- Beranda
- Stories from the Heart
[Completed] Hey Fanny
...
TS
monica.ocha
[Completed] Hey Fanny
Quote:
![[Completed] Hey Fanny](https://s.kaskus.id/images/2016/03/05/8417038_20160305062914.jpg)
Quote:
![[Completed] Hey Fanny](https://s.kaskus.id/images/2016/01/25/8417038_20160125102311.png)
Mohon kebijakannya karena cerita ini mengandung bahasa dan adegan yang tidak patut ditiru.
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh monica.ocha 05-03-2016 06:30
efti108 dan 25 lainnya memberi reputasi
22
172.5K
520
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
monica.ocha
#209
PAGE 17
Pagi ini aku terbangun, mendengar suara kesibukan yang sedang berlangsung di bawah. Kudengar suara mobil ayah yang bersiap untuk berangkat kerja, sedikit ku intip ke jendela, ayah sudah mengeluarkan mobil dika dan mobil ku. Biasanya memang aku yang selalu mengeluarkan mobil dari garasi, tetapi entah kenapa mata ini susah untuk diajak kompromi.
Kulihat dika sedang tertidur pulas di atas tempat tidur, masih dengan pakaian lengkap seperti sore kemarin “Ni anak dateng jam berapa”gumamku dalam hati. Aku masih tidak tahu apa yang membuat dika datang ke rumahku dan tidur disini tengah malam. Ini bukan kali pertamanya dia melakukan hal seperti ini, dia sudah sering seperti ini. Dia pasti mengetuk kamar bibik dan minta dibukain pintu.
Masih menggunakan boxer dan kaos, aku turun kebawah untuk sarapan. Di pertengahan anak tangga, kulihat fanny sudah duduk di meja makan sambil memakan nasi goreng buatan bibik dan ibu, tak lupa dengan hp yang sedang di pegangnya.
“Hai” Sapaku sambil menarik kursi di sebelah fanny
Fanny tidak menjawab, dia bingung melihat aku yang malah tiduran di dekat meja makan.
“Bik, tadi malam dika pulang jam berapa?” Tanyaku kepada bibik yang sedang sibuk memasak
“Jam 2 kalau gak salah” Balas bibik tanpa melihatku, dia terlalu sibuk memasak
Aku memalingkan pandanganku ke arah fanny, lengan tanganku kujadikan bantal. Kuambil timun yang berada di dekat nasi goreng fanny dan memakannya, fanny melototkan matanya “Lo ambil sendiri noh” Kesalnya
Aku tidak tahu kenapa, sekarang aku tidak merasa canggung berada di dekat fanny. “Lo mau ke hotel jam berapa?” Tanyaku sambil mengunyah timun
“Siang kali ya? Sekalian, gw mau beli barang-barang kost yang udah abis, males mau beli di bandung”
“Eh, lo orang bandung?”
“Engga”
“Terus orang mana? Kuliah di bandung gitu?”
“Iya, udah selesai sih kuliahnya. Gw lahir di bali terus merantau ke bandung”
“Terus kok ga pulang ke bali?”
“Ngapain pulang ke bali, bokap gw sekarang udah pindah ke paris kok” Ujar fanny dengan santai
“Paris? Like, paris? Paris yang di eropa sana?” Tanyaku dengan kebingungan meski aku tahu paris itu hanya satu
“Iya noh, paris yang di prancis, yang ada menaranya” Balas fanny dengan mengekspresikan tangannya seperti menara
“Widih, lu kenapa ga ikut kesana? Sayang bgt”
“Ngapain kesana? Gw suka disini, disini gw bebas mau ngapain ga ada yang ngatur jugak”
“Aneh lo” Ledekku
“Lo yang aneh” Kembali ejeknya
Dari sini aku akhirnya mendapat clue kecil dari pertanyaanku kemarin, disaat aku melihat foto fanny yang sedang berada di paris, ternyata ayahnya tinggal disana, hmmm.. masuk akal. Tapi aku masih penasaran dengan cowok itu, cowok yang sempat menggandeng fanny, cowok yang wajahnya selalu ada hampir disetiap foto tapi kemudian hilang di lembar terakhir, siapa dia sebenarnya?. Well, aku masih belum berani menanyakannya, itu terlalu privasi.
Tak lama kemudian suara langkah kaki dika mulai terdengar, dia sedang turun kebawah. Dia terkejut melihat fanny yang sedang duduk di meja makan dengan pakaian ala orang baru bangun tidur, fanny hanya mengenakan kaos dan celana pendek.
Dika masih tidak percaya melihat fanny yang duduk disebelahku, dia membuka kaca mata dan menyapu matanya “Loh, kak monic?” Ujarnya
“Makannya kalau bangun tu bangun, jangan mimpi monica terus” Balas ibu yang ternyata mendengar perkataan dika
Dika melangkah maju ke dekat meja makan, berdiri dihadapan fanny dan membungkuk “Fanny? Ngapain lo?” Tanya dika lalu kembali memakai kaca matanya “Dari belakang mirip kak monic, tan” Lanjutnya kepada ibu
“Lo tu yang ngapain, se-enak udel lo aja masuk kamar gw” Omelku
“Eits, sabar... ntar gw ceritain” Balas dika
Dika lalu duduk di depanku, membalikkan piring lalu mengambil nasi goreng yang berada di atas meja “Lo belom makan dari kemarin, dik?” Tanya fanny saat melihat ukuran porsi makan dika “Yaelah, pake ditanya lagi, dik” Sambungku
Dika hanya tertawa pelan sambil kembali menyiduk nasi goreng yang porsinya tinggal setengah itu. Dika mempuyai porsi makan yang bisa di bilang super. Anehnya, sebanyak apapun dia makan, badannya tidak bisa bertambah gemuk, masih tetap kurus seperti itu. Melihat dika makan membuat aku kelaparan, akhirnya aku ikut makan bersama mereka, tidak tahan dengan godaan ini.
“Lo photographer, Rob? Tanya fanny saat melihat berbagai macam kameraku yang terpajang di rak atas TV
“Jadi kalau gw punya kamera, terus gw photographer gitu? Lo punya pensil, lo penulisa gak?” Balasku, fanny yang sedang melihat-melihat kamera pun terdiam kebingungan
“Iya, dia photographer, susah amat dah...” Potong dika dengan kesal karena melihat ekspresi fanny yang kebingungan
Awalnya hobi fotoku berasal dari teman seperjuangan SMA randi. Kakaknya mempunyai sebuah studio di jakarta. Aku mulai menekuni pembelajaran seputar photographer semakin serius, sampai-sampai aku bisa di kontrak oleh suatu perusahaan hanya untuk memotret keindahan alam di indonesia dan akan mendapat bayaran untuk setiap foto yang dipilih. Tapi pekerjaan itu tidak bisa aku lakukan, aku harus mengejar UN dan memperbaiki nilaiku yang buruk, karena itu aku berhenti dari bidang foto dan mulai fokus ke pelajaran.
Diawal masa perkuliahan, aku kembali masuk ke bidang photographer, aku lebih suka mengambil jepretan alam atau manusia. Aku suka mengambil foto yang kadang bisa aku hayati untuk berjam-jam. Fotoku kadang masih suka di beli oleh beberapa perusahaan, lumayan untuk menambah uang saku. Bahkan aku pernah dikirim ke raja ampat hanya untuk memotret disana, segala pembiayaan ditanggung dan tugasku hanya memotret,aku sungguh bangga. Bangga bisa menunjukkan kepada orang tuaku bahwa kamera mahal yang mereka beli tidak berujung kesia-siaan, dengan itu aku tunjukkan kalau aku bisa, kalau aku mampu, kalau aku tidak mengecewakan. Semenjak itu, orang tuaku semakin memberiku kepercayaan lebih.
Awalnya aku hanya mengajak dika ke kamar untuk bermain Playstation, tapi entah kenapa fanny yang menerima ajakan. Sementara aku dan dika mulai bermain, fanny hanya tiduran diatas tempat tidur dengan matanya yang sibuk menyapu se-isi ruangan, bertanya ini-itu seolah paham akan hobi anak laki-laki.
***
Ketika jam menunjukkan pukul 13:30, aku mengakhiri pemainanku dengan dika, aku tidak tahan lagi menahan rengekan fanny layaknya seorang anak kecil yang ingin minta dibelikan mainan “Rob, ayo dong, udah siang ni” “Rob, gw bete” “Rob, cepetan dong “Rob, gw bisa mati kebosanan kalau gini terus”Dan ya, keluhan itu aku dengar sepanjang permainanku.
Fanny tampak kesal ketika aku tadinya meminta dika untuk menyelesaikan game sepak bola ini dan dika berkata “Satu lagi deh” Meskipun dika hanya bercanda, fanny melempar bantal guling ke arah kepala dika dan kami semua tertawa terbahak-bahak. Lucu mendapati seorang fanny yang bertingkah seperti itu. Aku menyuru fanny untuk mengganti baju kak monic yang dipakainya tadi dengan bajunya tadi malam, dia langsung berlari ke kamar karena semangatnya.
“Dik, lo mau ikut gak?” Tanyaku kepada dika yang masih melanjutkan permainan sendiri
“Males ah, panas”
“Btw, lo tadi malam kesini pake apa?” Tanyaku sambil memasang kaos yang baru kuambil dari lemari
“Gw gedor-gedor kamar han, minta anterin kesini” Ujarnya sambil tertawa, dia teringat bagaimana ekspresi han yang mengomel sepanjang perjalan saat mengantarnya ke rumahku “cerewet bener dah, kayak cewek. Padahal cuman minta dianterin doang, kampret tu anak” Gerutunya
“Lo yang salah bego, bangunin orang tengah malem. Terus raya pulang sama siapa?” Kali ini aku berusaha memaki celana jeans yang sudah berbulan-bulan tidak ku cuci
“Gw lah, minjem motor han. Lo tau sendirikan gimana ntar ibuk kost marah-marah kalau tau gw bawa cewek ke kost” Fokus dika masih mengarah ke layar TV “DIKAAA.... ngapain lo bawa anak cewek dimari, lo mau gw usir dari sini” Dika menirukan ekspresi ibu kost yang sedang marah, aku tertawa
“Yaudah deh, gw berangkat dulu ya” Tak lupa kuambil jaketku satu lagi untuk fanny
“Yoi.. care-care”
Aku keluar dari kamar sambil membawa satu lagi jaket yang aku gantungkan di bahuku, sengaja aku bawa untuk fanny, mungkin dia membutuhkannya. Lalu kuketok kamar kak monic dimana fanny sedang berada “bentar rob” Teriaknya dari dalam kamar
“Yaudah, gw tunggu di mobil” Aku ikut berteriak
< TO THE PREVIOUS PAGE
Diubah oleh monica.ocha 10-02-2016 13:50
g.gowang. dan 3 lainnya memberi reputasi
4