- Beranda
- Stories from the Heart
Ketika Cinta Berkhianat
...
TS
c4zio
Ketika Cinta Berkhianat
_______Kata Sambutan_______
Quote:
Cerita ini dimulai dari Gilang yang lahir dari keluarga sederhana dan bersekolah di salah satu SMA Swasta di daerahnya. Gilang suka banget sama olahraga yang namanya Bola Voli.
Postur tubuhnya juga mendukung dengan tinggi 184cm dan berat 73kg.
Wajahnya-pun tergolong tampan.
Gilang juga punya sahabat, Andi Namanya.
Lebih pendek sih dari Gilang tapi dia lebih menawan.

Di pertengahan sekolah, gilang bertemu dengan siswi baru, pindahan dari jakarta.
Akankah kisah cinta Gilang berjalan dengan indah seperti yang agan, sista bayangkan??
Daripada ente semua pada KEPO mending langsung aja yuk kita simak ceritanya?

______________________________________
Spoiler for Daftar Isi:
Update Terbaru
Spoiler for Update:
JANGAN LUPA RATE
DAN JUGA JANGAN SIDER DOANG BRAY
, BIAR TAMBAH RAME NIH THREAD
THANKS
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 7 suara
siapakah yang akan jadi pasangan Gilang nantinya??
Syafira
43%
Vinza
29%
Dian
29%
Diubah oleh c4zio 27-03-2016 23:32
anasabila memberi reputasi
1
16K
182
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
c4zio
#122
Part 16
Pagi ini terasa berbeda. Udara yang menyejukkan menandakan belum terlalu banyak polusi. Maklumlah, minggu pagi ini gue biasa bangun pukul 05.00 untuk lari pagi. Gue suka banget bangun jam segini hanya untuk berolahraga saja. Gue berlari memutari komplek perumahan. Sudah hampir 15 menitan gue berlari dan sudah banyak pula keringat yang keluar dari tubuh gue. Dan gue memutuskan berjalan santai sembari mengumpulkan tenaga gue kembali.
‘aduhh..’ suara rintihan yang berasal tepat di belakang gue. Gue pun membalikkan badan dan melihat ada seseorang, mungkin dia terpleset. Gue pun menghampirinya.
Dan, pertemuan ini terulang lagi. Tapi dengan cara yang berbeda. Ya, gue bertemu dengan gadis itu lagi. Gadis dengan senyuman manisnya. Gue pun segera menolongnya untuk berdiri. Jantung gue berdebar kencang. Seakan-akan ingin terlepas dari tempatnya.
Vinza. Sebuah nama yang selama ini gue cari kini ada dihapan gue. Gue gak bisa berkata apapun lagi. Dia yang selama ini gue cari dan gue tunggu senyumnya sebelum senja yang hangat berganti menjadi malam yang dingin. Gue bahagia. Semua pikiran tentang Syafira seakan hilang dalam sekejap.
Gue berlari dengan bersemangat. Tak terasa sudah 30 menit gue berlari dan jam sudah menunjukkan pukul 05.35 pagi. Vinza pun akhirnya berjalan, mungkin kelelahan. Terlihat dari keringat yang membasahi kaos abu-abu yang dipakainya. Betapa senangnya hati gue, berhadapan langsung dengan seorang gadis yang sudah beberapa hari ini memenuhi pikiran gue.
Gue dan Vinza bercerita tentang banyak hal. Mungkin bisa dibilang gue cuman jadi pendengar yang baik karena Vinza yang lumayan banyak bercerita. Yang penting dari semua percakapan itu adalah alamat rumah Vinza. Akhirnya gue tahu alamat rumahnya.
Setelah memesan bubur. Kita berdua duduk di tempat yang udah di siapkan dan melanjutkan obrolan-obrolan ringan sempat tertunda.
-----
Singkat cerita, siang ini gue ada janji dengan Andi. Mau nemenin dia main PS dirumahnya. Gue pun berangkat dari rumah tante gue pukul 10.30 karena gue janjian pukul 11.15 siang. Di perjalanan gue teringat lagi kejadian yang gue alamin tadi pagi. Gue tersenyum sendiri. Bahagia.
Sekitar setengah jam lebih gue diperjalan. Akhirnya sampai juga di rumah Andi. Hah, gue menghela napas panjang. Perjalanan yang sangat melelahkan di karenakan macet di sepanjang jalan ibukota.
Gue pun akhirnya ikut bermain bersama Andi. Dan pulang kerumah sekitar jam 7 malam. Di perjalanan gue kembali memikirkan dia.
Vinza. Hmm, gue gak bisa berkata apa-apa lagi. Dia selalu berada di setiap lamunan gue. Tapi apakah rasa ini benar dan tulus? Bagaimana dengan Syafira? Tak ada komunikasi lagi antara gue dengan dia. Pusing pun menghinggapi kepala gue.
Pagi ini terasa berbeda. Udara yang menyejukkan menandakan belum terlalu banyak polusi. Maklumlah, minggu pagi ini gue biasa bangun pukul 05.00 untuk lari pagi. Gue suka banget bangun jam segini hanya untuk berolahraga saja. Gue berlari memutari komplek perumahan. Sudah hampir 15 menitan gue berlari dan sudah banyak pula keringat yang keluar dari tubuh gue. Dan gue memutuskan berjalan santai sembari mengumpulkan tenaga gue kembali.
‘aduhh..’ suara rintihan yang berasal tepat di belakang gue. Gue pun membalikkan badan dan melihat ada seseorang, mungkin dia terpleset. Gue pun menghampirinya.
Dan, pertemuan ini terulang lagi. Tapi dengan cara yang berbeda. Ya, gue bertemu dengan gadis itu lagi. Gadis dengan senyuman manisnya. Gue pun segera menolongnya untuk berdiri. Jantung gue berdebar kencang. Seakan-akan ingin terlepas dari tempatnya.
Quote:
Vinza. Sebuah nama yang selama ini gue cari kini ada dihapan gue. Gue gak bisa berkata apapun lagi. Dia yang selama ini gue cari dan gue tunggu senyumnya sebelum senja yang hangat berganti menjadi malam yang dingin. Gue bahagia. Semua pikiran tentang Syafira seakan hilang dalam sekejap.
Gue berlari dengan bersemangat. Tak terasa sudah 30 menit gue berlari dan jam sudah menunjukkan pukul 05.35 pagi. Vinza pun akhirnya berjalan, mungkin kelelahan. Terlihat dari keringat yang membasahi kaos abu-abu yang dipakainya. Betapa senangnya hati gue, berhadapan langsung dengan seorang gadis yang sudah beberapa hari ini memenuhi pikiran gue.
Gue dan Vinza bercerita tentang banyak hal. Mungkin bisa dibilang gue cuman jadi pendengar yang baik karena Vinza yang lumayan banyak bercerita. Yang penting dari semua percakapan itu adalah alamat rumah Vinza. Akhirnya gue tahu alamat rumahnya.
Quote:
Setelah memesan bubur. Kita berdua duduk di tempat yang udah di siapkan dan melanjutkan obrolan-obrolan ringan sempat tertunda.
-----
Singkat cerita, siang ini gue ada janji dengan Andi. Mau nemenin dia main PS dirumahnya. Gue pun berangkat dari rumah tante gue pukul 10.30 karena gue janjian pukul 11.15 siang. Di perjalanan gue teringat lagi kejadian yang gue alamin tadi pagi. Gue tersenyum sendiri. Bahagia.
Sekitar setengah jam lebih gue diperjalan. Akhirnya sampai juga di rumah Andi. Hah, gue menghela napas panjang. Perjalanan yang sangat melelahkan di karenakan macet di sepanjang jalan ibukota.
Quote:
Di dalam rumah, Andi sudah bermain dengan PS yang amat dicintainya. Gue pun langsung nimbrung di dekat Andi. Gue pun akhirnya ikut bermain bersama Andi. Dan pulang kerumah sekitar jam 7 malam. Di perjalanan gue kembali memikirkan dia.
Vinza. Hmm, gue gak bisa berkata apa-apa lagi. Dia selalu berada di setiap lamunan gue. Tapi apakah rasa ini benar dan tulus? Bagaimana dengan Syafira? Tak ada komunikasi lagi antara gue dengan dia. Pusing pun menghinggapi kepala gue.
Spoiler for TS:
0
dangak lupa juga