- Beranda
- Stories from the Heart
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
...
TS
Shadowroad
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Ane mau share novel buatan ane sendiri gan
Novel ane bergenre action, horror, romance, school-life dan supranatural
Inspirasi dapat dari alur game, film, anime, kehidupan, komik, mitologi, legenda dan novel yang pernah ane amati
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Spoiler for Begini gan ceritanya::
Cerita ini tentang seorang remaja dari Jakarta yang keluarganya terbunuh karena kaum vampire. Cowok remaja ini bernama Erik Calendula. Setelah selamat dari bencana yang dibuat kaum vampire, dia lalu memohon pada Arthur Pendragon. Arthur adalah salah satu dari beberapa pemburu vampire yang menyelamatkan Erik. Dibakar oleh tangisan, amarah dan dendam atas kematian keluarganya, Erik meminta Arthur untuk mendidiknya agar menjadi seorang pemburu vampire. Erik berniat menghancurkan organisasi vampire penebar bencana yang menjadi penyebab kematian orang tuanya.
Arthur menyetujui permintaan Erik. Sebelum dididik, Erik dibawa ke markas pemburu vampire di Jakarta yang bernama Knights of the Silver Sword. Lebih singkatnya, organisasi ini biasa disebut Silver Sword. Setelah bergabung dengan Silver Sword dan dibekali pelatihan dari Arthur, karir Erik sebagai pemburu vampire dimulai. Seperti Arthur, Erik juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan listrik.
Arthur menyetujui permintaan Erik. Sebelum dididik, Erik dibawa ke markas pemburu vampire di Jakarta yang bernama Knights of the Silver Sword. Lebih singkatnya, organisasi ini biasa disebut Silver Sword. Setelah bergabung dengan Silver Sword dan dibekali pelatihan dari Arthur, karir Erik sebagai pemburu vampire dimulai. Seperti Arthur, Erik juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan listrik.
Spoiler for Daftar Isi:
Prolog: Hotel Indonesia
Part 1: Arthur Datang Menjenguk
Part 2: Sekolah
Part 3: Kekuatan Dietrich
Part 4: Amanda Myrna
Part 5: Kisah Raja Arthur
Part 6: Pelabuhan
Part 7: Ghoul
Part 8: Bersembunyi di Rumah Kosong
Part 9: Amanda sang Pembunuh
Part 10: Lightning Versus Sand
Part 11: Kematian Rudy
Part 12: Rumah Sakit
Part 13: Teman Sekelas
Part 14: Kunjungan Mario dan Maya
Part 15: Cerita di Malam Hari
Part 16: Serangan Vampire
Part 17: Sungai Kapuas
Part 18: Kelompok Elena Versus Taiyou no Kishi
Part 19: Lantai Tiga
Part 20: Maya Versus Callista
Part 21: Lantai Dua
Part 22: Serangan Balik
Part 23: Kekuatan Callista
Part 24: Rumah Bergaya Belanda
Part 25: Immortals
Part 26: Empat Pertanyaan
Part 27: Der Schwarze Stein
Part 28: Mantra Deprehensio
Part 29: Kelompok Elena Versus Si Ekor Kalajengking
Part 30: Kolam-kolam Air
Part 31: Hydromancer Magnus
Part 32: Sepulang Sekolah
Part 33: Mall Kemang
Part 34: Korban Vampire
Part 35: Chibi, Chernov dan Minsk
Part 36: Pengejaran
Part 37: Tim Erik dan Tim Maul Versus Geng James Wood
Part 37.1: Hutan Ilusi
Part 37.2: Eyes of Markmanship
Part 37.3: Sand Versus Fire
Part 37.4: Pedang dan Tameng Es
Part 37.5: Maul dan Vira Versus James Wood
Part 38: Arthur Versus Lu Bu
Part 39: Agen Ganda
Part 40: Rumah Darkwing Bersaudara
Part 41: Tiga Produk
Part 42: Di Perbatasan Uni Soviet
Part 42.1: Diego Versus Dragovich
Part 43: FlyHigh
Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat
Part 45: Kartel Ching Yan
Part 46: Ervan Versus Werewolf
Part 47: Berlindung di Balik Mobil
Part 48: Marga Asakura
Part 49: Hantu di Rumah Amanda
Part 50: Emmy Merah
Part 51: Pisau Dapur yang Melayang
Part 52: Lantai Dua
Part 53: Tim Sandra dan Dua Emmy
Part 54: Elektrokimia
Part 55: Aswatama
Part 56: Erik, Dietrich, Amanda Versus Arthur
Part 57: Erik, Dietrich, Amanda Versus Aswatama
Part 58: Napoleon Bonaparte dan Timnya
Part 59: Melacak
Part 60: Arthur Versus Jie Xiong
Part 61: Penyelamatan Professor Vaugh
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Part 1: Arthur Datang Menjenguk
Part 2: Sekolah
Part 3: Kekuatan Dietrich
Part 4: Amanda Myrna
Part 5: Kisah Raja Arthur
Part 6: Pelabuhan
Part 7: Ghoul
Part 8: Bersembunyi di Rumah Kosong
Part 9: Amanda sang Pembunuh
Part 10: Lightning Versus Sand
Part 11: Kematian Rudy
Part 12: Rumah Sakit
Part 13: Teman Sekelas
Part 14: Kunjungan Mario dan Maya
Part 15: Cerita di Malam Hari
Part 16: Serangan Vampire
Part 17: Sungai Kapuas
Part 18: Kelompok Elena Versus Taiyou no Kishi
Part 19: Lantai Tiga
Part 20: Maya Versus Callista
Part 21: Lantai Dua
Part 22: Serangan Balik
Part 23: Kekuatan Callista
Part 24: Rumah Bergaya Belanda
Part 25: Immortals
Part 26: Empat Pertanyaan
Part 27: Der Schwarze Stein
Part 28: Mantra Deprehensio
Part 29: Kelompok Elena Versus Si Ekor Kalajengking
Part 30: Kolam-kolam Air
Part 31: Hydromancer Magnus
Part 32: Sepulang Sekolah
Part 33: Mall Kemang
Part 34: Korban Vampire
Part 35: Chibi, Chernov dan Minsk
Part 36: Pengejaran
Part 37: Tim Erik dan Tim Maul Versus Geng James Wood
Part 37.1: Hutan Ilusi
Part 37.2: Eyes of Markmanship
Part 37.3: Sand Versus Fire
Part 37.4: Pedang dan Tameng Es
Part 37.5: Maul dan Vira Versus James Wood
Part 38: Arthur Versus Lu Bu
Part 39: Agen Ganda
Part 40: Rumah Darkwing Bersaudara
Part 41: Tiga Produk
Part 42: Di Perbatasan Uni Soviet
Part 42.1: Diego Versus Dragovich
Part 43: FlyHigh
Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat
Part 45: Kartel Ching Yan
Part 46: Ervan Versus Werewolf
Part 47: Berlindung di Balik Mobil
Part 48: Marga Asakura
Part 49: Hantu di Rumah Amanda
Part 50: Emmy Merah
Part 51: Pisau Dapur yang Melayang
Part 52: Lantai Dua
Part 53: Tim Sandra dan Dua Emmy
Part 54: Elektrokimia
Part 55: Aswatama
Part 56: Erik, Dietrich, Amanda Versus Arthur
Part 57: Erik, Dietrich, Amanda Versus Aswatama
Part 58: Napoleon Bonaparte dan Timnya
Part 59: Melacak
Part 60: Arthur Versus Jie Xiong
Part 61: Penyelamatan Professor Vaugh
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Gan, setelah baca mohon komennya, ya
Ane sangat menerima kritik dan saran
Pertanyaan juga sangat dianjurkan, supaya agan2 dapat lebih memahami cerita yang rumit ini
Kalau terjadi kesalahan seperti tanda baca, kurang jelas, ketidak konsistenan cerita mohon diingatkan ya gan
Terima kasih gan
Diubah oleh Shadowroad 26-11-2017 06:31
2
86.9K
Kutip
544
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Shadowroad
#274
Part 37.4: Pedang dan Tameng Es
Spoiler for Part 37.4: Pedang dan Tameng Es:
Kedua tangan Amanda menggenggam dua buah pisau es. Amanda terengah-rengah menghadapi dua lawan yang mengepungnya dari depan dan belakang. Serigala milik Maul yang bernama Minsk berdiri di sampingnya. Minsk menghadap ke belakang menghadapi seorang manusia pengendali listrik sedangkan Amanda menghadapi lawan yang ada di depannya yang merupakan seorang vampire.
Vampire yang menjadi lawan Amanda mengeluarkan handgun. Melihat hal itu, Amanda berlari ke kanan sambil menciptakan tameng dari es. Dia mulai menembaki Amanda. Untungnya tameng es yang dibuat Amanda melindungi dirinya. Setelah handgun milik vampire kehabisan peluru, kini giliran Amanda yang menyerang. Amanda menciptakan tombak-tombak dari es. Melihat tombak-tombak es seperti itu, si vampire segera mundur dan berlari menjauh.
Amanda menembakkan satu per satu tombak esnya. Yang pertama hanya mengenai air sungai. Yang kedua mengenai tanah di samping sungai. Yang ketiga hampir mengenai Erik dan rekannya itu memelototi Amanda. Amanda hanya tersenyum. Kemudian yang keempat dan kelima ditembakkan dalam waktu yang hampir bersamaan dan hanya satu yang berhasil menembus kulit kaki vampire. Vampire yang sedang berlari itu langsung jatuh.
Amanda menggunakan kesempatan ini dan menciptakan lima pisau es karena ukurannya lebih kecil daripada tombak sehingga energi yang diperlukan lebih sedikit. Si vampire yang melihat lima pisau es Amanda langsung menggulungkan tubuhnya di antara rerumputan. Pisau-pisau es menghujaninya. Sebuah pisau es berhasil menusuk punggungnya.
Karena jarak antara dirinya dan vampire cukup jauh, Amanda tidak menyerang vampire itu. Amanda justru menggunakan kesempatan ini untuk menyerang manusia yang sedang bertarung melawan Minsk. Amanda dan Minsk mengeroyoknya. Cewek pengendali es itu menciptakan sebuah pedang es yang sangat keras. Amanda pun segera melawan manusia pengendali listrik.
Amanda dan Minsk mengeroyok pengendali listrik. Amanda menyabet-nyabetkan pedangnya untuk melukai bagian atas lawan. Sementara Minsk menyemburkan listrik dari mulutnya untuk melukai kaki lawan. Serangan mereka tak kunjung kena karena lawan mengubah cara bertempur menjadi lebih defensif. Serangan Amanda dan Minsk hanya mengenai lawan sedikit demi sedikit. Sesekali pedang es Amanda dan semburan listrik Minsk harus memantul ke berbagai arah karena dinding listrik itu begitu kuat.
Amanda melihat vampire yang terkena pisau esnya mulai bangkit kembali. Padahal baru dua menit Amanda membantu Minsk melawan si pengendali listrik. Vampire itu kini menggenggam sebuah pisau sepanjang dua puluh centi untuk membunuh Amanda. Amanda membuat tiga pisau es dari udara kemudian melemparkannya ke pengendali listrik. Sayangnya tidak ada yang kena. Dinding listriknya terlalu kuat.
Vampire melesat mendekati Amanda dengan kecepatan vampirenya. Paham akan hal itu, Amanda langsung menangkis dengan tameng esnya. Kekuatan yang cukup ditambah dengan kecepatan tinggi, bagian atas tameng Amanda remuk. Bersamaan dengan remuknya tameng, pedang Amanda mencoba menusuk perut vampire namun serangannya hanya menusuk udara. Di saat Amanda menarik kembali pedangnya, si vampire tiba-tiba sudah berada di sebelah kiri Amanda dan mengangkat pisaunya tinggi-tinggu bersiap untuk menyayat Amanda. Secara reflek, Amanda segera melompat mundur. Namun, lompatan Amanda sedikit terlambat. Pisau si vampire berhasil melukai lengan kiri atas Amanda walaupun lukanya tidak dalam. Amanda menciptakan pisau-pisau es lagi dan menembakkannya ke vampire. Dengan lincahnya vampire itu menghindari pisau-pisau es Amanda bahkan tanpa menggunakan kecepatan vampire.
Amanda mulai menjalankan rencananya. Dia berpura-pura terdesak dan terus mundur ke jalan setapak yang ada di dekat pinggir sungai. Dengan posisi bertahan, Amanda mengubah tameng miliknya menjadi bunga es yang berduri runcing. Begitu bunga esnya jadi, Amanda segera melemparkan pedangnya secepat mungkin ke tubuh vampire. Pedang es Amanda menusuk tubuh si vampire. Amanda menggunakan kesempatan ini untuk mendekati jalan setapak. Gadis itu menciptakan lantai es di depannya. Vampire tadi segera menggunakan kecepatan vampirenya untuk mendekati Amanda. Begitu sampai di depan Amanda, vampire itu kehilangan keseimbangan karena terpeleset oleh lantai es milik Amanda. Tubuhnya membentur lantai es dengan sangat keras. Amanda segera mengarahkan bunga esnya tepat ke tubuh si vampire. Dengan jarak sedekat itu, tak mungkin meleset. Duri-duri es yang melesat dari bunga es mengoyak tubuh si vampire. Yang paling parah adalah lehernya tertembus hingga darahnya keluar deras seperti air mancur. Di saat vampire itu menjerit kesakitan, Amanda menghunjamkan pasak kayunya ke jantung vampire dan membunuhnya.
Setelah lawannya terbunuh, Amanda langsung berlari menghampiri manusia pengendali listrik. Minsk yang sudah bertahan cukup lama tubuh terluka kali ini menjauh dari Amanda. Sebenarnya tubuh Amanda lelah setelah menghadapi vampire tadi. Didorong oleh rasa semangat karena kemenangannya barusan. Selain itu, Amanda kali ini yakin menang setelah melihat tubuh lawannya yang mengalami pendarahan di beberapa bagian tubuh. Sepertinya Minsk mencakar dan menggigit lawannya dengan baik. Mengingat bahwa kali ini lawannya adalah manusia biasa, tentunya mudah bagi Minsk untuk menyerangnya karena tidak bisa melakukan vampire jadinya tidak bisa bertahan, menghindar dan menyerang dengan mudah.
Amanda dan pengendali listrik saling menyerang. Amanda menembakkan pisau es ke tubuh lawannya sementara si pengendali listrik melemparkan listrik kuning untuk melumpuhkan kaki Amanda. Pisau es Amanda menembut perut lawannya dan listrik kuning pelumpuh membuat kaki Amanda tak bisa bergerak. Mereka berdua pun berlutut. Untuk mengantisipasi serangan, Amanda menciptakan tembok es di depannya sambil menunggu kakinya pulih.
Amanda melihat ada cahaya yang meneranginya dari atas. Dia melihat sebuah bola yang diselimuti oleh percikan-percikan listrik. Melihat bola itu, Amanda segera menciptakan benteng di atasnya. Bola listrik itu menyentuh bagian atas balok es. Hasilnya adalah ledakan yang lemah. Sialnya, justru pecahan es yang runcing-runcing itu mengarah ke Amanda. Beruntung Amanda secepat mungkin menghentikan sebagian besar pecahan-pecahan es yang menghujaninya dengan pengendalian esnya. Sebagian kecil pecahan-pecahan es menembus dan merobek kulit putihnya. Di saat itu, tembok es di depannya pecah oleh tangan yang diselimuti listrik biru. Pengendalian es Amanda menyelamatkan dirinya. Pecahan-pecahan es yang dikendalikannya tadi dilemparkannya ke lawannya. Secepat mungkin, si pengendali listrik menghentikan larinya dan menggasak habis sebagian besar pecahan es tadi. Sama seperti Amanda, pengendali listrik itu tidak bisa mengatasi semuanya. Pecahan-pecahan es kecil menusuk kulitnya. Membuat pengendali listrik itu semakin terlihat lemah.
Kaki Amanda sudah normal kembali. Dia menciptakan pedang dan tameng es. Amanda tahu situasi sekarang berpihak kepada dirinya. Pengendali listrik itu mau tidak mau harus berdiri untuk menghadapi Amanda meskipun tubuhnya mengalami luka-luka yang tidak dalam tapi cukup banyak. Tangannya menggenggam pisau yang diselimuti oleh listrik kuning. Pengendali listrik menunggu Amanda menghampiri dirinya. Begitu jaraknya dekat, dia langsung menebaskan pisau ke leher Amanda. Amanda menepis dengan tamengnya sehingga tebasan pisau hanya memotong sebagian kecil rambut panjang Amanda. Pengendali listrik kali ini mencoba menusuk kepala Amanda. Amanda menghindarinya dengan cara merunduk. Pertahanan pada perut si pengendali listrik kosong sehingga Amanda menusuk perutnya. Namun kecepatan tangan pengendali listrik juga tidak bisa diremehkan. Pisaunya menepis pedang es Amanda. Melihat pedangnya ditepis, kini Amanda menghantam perut pengendali listrik dengan tamengnya. Membuat pengendali listrik itu mundur dan memuntahkan darah.
Tiba-tiba pengendali listrik itu berlari ke arah Amanda dengan mulut yang terus mengeluarkan darah. Kedua tangannya diselimuti listrik biru penghancur yang mengeluarkan percikan-percikan listrik. Paham bahwa listrik biru kali ini lebih kuat dari listrik biru buatan Erik, Amanda menembakkan tombak esnya dengan kecepatan tinggi. Orang itu dengan brutalnya menepis semua tombak milik Amanda. Melihat lawannya semakin mendekat, Amanda meletakkan tameng tepat di hadapannya, memperbesar ukurannya dan mengeraskannya. Bersiap menghadapi listrik biru penghancur. Tujuan Amanda adalah membiarkan tangan pengendali listrik itu berbenturan dengan tamengnya, lalu dengan tamengnya dia membekukan tangan lawannya. Setelah beberapa detik, tameng es Amanda dan listrik biru akhirnya berbenturan. Tak disangka, tameng es Amanda retak, tak kuasa menghadapi listrik biru penghancur. Amanda pun mengelak ke kanan lalu segera berlari ke belakang si pengendali listrik dan segera melemparkan pedangnya ke pengendali listrik. Kali ini lemparannya tepat menusuk punggung pengendali listrik. Sebagai tambahan, Amanda mengendalikan pecahan-pecahan es bekas tamengnya tadi, meruncingkannya dan menembakkan ke pengendali listrik. Tubuh si pengendali listrik sudah dipenuhi oleh duri-duri es. Berakhirlah sudah. Dia kehilangan banyak darah.
Vampire yang menjadi lawan Amanda mengeluarkan handgun. Melihat hal itu, Amanda berlari ke kanan sambil menciptakan tameng dari es. Dia mulai menembaki Amanda. Untungnya tameng es yang dibuat Amanda melindungi dirinya. Setelah handgun milik vampire kehabisan peluru, kini giliran Amanda yang menyerang. Amanda menciptakan tombak-tombak dari es. Melihat tombak-tombak es seperti itu, si vampire segera mundur dan berlari menjauh.
Amanda menembakkan satu per satu tombak esnya. Yang pertama hanya mengenai air sungai. Yang kedua mengenai tanah di samping sungai. Yang ketiga hampir mengenai Erik dan rekannya itu memelototi Amanda. Amanda hanya tersenyum. Kemudian yang keempat dan kelima ditembakkan dalam waktu yang hampir bersamaan dan hanya satu yang berhasil menembus kulit kaki vampire. Vampire yang sedang berlari itu langsung jatuh.
Amanda menggunakan kesempatan ini dan menciptakan lima pisau es karena ukurannya lebih kecil daripada tombak sehingga energi yang diperlukan lebih sedikit. Si vampire yang melihat lima pisau es Amanda langsung menggulungkan tubuhnya di antara rerumputan. Pisau-pisau es menghujaninya. Sebuah pisau es berhasil menusuk punggungnya.
Karena jarak antara dirinya dan vampire cukup jauh, Amanda tidak menyerang vampire itu. Amanda justru menggunakan kesempatan ini untuk menyerang manusia yang sedang bertarung melawan Minsk. Amanda dan Minsk mengeroyoknya. Cewek pengendali es itu menciptakan sebuah pedang es yang sangat keras. Amanda pun segera melawan manusia pengendali listrik.
Amanda dan Minsk mengeroyok pengendali listrik. Amanda menyabet-nyabetkan pedangnya untuk melukai bagian atas lawan. Sementara Minsk menyemburkan listrik dari mulutnya untuk melukai kaki lawan. Serangan mereka tak kunjung kena karena lawan mengubah cara bertempur menjadi lebih defensif. Serangan Amanda dan Minsk hanya mengenai lawan sedikit demi sedikit. Sesekali pedang es Amanda dan semburan listrik Minsk harus memantul ke berbagai arah karena dinding listrik itu begitu kuat.
Amanda melihat vampire yang terkena pisau esnya mulai bangkit kembali. Padahal baru dua menit Amanda membantu Minsk melawan si pengendali listrik. Vampire itu kini menggenggam sebuah pisau sepanjang dua puluh centi untuk membunuh Amanda. Amanda membuat tiga pisau es dari udara kemudian melemparkannya ke pengendali listrik. Sayangnya tidak ada yang kena. Dinding listriknya terlalu kuat.
Quote:
“Maaf, Minsk, aku harus meninggalkanmu,” kata Amanda yang kini menciptakan tameng es kecil yang diameternya seukuran lengannya.
Vampire melesat mendekati Amanda dengan kecepatan vampirenya. Paham akan hal itu, Amanda langsung menangkis dengan tameng esnya. Kekuatan yang cukup ditambah dengan kecepatan tinggi, bagian atas tameng Amanda remuk. Bersamaan dengan remuknya tameng, pedang Amanda mencoba menusuk perut vampire namun serangannya hanya menusuk udara. Di saat Amanda menarik kembali pedangnya, si vampire tiba-tiba sudah berada di sebelah kiri Amanda dan mengangkat pisaunya tinggi-tinggu bersiap untuk menyayat Amanda. Secara reflek, Amanda segera melompat mundur. Namun, lompatan Amanda sedikit terlambat. Pisau si vampire berhasil melukai lengan kiri atas Amanda walaupun lukanya tidak dalam. Amanda menciptakan pisau-pisau es lagi dan menembakkannya ke vampire. Dengan lincahnya vampire itu menghindari pisau-pisau es Amanda bahkan tanpa menggunakan kecepatan vampire.
Quote:
“Kau tak menggunakan kecepatanmu?” tanya Amanda sambil memegangi lengan atasnya yang mengalami pendarahan.
Vampire itu melesat menggunakan kecepatan vampirenya. Pisaunya dan pedang es Amanda berbenturan. Dia menjawab Amanda, “Kau dari tadi terus melesatkan pisau-pisau es konyolnya. Kau semacam … melatihku untuk menghindari pisau itu. Lama-lama juga aku tidak perlu menggunakan kecepatanku untuk bertahan. Jadinya kugunakan untuk menyerang.”
“Begitu?” kata Amanda yang menahan pisau es lawannya. Amanda langsung mendapatkan ide untuk mengalahkan lawannya.
Vampire itu melesat menggunakan kecepatan vampirenya. Pisaunya dan pedang es Amanda berbenturan. Dia menjawab Amanda, “Kau dari tadi terus melesatkan pisau-pisau es konyolnya. Kau semacam … melatihku untuk menghindari pisau itu. Lama-lama juga aku tidak perlu menggunakan kecepatanku untuk bertahan. Jadinya kugunakan untuk menyerang.”
“Begitu?” kata Amanda yang menahan pisau es lawannya. Amanda langsung mendapatkan ide untuk mengalahkan lawannya.
Amanda mulai menjalankan rencananya. Dia berpura-pura terdesak dan terus mundur ke jalan setapak yang ada di dekat pinggir sungai. Dengan posisi bertahan, Amanda mengubah tameng miliknya menjadi bunga es yang berduri runcing. Begitu bunga esnya jadi, Amanda segera melemparkan pedangnya secepat mungkin ke tubuh vampire. Pedang es Amanda menusuk tubuh si vampire. Amanda menggunakan kesempatan ini untuk mendekati jalan setapak. Gadis itu menciptakan lantai es di depannya. Vampire tadi segera menggunakan kecepatan vampirenya untuk mendekati Amanda. Begitu sampai di depan Amanda, vampire itu kehilangan keseimbangan karena terpeleset oleh lantai es milik Amanda. Tubuhnya membentur lantai es dengan sangat keras. Amanda segera mengarahkan bunga esnya tepat ke tubuh si vampire. Dengan jarak sedekat itu, tak mungkin meleset. Duri-duri es yang melesat dari bunga es mengoyak tubuh si vampire. Yang paling parah adalah lehernya tertembus hingga darahnya keluar deras seperti air mancur. Di saat vampire itu menjerit kesakitan, Amanda menghunjamkan pasak kayunya ke jantung vampire dan membunuhnya.
Setelah lawannya terbunuh, Amanda langsung berlari menghampiri manusia pengendali listrik. Minsk yang sudah bertahan cukup lama tubuh terluka kali ini menjauh dari Amanda. Sebenarnya tubuh Amanda lelah setelah menghadapi vampire tadi. Didorong oleh rasa semangat karena kemenangannya barusan. Selain itu, Amanda kali ini yakin menang setelah melihat tubuh lawannya yang mengalami pendarahan di beberapa bagian tubuh. Sepertinya Minsk mencakar dan menggigit lawannya dengan baik. Mengingat bahwa kali ini lawannya adalah manusia biasa, tentunya mudah bagi Minsk untuk menyerangnya karena tidak bisa melakukan vampire jadinya tidak bisa bertahan, menghindar dan menyerang dengan mudah.
Quote:
“Terima kasih telah mengulur waktu, Minsk,” kata Amanda, “Istirahatlah. Saatnya aku menghajar bedebah ini.”
“Kau melatih anjingmu dengan baik,” kata si pengendali listrik. Dia terengah-rengah sambil memegangi lukanya.
“Ini serigala, bodoh,” kata Amanda.
“Kau melatih anjingmu dengan baik,” kata si pengendali listrik. Dia terengah-rengah sambil memegangi lukanya.
“Ini serigala, bodoh,” kata Amanda.
Amanda dan pengendali listrik saling menyerang. Amanda menembakkan pisau es ke tubuh lawannya sementara si pengendali listrik melemparkan listrik kuning untuk melumpuhkan kaki Amanda. Pisau es Amanda menembut perut lawannya dan listrik kuning pelumpuh membuat kaki Amanda tak bisa bergerak. Mereka berdua pun berlutut. Untuk mengantisipasi serangan, Amanda menciptakan tembok es di depannya sambil menunggu kakinya pulih.
Amanda melihat ada cahaya yang meneranginya dari atas. Dia melihat sebuah bola yang diselimuti oleh percikan-percikan listrik. Melihat bola itu, Amanda segera menciptakan benteng di atasnya. Bola listrik itu menyentuh bagian atas balok es. Hasilnya adalah ledakan yang lemah. Sialnya, justru pecahan es yang runcing-runcing itu mengarah ke Amanda. Beruntung Amanda secepat mungkin menghentikan sebagian besar pecahan-pecahan es yang menghujaninya dengan pengendalian esnya. Sebagian kecil pecahan-pecahan es menembus dan merobek kulit putihnya. Di saat itu, tembok es di depannya pecah oleh tangan yang diselimuti listrik biru. Pengendalian es Amanda menyelamatkan dirinya. Pecahan-pecahan es yang dikendalikannya tadi dilemparkannya ke lawannya. Secepat mungkin, si pengendali listrik menghentikan larinya dan menggasak habis sebagian besar pecahan es tadi. Sama seperti Amanda, pengendali listrik itu tidak bisa mengatasi semuanya. Pecahan-pecahan es kecil menusuk kulitnya. Membuat pengendali listrik itu semakin terlihat lemah.
Kaki Amanda sudah normal kembali. Dia menciptakan pedang dan tameng es. Amanda tahu situasi sekarang berpihak kepada dirinya. Pengendali listrik itu mau tidak mau harus berdiri untuk menghadapi Amanda meskipun tubuhnya mengalami luka-luka yang tidak dalam tapi cukup banyak. Tangannya menggenggam pisau yang diselimuti oleh listrik kuning. Pengendali listrik menunggu Amanda menghampiri dirinya. Begitu jaraknya dekat, dia langsung menebaskan pisau ke leher Amanda. Amanda menepis dengan tamengnya sehingga tebasan pisau hanya memotong sebagian kecil rambut panjang Amanda. Pengendali listrik kali ini mencoba menusuk kepala Amanda. Amanda menghindarinya dengan cara merunduk. Pertahanan pada perut si pengendali listrik kosong sehingga Amanda menusuk perutnya. Namun kecepatan tangan pengendali listrik juga tidak bisa diremehkan. Pisaunya menepis pedang es Amanda. Melihat pedangnya ditepis, kini Amanda menghantam perut pengendali listrik dengan tamengnya. Membuat pengendali listrik itu mundur dan memuntahkan darah.
Quote:
“Apa kau …,” tanya pengendali listrik sambil memuntahkan darah, “Murid … murid dari … Princess of Ice?”
“Bukan,” kata Amanda yang menciptakan tombak-tombak es besar dan panjang, “Aku tidak kenal siapa Princess of Iceitu. Siapakah dia?”
“Elsaria … Darkwing …,” jawab pengendali listrik sambil berdiri.
“Bukan,” kata Amanda yang menciptakan tombak-tombak es besar dan panjang, “Aku tidak kenal siapa Princess of Iceitu. Siapakah dia?”
“Elsaria … Darkwing …,” jawab pengendali listrik sambil berdiri.
Tiba-tiba pengendali listrik itu berlari ke arah Amanda dengan mulut yang terus mengeluarkan darah. Kedua tangannya diselimuti listrik biru penghancur yang mengeluarkan percikan-percikan listrik. Paham bahwa listrik biru kali ini lebih kuat dari listrik biru buatan Erik, Amanda menembakkan tombak esnya dengan kecepatan tinggi. Orang itu dengan brutalnya menepis semua tombak milik Amanda. Melihat lawannya semakin mendekat, Amanda meletakkan tameng tepat di hadapannya, memperbesar ukurannya dan mengeraskannya. Bersiap menghadapi listrik biru penghancur. Tujuan Amanda adalah membiarkan tangan pengendali listrik itu berbenturan dengan tamengnya, lalu dengan tamengnya dia membekukan tangan lawannya. Setelah beberapa detik, tameng es Amanda dan listrik biru akhirnya berbenturan. Tak disangka, tameng es Amanda retak, tak kuasa menghadapi listrik biru penghancur. Amanda pun mengelak ke kanan lalu segera berlari ke belakang si pengendali listrik dan segera melemparkan pedangnya ke pengendali listrik. Kali ini lemparannya tepat menusuk punggung pengendali listrik. Sebagai tambahan, Amanda mengendalikan pecahan-pecahan es bekas tamengnya tadi, meruncingkannya dan menembakkan ke pengendali listrik. Tubuh si pengendali listrik sudah dipenuhi oleh duri-duri es. Berakhirlah sudah. Dia kehilangan banyak darah.
0
Kutip
Balas