- Beranda
- Stories from the Heart
Keyakinan
...
TS
sigitsantoz
Keyakinan
"Aku mengukur cinta layaknya ahli astronomi yang mengukur bumi dan hal yang tak terjamah lainnya, aku menakar cinta layaknya timbangan elektronik yang baru diisi baterai. saat itu aku yakin. Tak ada cinta yang membuatmu buta, yang ada kau melihat cinta terlalu dekat. Datanglah di mana orang lain pergi. Jamahlah cinta di mana orang lain enggan menjamahnya. Cinta membuatmu tenang. Cinta membuat mu berfikir tentang realistis. Cinta sendiri yang akan membuka matamu. Cinta yang akan menerangi jiwamu. Itulah cinta bila kau tidak terlalu dekat melihatnya"
-Sigitsan, Dia Adalah Keyakinan-
-Sigitsan, Dia Adalah Keyakinan-
Quote:
Quote:
Quote:
Biasanya Sabtu Minggu UPDATE
Sigitsan sangat mengharapkan para reader untuk selalu meninggalkan komen

Sigitsan sangat mengharapkan para reader untuk selalu meninggalkan komen

Diubah oleh sigitsantoz 13-02-2016 20:47
anasabila memberi reputasi
1
2.7K
27
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
sigitsantoz
#26
Selendang Inah
Hari ini begitu membuatku bangga karena surat elektronik dari Jakarta masuk pada hari ini. Kabarnya aku diterima kerja disebuah kantor gedong ditengah kota Jakarta. Sudah lama rasanya aku menganggur dan selalu bertapa di dalam rumah karena takut ditanya oleh orang-orang komplek yang selalu perhatian terhadap masalah orang lain ketimbang diri mereka sendiri.
Suatu hari aku pernah melihat ibu-ibu komplek berkumpul di gerobak sayur milik Pak Amir. Menawar dengan harga sadis dan main ambil dagangan sudah biasa dialami Pak Amir. Kasian dan begitulah nasibnya. Ibu-ibu disini lebih banyak bicara daripada membeli, bicaranya-pun tidak memakai etika dan aturan. Selalu saja ada yang jadi korban disetiap paginya. Wortel dan toge dihina agara dapat harga murah atau sekedar lukai hati Pak Amir. Pembicaraan ibu-ibu komplek selalu meluas, dari kubis hingga bu Lubis yang kemarin beli motor baru. Dengki, naif, dan tak tahu diri. Menjadikan Pak Amir juru kunci aib-aib rumah tangga komplek ini, termasuk aku yang jomblo pengangguran bergelar sarjana ekonomi, tak lepas dari cengkraman mulut busuk ibu-ibu komplek ini.
Akhirnya aku akan meninggalkan komplek. Jadwal keberangkatan bis menuju kota jatuh pada jam 08:00 pagi.
’lebih cepat, lebih baik.’ gumamku dalam hati.
Sekitar enam jam aku harus duduk manis di atas kursi yang mulai hilang empuknya. Penat, bosan dan lelah sudah jadi tanggungan setiap penumpang. Ibu berpesan agar cepat tidur di jalan, agar tidak mual dan muntah sembarangan. Ibu memberiku bekal sebungkus nasi dengan lauknya, agar lebih irit dan tidak keluar uang terlalu banyak nantinya.
‘Jangan lupa pake kayu putih ya nak… ibu taruh di kantung kecil di tasmu’
Sepertinya ibu lebih siap pergi ke Jakarta daripada aku. Sekitar setengah jam sebelum keberangkatan ibu dan ayah memberi wejangan dan nasehat agar anaknya ini selamat hingga tujuan. Untung cuma pergi ke Jakarta bukan ikut perang. Walau sempat aku menangis memeluk ibu dan ayah seakan tak ingin berpisah. Namun demi nama baik keluarga dan ocehan ibu-ibu komplek aku harus pergi meninggalkan mereka.
Aku bayangkan pemandangan dan jalan yang rata di atas tol yang berbayar. Namun rasa kantuk lebih cepat singgah sebelum melewati itu semua. Akhirnya aku lebih memilih tidur dan berharap lekas sampai hingga tujuan.
****
Entah di mana bis ini berada. Supir gila ini membangunkanku dengan menginjak rem tanpa irama. Terpaksa aku benturkan kepala ke jok depan agar serempak dengan seluruh penumpang yang ada. Untungnya hanya itu dan bis ini melaju kembali. Sempat tadi aku tertawa dengan beberapa ibu-ibu yang sedang berdiskusi tentang supir edan itu, mengingatkan aku dengan ibu-ibu komplek yang kini aku tinggal pergi.
****
Kini aku mulai beradaptasi di ibu kota negri ini. ibuku selalu bilang jangan lupa sholat dan makan pagi. Masuk pagi dengan bis kota dan pulang malam dengan polusi dan klakson disana-sini. Aku sempatkan untuk makan malam di warteg milik Mbok Darmi. agar tidak lapar saat tidur dan nyenyak hingga pagi.
‘telor sama sayur asem ya mbok..’
‘aduh si asep baru datang, gimana kerjanya sep?’
‘alhamdulillah bu, masih binggung. baru soalnya hehe’
Aku hajar saja telur dan segumpal nasi itu, aku hiraukan ocehan Mbok Darmi yang tak putus-putus sejak tadi.
‘lahap banget mas..’ suara merdu menyapaku.
Serentak saja aku menoleh. jarang ada wanita yang menyapaku. Duhai parasnya aku tergoda. Tingginya semampai. Hidungnya mancung menantang. Matanya bak berlian yang kini di pakai untuk taburi jam rolex yang harganya berjuta-juta. Bibir kecilnya dilapisi lipstik melang-meling model zaman sekarang. Jangan tanya bagaimana dadanya karena ia akan membangkitkan nafas hewan para pemuda.
‘iya neng.. lagi lapar nih..’ senyumku ramah, sembari bergeser memberikan tempat berharap ia duduk di dekatku.
‘mau makan juga neng?’ tanyaku agar terlihat akrab.
‘iya bang’ senyumnya menjeratku.
Sepertinya Jakarta menyambutku dengan baik. Di hari pertama saja aku telah bertemu dengan bidadari kota ini. Aku berbincang dengannya hingga aku larut dalam wajah dan khayal, kami akrab, kami berbagi senyum dan mulai berbagi nama. Inah adalah namannya, sungguh jadul terdengar di zaman yang serba barat menjadi kiblatnya. Dia seorang pekerja kantoran sepertiku. Namun sepertinya ia lebih tinggi derajatnya daripada aku si pengembara baru, soalnya ia datang dengan mobil dan berpakaian serba eksklusif eh… tapi ia malah singgah di warteg Mbok Darmi.
‘Di sini makanannya enak, kaya masakan mamah di rumah’ jawabnya lembut saat aku bertanya mengapa lebih memilih warteg ini daripada restoran dengan standar dirinya.
Tak terasa telah sebulan aku bersama Jakarta. Berbagi hujan bersama genangan air yang di harap surut. Berangkat pagi agar lolos dari telat dan padatnya lalulintas. Menunggu busway yang selalu di buntuti motor nakal yang tak tahu rambu lalu lintas. Kadang harus berlangganan ojek online demi waktu yang tak bisa di tuntut menunggu. Mbok Darmi yang semakin akrab dan semakin tahu makanan apa yang akan aku pesan setiap harinya. Senangnya menerima gajih pertama dan melihat dompet yang mulai lekas membaik, tak lupa sisakan sebagian gajiku untuk aku kirim ke kampung halaman. Rasa rindu akan kampung halaman yang kadang tiba-tiba menghampiri membuatku sesak. Tergambarlah wajah ibu dan ayah di langit-langit kamar dengan tiga cicak yang sedang mencari nafkah.
Tiba-tiba hp-ku berdering. ‘inah’ dan gambarnya muncul dilayar hpku.
‘halo sayang..’
‘iya ada apa say..’
bla..bla…
itu adalah kebiasaan baruku di kota ini. Menelpon dan saling berbagi kabar dan cerita. Sekitar sembilan puluh enam jam yang lalu aku dan Inah mengungkapkan rasa yang sebenarnya telah lama aku pendam saat aku bertemu dengan dirinya di warung Mbok Darmi. label jombloku jatuh saat Inah berkata ‘iya’ dan saling bersama hingga malam semakin larut dan kami-pun berpisah.
Kini langit-langit kamarku penuh bintang dengan wajah Inah sebagai rembulan dan tiga cicak itu masih disana mencari nafkah. Tak ada lagi hujan yang deras karena semua itu hanya rintik-rintik air yang merindukan bumi saat kami berdua. Kini Inah lebih memilih menaiki bis dari pada mobil mewahnya, katanya: ’aku merindukanmu’. Ah… indah kata-kata itu membius jantungku. Sesaknya kota ini saat sore menjelang adalah harapanku agar aku dapat terus memandang dan bercakap-cakap dengannya. Itung-itung hemat kuota dan pulsa. Walau Inah selalu menawarkan hartanya namun aku selalu menolak karena gengsi lelaki yang terus aku jaga.
Lima ribu tujuh ratus enam puluh jam aku dan Inah merajut cinta dengan kasih sebagai benangnya. Senang sedih kami lewati. Berusaha menjadi pasangan yang dewasa lebih mengerti kata kompromi dan batasan yang telah kita sepakati. Jujur saja walau kami sedekat ini aku belum pernah menyentuh kulit Inah, mungkin karena petuah ayah dan agama yang begitu kental di desa kami.
Inah berdampak positif di kehidupanku. Jabatan yang semakin baik dan etos kerjaku yang semakin tinggi. Motivasi dan saran selalu meluncur dari mulutnya saat aku mengeluh dan sedang ada masalah. Tentu saja orang tuaku bangga dan mereka merestui hubungan kita berdua, bahkan ibu menyarankan untuk cepat menikah. ‘hm.. terlalu’ cepat gumamku.
Hingga pada suatu hari aku merasa ada yang mengintilku dari belakang. Nampaknya laki-laki berdasi dengan tas kulit di lengan kanannya. Aku berusaha menghindar dan mencoba melebur dikeramaian Jakarta, entah menjadi tiang atau lampu jalanan. Tidak… Ia berhasil dan memagang tanganku, Membawaku hingga ke ujung jalan sepi akan orang. tatapannya serius meminta agar dipercaya. Berbicara kepadaku tanpa keraguan lalu pergi begitu saja. Aku tak percaya.
Sedikit demi sedikit aku menabung memimpikan rumah gedong karena sepertinya sebentar lagi aku mampu. Kiriman uang untuk orang tua tak pernah putus, bahkan nominalnya kini lebih jauh dari awal aku dulu. Kabarnya uang itu sudah mampu membeli motor untuk orang tua dan renovasi rumah yang sudah lama lapuk. Ibu-ibu komplek-pun suka mual-mual mendadak saat pagar rumahku diganti baru, dan katanya ada yang sempat sakit karena mendengar kabar bahwa ibu dan ayahku telah mendaftar haji untuk tunaikan ibadah di tanah suci.
Senin hingga jum’at adalah hari karirku. Sabtu dan minggu hanya untuk Inah hari itu aku persembahkan. Kadang nafsuku tergoda untuk sekedar memegang tangan Inah atau membelai rambutnya. Inah menginginkan itu namun ia mengerti bahwa hal itu dalam pandanganku adalah hal yang tidak senonoh dan tak pantas aku lakukan sebelum aku dan Inah menjalin hubungan suci. Hingga pada seratus enam puluh delapan jam kita tak bertemu karena aku ditelan sibuk tugas kantor yang begitu menumpuk. Aku ucapkan maaf. Inah minta aku datang kerumahnya pada hari rabu saat aku selesai bertugas. Rindu katanya.
teng..tong..teng..tong..
Malam ini Inah berbeda. Harum mawarnya tak hilang di kebun fiolet. Rambut kuncir kuda yang seakan lebih menantang dimalam seranum ini. Rasanya aku tak pernah melihat baju itu mungkin baru dipersiapkan untukku. Inah menarik tanganku. anehnya aku pasrah dipegang wanita.
‘duduk disini ya.. Inah ambil minum dulu buat abang.’ perintahnya.
Begitu panas disaat sedingin ini. Jantung berdetak kencang dan hasrat hewanku mulai dipuncak gila. Aromanya semerbak. Masih sempatnya aku bertanya bagaiman nabi yusuf lolos dari hal segila ini? sudahlah…
‘abang sekarang udah sibuk banget sampe lupa sama Inah.’
ditaruhnya gelas dan duduk saja di pangkuanku tanpa ia hiraukan peraturan yang lalu. tangannya bermain di dasi lalu menari dikerah. didekapnya aku. Katanya Inah begitu rindu denganku. Ada yang aneh dengan kedua tanganku, seakan mereka tahu apa yang mereka lakukan. Baru kali ini aku mencium bau wanita dewasa. Meraba sana-sini tanpa kendali. Inah pasrah dan kucium berkali-kali. Pada titik itu aku sadar. Akalku mulai sehat. Aku lepas. Berlari hingga gerbang. Aku teriakan maaf. Inah sadar dan menangis, dikejarnya aku sembari mengalungkan selendang di leherku.
‘hm.. maafin Inah, pake selendangnya ya bang.. malem ini begitu dingin, aku sayang abang’
‘abang juga’
Sudah dua ribu seratus enam puluh jam aku menahan rindu yang kian tumbuh dan menjalar di setiap urat sarafku. walau ratusan panggilan Inah yang tidak terjawab datang di setiap waktu. Aku berharap rindu ini hilang hingga keakar-akarnya. Terbang sebagai abu. Ibu dan ayahku sempat marah berhari-hari. Katanya aku bajingan, laki-laki tak tahu diri, dan tidak punya hati. Aku penat dan minta cuti untuk pulang kampung. Sudah berhari-hari aku paksa mulutku mengunyah dan meredam air mata yang ada. Percuma. Gagal semuanya tumpah.
Setiba di kampung aku berlari memeluk ibu dan ayahku.
‘Maafin Asep bu, udah buat ibu sama ayah kecewa’
‘tak apa nak.. ibu tak bisa memaksamu. mungkin itu bukan jodohmu… sana makan sepertinya kamu kurusan, ibu udah buatin kamu sayur asem kesukaan kamu’
Ibu mengerti dengan keadaanku. Sepertinya rumah ini memiliki telinga dan mata karena pagi ini ibu-ibu komplek menjadikan aku santapan di atas gerobak Pak Amir tukang sayur.
‘tau gak? itu si asep ga jadi kimpoi’
‘katanya suka mainin cewe, huh.. dasar ga tau diri’
‘pantesan ga laku-laku’
bla..bla..bla.. Aku tak peduli
Seandanya mereka tahu yang aku tahu. pada malam di malam Inah memelukku dan kami berciuman mesra diatas sofa. berebut nafas dan bertukar ludah. Merajut cinta yang saat itu sedang berada diatas puncaknya. keringatku basah untungnya bajuku masih melekat di tubuh. tanganku mulai meraba sana-sini hingga aku menyentuh penisnya. Sedih. Seharusnya aku dengar kan kata-kata lelaki penguntil dengan dasi itu.
‘Aku kasian sama kamu. Inah itu laki-laki. Dia diusir dari rumah oleh ibunya setelah oprasi payudara. kamu boleh ga percaya. Aku tau kamu normal. tapi inget kata-kata aku.’
Terakhir, aku mendengar inah berlatih memasak di warteg sederhana milik Mbok Darmi. Setidaknya disana Inah dapat melepas rindu akan mamah yang mengusir dirinya. Aku mencintainya namun itu bukan yang seharusnya. kini selendang itu selalu terpasang diantara pundakku saat dingin datang. Benar, aku merasakan hangat.
Diubah oleh sigitsantoz 12-02-2016 22:04
0
