi sepanjang jalan, viaduk jalan-jembatan pelintasan kereta api, bahkan sampai ke puncak gedung kantor Gubernur Jawa Timur di seberangnya. Pada zaman Jepang, gedung ini berubah fungsi menjadi Markas Polisi Militer (Kenpetai) dan sekarang sudah hancur. Di atas lahan ini berdiri kokoh Tugu Pahlawan untuk memperingati peristiwa heroik 10 November 1945. Tugu Pahlawan ini diresmikan oleh Presiden RI pertama Ir..Soekarno tanggal 10 November 1952 dan di bawahnya dibangun pula Museum (bawah tanah) Tugu Pahlawan yang mengoleksi berbagai peninggalan masa perjuangan tahun 1945. (dok: Yousri dari Surabaya Tempo dulu).
Foto kompleks bangunan Pasar Baru di Jalan Pahlawan, Surabaya ini diambil pada tahun 1920 an. Gedung tersebut sekarang sudah tidak berbekas. Terlihat pada tahun 1920 an lalu lintas kota Surabaya masih semrawut (kacau). Pada foto kelihatan berbagai kendaraan seperti: pedati, tram, mobil, dokar dan becak lalu lalang di sekitar JL. Pahlawan.
Jalan Gemblongan, Surabaya

Balaikota
Grimm and Co, gak tau ini bangunan di jalan apa sekarang
St Louis jln Polisi Istimewa sekarang
siapa yang tak kenal zangradi, ini penampakannya waktu itu
jembatan ngemplak
Dermaga Ujung
sebelum ada bandara juanda surabaya dulu punya bandara militer di morokermbangan
pelabuhan kalimas yang sudah tidak ada lagi
Tanjung perak 1937
Surabaya 10 November 1945